Saturday, April 01, 2017

NANJAK KE KP. CILEBU, DESA PASIRHAUR, KECAMATAN CIPANAS, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN, NEGARA INDONESIA, KAWASAN ASIA TENGGARA, BENUA ASIA, PLANET BUMI, GALAKSI BIMA SAKTI


Pasti tidak banyak yang masih belum tahu dimana Cilebu, kan? Sama. Saya semula juga tidak tahu dimanakah gerangan itu. Diawali dari gambar-gambar pemandangan jalur tunggal alias single track dari Dede Nori-Nori yang dibagikan oleh Kang Ola alias Pak RT teladan, alias Juragan si MP, alias vokalis Armand Maulari, kami jadi “lapar mata” ingin mencicipi jalur dan pemandangan ke sana. Apalagi, tempatnya masih di Banten, tepatnya di Kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak, di kaki Gunung Endut (±1300 mdpl), walaupun secara jarak terhitung lumayan juga kalau diukur dari Serang yang sekitar 70 km. Tapi tak apalah, mumpung hari Selasa 28 Maret itu tanggal di kalender berwarna merah. Apalagi saya yang dibesarkan di Rangkasbitung, masa sampai gak tahu ada pemandangan indah seperti itu di Lebak. Kuy....

Mulai dari Serang, sudah ada 12 goweser gabungan dari dua komunitas, yaitu SXC2 dan Gagas. Ada Abah Yopie (yang masih setia dengan) Astroez, Om Didit, Om Cep, Om Dodo Chup-chup, Kang Ola, Omiyan yang tumben kabita gowes jalur tunggal padahal biasanya ngaspal pakai Fedy Serang-Pandeglang p.p., Pak Haji Noer, Darman Slank yang namanya doang pakai Slank tapi gak ada yang hapal lagunya, Pak Tarya, Amin Bagas, Drs. Verys, Medi Gong. Pas enggak tuh jumlahnya? Tiga goweser yang disebut terakhir baru sekarang sempat gowes bareng. Alhamdulillah tambah teman baru. Saya sih bergabung di Rangkasbitung saja karena malam sebelumnya sudah menginap di PMI atau Pondok Mertua Indah.
Piramida sepeda
Sepeda disusun di atas dolak dengan menggunakan rak yang unik sehingga sepeda tersusun seperti piramida, tersimpan aman, posisinya di atas kepala sehingga para goweser bisa duduk dengan nyaman di bawahnya. Ajib.
Masih 30 km ke Gajrug dari Rangkasbitung, melewati jalur nostalgia sewaktu kami gowes panas-panasan tahun 2010 lalu dari Serang-Rangkasbitung, terus naik ke Ciberang di Lebak Gedong untuk arung jeram. Saat itu, panas dari atas dan bawah. Atas matahari, bawahnya aspal. Selanjutnya, kami melewati masjid di Komplek Puslatpur Ciuyah, tempat kita sholat Jumat dulu, terus lewat kebun bambu tempat kami makan timbel nasi merah dulu yang gak bakalan habis kalau gak benar-benar lapar habis gowes saking banyaknya, lewat depan Mapolsek Sajira tempat bersejarah Om Chup-chup kram gantian dengan Om Imam, dan seterusnya.
... Dolak sampai mengerem mendadak gara-gara Om Cep yang jadi sopir tembak, gak hapal ada polisi tidur. Awas Om Cep, emang di belakang karung beras yuaa....
Cuma sayang memang, sepertinya tadi berangkat dari Serang terlalu siang, jadinya tiba di Pasar Gajrug (140 mdpl) sudah menjelang jam 11! Sanap euy.... Nah, di sini sudah menunggu Om Hermez dan Dede Nori-nori, ibu suri goweser Gajrug yang punya jalur.
Ah euy,,,, kata Om Cep bisa Gobalo alias gowes ba’da lohor. Mana sinar matahari sedang panas-panasnya saat itu. Wiss, goweser sing wedi ireng lan panas mah, balik bae yuaa, hahaha.... Apapun kondisnya, gowes tetap harus dijalani, kayak menjalani bahtera rumah tangga bae. Mbuh ya, Darman Slank.
11.30 WIB, bismillah. Kami akan menuju ke jalur tunggal yang dimulai di Kp. Lebaksereh. Tapi, untuk mencapai itu, harus gowes dulu melewati jalanan berlapis aspal dan makadam sekitar 11 km. Sayangnya, sebelum mulai memulai gowes tadi, kami tidak sempat santiaji tentang kondisi jalur, kontur, jarak, cuaca, dan sebagainya. Jadi, ketika mulai, kami langsung diberi dua turunan mulus, senang banget, serasa akan turunan terus. Padahal itu cuma PHP kalau kata Darman Slank mah. Soalnya, selebihnya adalah tanjakan!! Boro-boro ada turunan lagi, jalan datar saja jarang. Mungkin goweser yang pernah ke Kp. Domba di Pandeglang pernah merasakan tanjakan di sana. Nah, ini lebih parah, katanya. Saya kan belum pernah ke sana. Kayaknya seperti di Kelok 44, tanjakan berliku-liku, terasa gak habis-habis. Ini juga katanya, karena saya belum pernah gowes uphil ke sana. Untungnya, di beberapa titik, pemandangan dari ketinggian sungguh luar biasa, jadi cukup menghibur kami yang kepayahan menanjak.
Desa Girilaya, Cipanas, Lebak
Menjelang Kantor Kades Girilaya (250 mdpl), beberapa goweser sudah makin kepayahan. Om Chup-chup sudah buka helm, jersi, sarung tangan, protector, tapi celana sih enggak. Nah, siap-siap aja Om Cep dan Om Didit dicacaprak alias disemprot blangwir. Darman Slank sampai dicekek ya. Untung Darman mah anaknya sholih dan sabar, walaupun belum punya anak, hahaha. Habis itu, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, kami upayakan gowes. Tapi, tidak sampai 1 km, sudah berhenti lagi. Demikian seterusnya, beberapa ratus meter menanjak, ngaso lagi.
Sehabis sholat dzuhur, sempat agak kesel juga karena dolak yang dibawa Om Chup-chup ternyata sudah lewat, padahal sudah payah nih, terutama semangatnya yang payah. Untungnya beberapa ratus meter di muka, si dolak sedang parkir dengan manisnya menunggu rombongan terakhir, kami.
Sebagian dari kami menyerah di 408 mdpl, padahal sudah 8 km lebih dari titik mulai. Tak apalah. Dengan senang hati, sepeda dinaikkan ke atas dolak, termasuk punya saya dong, hehehe. Ternyata kalau naik dolak enak ya, gak capek. Sementara di depan, para goweser lain pemegang jersi polkadot masih bertahan gowes sampai ke Kp. Lebaksereh. Saya sebut siapa saja mereka sebagai bentuk penghargaan, nih: Abah Yopie, Kang Ola, Om Cep, Omiyan, Darman Slank, Om Medi Gong.
Karena jalan sempit, dolak sempat berpapasan dengan sebuah truk dengan jarak tipis saja, bahkan ban sepeda yang menonjol keluar sempat kesenggol spion truk. Parah tuh sopir truk, selonong boy, ada lawan tapi gak mau mengalah. Untung ban sepeda tidak apa-apa. Di tanjakan yang curam, dolak juga sempat tidak bisa naik. Kali ini Pak Haji Noer yang memegang setir, sepertinya menginjak kopling setengah, jadinya bau kopling euy. Alhamdulillah dia tetap bisa nanjak. Sementara, hujan dan gerimis sudah mulai datang bergantian menyapa kami sehingga mengamankan kamera dan hp adalah wajib hukumnya Jadinya, sayang di beberapa tempat tidak ada dokumentasinya.
Kolecer alias baling-baling kayu
Di beberapa tempat, kami banyak melihat banyak kolecer atau baling-baling kayu atau bambu buatan masyarakat sekitar yang suaranya seperti helikopter. Untuk dapat berputar, dia akan mengarah menghadang arah angin berhembus. Ternyata, informasi dari warga setempat, harganya mahal juga, ada yang 5 s.d. 10 juta. Mungkin salah satu penyebabnya tergantung pada jenis kayu yang digunakan.
Akhirnya, sekitar pukul 14.30 kami tiba juga di Kp. Lebaksereh (563 mdpl). Dolak parkir di sini karena kami akan memulai jalur tunggal. Tapi, sebelumnya kami isi ulang energi dulu karena sampai saat itu belum maksi. Di sini, tersedia teh manis dengan gula merah, alhamdulillah. Padahal mah, kenapa sepeda gak langsung diangkut saja ke sini ya, kan lumayan bisa hemat tenaga dan waktu. Lumayan lho, 11 km, buat saya, hahaha. Sementara, di sudut lain, Kang Ola mah biasa, ketemu dengan emak dan anak-anaknya.
Pukul 15 kami baru melanjutkan perjalanan dipimpin oleh Dede Nori-Nori. Ternyata, dari sini kami masih harus menanjak sampai ke tujuan Kp. Cilebu di ketinggian 736 mdpl. Awalnya melewati jalur menanjak curam yang berbatu, sehingga sulit untuk gowes di sini. Tapi, kami selalu ceria karena bisa berfoto-foto maupun berswafoto. Lebih naik lagi, jalur sudah mulai tanah yang sayangnya saat itu sedang licin karena habis hujan. Juga sulit gowes di sini. Saking licinnya, Om Chup-chup sempat terjerembab ke semak-semak. Dede Nori-Nori yang paling dekat bukannya membantu, malah memfoto dulu yuaa, hahaha. Pemandangan di kanan-kiri sangat luar biasa indah, sawah menghijau bertingkat-tingkat. Sementara di kejauhan, tampak lembah dan Gunung Karang. Gunung Endut sendiri seperti sudah siap menanti kami. Subhaanallah. Di Google Earth, saat difoto oleh satelit, sepertinya sawah belum ditanami, jadi masih berwarna coklat.
Semua ada hikmahnya, kondisi jalur yang sangat susah untuk meng-gowes sepeda, membuat kami berkesempatan mengambil gambar yang banyak banget. Hampir semua hp menyimpan foto pemandangan di sini maupun goweser-nya. Cuma memang, kelihatan di foto-fotonya, lubang hidung tampak terbuka maksimal karena menyedot oksigen sebanyak-banyaknya, hahaha.

2A, Abah dan Amin


Kang Ola

Point of interest
Sayang seribu sayang. Sekitar pukul 16.30, cuaca sudah gelap karena mendung, menjelang Kp. Cilebu, beberapa goweser, yaitu saya, Abah Yopie, Om Didit, Om Cep, Om Chup-chup, Omiyan, dan Pak Tarya terpaksa harus putar balik duluan karena beberapa pertimbangan, antara lain menghindari kemalaman di jalan karena tidak membawa senter. Kayaknya alumni New Aquilla: saya, Om Didit, Om Cep, Om Chup-chup sedikit trauma gowes gelap-gelapan tanpa senter di kebun coklat di Aquilla, Cianjur. Gowes hanya pakai perasaan karena benar-benar gelap, waktu itu. Ceritanya panjang. Kalau bahasa Spanyolnya mah poek mongkleng. Saya sendiri harus segera kembali ke Rangkasbitung karena ada beberapa urusan keluarga sekalian mengejar jadwal ke bandara malamnya untuk kembali ke Sumatera lagi. Sementara, rombongan lain melanjutkan perjalanan sampai ke titik akhir dan menikmati makan siang menjelang sore.
800m to Cilebu, courtesy of Darman Slank
Nah, setelah perjuangan selama setengah hari menanjak tak habis-habis di jalur aspal, makadam, ataupun jalur tunggal, barulah kami menikmati turunan. Seperti biasa, jalur tunggal berlapis tanah licin membuat kontrol sepeda menjadi sulit. Apalagi di beberapa tempat, bekas ban motor yang membentuk selokan kecil menaikkan level kesulitan tadi. Om Cep dan Om Didit sudah dipastikan memepersilakan saya ke depan. Bukan apa-apa, ini agar saya memfoto dan memvideokan aksi mereka, hahaha. Siaplah, itu sih gampang. Om Chup-chup dan Omiyan sudah turun duluan, entah sudah di mana. Pak Tarya berprinsip biar lambat asal selamat, sementara Abah mengaplikasikan rumus =IF(JALUR=OR(“DATAR”;”TANJAKAN”);”GOWES”;”TUNTUN”), hehehe. Jadi kalau jalannya datar atau tanjakan, Abah ngegowes, tapi kalau turunan, tuntun. Memang spesialisnya Abah adalah jalan datar atau tanjakan.
Cuci, cuci, cuci yang bersih
Kembali tiba di Kp. Lebaksereh, kami sibuk mencuci sepeda yang belepotan lumpur di sepanjang saluran irigasi kecil di depan warung. Sambil rehat, teh manis dan kopi sempat menemani. Masih belum maksi, kami, padahal sudah menjelang pukul 17. Ganjal saja perutnya pakai batu, hahaha.
Lima belas menit kemudian, kami putuskan meluncur duluan ke rumah Dede Nori-Nori di Pasar Gajrug. Insyaallah tinggal turun saja, kecuali nanti menjelang Pasar Gajrug ada dua tanjakan ganda yang tadi siang jadi PHP saat kami turun.
Di tengah perjalanan, sedang asyik-asyiknya menurun, Forward-nya Omiyan putus rantai, setelah sebelumnya remnya blong plus seatpost gak mau diturunkan. Sepeda itu kayaknya merajuk karena cemburu dan jarang dibelai oleh pemiliknya yang mendahulukan Neng Fedy selalu ya. Siapa tahu, setelah menikmati turunan asoy geboy, jadi kabita ingin terus gabung mencari jalur tunggal di seantero bumi, hahaha. Kabar terakhir dari laman bukumuka, sepeda yang sedang dicuci di atas sudah siap dilego untuk diganti fulsus, hahaha.
Adzan maghrib masih di telinga ketika kami tiba di sana. Yang belum pada maksi langsung ketemuan dengan bakso, sepertinya. Saya meluncur duluan ke Rangkasbitung, dibujeng enggalna, ngojek, sepeda saya titipin saya Om Didit dan Om Chup-chup supaya dikirim ke Satpam komplek rumah di Serang. Mudah-mudahan gak masuk angin, malam-malam naik motor gak pakai jaket. Untung gak hujan, gak becek. Kalau ojek sih ada, walau dengan lampu depan temaram, beberapa kali lubang dihajar karena tidak terlihat. Takut saja bannya pecah di tengah hutan gelap nircahaya sementara  penerangan lampu jalan nihil alias gak usah berharaplah. Silau ketika berpapasan dengan mobil. Alhamdulillah sampai rumah Rangkas pukul 19 dengan selamat.
....... (cerita terputus)....
Rombongan dolak baru tiba di depan komplek rumah Serang sekitar pukul 23.30 ketika saya jemput sepeda yang masih kotor belepotan tanah dan pastinya tidak ada waktu lagi untuk mencucinya. Maafkanlah aku ya, sepedaku. Terbayang kalau saya ikut jadwal normal rombongan, baru tiba pukul segini, bisa gak sempat ngapa-ngapain lagi, padahal sebentar lagi harus mengejar Damri. Maaf saya pulang duluan, maaf gak sempat ikut finish dan maksi di sana, terima kasih atas petualangannya Dede Nori-Nori, terima kasih Om Didit, Om Chup-chup, Kang Ola, Pak Haji Noer sudah mengantarkan sepeda saya.
Kalau dihitung-hitung, jarak dari rumah Dede Nori-Nori s.d. titik putar balik hanya sekitar 12,8 km. Dengan jarak s.d. Kp. Lebaksereh 11 km, maka jalur tunggal yang kami lewati tidak sampai 2 km! Tapi, walaupun begitu, “tidak sampai 2 km itu” ditambah pemandangan alam yang luar biasa, cukup sepadan dan memuaskan kami, serta menghapus kepayahan karena menanjak sebelumnya. Gak kapok, pengen mengulang lagi, tapi nanti agak pagian ya, plus mudah-mudahan jalur sedang kering alias tidak hujan.
Sampai jumpa dalam petualangan berikutnya, insyaallah.


Para pelakon:
Indonesiaku

Om Didit

Abah Yopie

Om Dodo Chup-chup

Om Cep
Haji Noer
Omiyan
Kang Ola

Pak Tarya
4 Sekawan: Amin, Dede Nori-Nori, Darman Slank, Drs. Verys
Om Medi Gong


Gambar Google Earth
Total jalur Gajrug-Kp. Cilebu

Jalur tunggal Kp. Lebaksereh to Kp. Cilebu

Saturday, September 17, 2016

Sawiyah Majalengka

Bismillah.
Assalamualaikum goweser semua. Kemarin tanggal 3 September 2016, kami berencana gowes piknik ke Sawiyah, daerah perkebunan sayuran di kaki Gunung Ceremai yang masuk ke wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kata orang sih, juga setelah kami intip dari youtube, pemandangannya indah luar biasa di sana. Jadi, mari kita kemon.
Namun, entah mengapa persiapan perjalanan kali ini tidak terlalu mulus rasanya. Dimulai dari konfirmasi pembatalan keberangkatan dari beberapa goweser yang semula akan ikut sangat mepet dengan waktu keberangkatan, jadinya bus kosong. Enak sih bisa tidur selonjoran, tapi kan otomatis iuran naik, hehehe. Sampai-sampai memecahkan rekor, satu perjalanan dipalak bendahara sampai 3 kali, ah euy..... . “
“Mang Dodo, ieu iuran sabarahaan?”
“Dualaslima”
Lalu, Mang Dodo harus menambal ban sepedanya, yang bergelar Brigadir Sakahayang, sampai empat kali, padahal dia baru beli tuh ban dalamnya. Mungkin dia tidak berbakat jadi tukang tambal ban ya. Hardskill-nya kurang, hehehe. Peralatan tambal pada patah, sendok pada bengkok. Akibatnya, dia masih uring-uringan saat datang ke tikum. Kalau kata ABG sekarang mah, lagi BT kali ya. Beli ban baru bocor semua. Bisanya malah pakai ban lama lagi. Sudah gitu, menunggu bus seperti menunggu godot. Tidak jelas kapan akan datang.
Kemudian, saya sama sekali tidak kebagian waktu untuk tune up sepeda, cuma bisa memberi oli rantai, gak sempat ganti kampas rem yang sudah tipis, enggak dapat pelindung lutut dan tulang kering. Seatpost juga masih bermasalah karena sampai detik-detik keberangkatan, si Ade MJ tidak bisa memperbaikinya. Seatpost jawara emang. Bukan jawara karena bagus kualitasnya, tapi dalam arti kalau diduduki selalu melawan, naik terus hidroliknya. Jadi ibarat beli barang BS deh, dua kali dipakai touring, dua kali pula rusak. Dulu waktu ke Burata, begitu juga. Ditambah, keterlambatan pesawat yang saya tumpangi yang semula dijadwalkan mendarat pukul 14 di Bandara Soekarno-Hatta menjadi pukul 16, padahal sudah memakai maskapai mahal berkelas internasional itu. Akibatnya, di jalan jadi terjebak macet karena sudah jam pulang kantor. Mencari pelindung lutut dan tulang kering di Tangerang enggak dapat juga. Akhirnya, baru bisa mendarat di Serang pukul 20, padahal jadwal di tikum pukul 21. Alamak, jadi komplitlah kayak jamu. Kayaknya hanya doa yang bisa dipanjatkan, semoga sepeda dan si empunya tetap sehat selamat sentosa selama di Sawiyah nanti.
Jadwal keberangkatan pun molor dari rencana pukul 21 menjadi pukul 23. Tahu begitu, saya tidur dulu. Mang Dodo makin BT. Maklum, selain carik, kali ini dia merangkap jabatan sebagai kuwu sekaligus EO. Banyak amat jabatannya. Honornya dobel, atau tripel dong, Mang.
Menjelang pukul 23, datanglah bus yang ditunggu-tunggu dengan beberapa goweser sudah PW alias Posisi Wuenak di dalamnya. Sudah ada Mang Didit alias Kang Jaro bersama juniornya, sekaligus mata-mata, hehehe, Aa Apli; Mang Cep yang kali ini tidak dikawal juniornya, Kaka Aldi, karena enggak boleh bolos latihan sepakbola besoknya, katanya. Yang menggembirakan adalah kembalinya dua anak hilang, eh maksudnya dua "orang tua" hilang, pendiri SXC2 yang kembali turun gunung, yang sebenarnya mau naik gunung Ceremai, yaitu Pak Ai dan Mbah Darno. Dari namanya saja sudah menggambarkan senioritas, harus salim tuh kalau ketemu, hehehe.
Di tikum sendiri, selain saya dan Mang Dodo, sudah ada Mang Haji Nur, Bang Dolett, dan Mang Darman Slank. Yang terakhir ini ngakunya doang namanya berekstensi Slank tapi belum pernah kedengaran nyanyi lagu-lagunya grup band ini. Ada yang hapal enggak sih, Mance? ^_^
Setelah diabsen, jadilah peserta kali ini hanya 10 orang. Sopir dan kernet bus enggak usah dihitung ya. Sayangnya, Mang Iyan selaku anak Cikijing-Majalengka yang sekarang lebih akrab dengan Federal-nya, malah enggak ikut, padahal kita mau ke tempat kelahirannya.
Lanjut, di bus, tukang narik kabel pada beraksi semua yuaaa.... Mengganggu kesyahduan peraduan. Tapi ada beberapa yang kurang lepas, mungkin karena biasa ada pendampingnya kalau sedang narik kabel. Cuma, memang ketahuan tahun kelahirannya  berapa kalau dilihat lagu-lagu yang ditembangkan. Sebut saja Koes Plus, Bang Iwan, dan Broery. Iya, kan? Saya sih enggak lama langsung terlelap. Sorry, masih jetlag.
Singkat cerita, di tol Cikampek, lewat tengah malam menjelang pagi, "pamer paha", alias padat merayap tanpa harapan. Itu pun katanya, karena saya kan sleeping beauty jadi enggak merasakan macet. Tapi,  kayaknya benar karena jadwal kedatangan yang diperkirakan tiba di Majalengka sekitar subuh, meleset menjadi sholat subuh masih di area istirahat km 102 tol Cipali, masih di Subang. Jalan masih panjang, jangan ucap janji. Masih sekitar 70km lagi untuk mencapai gerbang keluar tol Kertajati. Alhamdulillah-nya, Mang Darman wis taubat geh, udah ikutan sholat sekarang mah, hahaha. Tapi enggak tahu, wudlu atau cuma ngebasahin rambut doang oang oang yuaa, hehehe.
Akhirnya, kami keluar di gerbang tol Kertajati, Majalengka sekitar pukul 6, dan terus mengarah ke Kadipaten, sudah terang benderang, dan langsung disuguhi hamparan kebun sayur. Sesuatu yang jarang kami temukan di Serang yang cuacanya panas, jadi tidak banyak atau tidak ada (?) kebun sayur seperti ini. Sawiyah harusnya lebih indah lagi. Para petani di sini menyiram sayuran dengan cara yang unik dengan menggunakan semacam ember dari kaleng yang dibentuk seperti kerucut. Caranya pun unik, mereka menggoyangkan ember tersebut ke kiri dan kanan. Belum terjamah mekanisasi pertanian atau memang harus demikiankah caranya?
Manusia sungguh memang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan beberapa jam, menit, atau detik berikutnya. Di tengah perjalanan, ternyata jalanan ditutup karena sedang ada perbaikan jembatan yang melintasi Kali Cimanuk. Kami pun harus putar balik dan mencari jalur alternatif yang jaraknya lumayan jauh. Kembalilah kami ke arah gerbang tol Kertajati tadi untuk kemudian memutar melalui Kecamatan Jatiwangi. Pernah dengar? Iya, dari zaman kecil dulu, saya sudah mendengar nama ini yang ditasbihkan pada genteng keramik berkualitas tinggi dan mahal. Jadi, kalau dulu ada rumah yang pakai genteng merek ini, pasti rumah orang kaya, hehehe.
Kami masih pusing-pusing, kalau kata orang Malaysia mah, dan belum ada tanda-tanda akan sampai di tempat tujuan, serta tidak tahu seberapa jauh lagi kami harus memutar. Pasrah pada ilahi. Melewati jalanan tidak terlalu lebar dengan sawah dan saluran irigasi di kanan-kiri kami, terasa seperti di Sawah Luhur terus mengarah ke Pontang. Juga pabrik-pabrik keramik dengan cerobong asap yang tinggi dan toko-toko genteng Jatiwangi bertebaran.
Hari makin siang, lapar belum sarapan, sebagian goweser sudah gelisah, pukul berapa nanti kita startnya ya?
Setelah melewati kawasan Lanud Sugiri Sukani, seperti ada harapan sudah hampir sampai karena kami tiba di jalan besar, yaitu Jalan Raya Bandung-Cirebon. Ya, serasa menemukan kehidupan. Sampai di sini, kalau dihitung-dihitung, sudah lebih 20 km kami memutar. Tapi Saudara-saudara, kami ternyata masih harus menyusuri Jalan Raya Jatiwangi-Majalengka menuju ke tikum di Cigasong.
Akhirnya, setelah memutar hampir 40 km, sekitar pukul 8, kami tiba di titik kumpul alias tikum, dimana coba, Rumah Makan Ampera! Alhamdulillah. Mantap dong, bisa melepaskan hasrat siklus biologis, sekaligus mempersiapkan sepeda, dan terutama sarapan, tang kali ini ala makan siang dengan menu lalapan khas Sunda. Kebayang kan makan daun poh pohan dengan  sambal. Sarapan lho itu, hehehe. Sebagai orang Sunda, lalapan daun-daunan memang terasa sebagai menu wajib, kecuali daun pisang atau daun pintu tentunya. Di sini, kami ditemui Om Nurul, yang punya wilayah, bersama Om Irfan dan Dhafa_Nos sebagai marshall sekaligus fotografer. Sayang Om Nurul tidak bisa ikut gowes karena ada urusan keluarga.
Lepas jam 10 sepertinya baru beres sarapan dan menaikkan sepeda ke atas dolak. Ah euy, dolak tuh apa ya? Dolak adalah mobil pick-up yang biasnya digunakan untuk mengangkut pasir atau kerikil yang dapat juga digunakan sebagai alat ukur. Bahasa ini sering digunakan oleh Mang Cep sebagai juragan matrial. Kayaknya berasal dari Sumedang kata “dolak” ini, hehehe.
“Mang Cep, keusik sadolak sabarahaan?”
“Dualaslima.“
Karena dolak hanya bisa mengangkut sepeda, tidak termasuk para tuannya, terpaksalah kami paksakan naik bus ke tempat start gowes.
Menuju ke sana, kami masih harus melewati jalanan berlapis aspal yang tidak lebar, mengular, dan tentunya, menanjak. Bayangkan saja, ketinggian di tikum masih sekitar 100 mdpl. Nanti di titik start, akan lebih dari 1.200 mdpl. Wow.... Ya wow, bagi kami, atau sayalah, yang biasa gowes di dataran rendah Serang. Mudah-mudahan saja bus masih kuat menanjak. Yang repot, kalau pas menanjak berpapasan dengan kendaraan lain dari arah muka atau ada yang parkir di tepi jalan, harus berhenti dulu dan lewat satu per satu. Dan itu terjadi. Ketika bus ngos-ngosan menanjak, tentunya diiringi doa dari kami supaya kuat, ada mobil lain parkir menghalangi jalan, otomatis bus pun harus berhenti dalam posisi menanjak curam. Bus sempat mundur sedikit ketika sopir bus menginjak kopling untuk masuk ke gigi satu. Ngeri euy. Insting kernet Mang Darman langsung keluar dan berinisiatif ingin mengganjal ban mobil. Tapi sopir dengan percaya diri mengatakan tidak perlu karena percaya dengan kemampuan mobilnya. Namun akhirnya, di tengah perjalanan, atau mungkin duapertiganya, sopir bus menyerah dan kami akan diangkut dolak saja. Sementara, sayup-sayup terdengar lagu "Sawiyah...Sawiyah" dilagukan seperti "Zakia...Zakia"-nya Ahmad Albar.  

Beruntung ada truk kosong lewat, jadi kami bisa lanjut menumpang sampai destinasi berikutnya. Jadi ingat zaman SMP dulu, sering numpang mobil dolak toko besi kalau pulang sekolah. Pengalaman hidup sekaligus ngirit ongkos, hehehe.
Titik start sendiri berada di kaki Gunung Ceremai di sebelah barat daya pada ketinggian 1.260 mdpl. Subhaanalah, pemandangan dari ketinggian ini sangat luar biasa dengan kebun sayuran terhampar luas, bahkan banyak yang kemiringannya sangat curam. Saya sangat yakin para petani di sini sehat-sehat jiwa dan raganya. Bagaimana tidak, iklim yang sejuk, naik-turun kebun dari atas ke bawah dan sebaliknya, pasti imbalannya adalah ketenangan jiwa dan kesehatan raga.
Selepas start, langsung kami disuguhi tanjakan tanah nan licin. Agak susah menaiki sepeda di sini karena ban selalu selip. Terpaksalah kami dorong sepeda, mungkin sampai ketinggian maksimal, 1.361 mdpl kalau kata Mang Garmin mah. Di beberapa bagian, jalur setapak menanjak dan sempit, hanya bisa dilalui satu sepeda. Sebelah kanan tebing tapi sebelah kirinya jurang-jurang berkeliaran! Hati-hati. Kayaknya kalau salah jatuh bisa tamat. Untuk keamanan, beberapa goweser menuntun saja sepedanya. Itupun, karena sempitnya jalur, badan tidak bisa sejajar dengan sepeda, tetapi harus agak mundur sedikit. Prinsipnya biar lambat asal selamat.
Setelah itu, baru kita melahap turunan, walaupun di beberapa bagian sangat sempit karena posisi kami di punggung bukit yang kiri-kanannya kebun sayur dengan kemiringannya curam. Tetap fokus ke jalanan di depan, jangan terlalu banyak tengok kanan-kiri, bisa bikin tambah pusing, hehehe. Untungnya, jalan setapak ini sudah dilapisi beton, mungkin sekitar 30-an cm lebarnya. Lumayan buat mengurangi risiko jalan rusak dan membentuk jalur ular karena bekas gerusan ban motor. Mang Irfan dan Dhafa_Nos keren, selalu mengabadikan kami di beberapa titik yang bagus untuk berpose, hehehe.
Tidak jauh ternyata jarak jalur setapak yang kami lalui ini. Dari start sampai dengan akhir hanya sekitar 3,5 km. Setelah itu, turunan aspal panjang siap menanti. Walau demikian, karakteristik jalur tanah dan pemandangannya memberikan kepuasan tersendiri bagi kami dan ingin mengulanginya kembali.
Selanjutnya, barangkali pelajaran bagi kami. Tekanan udara pada ban-ban sepeda yang sebelumnya dikurangi karena akan melintasi jalur tanah, ketika kembali memasuki jalur aspal, perlu dicek kembali jangan sampai terlalu rendah karena bisa mengurangi kestabilan berkendara. Pendek kata, bannya jangan terlalu kempes deh, apalagi kalau digunakan menikung dengan kecepatan tinggi.
Salah satu anggota kami mengalami kecelakaan karena hal ini dan tidak dapat melanjutkan perjalanan karena cedera pada bagian tangannya dan memerlukan perawatan segera. Sepedanya pun tidak bisa dipakai lagi sampai nanti dioperasi si Ade MJ atau Mang Ubed di Serang.
Demikiankah, karena kesalamatan adalah hal yang utama -apalagi teman-teman yang bekerja di pabrik pasti sudah biasa dengan prinsip safety safety- maka kami putuskan untuk segera merawat korban dan mengakhiri perjalanan gowes. Walaupun tujuan kita ke sini, selain untuk olahraga dan refreshing, juga untuk bersenang-senang, tetapi the safe way is the best way, begitu kata Si Kabayan mah. Kalau masalah jalur yang belum khatam, nanti bisa kita agendakan lagi, kapan-kapan insya Allah.
Jadi, turunan jalan aspal yang juga menghabiskan kampas rem saya itu panjangnya sekitar 9 km dari ketinggian sekitar 1.120 mdpl sampai 614 mdpl finish di Puskesmas Maja, Majalengka. Bukan Maja di Kabupaten Lebak atau Pandeglang, karena tiga kabupaten ini memang memiliki tempat dengan nama yang sama. Mungkin di tempat lain ada lagi yang namanya sama?
Setelah rampung di Puskesmas, kami segera meluncur menuju basecamp kawan temannya Om Dodo ke arah Kota Majalengka untuk ber-ishoma dan persiapan kembali ke Serang. Kali ini, benar-benar jalan raya yang kami lewati, yaitu Jalan Raya Cigasong dengan kontur turunan sepenuhnya dari 614 mdpl ke 200 m dpl. Om Irfan dan Dhafa_Nos selaku anak BMX, kayaknya memecahkan rekor ‘manual’ terlama tuh, sambil loncat-sana loncat sini, drop sana-drop sini. Mantap, Om.

Setelah beristirahat, sholat, makan siang menu semur jengkol, ngopi untuk menambah energi, segera kami persiapkan sepeda ke atas bus untuk kembali ke Serang. Terima kasih buat Om-Om di basecamp. Mungkin sekitar pukul 16 kami berangkat.

Sebelum masuk tol, mungkin sekitar magrib ya, perut lapar dan ada special request dari pasien yang ingin makan bakso. Untungnya ada tukang bakso dan mie ayam yang buka. Rasanya, jangan ditanya, anyep euy, hehehe. Tapi alhamdulillah bisa mengganjal perut.

Di tol, kembali para penarik kabel senior beraksi, tetap di saluran dan gelombang yang sama, dengan lagu-lagu jadul tentunya, hehehe. Lha, Mang Dodo pas menyanyikan lagu Bongkar-nya Bang Iwan di lirik "Orang tua,,,, anggaplah kami sebagai manusia", menunjuk Mbah Darno ketika menyebut "Orang tua" dan menunjuk dirinya ketika menyebut "manusia". Haduh, kartu kuning ini. Harusnya Mbah Darno membalas dengan lagu "Hitam manis", hahaha. Menunjuk siapa ketika menyebut "hitam" dan menunjuk saya! ketika menyebut "manis", hehehe. Udahlah tidur, tidur! Kalau ditidurkan, insya Allah terasa cepat sampai ke Serang.

Terakhir, terima kasih buat Om Nurul, kemudian Om Irfan dan Dhafa_Nos yang setia mengawal dan tentu saja memfoto-foto kami. Jangan bosan ya, Om, karena kami tidak bosan ke sana, hehehe. Mohon maaf kalau kami sempat merepotkan. Kami masih ingin khataman ke jalur Pajero dan Sadarehe. Insya Allah.
Majalengka, I'll be back, kalau kata si Arnold Swarz...Swerz...Sworz...ger mah. Ah, namanya sulit amat. Pokoknya itulah.
Wassalam.

Wednesday, March 09, 2016

SXC2 Gowes to Pangalengan

Bismillahirohmaanirrohiim.
Assalamualaykum goweser semua. Kalau kita mendengar Pangalengan di Bandung selatan, pasti kita langsung ingat susu murni KPBS yang dijajakan dari rumah ke rumah dengan lagunya yang khas idola anak-anak. Kalau saya malah ingat lagu zaman perjuangan dulu karya Ismail Marzuki tentang Bandung selatan di waktu malam yang menceritakan tentang keindahan dan kesyahduan suasana di sana. Maklum umur. Tertarik ke sana? Mari kita kemon.

Sabtu 5 Maret 2016 kali ini, SXC2 ke Pangalengan bukan untuk membeli susu murni apalagi meninjau pabrik susu di sana, melainkan gowes ke Wayang Windu Bike Park (W2BP) dan dilanjutkan dengan mencicipi adventure track di sana. Wow, pasti menyenangkan. Sudah terbayang single track di sela-sela perkebunan teh, pinus, dan kebun sayuran, ditambah sejuknya udara. Atis tau…… kalau kata Darman Slank mah. Hal yang tidak kami temukan di Serang yang berada di dataran rendah dengan suhu yang cenderung panas dengan vegetasi yang berbeda pula tentunya. Di Serang, baru pemanasan saja sudah berkeringat. Di Pangalengan, sudah gowes saja sepertinya belum berkeringat, hehehe. Enggak tahu kalau teman-teman PAB pada gowes ke Serang, pada buligir alias buka jersey semua kali, ya hehehe.
Inginnya sih, kami sekalian mendirikan tenda di sana, menginap, dan membuat acara malam harinya. Namun, karena SIM atau Surat Izin Menggowes dan jadwal sebagian besar peserta terbatas, maka rencana menginap dibatalkan dan diputuskan one-day-trip saja ke sana yang dimulai Jumat malam dari Serang dan kembali Sabtu malamnya atau Minggu dinihari.
Titik start W2BP
Wayang Windu Bike Park
Kali ini SXC2 digawangi oleh saya, Om Didit, Om Dodo Chup Chup, Indra Specialized, Om Opik, Om Cep, Haji Noer, ditambah Aldi dan Rafli, duo goweser junior yang sudah mulai in, anaknya Om Cep dan Om Didit. Ditambah dua goweser dari Gagas, Pak Tarya dan Pak Haji Mukhlas, serta SCAM yang diwakili oleh Erall, Iim, Edy, dan Asep. Juga ada temannya Indra, Resha dan Kusheri dari Graha yang memiliki tujuan dan hobi yang sama: gowes. Oh ya, lupa. Kalau Darman Slank mah saya sebut terakhir saja, soalnya dia mah ada di mana-mana. Ya SXC2, ya Gagas, ya SCAM. Kayak ****mart aja, Man ada di mana-mana, hahaha. Embuh yuaa, Man.
Kami berkendara dengan satu bis ukuran ¾ yang memuat 19 sepeda dan pemiliknya. Jam menunjukkan waktu pukul 22 lebih ketika rombongan berangkat dari tikum di Taman Widya Asri. Hari itu Jumat, entah kliwon atau bukan, saya tidak perhatikan. Istirahat dilakukan di perjalanan. Lumayan walaupun tidak bisa 100%. Harus bisa dipaksakan karena kalau tidak, bisa mengganggu konsentrasi. Apalagi, di area-area technical yang membutuhkan konsentrasi tinggi nanti.
Kalau dipikir-pikir, buat apa sih gowes jauh-jauh ke Pangalengan yang waktu tempuhnya sekitar 6 jam perjalanan, pulang-pergi jadi 12 jam?! Itu pertanyaan Om Didit ke Om Cep. Dulu. Sekarang, setelah diracuni Om Cep, kami tertarik juga untuk mencoba ke sana setelah sebelumnya ke Burata. Ditambah, daya tarik setiap daerah memiliki karakteristik track dan pemandangan alam yang berbeda, termasuk cuaca dan tingkat kesulitan yang memacu adrenalin. Mohon maaf Om Chup Chup, tak pinjam Adrenaline-nya. Tapi, yang tidak kalah penting menurut saya, tentunya silaturahmi dengan goweser dari berbagai tempat sealam dunia. Termasuk kemarin kami gobar alias gowes bareng dengan komunitas Gorolong dari Bekasi yang bergabung sejak di terminal Pangalengan. Para suhu semua. Salam kenal, Om-Om.
Pangalengan, Bandung Selatan di waktu pagi
Bus tiba di Pangalengan sekitar pukul 5 keesokan harinya. Udara cukup brrrr..... Balutan sarung dan jaket sepertinya tidak mampu menahan dinginnya udara. Lalu, kami melewati pasar Pangalengan yang yang macetos karena mobil-mobil parkir dua saf, sementara motor-motor tidak kalah, mereka parkir menyilang di pinggir jalan. Jalan jadi satu lajur saja, itu pun ngepas banget buat bus kami. Jadi ingat kondisi pasar Baros atau pasar Petir di Serang kalau sedang mudik ke Rangkasbitung yang persis sama macet dan satu lajurnya, apalagi di akhir pekan atau liburan. Inilah galibnya lalu lintas di pasar tumpah di negara kita tercinta.
Kami sholat subuh di sebuah mesjid kecil namun asri dan terawat selepas pasar Pangalengan. Saya kira mesjid ini milik pribadi, rumah megahnya di belakang mesjid, pemiliknya sama dengan sebuah toko perlengkapan pertanian yang berada di sebelah mesjid. Sehabis sholat, kami pun menuju Terminal Pangalengan untuk mempersiapkan diri dan memindahkan sepeda-sepeda ke atas mobil pick up untuk diangkut ke W2BP. Maklum karena jalan ke arah sana sempit di beberapa tempat, tidak memungkinkan untuk dilewati bus. Jadi sudah loading-unloading-loading lagi, kayak lagu grup band Kuburan saja, C-Am-Dm-ke G-ke C lagi.... 
Terminal Pangalengan
Kondisi terminal yang berada di halaman Kantor Desa Pangalengan ini terbilang luas, tetapi cenderung kotor dan becek. Kamar mandi umum tersedia, namun sama, kurang bersih dan bercampur antara pria-wanita. Pencampuran ini akan berdampak terjadinya ‘kekagokan’ pada di sore hari saat kami harus mandi dengan kondisi lebih setengah telanjang di sini, mungkin sudah mendekati 7/8 telanjang, hehehe. Di sini bus parkir dan menunggu kami kembali pada sore harinya. Jangan lupa sekalian sarapan di sekitar terminal ya. Kalau sedikit kotor, harus kuatkan mental dan mudah-mudahan tidak sakit perut. Saya dan beberapa goweser makan kupat lontong yang lezatos. Mungkin karena laparos atau mungkin dasarnya memang makanan itu lezatos, lidah saya kurang ahli untuk urusan rasa. Yang lain, saya lihat menyerbu tukang bubur ayam. Hebat, padahal saya kalau makan buryam jam 7, dua jam kemudian pasti perut sudah nagih lagi sambil bernyanyi keroncong. Enggak nendang, katanya. Makanya banyak orang bilang, sering gowes koq perutnya enggak kempes-kempes. Mungkin mereka belum paham bahwa belum ada bukti empiris yang membuktikan adanya korelasi negatif antara frekuensi gowes dengan pengecilan bentuk perut. Jadi, keep calm and start biking.
Siap di Terminal Pangalengan
Kami dikawal oleh dulur beda lembur dari PAB alias Pangalengan Adventure Bike. Ada Kang Atep PAB, Kang Imbar, Kang Bajing, Fahmi, Pak Heri, dan teman-teman lain yang tidak bisa saya colek satu per satu. Luar biasa pelayanan dan keramahtamahan Om-Om semua, respon yang cepat, ringan tangan, baik hati dan tidak sombong, serasa sudah kenal lama, padahal baru beberapa jam sahaja. Termasuk tentunya foto-foto yang ajib banget. Satu yang unik, sebagian dulur-dulur PAB gowes mengenakan celana jin. Keren lah.
Selanjutnya, dua mobil pick up mengangkut sepeda-sepeda dan kami menuju W2BP. Karena saya termasuk yang terakhir diangkut, sambil menunggu jemputan, kami mengopi dulu ditemani ketan yang kata orang Banten disebut gemblong. Ini menjadi desert alias makanan penutup kami setelah lontong tadi. Appetizer-nya kayaknya angin alias masuk angin, jadi harus disiapkan obat masuk angin. Boleh obatnya orang pintar maupun orang bejo. Terserah, mana suka.
W2BP sendiri merupakan bike park yang berada di tengah-tengah perkebunan teh Kertamanah milik PTPN VIII yang berada di Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Titik startnya berada pada ketinggian 1811 m dpl dan berada di sekitar instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau geothermal milik KSO tiga perusahaan plat merah PT Pertamina Geothermal Energy, PT PTPN VIII, dan PT Perhutani, dengan korporasi swasta PT Star Energy. Makanya, di sini tampak pipa-pipa penyaluran gas berwarna perak yang mengular, naik-turun, dan berbelok-belok puluhan kilometer bak tembok besar di China. Obvitnas nih di sini alias objek vital nasional. Kata Om Opik, saya dulu yang masang nih. Om Opik hebat, kayak Sangkuriang memasang pipa sepanjang itu, hehehe.
Untuk menikmati W2BP ini, kita harus membayar retribusi tiket masuk sebesar Rp 22.000 per orang di titik start yang berada pada ketinggian 1811 m dpl. Di sini ada penjaga tiket sekaligus penjual kopi dan teh, serta beberapa penganan. Tapi maaf, kalau penjualan bunga edelweiss mah belum ada. Di sini juga tersedia toilet buat goweser beser. Bagaimana tidak beser, cuaca di sini kan sejuk, minum terus, jadi walau melakukan aktivitas gowes tidak akan banyak keringat yang keluar. Akibatnya, beser deh. Tapi aneh kalau Darman Slank mah, berkeringat atau enggak, tetap saja beser yuaaa.
Wefi
Bagi saya, gowes kali ini berarti memecahkan rekor pribadi ketinggian yang semula 1300 m dpl di Burata menjadi 1811 m dpl di W2BP! Sesuatu, kalau kata Syahrini mah. Di Banten bagian barat, kayaknya baru Kp. Kaduenggang titik tertinggi yang pernah saya datangi. Itu pun hanya 824 m dpl. Kata Kang Atep PAB mah, biasa aja keles, hehehe. Oh ya satu lagi, ini bike park pertama yang saya rasakan. Biasanya, jangankan bike park, gowes saya cuma keluar-masuk kampung atau kebun orang saja, belum pernah merasakan sensasi main di bike park.
Ganteng-Ganteng ya...
Di W2BP, ada dua jalur yang bisa kita lewati. Satu ke arah tenggara atau ke arah kiri yang bersifat lebih XC dan berkarakter cepat. Pengelola sepertinya sudah mempersiapkan beberapa variasi gundukan tanah yang digunakan oleh para goweser untuk melompat atau belajar melompat untuk yang belum bisa, seperti saya. Panjangnya track sih cuma sekitar 4 km tapi sangat mengasyikan. Track ini berakhir di jalan makadam di ketinggian 1608 m dpl.
Om Didit in action
Karena belum puas, kami mencobanya sekali lagi. Setelah beres, waduh badan belum berkeringat euy. Sudah konturnya menurun semua, tinggal ngatur rem saja, cuaca yang cerah pun tidak terasa menyengat. Masih adem, alhamdulillah. Jadi ingin remedial. Nanti deh insya Allah pas musim panas supaya lebih mantap. Di sini kecepatan maksimal saya 41 km/jam dengan rata-rata hanya 7 km/jam. Enggak kebayang para jagoan kayak Om Cep, Indra, Erall, Resha, trio SCAM, Darman, bisa berapa kecepatannya ya. Mohon maaf yang ternyata cepat tapi gak kesebut di sini, kayak Om Chup Chup misalnya, hehehe. Om Didit saya tahu gak bisa ngebut-ngebut karena buntutnya ketinggalan di belakang, hehehe. Di percobaan kedua, kecepatan maksimal kok turun ya jadi 31 km/jam, mudah-mudahan karena GPS-nya salah, hehehe. Tetapi untungnya rerata naik jadi 10 km/jam.
Setelah rampung yang kedua kali, sekitar pukul 12 kami lanjutkan perjalanan menuju Situ Cileunca melewati track kedua. Mendung sudah mulai menggelayut. sebenarnya sudah mulai lapar, tapi masih bisalah diganjal dengan makanan kecil. Sementara, komunitas lain yang sama-sama piknik ke W2BP sudah mulai makan siang di titik start, hadeuh.
Dengan Om Opik yang ngebangun pipa :)

Om Cep in action
Track kedua ini mengarah ke barat daya atau belok kanan dari titik start. Namun karena saat itu langsung digabung dengan adventure track, saya enggak tahu berapa panjangnya. mungkin hampir sama, sekitar 4 km-an. Yang jelas, lewat sini terdapat turunan dari kayu. Hanya untuk yang berani. Juga ada turunan yang lurus tapi panjang yang permukaan jalannya sudah ditutupi karung-karung berisi tanah, membelah barisan pohon teh. Dijamin merosot deh. Mungkin jalur ini ada namanya? Bagi anda yang kurang yakin, lebih baik tuntun bike sajalah agar selamat sentosa dan mengurangi risiko jatuh. Kita kan tujuannya bersenang-senang bukan prestasi. Mengingatkan diri sendiri. Alasan ya, hehehe. Tapi saya salut pada Om Chup Chup yang berhasil duduk di sadel sampai bawah, walau beberapa kali kepleset. Entah dia bisa atau memang nekad, hehehe. Tapi yang jelas, sejak gowes ke Burata, sepertinya dia bertekad untuk aktif gowes lagi setelah sekian lama absen. Bravo, Om Chup Chup! Om Cep juga di sini menjadi ojek gendong buat Pak Haji Noer yang kepleset juga. Tak gendong kemana-mana....

Om Cep in action

Hore....
Selepas turunan itu, mulailah gowes kami ditemani rinai gerimis. Masih keluar masuk perkebunan teh. Badan sih insya Allah siap buat hujan-hujanan tetapi kamera dan gawai enggak euy. Terpaksa demi keselamatan, mereka masuk plastik semua dan alhasil koleksi foto-foto pun menjadi minim. Ada dua seragam yang kalau saya hujan-hujanan insya Allah tidak masuk angin, yaitu seragam Pramuka dan jersey sepeda, hehehe. Alhamdulillah.
Foto bareng pemetik teh
Rombongan kami melewati kelompok pemetik teh yang sedang panen. Ketika mereka bertanya dari mana, dijawablah oleh Pak Haji Noer kalau kami dari Banten. Langsung dibilang, “Oh, Rano Karno ya”? Kontan saja Pak Haji bilang, “Iya, Saya adiknya”. Atuh mereka langsung ingin mengabadikan momen dengan Pak Haji dan rombongan. Kapan lagi bisa foto bareng adiknya Rano Karno. Enggak tahu mereka kalau Pak Haji Noer mah adiknya Rano Karno tapi beda bapak beda ibu, hehehe. Mohon maaf, Bang Doel, kami numpang beken.
Haji Noer

Dodo Chup Chup
SD Malabar zaman Bosscha
Selanjutnya kami melalui sebuah SD yang bangunannya sudah tua, masih asli tampaknya dan masih terawat, seperti peninggalan Belanda. Bangunan ini berada di kawasan kebun teh Malabar bersebelahan dengan SD Malabar 04 Bandung, Desa Banjarsari, Pangalengan. Ya, bangunan sekolah tua ini dulu dibangun oleh Bosscha tahun 1893 dan masih bertahan sampai sekarang. Bosscha yang itu? Iya, Bosscha yang itu. Kata Om Cep, sudah banyak lulusan sini yang sudah menjadi “orang”. Waktu saya tanya contohnya siapa, Om Cep gak tahu. Tapi memang mungkin saja ada, mengingat usia sekolah ini yang sudah termasuk tua. Di sini, karena gerimis masih mengundang, jadi kami rehat sejenak sambil melihat-lihat situasi. Aa Rafli sempat kram tapi berkat bantuan tukang urut dadakan, Om Chup Chup, alhamdulillah bisa sehat lagi. Hebat, Aa ya. Oh ya, Om Chup Chup sepertinya belajar ilmu urut kram dari Om Kusniawan. Mungkin karena dia dulunya adalah si raja kram, sering melihat cara mengurut, dan bisa langsung mempraktekan. Bagus juga Om Chup Chup dulu sering kram, jadi ada hikmahnya ya, hahaha.
SD Malabar zaman Bosscha
Oleh karena adanya Info dari marshall bahwa tempat makan siang sudah dekat, kami pun kemudian bergegas, apalagi perut juga semakin lapar. Sebelum tiba di sana, saya dan Om Didit mampir sejenak di makamnya Dr. Bosscha, ya Bosscha yang itu. Bukan untuk ziarah tapi hanya mengabadikan momen saja bahwa kami pernah lewat situ. Kalau mendengar nama Bosscha, siapa yang tidak tahu. Ingatan pasti langsung tertuju ke Bosscha Observatory di Lembang yang digunakan untuk fasilitas penelitian astronomi yang sekarang dikelola oleh ITB. Ya, Bosscha memang dimakamkan di perkebunan Malabar ini karena dialah pendiri perkebunan ini dahulu. Menurut cerita, para pekerja perkebunan teh yang sudah sepuh di sini percaya kalau dia masih di sini, duduk di kursi, berjemur sambil membaca koran sebelum berkeliling mengawasi para pekerjanya. Pantas saja, ketika memasuki area makam, suasana memang terasa agak berbeda. Hieum kata orang Sunda mah atau sangat teduh sehingga tampak agak gelap. Om Chup Chup sempat kaget karena dari jauh area makam ini tampak sepi dan hanya ada sebuah sepeda motor terparkir. Dia pikir di sinilah tempat makan siangnya. Tapi, ketika dekat makam, tiba-tiba ada seorang bapak yang menegurnya. Karuan saja Om Chup Chup gowes terbirit-birit tanpa tahu dia ditegur siapa, hahaha. Om, itu kan penjaga makam.
Makam Bosscha di kebun teh Malabar
Tibalah saat yang dinanti: makan siang. Horeeee.... Di sebuah saung di pinggir jalan di kawasan kebun teh Malabar, sudah tersedia menu luar biasa, nasi liwet, ayam bakar, tempe-tahu, lalapan, serta tidak terkecuali pete rebus dan hate maung alias kancing Levi’s alias jengkol. Maknyosss kalau kata Pak Bondan mah. Ngomong-ngomong, jengkol kok banyak banget aliasnya ya, kayak teroris saja. Oh ya, jengkol ini kan kudapannya Om Chup Chup tuh. Hampir saja dia bungkus buat ngemil di bus. Dia biasa datang ke tikum gowes di rumah Om Didit hanya untuk sarapan dengan semur jengkol, setelah itu balik lagi, hehehe. Terimakasih buat Kang Atep Pab dan rengrengannya atas makan siangnya yang isti-mewah. Salam jengkol dan pete!
Dam Pulo @Situ Cileunca

Jembatan cinta @Situ Cileunca
Tujuan selanjutnya Situ Cileunca. Kalau mendengar kata leunca apalagi dicampur oncom menjadi ulukuteuk, jadi lapar euy. Apalagi saat itu hujan dan badan terasa kedinginan. Untungnya karena terus bergerak, badan membakar kalori yang memanaskan tubuh. Ayo gowes terus.
Perkebunan teh sudah mulai berkurang dan kami mulai menyusuri jalan makadam sampai ke situ atau danau Cileunca (1451 m dpl) yang sepertinya terletak di dua Desa Warnasari dan Pulosari, Pangalengan. Situ ini adalah danau buatan yang membendung sungai Cileunca dan membentuk dam yang disebut Dam Pulo yang digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kami menyeberangi situ melalui jembatan cinta. Aduh, baru tahu dari internet kalau jembatan yang kemarin saya lewati namanya jembatan cinta. Kurang piknik, saya. Disebut jembatan cinta karena, katanya, di sore hari seringkali jembatan ini dijadikan tempat berkumpul mempertemukan dua muda-mudi dari kedua desa, Warnasari dan Pulosari.
Di ujung Dam Pulo, masuklah kami ke Jalan Situ Cileunca yang berlapis aspal hotmix mulus-surulus. Hanya sebentar di aspal mulus tapi, selanjutnya kami menyusuri tepi sungai Palayangan (?) yang deras yang digunakan untuk tempat arung jeram. Mantap! Ya, di sini memang banyak penyedia jasa arung jeram dan adventure. Namun sayang, karena keterbatasan waktu, sesi arung jeram ditiadakan dan memang tidak direncanakan karena one-day-trip tadi. Waktunya enggak bakal cukup. Seribu kali sayang.
Hutan pinus

Menikmati derasnya sungai
Kami menuju hutan pinus Rahong dengan menyusuri aliran deras sungai ini yang bening yang membuat saya, bukannya ingin berenang atau berarung jeram, tetapi ingin mencuci sepeda dan baju yang kotor bingitzz yuaaa kalau kata Darman Slank mah. Maklum, sepanjang jalan hujan, jalanan becek, gak ada ojek, sementara sepeda tidak dipasang sepatbor. Langsung deh air kotor dari ban menyemprot sepeda dan punggung kami.
Di salah satu bagian sungai yang dangkal, kami mampir sejenak menikmati dinginnya air dengan berendam mencuci badan, sepatu, dan jersey yang sudah dekil! Bermain-main air seolah masa kecil kurang bahagia. Selalu ada sifat kekanakan pada setiap pria dewasa sekali pun. Tempat ini juga sering digunakan oleh para pengarung jeram untuk beristirahat dan tentu saja, berfoto-foto. Namun karena saat itu hujan, tidak banyak dokumentasi yang dihasilkan oleh kami di sana. Ya, daripada kamera dan gawai rusak, mendingan nanti saja deh track-nya diremedial, kapan-kapan.
Menjelang pukul 16 perjalanan tinggal menuju finish di tengah hutan pinus di Kp. Rahong (1418 m dpl). Di sini ada tempat permainan paintball alias perang-perangan dengan menggunakan senjata yang pelurunya adalah cat. Awas ada peluru nyasar. Mereguk nikmat suhe alias susu jahe memberikan kepuasan tersendiri saat itu. Kurang beruntungnya, persediaan suhe di sana terbatas, sehingga sebagian kami tidak kebagian dan terpaksa mengopi saja.
Hutan pinus
Data GPS saya menunjukkan jarak 18,2 km dari titik start di W2BP. Jika ditotal dengan dua putaran track 1 W2BP sepanjang 8,4 km, maka total perjalanan kami hari itu adalah 26,6 km. Kecepatan maksimal 37 km/jam dan rata-ratanya 4 km/jam! Kayak siput. Tapi gak apalah, kan waktu rehat dan makan pete serta jengkol dihitung juga sehingga total waktunya 4 jam: 09 menit. Sementara, waktu gowes efektif hanya 2 jam: 25 menit. Lagian, bagi saya ini kan gowes asyik alias piknik, jadi gak usah ngebut-ngebut, apalagi balapan, hehehe.
Sengaja kami finish di Rahong karena waktu sudah sore, cuaca masih hujan, badan sudah kedinginan, gowes sudah kenyang dengan track yang dilalui, sisa track ke depan masih berkarakter sama kalau pun dilanjutkan, kata Om Cep sih, belum sholat, belum cuci sepeda, harus kembali ke Serang, dll. Banyak banget alasannya ya, hahaha.
Jadi, kami naikkan saja sepeda ke atas mobil pick up dan bergerak menuju Terminal Pangalengan lagi tempat bus kami menunggu. Melewati jalanan makadam Rahong, mengingatkan saya pada karakteristik jalanan dari Bojong menuju Cilowong di Serang. Hampir sama, hanya jenis pepohonan dan cuacanya pasti berbeda.
Singkat cerita, sesampainya di Terminal Pangalengan kembali, kami segera membersihkan diri. Ini yang saya ceritakan di atas, ketika kami, para lelaki mandi, ada ibu-ibu yang masuk-keluar dari toilet sambil tertunduk malu. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Aduh,,, punten ibu, da kaayaanna ge kieu, hehehe. Sementara kami mandi, sepeda-sepeda kami pun ikut mandi steam dibantu teman-teman PAB. Luar biasa memang PAB!!! Salut!!! Service excellent! Selesai cuci, kembali sepeda-sepeda dibongkar dari pick up dan dinaikkan ke atas bus untuk terakhir kali, hari itu. Hati-hati saat membuka dan memasang kembali roda-roda sepeda karena casette si Mondraker Om Cep sampai copot tuh. Entah bagaimana ceritanya.
Karena perut lapar, sebagian kami sempatkan melahap nasi goreng dan bakso. Aku sih yes, bakso. Alhamdulillah mantap. Bakso panas saat cuaca dingin memang terasa lebih nikmat. Malam masih gerimis.
Setelah semua beres, sekitar pukul 08, kami kembali menuju Serang. Sebelum masuk tol Purbaleunyi, kami melalui Jalan Terusan Kopo yang macet parah. Panjang juga ya macetnya. Apalagi saat itu malam minggu si malam panjang, lebih banyak orang yang keluar rumah.
Selanjutnya, tidak usah disuruh tidur lagi. Pas masuk tol, langsung off. Mungkin karena kecapean juga seharian perjalanan ditambah malam sebelumnya enggak 100% istirahat di bus. Bangun-bangun di Purwakarta saat bus ke tempat penjualan oleh-oleh. Tidur lagi, bangun-bangun di simpang susun Tomang. Wah, alhamdulillah cepat ya, sudah Jakarta lagi. Tidur lagi, bangun-bangun di gerbang tol Serang Timur. Pantesan Mbah Surip bikin lagu Bangun lagi, tidur lagi. Tapi alhamdulillah diberi nikmat tidur, jadi selain rehat badan, juga tidak terasa jauh perjalanan.
Terakhir, ini kayak zaman ABG dulu, berangkat malam pulang pagi. Kami finish di gerbang Widya Asri sekira pukul 01.30, sudah pagi, hari Minggu. Ada yang ingin remedial ke Pangalengan lagi, ada yang ingin bertualang ke track yang lain lagi. Yang jelas, teman-teman di Serang sedang semangat gowes nih, menambah pengalaman melewati track-track yang luar biasa, belum di seluruh tanah air sih, masih di sekitar Serang saja dan beberapa di Jawa Barat, hehehe.
Bongkar terakhir di WA
Sekali lagi terima kasih buat Kang Atep PAB dan rengrengannya. Jangan kapok mengawal kami karena kami tidak kapok gowes ke Pangalengan, hehehe. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi di waktu yang berbeda tetapi dalam gelombang yang sama: Gowes asyik. Oh ya, jangan lupa om-om yang pulang ke rumah masing-masing untuk mengurus penerbitan SIM untuk gowes berikutnya ya. Wassalam.

Gambar peta dan profil
Vertical Profile: W2BP track 1

Vertical Profile: W2BP Track 2.0 dan Adventure Track


Situ Cileunca-Rahong

W2BP Track 1.0

W2BP Track 2.0

All tracks


 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons