Tuesday, May 05, 2015

Tanjakan KADUDAGO dan Turunan KAMASAN-ANYER

Bismillahi rohmaani rohiim, hari Jumat tanggal 1 Mei 2015 kemarin kami gowes May Day! Terima kasih kepada para buruh sehingga kami dapat libur. Tetap berjuang ya, semoga apa yang diharapkan seperti kenaikan UMP bisa terwujud.
Trio Geledek
Semula kami ingin gowes ke luar Banten, maklum sudah lama kami gak “jalan-jalan” berjamaah. Namun apa daya, beberapa goweser harus stand by di tempat kerjanya karena pabrik mau shutdown atau persiapan May Day supaya tidak anarkis, atau jangan-jangan sudah pada tahu bakal nanjak, jadi menghindari tanjakan ke Kadudago yang katanya asoy geboy itu. Akhirnya, kita jalan-jalan di Banten sajalah karena masih banyak tempat yang belum dijelajahi juga. SIM alias Surat Izin Menggowes sampai subuh sudah diterbitkan.

Sesuai masukan dari Om Yopie dan Om Didit dua minggu sebelumnya, saat ritual ke Puncak 45, kami putuskan akan nanjak ke Kampung Kadudago kemudian turun ke Kampung Kamasan, keduanya di Anyer. Barangkali masih ada goweser yang belum tahu di mana posissinya, karena kalau orang mendengar Anyer pasti terasosiasi dengan pantai. Padahal, di sebelah barat dari pantai Anyer terdapat dataran tinggi atau perbukitan yang dapat digunakan untuk jalur evakuasi kalau sewaktu-waktu terjadi tsunami. 
Titik start
Setelah sarapan di uduk Taman Puri yang katanya tempat favoritnya beberapa goweser ganjen, hehehe,,,, berempat kami start dari sini, yaitu Om Dono, Om Yopie, Om Didit, dan saya sendiri. Sedangkan Om Opik akan bergabung kemudian di Pasar Mancak. Saya dan Om Dono mengenakan jersi go green, sementara Abah dan Om Didit dengan jersi yang masih hangat, edisi geledek. Kami jadi tebak-tebakan, Om Opik nanti pakai jersi apa ya. Di uduk Puri ini pula Om Cupet mampir cuma untuk sarapan. Katanya dia sebetulnya sudah mimpi sarapan dengan rabeg dan semur jengkol di rumahnya Om Didit, namun apadaya belum rezeki ya, Om,,,, dapatnya nasduk saja, hehehe.

Rawa Danau nun jauh di sana @Panenjoan
Sepertinya kami sudah terbiasa gowes dengan 4-5 personil. Dulu waktu ke Tanjung Lesung edisi 2.0, kami hanya berempat, yaitu Om Dono, Om Agus, Om Mars, dan saya,,,, ditambah pengawalan forerider roda empat oleh Om Yopie yang saat itu sedang cedera kaki sehingga absen gowes. Pengurus teras semua tuh, hahaha. Lalu sewaktu ke Puncak Habibie, kami cuma berempat, yaitu Om Didit, Om Yopie, Om Prie, dan saya. Terus waktu trek penyesalan ke Rawa Danau, pun hanya berempat, yaitu Om Yopie, Pak RT Kang Ola, Om Pri, dan saya. 
Untuk menghemat waktu dan tenaga, kami naikkan sepeda-sepeda kami ke atas pick up sampai ke Panenjoan, titik start. Dari situ kami tinggal merosot saja ke Pasar Mancak. Sangat lumayan menghemat 20 km dengan jalur, walau jalan aspal mulus, lewat super tanjakan di Cilowong. Hampir di sepanjang Jalan Takari, kami lewati banyak goweser lain yang sedang khusyuk gowes menanjak ke arah Cilowong. Om Yopie sebagai ‘sesepuh’ goweser Serang tentunya di sepanjang jalan banyak disapa goweser-goweser tadi. Tak terasa, ternyata perjalanan ke Panenjoan singkat kalau sepeda di atas pick up, hanya sepeminuman teh. Padahal kalau gowes bisa hampir 2 jam, alias sepeminuman kopi, itu pun sampai kopinya dingin. 
Duo geledek diapit Go Green
Sekitar pukul 8.20 kami tiba di Panenjoan (365 m dpl), tepatnya di sebelah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat Cagar Alam Rawa Danau Jalan Raya Gunung Sari-Mancak Km.7. Oh,,, ternyata masih Jawa Barat ya? Kenapa tidak Banten? Ternyata hierarkinya seperti ini: Balai Besar KSDA Jawa Barat, Bidang KSDA Wilayah I Bogor, Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Resor Konservasi Wilayah I. Resor inilah yang di sini mengurusi Cagar Alam Rawa Danau dan Gunung Tukung Gede. Sepertinya di Provinsi Banten memang belum ada Balai Besar KSDA. Di kawasan ini, masih terjadi beberapa permasalahan, antara lain adanya tempat wisata ilegal, tempat kita bisa memandang lepas ke bawah kawasan Rawa Danau, sekaligus sampah yang dihasilkannya. Namun, sekarang sepertinya telah ditertibkan sehingga tidak ada lagi spot tadi, sampah, dan warung-warungnya. 
Selepas puas menikmati pemandangan Rawa Danau di bawah, kami segera lanjutkan perjalanan ke arah Pasar Mancak, tempat di mana Om Opik sepertinya sudah kesal menunggu kami yang tak jua muncul. Maklum dia sudah gowes dari Gerem pagi-pagi sekali dan sudah tiba di Mancak saat kami masih sarapan dan ngobrol di uduk Puri! Untungnya dia gak putar balik lagi, seperti saat perjalanan gowes ke Km. 0 Pulau Jawa di mercusuar Anyer, dulu. Menuju Pasar Mancak ibaratnya kami mendapat bonus sebelum bekerja karena jalanan terus-menerus turun sepanjang sekitar 6 km sementara kami belum berkeringat. Tak apalah, bonus dibayar dimuka. Saya sih kalau turunan gitu selalu bisa menyusul. Bukan apa-apa, ternyata berat badan dikombinasikan dengan gravitasi sangat mendukung kecepatan. Sampai Om Didit bingung, kalau saya selalu menyusul dia saat turunan, hahaha. Belum ketemu Om Opik saja, lebih kencang loh di turunan. 
Sekitar 20 menit kemudian, sampailah kami Pasar Mancak (190 m dpl) dan Om Opik pun siap bergabung. Ternyata dia memakai jersi geledek, hahaha. Ternyata pula, odometer dia sudah menunjukkan lebih dari 15 km dari Gerem, padahal kami yang dari Panenjoan masih pada segar nih. Jangan dijadikan alasan capek ya, Om, hehehe. 
Kami lanjutkan perjalanan menuju ke Pasar Anyer dengan lapisan aspal nan mulus yang konturnya cenderung roller coaster. Ini berarti turunan mantap akan selalu diikuti dengan tanjakan pada akhirnya. Masih enjoy karena masih pagi, sampai berakhir sekitar pukul 9.30 di simpangan jalan baru Tegal Cabe, Kp. Hamurang (60 m dpl), sebelum Pasar Anyer, sekitar 8 km dari Pasar Mancak. Di sini kami menemukan sebuah warung gorengan dan teh manis yang penjualnya kali ini bukan teteh, tapi akang. Penonton kecewa, hehehe. Tapi emang pisang gorengnya enak sih walaupun digoreng sama si akang. Saya cek kecepatan maksimal dari trek yang kami lalui tadi mencapai 60 km/jam. Lumayan kalau buat saya sih. Om-Om mungkin banyak yang lebih cepat. 
Kadudago di belakang
Perjalanan selanjutnya menuju Kp. Jaha melewati jalan baru, kemudian jalan alternatif yang menghubungkan Anyer dengan Labuan. Dari sini, tujuan kami sudah tampak tinggi menjulang di perbukitan di belakang. Pun tampak menara relay stasiun TV di kejauhan. Namun, walau terlihat tinggi, tidak sampai menimbulkan rasa gentar seperti penampakan tanjakan ke Kedurung yang dari arah Grogol-Cilegon sudah kelihatan seperti garis perak tipis nun di atas bukit. Melihatnya saja ngeri, bagaimana menaikinya, eh maksudnya mendorong sepeda ke sana. 
Arah ke Kp. Jaha, Anyer
Memasuki sebuah perkampungan selanjutnya, kondisi jalanan makadam dengan sawah dan air mengalir di kanan-kiri mengingatkan kami pada suasana alam Baros. Ternyata eh ternyata, desa ini bernama Desa Sindang Mandi, Kecamatan Anyer, identik dengan nama desa yang serupa di Kecamatan Baros. Dari sinilah tanjakan dimulai. 
Scattered dibaca skateboard
Jalanan selebar 3 m berlapis aspal hotmix mulus dengan kiri-kanan kebun penduduk, terasa seperti di Kp. Cipala, Merak. Jadi ingat dulu sewaktu nanjak ke Cipala terasa berat karena harus menggendong plastik berisi pohon-pohon untuk ditanam di atas bukitnya. Pemandangan dari atas pun hampir sama dengan di Cipala. Di sini kami bisa melihat Anyer, mercusuarnya, lautan lepas Selat Sunda dikawal Gunung Krakatau, Pulau Sebesi, dan Pulau Sumatera di kejauhan. Bandingkan dengan pemandangan serupa dari Cipala, yang kita bisa melihat Merak dan Bojonegara, dan lautan lepas Laut Jawa. Hampir sama. 
Gunung Karakatau, Selat Sunda  di belakang. Gak tampak ya...

Selepas pukul 11, setelah nanjak sekitar 1,5 km, kami tiba di Kp. Kadudago (251 m dpl), check point pertama. Sekilas suasana di sini terasa seperti di Kaduengang (824 m dpl), Pandeglang, yaitu sama-sama tempat bersemayamnya pada highlander, walaupun ketinggiannya benar-benar berbeda. Bedanya lagi, kalau dari Kaduengang kita melihat Kota Serang dan Pandeglang di kejauhan, kalau dari sini kita melihat Anyer dan laut lepas. Di sini pula kami sholat Jumat terlebih dahulu. Goweser juga ingin masuk surga, kata Pak RT Kang Ola mah. 
Sehabis sholat kami mencari warung yang menjual nasi setidaknya intel alias indomie telor.
Kadudago!
Namun, tidak ada penjual makanan dan kalaupun ada warung yang jual indomie, kata si ibu pemiliknya, gasnya habis, belum ada kiriman lagi. Wah, gimana ini, mau diajak nanjak perut gak diisi nasi. Kasihan Om Opik yang merindukan nasi. Akhirnya, perut cukup diganjal dengan donat buatan kampung, piscok, dan kacang-kacangan. Mudah-mudahan cukup untuk menambah energi. Uang di sini gak laku, ada uang gak ada barang (baca: nasi). 

Sekitar pukul 13, karena tidak berhasil mendapatkan makan siang, kami lanjutkan perjalanan ke menara relay TV. Baru saja lepas dari Kp. Kadudago, kami disambut jalanan berbatu-batu yang menanjak yang membuat sepeda sulit digowes. Akhirnya yuk kita TTB. Tidak lama, sekitar 20 menit kemudian, sampailah kami di check point kedua, yaitu menara relay TV RCTI dan SCTV Cilegon (307 m dpl).
Tentu saja kami mengabadikan situasi di sini, kecuali Om Opik yang sepertinya mimpi ketemu warung indomie, di pos satpam kawasan ini. Oh ya, sampai sini, sepeda kami masih bersih-bersih loh. 

Lima pengelana kelaparan
Hip Hip Hura,,,, di tower Kadudago
Lebih dari setengah jam foto-foto, kemudian perjalanan kami lanjutkan menuju Kp. Kamasan, melewati trek tunggal. Wah, kayaknya asyik nih. Jarak baru sepelemparan tombak saja, ketika beruntung kami bertemu penduduk setempat yang sedang panen kelapa muda. Ya sudah, kami ikut panen juga, terutama juga setelah ada permintaan khusus dari Om Opik. Ini seolah peribahasa, tak ada indomie, kelapa muda pun jadi. Alhamdulillah segar. Kata Om Didit, kelapa airnya banyak ya, gak habis-habis. Padahal  sepertinya perutnya sudah kembung dan ingin segera melahap daging kelapanya yang aduhai. 
Alhamdulillah dapat klamud, suweger....
Setelah badan terasa lebih segar kembali, kami lanjutkan perjalanan. Barulah terasa di sini, betapa bekas hujan beberapa hari sebelumnya cukup membuat jalanan tanah yang kami lalui licin dan becek. Mana (bekas) hujan, becek, gak ada ojek. Di beberapa bagian jalan, penduduk setempat membuat pagar dari bambu untuk menghalangi jalan supaya pemotor tidak lewat situ. Ini supaya roda-roda motor yang besar bermotif tahu dengan tarikan gas sekuat-kuatnya akan membuat jalan menjadi semakin hancur, cur, cur. Kalau sepeda sih, tinggal diangkat saja melewati pagar itu. Lupa saya tidak memfotonya. Maklum lagi ngos-ngosan. Kondisi jalan memang parah, karena ban-ban sepeda kami menjadi donat, dan ungowesable alias tidak bisa digowes. Walau demikian, parahnya tidak sedahsyat saat ke trek penyesalan Rawa Danau. Dulu, masukkin sepeda ke lumpur, udah bisa berdiri sendiri tanpa standar, saking beceknya seperti bumbu pecel. Bicara tentang standar, sepertinya standar sepeda terasa perlu saat kita memfoto dengan pengatur waktu tapi tidak bawa tripod, karena kamera disimpan di sadel sepeda yang sedang berdiri tegak tadi. 
Walau lapar masih tabah
Sebelum berangkat ke Kadudago, saya mengunduh peta GPS dari situs Every Trail. Terima kasih, Om Icall telah mengunggahnya. Kami jadi tinggal mengikuti saja peta tersebut walaupun tidak sampai 100%, karena kami finish di Pasar Sirih, alih-alih di Curug Sawer seperti peta tersebut. Setiap ada persimpangan jalan di dalam hutan, biasanya saya cek apakah kami sudah on the track atau tidak. Kecuali ada satu persimpangan yang luput. Entah mengapa saat di belokan itu, GPS pas ada di saku dan saya tidak teliti melihat jalur. Akibatnya, kami sempat salah jalan sekitar beberapa kilometer. Tidak terlalu jauh sebetulnya, cuma karena kondisi jalan sangat becek, membuat kami harus TTB dan memakan waktu lumayan lama. Sudah ada sih patokan check point 3 di atas puncak bukit, dan kami berusaha mencapainya dengan mengikuti jalur baru, namun karena GPS tidak dilengkapi topografi, jadi tidak ketahuan jalan di depan akan memutar ke arah mana, akan menaik atau menurun, gelap, sementara tebing dan jurang di sisi kami. Memang ada jalan setapak di jalur nyasar yang kami lalui tetapi tampak jarang dilewati oleh manusia. Terlalu rimbun.
 Untuk mengurangi risiko nyasar yang semakin jauh, terpeleset ke bawah jurang, kami ambil keputusan untuk putar balik ke jalur semula. Lapar kian menggerogoti. Persediaan air minum pun semakin menipis. Om Opik makin berhalusinasi karena belum ketemu nasi dan mencoba mengajak ke jalur yang kata penduduk di situ, lebih pendek menuju Anyer. Tapi jalur itu memang belum peta GPS-nya. Lagipula kami kan belum merasakan merosot di turunan single track yang katanya asoy geboy tadi ke arah Kp. Kamasan. Jadilah kami keukeuh menuju ke check point 3 di atas bukit. Oh ya, di jalur nyasar tadi, kami bertemu dengan rombongan pemotor penduduk setempat yang sedang ‘merusak’ jalan. Bagaimana tidak, jalan yang super becek, digerus oleh ban-ban tahu yang selip. Ayo, Mang, lanjutkan! Diukur-ukur, ternyata kami nyasar cuma 0,5 km dikali dua karena bolak-balik, alias cuma 1 km, tapi terasa jauh amat ya, Om. 

Titik tertinggi
Penunggu puncak
Check point 3 (458 m dpl). Jam menunjukkan 15 menit menjelang pukul 16. Udah sore euy, mana belum sholat ashar. Om Opik khawatir kalau kami sampai kemalaman di dalam hutan. Inilah puncak dari bukit yang kami tuju sekaligus akhir dari tanjakan yang menyiksa tadi. Untungnya di sana ada beberapa batu besar yang pas digunakan untuk meluruskan tulang punggung. Saya dan Om Opik langsung tepar. Yang lain masih sempat foto-foto. Hebat euy. Udara di sini sangat sejuk karena banyaknya dedaunan dari pohon-pohon yang besar. Tidak tahu, sepertinya banyak juga jinnya di sini. 
Ternyata cuma 2 km saja dari tower tv tadi sampai ke puncak ini, tapi dibutuhkan waktu lebih dari 3 jam mencapainya, gimana Om Opik gak lapar, coba, hahaha. Nah, Om, dari sini tinggal menurunkan seat post saja, menikmati bonus turunan sampai ke Kp. Kamasan.
Om Opik sudah pengen pulang
Om Didit konsentrasi banget atau tegang inih?
Tidak berlama-lama di sini, kami mulai bisa gowes menyusuri single track yang masih sama, yaitu licin dan ada bekas ban motor di banyak tempat sehingga membuat ban-ban sepeda sering selip. Beberapa kali terpaksa sepeda berbelok dengan ban belakang karena selip tadi. Asyik sebetulnya. Tinggal kami harus lebih hati-hati saja. Saya sampai seperti jarum jam saja saat selip. Tangan kiri memegang pohon, tangan kanan memegang sepeda, terus muter deh. Kalau menggunakan sepeda FR, DH, atau AM, turunan ini akan terasa lebih mantap! Nih, trek gorolong ini sepertinya favorit Om Cep yang selalu memertanyakan kenapa orang-orang masih senang nanjak di usia seperti sekarang, hahaha. Yah, yang lain mah masih muda, Om, seperti saya, termasuk Abah Yopie, masih awet muda. Di beberapa jalur, kami sempat ragu karena walaupun on the track, tetapi kondisi jalan sudah dipenuhi ilalang dan tampak jarang dilewati manusia. Namun, bismillah kami tetap lewati jalur itu, dan alhamdulillah beberapa saat kemudian terlihat tanda-tanda kehidupan. 
Akan lebih mantap kalau kondisi tanah tidak terlalu licin seperti sekarang. Jadi, masukan saya, kalau Om-Om mau remedial ke sana, saya sarankan saat musim kemarau saja, supaya lebih nikmat dan terasa sensasi turunannya. Keasyikan di turunan single track ini sepertinya tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Sok cobian weh lah. Saya cek panjang turunan single track ini sekitar 4,6 km sampai dengan batas bawahnya di 88 m dpl. Lumayanlah kalau buat saya mah
Sampai di Kp. Kamasan, kami melihat manusia, kehidupan, dan jalan yang berlapis aspal seperti melihat emas, hahaha. Kami putuskan untuk langsung menuju Pasar Sirih untuk sholat ashar dan ketemu teman lamanya Om Opik, yaitu nasi. Menjelang pukul 17, di Pasar Sirih, karena perut sudah begitu lapar, kami makan dulu. Nasi padang sepertinya paling cocok karena gampang dan cepat. Padahal, sepertinya makanan apapun saat itu pasti akan terasa enak, saking laparnya. Setelah kenyang, kami sholat ashar dan istirahat sebentar sambil menunggu sholat magrib. Saya cek GPS, tripmeter kami hanya 30 km padahal sudah 8 jam kami jalan-jalan. #Oow,,, we're in trouble.
Selepas magrib, niat kami akan mencari pick up untuk evakuasi kembali ke Serang. Namun, karena tripmeter masih menunjukkan 30 km, kami tamboh cie gowes dulu ke Pasar Anyar. Lagian jalannya mulus dan datar koq, apalagi tadi kan sudah ketemu teman lama, si nasi tea
Mainan baru Om Didit
Siap-siap NR nih. Lampu-lampu sepeda disiapkan. Om Didit yang punya mainan baru, yaitu lampu belakang yang memiliki sinar ala laser berwarna merah sebagai pembatas jalur sepeda dari Om Mars, kami tugaskan sebagai sweaper, sementara Abah di depan. Sampai di Pasar Anyer, kami putuskan untuk terus gowes setidaknya sampai Cilegon, sambil mengawal Om Opik. Namun, memasuki kawasan industri selepas Pasar Anyer, kami harus berhadapan dengan kendaraan-kendaraan super besar, kalau dibandingkan sepeda-sepeda kami. Karena gelap, polusi asap knalpot yang sebenarnya tebal, tidak terlihat, hanya bisa dirasakan, uhuk...uhuk.... Banyak tantangan kalau melewati kawasan ini. Apalagi saat truk-truk menyusul, grogi rasanya. Sepeda terpaksa beberapa kali harus keluar jalur. Ngeri. Sementara Abah Yopie dan Om Dono sudah ngacir duluan. Beberapa kilometer setelah melewati gerbang masuk ke Pelabuhan Cigading, akhirnya, saya, Om Didit, dan Om Opik menyerah. Om Didit langsung menelpon temannya untuk mengevakuasi kami yang menunggu di ****mart di Ciwandan (16 m dpl). Risikonya terlalu tinggi kalau harus bertahan melawan truk. Abah Yopie dan Om Dono yang tadi sudah ngacir duluan sepertinya sudah tiduran di atas rumput di sekitar gerbang masuk kawasan industri KIEC. Sampai finish, lumayan menambah tripmeter menjadi 50 km. Malu lah kalau cuma dapat 30 km padahal waktu tempuh jalan-jalan keseluruhan mencapai 12 jam! Hahaha, parah.
Resah dan gelisah menunggu bala bantuan

Singkat cerita, dengan menumpang pick up, setelah mengantar Om Opik ke Gerem, kami langsung menuju Serang. Saya sendiri tiba di rumah sekitar pukul 22.30. Belum memecahkan rekor saat harus pulang sekitar tengah malam sehabis ekspedisi curug Lawang dulu. Walau demikian, kesimpulan akhir, saya, Om Dono, Abah Yopie, dan Om Didit sih YES. Om Opik bagaimana? Yes juga, kan?







Nih, beberapa hasil pemetaan treknya di bawah ini.

Profil turunan single track Kp. Kamasan

Profil tanjakan ke Kadudago

Thursday, April 23, 2015

JERSEY BARU KE KEBUN KARET, PABUARAN

Bismillah.

Assalamualaykum goweser sealam dunia. Hari minggu tanggal 19 April 2015 kemarin SXC2 melakukan gowes sekaligus peluncuran jersey baru yang telah lama ditunggu-tunggu. Lama nian sejak peluncuran jersey legendaris bertema “go green” pada tahun 2010 lalu. Maklum om-om goweser sedang sibuk semua di dunia lainnya masing-masing.
Jersey SXC2
Terima kasih buat Om Didit yang sudah memfasilitasi pembuatan jersey edisi kali ini. Temanya saya kira geledek ya, Om? Soalnya kayak banyak gambar geledeknya, hehehe.... Terima kasih juga buat Teh Nita, nyonya Didit yang ikut berdedikasi buat SXC2, yang sudah menyiapkan sarapan istimewa sop iga, rabeg embe, dan spesial semur jengki kesukaan kita semua, hahaha.... Lebih dari lumayan buat tambah energi gowes, alhamdulillaah. Disebut berdedikasi soalnya sarapannya bukan cuma sekali ini saja, tapi berkali-kali. Makanya goweser SXC2 semakin hari semakin subur, gara-gara masukan kalorinya lebih banyak daripada yang dibakar saat gowes. 
Sop iga, rabeg, dan Semur Jengki kesukaan kita semua
Senangnya hari itu saya bisa bergabung dengan Om Didit, Abah Yopie, Om Darno, Om Arif, Om Opix, Pak RT Kang Ola majikannya si MP, Om Ceps, Om Pri, Haji Nuryadin, Darman Slank dan dua kompatriotnya, serta Pak Guru Edi dedengkot gowes Banten. Jadi terharu, udah lama SXC2 gak gowes berjamaah banyak kayak gini, hehehe.... Dengar-dengar Om Darno dan Om Arif, salah dua pendiri SXC2 yang selama ini sibuk di dunia lain, akan aktif kembali gowes. Siaplah om, ditunggu ya. Om Opik juga sudah lama gak gowes bareng ke Serang, kelihatannya bisepnya makin berisi. Saya tanya jangan-jangan si Om mah nge-gym mulu. Katanya bukan, itu karena sering nimba air di rumah, hahaha..... Lain lagi Om Cep, sekarang kelihatan agak kurus sejak berhenti ngudud. Dulu sih, setiap berhenti (gowes) ngudud, hahaha. Om, padahal waktu dulu mah gemuk loh, Om, hahaha..... 
Tujuan hari ini sederhana saja sebetulnya. Hanya ke Gunung Sari tapi lewat Tembong dan Pabuaran. Tapi, selepas Pabuaran kami akan menyimpang sebentar melewati perkebunan karet Gunung Kupak. Berharap bisa menikmati single track di kebun karet dan segarnya udara ciptaan Yang Mahakuasa. Yeah,,,, mudah-mudahan lancar dan tidak terjadi suatu kejadian yang tidak diharapkan. 
Setelah beres sarapan, kenyang alhamdulillaah, para goweser seperti sudah tak sabar untuk segera berangkat, padahal jengki masih terasa di kerongkongan euy, belum pada turun, hehehe.... oke dah, daripada ketinggalan dan kepanasan, kami berangkat juga, tentunya setelah mengabadikan rengrengan goweser dengan jersey baru di depan rumah Om Didit yang secara de facto dijadikan meeting point alias tikum sekaligus tempat sarapan, hehehe.... 
Singkat cerita, check point pertama di sebuah warung yang menyediakan teh manis di Kp. Paleuh, di di Jalan Raya Palka, sekeluarnya dari jalan Bongla. Nah, sebelah mana tuh, bingung kan? Dasar pasukan dupak bandrong Kang Ola dan Darman Slank mah ngabodor bae sampai difoto dengan pose minum bensin (kayaknya buat tambah energi pengganti jamu TL ya,,,, hahaha). 
Kalau tadi melewati Jalan Bongla rasanya bosan karena serasa tak berujung, padahal hanya 12 km dari tikum sampai ujung, selanjutnya melawati Jalan Raya Palka lebih membosankan lagi. Selain karena konturnya yang terus menanjak walau tidak curam, juga lalu lintas di sini cenderung padat sehingga kami dipaksa menghirup asam knalpot hitam dari motor dan mobil, termasuk dari truk-truk pengangkut pasir yang lalu lalang menghasilkan uang buat pemiliknya tapi dengan sombongnya menghasilkan kehancuran pada kondisi jalan yang katanya milik Indonesia tercinta (galau sayah nih melihat kondisi jalan di sana.) Kondisi jalan yang berlubang-lubang ini sebetulnya tidak masalah buat sepeda kami bisa memilih jalan yang tidak terlalu buruk, tapi kalau naik mobil, mangga cobian lah. Hampir tiap dwimingguan saya lewat jalan ini sejak 3 tahun lalu, dan kondisinya masih memprihatinkan. 
Singkat cerita lagi, check point kedua di Pabuaran, tepat di warung seberang SMP 1 Pabuaran, yang rombongan dupak bandrong kembali berpose aneh-aneh, hahaha.... 
Grup Dupak Bandrong
Mengisi perbekalan terutama air minum kami lakukan sambil menunggu Pak Edi yang masih di belakang. Setelah sekian lama, baru diketahui kalau beliau putar balik lewat Kali Banten yang masuk dari arah Tembong. Katanya sih perutnya mules. Rupanya kombinasi sop iga, rabeg, dan semur jengki tadi dapat menaklukan perut Pak Edi, hahaha. Ya sudah, perjalanan kami lanjutkan karena sudah terasa panas. 
Masuk jalan makadam ke arah Gunung Kupak sebetulnya perasaan sedikit masygul karena harus melewati jalan berbatu yang menanjak, padahal kalau mengikuti jalan raya tadi terus, turunan mulus menganga di depan seperti memanggil-manggil, ayo lewati aku,,,lewati aku.... Yah, karena rombongan depan sudah belok masuk makadam, saya ikut juga. 
Perkebunan Karet Gunung Kupak, Pabuaran
Tepat sebelum masuk gerbang perkebunan karet, ternyata Pak RT Kang Ola sedang membantu seorang ibu muda yang ban motornya bocor. Coba-coba dipompa gak bisa juga, ya iyalah namanya juga bocor, harus ditambal. Setelah tahu misinya gagal, akhirnya untuk menghibur diri, Pak RT, Om Didit, Haji Nur, dan Darman malah “eksis” di atas motor si ibu tadi. Ngomong-ngomong, kalau yang bocornya motor Darman, Pak RT mau gak yah nolongin, hahaha.... Oh ya, istilah “eksis” digunakan si ibu tadi. Katanya, “Terima kasih ya sudah nolongin, walaupun gak bisa, si Om-Om mah malah eksis doang”. Eksis di atas penderitaan orang lain, hahaha...
"Eksis" doang kata si empunya motor
Memasuki perkebunan karet, alhamdulillah udara segar, sangat kontras dari polusi yang tadi kami terpaksa hisap. Memasuki single track, lama menunggu temannya Darman Slank, Om Udin, ternyata dia sudah putar balik juga tanpa ba-bi-bu, hahaha..... itu pun ketahuan setelah Darman Slank menyusul balik. Olala.... 
Grup dupak bandrong mah kembali berpose aneh-aneh, tuh lihat aja..... hahaha.... 

Pembalakan Liar
Sebetulnya mengasyikkan mengeksplorasi single track di sini, apalagi sebagian besar konturnya sudah mulai menurun, sampai nanti di ujungnya. Inilah salah satu surganya para penikmat turunan, kayak Om Cep, hehehe. Namun sayang, karena bekas hujan beberapa hari sebelumnya, di beberapa tempat sangat licin, sehingga ban-ban sepeda kami sering terpeleset, bahkan saya sempat merasakan sepeda berputar 90% karena licinnya jalan. Beruntung di kiri-kanan kami dikawal pohon-pohon karet berdekatan yang bisa digunakan untuk berpegangan. Alhamdulillaah tidak ada musibah yang terjadi. 
Om Cep Jagoan Ngagorolong
Tepat pukul 12, tibalah kami di akhir jalan makadam, dan muncul di Jalan Paburan-Gunung Sari. Semua goweser senang, kecuali Om Cep karena sepeda FR-nya dipakai buat nanjak. Beratnya tuh di sini, hahaha,,,, Akibatnya, tiga gelas besar es kelapa muda dijadikan pelampiasannya. Menurut pengakuannya sih, dari situ mending dievakuasi saja karena sudah siang, sementara mobil bak sudah dihubungi. Sampai sekarang masih menjadi misteri, jadi gak evakuasinya karena saya langsung menempel Om Didit gak sabar ingin segera menikmati turunan asoy geboy Cilowong. Selain itu, saya sudah janji juga dengan si bungsu di rumah. Maklum, Om karena sedang berguru di negeri seberang, waktu harus dibagi-bagi. 
Demikian dulu, Om-Om laporan gowes kemarin. Semoga menginspirasi goweser semua untuk tetap bersepeda dimana pun, kapan pun, dengan sepeda apapun, asal jangan sepeda sirkus roda satu saja, hehehe. Wassalam.

Ngelawan si MP


Wakwaw....

Ini peta perjalanan kemarin: 




Full track

Wednesday, January 14, 2015

AYO NANJAK KE KP. KADUENGANG!!!

Bismillah. 
Rasanya lama sekali gak nulis. Tapi dengan prinsip biar lambat asal selamat, akhirnya jadi juga nih laporan perjalanan ke Kp. Kaduengang di Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. 
Kampung Kaduengang adalah kampung terakhir di salah satu jalur pendakian untuk sampai ke puncak Gunung Karang. Sebetulnya ada jalur lain selain jalur barat ini, yaitu melalui Kp. Pager Batu (jalur selatan) dan Curug Nangka, Ciomas, namun keduanya jarang dilewati karena membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk mencapai puncak. 
Kp. Kaduengang terletak pada ketinggian sekitar 824 m dpl, kata GPS kami, sedangkan Gunung Karang sendiri memiliki ketinggian 1.778 m dpl, kata Wikipedia. Jadi, lokasinya hampir di tengah-tengah Gunung Karang. Untuk sampai ke sini, kita bisa menggunakan kendaraan bermotor karena walaupun menanjak, kondisi jalan cenderung bagus. Apalagi kalau gowes pakai sepeda, gak kuat nanjak tinggal tuntun. 
Ayo kita ngangkot,,,, hemat tenaga hehehe....
Tanggal 25 Desember 2014, kami berniat gowes nanjak ke Kp. Kaduengang. Biasanya yang punya ide nanjak kayak gini Abah Yopieastroz nih. Dia mah default-nya emang nanjak, hehehe. Untuk menghemat tenaga, ayolah kita ngangkot ke Pandeglang-nya, hehehe. Kami ber-9, saya, Abah Yopieastroz, Pak RT Ola, Om Cep dan juniornya Aldi, bersama Pak
Melepas rindu,,, wkwkwk....
Guru Edi, Darman Slank, Erall, dan Pak Tarya sepertinya yang bisa gabung hari itu. Sudah terbayang jalanan yang akan kami lalui. Sebelumnya kami memang pernah menikmati bonus turunan sepanjang sekitar 10 km dari Desa Pasir Peuteuy, desa sebelum Kp. Kaduengang, menuju ke Alun-Alun Pandeglang saat bulan April 2012. Ceritanya bisa dilihat di sini. Saat itu jalanan menurun mulus dan sepi, jadi terbayang deh nikmatnya. Apalagi ditambah suguhan ikan bakar di rumah Pak Arief di Cihideung. Nah, hari ini malah mau dibalik, coba, hahaha. Tapi tak apalah, buat menambah pengalaman, kami jalani saja dengan bismillah. 

Di bawah Badak,,, sorry Om Darman Slank gak diajak
Start gowes dilakukan di bawah patung badak di Alun-Alun Pandeglang sekitar pukul 08:15. Udara cerah alhamdulillah. Sambil membeli perbekalan buat di jalan, kami berpose sejenak di menara air pam buatan Belanda, di sebelah masjid agung Pandeglang. Ukuran menara air itu terbilang kecil sebetulnya bila dibandingkan dengna bangunan sejenis di area Taman Makam Pahlawan Rangkasbitung, dekat rumah orang tua saya, yang sering dijadikan latihan rapling anak-anak pecinta alam, sekalian melihat panorama kota Rangkasbitung dari sudut pandang mata burung. Sudut pandang mata burung itu bird’s eye view, bukan sih kalau di bahasa-inggriskan? 
Pak RT Ola dan Darman Slank kali ini siap menjadi marshall dan sweeper, artinya satu akan menjadi pembuka jalan, dan satu lagi tim penyapu dengan masing-masing memegang HT. Awalnya sih skenario ini berhasil, tapi lama-lama mereka malah gowes bareng berdua, sambil tentunya foto-foto mengumbar kemesraan, hahaha. Jadinya HT gak kepakai buat komunikasi jarak jauh, tinggal nengok aja ke sebelah. 
Melewati Kp. Cihaseum kami langsung disambut tanjakan. Tidak terlalu curam sebenarnya, hanya perasaan koq gak habis-habis tanjakannya, hahaha. Kondisi jalan menanjak dan perumahan di kiri-kanan jalan hampir mirip ke arah Cihideung, Lembang. Harus mengamalkan ilmu padi nih, semakin nanjak semakin merunduk. Ternyata banyak rumah-rumah bergaya villa atau resor ke arah atas. Bagus nih buat tempat peristirahatan. 
Sejuk banget, Bah....
Di kantor Kades Pasir Peuteuy, saya rehat sejenak sambil menunggu rombongan di belakang. Namun, pas Pak RT Ola dan Darman Slank lewat bukannya ikut rehat, malah numpang lewat doang karena dikiranya saya rehat di posyandu. Terpaksalah saya siap-siap lagi gowes, sambil nguat-nguatin dengkul, hahaha. Selepas itu, ternyata jalan ke arah Kp. Kaduengang digunakan oleh anak-anak ABG pacaran memakai sepeda motor. Mungkin karena jalan dan pemadangannya bagus, jadi sedikit romantis. Mungkin lho ya..... Tanya aja ke Darman Slank mungkin-enggaknya, hehehe. Karuan saja Pak RT Ola, Abah Yopieastroz, dan Darman Slank nangkepin para ABG itu. Bukannya untuk diinterogasi, tapi malah ikutan foto bareng. Jelas saja ABG cowoknya ketakutan didatangi bapak-bapak ganjen, sampai gak ngaku kalau itu pacarnya. Ngakunya sih adiknya, coba, hahaha. 
Hasil tangkapan operasi ABG
Di warung terakhir, sebelum Kp. Kaduengang, seluruh rombongan lengkap baru ketemu lagi setelah tercecer di sepanjang jalan. Kami beristirahat lagi sambil mengganjal perut untuk menambah tenaga. Kata Darman Slank sih, Kp. Kaduengang sudah dekat, sambil menggambar peta jalur di tanah melingkar-lingkar kayak ulat bulu. Semoga saja. Gambar petanya kurang meyakinkan, soalnya, hehehe. 
Darman Slank ngegaya....
Sampai di sebuah pertigaan, jalan terbagi dua ke arah atas dan bawah. Di bawah petunjuk Darman Slank, Pak Edi dan Abah Yopieastroz langsung meluncur ke bawah ke arah Kp. Kaduela dan langsung ngagorolong alias merosot menuju Jalan Raya Ciomas-Cadasari. Hadeuh,,, salah belok euy! Sisanya, termasuk saya, karena lebih di belakang, berbelok ke atas ke arah negeri di awan, Kp. Kaduengang!!! Ini bawa HT kagak dipake, hahaha.... 
Benar-benar curam tanjakan menuju Kp. Kaduengang, sampai-sampai tidak ada satu pun dari kami yang lulus gowes ke atas. Dari sini, pandangan lepas kita bisa menjangkau Serang-Cilegon namun sayang karena cuaca sedikit mendung, pemandangan sedikit tertutup kabut. Tapi ada yang kontras di kejauhan. Di tengah-tengah hijaunya pemandangan, terdapat warna tanah coklat kemerahan. Itulah tanah hasil galian pasir di Serang. Kontrasmu bisu! 
Nanjak ke negeri di awan, Kp. Kaduengang

Kaduengang!!!

Tiga orang rombongan pertama karena sudah terlanjur ngagorolong, sudah gak mungkin balik lagi untuk nanjak ke Kp. Kaduengang, akhirnya tidur-tiduran di Kp. Simpang Mandeg di Jalan Raya Ciomas-Cadasari, sambil menunggu rombongan di atas datang. Kami, yang di Kp. Kadauengang, istirahat dan sholat dzuhur, kemudian naik lagi sedikit ke arah sebuah makam yang banyak didatangi peziarah, entah makam siapa. Yang jelas, ke sanalah sepeda kami terakhir bisa sampai. 
Akhirnya, sekitar pukul 13, kami mulai turun ke arah Kp. Simpang Mandeg. Secara matematis seharusnya ini merupakan bonus turunan karena lumayan lebih curam dengan jarak sekitar 4 km, kami turun sejauh 472 m. Bandingkan dengan tanjakannya tadi yang panjangnya 11 km setinggi 585 m. Namun, karena kondisi jalan sebagian besar adalah bebatuan, selain harus mengerem, tangan kita sudah pasti tergoncang-goncang dan pegal karena fork yang sudah bekerja ekstrakeras belum bisa meredam kejutan yang ditimbulkan batu-batu itu. 
Gaya andalan si MP kesangkut kabel tuh...
Yuk ngagorolong.....
Tidak sampai setengah jam, kami bertemu kembali dengan Darman Slank, Abah Yopieastroz, dan Pak Edi di bawah. Tah Pak Edi,,, Darman Slank-nya dicarekan! hehehe. 
Jalur selebihnya menuju Serang sudah biasa kami lalui, yaitu melalui Kp. Cemplang, kemudian muncul di Kp. Paleuh di Jalan Raya Palka, untuk kemudian masuk ke Jalan Bongla dan keluar di Tembong di Jalan Raya Serang-Pandeglang. Selanjutnya terserah anda. Pak RT Ola dan Darman Slank mah masih belum bisa berpisah alias masih melepas kerinduan, jadi dilanjut dengan makan bakso bareng, hahaha. Terima kasih, Abah dan Om-Om semua, wassalam!! 
Nih petanya di Google maps:

Profil jalur menuju Kp. Kaduengang, dari Mang Garmin

Full track Patung Badak to Kp. Kaduengang

Full track Pandeglang-Serang via Kp. Kaduengang

Friday, June 13, 2014

GOWES KELILING CAGAR ALAM RAWA DANAU, THE EYE OF JAVA ISLAND


Lembah Rawa Danau
Bismillah. Kami mengibaratkan bagian barat Pulau Jawa dengan kepala badak bercula satu. Pas sebenarnya karena di sinilah, di bagian barat Pulau Jawa, tepatnya Ujung Kulon terletak konservasi badak bercula satu. Kalau wilayah Taman Nasional Ujung Kulon diibaratkan sebagai mulut dan culanya, maka kawasan Cagar Alam Rawa Danau adalah matanya. Kami penasaran untuk “meninggalkan jejak” di mata Pulau Jawa ini. Sebenarnya, dulu sudah dua kali kami mengeksplorasi kawasan Rawa Danau ini tapi memang waktu itu belum ada jejak GPS yang kami buat. Kloter pertama masuk dari Pasar Mancak menuju Desa Cikedung dan keluar di Cinangka, sedangkan kloter kedua, yang saya ikut di dalamnya, masuk dari Panenjoan terus menuruni bukit curam, menyeberangi pesawahan membentang sambil memanggul sepeda, dan tiba menjelang Desa Cikedung. Potong kompas yang melelahkan, waktu itu. Sila cek di sini.

Kami berkesempatan untuk mengelilingi kawasan cagar alam ini setelah menunggu sekitar tiga tahun! Penasaran kami terjawab pada Rabu tanggal 28 Mei 2014 setelah terakhir gowes ke sana tahun 2011 lalu. Lumayan lama tapi mudah-mudahan penantian ini sepedan. 
 Lho, tanggal 28 Mei kan tidak libur? Ya, karena peserta pun hanya empat goweser, saya, Om Pri & Om Yopieastroz yang ketiganya cuti bersama, ditambah Kang Ola sebagai marshall. Inginnya sih gowes pada tanggal merah karena peserta “dimungkinkan lebih banyak,” tapi berhubung sang marshall dan sepeda merah putihnya bisanya hari itu, bismillaah kami gowes minimalis, mudah-mudahan nanti bisa gowes dengan peserta lebih banyak lagi, insya Allah.
Dimulai dengan sarapan bareng di tukang kupat tahu di seberang komplek Widya Asri, saya, Om Yopieastroz, dan Kang Ola mulai gowes melewati jalur “pemanasan” yaitu Kp. Kamalaka sampai ke simpang Umbul Tengah di Jalan Raya Takari, tempat Om Pri menunggu karena dia berangkat dari rumahnya yang keramat, eh,,,, maksudnya rumahnya di Kramat. Jalur pemanasan ini efektif juga, hanya sekitar 5 km tapi karena karakterisik jalan makadam dan di beberapa bagian penuh lumpur, cukup membuat berkeringat. Lumayanlah buat persiapan melahap tanjakan Cilowong. 
Memasuki Jalan Raya Takari yang mulus dari trek pemanasan tadi seperti habis naik angkot berganti menjadi naik mersi, ngageleser kata orang Rangkasbitung mah. Walaupun lama-lama tanjakan ke arah Gunung Sari lumayan membuat kepala tertunduk, kaki memegal, dan nafas memburu juga. Apalagi aroma TPA Cilowong selepas hujan, aduhai rasanya. Saya seperti biasa berprinsip Tut Wuri Handayani alias gowes di belakang. Gaya pisan, padahal fisik kedodoran, hehehe. 
Panenjoan view
Penghentian pertama adalah di Panenjoan, di sebelah kantor pengelola kawasan Cagar Alam Rawa Danau dan Gunung Tukung Gede di Jalan Raya Mancak. Lumayan melelahkan bagi saya karena selama lebih dari 20 km terakhir, tanjakan seperti gak ada habis-habisnya, padahal cuma naik ±300 m hehehe,,, tapi koq capek ya. Sambil melihat ke Kawasan Cagar Alam Rawa Danau membentang di bawah, dipikir-dipikir, sepertinya jauh juga. Tak apalah, maju tak gentar, membela yang gowes. 
Rencana selanjutnya adalah ngopi di warung sebelah yang biasa menyediakan nasi ketan. Namun, ternyata tempat itu tidak ada dan sudah berganti bangunan berpagar tinggi, entah milik siapa. Om Pri saja yang penasaran gak jadi ngopi. Akhirnya diputuskan kami langsung meluncur ke Pasar Mancak. Untungnya jalur ke sana tinggal bonus turunan saja. Alhamdulillah. Kecepatan maksimal hampir mencapai 60 km/jam, tidak bisa ditambah lagi karena jalanan tidak terlalu lebar, ditambah di beberapa titik terhitung padat karena perkampungan di kanan-kiri jalan, sementara kendaraan dari muka juga tidak kalah cepatnya. Belum bisa memecahkan rekor kecepatan di turunan Bangangah di Mandalawangi menuju Caringin, Labuan yang mencapai hampir 70 km/jam. Kenikmatan turunan ini berakhir di Pasar Mancak, tempat kami rehat sebentar sebelum memasuki jalan makadam menuju Desa Cikedung. Lumayan juga kami menurun sejauh hampir 6 km dari 365,2 m ke 152,8 m dpl. 
Om ngapain??
Selanjutnya kembali kami disadarkan bahwa gowes itu seperti kehidupan nyata sehari-hari. Kadang naik, kadang turun. Setelah nanjak terus sampai Panenjoan, kemudian turunan panjang sampai Pasar Mancak, saatnya kini kami kembali harus melawan gravitasi melewati tanjakan aje gile. Ya, memasuki jalan makadam menuju Desa Cikedung, harus banyak-banyak mengucap takbir karena banyak tanjakannya. Di beberapa tempat, ketika penat memuncak, menuntun sepeda adalah pilihan logis (buat saya) hehehe. Sementara, di kiri-kanan kami hutan dengan pohon-pohon berusia puluhan atau mungkin ratusan tahun memberi perlindungan kami dari terpaan sinar mentari. Kawasan ini yang disebut Cagar Alam Gunung Tukung Gede memang memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Ciri khas kawasan ini adalah topografinya didominasi oleh lereng dengan ketinggian 125-750 m dpl. 
Dilarang kencing di sini
Tepat di sebelah barat Panenjoan tapi terpisahkan rawa danau, perjuangan kami menanjak sekitar 4 km berakhir di ketinggian 349 m dari sebelumnya 153 m dpl. Sekarang saatnya kami kembali menikmati bonus turunan. Tapi sebelumnya kami harus menunggu Om Yopie yang kurang akrab di turunan. Dia mah emang hobinya menanjak melulu, hahaha… Oh ya, Kang Ola malah ketemu emak lagi. Berposelah dia dengan emaknya sambil berpelukan kayak Teletubies, hehehe. Siapa nama emaknya, Kang? 
Selanjutnya karena jalan menurun, kami harus berhati-hati karena jalanan sempit, curam, dan kecepatan tinggi di sini. Malah, rem harus dipersiapkan sepenuhnya. Turunan tidak terlalu panjang sebenarnya, hanya sekitar 2 km tapi lumayan banget, turun hampir 230 m. 
Memasuki Desa Cikedung (120 m dpl), kontur jalan mulai datar karena secara geografis sudah berada di lembah kawasan Rawa Danau. Tapi, lapisan jalan berupa batu-batu sebesar kepala membuat sepeda dan perut kami tersiksa. Kalau bahasa Kang Ola mah, boyoke sampai mules. Kondisi ini terus bertahan sampai kami tiba di Desa Cikedung. Nah, dari sini, jalanan mulai bervariasi dengan single track dan kubangan bekas hujan semalam. Kalau beruntung melintasi kubangan itu, kita bisa lewat. Tapi kalau tidak, pas melewati kubangan penuh lumpur, sepeda bisa tiba-tiba berhenti, hehehe. 
Sang Merah Putih, Merdeka!!!!
Gunung Karang tuh di belakang
Komando
Karakteristik jalan selanjutnya adalah trek penyesalan, kata Kang Ola. Disebut demikian karena Kang Ola menyesal melewati trek itu. Bagaimana tidak, mungkin sepanjang 1 km jalan berlapis lumpur yang tidak mungkin dilewati karena ban-ban sepeda langsung menjadi donat! Kang Ola sampai bosan melihat Om Yopie berulang kali membersihkan donatnya, hehehe. Sepeda si merah putih saja bisa berdiri dan tidak jatuh di tengah jalan tanpa standar atau dipegang si empunya, hahaha. Mungkin di Endomondo, kecepatan kami saat itu dilambangkan dengan kura-kura! Kami sempat berbincang dengan beberapa penduduk setempat yang sedang memperbaiki jalan tersebut sambil curcol betapa pemerintah tidak peduli dengan kondisi jalan di pedesaan. Sampai-sampai dia bilang, dulu sewaktu kampanye di masjid, meminta-minta dukungan dari masyarakat sambil berjanji akan ini akan itu. Sekarang setelah terpilih, lupa tuh…. Lupa kali mereka kalau janji-janji mereka akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat! Ya sudahlah, kita memang hanya bisa mengingatkan. 
Trek Penyesalan
Sekitar pukul 14 alhamdulillah kami tiba di Kp. Ciraab (114 m dpl). Kami sangat bersyukur di sana menemukan sebuah warung karena persediaan air sudah habis, apalagi makanan. Om Pri yang beli kacang kedelai gak bisa menelan gara-gara kehabisan air, hahaha ….. Akhirnya, semangkuk mie instan rebus cukup mengganti energi yang terbuang. 
Wey, jangan melamun di situ....!
Di kampung ini juga terdapat sebuah jembatan gantung yang menjadi icon perjalanan ke kawasan Rawa Danau. Walau demikian, kondisi jembatan masih sama seperti dulu, kayu-kayunya sudah bolong-bolong. Lumayan menjadi ajang uji nyali buat orang yang mengidap acrophobia. Terakhir kami lewat sini, di bawah jembatan masih berupa sungai, sekarang koq sudah jadi sawah ya
Selepas jembatan, kami melalui jalanan desa berlapis aspal menuju Pasar Padarincang. Tidak jauh hanya sekitar 5 km saja untuk tiba di Jalan Raya Palka, Padarincang dan  langsung terbayang jalanan menanjak lagi yang harus kami lewati sejauh sekitar 20 km sampai ke simpang Pondok Kahuru, Ciomas. Lumayan menggoyang mental. Untuk menetapkan hati, kami solat Asar dulu di Masjid At Taqwa, Cisaat-Padarincang. Segar terasa setelah terkena air wudlu. Alhamdulillah.
Setelah perjuangan menanjak dengan sisa-sisa tenaga, melewati simpang Pondok Kahuru, Ciomas, jalanan tinggal menurun saja sampai ke perempatan Pal Lima. Kang Ola sepertinya dikejar waktu karena mengejar jadwal kerja shift malam. Tandem dengan Om Yopie, mereka berdua gowes gak pakai rem, gak pakai spion sampai tidak tampak lagi batang hidungnya, apalagi batang sepedanya. Saya dengan Om Pri juga tandem di belakang. Tidak terpaut jauh sebetulnya waktu finish kami karena Kang Ola sampai di rumahnya pukul 18.20, dan saya 18.30. Cuma Om Pri pakai perpanjangan waktu karena harus menuju rumah keramatnya. Yuk ah, segera solat magrib. Om Yopie apa kabarnya?
Saya intip jejak GPS, statistik menunjukkan trip odometer 81,8 km, max speed 59,3 km/jam, moving time 6:49 jam, total time 11:14 jam!
Endomondo Profile

The eye of Java Island


Vertical Profile

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons