Wednesday, March 19, 2014

GOBAR RUMAH HUTAN DENGAN GOWESER KPP PRATAMA SERANG

Goweser KPP Serang plus tiga penggembira ber-jersey hijau
(Courtesy of Mr. Mudi Santoso)

Hari Sabtu tepat di tengah bulan Maret 2014 kamarin, saya diajak Om Yopie Astroz untuk bergabung dengan rombongan gowes dari KPP Pratama Serang. Karena sudah lama tidak gowes berombongan, ajakan itu dengan cepat saya iyakan. Ya, akhir-akhir ini memang kalau gowes sudah bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, tapi harus tetap semangat kata Kang Ola juga. Mottonya SXC2 tetap di hati euy, hahaha..... Asyiknya lagi, bisa tambah teman-teman baru Om-Om goweser.

Di tikum halaman KPP Pratama Serang, yang tidak saya datangi karena masih sosonoan dengan si bungsu, sudah siap delapan goweser yang siap bergabung. Ditambah Om Yopie & Omiyan, rasanya bakalan ramai nih gowes kali ini. Belakangan saya ketahui bahwa para goweser KPP Serang ini sudah rutin gobar alias gowes bareng setiap hari Jumat pagi sekira 20 orang dengan peserta dari semua lapisan, tua-muda, ibu-ibu-bapak-bapak. Wah, lebih ramai lagi tuh! 

Saya bergabung di simpang lima Ciracas. Tampak beberapa goweser yang baru mulai gowes belum dilengkapi dengan helm. Saya sarankan Om-Om untuk selalu menggunakan helm untuk mengurangi risiko cedera kepala bila kita terjatuh. Keselamatan adalah hal yang utama. Kalau kata orang Kulon mah, safety first
Rencananya kali ini kami akan gowes ke Rumah Hutan lewat Kampung Bojong. Untuk menuju ke sana, sebelumnya kami melewati Kp. Sepang, Kp. Gelam, Kuburan Cina, sampai pertigaan Kp. Sayar di ujung Jalan 45, sebelum masuk ke single track di Kp. Bojong. Karena beberapa goweser baru memulai gowes dan belum pernah merasakan sensasi single-track, kami akan ambil jalur yang pendek ini, alih-alih lewat Kp. Pereng, Cidampit. Walaupun demikian, kami masih bisa menikmati sensasi itu dengan melewati jalan setapak di pinggir kebun-kebun penduduk, bahkan sampai melewati depan rumah mereka, hahaha,,,,, menuruni turunan curam menguji keberanian, menyeberang kali melalui jembatan kayu, kemudian langsung berbelok dan menanjak. Lumayan mengasyikkan koq. Sayang, karena permukaan tanah yang licin, sepeda di tanjakan tidak dapat kami gowes sampai puncak. Bannya selip. Terpaksalah sepeda sempat kami tuntun. 
Ayo, Abah....
Sedikit lagi, Rio!
Sekitar pukul 9.30, kami sampai di Rumah Hutan. Wah, terlalu cepat sepertinya. Buktinya, makanan yang telah dipesan belum matang. Padahal kami sudah gowes funbike lho, alias gowes santai, hehehe.... Sambil menunggu matang, mengonsumsi kelapa muda sangat membantu menyegarkan tubuh kembali. Cuma, saya belum beruntung karena dari tiga kali percobaan membelah kelapa, dapatnya kelapa senior yang dagingnya sudah alot. Peribahasanya alot-alot asal kelakon, kali hahaha.... Akhirnya saya menyerah, kelapanya selamat, tak jadi dikonsumsi. 
Botram, botram...... . Setelah makanan siap, daun pisang pun digelar untuk menampung berbagai menu yang sudah disiapkan. Alhamdulillah. Tapi kali ini tidak ada pete atau semur jengkol andalan Om Didit hahaha.... . 
Makan kelapa (tidak lagi) muda
Setelah kenyang, rehat sebentar, foto-foto, dan siap-siap kembali ke Serang menikmati bonus turunan Cilowong, yihaa..... Tapi sebentar, sebelum itu, kami masih harus melewati jalan makadam sejauh 2,4 km dari Kp. Bojong sampai ke Jalan Raya Takari alias Taktakan-Gunung Sari. Tidak terlalu jauh sebenarnya, tapi karena cenderung menanjak, cukup membuat pegal kaki juga tuh. Nah, setelah itu khatam, silakan menikmati bonus turunan Cilowong. 
Karena sudah lewat tengah hari, mohon maaf saya langsung pulang dan tak sempat pamitan lagi dengan teman-teman semua. Semoga kita bisa bergabung lagi dalam gowes berikutnya. Oh ya, yang baru mulai gowes jangan kapok ya, masih banyak trek-trek indah di Serang yang belum kita eksplorasi bersama.
Pengarah acara

Tuesday, January 07, 2014

GOWES UP HILL KE PUNCAK BUKIT HABIBIE


Saya belum menemukan informasi yang jelas mengenai nama sesungguhnya bukit ini. Tapi, orang-orang menyebutnya Bukit Habibie karena diujung bukit ada villa milik Pak Habibie, mantan presiden negara ini. Bukit ini adalah batuan cadas menurut saya yang terletak di antara Cibareno, Banten dengan Cisolok, Jawa Barat, sepertinya berada di Kp. Pasir Suren. Di bukit ini pula terdapat stasiun radar pengintai milik TNI AU. Jadi ingat film Lost. Ada fasilitas pengamatan di tengah belantara hutan, seru sekaligus menegangkan.

Subuh. Sayup-sayup sambil terkantuk-kantuk, kami terbangunkan oleh Om Sting yang menyanyikan Roxxane di ponsel Om Yopie. Kami pikir itu suara alarm untuk membangunkan tidur, ternyata kata Om Yopie itu ringtone SMS. Yah, Om, ringtone SMS saja satu lagu, gimana kalau ada tiga SMS, ringtone-nya saja bisa 15 menit, hehehe.....
Pantai Karang Hawu

Pagi-pagi kami langsung check out dari penginapan sekitar pukul 8 dan langsung mencari sarapan di Pantai Karang Hawu. Selepas itu, langsung kami menanjak menuju puncak Bukit Habibie. Uh, ternyata jam segini sudah terasa panas, ya. Pak Habibie, here We come
Sepanjang jalan, banyak terdapat petunjuk arah tempat wisata dan hotel, villa, dan bungalow. Termasuk banyak pangkalan ojek antar jemput ke rumah Mak Erot, salah satu tokoh wanita legendaris dari Sukabumi yang dikejar para pria dan disukai para wanita. 
Jalan menanjak bertingkat-tingkat. Stamina benar-benar harus dipersiapkan. Juga yang lebih penting adalah mental. Sering kali mental (saya) jatuh kalau melihat tanjakan bertingkat atau tanjakan berbelok yang setelah belok, harapan kita adalah jalan menjadi datar atau bahkan turunan, tapi yang didapat malah tanjakan lagi. 
Masa disebu ndeso, Bu hehehe....
Pelabuhan Ratu view
Di suatu kampung yang kami lewati, ketika Om Didit dan saya sedang asyik foto-foto, tiba-tiba diteriaki ndeso oleh ibu-ibu di sana. Orang keren kayak gini malah diteriaki ndeso, teungteuingeun si ibu mah, hahaha.
Ngaso dulu sepedanya
Tiga kali kami terpaksa berhenti karena beratnya tanjakan. Tapi, beruntung karena pemandangan di bawah sangat luar biasa, isitrahat pun bisa sambil foto-foto, hehehe. Teluk Pelabuhan Ratu dan Cisolok di bawah tampak kecil. Sementara, Ujung Genteng di sebelah tenggara seperti memanggil-manggil. Ya, insya Allah kami akan datang, tapi tidak untuk touring pakai sepeda. Pakai sepeda motor saja, kali ya. 
Tanjakan sampai ke puncak sebetulnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3,5 km saja tetapi kami harus naik turun sampai ke ketinggian 303 mdpl dan nanjak setinggi total 444 m. Saya berpikir, harusnya gir belakang ada 10 atau 11, sementara crank harusnya ada 4 sampai yang terkecil supaya gowes nanjaknya ringan. Tapi, Om Didit punya ide brilian. Katanya, beli saja sepeda yang ada mesinnya, hehehe. 
Menjelang tengah hari, akhirnya dengan penuh perjuangan, kami tiba di puncak Bukit Habibie. Seperti hari sebelumnya, selalu banyak pengunjung yang mengabadikan dirinya dengan latar belakang Teluk Pelabuhan Ratu dan Cisolok nun di bawah sana. Pemandangan spektakuler, subhanallah. Hampir semua orang yang saya lihat memegang kamera atau ponsel pintar untuk memotret dan update status. Tidak heran, penjualan kamera dan ponsel semacam itu di Indonesia bak kacang goreng. Dari yang paling mahal sampai yang paling murah, laku semua. Selain itu, bagi pengunjung, tersedia pula warung-warung yang menjual jajanan dengan fasilitas view jauh ke laut lepas. Cuma belum ada sop buah seperti keinginan Om Didit. Mungkin ini jadi peluang bisnis, Om? 
Puncak Bukit Habibie, Cisolok
Laporan Garmin menunjukkan odometer hanya 10,6 km; kecepatan maksimum 51,1 km/jam; waktu gowes efektif 1 jam 22 menit; total waktu tempuh 3 jam 46 menit, kecepatan rata-rata 7,7 km/jam (siput); ketinggian maksimum 303 mdpl; total ascent alias tanjakan 444 m. 
Sehabis kenyang foto-foto, tapi tidak sampai sendawa, sepeda-sepeda pun masuk kembali ke dalam mobil dan naik ke atas bike-rack untuk perjalanan pulang ke Serang. Ternyata, dari puncak Bukit Habibie sampai dengan perbatasan Jabar-Banten, jalanan menurun terus. Sepertinya asyik untuk dinikmati bonusnya. Tapi, apa daya, karena keterbatasan waktu, kami harus bergegas kembali. 
Walau demikian, kami sempatkan untuk mengabadikan diri di tugu perbatasan Jabar-Banten.
Perjalanan pulang kami tidak melewati Sawarna tapi melewati jalanan lain yang di beberapa bagian rusak dan kotor karena bekas lumpur dari ban-ban truk berukuran besar yang keluar-masuk proyek sebuah pabrik semen! Truk-truk gak sopan, naik ke jalan gak nginjak keset dulu. Tapi untung, di beberapa titik, para petugas dari pabrik ini menyemprotkan air membersihkan jalan. Lanjutkan, Om!
Tiba di Bayah, Om Pri ngidam lagi pengen sate, sampai harus menghubungi teman sekolahnya yang kebetulan tinggal di Bayah untuk referensi. Dua hari touring saja, Om Pri sampai ngidam tiga kali. Akhirnya, dapatlah warung sate yang kami cari, terletak di seberang SMPN Bayah. Satenya mantap, sambalnya luar biasa, alhamdulillah. Jadi ingat, zaman SMP di SMPN 3 Rangkasbitung dulu pernah ikut kemah PMR di SMPN Bayah ini. Padahal kami bukan anggota PMR, senang kemahnya saja, jadi penggembira. Pas malamnya hujan, tenda-tenda pada bochor,,,, bochor,,, terpaksa kami (atau malah senang) bermalam di ruang-ruang kelas di sekolah ini. Alhasil, gak dapat tuh suasana menginap di tenda, hehehe....
Di Malingping, kami sholat di masjid agung. Om Pri mandi, tapi di mobil diapit oleh Om Didit dan Om Yopie yang gak mandi, hehehe. Yang dua terakhir sepertinya beruntung mengapit yang sudah mandi. Om Pri memang berprinsip kalau malam Jumat harus ganteng sampai ke rumah, hehehe. 
Di Gunung Kencana, kami salah berbelok. Seharusnya ke kanan (arah Cileles), malah ke kiri (arah Jalupang). Ini gara-gara semangat membahas gonjang-ganjing perpolitikan Banten dan nasional jadi gak lihat jalan. Bukan juga sih sebenarnya, ngobrol ngalor-ngidul doang, hahaha. Ditambah jalanan sangat gelap membuat rambu-rambu kurang terlihat. Yo wis, daripada harus memutar ke Jalupang terus Saketi, mending putar balik menuju Sampay saja deh, lebih terang. Dan memang, pas sampai ke Sampay, suasana terlihat terang-benderang, kontras dengan suasana sebelumnya di sepanjang jalan. Mobil pun bisa berlari dengan mulus hingga tiba di Serang lewat beberapa menit dari pukul 22. 
Perbatasan Jabar-Banten at Cibareno
Dipikir-pikir, gowes dalam perjalanan kali ini tidak terlalu capek. Yang bikin capek, perjalanannya di mobil menuju ke lokasi yang menghabiskan waktu pergi pulang sekitar 17 jam! 
Demikianlah goweser semua, sepertinya touring kali ini bukan touring gowes tapi touring mobil, hehehe... Yang belum, berarti tinggal touring pake motor. Yuk, kapan? 
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya. Wassalam.
Catatan, terima kasih buat istri tercinta dan anak-anak untuk SIM atau Surat Izin Menggowes-nya.
Google Map
Profil Karang Hawu-Puncak Bukit Habibie

GOWES TO PELABUHAN RATU

View dari Puncak Bukit Habibie, Cisolok
Sebenarnya sudah menjadi ritual SXC2, setidaknya setiap tahun sekali melakukan gowes touring ke luar kota. Tahun 2013 kami jadwalkan tanggal 25-26 Desember ke Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sepertinya menyenangkan. Namun sayang, perjalanan kali ini hanya diikuti oleh 4 orang saja, yaitu Om Didit, Om Yopie, Om Pri, dan saya. Belum kuorum sebetulnya. Semula terbayang memang tidak akan banyak goweser yang bisa bergabung karena waktunya berbarengan dengan jadwal liburan anak-anak sekolah dan bagi yang tidak cuti, efektif libur hanya dua hari saja. Tapi kalau jumlahnya empat sepeda, tidak terpikir sebelumnya. Sepi, sedih, tapi harus tetap semangat. Big boys don’t cry kata Extreme. The show must go on kata Queen. Akhir tahun 2012 lalu saja, gowes ke Tanjung Lesung edisi II juga hanya 4 orang, Om Dono, Om Mars, Om Agus, dan saya. Dipikir-pikir, kenapa saya selalu ikut ya hahaha.....
Kami naikkan dua sepeda ke dalam minibus dan dua lagi dengan bantuan bike-rack. Lumayan, bisa duduk nyaman karena kami hanya berempat, plus sopir, Mang Engkos. Start di Widya Asri pukul 8 diiringi gerimis dan diperkirakan sampai ke penginapan di Cisolok, Kabupaten Sukabumi sekitar pukul 14. Bismillah, kami meluncur dengan Om Didit di belakang kemudi. Belum tahu dia, kalau pakai mobil minibus ini nanti akan terasa ajrut-ajrutan-nya.
Membelah kebun karet di Cileles, Lebak
Kami lewati Kota Pandeglang dilanjut ke Kp. Sampay, Warung Gunung, Kabupaten Lebak. Jalanan lancar tiada hambatan. Selanjutnya menyusuri Jalan Sampay-Gunung Kencana, melalui Kecamatan Cileles, kemudian Gunung Kencana. Kami sempat mengabadikan suasana perkebunan karet di Cileles, tentunya dengan balutan keindahan keempat fotomodelnya hehehe.... 
Selanjutnya, selamat datang di kondisi jalan buruk di Lebak, Banten! Jalan Gunung Kencana-Malingping kami lalui sampai bermuara di Pasar Malingping. Jalan berlapis batu-batuan besar tidak rata membuat kami harus pandai-pandai memilih jalan yang bisa dilalui dengan nyaman. Di banyak titik, bahkan tidak ada lagi pilihan. Semuanya berbatu-batu. Kami sampai takut sepeda di bike rack sampai copot. Enak kali ya kalau pake mobil 4x4. Dari Malingping, kondisi jalan memang beraspal tapi sudah banyak bolong-bolongnya seperti permukaan bulan. Ini juga catatan buat kaum wanita, kalau wajahmu disamakan dengan bulan, walaupun purnama, jangan senang dulu, karena permukaan bulan itu bolong-bolong tuh. Tahun 2011 dulu sewaktu kami gowes ke Sawarna yang start-nya di Malingping, jalanan ini masih mulus-surulus. Tapi sekarang, 2013, begitulah adanya. Mudah-mudahan menjelang “PEMILU 2014” akan dimuluskan lagi. 
Kondisi sebagian jalan menuju Malingping, Lebak
Sampai di Bayah sekitar pukul 13.30, agak molor dari rencana sebetulnya, kami mampir makan siang dulu di pertigaan terminal Bayah. Menunya makan siang biasa, hanya ikan mas bakar, tempe, lalapan, sambel. Tapi yang membuat luar biasa adalah pete rebus,,,,, alhamdulillah. Dari Malingping tadi, Om Pri sebetulnya sudah kelaparan karena ngidam gorengan. Tapi dihibur Om Yopie, katanya nanti di depan ada tukang gorengan. Di depan, di depan, tahu-tahu Bayah, hehehe.Di sini pula jadi ingat, dulu sewaktu gowes ke Sawarna, pergelangan tangan saya terkilir karena jatuh. Gowes jadi gak maksimal. 
Kondisi jalan di sekitar Pantai Cibobos, Bayah, Lebak
Sekarang mobil dibawa Mang Engkos. Om Didit sepertinya sudah menyerah. Taraso bana hancurnya tuh barang. Perjalanan dilanjutkan melewati Kp. Sawarna. Kondisi jalan makin memprihatinkan, terutama di sekitar kawasan pantai Cibobos. Di banyak titik jalan yang bolong-bolong sekarang dijaga para pemuda setempat yang berpenampilan sangar, setidaknya menurut saya, tampak seperti menutupi lubang dengan tanah atau batu, tapi akhirnya meminta uang kepada setiap kendaraan yang lewat. Bahkan, banyak seluruh permukaan jalan ditutupi bubur lumpur coklat. Kalau ditambah sayuran, jadi karedok, kali. Harus banyak mengelus dada (awas, bukan mengelus-elus, ya). 
Pinggir jalan di Kp. Sawarna saat kami lewati terasa kurang nyaman dibandingkan dua tahun lalu. Mungkin karena sedang banyak pelancong, jalan sempit, banyak mobil, tempat parkir terbatas, mobil-mobil parkir di sepanjang jalan. Kami pun harus merayap karenanya. Om Didit sih terlelap. Capek, kali nyetir ajrut-ajrutan dari Serang hehehe... 
Dari Sawarna perjalanan dilanjutkan ke Kecamatan Cilograng, terus ke Kp. Cibareno. Jalanan masih sempit dengan kontur naik-turun. Oh ya, karena semula kami berencana akan finish gowes di Sawarna keesokan harinya, jadi kami mulai mengukur tanjakan dan turunan yang akan dilewati sambil menghitung-hitung waktu gowes. Untuk jarak, dari Cisolok sampai Sawarna sebetulnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 48 km. Ow,,, tapi ternyata tanjakan-tanjakannya membuat ciut nyali. Nyali saya sih hehehe.... Harus ada perubahan rencana nih. Apalagi Kamis malam inginnya tidak terlalu malam sampai Serang mengingat Jumat subuh saya harus terbang lagi ke Jambi. 
Kalau mendengar kata Cilograng, seperti menjadi hantu penempatan buat para PNS di Kabupaten Lebak. Bagaimana tidak, letak kecamatan ini memang berada paling ujung dengan jarak tempuh 6-7 jam dari Rangkasbitung, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Desanya sendiri yang berbatasan adalah Cibareno. Di sini berdiri tuga perbatasan antara kedua provinsi ini yang dipisahkan oleh sungai Cibareno. Jawa Barat dengan mottonya Gemah Ripah Repeh Rapih sebetulnya tidak asing bagi saya selaku mantan orang Jawa Barat sebelum berdirinya Provinsi Banten. Apalagi lambang itu ditempel di lengan kanan baju pramuka saya ketika sekolah dulu, hehehe.... Provinsi Banten sendiri memiliki motto Iman Takwa. Apa artinya tuh? Mudah-mudahan tidak sekedar motto atau slogan. 
Dan alhamdulillah,,,akhirnya tibalah kami di sebuah penginapan bernama Sapo Kuliki di Cisolok, Kabupaten Sukabumi sekitar pukul 16. Tidak terlalu mewah tetapi karena berada tepat di pinggir pantai, membuat kami bisa memandang ke lautan lepas dari sini. Perjalanan hari ini benar-benar AKAP. Total jarak yang kami tempuh lumayan jauh, yaitu sekitar 211 km dengan waktu tempuh sekitar 8 jam! Menyedihkan, berarti kecepatan rata-rata kami hanya 27 km/jam! Bagaimana tidak, kondisi jalan di Provinsi Banten sangat rusak, terutama mulai Cileles s.d. Cibareno. Saya sedih, kecewa, mengkel melihat kondisi ini. Kasihan saudara-saudara kami di Banten Selatan. Apakah mereka tidak berhak menikmati hasil pembangunan berupa jalanan yang licin?? Yang membuat lebih miris, setelah melewati perbatasan dengan Jawa Barat tadi, jalanan super-mulus, lapisan hotmix tanpa bergelombang dapat kami nikmati. Sangat kontras dengan kondisi di Banten. Bahkan, bila kita menggunakan sepeda balap, masih nyaman untuk dilalui.. Ya sudahlah, menyikapi kondisi ini, teureuy weh kalau kata orang Sunda mah. Masih untung juga selama perjalanan kami dihibur alunan lagu-lagu blues jadul koleksi Om Yopie dari ponselnya. Mantap, Om!
Setelah masuk penginapan, bersih-bersih sebentar, sholat Dzuhur-Ashar yang kami jamak-qoshor, kami bersiap untuk sunset ride ke Kota Pelabuhan Ratu. Oalah,,, baru sadar kalau tutup bagasi mobil Om Didit penyok gara-gara nahan dua sepeda yang terbanting-banting selama perjalanan. Tenang , Om, tinggal ketok magic saja, dibantu para jin, mulus lagi tuh barang, hehehe. 

SUNSET RIDE 
Teluk Pelabuhan Ratu ramai lancar
Jarak ke Kota Pelabuhan Ratu tidak terlalu jauh sebenarnya, hanya sekitar 14-15 km dari tempat kami menginap menyusuri jalan raya di tepian Teluk Pelabuhan Ratu. Melewati pantai Karang Hawu, suasana ramai karena sedang libur nasional. Banyak wisatawan dari Sukabumi, Cianjur, Bandung, dan tentunya Jakarta. Disebut karang hawu karena di sini terdapat karang yang berbentuk seperti hawu (sejenis kompor tradisional yang terbuat dari batu-bata). Di trotoar pinggir pantai, terdapat huruf-huruf yang sepertinya diniatkan sebagai icon pantai ini bertuliskan “Pantai Karang Hawu”, hampir sama dengan tulisan Pantai Losari di Makassar. Namun sayang, sepertinya tidak terurus dan tertutup lapak-lapak pedagang kaki lima. Bahkan, jelas-jelas di depan huruf tersebut beberapa pedagang sedang menyusun bambu untuk membangun lapak-lapaknya. Kenapa didiamkan ya? 
Pantai Sukawayana, Pelabuhan Ratu
Tipikal pantai selatan (Samudera Hindia) adalah berombak besar dan arus yang kuat. Ini pun dapat kita lihat di sini. Di beberapa tempat banyak terdapat karang sehingga tidak dapat digunakan untuk berenang. Berbeda bila dibandingkan di Banten (khususnya Selat Sunda), memang keindahan pantai berpasir dan ombak lebih bisa dinikmati di Anyer-Carita. Menyadari kelemahannya, Pemda setempat memberikan keunggulan kompetitif dengan infrastruktur jalan yang bagus dan hotel-hotel, villa-villa yang tertata rapi. Dengan demikian, para pelancong tetap setia berwisata. Yang diinginkan masyarakat adalah semakin banyaknya pantai yang tersedia untuk umum yang gratis atau beretribusi pun tidak mahal. 
Saat matahari terbenam adalah saat yang luar biasa indah. Semburat warna oranye berlapis awan di cakrawala seperti menjadi santapan wajib para fotografer profesional maupun amatir. Tidak terkecuali kami hehehe. 
Sunset ride
Setelah matahari tenggelam, perjalanan kami lanjutkan NR alias Night Ride ke Pelabuhan Ratu. Untunglah banyak lampu jalan, sehingga menambah terang sinar lampu sepeda yang temaram. Pelabuhan Ratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan salah satu pelabuhan yang dibangun pemerintah pusat untuk menunjang aktifitas perikanan yang memanfaatkan sumber daya ikan yang ada di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 9 Samudera Hindia. Sangat strategis fungsi dan lokasi pelabuhan ini. Apalagi Indonesia adalah negara kepulauan dengan lautan yang sangat luas yang harus kita manfaatkan secara arif. 
Karena perut lapar, Om Pri sepertinya ngidam sate. Lagi, setelah ngidam gorengan sebelumnya di Malingping, hehehe. Ya sudah, kami mampir ke tukang sate yang ramai. Biasanya kalau ramai, kalau gak enak, ya murah. Alhamdulillah ternyata lumayan, walaupun dialah satu-satunya tukang sate di sekitar situ. 
Inna Samudera Beach, depannya doang
Setelah kenyang, siap-siap kami gowes balik ke penginapan. Kami sempatkan mengabadikan momen di depan Samudera Beach Hotel yang legendaris itu, terutama dengan adanya kamar yang disediakan khusus untuk Nyi Roro Kidul. Masih gak yah? Jadi merinding.
Bersih-bersih terus sholat. Sehabis ganteng lagi, Saya, Om Didit, dan Om Yopie lanjut melahap mie rebus karena sepertinya sate tadi belum nendang. Om Pri mah sudah ngamar, kayak anak mami, hahaha. Kami sekalian konsolidasi lagi lokasi finish karena sepertinya tidak akan keburu kalau harus di Sawarna karena keterbatasan waktu. Akhirnya diputuskan finish di puncak Bukit Habibie saja. Terima kasih Pak Habibie. 
Ada yang unik di warung pinggir pantai yang kami datangi. Tempatnya sih biasa saja. Dipan pun terbuat dari kayu dan bilik bambu. Tapi pelayanan si akang penjaganya maksimal. Sehabis beres menghidangkan mie rebus, tiba-tiba dia berkaraoke-ria penuh penjiwaan seolah-olah sedang di atas panggung. Lagunya sebetulnya melow, punyanya D’Lloyd. Tapi, setiap habis satu lagu dia selalu teriak “Oke”. Karuan saja Om Didit refleks menyahut “Buka dikit Joss”. Hanya sepersekian detik, lagu pun berganti menjadi lagu itu. Iramanya seperti goyang caesar itu. Tapi, lama-lama koq semakin berisik ya, sampai ada musik koplo segala. Bicara tentang koplo, semua lagu ternyata bisa dibuat koplo. Percaya atau tidak? Percaya, tapi lagunya jadi kehilangan jiwa. Akhirnya, sebelum semua kehilangan jiwa, Om Yopie request lagu nostalgila saja, dan Bang Broery pun naik panggung.
Sekitar pukul 1, kami sudahi aktifitas hari ini. Mata sudah mulai sepet. Apalagi besok harus menaklukkan tanjakan sampai ke puncak Bukit Habibie, harus cepat-cepat bobo nih. Laporan Mang Garmin saya ke Pelabuhan Ratu menunjukkan odometer 28,5 km; kecepatan maksimum 52,7 km/jam; waktu gowes efektif 2 jam 09 menit; total waktu tempuh 3 jam 35 menit, kecepatan rata-rata 13,3 km/jam (kura-kura); ketinggian maksimum 66 mdpl; total ascent alias tanjakan 239 m. Banyak berhenti untuk foto-foto dan makan malam.
Sunset Ride from Google Maps

Tuesday, June 11, 2013

GOWES REUNI GUNUNG SARI

Tikum Favorit
Sudah lama sekali SXC2 tidak gowes bareng sejumlah 10 orang ke atas karena masing-masing kesibukan para goweser. Terakhir adalah saat gowes byuurr ke Cidahu bulan Februari 2013 yang banyaknya 13 orang. Selainnya, gowes rutin yang kami lakukan hanya diikuti 4 atau 5 goweser saja. Itu pun hanya berniat luhlang atau ‘ritual’ saja.
Bermula dari pertemuan beberapa anggota yang mudah-mudahan masih saling kenal saat fun bike tanggal 2 Juni 2013 di Alun-alun Serang, dibulatkanlah tekad untuk kembali gowes bareng. Maka, hari Kamis tanggal 6 Juni yang juga hari libur nasional, kami gowes reuni ke Gunung Sari, melewati track blusukan di Taktakan dan menanjak ke Cilowong, sekalian memenuhi undangan Om Tsauban untuk mampir ke "kandang"-nya di Gunung Sari. Mungkin ini syukuran juga atas kepindahan lokasi kerjanya yang balik ke homebase di Serang beberapa bulan sebelumnya. Selamat ya, Om. Dengan iming-iming undangan makan siang, alhamdulillah ada 15 orang goweser bergabung di pagi menjelang siang itu di tikum favorit, KPP Serang.
Disebut menjelang siang karena beberapa menit kami masih harus menunggu tri mas getir, Om Didit, Om Opik, dan Om Supri yang gak bisa dikontak telepon, BB, whatsapp, Gtalk, dll.. Kami khawatir kalau-kalau mereka nyasar atau ada kejadian yang tidak diharapkan. Padahal, mereka sedang enak-enaknya menikmati sarapan, ckckckck..... Selain tri mas getir, ada juga Om Agung yang biasa nanjak ke 45 atau Cilowong sorangan. Kata Om Didit, nanjak ke 45 bukan sekedar gowes luhlang-tapi dapat banyak keringat, tapi sudah termasuk ritual. Hadeuh..... . Sayang Omars, kembaran sepedanya Om Dono, tidak bisa ikut gowes karena harus memperbaiki jet pump-nya yang bermasalah. Jadi ingat, dulu ada tuh film tentang tukang pompa yang juga jagoan pemberantas kejahatan. Kalau gak salah judulnya Super Marsudi Bros, hehehe. Om Dono sendiri baru bergabung di Taktakan karena ketinggalan rombongan yang melewati etape blusukan di sekitar Taktakan. Jadilah sepedanya bersih sendiri. 
Ada pula Om Tsauban yang juga tuan rumah, Omiyan yang jarang gabung karena sibuk jualan? Om Agus yang hampir pensiun gowes saking lamanya ‘izin’ hehehe, Om Dodo Chupeet yang sepedanya masih tampak mengkilap padahal udah lama dirakit. Mungkin karena jarang dipakai. Kasih ke saya saja kalau sudah gak butuh, Om, hehehe..... Ada juga Kang Ola alias si bolang yang kayaknya gak pernah capek, ada pula Om Yopie yang sepertinya sudah jarang main facebook lagi, belum mau gabung BBM grup ataupun whatsapp. Ayo dong, Om, susah kabar-kabarinya nih, hehehe... Ada juga Vito, Eriz,dan Ridwan, serta Romy yang baru lulus SMU. Selamat ya, Rom! Nanti Bike To School-nya diganti Bike To Campus dong. 
Dress code sebenarnya jersey hijau yang legendaris itu, kecuali yang belum punya tentunya. Omiyan malah memakai jersey batik merahnya. Sekalian promosi barangkali pikirnya, hehehe. Warna kebanyakan jersey menunjukkan bahwa pemakainya sudah makan asam garam pergowesan, sebagian lagi tampak masih jelas karena kurang suka makan asam dan garam, hehehe.... Sudah saatnya nih kita buat jersey baru. Jersey baru biasanya menelurkan semangat gowes baru. Silakan buktikan! 
Alas Taktakan
Perjalanan dimulai melewati Kp. Kamalaka dan melahap single track sejauh sekitar 2,2 km yang sudah tertutupi ilalang. Keluar-masuk kebun orang, melewati track kerbau yang becek dan tidak mungkin digowes. Bahkan, di beberapa titik, kerbaunya tampak sedang santai, sambil mikir kali, “Ini orang-orang mau kemana sih, ngelewatin jalan gue”? Hehehe. Kaki lecet-lecet jamak, sepeda ditarik dan dipegangin pohon-pohon sudah biasa. Ketika melewati jalanan licin dan becek yang di sebelahnya ada kawat berduri ala kandang buaya atau komodo di bonbin Ragunan, Om Yopie dengan sigap mengingatkan goweser di belakangnya, “Awas kawat berduri”! Tiba-tiba, gledak,,, gedebuk..... Untunglah tidak apa-apa hanya sedikit baret-baret dan sobek-sobek. Titi DJ atuh, Om! 
Gak ada jalan, Om.....
Yang membuat lama kami melewati jalur ini adalah para goweser banyak foto-foto. Maklum, sudah lama gak gowes bareng. Om Dono sampai kakinya berakar menunggu di pertigaan Umbul Tengah. Sabar ya, Om, kami sedang foto-foto nih, hehehe.
Muncul di Taktakan, Om Dono bergabung. Perjalanan selanjutnya ke Gunung Sari melalui Jalan Raya Takari yang sepenuhnya berlapis aspal. Untungnya tanjakan Cilowong sedang ramah di hidung alias gak terlalu bau. Om Dodo walau jarang gowes ternyata masih kuat nanjak.
Macet, gak perlu standar
Sampai saya berkomentar, “Hebat, lu, Do”! Nah, gara-gara teriakan itu dia kuat-kuatin nanjak sampai puncak sambil megap-megap. Malu katanya kalau sampai TTB, hehehe. 

Rehat sebentar di warung Pereng untuk melahap lontong, gorengan, teh manis, dan menambah persediaan air minum yang mulai menipis. Terbersit sedikit keinginan untuk masuk Rumah Hutan Cidampit. Rindu aku, sudah lama tak ke sana. 
Mau kemana sih, Om?
Sebelum Gunung Sari, kami berbelok sebentar ke arah Kp. Nagrek. Tidak jauh sebenarnya, cuma memutar sekitar 4 km saja dibandingkan melewati pertigaan Gunung Sari sejauh 1,5 km. Ya, lumayanlah tambah keringat. 
"Kandang" Om Tsauban
Akhirnya, sekitar pukul 11, masih pagi, tiba juga kami di tujuan dan dijamu maksi oleh Om Tsauban. Luar biasa dan terima kasih, Om! Jangan kapok dan ditunggu undangan selanjutnya, ya, hehehe. 
Kang Ola yang kena giliran masuk kerja siang terpaksa harus berangkat ngebut duluan. Sampai-sampai, katanya, sakit ngebutnya, sepeda yang dia tunggangi hampir keluar jalur dan menabrak tebing di turunan Cilowong sampai bannya ngepot. Aduh, hati-hati atuh, Kang! Om Pri dan Vito, katanya mau menikmati single track lain yang masuknya dari arah Paninjoan menuju Kawasan Agroindustri Cokop Sulanjana, untuk kemudian keluar ke jalan raya di Taktakan. Entah bagaimana  akhir ceritanya, pro memoria
Pengen lagi.....
Rombongan lain, setelah foto-foto reuni dan tentunya kenyang makan dan menambah kalori yang jumlahnya melebihi yang dibakar selama gowes, bersiap menikmati turunan bonus Cilowong dan menuju rumah masing-masing. Saya sendiri sampai ke rumah menjelang pukul 13.00. Alhamdulillah semua berjalan dengan selamat dan lancar. 
Ternyata gampang mengumpulkan anggota SXC2, tinggal diundang makan saja, hehehe. Tak sabar menunggu undangan selanjutnya. Dengar-dengar sih di kebunnya Om Dodo???? Hehehe. 
Oh ya, ini hasil catatan Endomondo dan GPS saya. Pastinya akan berbeda dengan hasil goweser lain, tapi lumayanlah untuk perbandingan saja.
Google Earth Perjalanan kita
Penampilan asli dari GPS

Hasil Rekaman Endomondo 

Thursday, April 04, 2013

GOWES SUSUR KAKI GUNUNG ASEUPAN SAMPAI VILA CIDAHU



Gunung Aseupan di belakang




Hari Jumat tanggal 29 Maret 2013 itu benar-benar edun-suredun. Mengapa gowes Jumat? Ya, tanggal itu memang merah di kalender, jadi kami bisa gowes seharian dan hari Sabtu-Minggunya bisa untuk acara keluarga masing-masing. Mengapa edun-suredun? Karena kalau sebelumnya kami sudah menyusuri kaki Gunung Karang di Pandeglang juga (lihat di sini) dan Gunung Rajabasa di Lampung (sila lihat di sini: 1, 2, 3, dan 4), kini kami berencana gowes menyusuri Gunung Aseupan di Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang. Tampaknya ini sesuatu yang harus di-WOW-kan karena akan sangat menarik dan menantang, sampai-sampai peserta pun membludak sampai 7 orang. Selain saya, ada Om Mars, Om Didit, Om Roni dan juniornya, Aldi, Vito, dan penunjuk jalan kami seperti biasa, Om Yopieastroz. Masih mendinglah dibandingkan perjalanan ke Tanjung Lesung lalu yang hanya diperkuat 4 goweser (sila lihat di sini). Walaupun sebetulnya kami berprinsip "gak ada lu gak rame", tapi seperti kata kakek-kakek rocker dari Inggris, Queen, the show must go on!

Gunung Aseupan (1.174m dpl) adalah salah satu gunung yang paling rendah dibanding dua saudaranya yaitu Gunung Karang (1.778m dpl) dan Gunung Pulosari (1.346m dpl). Ketiganya berada di Kabupaten Pandeglang, Banten. Disebut Gunung Aseupan mungkin karena gunung ini memiliki puncak yang mengerucut berbentuk seperti aseupan yang dalam bahasa Sunda berarti kukusan berbentuk kerucut terbuat dari anyaman bambu untuk menanak nasi. 

Gunung Aseupan di belakang (full team)
Start seperti biasa di KPP Pratama Serang yang kian sepi peminat 15 menit menjelang pukul 8. Jalur yang dilalui seperti biasa juga melewati Jalan Bongla yang penuh dengan polisi tidur, Jalan Palka yang hancur lebur di banyak titik di Pabuaran dan menanjak terus-menerus walau tidak curam sampai ke Pasar Ciomas. Ah, jalur yang paling membosankan yang sering kami lalui! Saking banyak dan panjangnya tanjakan, sepanjang jalan Om Mars sampai 'berhalusinasi' menyanyikan sepotong lagunya Harry Mukti, "...pasti akan berakhir.....pasti akan berlalu....." hehehe. 
Saya kira rombongan depan akan mengeteh manis di warung soto Jogja di Jalan Palka sekitar 14km dari start, ternyata tidak. Bahkan, ketika rombongan belakang tiba di sana, rombongan depan terus gowes lagi. Kata Om Mars rombongan depan gowes 'kesetanan.'

Gunung Karang di belakang

Gunung Pulosari di belakang
Tiba di Mandalawangi, kami sholat Jumat di sebuah masjid yang lumayan bagus dari luar. Tapi sayang, seperti pengalaman kami sewaktu naik ke Kp. Kaduela di kaki Gunung Karang, tempat wudlu di masjid-masjid berbentuk kolam berukuran beberapa meter kubik yang juga dijadikan kolam renang buat mandi, sikat gigi, dan bersampo warga sekitar. Ya, di kolam yang sama! Yang belum terbiasa dijamin ragu-ragu deh kumur-kumur di situ (sila lihat di sini). 
Aldi bin roni di depan Gunung Karang, ready to rock n' roll

Om Mars menuju Vila Cidahu
Sehabis sholat, kami maksi di warung langganan kami di pasar Mandalawangi. Yaah......, pete bakarnya sudah habis. Untunglah, ikan mas bakarnya masih tersedia, jadi makan tetap maknyus
Setelah kenyang, kami lanjutkan gowes dan mengambil jalur makadam menyusuri kaki Gunung Aseupan, keluar-masuk kampung sampai nantinya masuk ke jalan raya lagi di Jalan Palka, Padarincang. Om Yopie menyebut makadam sebagai Mac Adam. Emang dia siapanya Mac Arthur, Om? Atau dia yang membangun jalan hancur ini? Tanjakan selanjutnya lebih banyak bila dibandingkan Serang-Ciomas-Mandalawangi yang sudah kami lalui. Hadeuh, pantas saja pegel-pegel semua. Dan parahnya, lapisan jalannya sebagian besar adalah bebatuan. Makin beratlah menggowes! Tapi, pemandangan 3 gunung membiru dengan kami di tengah-tengahnya di sekitar pesawahan bertingkat-tingkat menghijau, dan jalanan berkelok-kelok sangat luar biasa. Sungguh indah ciptaan Tuhan semesta alam. Subhanallah! Sementara, pancuran air memancar tiada henti di pinggir-pinggir jalan yang kami lalui langsung dari sumbernya di Gunung Aseupan bisa digunakan secara gratis oleh masyarakat untuk keperluan pengairan sawah, MCK, bahkan mencuci motor! Warna hijau dimana-mana. Sampai-sampai dengan jersi SXC2 hijau yang kami kenakan, saya merasa seperti bunglon, menyesuaikan diri dengan warna sekitar. 
Om Roni menuju Vila Cidahu
Dengan berbekal GPS, sebenarnya kami bisa mengambil jalur terpendek untuk sampai ke Padarincang. Tapi, karena rombongan depan sangat bersemangat gowes, beberapa belokan terlewati. Akhirnya, jadilah kami mengambil jalur yang terjauh. Namun, ternyata ada hikmahnya karena menjelang Padarincang, kami melewati jalur turunan trek tunggal yang tanahnya lumayan kering di tengah hutan. Sangat mengasyikan. Trek-trek seperti inilah yang sangat kami sukai. Jadinya kami bisa menikmati bonus turunan dengan puas. Hilang semua penat karena tanjakan tadi. Lebih memuaskan lagi, ternyata setelah menyusuri tepi sungai, KAMI MUNCUL DI SEBELAH BARAT VILA CIDAHU! Atau dari arah sebelah kiri vila. Langsung saja beberapa goweser diabadikan ketika menanjak menuju vila dengan latar belakang sungai dan gunung di belakangnya. 
Jalur yang kami lewati ini ternyata sudah diwacanakan oleh Kang Ola sebelumnya untuk kami eksplorasi tapi dari arah vila ke barat (dibalik). Nanti kang Ola berangkat sajalah, saya sih gak mau ikut, sudah tahu. Apalagi, jalannya nanjak dan berlapis batu-batu, capek, hehehe...... Apalagi kalau jalannya basah sehabis hujan, bisa dipastikan gak bisa digowes. Gowes nyebur ke Cidahu bisa dilihat di sini
Sekitar pukul 16 setelah rehat sebentar di muka vila, kami lanjutkan perjalanan gowes menuju Pasar Padarincang yang hanya sekitar 2km saja untuk kemudian dilanjutkan ke Serang. Karena keterbatasan waktu dan semangat yang mulai loyo, kami evakuasi beberapa goweser kecuali Vito dan Om Yopieastroz yang konsisten gowes sampai Serang lagi. Bravo! 
Om Yopieastroz di Vila Cidahu

Vito Putra Petir di Vila Cidahu
Catatan jarak Vito menunjukkan 90km lebih. Sementara, GPS saya yang hanya sampai Pasar Padarincang menunjukkan data total jarak tempuh 52,52km dengan total waktu tempuh termasuk sholat jumat, maksi, dan rehat-rehat selama 9jam:51menit:54detik atau selama 9,87jam. Maka, kecepatan rata-rata saya hanya 5,32km/jam alias selambat kura-kura. Tapi, kalori yang dibakar lumayan banyak yaitu 7.137Kcal.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons