Manfaat bersepeda selain untuk menjaga kesehatan dan menikmati alam ciptaan Allah SWT adalah juga mengunjungi tempat-tempat yang belum terbayangkan sebelumnya. Berawal dari rasa penasaran kami yang belum tahu dimana tepatnya lokasi lapangan udara (lanud) TNI AU di Desa Gorda, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang serta bagaimana bentuknya, hari Minggu tanggal 13 Desember 2009, kami mengunjungi lokasi tersebut.
Di halaman KPP Pratama Serang, pagi itu, kami ber-21 siap berpartisipasi. Dari Pisang Mas ke arah barat kering. Sementara, ke arah timur, basah karena hujan lokal baru saja reda.
Om Dudi siap dengan kamera beratnya yang selama ini dinonaktifkan di rumah. I Love Bike! Belakangan, setelah 1-2 jepretan, ternyata memorinya sudah penuh. Dulu, terakhir dibawa ke Cilowong, lowbat. Jadi, tetap saja gambar-gambar bidikannya sedikit hehe….
Om Yusman akhirnya membawa juga sampel sari kurmanya. Mudah-mudahan banyak yang beli nanti ya…
Mbah Darno yang minggu sebelumnya cedera sewaktu mengeksplorasi Pandeglang, kini hadir dengan sepedanya yang paling gres walaupun tidak ikut ke lokasi karena pergelangan tangannya belum fit benar. Dia ditemani oleh Om Andri yang katanya sedang malas meng-gowes jarak jauh sehingga hanya berkeliling di seputar kota Serang saja. Itu pun masih ngos-ngosan. Keduanya hanya ikut berfoto saja hehe….. Jadi tinggal 19 orang yang siap meluncur.
Om Arif pun dengan sepeda ter-gres-nya sepertinya bertekad untuk meng-gowes lagi secara rutin.
Perjalanan melalui terminal bus pakupatan, kemudian menuju Jalan Raya Palima untuk akhirnya menyusuri saluran irigasi mengarah ke timur. Saluran yang baru dibangun ini tampak rapi dan memperlihatkan hasil pembangunan walaupun baru selesai sebagian setelah beberapa bulan. Setali tiga uang dengan tambal sulam dan beberapa perbaikan pada jalan besar sejajar saluran irigasi ini, yang sudah memakan waktu beberapa bulan tanpa kejelasan kapan akan berakhir. Itulah jalan tol Tangerang-Merak.
Om Bandi-Ono yang walaupun jarang gowes tampak semangat dan menjadi leader. Jarang-jarang loh Om hihihi….
Alih-alih mengikuti rombongan yang memutar ke arah bunderan patung, Om Yopie dan Om Arif malah langsung menuju Kota Serang Baru (KSB) dan menunggu rombongan di sana. Apa lacur, yang ditunggu tidak juga muncul karena rombongan tidak melaluinya. Belakangan, diketahui kalau mereka tetap melalui KSB dan naik flyover di Jalan Raya Palima untuk kemudian menyusuri saluran irigasi tadi dan bergabung dengan rombongan di Pipitan di Jalan Raya Ciruas-Petir.
Perjalanan dilanjutkan keluar-masuk perkampungan penduduk dan berakhir di Kampung Cisait. Tibalah kami di jalanan mulus berlapis hotmix, Jalan Raya Serang-Jakarta di seberang PT Kolon Ina. Untuk mencapai Desa Gorda, kami menyusuri jalan raya ini ditemani lalu-lalang lalu lintas kendaraan-kendaraan besar, karena memang daerah itu merupakan kawasan industri.
Kami melewati PT Indah Kiat di Kragilan, salah satu industri pulp dan kertas terbesar di Asia Tenggara serta PT Nikomas Gemilang di Cikande, salah satu industri padat karya yang sebagian besar karyawannya adalah perempuan. Saking banyaknya karyawan, perusahaan sampai menyediakan terminal angkot sendiri. Saya dan beberapa teman majelis subuhan sering melihat mereka berangkat berombongan menggunakan angkot ini, dari Serang ke lokasi pabrik. Perempuan-perempuan tangguh saya pikir.
Ketika kami lewat di depan PT Nikomas Gemilang ini, lapak-lapak kaki lima berjejer di pinggir jalan raya yang sangat ramai pada saat gajian para buruh. Dan tahu tidak, sudah pasti akan membuat kemacetan ruarrr biasa parah. Pasar tumpah.
Akhirnya, kami tiba di pertigaan arah Gorda. Sekitar 4km lagi jarak yang harus kami tempuh untuk tiba di lokasi. Karena merupakan milik TNI AU, maka bayangan kami, lanud ini sebagaimana lanud lainnya, pasti sudah dilalukan pengerasan dengan beton atau aspal di landasan pacunya serta kawat tinggi yang mengelilinginya serta penjagaan para prajurit TNI AU. Ternyata eh ternyata, hanya berupa landasan pacu berupa tanah lapang yang dipadatkan tanpa pagar apa pun. Luasnya sekitar 712ha dan menempati areal yang termasuk wilayah Kelurahan Warakas, Gembor, dan Cakung, Kecamatan Carenang, sedangkan areal lainnya masuk wilayah Kelurahan Julang, Kecamatan Cikande. Pangkalan ini dibangun pada masa penjajahan Jepang tahun 1942. Terdiri dari dua landasan, masing-masing panjangnya 2,5km, dengan bentuk saling bersilang membujur arah utara-selatan dan barat-timur. Lebar landasan sekitar 100m. Struktur landasan sudah diperkeras dengan batu, dilapisi dengan lempengan tanah berumput sebagai penyamaran. Lebih menyerupai lapangan sepak bola saya pikir. Tidak ada tempat untuk berteduh. Maklum lapangan.
Kami pun berfoto-foto sambil berpanas-panas ria. Waktu itu sekitar pukul 10.00. Saking panas dan besarnya angin, keringat pun langsung menguap. Tapi ada yang menarik, di ujung landasan, terdapat tugu sebagai penanda yang bertuliskan “Komando Daerah TNI AU Pangkalan Gorda” yang berbentuk piramida berwarna putih. Mungkin ini satu-satunya piramida yang ada di Serang hehehe…..
Waktu tidak berlalu terlalu lama, kami lanjutkan perjalanan menuju pertigaan Kampung Warung Selikur, Carenang. Alhamdulillah, selepas lanud, kami menemukan warung teh dan penganan. Tampak kembali sifat asli para goweser yang seperti sudah ditawan Jepang 2 minggu dan tidak dikasih makan, menghajar semua yang ada. Teh manis habis dua teko besar. Yang jelas, bendahara repot mendata jenis makanan yang dimakan, saking banyaknya.
Dari sini, perjalanan tinggal melewati trek aspal menuju Warung Selikur dan dilanjutkan dengan menyusuri Jalan Raya Serang-Jakarta untuk kembali menuju Serang. Pilihan ini diambil karena jarak yang relatif lebih pendek dibandingkan harus berputar-putar ke kampung-kampung. Memang dibutuhkan kesabaran mengingat panas sudah menyengat. Belum lagi ancaman angkot dan sepeda motor yang sepertinya lupa cara mengerem, serta hembusan angin dan asap dari truk-truk tinggi besar.
Menjelang pasar Ciruas, rombongan terakhir, saya, Om Mars, Om Yopie, Pak Dudi, Om Arif, dan Mr. Bandi-Ono mampir lagi ke warung untuk refreshing (lagi). Buah-buahan tampaknya menjad menu wajib kali ini. Kata Mr. Bandi-Ono, kita menyewa mobil pick up saja. Maaf ya, saya dan Yopie kan alumnus Pandeglang, jadi masih akan gowes saja hahaha…. Akhirnya, semua meng-gowes juga sampai ke Serang. Ada yang mukanya merah kepanasan, ada yang berprinsip “biar lambat asal selamat,” yang jelas, pengalaman kami bertambah karena bisa mengunjungi tempat-tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya dan kecil kemungkinan bisa kita kunjungi secara perorangan. Ya, inilah salah satu manfaat bersepeda-ria.
Tuesday, December 15, 2009
PIRAMIDA GORDA
Wednesday, December 09, 2009
EKSPLORASI MTB @PANDEGLANG
Alhamdulillah kita masih diberi kesehatan oleh Allah SWT dan salah satu cara untuk menjaganya adalah dengan bersepeda.
Berawal dari undangan Pak Pri, goweser senior dari Cilegon, di situs kita untuk mengajak bergabung meramaikan kegiatan eksplorasi MTB sekitar Kota Pandeglang, bagai gayung bersambut, kami pun siap untuk berpartisipasi. Apalagi, sebagai komunitas yang masih hijau, kami perlu untuk menambah pengalaman walaupun sudah terbayang banyaknya tanjakan yang menanti.
Sabtu, 5 Desember 2009 pukul 06.30, di depan KPP Pratama Serang, truk Polda Banten sudah siap mengangkut kami, 18 goweser, ke Alun-alun Pandeglang, ditemani oleh sebuah pick up berisi sekitar selusin sepeda dari Cilegon bawaan Pak Pri. Hari masih segar, kami masih merasakan keriangan seperti anak-anak kecil yang mau piknik. Terima kasih buat Om Andri dan kru dari Polda Banten yang menyiapkan truk. Oh ya, Om Andri tidak ikut bukan karena takut tanjakan, kan? Hehehe….
Kita panggil dulu ke-18 goweser yang berpartisipasi kali ini: Om Dono, Pak Danar, Pak Agung, Pak Ai, Om Darno yang lebih terbiasa nge-trail dibanding gowes hehe…, Kang Didit sebagai anggota baru tapi lama, Om Yopie alias Pak Sutarman, Om Dwi, Imam, Hepi, Faisal (selamat bergabung Bro!), Iyan, Hendra Genit, Dodo Chupeet juga, Dodo wong Pemalang, Vito, Bayu, dan Saya Flasa.
Sayang, Sang jawara, Om Mars, kali ini absen karena masih di jalan tol dalam perjalanan balik sehabis tugas luar sekalian mudik ke kota kelahirannya, Yogyes. Pak Dudi setelah chatting dengan saya, juga tidak bisa ikut karena harus undangan ke Bandung. Katanya sih, bukan kalah sebelum bertanding lho. Padahal saya juga tidak menuduh lho hihihi….
Perjalanan ke luar kota bagi kami baru dua kali dilakukan, setelah sebelumnya mengikuti funbike di Cilegon bulan Agustus 2009 lalu. Maklum, kami jarang melakukan kegiatan yang memakan waktu lama mengingat izin dari rumah yang terbatas hehe….
Setelah beres memuat sepeda, kami berangkat ke Pandeglang. Sebagian duduk, sebagian berdiri. Om Yopie sempat bergelantungan tak seimbang di dalam truk karena tingginya pegangan mobil. Teman-temannya kejam hihihi…. Untunglah Om Danar sigap menggantikan posisinya.
Lewat Pal Lima, Jalan Raya Pandeglang di samping SPBU sedang dinaikkan sehingga sejajar SPBU tadi. What a planning …. Jalan masih rusak, berdebu jika kering dan becek bila hujan.
Tiba di alun-alun Pandeglang, masih sejuk. Maklum, kota kecil ini terletak di kaki sebuah gunung, Gunung Karang. Sebagian membongkar sepeda, sebagian sarapan, dan sebagian lagi berfoto-foto, seperti biasa. Di sini, Om Bayu baru bergabung karena tidak bareng truk.
Setelah beres, kami menuju titik start di RM Pondok Nara. Di sana sudah berkumpul banyak komunitas sepeda, dari Pandeglang dan sebagian besar dari Cilegon. Umumnya mereka lebih berpengalaman dibanding kami dengan sepeda lebih canggih tentunya dan beberapa tips untuk menaklukkan tanjakan. Penganan kecil dan teh manis sudah siap disajikan di sini. Tapi kenapa sepertinya BCC tidak ada ya?
Jalur yang akan kami tempuh akan menuju arah Cikole dan muncul di perbatasan Kabupaten Pandeglang-Lebak, dengan jalur pemanasan ke arah Cihaseum dan naik terus ke arah Gunung Karang, Kampung Juhut. Hah??? Jalur pemanasannya saja sudah menggoyang kepercayaan diri. Kuat apa tidak ya? Tapi kami bertekad untuk mencoba menyelesaikannya.
Pukul 8:45. Perjalanan dari Pondok Nara melalui alun-alun menuju Cihaseum. Terus naik ke arah Desa Juhut di ketinggian 600m dpl. Jarak tidak terlalu jauh tetapi dengan ketinggian itu, bagi kami, sudah mengeluarkan keringat sebesar butiran jagung. Belum betis dan paha yang semakin keras hihihi… Kami tidak bisa menikmati pemandangan sekitar karena harus konsentrasi menaklukkan tanjakan. Pemanasan yang sangat panas. Sebelum mencapai Desa Juhut, beberapa goweser memutuskan untuk putar balik ke Pondok Nara. Tidak apa Om, kita kan mencari sehat. Kalau capek, tidak usah dipaksakan, nanti malah kontraproduktif.
Dari Kampung Juhut, kami berputar kembali ke arah Cihaseum, melalui jalanan menurun dengan batu-batu besar dan licin sisa hujan kemarin. Semua jenis trek tersedia. Mulai dari hotmix, jalanan berbatu, tanah, rumput. Keluar masuk hutan, kebun penduduk, perkampungan, melalui jembatan bambu di atas kali, dan sebagainya. Akhir pemanasan, kami muncul kembali di Kampung Cihaseum setelah sebelumnya melalui Jalan Keramat Kebon Kopi, Kadu Gajah.
Setelah berhenti sejenak di seberang SMPN 4 Pandeglang, kami lanjutkan perjalanan menuju Cikole melalui alun-alun dan Jalan Raya Labuan. Di Karaton, kami berbelok kiri untuk melahap trek perkampungan di sini, menuju ke Desa Sukaratu, Majasari. Di sini, tidak banyak tanjakan yang kami lalui. Bahkan, cenderung didominasi turunan. ketinggian mencapai sekitar 200m dpl di sini.
Setelah memotong Jalan Raya Cikole, perjalanan dilanjutkan melalui jalanan hotmix selebar 2m yang menghubungkan kampung-kampung di sana. Kami akan melalui Desa Kadomas di selatan Kota Pandeglang dan dilanjutkan ke Kalanganyar. Tiba-tiba kami sudah muncul di Desa Wates, salah satu perbatasan antara Kabupaten Pandeglang dengan Lebak. Wah, daerah ini sering saya lewati kalau mau mudik ke Rangkasbitung.
Perjalanan dilanjutkan menuju vila Bukit Gandarasa. Alih-alih perjalanan melalui Kadubanen, kami melintasi Desa Bangkonol, Pasir Jaksa, dan Tegallongok di Kecamatan Keroncong. Masih tanjakan dan sedikit turunan yang kami lalui. Tapi kali ini dengan jalan yang lebih lebar, sekitar 3-4m. Jalanan di sini bercabang-cabang. Kalau salah mengambil belokan, bisa menuju ke arah yang kita tidak tahu. Apalagi bagi rombongan terakhir karena tim sweaper sudah berada di depan.
Empat goweser, saya, Hendra, Pak Ai, dan Om Yopie, seperti last mohicans saja, sendiri di belakang karena masalah stamina. Saya, Hendra, dan Om Yopie sudah hampir kram. Sementara, Pak Ai semalam kurang istirahat. Tidak biasa juga buat Pak Ai karena biasanya dia termasuk garda depan. Kami sampai terbaring di sebuah madrasah hihihi…. Kata wong Serang mah, ngalempengkeun cangkeng geh sambil melemaskan otot-otot kaki. Saking lamanya, sampai-sampai Pak Danar menelepon kami. Untunglah teman-teman di depan masih menunggu sesuai prinsip Leave No Man Behind hehe…
Kami sampai juga di vila Bukit Gandarasa sekitar pukul 12.00 untuk beristirahat sambil makan siang nasi timbel. T.O.P.B.G.T. Rombongan garda depan malah sudah beres makan.
Beberapa goweser, seperti Hendra dan Dodo Chupeet menganggap ini adalah titik finish. Saya dan Hendra sudah hampir kram, sementara Dodo Chupeet makannya banyak banget hehe….
Setelah semua beres, perjalanan dilanjutkan kembali ke Pondok Nara, keluar masuk kampung. Hendra sampai harus menyerahkan sepedanya kepada Om Dono karena kramnya terasa kembali. Untunglah jalanan sudah mulai menurun dan mendatar sehingga kami semua bisa gowes lagi. Akhirnya, sekitar 13.30, dengan tetesan keringat serta paha dan betis yang menebal, kami tiba juga di Pondok Nara. Sajian es campur sudah menunggu, solat dzuhur, dan foto-foto dengan komunitas lain.
Kami berpisah sekitar pukul 14.00 dan menuju alun-alun lagi, menunggu jemputan truk Polda. Trek yang melelahkan buat sebagian dari kami.
Di alun-alun, siang itu cuaca sangat sejuk, tidak terlalu panas, apalagi awan di atas sedikit mendung. Sangat kontras dengan pada saat kami meng-gowes di Kec. Keroncong tadi. Sambil menunggu, bermacam aktivitas dilakukan teman-teman. Ada yang mencoba bermain bola basket dengan gaya padahal free throw saja tidak sampai ke jaring hehe…. Ada yang berfoto dengan anak-anak SMA, yang perempuan tentunya, padahal tampilannya seperti pak guru dengan murid-muridnya hihihi… Bahkan, yang tadi kram pun lupa kalau tadi menderita. Siapa tuh? Hehe…. Pokoknya di sini senang di sana senang.
Akhirnya truk datang juga. Sekitar 14.30, yang dinanti pun tiba. Kami langsung memuat sepeda-sepeda dan berangkat menuju Serang kembali. Kali ini semua dapat tempat duduk. Karena sudah penat, obrolan-obrolan error dan humor lebih mengemuka. Karena jalanan berdebu, terutama sekitar SPBU Pal Lima, Pak Agung dan Om Imam diingatkan teman-teman untuk men-treatment muka mereka dengan facial karena turbulensi angin campur debu di belakang hehe…. Apalagi mereka kan berfungsi sebagai spoiler untuk menambah downforce hehe…
Om Dwi turun di Baros, beberapa goweser turun di Samsat, termasuk Om Yopie yang akan nambah gowes ke Ciceri, belum kenyang tampaknya. Beberapa di alun-alun, dan terakhir Pak Ai yang ikut ke arah Polda.
Demikianlah akhir perjalanan eksplorasi kami ke Pandeglang yang memberikan kami banyak pengalaman dan menunjukkan bahwa kami masih belum apa-apa dalam dunia gowes-menggowes. Kalau saja trek seperti ini sering kita lahap, tentunya trek apa pun insya Allah bisa kita lewati.
Terima kasih juga kepada Pak Pri dan teman-teman komunitas sepeda dari Pandeglang maupun Cilegon. Semoga kegiatan gabungan ini bisa terus kita lakukan.
Wassalam.
Baca selengkapnya......
Berawal dari undangan Pak Pri, goweser senior dari Cilegon, di situs kita untuk mengajak bergabung meramaikan kegiatan eksplorasi MTB sekitar Kota Pandeglang, bagai gayung bersambut, kami pun siap untuk berpartisipasi. Apalagi, sebagai komunitas yang masih hijau, kami perlu untuk menambah pengalaman walaupun sudah terbayang banyaknya tanjakan yang menanti.
Sabtu, 5 Desember 2009 pukul 06.30, di depan KPP Pratama Serang, truk Polda Banten sudah siap mengangkut kami, 18 goweser, ke Alun-alun Pandeglang, ditemani oleh sebuah pick up berisi sekitar selusin sepeda dari Cilegon bawaan Pak Pri. Hari masih segar, kami masih merasakan keriangan seperti anak-anak kecil yang mau piknik. Terima kasih buat Om Andri dan kru dari Polda Banten yang menyiapkan truk. Oh ya, Om Andri tidak ikut bukan karena takut tanjakan, kan? Hehehe….
Kita panggil dulu ke-18 goweser yang berpartisipasi kali ini: Om Dono, Pak Danar, Pak Agung, Pak Ai, Om Darno yang lebih terbiasa nge-trail dibanding gowes hehe…, Kang Didit sebagai anggota baru tapi lama, Om Yopie alias Pak Sutarman, Om Dwi, Imam, Hepi, Faisal (selamat bergabung Bro!), Iyan, Hendra Genit, Dodo Chupeet juga, Dodo wong Pemalang, Vito, Bayu, dan Saya Flasa.
Sayang, Sang jawara, Om Mars, kali ini absen karena masih di jalan tol dalam perjalanan balik sehabis tugas luar sekalian mudik ke kota kelahirannya, Yogyes. Pak Dudi setelah chatting dengan saya, juga tidak bisa ikut karena harus undangan ke Bandung. Katanya sih, bukan kalah sebelum bertanding lho. Padahal saya juga tidak menuduh lho hihihi….
Perjalanan ke luar kota bagi kami baru dua kali dilakukan, setelah sebelumnya mengikuti funbike di Cilegon bulan Agustus 2009 lalu. Maklum, kami jarang melakukan kegiatan yang memakan waktu lama mengingat izin dari rumah yang terbatas hehe….
Setelah beres memuat sepeda, kami berangkat ke Pandeglang. Sebagian duduk, sebagian berdiri. Om Yopie sempat bergelantungan tak seimbang di dalam truk karena tingginya pegangan mobil. Teman-temannya kejam hihihi…. Untunglah Om Danar sigap menggantikan posisinya.
Lewat Pal Lima, Jalan Raya Pandeglang di samping SPBU sedang dinaikkan sehingga sejajar SPBU tadi. What a planning …. Jalan masih rusak, berdebu jika kering dan becek bila hujan.
Tiba di alun-alun Pandeglang, masih sejuk. Maklum, kota kecil ini terletak di kaki sebuah gunung, Gunung Karang. Sebagian membongkar sepeda, sebagian sarapan, dan sebagian lagi berfoto-foto, seperti biasa. Di sini, Om Bayu baru bergabung karena tidak bareng truk.
Setelah beres, kami menuju titik start di RM Pondok Nara. Di sana sudah berkumpul banyak komunitas sepeda, dari Pandeglang dan sebagian besar dari Cilegon. Umumnya mereka lebih berpengalaman dibanding kami dengan sepeda lebih canggih tentunya dan beberapa tips untuk menaklukkan tanjakan. Penganan kecil dan teh manis sudah siap disajikan di sini. Tapi kenapa sepertinya BCC tidak ada ya?
Jalur yang akan kami tempuh akan menuju arah Cikole dan muncul di perbatasan Kabupaten Pandeglang-Lebak, dengan jalur pemanasan ke arah Cihaseum dan naik terus ke arah Gunung Karang, Kampung Juhut. Hah??? Jalur pemanasannya saja sudah menggoyang kepercayaan diri. Kuat apa tidak ya? Tapi kami bertekad untuk mencoba menyelesaikannya.
Pukul 8:45. Perjalanan dari Pondok Nara melalui alun-alun menuju Cihaseum. Terus naik ke arah Desa Juhut di ketinggian 600m dpl. Jarak tidak terlalu jauh tetapi dengan ketinggian itu, bagi kami, sudah mengeluarkan keringat sebesar butiran jagung. Belum betis dan paha yang semakin keras hihihi… Kami tidak bisa menikmati pemandangan sekitar karena harus konsentrasi menaklukkan tanjakan. Pemanasan yang sangat panas. Sebelum mencapai Desa Juhut, beberapa goweser memutuskan untuk putar balik ke Pondok Nara. Tidak apa Om, kita kan mencari sehat. Kalau capek, tidak usah dipaksakan, nanti malah kontraproduktif.
Dari Kampung Juhut, kami berputar kembali ke arah Cihaseum, melalui jalanan menurun dengan batu-batu besar dan licin sisa hujan kemarin. Semua jenis trek tersedia. Mulai dari hotmix, jalanan berbatu, tanah, rumput. Keluar masuk hutan, kebun penduduk, perkampungan, melalui jembatan bambu di atas kali, dan sebagainya. Akhir pemanasan, kami muncul kembali di Kampung Cihaseum setelah sebelumnya melalui Jalan Keramat Kebon Kopi, Kadu Gajah.
Setelah memotong Jalan Raya Cikole, perjalanan dilanjutkan melalui jalanan hotmix selebar 2m yang menghubungkan kampung-kampung di sana. Kami akan melalui Desa Kadomas di selatan Kota Pandeglang dan dilanjutkan ke Kalanganyar. Tiba-tiba kami sudah muncul di Desa Wates, salah satu perbatasan antara Kabupaten Pandeglang dengan Lebak. Wah, daerah ini sering saya lewati kalau mau mudik ke Rangkasbitung.
Perjalanan dilanjutkan menuju vila Bukit Gandarasa. Alih-alih perjalanan melalui Kadubanen, kami melintasi Desa Bangkonol, Pasir Jaksa, dan Tegallongok di Kecamatan Keroncong. Masih tanjakan dan sedikit turunan yang kami lalui. Tapi kali ini dengan jalan yang lebih lebar, sekitar 3-4m. Jalanan di sini bercabang-cabang. Kalau salah mengambil belokan, bisa menuju ke arah yang kita tidak tahu. Apalagi bagi rombongan terakhir karena tim sweaper sudah berada di depan.
Empat goweser, saya, Hendra, Pak Ai, dan Om Yopie, seperti last mohicans saja, sendiri di belakang karena masalah stamina. Saya, Hendra, dan Om Yopie sudah hampir kram. Sementara, Pak Ai semalam kurang istirahat. Tidak biasa juga buat Pak Ai karena biasanya dia termasuk garda depan. Kami sampai terbaring di sebuah madrasah hihihi…. Kata wong Serang mah, ngalempengkeun cangkeng geh sambil melemaskan otot-otot kaki. Saking lamanya, sampai-sampai Pak Danar menelepon kami. Untunglah teman-teman di depan masih menunggu sesuai prinsip Leave No Man Behind hehe…
Kami sampai juga di vila Bukit Gandarasa sekitar pukul 12.00 untuk beristirahat sambil makan siang nasi timbel. T.O.P.B.G.T. Rombongan garda depan malah sudah beres makan.
Beberapa goweser, seperti Hendra dan Dodo Chupeet menganggap ini adalah titik finish. Saya dan Hendra sudah hampir kram, sementara Dodo Chupeet makannya banyak banget hehe….
Setelah semua beres, perjalanan dilanjutkan kembali ke Pondok Nara, keluar masuk kampung. Hendra sampai harus menyerahkan sepedanya kepada Om Dono karena kramnya terasa kembali. Untunglah jalanan sudah mulai menurun dan mendatar sehingga kami semua bisa gowes lagi. Akhirnya, sekitar 13.30, dengan tetesan keringat serta paha dan betis yang menebal, kami tiba juga di Pondok Nara. Sajian es campur sudah menunggu, solat dzuhur, dan foto-foto dengan komunitas lain.
Di alun-alun, siang itu cuaca sangat sejuk, tidak terlalu panas, apalagi awan di atas sedikit mendung. Sangat kontras dengan pada saat kami meng-gowes di Kec. Keroncong tadi. Sambil menunggu, bermacam aktivitas dilakukan teman-teman. Ada yang mencoba bermain bola basket dengan gaya padahal free throw saja tidak sampai ke jaring hehe…. Ada yang berfoto dengan anak-anak SMA, yang perempuan tentunya, padahal tampilannya seperti pak guru dengan murid-muridnya hihihi… Bahkan, yang tadi kram pun lupa kalau tadi menderita. Siapa tuh? Hehe…. Pokoknya di sini senang di sana senang.
Akhirnya truk datang juga. Sekitar 14.30, yang dinanti pun tiba. Kami langsung memuat sepeda-sepeda dan berangkat menuju Serang kembali. Kali ini semua dapat tempat duduk. Karena sudah penat, obrolan-obrolan error dan humor lebih mengemuka. Karena jalanan berdebu, terutama sekitar SPBU Pal Lima, Pak Agung dan Om Imam diingatkan teman-teman untuk men-treatment muka mereka dengan facial karena turbulensi angin campur debu di belakang hehe…. Apalagi mereka kan berfungsi sebagai spoiler untuk menambah downforce hehe…
Om Dwi turun di Baros, beberapa goweser turun di Samsat, termasuk Om Yopie yang akan nambah gowes ke Ciceri, belum kenyang tampaknya. Beberapa di alun-alun, dan terakhir Pak Ai yang ikut ke arah Polda.
Demikianlah akhir perjalanan eksplorasi kami ke Pandeglang yang memberikan kami banyak pengalaman dan menunjukkan bahwa kami masih belum apa-apa dalam dunia gowes-menggowes. Kalau saja trek seperti ini sering kita lahap, tentunya trek apa pun insya Allah bisa kita lewati.
Terima kasih juga kepada Pak Pri dan teman-teman komunitas sepeda dari Pandeglang maupun Cilegon. Semoga kegiatan gabungan ini bisa terus kita lakukan.
Wassalam.
Labels:
bangkonol,
bukit gandarasa,
cihaseum,
cikole,
juhut,
kadomas,
kalanganyar,
karaton,
keroncong,
majasari,
pandeglang,
pasir jaksa,
pondok nara,
sepedaan,
sukaratu,
tegallongok,
wates
Subscribe to:
Posts (Atom)




