Wednesday, March 09, 2016

SXC2 Gowes to Pangalengan

Bismillahirohmaanirrohiim.
Assalamualaykum goweser semua. Kalau kita mendengar Pangalengan di Bandung selatan, pasti kita langsung ingat susu murni KPBS yang dijajakan dari rumah ke rumah dengan lagunya yang khas idola anak-anak. Kalau saya malah ingat lagu zaman perjuangan dulu karya Ismail Marzuki tentang Bandung selatan di waktu malam yang menceritakan tentang keindahan dan kesyahduan suasana di sana. Maklum umur. Tertarik ke sana? Mari kita kemon.

Sabtu 5 Maret 2016 kali ini, SXC2 ke Pangalengan bukan untuk membeli susu murni apalagi meninjau pabrik susu di sana, melainkan gowes ke Wayang Windu Bike Park (W2BP) dan dilanjutkan dengan mencicipi adventure track di sana. Wow, pasti menyenangkan. Sudah terbayang single track di sela-sela perkebunan teh, pinus, dan kebun sayuran, ditambah sejuknya udara. Atis tau…… kalau kata Darman Slank mah. Hal yang tidak kami temukan di Serang yang berada di dataran rendah dengan suhu yang cenderung panas dengan vegetasi yang berbeda pula tentunya. Di Serang, baru pemanasan saja sudah berkeringat. Di Pangalengan, sudah gowes saja sepertinya belum berkeringat, hehehe. Enggak tahu kalau teman-teman PAB pada gowes ke Serang, pada buligir alias buka jersey semua kali, ya hehehe.
Inginnya sih, kami sekalian mendirikan tenda di sana, menginap, dan membuat acara malam harinya. Namun, karena SIM atau Surat Izin Menggowes dan jadwal sebagian besar peserta terbatas, maka rencana menginap dibatalkan dan diputuskan one-day-trip saja ke sana yang dimulai Jumat malam dari Serang dan kembali Sabtu malamnya atau Minggu dinihari.
Titik start W2BP
Wayang Windu Bike Park
Kali ini SXC2 digawangi oleh saya, Om Didit, Om Dodo Chup Chup, Indra Specialized, Om Opik, Om Cep, Haji Noer, ditambah Aldi dan Rafli, duo goweser junior yang sudah mulai in, anaknya Om Cep dan Om Didit. Ditambah dua goweser dari Gagas, Pak Tarya dan Pak Haji Mukhlas, serta SCAM yang diwakili oleh Erall, Iim, Edy, dan Asep. Juga ada temannya Indra, Resha dan Kusheri dari Graha yang memiliki tujuan dan hobi yang sama: gowes. Oh ya, lupa. Kalau Darman Slank mah saya sebut terakhir saja, soalnya dia mah ada di mana-mana. Ya SXC2, ya Gagas, ya SCAM. Kayak ****mart aja, Man ada di mana-mana, hahaha. Embuh yuaa, Man.
Kami berkendara dengan satu bis ukuran ¾ yang memuat 19 sepeda dan pemiliknya. Jam menunjukkan waktu pukul 22 lebih ketika rombongan berangkat dari tikum di Taman Widya Asri. Hari itu Jumat, entah kliwon atau bukan, saya tidak perhatikan. Istirahat dilakukan di perjalanan. Lumayan walaupun tidak bisa 100%. Harus bisa dipaksakan karena kalau tidak, bisa mengganggu konsentrasi. Apalagi, di area-area technical yang membutuhkan konsentrasi tinggi nanti.
Kalau dipikir-pikir, buat apa sih gowes jauh-jauh ke Pangalengan yang waktu tempuhnya sekitar 6 jam perjalanan, pulang-pergi jadi 12 jam?! Itu pertanyaan Om Didit ke Om Cep. Dulu. Sekarang, setelah diracuni Om Cep, kami tertarik juga untuk mencoba ke sana setelah sebelumnya ke Burata. Ditambah, daya tarik setiap daerah memiliki karakteristik track dan pemandangan alam yang berbeda, termasuk cuaca dan tingkat kesulitan yang memacu adrenalin. Mohon maaf Om Chup Chup, tak pinjam Adrenaline-nya. Tapi, yang tidak kalah penting menurut saya, tentunya silaturahmi dengan goweser dari berbagai tempat sealam dunia. Termasuk kemarin kami gobar alias gowes bareng dengan komunitas Gorolong dari Bekasi yang bergabung sejak di terminal Pangalengan. Para suhu semua. Salam kenal, Om-Om.
Pangalengan, Bandung Selatan di waktu pagi
Bus tiba di Pangalengan sekitar pukul 5 keesokan harinya. Udara cukup brrrr..... Balutan sarung dan jaket sepertinya tidak mampu menahan dinginnya udara. Lalu, kami melewati pasar Pangalengan yang yang macetos karena mobil-mobil parkir dua saf, sementara motor-motor tidak kalah, mereka parkir menyilang di pinggir jalan. Jalan jadi satu lajur saja, itu pun ngepas banget buat bus kami. Jadi ingat kondisi pasar Baros atau pasar Petir di Serang kalau sedang mudik ke Rangkasbitung yang persis sama macet dan satu lajurnya, apalagi di akhir pekan atau liburan. Inilah galibnya lalu lintas di pasar tumpah di negara kita tercinta.
Kami sholat subuh di sebuah mesjid kecil namun asri dan terawat selepas pasar Pangalengan. Saya kira mesjid ini milik pribadi, rumah megahnya di belakang mesjid, pemiliknya sama dengan sebuah toko perlengkapan pertanian yang berada di sebelah mesjid. Sehabis sholat, kami pun menuju Terminal Pangalengan untuk mempersiapkan diri dan memindahkan sepeda-sepeda ke atas mobil pick up untuk diangkut ke W2BP. Maklum karena jalan ke arah sana sempit di beberapa tempat, tidak memungkinkan untuk dilewati bus. Jadi sudah loading-unloading-loading lagi, kayak lagu grup band Kuburan saja, C-Am-Dm-ke G-ke C lagi.... 
Terminal Pangalengan
Kondisi terminal yang berada di halaman Kantor Desa Pangalengan ini terbilang luas, tetapi cenderung kotor dan becek. Kamar mandi umum tersedia, namun sama, kurang bersih dan bercampur antara pria-wanita. Pencampuran ini akan berdampak terjadinya ‘kekagokan’ pada di sore hari saat kami harus mandi dengan kondisi lebih setengah telanjang di sini, mungkin sudah mendekati 7/8 telanjang, hehehe. Di sini bus parkir dan menunggu kami kembali pada sore harinya. Jangan lupa sekalian sarapan di sekitar terminal ya. Kalau sedikit kotor, harus kuatkan mental dan mudah-mudahan tidak sakit perut. Saya dan beberapa goweser makan kupat lontong yang lezatos. Mungkin karena laparos atau mungkin dasarnya memang makanan itu lezatos, lidah saya kurang ahli untuk urusan rasa. Yang lain, saya lihat menyerbu tukang bubur ayam. Hebat, padahal saya kalau makan buryam jam 7, dua jam kemudian pasti perut sudah nagih lagi sambil bernyanyi keroncong. Enggak nendang, katanya. Makanya banyak orang bilang, sering gowes koq perutnya enggak kempes-kempes. Mungkin mereka belum paham bahwa belum ada bukti empiris yang membuktikan adanya korelasi negatif antara frekuensi gowes dengan pengecilan bentuk perut. Jadi, keep calm and start biking.
Siap di Terminal Pangalengan
Kami dikawal oleh dulur beda lembur dari PAB alias Pangalengan Adventure Bike. Ada Kang Atep PAB, Kang Imbar, Kang Bajing, Fahmi, Pak Heri, dan teman-teman lain yang tidak bisa saya colek satu per satu. Luar biasa pelayanan dan keramahtamahan Om-Om semua, respon yang cepat, ringan tangan, baik hati dan tidak sombong, serasa sudah kenal lama, padahal baru beberapa jam sahaja. Termasuk tentunya foto-foto yang ajib banget. Satu yang unik, sebagian dulur-dulur PAB gowes mengenakan celana jin. Keren lah.
Selanjutnya, dua mobil pick up mengangkut sepeda-sepeda dan kami menuju W2BP. Karena saya termasuk yang terakhir diangkut, sambil menunggu jemputan, kami mengopi dulu ditemani ketan yang kata orang Banten disebut gemblong. Ini menjadi desert alias makanan penutup kami setelah lontong tadi. Appetizer-nya kayaknya angin alias masuk angin, jadi harus disiapkan obat masuk angin. Boleh obatnya orang pintar maupun orang bejo. Terserah, mana suka.
W2BP sendiri merupakan bike park yang berada di tengah-tengah perkebunan teh Kertamanah milik PTPN VIII yang berada di Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Titik startnya berada pada ketinggian 1811 m dpl dan berada di sekitar instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau geothermal milik KSO tiga perusahaan plat merah PT Pertamina Geothermal Energy, PT PTPN VIII, dan PT Perhutani, dengan korporasi swasta PT Star Energy. Makanya, di sini tampak pipa-pipa penyaluran gas berwarna perak yang mengular, naik-turun, dan berbelok-belok puluhan kilometer bak tembok besar di China. Obvitnas nih di sini alias objek vital nasional. Kata Om Opik, saya dulu yang masang nih. Om Opik hebat, kayak Sangkuriang memasang pipa sepanjang itu, hehehe.
Untuk menikmati W2BP ini, kita harus membayar retribusi tiket masuk sebesar Rp 22.000 per orang di titik start yang berada pada ketinggian 1811 m dpl. Di sini ada penjaga tiket sekaligus penjual kopi dan teh, serta beberapa penganan. Tapi maaf, kalau penjualan bunga edelweiss mah belum ada. Di sini juga tersedia toilet buat goweser beser. Bagaimana tidak beser, cuaca di sini kan sejuk, minum terus, jadi walau melakukan aktivitas gowes tidak akan banyak keringat yang keluar. Akibatnya, beser deh. Tapi aneh kalau Darman Slank mah, berkeringat atau enggak, tetap saja beser yuaaa.
Wefi
Bagi saya, gowes kali ini berarti memecahkan rekor pribadi ketinggian yang semula 1300 m dpl di Burata menjadi 1811 m dpl di W2BP! Sesuatu, kalau kata Syahrini mah. Di Banten bagian barat, kayaknya baru Kp. Kaduenggang titik tertinggi yang pernah saya datangi. Itu pun hanya 824 m dpl. Kata Kang Atep PAB mah, biasa aja keles, hehehe. Oh ya satu lagi, ini bike park pertama yang saya rasakan. Biasanya, jangankan bike park, gowes saya cuma keluar-masuk kampung atau kebun orang saja, belum pernah merasakan sensasi main di bike park.
Ganteng-Ganteng ya...
Di W2BP, ada dua jalur yang bisa kita lewati. Satu ke arah tenggara atau ke arah kiri yang bersifat lebih XC dan berkarakter cepat. Pengelola sepertinya sudah mempersiapkan beberapa variasi gundukan tanah yang digunakan oleh para goweser untuk melompat atau belajar melompat untuk yang belum bisa, seperti saya. Panjangnya track sih cuma sekitar 4 km tapi sangat mengasyikan. Track ini berakhir di jalan makadam di ketinggian 1608 m dpl.
Om Didit in action
Karena belum puas, kami mencobanya sekali lagi. Setelah beres, waduh badan belum berkeringat euy. Sudah konturnya menurun semua, tinggal ngatur rem saja, cuaca yang cerah pun tidak terasa menyengat. Masih adem, alhamdulillah. Jadi ingin remedial. Nanti deh insya Allah pas musim panas supaya lebih mantap. Di sini kecepatan maksimal saya 41 km/jam dengan rata-rata hanya 7 km/jam. Enggak kebayang para jagoan kayak Om Cep, Indra, Erall, Resha, trio SCAM, Darman, bisa berapa kecepatannya ya. Mohon maaf yang ternyata cepat tapi gak kesebut di sini, kayak Om Chup Chup misalnya, hehehe. Om Didit saya tahu gak bisa ngebut-ngebut karena buntutnya ketinggalan di belakang, hehehe. Di percobaan kedua, kecepatan maksimal kok turun ya jadi 31 km/jam, mudah-mudahan karena GPS-nya salah, hehehe. Tetapi untungnya rerata naik jadi 10 km/jam.
Setelah rampung yang kedua kali, sekitar pukul 12 kami lanjutkan perjalanan menuju Situ Cileunca melewati track kedua. Mendung sudah mulai menggelayut. sebenarnya sudah mulai lapar, tapi masih bisalah diganjal dengan makanan kecil. Sementara, komunitas lain yang sama-sama piknik ke W2BP sudah mulai makan siang di titik start, hadeuh.
Dengan Om Opik yang ngebangun pipa :)

Om Cep in action
Track kedua ini mengarah ke barat daya atau belok kanan dari titik start. Namun karena saat itu langsung digabung dengan adventure track, saya enggak tahu berapa panjangnya. mungkin hampir sama, sekitar 4 km-an. Yang jelas, lewat sini terdapat turunan dari kayu. Hanya untuk yang berani. Juga ada turunan yang lurus tapi panjang yang permukaan jalannya sudah ditutupi karung-karung berisi tanah, membelah barisan pohon teh. Dijamin merosot deh. Mungkin jalur ini ada namanya? Bagi anda yang kurang yakin, lebih baik tuntun bike sajalah agar selamat sentosa dan mengurangi risiko jatuh. Kita kan tujuannya bersenang-senang bukan prestasi. Mengingatkan diri sendiri. Alasan ya, hehehe. Tapi saya salut pada Om Chup Chup yang berhasil duduk di sadel sampai bawah, walau beberapa kali kepleset. Entah dia bisa atau memang nekad, hehehe. Tapi yang jelas, sejak gowes ke Burata, sepertinya dia bertekad untuk aktif gowes lagi setelah sekian lama absen. Bravo, Om Chup Chup! Om Cep juga di sini menjadi ojek gendong buat Pak Haji Noer yang kepleset juga. Tak gendong kemana-mana....

Om Cep in action

Hore....
Selepas turunan itu, mulailah gowes kami ditemani rinai gerimis. Masih keluar masuk perkebunan teh. Badan sih insya Allah siap buat hujan-hujanan tetapi kamera dan gawai enggak euy. Terpaksa demi keselamatan, mereka masuk plastik semua dan alhasil koleksi foto-foto pun menjadi minim. Ada dua seragam yang kalau saya hujan-hujanan insya Allah tidak masuk angin, yaitu seragam Pramuka dan jersey sepeda, hehehe. Alhamdulillah.
Foto bareng pemetik teh
Rombongan kami melewati kelompok pemetik teh yang sedang panen. Ketika mereka bertanya dari mana, dijawablah oleh Pak Haji Noer kalau kami dari Banten. Langsung dibilang, “Oh, Rano Karno ya”? Kontan saja Pak Haji bilang, “Iya, Saya adiknya”. Atuh mereka langsung ingin mengabadikan momen dengan Pak Haji dan rombongan. Kapan lagi bisa foto bareng adiknya Rano Karno. Enggak tahu mereka kalau Pak Haji Noer mah adiknya Rano Karno tapi beda bapak beda ibu, hehehe. Mohon maaf, Bang Doel, kami numpang beken.
Haji Noer

Dodo Chup Chup
SD Malabar zaman Bosscha
Selanjutnya kami melalui sebuah SD yang bangunannya sudah tua, masih asli tampaknya dan masih terawat, seperti peninggalan Belanda. Bangunan ini berada di kawasan kebun teh Malabar bersebelahan dengan SD Malabar 04 Bandung, Desa Banjarsari, Pangalengan. Ya, bangunan sekolah tua ini dulu dibangun oleh Bosscha tahun 1893 dan masih bertahan sampai sekarang. Bosscha yang itu? Iya, Bosscha yang itu. Kata Om Cep, sudah banyak lulusan sini yang sudah menjadi “orang”. Waktu saya tanya contohnya siapa, Om Cep gak tahu. Tapi memang mungkin saja ada, mengingat usia sekolah ini yang sudah termasuk tua. Di sini, karena gerimis masih mengundang, jadi kami rehat sejenak sambil melihat-lihat situasi. Aa Rafli sempat kram tapi berkat bantuan tukang urut dadakan, Om Chup Chup, alhamdulillah bisa sehat lagi. Hebat, Aa ya. Oh ya, Om Chup Chup sepertinya belajar ilmu urut kram dari Om Kusniawan. Mungkin karena dia dulunya adalah si raja kram, sering melihat cara mengurut, dan bisa langsung mempraktekan. Bagus juga Om Chup Chup dulu sering kram, jadi ada hikmahnya ya, hahaha.
SD Malabar zaman Bosscha
Oleh karena adanya Info dari marshall bahwa tempat makan siang sudah dekat, kami pun kemudian bergegas, apalagi perut juga semakin lapar. Sebelum tiba di sana, saya dan Om Didit mampir sejenak di makamnya Dr. Bosscha, ya Bosscha yang itu. Bukan untuk ziarah tapi hanya mengabadikan momen saja bahwa kami pernah lewat situ. Kalau mendengar nama Bosscha, siapa yang tidak tahu. Ingatan pasti langsung tertuju ke Bosscha Observatory di Lembang yang digunakan untuk fasilitas penelitian astronomi yang sekarang dikelola oleh ITB. Ya, Bosscha memang dimakamkan di perkebunan Malabar ini karena dialah pendiri perkebunan ini dahulu. Menurut cerita, para pekerja perkebunan teh yang sudah sepuh di sini percaya kalau dia masih di sini, duduk di kursi, berjemur sambil membaca koran sebelum berkeliling mengawasi para pekerjanya. Pantas saja, ketika memasuki area makam, suasana memang terasa agak berbeda. Hieum kata orang Sunda mah atau sangat teduh sehingga tampak agak gelap. Om Chup Chup sempat kaget karena dari jauh area makam ini tampak sepi dan hanya ada sebuah sepeda motor terparkir. Dia pikir di sinilah tempat makan siangnya. Tapi, ketika dekat makam, tiba-tiba ada seorang bapak yang menegurnya. Karuan saja Om Chup Chup gowes terbirit-birit tanpa tahu dia ditegur siapa, hahaha. Om, itu kan penjaga makam.
Makam Bosscha di kebun teh Malabar
Tibalah saat yang dinanti: makan siang. Horeeee.... Di sebuah saung di pinggir jalan di kawasan kebun teh Malabar, sudah tersedia menu luar biasa, nasi liwet, ayam bakar, tempe-tahu, lalapan, serta tidak terkecuali pete rebus dan hate maung alias kancing Levi’s alias jengkol. Maknyosss kalau kata Pak Bondan mah. Ngomong-ngomong, jengkol kok banyak banget aliasnya ya, kayak teroris saja. Oh ya, jengkol ini kan kudapannya Om Chup Chup tuh. Hampir saja dia bungkus buat ngemil di bus. Dia biasa datang ke tikum gowes di rumah Om Didit hanya untuk sarapan dengan semur jengkol, setelah itu balik lagi, hehehe. Terimakasih buat Kang Atep Pab dan rengrengannya atas makan siangnya yang isti-mewah. Salam jengkol dan pete!
Dam Pulo @Situ Cileunca

Jembatan cinta @Situ Cileunca
Tujuan selanjutnya Situ Cileunca. Kalau mendengar kata leunca apalagi dicampur oncom menjadi ulukuteuk, jadi lapar euy. Apalagi saat itu hujan dan badan terasa kedinginan. Untungnya karena terus bergerak, badan membakar kalori yang memanaskan tubuh. Ayo gowes terus.
Perkebunan teh sudah mulai berkurang dan kami mulai menyusuri jalan makadam sampai ke situ atau danau Cileunca (1451 m dpl) yang sepertinya terletak di dua Desa Warnasari dan Pulosari, Pangalengan. Situ ini adalah danau buatan yang membendung sungai Cileunca dan membentuk dam yang disebut Dam Pulo yang digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kami menyeberangi situ melalui jembatan cinta. Aduh, baru tahu dari internet kalau jembatan yang kemarin saya lewati namanya jembatan cinta. Kurang piknik, saya. Disebut jembatan cinta karena, katanya, di sore hari seringkali jembatan ini dijadikan tempat berkumpul mempertemukan dua muda-mudi dari kedua desa, Warnasari dan Pulosari.
Di ujung Dam Pulo, masuklah kami ke Jalan Situ Cileunca yang berlapis aspal hotmix mulus-surulus. Hanya sebentar di aspal mulus tapi, selanjutnya kami menyusuri tepi sungai Palayangan (?) yang deras yang digunakan untuk tempat arung jeram. Mantap! Ya, di sini memang banyak penyedia jasa arung jeram dan adventure. Namun sayang, karena keterbatasan waktu, sesi arung jeram ditiadakan dan memang tidak direncanakan karena one-day-trip tadi. Waktunya enggak bakal cukup. Seribu kali sayang.
Hutan pinus

Menikmati derasnya sungai
Kami menuju hutan pinus Rahong dengan menyusuri aliran deras sungai ini yang bening yang membuat saya, bukannya ingin berenang atau berarung jeram, tetapi ingin mencuci sepeda dan baju yang kotor bingitzz yuaaa kalau kata Darman Slank mah. Maklum, sepanjang jalan hujan, jalanan becek, gak ada ojek, sementara sepeda tidak dipasang sepatbor. Langsung deh air kotor dari ban menyemprot sepeda dan punggung kami.
Di salah satu bagian sungai yang dangkal, kami mampir sejenak menikmati dinginnya air dengan berendam mencuci badan, sepatu, dan jersey yang sudah dekil! Bermain-main air seolah masa kecil kurang bahagia. Selalu ada sifat kekanakan pada setiap pria dewasa sekali pun. Tempat ini juga sering digunakan oleh para pengarung jeram untuk beristirahat dan tentu saja, berfoto-foto. Namun karena saat itu hujan, tidak banyak dokumentasi yang dihasilkan oleh kami di sana. Ya, daripada kamera dan gawai rusak, mendingan nanti saja deh track-nya diremedial, kapan-kapan.
Menjelang pukul 16 perjalanan tinggal menuju finish di tengah hutan pinus di Kp. Rahong (1418 m dpl). Di sini ada tempat permainan paintball alias perang-perangan dengan menggunakan senjata yang pelurunya adalah cat. Awas ada peluru nyasar. Mereguk nikmat suhe alias susu jahe memberikan kepuasan tersendiri saat itu. Kurang beruntungnya, persediaan suhe di sana terbatas, sehingga sebagian kami tidak kebagian dan terpaksa mengopi saja.
Hutan pinus
Data GPS saya menunjukkan jarak 18,2 km dari titik start di W2BP. Jika ditotal dengan dua putaran track 1 W2BP sepanjang 8,4 km, maka total perjalanan kami hari itu adalah 26,6 km. Kecepatan maksimal 37 km/jam dan rata-ratanya 4 km/jam! Kayak siput. Tapi gak apalah, kan waktu rehat dan makan pete serta jengkol dihitung juga sehingga total waktunya 4 jam: 09 menit. Sementara, waktu gowes efektif hanya 2 jam: 25 menit. Lagian, bagi saya ini kan gowes asyik alias piknik, jadi gak usah ngebut-ngebut, apalagi balapan, hehehe.
Sengaja kami finish di Rahong karena waktu sudah sore, cuaca masih hujan, badan sudah kedinginan, gowes sudah kenyang dengan track yang dilalui, sisa track ke depan masih berkarakter sama kalau pun dilanjutkan, kata Om Cep sih, belum sholat, belum cuci sepeda, harus kembali ke Serang, dll. Banyak banget alasannya ya, hahaha.
Jadi, kami naikkan saja sepeda ke atas mobil pick up dan bergerak menuju Terminal Pangalengan lagi tempat bus kami menunggu. Melewati jalanan makadam Rahong, mengingatkan saya pada karakteristik jalanan dari Bojong menuju Cilowong di Serang. Hampir sama, hanya jenis pepohonan dan cuacanya pasti berbeda.
Singkat cerita, sesampainya di Terminal Pangalengan kembali, kami segera membersihkan diri. Ini yang saya ceritakan di atas, ketika kami, para lelaki mandi, ada ibu-ibu yang masuk-keluar dari toilet sambil tertunduk malu. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Aduh,,, punten ibu, da kaayaanna ge kieu, hehehe. Sementara kami mandi, sepeda-sepeda kami pun ikut mandi steam dibantu teman-teman PAB. Luar biasa memang PAB!!! Salut!!! Service excellent! Selesai cuci, kembali sepeda-sepeda dibongkar dari pick up dan dinaikkan ke atas bus untuk terakhir kali, hari itu. Hati-hati saat membuka dan memasang kembali roda-roda sepeda karena casette si Mondraker Om Cep sampai copot tuh. Entah bagaimana ceritanya.
Karena perut lapar, sebagian kami sempatkan melahap nasi goreng dan bakso. Aku sih yes, bakso. Alhamdulillah mantap. Bakso panas saat cuaca dingin memang terasa lebih nikmat. Malam masih gerimis.
Setelah semua beres, sekitar pukul 08, kami kembali menuju Serang. Sebelum masuk tol Purbaleunyi, kami melalui Jalan Terusan Kopo yang macet parah. Panjang juga ya macetnya. Apalagi saat itu malam minggu si malam panjang, lebih banyak orang yang keluar rumah.
Selanjutnya, tidak usah disuruh tidur lagi. Pas masuk tol, langsung off. Mungkin karena kecapean juga seharian perjalanan ditambah malam sebelumnya enggak 100% istirahat di bus. Bangun-bangun di Purwakarta saat bus ke tempat penjualan oleh-oleh. Tidur lagi, bangun-bangun di simpang susun Tomang. Wah, alhamdulillah cepat ya, sudah Jakarta lagi. Tidur lagi, bangun-bangun di gerbang tol Serang Timur. Pantesan Mbah Surip bikin lagu Bangun lagi, tidur lagi. Tapi alhamdulillah diberi nikmat tidur, jadi selain rehat badan, juga tidak terasa jauh perjalanan.
Terakhir, ini kayak zaman ABG dulu, berangkat malam pulang pagi. Kami finish di gerbang Widya Asri sekira pukul 01.30, sudah pagi, hari Minggu. Ada yang ingin remedial ke Pangalengan lagi, ada yang ingin bertualang ke track yang lain lagi. Yang jelas, teman-teman di Serang sedang semangat gowes nih, menambah pengalaman melewati track-track yang luar biasa, belum di seluruh tanah air sih, masih di sekitar Serang saja dan beberapa di Jawa Barat, hehehe.
Bongkar terakhir di WA
Sekali lagi terima kasih buat Kang Atep PAB dan rengrengannya. Jangan kapok mengawal kami karena kami tidak kapok gowes ke Pangalengan, hehehe. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi di waktu yang berbeda tetapi dalam gelombang yang sama: Gowes asyik. Oh ya, jangan lupa om-om yang pulang ke rumah masing-masing untuk mengurus penerbitan SIM untuk gowes berikutnya ya. Wassalam.

Gambar peta dan profil
Vertical Profile: W2BP track 1

Vertical Profile: W2BP Track 2.0 dan Adventure Track


Situ Cileunca-Rahong

W2BP Track 1.0

W2BP Track 2.0

All tracks


 

Monday, February 15, 2016

Jalur BURATA punya CERITA

Bismillah. 
Assalamualaykum goweser semua. Lama juga saya absen menulis. Ya, sejak keluar kandang terakhir Mei 2015 lalu menanjak dan ngagorolong ke Kadudago-Kamasan, Anyer, praktis saya gowes di Serang saja. Maklum, tugas di Tanah Pilih Pusaka Betuah selama tiga tahun ini membuat jatah waktu gowes-ku harus benar-benar diatur. Gowes merupakan keinginan tetapi berkumpul dengan keluarga merupakan kebutuhan. Jadi tahu, kan mana yang harus diprioritaskan.
Alhamdulillah, hari Sabtu tanggal 6 Februari kemarin, SXC2 yang sudah lama juga tidak mengadakan kegiatan, bisa keluar kandang. Si Kabayan pun ingin saba kota katanya. Akhirnya, diputuskanlah untuk mencicipi jalur Burata di Bandung Barat tanpa menginap. Kami rencanakan berangkat dari Serang sekitar tengah malam, kemudian tiba Cimahi sekitar subuh untuk kemudian memulai gowes pagi harinya. Mudah-mudahan bisa sambil istirahat dalam kendaraan di perjalanan. 
Peserta kali ini ada saya, Om Didit, Om Cep dan juniornya Aldi, Kang Ola, Om Dodo, Haji Nur, dan Darman Slank. Kang Ola, alias Pak RT, majikan si MP jagoan Banten, kali ini ikut, kata Cep Roni mah supaya si MP keluar dari tempurungnya dan melihat dunia luar, jangan main di Banten saja. Emangnya katak, keluar dari tempurung. Orang Jakarta saja heran, koq bisa si MP main di jalur seperti ini. Belum tahu dia kalau si MP itu gajah, hahaha. Ada juga anggota baru tapi lama, yaitu Omdo. Bukan “Omong Doang” tapi Om Dodo. Dia baru gowes lagi sejak terakhir kemana saya lupa, saking lamanya. Belum lagi persiapan sepedanya dua malam berturut-turut, udah maksimal, tinggal dengkul kuat atau tidak, mengingat pengalaman sewaktu ke Pulau Untung Jawa dan arung jeram Sungai Ciberang, Lebak yang tak terlupakan pastinya buat Omdo, dan tukang pijatnya, dan goweser lain yang lama menunggunya, dan tukang ojeknya. Tapi insya Allah kuatlah, soalnya kata orang-orang, Burata lebih banyak jalur turunannya. Ditambah, kali ini beberapa teman dari SCAM juga ikut meramaikan. Jadilah kami ber-15. Mantap nih jadi ramai. Tapi kalau dilihat komposisi goweser yang hadir, ada Omdo, ada Darman Slank, ada Haji Noer, dipastikan perjalanan kali ini adalah gowes bodor, karena pasti di jalan ketawa-ketiwi melulu. 
Kami memulai dari basecamp Om Didit di Taman Puri menyusun sepeda ke atas mobil pick up sampai dengan pukul 00, dan siap berangkat. Mudah-mudahan ke arah timur ibukota lalu lintas tidak macet, apalagi mau liburan panjang sampai dengan hari Seninnya nanti. Tapi alhamdulillah, lalu-lintas boleh dikata lancar. Di perjalanan, mata terpejam tetapi otak tidak sepenuhnya berisitirahat karena kursi mobil tidak ergonomis, membuat pegal-pegal. Omdo sampai tengkleng tuh lehernya. Belum sopirnya merokok terus sepanjang jalan dengan alasan biar enggak ngantuk. Ini menjadi pelajaran buat kami ke depan agar dapat menyiapkan kendaraan yang lebih nyaman supaya para goweser bisa beristirahat dengan tenang, eh maksudnya dengan nyaman. Tak apa kita iuran agak mahal sedikit tetapi semua puas. Masukan nih buat EO Darman Slank yang semangatnya mah 100%, tapi kualitasnya 80%, wkwkwk. EO uo uo..... Mbuh ya, Man. Akhirnya, sekitar pukul 04.30 kami mendarat di masjid Agung Cimahi saat suara adzan subuh di telinga. Kami pun segera menunaikan sholat. Kata Kang Ola mah, goweser juga pengen masuk surga. 
Sehabis sholat, rombongan meluruskan punggung di karpet barisan belakang. Cep Roni yang ribut membangunkan kami semua. Bukan apa-apa, karena sarung dia dipakai Omdo tiduran, jadi dia enggak kebagian sarung, buat tiduran. Perlu diketahui bahwa sarung adalah salah satu alat vital pada waktu kita ingin tiduran dalam udara yang dingin. Marbot masjid sampai bingung, ini rombongan dari mana koq pada tiduran. Pas dijawab dari Serang-Banten, oh pantesan. Pantesan tiduran maksudnya, kan habis perjalanan jauh. 
Singkat cerita, sehabis sarapan bubur yang mudah-mudahan nendang sampai jadwal makan siang nanti, di depan masjid tadi, kami bersiap menuju tempat start ke Kp. Cipada, dengan dikawal oleh marshall asyik Kang Haris dan Kang Apoey. Melalui Jalan Kol. Masturi (?) ke arah SPN Cisarua, yang konturnya tanjakan semua. Saya jadi ingat Abah Yopie melewati jalur tanjakan ini. Maklum Abah mah konsisten dengan mottonya “tanjakan yes turunan no”. Satu lagi, kayaknya Om Andri kalau lewat sini pasti akan merasa waas dan terkenang-kenang selalu, maklum dia dulu sekolahnya di sini, zaman muda dulu. 
Jalur selanjutnya, masuk jalan kecil di samping dan belakang SPN, setelah itu blank alias poek, enggak hapal lagi ke arah mana. Yang jelas, kami menyusuri jalanan sempit, meliuk-liuk, naik-turun, sampai akhirnya tiba di Kp. Cipada, titik start. Satu-dua tikungan sebelumnya terasa ngeri karena cukup tajam walau belum masuk kategori hairpin, jurangnya curam, tidak ada pagar, tidak ada rambu lalu-lintas, tidak ada penerangan sepertinya kalau malam, kalau tidak hapal jalan, wassalam. Harus hati-hati berkendara ya. 
SXC2 to Burata Trail Bike Track
Di titik start, sudah menunggu Kang Jaep, Kepsek jalur Burata yang sudah menyiapkan jersi Burata Trail Bike Track warna biru dengan logo SXC2 yang keren! Mantap dan hatur thank you, Kang! 

Burata!!! 

Kebun Pangheotan
Sepertinya sudah banyak ulasan tentang jalur Burata di dunia maya. Bahkan, Kang Jaep, sudah mengunggah video tentangnya di Youtube, lengkap dengan turunan Jumanji yang fenomenal itu. Kali ini saya hanya akan bercerita tentang apa yang kami alami. Itu saja. 
Pukul 8.15, kami tiba di Desa Cipada (1218 m dpl) yang sejuk. Desa ini terletak di sisi barat Gunung Burangrang (2050 m dpl) dan berada di Kecamatan Cikalong Wetan-Kabupaten Bandung Barat. Di sini kami mempersiapkan sepeda dan perbekalan logistik karena sepertinya akan jarang warung di depan. 
Bagi saya, gowes di ketinggian dan kesejukan seperti ini merupakan sesuatu yang jarang dilakukan. Maklum, saya biasa main di Serang-Banten saja yang berada dekat dengan pantai dengan ketinggian rata-rata hanya 100-200 m dpl, dengan cuaca yang hangat cenderung panas. Di Banten, tempat tertinggi yang pernah saya datangi sepertinya baru Kp. Kaduengang di Pandeglang (824 m dpl), tepat di pertengahan jalur menuju puncak Gunung Karang. Itu pun jalur yang dilalui berupa jalanan aspal dan makadam, bukan single track. Ingat, kan waktu Kang Ola, Abah Yopieastroz, dan Darman Slank merazia pasangan yang sedang bermesraan di Kp. Juhut? 
Pukul 9 kami mulai gowes menuju hutan pinus. Ternyata, menuju ke sana yang jaraknya hanya sekitar 700 m, kami sudah harus mendaki ke ketinggian 1300 m dpl. Perasaan dengkul saya belum panas, jadinya hah-heh-hoh weh. Kami langsung melewati sebagian single track dan makadam, serta disuguhi vegetasi yang khas di ketinggian ini yaitu kebun sayuran dan hutan pinus. Setelah santiaji dan doa di gerbang hutan pinus yang dipimpin oleh Om Didit, perjalanan dilanjutkan dengan Cep Roni sebagai pembuka jalan dan Kang Haris sebagai sweeper. Kondisi jalur saat itu lembab dan cenderung basah. Di beberapa bagian, karena berada di lereng gunung, kami harus melewati jalur yang sempit dengan sisi sebelah kiri jurang. Ngeri juga kalau sampai jatuh. Bahaya buat pengidap acrophobia alias takut pada ketinggian. Kalau terpaksa harus menuntun sepeda, harus hati-hati karena tidak memungkinkan kita menuntun sepeda sepenuhnya berdampingan karena sempitnya jalur. Salah satu tip, kalau mau jatuh, ke sebelah kanan ya!! Secara umum, jalur mengular dan naik-turun menyusuri tebing ini sangat mengasyikan. Omdo tuh yang curiga, masa jalurnya begini semua, kan ngeri. Belum tahu dia, bagaimana jalur di depan. 
Selanjutnya, kami masuk ke perkebunan teh. Kalau saya tidak salah, perkebunan ini merupakan wilayah PTPN VIII Unit Kebun Panglejar-Pangheotan. Tipikal perkebunan teh antara lain tersedianya jalur makadam yang biasa digunakan untuk dilalui kendaraan pengangkut teh, juga tersedia single track yang berliku-liku, naik-turun membelah kebun yang digunakan para pemetik teh. Jalur inilah yang akhirnya menjadi surga bagi para goweser tapi tetap harus ekstra hati-hati karena di beberapa tempat, batang dan tanggul pohon teh siap menjadi hambatan. Di beberapa jalur makadam, lajur terdiri dari tiga, yaitu kanan, kiri, dan tengah dengan beda tinggi dan dipisahkan bebatuan dan rerumputan. Kalau sudah memilih satu lajur, harus tetapkan hati di situ karena berpindah lajur tanpa penghitungan yang matang bisa berakibat sepeda tidak dapat dikontrol. Tip selanjutnya, harus istiqomah memilih lajur. 
2D Darman & Dodo
Gowes kami santai karena tujuannya memang piknik dan menikmati suasana alam, bukan time trial atau lomba kecepatan gowes. Walau demikian, karena licinnya jalur, beberapa goweser harus jatuh bangun kayak lagunya Bang Meggy Z, dan alhamdulillah tidak ada yang cedera. Kalau diabsen yang ngejungkel siapa saja, salah, harusnya siapa yang enggak ngejungkel karena lebih banyak yang ngejungkel daripada yang enggak, hahaha. Saya saja sampai jatuh empat kali. Haduh, harus lebih banyak belajar keseimbangan kali ya. Tapi walau begitu, pasukan SXC2 tetap tabah dan ketawa-ketiwi terus. Sampai-sampai Kang Jaep nanya ke Om Cep, itu yang pakai TR3 siapa, rame banget. Bagaimana tidak, komunitas yang lain mah gowes teh serius, jempling, pakai sepeda yang serius juga, ini mah banyakan hahahihi-nya. Tapi asyik koq, sing penting happy ya, Om ....namanya juga gosik. 
Gaya andalan Kang Ola & Haji Noer
Di beberapa tempat, tersedia spot-spot menarik untuk mengabadikan perjalanan dan pemandangan. Subhaanallaah, indahnya alam ciptaan Yang Mahakuasa. Pohon-pohon teh yang membentuk barisan rapi di bukit-bukit yang laksana rumah teletubbies dibelah jalan setapak yang kadang lurus, kadang berliku-liku, seperti labirin dalam game zaman dulu, Pacman. Sayangnya saya lupa membeli baterai cadangan untuk kamera kecil saya, jadilah minim gambar yang dapat diambil. Kayaknya harus diulang lagi nih dengan persiapan kamera. Belum lagi Gopro-nya Om Cep yang gatot alias gagal total katanya, hiks.... Untungnya, banyak selfie-wan yang siap berbagi foto, dan tentu saja foto-foto dari Kang Jaep. Hatur thank you lagi, Kang. 
Menjelang jam 11, tiba kami di Kp. Cileuleuy (1011 m dpl). Demikian nama kampung ini seperti disebutkan bapak pemilik warung yang kami singgahi. Menemukan sebuah warung seperti menemukan oase di tengah gurun. Udara sudah mulai menyengat walau tidak sepanas di Serang. Jarak baru menunjukkan 1/8 perjalanan sepertinya, padahal jalur yang kami lalui sudah luar biasa mengasyikan. Kata Kang Darman Slank mah, "Mantap!" Beberapa rombongan lain yang datang belakangan ternyata ikut rehat di warung ini. 
Gaya euy
Selanjutnya, perjalanan kami lanjutkan melalui kantor administrasi kebun Pangheotan (960 m dpl), jalur sudah boleh dikata tinggal menurun saja. Masih melewati single track yang asyik, rumput gajah yang cukup tinggi menghalangi pandangan mata kami, sehingga jalur di beberapa tempat tidak tampak sama sekali. Saya jatuh keluar lajur lagi karena tidak bisa melihat jalur. Belum lagi goresannya di tangan dan kaki. Keluar dari single track, masuk jalan makadam, eh ada tukang es cingcau. Langsung saja masing-masing kami pesan dua gelas. Alhamdulillaah nikmat, Gusti. Kalau di masa kecil Anda pernah makan es cingcau, berarti masa kecil Anda bahagia. 
Setelah Es Cingcau
Kemunculan tukang es cingcau ini juga masih misteri, kenapa di saat tengah hari panas, tepat jam 12, saat matahari tepat di ubun-ubun, dia muncul membawa kesejukan. Ini harus kita syukuri. Jadi ingat misteri lainnya yang belum terpecahkan yaitu kemunculan pedagang asongan yang menjual air kemasan dalam botol atau gelas (panjang amat tulisannya, sebut aja mereknya), tahu, kacang, manisan mangga, dan nangka pada saat macet di jalan raya, bahkan di dalam jalan tol!! Darimana mereka muncul, coba? Sementara, makanan-minuman yang mereka jual selalu sama. Apakah mereka berkonspirasi dengan pembuat kemacetan? Tapi, terlepas dari itu, mereka membawa kesejukan juga, apalagi saat perut sedang berirama keroncongan. Terima kasih ya emang es cingcau dan para pedagang asongan semua. 
Selain bertemu dengan komunitas sepeda lain, kami juga bertemu dengan komunitas motor trail. Saya sampai ngeri karena beberapa oknum pemotor nekad ngebut di jalan makadam, padahal selain banyak pesepeda, di situ banyak juga anak-anak yang baru bubaran sekolah. Suara deru motor yang meraung-raung bagi saya terasa bising, apalagi terbiasa bersepeda dengan tingkat kebisingan nol desibel. Saya yang mau menyeberang, harus minggir dulu keluar jalur. Menurut saya, marilah kita sama-sama menghargai satu sama lain, apalagi kita sesama pehobi kegiatan alam luar. 
Tujuan selanjutnya adalah makan siang di rest area dekat Masjid Baabussalam, Panglejar di dekat kantor administratur kebun Panglejar yang berada di Jalan Raya Cikampek-Padalarang. Jam menunjukkan waktu pukul 13, waktu yang sangat ideal untuk santap siang dengan menu khas sunda, termasuk lalapan dan sambal tentunya. Hanya sayang, pas saya jadwal saya makan, semur jengkinya sudah habis. Wah, pelanggaran nih. Makan tanpa semur jengki ibarat makan tanpa semur jengki.
Inggis gara-gara teu kabagian semur jengki wkwkwk
Setelah ishoma, perjalanan kami lanjutkan. Rasanya tinggal 1/3 lagi jalur yang akan kami tempuh. Masih melewati beberapa perkebunan teh lagi. Namun, selepas melewati fly over di atas Jalan Tol Cipularang, jalur membelah perkebunan karet yang kami lalui. Kalau melewati kebun karet, orang Serang sepertinya sudah agak terbiasa karena sering melewati jalur Kebon Kupak, perkebunan karet di sekitar Pabuaran-Gunung Sari, walaupun jaraknya memang lebih pendek. 
Selanjutnya kami keluar-masuk perkampungan yang saya tidak hapal namanya. Yang saya ingat, kami melewati Stasiun Kereta Api Cikadongdong (408 m dpl) yang setelah saya cek Google maps, terletak di Desa Puteran, Cikalong Wetan, Bandung Barat. Dan, tidak jauh dari situ ke arah utara, terdapat Jembatan Cisomang, jembatan kereta api terdalam di Asia Tenggara, dengan ketinggian dari lembah sekitar 100m. Kalau Anda menggunakan kereta api dari Jakarta ke Bandung, nanti lewat situ, tapi jangan loncat di jembatan ya, bahaya. 
Jumanji. Koq gak pada digowes, Om?
Ada yang membedakan antara jalur kebun karet di Serang dengan di Cikalong Wetan, yaitu turunan ekstrem dan technical: Jumanji! Sebelumnya marshall menawarkan dua alternatif, mau lewat Jumanji atau Chicken way. Semula saya berpikir, kenapa disebut chicken way. Apakah karena banyak anak ayam? Ternyata bukan jalur anak ayam, tapi jalur chicken yang kata chicken ini biasanya digunakan dalam idiom “Chicken lu.... “, hahaha. Tapi enggak apa-apalah, yang penting kan sehat wal'afiat selamat sentosa sampai finish. Saya yang penasaran seperti apa Jumanji, mencoba lewat situ, dan alhamdulillaah lolos walaupun belum lulus, hahaha. Jalur berkelok-kelok, menurun, tanah licin, dan batu-batuan lepas menambah kesulitan jalur ini. Menurut saya, ada empat faktor penentu kelulusan di situ, yaitu skill atau teknik, nyali, sepeda, dan sering dilewati. Keempatnya saya belum punya. Mudah-mudahan saja tidak ada faktor yang lain lagi, soalnya makin sulit menaklukannya kalau masih ada, hahaha.... Ya sudah, kami merosot tuntun berjamaah saja. Terpeleset, merosot, jatuh dari sepeda, jungkir balik, sepertinya menjadi hal biasa di sini. Dulu, kata Om Didit sewaktu melewati Jumanji pertama kali, sepedanya dia lemparkan duluan ke bawah, lalu dia turun kemudian dengan santai. Sekarang, dia merosot ngepot-ngepot. Masih belum lulus berarti, Om, hahaha. Kata Kang Ola, yang jadi saksi mata Kang Jaep lulus di sini, Kang Jaep melewati Jumanji kayak kancil aja, loncat sini-loncat sana, sambil merosot mencari lajur yang aman, hahaha. Hebat, Kang. 
Akhirnya, sekitar ¼ jam sebelum pukul 16, kami berhasil finish di Cirata (151 m dpl), tepatnya di sebelah timur waduk. Karena harus melewati sebuah sungai kecil, sekalian saja kami mencuci sepeda-sepeda kami yang berlepotan lumpur. Karena tidak ada spons, kami gunakan plastik-plastik yang terbawa arus sungai sebagai spons. Terima kasih buat para pembuang sampah plastik ke sungai. Ironi, ya. Setelah naik ke atas, baru sadar kalau di sekitar sungai ada rambu dilarang berenang. Mungkin untuk mengantisipasi kemungkinan permukaan sungai tiba-tiba naik. Wah, ngeri juga ya kalau kejadian. Setelah membereskan diri dan sepeda, sebelum maghrib akhirnya kami kembali ke Serang dengan perasaan puas dan ingin meremedial jalur Burata. Alhamdulillah. Terima kasih buat marshall-marshall asyik, Kang Jaep, Kang Haris, Kang Apoey, Kang Boy, dll. Juga terima kasih buat seksi sibuk Darman Slank, serta Om Didit dan Om Cep. Mudah-mudahan kita bertemu lagi dalam waktu dan gelombang yang berbeda tapi acara yang sama, yaitu gosik alias gowes asyik. Wassalam.

Mudah-mudahan awal Maret bisa ke Aquilla, Cianjur ya, insya Allah. 

Secara statistik, jalur Burata bisa digambarkan sebagai berikut: 
Ketinggian maksimum 1320 m dpl di hutan pinus Kp. Cipada, minimum 151 m dpl di waduk Cirata 
Total Ascent 203 m, Descent 1257 m 
Jarak tempuh 30,2 km 
Durasi 6 jam:56 menit, termasuk foto-foto dan ishoma.
Vertical profile of Burata Track
Peta Jalur Burata

Tuesday, May 05, 2015

Tanjakan KADUDAGO dan Turunan KAMASAN-ANYER

Bismillahi rohmaani rohiim, hari Jumat tanggal 1 Mei 2015 kemarin kami gowes May Day! Terima kasih kepada para buruh sehingga kami dapat libur. Tetap berjuang ya, semoga apa yang diharapkan seperti kenaikan UMP bisa terwujud.
Trio Geledek
Semula kami ingin gowes ke luar Banten, maklum sudah lama kami gak “jalan-jalan” berjamaah. Namun apa daya, beberapa goweser harus stand by di tempat kerjanya karena pabrik mau shutdown atau persiapan May Day supaya tidak anarkis, atau jangan-jangan sudah pada tahu bakal nanjak, jadi menghindari tanjakan ke Kadudago yang katanya asoy geboy itu. Akhirnya, kita jalan-jalan di Banten sajalah karena masih banyak tempat yang belum dijelajahi juga. SIM alias Surat Izin Menggowes sampai subuh sudah diterbitkan.

Sesuai masukan dari Om Yopie dan Om Didit dua minggu sebelumnya, saat ritual ke Puncak 45, kami putuskan akan nanjak ke Kampung Kadudago kemudian turun ke Kampung Kamasan, keduanya di Anyer. Barangkali masih ada goweser yang belum tahu di mana posissinya, karena kalau orang mendengar Anyer pasti terasosiasi dengan pantai. Padahal, di sebelah barat dari pantai Anyer terdapat dataran tinggi atau perbukitan yang dapat digunakan untuk jalur evakuasi kalau sewaktu-waktu terjadi tsunami. 
Titik start
Setelah sarapan di uduk Taman Puri yang katanya tempat favoritnya beberapa goweser ganjen, hehehe,,,, berempat kami start dari sini, yaitu Om Dono, Om Yopie, Om Didit, dan saya sendiri. Sedangkan Om Opik akan bergabung kemudian di Pasar Mancak. Saya dan Om Dono mengenakan jersi go green, sementara Abah dan Om Didit dengan jersi yang masih hangat, edisi geledek. Kami jadi tebak-tebakan, Om Opik nanti pakai jersi apa ya. Di uduk Puri ini pula Om Cupet mampir cuma untuk sarapan. Katanya dia sebetulnya sudah mimpi sarapan dengan rabeg dan semur jengkol di rumahnya Om Didit, namun apadaya belum rezeki ya, Om,,,, dapatnya nasduk saja, hehehe.

Rawa Danau nun jauh di sana @Panenjoan
Sepertinya kami sudah terbiasa gowes dengan 4-5 personil. Dulu waktu ke Tanjung Lesung edisi 2.0, kami hanya berempat, yaitu Om Dono, Om Agus, Om Mars, dan saya,,,, ditambah pengawalan forerider roda empat oleh Om Yopie yang saat itu sedang cedera kaki sehingga absen gowes. Pengurus teras semua tuh, hahaha. Lalu sewaktu ke Puncak Habibie, kami cuma berempat, yaitu Om Didit, Om Yopie, Om Prie, dan saya. Terus waktu trek penyesalan ke Rawa Danau, pun hanya berempat, yaitu Om Yopie, Pak RT Kang Ola, Om Pri, dan saya. 
Untuk menghemat waktu dan tenaga, kami naikkan sepeda-sepeda kami ke atas pick up sampai ke Panenjoan, titik start. Dari situ kami tinggal merosot saja ke Pasar Mancak. Sangat lumayan menghemat 20 km dengan jalur, walau jalan aspal mulus, lewat super tanjakan di Cilowong. Hampir di sepanjang Jalan Takari, kami lewati banyak goweser lain yang sedang khusyuk gowes menanjak ke arah Cilowong. Om Yopie sebagai ‘sesepuh’ goweser Serang tentunya di sepanjang jalan banyak disapa goweser-goweser tadi. Tak terasa, ternyata perjalanan ke Panenjoan singkat kalau sepeda di atas pick up, hanya sepeminuman teh. Padahal kalau gowes bisa hampir 2 jam, alias sepeminuman kopi, itu pun sampai kopinya dingin. 
Duo geledek diapit Go Green
Sekitar pukul 8.20 kami tiba di Panenjoan (365 m dpl), tepatnya di sebelah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat Cagar Alam Rawa Danau Jalan Raya Gunung Sari-Mancak Km.7. Oh,,, ternyata masih Jawa Barat ya? Kenapa tidak Banten? Ternyata hierarkinya seperti ini: Balai Besar KSDA Jawa Barat, Bidang KSDA Wilayah I Bogor, Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Resor Konservasi Wilayah I. Resor inilah yang di sini mengurusi Cagar Alam Rawa Danau dan Gunung Tukung Gede. Sepertinya di Provinsi Banten memang belum ada Balai Besar KSDA. Di kawasan ini, masih terjadi beberapa permasalahan, antara lain adanya tempat wisata ilegal, tempat kita bisa memandang lepas ke bawah kawasan Rawa Danau, sekaligus sampah yang dihasilkannya. Namun, sekarang sepertinya telah ditertibkan sehingga tidak ada lagi spot tadi, sampah, dan warung-warungnya. 
Selepas puas menikmati pemandangan Rawa Danau di bawah, kami segera lanjutkan perjalanan ke arah Pasar Mancak, tempat di mana Om Opik sepertinya sudah kesal menunggu kami yang tak jua muncul. Maklum dia sudah gowes dari Gerem pagi-pagi sekali dan sudah tiba di Mancak saat kami masih sarapan dan ngobrol di uduk Puri! Untungnya dia gak putar balik lagi, seperti saat perjalanan gowes ke Km. 0 Pulau Jawa di mercusuar Anyer, dulu. Menuju Pasar Mancak ibaratnya kami mendapat bonus sebelum bekerja karena jalanan terus-menerus turun sepanjang sekitar 6 km sementara kami belum berkeringat. Tak apalah, bonus dibayar dimuka. Saya sih kalau turunan gitu selalu bisa menyusul. Bukan apa-apa, ternyata berat badan dikombinasikan dengan gravitasi sangat mendukung kecepatan. Sampai Om Didit bingung, kalau saya selalu menyusul dia saat turunan, hahaha. Belum ketemu Om Opik saja, lebih kencang loh di turunan. 
Sekitar 20 menit kemudian, sampailah kami Pasar Mancak (190 m dpl) dan Om Opik pun siap bergabung. Ternyata dia memakai jersi geledek, hahaha. Ternyata pula, odometer dia sudah menunjukkan lebih dari 15 km dari Gerem, padahal kami yang dari Panenjoan masih pada segar nih. Jangan dijadikan alasan capek ya, Om, hehehe. 
Kami lanjutkan perjalanan menuju ke Pasar Anyer dengan lapisan aspal nan mulus yang konturnya cenderung roller coaster. Ini berarti turunan mantap akan selalu diikuti dengan tanjakan pada akhirnya. Masih enjoy karena masih pagi, sampai berakhir sekitar pukul 9.30 di simpangan jalan baru Tegal Cabe, Kp. Hamurang (60 m dpl), sebelum Pasar Anyer, sekitar 8 km dari Pasar Mancak. Di sini kami menemukan sebuah warung gorengan dan teh manis yang penjualnya kali ini bukan teteh, tapi akang. Penonton kecewa, hehehe. Tapi emang pisang gorengnya enak sih walaupun digoreng sama si akang. Saya cek kecepatan maksimal dari trek yang kami lalui tadi mencapai 60 km/jam. Lumayan kalau buat saya sih. Om-Om mungkin banyak yang lebih cepat. 
Kadudago di belakang
Perjalanan selanjutnya menuju Kp. Jaha melewati jalan baru, kemudian jalan alternatif yang menghubungkan Anyer dengan Labuan. Dari sini, tujuan kami sudah tampak tinggi menjulang di perbukitan di belakang. Pun tampak menara relay stasiun TV di kejauhan. Namun, walau terlihat tinggi, tidak sampai menimbulkan rasa gentar seperti penampakan tanjakan ke Kedurung yang dari arah Grogol-Cilegon sudah kelihatan seperti garis perak tipis nun di atas bukit. Melihatnya saja ngeri, bagaimana menaikinya, eh maksudnya mendorong sepeda ke sana. 
Arah ke Kp. Jaha, Anyer
Memasuki sebuah perkampungan selanjutnya, kondisi jalanan makadam dengan sawah dan air mengalir di kanan-kiri mengingatkan kami pada suasana alam Baros. Ternyata eh ternyata, desa ini bernama Desa Sindang Mandi, Kecamatan Anyer, identik dengan nama desa yang serupa di Kecamatan Baros. Dari sinilah tanjakan dimulai. 
Scattered dibaca skateboard
Jalanan selebar 3 m berlapis aspal hotmix mulus dengan kiri-kanan kebun penduduk, terasa seperti di Kp. Cipala, Merak. Jadi ingat dulu sewaktu nanjak ke Cipala terasa berat karena harus menggendong plastik berisi pohon-pohon untuk ditanam di atas bukitnya. Pemandangan dari atas pun hampir sama dengan di Cipala. Di sini kami bisa melihat Anyer, mercusuarnya, lautan lepas Selat Sunda dikawal Gunung Krakatau, Pulau Sebesi, dan Pulau Sumatera di kejauhan. Bandingkan dengan pemandangan serupa dari Cipala, yang kita bisa melihat Merak dan Bojonegara, dan lautan lepas Laut Jawa. Hampir sama. 
Gunung Karakatau, Selat Sunda  di belakang. Gak tampak ya...

Selepas pukul 11, setelah nanjak sekitar 1,5 km, kami tiba di Kp. Kadudago (251 m dpl), check point pertama. Sekilas suasana di sini terasa seperti di Kaduengang (824 m dpl), Pandeglang, yaitu sama-sama tempat bersemayamnya pada highlander, walaupun ketinggiannya benar-benar berbeda. Bedanya lagi, kalau dari Kaduengang kita melihat Kota Serang dan Pandeglang di kejauhan, kalau dari sini kita melihat Anyer dan laut lepas. Di sini pula kami sholat Jumat terlebih dahulu. Goweser juga ingin masuk surga, kata Pak RT Kang Ola mah. 
Sehabis sholat kami mencari warung yang menjual nasi setidaknya intel alias indomie telor.
Kadudago!
Namun, tidak ada penjual makanan dan kalaupun ada warung yang jual indomie, kata si ibu pemiliknya, gasnya habis, belum ada kiriman lagi. Wah, gimana ini, mau diajak nanjak perut gak diisi nasi. Kasihan Om Opik yang merindukan nasi. Akhirnya, perut cukup diganjal dengan donat buatan kampung, piscok, dan kacang-kacangan. Mudah-mudahan cukup untuk menambah energi. Uang di sini gak laku, ada uang gak ada barang (baca: nasi). 

Sekitar pukul 13, karena tidak berhasil mendapatkan makan siang, kami lanjutkan perjalanan ke menara relay TV. Baru saja lepas dari Kp. Kadudago, kami disambut jalanan berbatu-batu yang menanjak yang membuat sepeda sulit digowes. Akhirnya yuk kita TTB. Tidak lama, sekitar 20 menit kemudian, sampailah kami di check point kedua, yaitu menara relay TV RCTI dan SCTV Cilegon (307 m dpl).
Tentu saja kami mengabadikan situasi di sini, kecuali Om Opik yang sepertinya mimpi ketemu warung indomie, di pos satpam kawasan ini. Oh ya, sampai sini, sepeda kami masih bersih-bersih loh. 

Lima pengelana kelaparan
Hip Hip Hura,,,, di tower Kadudago
Lebih dari setengah jam foto-foto, kemudian perjalanan kami lanjutkan menuju Kp. Kamasan, melewati trek tunggal. Wah, kayaknya asyik nih. Jarak baru sepelemparan tombak saja, ketika beruntung kami bertemu penduduk setempat yang sedang panen kelapa muda. Ya sudah, kami ikut panen juga, terutama juga setelah ada permintaan khusus dari Om Opik. Ini seolah peribahasa, tak ada indomie, kelapa muda pun jadi. Alhamdulillah segar. Kata Om Didit, kelapa airnya banyak ya, gak habis-habis. Padahal  sepertinya perutnya sudah kembung dan ingin segera melahap daging kelapanya yang aduhai. 
Alhamdulillah dapat klamud, suweger....
Setelah badan terasa lebih segar kembali, kami lanjutkan perjalanan. Barulah terasa di sini, betapa bekas hujan beberapa hari sebelumnya cukup membuat jalanan tanah yang kami lalui licin dan becek. Mana (bekas) hujan, becek, gak ada ojek. Di beberapa bagian jalan, penduduk setempat membuat pagar dari bambu untuk menghalangi jalan supaya pemotor tidak lewat situ. Ini supaya roda-roda motor yang besar bermotif tahu dengan tarikan gas sekuat-kuatnya akan membuat jalan menjadi semakin hancur, cur, cur. Kalau sepeda sih, tinggal diangkat saja melewati pagar itu. Lupa saya tidak memfotonya. Maklum lagi ngos-ngosan. Kondisi jalan memang parah, karena ban-ban sepeda kami menjadi donat, dan ungowesable alias tidak bisa digowes. Walau demikian, parahnya tidak sedahsyat saat ke trek penyesalan Rawa Danau. Dulu, masukkin sepeda ke lumpur, udah bisa berdiri sendiri tanpa standar, saking beceknya seperti bumbu pecel. Bicara tentang standar, sepertinya standar sepeda terasa perlu saat kita memfoto dengan pengatur waktu tapi tidak bawa tripod, karena kamera disimpan di sadel sepeda yang sedang berdiri tegak tadi. 
Walau lapar masih tabah
Sebelum berangkat ke Kadudago, saya mengunduh peta GPS dari situs Every Trail. Terima kasih, Om Icall telah mengunggahnya. Kami jadi tinggal mengikuti saja peta tersebut walaupun tidak sampai 100%, karena kami finish di Pasar Sirih, alih-alih di Curug Sawer seperti peta tersebut. Setiap ada persimpangan jalan di dalam hutan, biasanya saya cek apakah kami sudah on the track atau tidak. Kecuali ada satu persimpangan yang luput. Entah mengapa saat di belokan itu, GPS pas ada di saku dan saya tidak teliti melihat jalur. Akibatnya, kami sempat salah jalan sekitar beberapa kilometer. Tidak terlalu jauh sebetulnya, cuma karena kondisi jalan sangat becek, membuat kami harus TTB dan memakan waktu lumayan lama. Sudah ada sih patokan check point 3 di atas puncak bukit, dan kami berusaha mencapainya dengan mengikuti jalur baru, namun karena GPS tidak dilengkapi topografi, jadi tidak ketahuan jalan di depan akan memutar ke arah mana, akan menaik atau menurun, gelap, sementara tebing dan jurang di sisi kami. Memang ada jalan setapak di jalur nyasar yang kami lalui tetapi tampak jarang dilewati oleh manusia. Terlalu rimbun.
 Untuk mengurangi risiko nyasar yang semakin jauh, terpeleset ke bawah jurang, kami ambil keputusan untuk putar balik ke jalur semula. Lapar kian menggerogoti. Persediaan air minum pun semakin menipis. Om Opik makin berhalusinasi karena belum ketemu nasi dan mencoba mengajak ke jalur yang kata penduduk di situ, lebih pendek menuju Anyer. Tapi jalur itu memang belum peta GPS-nya. Lagipula kami kan belum merasakan merosot di turunan single track yang katanya asoy geboy tadi ke arah Kp. Kamasan. Jadilah kami keukeuh menuju ke check point 3 di atas bukit. Oh ya, di jalur nyasar tadi, kami bertemu dengan rombongan pemotor penduduk setempat yang sedang ‘merusak’ jalan. Bagaimana tidak, jalan yang super becek, digerus oleh ban-ban tahu yang selip. Ayo, Mang, lanjutkan! Diukur-ukur, ternyata kami nyasar cuma 0,5 km dikali dua karena bolak-balik, alias cuma 1 km, tapi terasa jauh amat ya, Om. 

Titik tertinggi
Penunggu puncak
Check point 3 (458 m dpl). Jam menunjukkan 15 menit menjelang pukul 16. Udah sore euy, mana belum sholat ashar. Om Opik khawatir kalau kami sampai kemalaman di dalam hutan. Inilah puncak dari bukit yang kami tuju sekaligus akhir dari tanjakan yang menyiksa tadi. Untungnya di sana ada beberapa batu besar yang pas digunakan untuk meluruskan tulang punggung. Saya dan Om Opik langsung tepar. Yang lain masih sempat foto-foto. Hebat euy. Udara di sini sangat sejuk karena banyaknya dedaunan dari pohon-pohon yang besar. Tidak tahu, sepertinya banyak juga jinnya di sini. 
Ternyata cuma 2 km saja dari tower tv tadi sampai ke puncak ini, tapi dibutuhkan waktu lebih dari 3 jam mencapainya, gimana Om Opik gak lapar, coba, hahaha. Nah, Om, dari sini tinggal menurunkan seat post saja, menikmati bonus turunan sampai ke Kp. Kamasan.
Om Opik sudah pengen pulang
Om Didit konsentrasi banget atau tegang inih?
Tidak berlama-lama di sini, kami mulai bisa gowes menyusuri single track yang masih sama, yaitu licin dan ada bekas ban motor di banyak tempat sehingga membuat ban-ban sepeda sering selip. Beberapa kali terpaksa sepeda berbelok dengan ban belakang karena selip tadi. Asyik sebetulnya. Tinggal kami harus lebih hati-hati saja. Saya sampai seperti jarum jam saja saat selip. Tangan kiri memegang pohon, tangan kanan memegang sepeda, terus muter deh. Kalau menggunakan sepeda FR, DH, atau AM, turunan ini akan terasa lebih mantap! Nih, trek gorolong ini sepertinya favorit Om Cep yang selalu memertanyakan kenapa orang-orang masih senang nanjak di usia seperti sekarang, hahaha. Yah, yang lain mah masih muda, Om, seperti saya, termasuk Abah Yopie, masih awet muda. Di beberapa jalur, kami sempat ragu karena walaupun on the track, tetapi kondisi jalan sudah dipenuhi ilalang dan tampak jarang dilewati manusia. Namun, bismillah kami tetap lewati jalur itu, dan alhamdulillah beberapa saat kemudian terlihat tanda-tanda kehidupan. 
Akan lebih mantap kalau kondisi tanah tidak terlalu licin seperti sekarang. Jadi, masukan saya, kalau Om-Om mau remedial ke sana, saya sarankan saat musim kemarau saja, supaya lebih nikmat dan terasa sensasi turunannya. Keasyikan di turunan single track ini sepertinya tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Sok cobian weh lah. Saya cek panjang turunan single track ini sekitar 4,6 km sampai dengan batas bawahnya di 88 m dpl. Lumayanlah kalau buat saya mah
Sampai di Kp. Kamasan, kami melihat manusia, kehidupan, dan jalan yang berlapis aspal seperti melihat emas, hahaha. Kami putuskan untuk langsung menuju Pasar Sirih untuk sholat ashar dan ketemu teman lamanya Om Opik, yaitu nasi. Menjelang pukul 17, di Pasar Sirih, karena perut sudah begitu lapar, kami makan dulu. Nasi padang sepertinya paling cocok karena gampang dan cepat. Padahal, sepertinya makanan apapun saat itu pasti akan terasa enak, saking laparnya. Setelah kenyang, kami sholat ashar dan istirahat sebentar sambil menunggu sholat magrib. Saya cek GPS, tripmeter kami hanya 30 km padahal sudah 8 jam kami jalan-jalan. #Oow,,, we're in trouble.
Selepas magrib, niat kami akan mencari pick up untuk evakuasi kembali ke Serang. Namun, karena tripmeter masih menunjukkan 30 km, kami tamboh cie gowes dulu ke Pasar Anyar. Lagian jalannya mulus dan datar koq, apalagi tadi kan sudah ketemu teman lama, si nasi tea
Mainan baru Om Didit
Siap-siap NR nih. Lampu-lampu sepeda disiapkan. Om Didit yang punya mainan baru, yaitu lampu belakang yang memiliki sinar ala laser berwarna merah sebagai pembatas jalur sepeda dari Om Mars, kami tugaskan sebagai sweaper, sementara Abah di depan. Sampai di Pasar Anyer, kami putuskan untuk terus gowes setidaknya sampai Cilegon, sambil mengawal Om Opik. Namun, memasuki kawasan industri selepas Pasar Anyer, kami harus berhadapan dengan kendaraan-kendaraan super besar, kalau dibandingkan sepeda-sepeda kami. Karena gelap, polusi asap knalpot yang sebenarnya tebal, tidak terlihat, hanya bisa dirasakan, uhuk...uhuk.... Banyak tantangan kalau melewati kawasan ini. Apalagi saat truk-truk menyusul, grogi rasanya. Sepeda terpaksa beberapa kali harus keluar jalur. Ngeri. Sementara Abah Yopie dan Om Dono sudah ngacir duluan. Beberapa kilometer setelah melewati gerbang masuk ke Pelabuhan Cigading, akhirnya, saya, Om Didit, dan Om Opik menyerah. Om Didit langsung menelpon temannya untuk mengevakuasi kami yang menunggu di ****mart di Ciwandan (16 m dpl). Risikonya terlalu tinggi kalau harus bertahan melawan truk. Abah Yopie dan Om Dono yang tadi sudah ngacir duluan sepertinya sudah tiduran di atas rumput di sekitar gerbang masuk kawasan industri KIEC. Sampai finish, lumayan menambah tripmeter menjadi 50 km. Malu lah kalau cuma dapat 30 km padahal waktu tempuh jalan-jalan keseluruhan mencapai 12 jam! Hahaha, parah.
Resah dan gelisah menunggu bala bantuan

Singkat cerita, dengan menumpang pick up, setelah mengantar Om Opik ke Gerem, kami langsung menuju Serang. Saya sendiri tiba di rumah sekitar pukul 22.30. Belum memecahkan rekor saat harus pulang sekitar tengah malam sehabis ekspedisi curug Lawang dulu. Walau demikian, kesimpulan akhir, saya, Om Dono, Abah Yopie, dan Om Didit sih YES. Om Opik bagaimana? Yes juga, kan?







Nih, beberapa hasil pemetaan treknya di bawah ini.

Profil turunan single track Kp. Kamasan

Profil tanjakan ke Kadudago

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons