Friday, June 13, 2014

GOWES KELILING CAGAR ALAM RAWA DANAU, THE EYE OF JAVA ISLAND


Lembah Rawa Danau
Bismillah. Kami mengibaratkan bagian barat Pulau Jawa dengan kepala badak bercula satu. Pas sebenarnya karena di sinilah, di bagian barat Pulau Jawa, tepatnya Ujung Kulon terletak konservasi badak bercula satu. Kalau wilayah Taman Nasional Ujung Kulon diibaratkan sebagai mulut dan culanya, maka kawasan Cagar Alam Rawa Danau adalah matanya. Kami penasaran untuk “meninggalkan jejak” di mata Pulau Jawa ini. Sebenarnya, dulu sudah dua kali kami mengeksplorasi kawasan Rawa Danau ini tapi memang waktu itu belum ada jejak GPS yang kami buat. Kloter pertama masuk dari Pasar Mancak menuju Desa Cikedung dan keluar di Cinangka, sedangkan kloter kedua, yang saya ikut di dalamnya, masuk dari Panenjoan terus menuruni bukit curam, menyeberangi pesawahan membentang sambil memanggul sepeda, dan tiba menjelang Desa Cikedung. Potong kompas yang melelahkan, waktu itu. Sila cek di sini.

Kami berkesempatan untuk mengelilingi kawasan cagar alam ini setelah menunggu sekitar tiga tahun! Penasaran kami terjawab pada Rabu tanggal 28 Mei 2014 setelah terakhir gowes ke sana tahun 2011 lalu. Lumayan lama tapi mudah-mudahan penantian ini sepedan. 
 Lho, tanggal 28 Mei kan tidak libur? Ya, karena peserta pun hanya empat goweser, saya, Om Pri & Om Yopieastroz yang ketiganya cuti bersama, ditambah Kang Ola sebagai marshall. Inginnya sih gowes pada tanggal merah karena peserta “dimungkinkan lebih banyak,” tapi berhubung sang marshall dan sepeda merah putihnya bisanya hari itu, bismillaah kami gowes minimalis, mudah-mudahan nanti bisa gowes dengan peserta lebih banyak lagi, insya Allah.
Dimulai dengan sarapan bareng di tukang kupat tahu di seberang komplek Widya Asri, saya, Om Yopieastroz, dan Kang Ola mulai gowes melewati jalur “pemanasan” yaitu Kp. Kamalaka sampai ke simpang Umbul Tengah di Jalan Raya Takari, tempat Om Pri menunggu karena dia berangkat dari rumahnya yang keramat, eh,,,, maksudnya rumahnya di Kramat. Jalur pemanasan ini efektif juga, hanya sekitar 5 km tapi karena karakterisik jalan makadam dan di beberapa bagian penuh lumpur, cukup membuat berkeringat. Lumayanlah buat persiapan melahap tanjakan Cilowong. 
Memasuki Jalan Raya Takari yang mulus dari trek pemanasan tadi seperti habis naik angkot berganti menjadi naik mersi, ngageleser kata orang Rangkasbitung mah. Walaupun lama-lama tanjakan ke arah Gunung Sari lumayan membuat kepala tertunduk, kaki memegal, dan nafas memburu juga. Apalagi aroma TPA Cilowong selepas hujan, aduhai rasanya. Saya seperti biasa berprinsip Tut Wuri Handayani alias gowes di belakang. Gaya pisan, padahal fisik kedodoran, hehehe. 
Panenjoan view
Penghentian pertama adalah di Panenjoan, di sebelah kantor pengelola kawasan Cagar Alam Rawa Danau dan Gunung Tukung Gede di Jalan Raya Mancak. Lumayan melelahkan bagi saya karena selama lebih dari 20 km terakhir, tanjakan seperti gak ada habis-habisnya, padahal cuma naik ±300 m hehehe,,, tapi koq capek ya. Sambil melihat ke Kawasan Cagar Alam Rawa Danau membentang di bawah, dipikir-dipikir, sepertinya jauh juga. Tak apalah, maju tak gentar, membela yang gowes. 
Rencana selanjutnya adalah ngopi di warung sebelah yang biasa menyediakan nasi ketan. Namun, ternyata tempat itu tidak ada dan sudah berganti bangunan berpagar tinggi, entah milik siapa. Om Pri saja yang penasaran gak jadi ngopi. Akhirnya diputuskan kami langsung meluncur ke Pasar Mancak. Untungnya jalur ke sana tinggal bonus turunan saja. Alhamdulillah. Kecepatan maksimal hampir mencapai 60 km/jam, tidak bisa ditambah lagi karena jalanan tidak terlalu lebar, ditambah di beberapa titik terhitung padat karena perkampungan di kanan-kiri jalan, sementara kendaraan dari muka juga tidak kalah cepatnya. Belum bisa memecahkan rekor kecepatan di turunan Bangangah di Mandalawangi menuju Caringin, Labuan yang mencapai hampir 70 km/jam. Kenikmatan turunan ini berakhir di Pasar Mancak, tempat kami rehat sebentar sebelum memasuki jalan makadam menuju Desa Cikedung. Lumayan juga kami menurun sejauh hampir 6 km dari 365,2 m ke 152,8 m dpl. 
Om ngapain??
Selanjutnya kembali kami disadarkan bahwa gowes itu seperti kehidupan nyata sehari-hari. Kadang naik, kadang turun. Setelah nanjak terus sampai Panenjoan, kemudian turunan panjang sampai Pasar Mancak, saatnya kini kami kembali harus melawan gravitasi melewati tanjakan aje gile. Ya, memasuki jalan makadam menuju Desa Cikedung, harus banyak-banyak mengucap takbir karena banyak tanjakannya. Di beberapa tempat, ketika penat memuncak, menuntun sepeda adalah pilihan logis (buat saya) hehehe. Sementara, di kiri-kanan kami hutan dengan pohon-pohon berusia puluhan atau mungkin ratusan tahun memberi perlindungan kami dari terpaan sinar mentari. Kawasan ini yang disebut Cagar Alam Gunung Tukung Gede memang memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Ciri khas kawasan ini adalah topografinya didominasi oleh lereng dengan ketinggian 125-750 m dpl. 
Dilarang kencing di sini
Tepat di sebelah barat Panenjoan tapi terpisahkan rawa danau, perjuangan kami menanjak sekitar 4 km berakhir di ketinggian 349 m dari sebelumnya 153 m dpl. Sekarang saatnya kami kembali menikmati bonus turunan. Tapi sebelumnya kami harus menunggu Om Yopie yang kurang akrab di turunan. Dia mah emang hobinya menanjak melulu, hahaha… Oh ya, Kang Ola malah ketemu emak lagi. Berposelah dia dengan emaknya sambil berpelukan kayak Teletubies, hehehe. Siapa nama emaknya, Kang? 
Selanjutnya karena jalan menurun, kami harus berhati-hati karena jalanan sempit, curam, dan kecepatan tinggi di sini. Malah, rem harus dipersiapkan sepenuhnya. Turunan tidak terlalu panjang sebenarnya, hanya sekitar 2 km tapi lumayan banget, turun hampir 230 m. 
Memasuki Desa Cikedung (120 m dpl), kontur jalan mulai datar karena secara geografis sudah berada di lembah kawasan Rawa Danau. Tapi, lapisan jalan berupa batu-batu sebesar kepala membuat sepeda dan perut kami tersiksa. Kalau bahasa Kang Ola mah, boyoke sampai mules. Kondisi ini terus bertahan sampai kami tiba di Desa Cikedung. Nah, dari sini, jalanan mulai bervariasi dengan single track dan kubangan bekas hujan semalam. Kalau beruntung melintasi kubangan itu, kita bisa lewat. Tapi kalau tidak, pas melewati kubangan penuh lumpur, sepeda bisa tiba-tiba berhenti, hehehe. 
Sang Merah Putih, Merdeka!!!!
Gunung Karang tuh di belakang
Komando
Karakteristik jalan selanjutnya adalah trek penyesalan, kata Kang Ola. Disebut demikian karena Kang Ola menyesal melewati trek itu. Bagaimana tidak, mungkin sepanjang 1 km jalan berlapis lumpur yang tidak mungkin dilewati karena ban-ban sepeda langsung menjadi donat! Kang Ola sampai bosan melihat Om Yopie berulang kali membersihkan donatnya, hehehe. Sepeda si merah putih saja bisa berdiri dan tidak jatuh di tengah jalan tanpa standar atau dipegang si empunya, hahaha. Mungkin di Endomondo, kecepatan kami saat itu dilambangkan dengan kura-kura! Kami sempat berbincang dengan beberapa penduduk setempat yang sedang memperbaiki jalan tersebut sambil curcol betapa pemerintah tidak peduli dengan kondisi jalan di pedesaan. Sampai-sampai dia bilang, dulu sewaktu kampanye di masjid, meminta-minta dukungan dari masyarakat sambil berjanji akan ini akan itu. Sekarang setelah terpilih, lupa tuh…. Lupa kali mereka kalau janji-janji mereka akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat! Ya sudahlah, kita memang hanya bisa mengingatkan. 
Trek Penyesalan
Sekitar pukul 14 alhamdulillah kami tiba di Kp. Ciraab (114 m dpl). Kami sangat bersyukur di sana menemukan sebuah warung karena persediaan air sudah habis, apalagi makanan. Om Pri yang beli kacang kedelai gak bisa menelan gara-gara kehabisan air, hahaha ….. Akhirnya, semangkuk mie instan rebus cukup mengganti energi yang terbuang. 
Wey, jangan melamun di situ....!
Di kampung ini juga terdapat sebuah jembatan gantung yang menjadi icon perjalanan ke kawasan Rawa Danau. Walau demikian, kondisi jembatan masih sama seperti dulu, kayu-kayunya sudah bolong-bolong. Lumayan menjadi ajang uji nyali buat orang yang mengidap acrophobia. Terakhir kami lewat sini, di bawah jembatan masih berupa sungai, sekarang koq sudah jadi sawah ya
Selepas jembatan, kami melalui jalanan desa berlapis aspal menuju Pasar Padarincang. Tidak jauh hanya sekitar 5 km saja untuk tiba di Jalan Raya Palka, Padarincang dan  langsung terbayang jalanan menanjak lagi yang harus kami lewati sejauh sekitar 20 km sampai ke simpang Pondok Kahuru, Ciomas. Lumayan menggoyang mental. Untuk menetapkan hati, kami solat Asar dulu di Masjid At Taqwa, Cisaat-Padarincang. Segar terasa setelah terkena air wudlu. Alhamdulillah.
Setelah perjuangan menanjak dengan sisa-sisa tenaga, melewati simpang Pondok Kahuru, Ciomas, jalanan tinggal menurun saja sampai ke perempatan Pal Lima. Kang Ola sepertinya dikejar waktu karena mengejar jadwal kerja shift malam. Tandem dengan Om Yopie, mereka berdua gowes gak pakai rem, gak pakai spion sampai tidak tampak lagi batang hidungnya, apalagi batang sepedanya. Saya dengan Om Pri juga tandem di belakang. Tidak terpaut jauh sebetulnya waktu finish kami karena Kang Ola sampai di rumahnya pukul 18.20, dan saya 18.30. Cuma Om Pri pakai perpanjangan waktu karena harus menuju rumah keramatnya. Yuk ah, segera solat magrib. Om Yopie apa kabarnya?
Saya intip jejak GPS, statistik menunjukkan trip odometer 81,8 km, max speed 59,3 km/jam, moving time 6:49 jam, total time 11:14 jam!
Endomondo Profile

The eye of Java Island


Vertical Profile

Sunday, May 04, 2014

CURUG SAWER SANG PERAWAN

Indonesia adalah negeri yang kaya akan kekayaan alam dan pemandangan yang indah. Laut, gunung, sungai, danau, rawa, air terjun, dan lain-lain menghiasi alam ciptaan yang Mahakuasa. Tidak terkecuali di Banten yang memiliki trio Gunung Karang, Gunung Pulosari, dan Gunung Aseupan di Pandeglang, juga sebagian Gunung Halimun di Lebak. Sungai Ciujung dan Ciberang di Lebak, Rawa Danau di Serang, dan lebih banyak lagi berbentuk curug atau air terjun. Ada Curug Putri dan Curug Gendang di Pandeglang, Curug Cigumawang, Curug Betung, Curug Sawer di Serang. Bahkan, ada daerah yang dinamakan Curug, yaitu sebuah kecamatan di Serang dan Tangerang. Sepertinya di sana dulu ada curug, atau sekarang malah masih ada? Tidak tahu, saya. Bahkan, sebagai orang Serang, saya belum menemukan curug di Kecamatan Curug. Mungkin Om-Om ada yang tahu letaknya?

Tim lengkap ekspedisi Curug Sawer
SXC2 memang dulu memproklamirkan diri sebagai komunitas sepeda pemburu curug, hehehe. Setiap gowes ditujukan mencari curug-curug. Bahkan, pernah dalam satu hari, kami mengunjungi dua curug, yaitu Curug Betung di Padarincang dan Curug Lawang di Anyer, sekaligus memutari kawasan Rawa Danau. Alhasil, jadilah kami gowes seharian dari pagi sampai dini hari keesokan harinya, hahaha.... Masa-masa “gila” sepedaan. Cerita serunya bisa Om-Om lihat di sini
Hari Jumat (bukan Jumat keramat juga bukan Jumat keramas) yang bertepatan dengan hari libur nasional tanggal 18 April 2014, Om Yopie yang kadang disebut om, kadang dipanggil abah, mengajak kami untuk gowes ke Curug Sawer di Desa Ujung Tebu, Ciomas, Serang, yang juga terletak di kaki Gunung Karang. Yah, kalau orang zaman dulu, ingat Ciomas pasti ingat golok karena tempat ini merupakan salah satu penghasil golok terbaik di nusantara. Tapi, mendengar Ciomas, ingatan saya malah mampir ke jeleknya jalan menuju ke sana. Tapi, sekarang sudah dibeton walaupun masih sepotong-sepotong. Mudah-mudahan dapat segera dibereskan karena saya lihat beberapa bulan ini sudah tidak ada aktivitas perbaikan lagi. 
Kejutan! Ya, saya bilang kejutan, yang tentunya menyenangkan karena ternyata peserta di tikum ada 14 goweser. Sudah lama saya tidak mengabsen nih. Ada (1) Om Yopie, legenda dunia pergowesan Serang, (2) Om Dono dan kembarannya (3) Omars sesama Patrolman yang keduanya tampak siap untuk dilakukan aktivasi lagi dan menambah pundi-pundi bintangnya di blog sepedaan, (4) Om Agus yang sudah melakukan pemasan beberapa hari sebelumnya ke Paninjoan, (5) Pak Zaenal yang staminanya tetap oke mengalahkan yang masih muda-muda walaupun sudah pensiun, (6) Om Didit, TTM-nya Om Ncep hehehe.... (7) Om Opik yang mainannya tanjakan melulu di Gerem, (8) Vito yang mulai berkarier di Pandeglang, semoga nemu trek yang mantap di sana ya, (9) Indra, yang sudah merampungkan pendidikan tarunanya, (10) Om Yusman yang nelponin saya pagi-pagi supaya cepat-cepat hehehe, (11) Kang Ola dengan tunggangannya si merah putih alias si gajah yang melegenda, (12) Om Tsauban, tetangga sebelah rumah, (13) Om Ncep dan yuniornya (14) Aldi, dan (15) yang ngabsen tentunya. Wah, senangnya kalau ramai begini, padahal biasanya jumlah kami kalau gowes bisa dihitung dengan sebelah tangan. Seperti masa awal-awal gowes kalau begini, hehehe.... Semoga bisa bertahan ya.... Ayo kita ramaikan lagi, Om-Om!
Setelah pengarahan singkat dari Om Yopie dan berdoa, kami segera meluncur walaupun sempat tertunda karena sedikit masalah pada sepeda Aldi. Tapi rapopo, namanya juga piknik, santai saja, Om. Untungnya, kemudian Aldi kembali bergabung dengan rombongan di simpang Pondok Kahuru, Ciomas, tentunya dikawal seniornya, Om Ncep, hehehe.... 
Baru sampai Jalan Palka setelah melewati Bongla, Om Tsauban harus balik kanan karena kedatangan tamu (tapi bukan tamu “bulanan”) loh, sementara Om Yusman balik kiri karena lupa bawa sarung buat solat Jumat,,, euleuh.... . Oh ya, Jalan Bongla sudah semakin memprihatinkan kondisinya. Sampai-sampai Om Tsauban gak ingat kalau pernah lewat situ karena terakhir lewat, kondisi aspal masih mulus-surulus! Sekarang no comment lah. 
Selanjutnya, kami menanjak menuju Ciomas melewati Jalan Palka yang sudah dilapisi beton walau masih sebagian dan berbaur dengan asap kendaraan dan butiran debu dari penambangan pasir. Mantap! Ingin rasanya ketika lewat jalan ini, bisa di-skip saja dan langsung sampai ke Ciomas, atau bisa pakai teleport seperti di film Star Trek, hehehe.... 
Ya sudah, saya skip sampai simpang tiga Pondok Kahuru. Di sini, semua anggota rombongan sirkus sepeda berisitrahat untuk memulihkan tenaga sambil menambah perbekalan. Jam masih menunjukkan pukul 10, tapi sinar matahari sudah terasa menyengat. Saya lihat langit, tampak berwarna biru cerah tanpa gugusan awan. 
Hampir finish padahal
Estimasi sampai tujuan sekitar satu jam lagi. Artinya pas, sampai tujuan kami bisa langsung memersiapkan solat Jumat di Desa Ujung Tebu. Sekitar 3 km menjelang tujuan, kami rehat kembali di sebuah pangkalan ojek sambil menunggu rombongan belakang. Tak dinyana, ternyata Om Dono sudah putar balik karena gangguan pada ototnya. Wah, itu peringatan dini supaya rutin gowes lagi, Om hehehe.... Tinggal Omars dan Indra nih. Tunggu punya tunggu, wuss...... , mereka berdua menyusul kami dengan kecepatan sekitar 40 km/jam. Bukan gowes tapi diperjalankan. Ya, diperjalankan oleh angdes, hehehe. Kalau pake GPS, pasti kecepatan rata-ratanya langsung meningkat drastis tuh, hehehe...... tapi rapopo, Om, namanya juga piknik, gak usah maksa, bukan? 
Sesuai perkiraan, kami tiba di Desa Ujung Tebu, tepatnya di Kampung Gunung Kencana sekira pukul 11. Kami pun memersiapkan diri untuk solat Jumat sambil ngupi-ngupi di warung dekat masjid. Kang Ola dan Pak Zaenal sih survei sampai ke ujung jalan yang bisa dilalui sepeda untuk mencari informasi tentang lokasi curug sekalian tempat makan siang. Belakangan Kang Ola membawa kabar bagus kalau Teh Fitri siap memasak maksi buat kami. Baiklah, terima kasih, Kang Ola dan Teh Fitri. Kang Ola memang punya teteh dan emak di seantero jagad, sampai Pak Zaenal saja dibuat terheran-heran. Ibaratnya, kemana pun kami gowes, di situ pasti ada emak atau tetehnya Kang Ola, hahaha.... 
Ada yang unik dengan solat Jumat di sini. Selain, khotbahnya hanya menggunakan bahasa Arab, juga ada pembacaan qunut di rekaat kedua sebelum sujud, ditambah jamaah setempat melakukan tambahan solat dzuhur lagi seusai solat Jumat. Baru lihat, saya. 
Sholat usai
Setelah berfoto sambil bersarung di masjid ala grup Five Minutes, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, seketika menggantikan panas yang tadi menerpa. Alhamdulillah sueger walaupun kami masih harus jalan kaki atau gowes lagi untuk berkencan dengan sambel honje. Sambel itu memang mantap! Walaupun hanya ditemani ikan asin, tempe, dan lalapan, makan beralas daun pisang adalah sesuatu. Tapi Om-Om, daun pisangnya jangan dijadikan lalapan ya. 
Sambel honje
Hujan telah reda, perut pun kenyang, kami siap-siap menuju Curug Sawer. Informasi dari penduduk setempat, jalan menuju lokasi tidak dapat dilalui kecuali dengan berjalan kaki. Kami pun mengikuti saran itu. Sepeda kami parkir di rumah Teh Fitri, kecuali Kang Ola. Dia dengan semangat 45 menuntun dan menggendong si merah putihnya menuju curug. Mantap! Supaya tidak kesasar, kami diantar oleh anak-anak setempat yang sudah biasa bermain ke sana. 
Jangan kepeleset
Cuap-cuap
Baru beberapa ratus meter, kami sudah melewati hutan dengan trek tunggal berlumut. Sangat licin. Terus, harus naik-turun melewati pematang-pematang sawah yang sempit dan bertingkat-tingkat. Memang sulit kalau membawa sepeda. Di sebelah sawah adalah jurang setinggi belasan meter. Hati-hati terpeleset karena jalanan licin sehabis hujan. Di latar belakang, Gunung Karang terlihat sangat indah. Selanjutnya, kami harus menyusuri jalur permanen terbuat dari semen selebar 40cm sejajar dengan saluran air yang dibuat selokan. Permanen? Ya, sampai Om Agus bertanya siapa yang membangunnya padahal jauh dari perkampungan penduduk. Sepertinya yang membuat tukang bangunan, Om, bukan Sangkuriang atau Bandung Bondowoso hehehe..... 
Akhirnya, setelah berjalan sejauh sekitar 1,5 km, sampailah kami di Curug Sawer. Sesuai dengan namanya Sawer, tempias air dari atas curug “nyawer” ke seluruh tempat di sekitarnya. Tidak ada tempat yang steril dari saweran ini. Semuanya basah. 
Curug yang terletak di kaki Gunung Karang, tepatnya Kampung Gunung Kencana, Desa Ujung Tebu, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Provinsi Banten pada posisi  S6 15.925 E106 00.950 di ketinggian 607 m dpl ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tingginya hanya sekitar 20 m dan lebar 5 m. Untungnya karena baru hujan, debit air di curug berlimpah dan bisa dipakai mandi. Tempat jatuhnya air pun dangkal saja, hanya kira-kira sepaha orang dewasa.
Memang dengan kondisi jalan menuju ke sana yang kami lewati, curug ini sah disebut sebagai curug yang masih perawan. Sepeda Kang Ola si merah putih adalah sepeda pertama yang mandi di curug ini. Perlu masuk ke Guinnes Book of Record atau MURI nih kayaknya. Selanjutnya, sudahlah, pasti berbagai gaya diperagakan para goweser pemburu curug sambil berfoto-ria, termasuk gaya andalan Kang Ola ngangkat gajah. Saya malah bengek kedinginan hahaha.....
Curug Sawer
Setelah puas bermain air seperti masa kecil dulu—ya memang ada sifat kekanakan pada setiap orang dewasa—kami pun bersiap kembali ke Kp. Gunung Kencana untuk persiapan gowes balik ke Serang. Ternyata kalau balik terasa lebih cepat. Apalagi Kang Ola yang di beberapa titik tinggal merosot saja pakai sepeda karena jalanan memang menurun terus. 
Selepas asar, kami kembali menuju Desa Ujung Tebu dan menikmati turunan melewati Pasar Ciomas, Jalan Palka sampai masuk ke Jalan Bongla, hanya sekitar 35-40 menit. Sepertinya grup depan sudah tidak sabar ingin finish pertama. 
Rencana berikutnya adalah kami langsung menuju ke Ex Bar cafe-nya Vito di Pondok Tiara, Cinanggung untuk ngopi-ngopi (lagi). Sampai di sana sekitar menjelang magrib. Tidak terlalu lama kami di sana karena harus segera balik ke rumah. Sayang sebenarnya karena Om Opik sudah dapat SIM (Surat Izin Menggowes) sampai pagi hehehe.... Nanti, Om, kita sambung lagi di acara dan gelombang yang sama, insya Allah. 
Data statistik perjalanan kali ini menurut Mang Garmin sebagai berikut:
jarak adalah 63,35 km, waktu gowes dan trekking efektif 5:22 jam padahal waktu total adalah hampir 11 jam hahaha...., ketinggian maksimal 613 m dpl, total tanjakan 600 m, kalori dibakar 5.041 kcal.
Dari Ex Bar, rencana semula, saya mau konvoi dengan Puri 1 (Om Didit) dan Puri 2 (Kang Ola). Apa daya, sepertinya saya “ditarik” Puri 2 buru-buru, jadinya meninggalkan Puri 2 di Ex Bar hehehe..... maaf, Om Dit, saya duluan. Mudah-mudahan bisa gowes lagi ramai-ramai. 
Yuk, kita kemana lagi kapan?
Total perjalanan



Curug Sawer nih di ujung kanan
Profil perjalanan

Yang punya foto :)


Lihat Curug Sawer di peta yang lebih besar

Wednesday, March 19, 2014

GOBAR RUMAH HUTAN DENGAN GOWESER KPP PRATAMA SERANG

Goweser KPP Serang plus tiga penggembira ber-jersey hijau
(Courtesy of Mr. Mudi Santoso)

Hari Sabtu tepat di tengah bulan Maret 2014 kamarin, saya diajak Om Yopie Astroz untuk bergabung dengan rombongan gowes dari KPP Pratama Serang. Karena sudah lama tidak gowes berombongan, ajakan itu dengan cepat saya iyakan. Ya, akhir-akhir ini memang kalau gowes sudah bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, tapi harus tetap semangat kata Kang Ola juga. Mottonya SXC2 tetap di hati euy, hahaha..... Asyiknya lagi, bisa tambah teman-teman baru Om-Om goweser.

Di tikum halaman KPP Pratama Serang, yang tidak saya datangi karena masih sosonoan dengan si bungsu, sudah siap delapan goweser yang siap bergabung. Ditambah Om Yopie & Omiyan, rasanya bakalan ramai nih gowes kali ini. Belakangan saya ketahui bahwa para goweser KPP Serang ini sudah rutin gobar alias gowes bareng setiap hari Jumat pagi sekira 20 orang dengan peserta dari semua lapisan, tua-muda, ibu-ibu-bapak-bapak. Wah, lebih ramai lagi tuh! 

Saya bergabung di simpang lima Ciracas. Tampak beberapa goweser yang baru mulai gowes belum dilengkapi dengan helm. Saya sarankan Om-Om untuk selalu menggunakan helm untuk mengurangi risiko cedera kepala bila kita terjatuh. Keselamatan adalah hal yang utama. Kalau kata orang Kulon mah, safety first
Rencananya kali ini kami akan gowes ke Rumah Hutan lewat Kampung Bojong. Untuk menuju ke sana, sebelumnya kami melewati Kp. Sepang, Kp. Gelam, Kuburan Cina, sampai pertigaan Kp. Sayar di ujung Jalan 45, sebelum masuk ke single track di Kp. Bojong. Karena beberapa goweser baru memulai gowes dan belum pernah merasakan sensasi single-track, kami akan ambil jalur yang pendek ini, alih-alih lewat Kp. Pereng, Cidampit. Walaupun demikian, kami masih bisa menikmati sensasi itu dengan melewati jalan setapak di pinggir kebun-kebun penduduk, bahkan sampai melewati depan rumah mereka, hahaha,,,,, menuruni turunan curam menguji keberanian, menyeberang kali melalui jembatan kayu, kemudian langsung berbelok dan menanjak. Lumayan mengasyikkan koq. Sayang, karena permukaan tanah yang licin, sepeda di tanjakan tidak dapat kami gowes sampai puncak. Bannya selip. Terpaksalah sepeda sempat kami tuntun. 
Ayo, Abah....
Sedikit lagi, Rio!
Sekitar pukul 9.30, kami sampai di Rumah Hutan. Wah, terlalu cepat sepertinya. Buktinya, makanan yang telah dipesan belum matang. Padahal kami sudah gowes funbike lho, alias gowes santai, hehehe.... Sambil menunggu matang, mengonsumsi kelapa muda sangat membantu menyegarkan tubuh kembali. Cuma, saya belum beruntung karena dari tiga kali percobaan membelah kelapa, dapatnya kelapa senior yang dagingnya sudah alot. Peribahasanya alot-alot asal kelakon, kali hahaha.... Akhirnya saya menyerah, kelapanya selamat, tak jadi dikonsumsi. 
Botram, botram...... . Setelah makanan siap, daun pisang pun digelar untuk menampung berbagai menu yang sudah disiapkan. Alhamdulillah. Tapi kali ini tidak ada pete atau semur jengkol andalan Om Didit hahaha.... . 
Makan kelapa (tidak lagi) muda
Setelah kenyang, rehat sebentar, foto-foto, dan siap-siap kembali ke Serang menikmati bonus turunan Cilowong, yihaa..... Tapi sebentar, sebelum itu, kami masih harus melewati jalan makadam sejauh 2,4 km dari Kp. Bojong sampai ke Jalan Raya Takari alias Taktakan-Gunung Sari. Tidak terlalu jauh sebenarnya, tapi karena cenderung menanjak, cukup membuat pegal kaki juga tuh. Nah, setelah itu khatam, silakan menikmati bonus turunan Cilowong. 
Karena sudah lewat tengah hari, mohon maaf saya langsung pulang dan tak sempat pamitan lagi dengan teman-teman semua. Semoga kita bisa bergabung lagi dalam gowes berikutnya. Oh ya, yang baru mulai gowes jangan kapok ya, masih banyak trek-trek indah di Serang yang belum kita eksplorasi bersama.
Pengarah acara

Tuesday, January 07, 2014

GOWES UP HILL KE PUNCAK BUKIT HABIBIE


Saya belum menemukan informasi yang jelas mengenai nama sesungguhnya bukit ini. Tapi, orang-orang menyebutnya Bukit Habibie karena diujung bukit ada villa milik Pak Habibie, mantan presiden negara ini. Bukit ini adalah batuan cadas menurut saya yang terletak di antara Cibareno, Banten dengan Cisolok, Jawa Barat, sepertinya berada di Kp. Pasir Suren. Di bukit ini pula terdapat stasiun radar pengintai milik TNI AU. Jadi ingat film Lost. Ada fasilitas pengamatan di tengah belantara hutan, seru sekaligus menegangkan.

Subuh. Sayup-sayup sambil terkantuk-kantuk, kami terbangunkan oleh Om Sting yang menyanyikan Roxxane di ponsel Om Yopie. Kami pikir itu suara alarm untuk membangunkan tidur, ternyata kata Om Yopie itu ringtone SMS. Yah, Om, ringtone SMS saja satu lagu, gimana kalau ada tiga SMS, ringtone-nya saja bisa 15 menit, hehehe.....
Pantai Karang Hawu

Pagi-pagi kami langsung check out dari penginapan sekitar pukul 8 dan langsung mencari sarapan di Pantai Karang Hawu. Selepas itu, langsung kami menanjak menuju puncak Bukit Habibie. Uh, ternyata jam segini sudah terasa panas, ya. Pak Habibie, here We come
Sepanjang jalan, banyak terdapat petunjuk arah tempat wisata dan hotel, villa, dan bungalow. Termasuk banyak pangkalan ojek antar jemput ke rumah Mak Erot, salah satu tokoh wanita legendaris dari Sukabumi yang dikejar para pria dan disukai para wanita. 
Jalan menanjak bertingkat-tingkat. Stamina benar-benar harus dipersiapkan. Juga yang lebih penting adalah mental. Sering kali mental (saya) jatuh kalau melihat tanjakan bertingkat atau tanjakan berbelok yang setelah belok, harapan kita adalah jalan menjadi datar atau bahkan turunan, tapi yang didapat malah tanjakan lagi. 
Masa disebu ndeso, Bu hehehe....
Pelabuhan Ratu view
Di suatu kampung yang kami lewati, ketika Om Didit dan saya sedang asyik foto-foto, tiba-tiba diteriaki ndeso oleh ibu-ibu di sana. Orang keren kayak gini malah diteriaki ndeso, teungteuingeun si ibu mah, hahaha.
Ngaso dulu sepedanya
Tiga kali kami terpaksa berhenti karena beratnya tanjakan. Tapi, beruntung karena pemandangan di bawah sangat luar biasa, isitrahat pun bisa sambil foto-foto, hehehe. Teluk Pelabuhan Ratu dan Cisolok di bawah tampak kecil. Sementara, Ujung Genteng di sebelah tenggara seperti memanggil-manggil. Ya, insya Allah kami akan datang, tapi tidak untuk touring pakai sepeda. Pakai sepeda motor saja, kali ya. 
Tanjakan sampai ke puncak sebetulnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3,5 km saja tetapi kami harus naik turun sampai ke ketinggian 303 mdpl dan nanjak setinggi total 444 m. Saya berpikir, harusnya gir belakang ada 10 atau 11, sementara crank harusnya ada 4 sampai yang terkecil supaya gowes nanjaknya ringan. Tapi, Om Didit punya ide brilian. Katanya, beli saja sepeda yang ada mesinnya, hehehe. 
Menjelang tengah hari, akhirnya dengan penuh perjuangan, kami tiba di puncak Bukit Habibie. Seperti hari sebelumnya, selalu banyak pengunjung yang mengabadikan dirinya dengan latar belakang Teluk Pelabuhan Ratu dan Cisolok nun di bawah sana. Pemandangan spektakuler, subhanallah. Hampir semua orang yang saya lihat memegang kamera atau ponsel pintar untuk memotret dan update status. Tidak heran, penjualan kamera dan ponsel semacam itu di Indonesia bak kacang goreng. Dari yang paling mahal sampai yang paling murah, laku semua. Selain itu, bagi pengunjung, tersedia pula warung-warung yang menjual jajanan dengan fasilitas view jauh ke laut lepas. Cuma belum ada sop buah seperti keinginan Om Didit. Mungkin ini jadi peluang bisnis, Om? 
Puncak Bukit Habibie, Cisolok
Laporan Garmin menunjukkan odometer hanya 10,6 km; kecepatan maksimum 51,1 km/jam; waktu gowes efektif 1 jam 22 menit; total waktu tempuh 3 jam 46 menit, kecepatan rata-rata 7,7 km/jam (siput); ketinggian maksimum 303 mdpl; total ascent alias tanjakan 444 m. 
Sehabis kenyang foto-foto, tapi tidak sampai sendawa, sepeda-sepeda pun masuk kembali ke dalam mobil dan naik ke atas bike-rack untuk perjalanan pulang ke Serang. Ternyata, dari puncak Bukit Habibie sampai dengan perbatasan Jabar-Banten, jalanan menurun terus. Sepertinya asyik untuk dinikmati bonusnya. Tapi, apa daya, karena keterbatasan waktu, kami harus bergegas kembali. 
Walau demikian, kami sempatkan untuk mengabadikan diri di tugu perbatasan Jabar-Banten.
Perjalanan pulang kami tidak melewati Sawarna tapi melewati jalanan lain yang di beberapa bagian rusak dan kotor karena bekas lumpur dari ban-ban truk berukuran besar yang keluar-masuk proyek sebuah pabrik semen! Truk-truk gak sopan, naik ke jalan gak nginjak keset dulu. Tapi untung, di beberapa titik, para petugas dari pabrik ini menyemprotkan air membersihkan jalan. Lanjutkan, Om!
Tiba di Bayah, Om Pri ngidam lagi pengen sate, sampai harus menghubungi teman sekolahnya yang kebetulan tinggal di Bayah untuk referensi. Dua hari touring saja, Om Pri sampai ngidam tiga kali. Akhirnya, dapatlah warung sate yang kami cari, terletak di seberang SMPN Bayah. Satenya mantap, sambalnya luar biasa, alhamdulillah. Jadi ingat, zaman SMP di SMPN 3 Rangkasbitung dulu pernah ikut kemah PMR di SMPN Bayah ini. Padahal kami bukan anggota PMR, senang kemahnya saja, jadi penggembira. Pas malamnya hujan, tenda-tenda pada bochor,,,, bochor,,, terpaksa kami (atau malah senang) bermalam di ruang-ruang kelas di sekolah ini. Alhasil, gak dapat tuh suasana menginap di tenda, hehehe....
Di Malingping, kami sholat di masjid agung. Om Pri mandi, tapi di mobil diapit oleh Om Didit dan Om Yopie yang gak mandi, hehehe. Yang dua terakhir sepertinya beruntung mengapit yang sudah mandi. Om Pri memang berprinsip kalau malam Jumat harus ganteng sampai ke rumah, hehehe. 
Di Gunung Kencana, kami salah berbelok. Seharusnya ke kanan (arah Cileles), malah ke kiri (arah Jalupang). Ini gara-gara semangat membahas gonjang-ganjing perpolitikan Banten dan nasional jadi gak lihat jalan. Bukan juga sih sebenarnya, ngobrol ngalor-ngidul doang, hahaha. Ditambah jalanan sangat gelap membuat rambu-rambu kurang terlihat. Yo wis, daripada harus memutar ke Jalupang terus Saketi, mending putar balik menuju Sampay saja deh, lebih terang. Dan memang, pas sampai ke Sampay, suasana terlihat terang-benderang, kontras dengan suasana sebelumnya di sepanjang jalan. Mobil pun bisa berlari dengan mulus hingga tiba di Serang lewat beberapa menit dari pukul 22. 
Perbatasan Jabar-Banten at Cibareno
Dipikir-pikir, gowes dalam perjalanan kali ini tidak terlalu capek. Yang bikin capek, perjalanannya di mobil menuju ke lokasi yang menghabiskan waktu pergi pulang sekitar 17 jam! 
Demikianlah goweser semua, sepertinya touring kali ini bukan touring gowes tapi touring mobil, hehehe... Yang belum, berarti tinggal touring pake motor. Yuk, kapan? 
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya. Wassalam.
Catatan, terima kasih buat istri tercinta dan anak-anak untuk SIM atau Surat Izin Menggowes-nya.
Google Map
Profil Karang Hawu-Puncak Bukit Habibie

GOWES TO PELABUHAN RATU

View dari Puncak Bukit Habibie, Cisolok
Sebenarnya sudah menjadi ritual SXC2, setidaknya setiap tahun sekali melakukan gowes touring ke luar kota. Tahun 2013 kami jadwalkan tanggal 25-26 Desember ke Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sepertinya menyenangkan. Namun sayang, perjalanan kali ini hanya diikuti oleh 4 orang saja, yaitu Om Didit, Om Yopie, Om Pri, dan saya. Belum kuorum sebetulnya. Semula terbayang memang tidak akan banyak goweser yang bisa bergabung karena waktunya berbarengan dengan jadwal liburan anak-anak sekolah dan bagi yang tidak cuti, efektif libur hanya dua hari saja. Tapi kalau jumlahnya empat sepeda, tidak terpikir sebelumnya. Sepi, sedih, tapi harus tetap semangat. Big boys don’t cry kata Extreme. The show must go on kata Queen. Akhir tahun 2012 lalu saja, gowes ke Tanjung Lesung edisi II juga hanya 4 orang, Om Dono, Om Mars, Om Agus, dan saya. Dipikir-pikir, kenapa saya selalu ikut ya hahaha.....
Kami naikkan dua sepeda ke dalam minibus dan dua lagi dengan bantuan bike-rack. Lumayan, bisa duduk nyaman karena kami hanya berempat, plus sopir, Mang Engkos. Start di Widya Asri pukul 8 diiringi gerimis dan diperkirakan sampai ke penginapan di Cisolok, Kabupaten Sukabumi sekitar pukul 14. Bismillah, kami meluncur dengan Om Didit di belakang kemudi. Belum tahu dia, kalau pakai mobil minibus ini nanti akan terasa ajrut-ajrutan-nya.
Membelah kebun karet di Cileles, Lebak
Kami lewati Kota Pandeglang dilanjut ke Kp. Sampay, Warung Gunung, Kabupaten Lebak. Jalanan lancar tiada hambatan. Selanjutnya menyusuri Jalan Sampay-Gunung Kencana, melalui Kecamatan Cileles, kemudian Gunung Kencana. Kami sempat mengabadikan suasana perkebunan karet di Cileles, tentunya dengan balutan keindahan keempat fotomodelnya hehehe.... 
Selanjutnya, selamat datang di kondisi jalan buruk di Lebak, Banten! Jalan Gunung Kencana-Malingping kami lalui sampai bermuara di Pasar Malingping. Jalan berlapis batu-batuan besar tidak rata membuat kami harus pandai-pandai memilih jalan yang bisa dilalui dengan nyaman. Di banyak titik, bahkan tidak ada lagi pilihan. Semuanya berbatu-batu. Kami sampai takut sepeda di bike rack sampai copot. Enak kali ya kalau pake mobil 4x4. Dari Malingping, kondisi jalan memang beraspal tapi sudah banyak bolong-bolongnya seperti permukaan bulan. Ini juga catatan buat kaum wanita, kalau wajahmu disamakan dengan bulan, walaupun purnama, jangan senang dulu, karena permukaan bulan itu bolong-bolong tuh. Tahun 2011 dulu sewaktu kami gowes ke Sawarna yang start-nya di Malingping, jalanan ini masih mulus-surulus. Tapi sekarang, 2013, begitulah adanya. Mudah-mudahan menjelang “PEMILU 2014” akan dimuluskan lagi. 
Kondisi sebagian jalan menuju Malingping, Lebak
Sampai di Bayah sekitar pukul 13.30, agak molor dari rencana sebetulnya, kami mampir makan siang dulu di pertigaan terminal Bayah. Menunya makan siang biasa, hanya ikan mas bakar, tempe, lalapan, sambel. Tapi yang membuat luar biasa adalah pete rebus,,,,, alhamdulillah. Dari Malingping tadi, Om Pri sebetulnya sudah kelaparan karena ngidam gorengan. Tapi dihibur Om Yopie, katanya nanti di depan ada tukang gorengan. Di depan, di depan, tahu-tahu Bayah, hehehe.Di sini pula jadi ingat, dulu sewaktu gowes ke Sawarna, pergelangan tangan saya terkilir karena jatuh. Gowes jadi gak maksimal. 
Kondisi jalan di sekitar Pantai Cibobos, Bayah, Lebak
Sekarang mobil dibawa Mang Engkos. Om Didit sepertinya sudah menyerah. Taraso bana hancurnya tuh barang. Perjalanan dilanjutkan melewati Kp. Sawarna. Kondisi jalan makin memprihatinkan, terutama di sekitar kawasan pantai Cibobos. Di banyak titik jalan yang bolong-bolong sekarang dijaga para pemuda setempat yang berpenampilan sangar, setidaknya menurut saya, tampak seperti menutupi lubang dengan tanah atau batu, tapi akhirnya meminta uang kepada setiap kendaraan yang lewat. Bahkan, banyak seluruh permukaan jalan ditutupi bubur lumpur coklat. Kalau ditambah sayuran, jadi karedok, kali. Harus banyak mengelus dada (awas, bukan mengelus-elus, ya). 
Pinggir jalan di Kp. Sawarna saat kami lewati terasa kurang nyaman dibandingkan dua tahun lalu. Mungkin karena sedang banyak pelancong, jalan sempit, banyak mobil, tempat parkir terbatas, mobil-mobil parkir di sepanjang jalan. Kami pun harus merayap karenanya. Om Didit sih terlelap. Capek, kali nyetir ajrut-ajrutan dari Serang hehehe... 
Dari Sawarna perjalanan dilanjutkan ke Kecamatan Cilograng, terus ke Kp. Cibareno. Jalanan masih sempit dengan kontur naik-turun. Oh ya, karena semula kami berencana akan finish gowes di Sawarna keesokan harinya, jadi kami mulai mengukur tanjakan dan turunan yang akan dilewati sambil menghitung-hitung waktu gowes. Untuk jarak, dari Cisolok sampai Sawarna sebetulnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 48 km. Ow,,, tapi ternyata tanjakan-tanjakannya membuat ciut nyali. Nyali saya sih hehehe.... Harus ada perubahan rencana nih. Apalagi Kamis malam inginnya tidak terlalu malam sampai Serang mengingat Jumat subuh saya harus terbang lagi ke Jambi. 
Kalau mendengar kata Cilograng, seperti menjadi hantu penempatan buat para PNS di Kabupaten Lebak. Bagaimana tidak, letak kecamatan ini memang berada paling ujung dengan jarak tempuh 6-7 jam dari Rangkasbitung, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Desanya sendiri yang berbatasan adalah Cibareno. Di sini berdiri tuga perbatasan antara kedua provinsi ini yang dipisahkan oleh sungai Cibareno. Jawa Barat dengan mottonya Gemah Ripah Repeh Rapih sebetulnya tidak asing bagi saya selaku mantan orang Jawa Barat sebelum berdirinya Provinsi Banten. Apalagi lambang itu ditempel di lengan kanan baju pramuka saya ketika sekolah dulu, hehehe.... Provinsi Banten sendiri memiliki motto Iman Takwa. Apa artinya tuh? Mudah-mudahan tidak sekedar motto atau slogan. 
Dan alhamdulillah,,,akhirnya tibalah kami di sebuah penginapan bernama Sapo Kuliki di Cisolok, Kabupaten Sukabumi sekitar pukul 16. Tidak terlalu mewah tetapi karena berada tepat di pinggir pantai, membuat kami bisa memandang ke lautan lepas dari sini. Perjalanan hari ini benar-benar AKAP. Total jarak yang kami tempuh lumayan jauh, yaitu sekitar 211 km dengan waktu tempuh sekitar 8 jam! Menyedihkan, berarti kecepatan rata-rata kami hanya 27 km/jam! Bagaimana tidak, kondisi jalan di Provinsi Banten sangat rusak, terutama mulai Cileles s.d. Cibareno. Saya sedih, kecewa, mengkel melihat kondisi ini. Kasihan saudara-saudara kami di Banten Selatan. Apakah mereka tidak berhak menikmati hasil pembangunan berupa jalanan yang licin?? Yang membuat lebih miris, setelah melewati perbatasan dengan Jawa Barat tadi, jalanan super-mulus, lapisan hotmix tanpa bergelombang dapat kami nikmati. Sangat kontras dengan kondisi di Banten. Bahkan, bila kita menggunakan sepeda balap, masih nyaman untuk dilalui.. Ya sudahlah, menyikapi kondisi ini, teureuy weh kalau kata orang Sunda mah. Masih untung juga selama perjalanan kami dihibur alunan lagu-lagu blues jadul koleksi Om Yopie dari ponselnya. Mantap, Om!
Setelah masuk penginapan, bersih-bersih sebentar, sholat Dzuhur-Ashar yang kami jamak-qoshor, kami bersiap untuk sunset ride ke Kota Pelabuhan Ratu. Oalah,,, baru sadar kalau tutup bagasi mobil Om Didit penyok gara-gara nahan dua sepeda yang terbanting-banting selama perjalanan. Tenang , Om, tinggal ketok magic saja, dibantu para jin, mulus lagi tuh barang, hehehe. 

SUNSET RIDE 
Teluk Pelabuhan Ratu ramai lancar
Jarak ke Kota Pelabuhan Ratu tidak terlalu jauh sebenarnya, hanya sekitar 14-15 km dari tempat kami menginap menyusuri jalan raya di tepian Teluk Pelabuhan Ratu. Melewati pantai Karang Hawu, suasana ramai karena sedang libur nasional. Banyak wisatawan dari Sukabumi, Cianjur, Bandung, dan tentunya Jakarta. Disebut karang hawu karena di sini terdapat karang yang berbentuk seperti hawu (sejenis kompor tradisional yang terbuat dari batu-bata). Di trotoar pinggir pantai, terdapat huruf-huruf yang sepertinya diniatkan sebagai icon pantai ini bertuliskan “Pantai Karang Hawu”, hampir sama dengan tulisan Pantai Losari di Makassar. Namun sayang, sepertinya tidak terurus dan tertutup lapak-lapak pedagang kaki lima. Bahkan, jelas-jelas di depan huruf tersebut beberapa pedagang sedang menyusun bambu untuk membangun lapak-lapaknya. Kenapa didiamkan ya? 
Pantai Sukawayana, Pelabuhan Ratu
Tipikal pantai selatan (Samudera Hindia) adalah berombak besar dan arus yang kuat. Ini pun dapat kita lihat di sini. Di beberapa tempat banyak terdapat karang sehingga tidak dapat digunakan untuk berenang. Berbeda bila dibandingkan di Banten (khususnya Selat Sunda), memang keindahan pantai berpasir dan ombak lebih bisa dinikmati di Anyer-Carita. Menyadari kelemahannya, Pemda setempat memberikan keunggulan kompetitif dengan infrastruktur jalan yang bagus dan hotel-hotel, villa-villa yang tertata rapi. Dengan demikian, para pelancong tetap setia berwisata. Yang diinginkan masyarakat adalah semakin banyaknya pantai yang tersedia untuk umum yang gratis atau beretribusi pun tidak mahal. 
Saat matahari terbenam adalah saat yang luar biasa indah. Semburat warna oranye berlapis awan di cakrawala seperti menjadi santapan wajib para fotografer profesional maupun amatir. Tidak terkecuali kami hehehe. 
Sunset ride
Setelah matahari tenggelam, perjalanan kami lanjutkan NR alias Night Ride ke Pelabuhan Ratu. Untunglah banyak lampu jalan, sehingga menambah terang sinar lampu sepeda yang temaram. Pelabuhan Ratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan salah satu pelabuhan yang dibangun pemerintah pusat untuk menunjang aktifitas perikanan yang memanfaatkan sumber daya ikan yang ada di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 9 Samudera Hindia. Sangat strategis fungsi dan lokasi pelabuhan ini. Apalagi Indonesia adalah negara kepulauan dengan lautan yang sangat luas yang harus kita manfaatkan secara arif. 
Karena perut lapar, Om Pri sepertinya ngidam sate. Lagi, setelah ngidam gorengan sebelumnya di Malingping, hehehe. Ya sudah, kami mampir ke tukang sate yang ramai. Biasanya kalau ramai, kalau gak enak, ya murah. Alhamdulillah ternyata lumayan, walaupun dialah satu-satunya tukang sate di sekitar situ. 
Inna Samudera Beach, depannya doang
Setelah kenyang, siap-siap kami gowes balik ke penginapan. Kami sempatkan mengabadikan momen di depan Samudera Beach Hotel yang legendaris itu, terutama dengan adanya kamar yang disediakan khusus untuk Nyi Roro Kidul. Masih gak yah? Jadi merinding.
Bersih-bersih terus sholat. Sehabis ganteng lagi, Saya, Om Didit, dan Om Yopie lanjut melahap mie rebus karena sepertinya sate tadi belum nendang. Om Pri mah sudah ngamar, kayak anak mami, hahaha. Kami sekalian konsolidasi lagi lokasi finish karena sepertinya tidak akan keburu kalau harus di Sawarna karena keterbatasan waktu. Akhirnya diputuskan finish di puncak Bukit Habibie saja. Terima kasih Pak Habibie. 
Ada yang unik di warung pinggir pantai yang kami datangi. Tempatnya sih biasa saja. Dipan pun terbuat dari kayu dan bilik bambu. Tapi pelayanan si akang penjaganya maksimal. Sehabis beres menghidangkan mie rebus, tiba-tiba dia berkaraoke-ria penuh penjiwaan seolah-olah sedang di atas panggung. Lagunya sebetulnya melow, punyanya D’Lloyd. Tapi, setiap habis satu lagu dia selalu teriak “Oke”. Karuan saja Om Didit refleks menyahut “Buka dikit Joss”. Hanya sepersekian detik, lagu pun berganti menjadi lagu itu. Iramanya seperti goyang caesar itu. Tapi, lama-lama koq semakin berisik ya, sampai ada musik koplo segala. Bicara tentang koplo, semua lagu ternyata bisa dibuat koplo. Percaya atau tidak? Percaya, tapi lagunya jadi kehilangan jiwa. Akhirnya, sebelum semua kehilangan jiwa, Om Yopie request lagu nostalgila saja, dan Bang Broery pun naik panggung.
Sekitar pukul 1, kami sudahi aktifitas hari ini. Mata sudah mulai sepet. Apalagi besok harus menaklukkan tanjakan sampai ke puncak Bukit Habibie, harus cepat-cepat bobo nih. Laporan Mang Garmin saya ke Pelabuhan Ratu menunjukkan odometer 28,5 km; kecepatan maksimum 52,7 km/jam; waktu gowes efektif 2 jam 09 menit; total waktu tempuh 3 jam 35 menit, kecepatan rata-rata 13,3 km/jam (kura-kura); ketinggian maksimum 66 mdpl; total ascent alias tanjakan 239 m. Banyak berhenti untuk foto-foto dan makan malam.
Sunset Ride from Google Maps

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons