Thursday, April 19, 2012

GOWES BARENG KE RUMAH HUTAN CIDAMPIT BERSAMA KAV. C1, JAKARTA

Untuk kali ke sekian, SXC2 kembali mengadakan gowes bareng dengan komunitas lain. Kali ini, bersama rombongan dari bilangan Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang menamakan dirinya Kav. C1 yang berkekuatan 15 orang, kami akan menuju trek Cidampit sampai ke Rumah Hutan dan kembali ke Serang melalui Kp. Tongleng di Desa Pancanagara, kemudian menyeberangi Kali Banten. Sudah beberapa kali kami mengeksplorasi trek ini bersama komunitas goweser lain, seperti bersama Kapolda Banten dan jajarannya, Robek Bekasi, Genjot Pajak (GP), Koskas Jakarta Selatan, dan lain-lain. Rombongan Kav. C1 sendiri terdiri dari goweser cabutan dari beberapa komunitas dipimpin oleh Om Richard.

Di lain pihak, SXC2 kali ini digawangi oleh 11 goweser yang berkategori 4L alias “Lu Lagi Lu Lagi”, yaitu Om Dono, Om Agus, Om Opik, Om Pri, Omars, Om Didit, Om Agung, Om Ras (apa kabar, Om?), Om Vito, Om Yopie, dan saya sendiri, Flash.
Untuk menghemat waktu, rombongan dievakuasi terlebih dahulu ke Paninjoan untuk memulai
gowes dari sana menuju ke Kp. Pereng sambil melakukan pemanasan. Di pertigaan Gunung Sari, sudah bersiap Om Agung, Om Ras, dan Vito. Maksudnya sih, supaya tidak ada anggota rombongan yang bablas ke Gunung Sari. Namun, ternyata sweaper, Om Pri dan Om Opik keluar dari skenario. Mereka malah lewat jalan pintas. Jadilah ketiga orang tadi kebingungan, mengapa rombongan terakhir tidak juga datang. Untung sudah ada teknologi ponsel, jadinya gampanglah memanggil mereka untuk segera bergeser ke Kp. Pereng.
Memasuki trek makadam yang sebagian besar adalah turunan, mulai Kp. Pereng sampai dengan memasuki trek tunggal, tidak menjadi masalah buat teman-teman Kav. C1 . Demikian pula ketika melahap trek tunggal Cidampit. Kalau saya lihat, hal ini karena rombongan sudah makan asam garam di dunia pergowesan dengan didukung tunggangan yang baik.
Secara keseluruhan, trek tunggal Cidampit sangat bersahabat kali ini karena tidak terlalu basah sehingga memungkinkan sepeda-sepeda kami tetap digowes pada saat melahap tanjakan. Hambatan tampak pada hanya beberapa
goweser saja ketika tanjakan yang licin karena lumut dan bekas hujan beberapa hari sebelumnya. Di beberapa titik, karena trek seperti kubangan kerbau yang sepertinya basah abadi, terpaksa sepeda-sepeda kami tuntun. Belum lagi, ban-ban motor model tahu dari rombongan motor trail ikut andil merusakkan beberapa bagian trek Cidampit ini. Lumayan memberikan tantangan tersendiri bagi goweser.
Setelah menghirup segarnya oksigen yang jumlahnya tak terbatas yang disediakan hutan Cidampit, sekitar pukul 11.30, seluruh anggota rombongan tiba di Rumah Hutan. Kelapa muda sudah tersedia dan tentu saja maksi yang disiapkan oleh Om Didit, Seksi Pengembangan Usaha sekaligus Seksi Konsumsi, jabatan satu-satunya di SXC2 heheheh....., dengan salah satu menu andalannya, semur jengkol.
Sangat padat hari itu suasana di Rumah Hutan karena selain kami yang berkekuatan 26 orang, ada juga rombongan lain yang berisoma di sana, dari Komplek Permata dan Jasa Marga, Serang dan Lion Air dari Jakarta. Total hampir 200 orang
goweser menikmati sejuknya Rumah Hutan.
Perjalanan kembali ke Serang melalui Kp. Tongleng di Desa Pancanagara, Pabuaran dan kemudian menyeberangi Kali Banten. Trek tunggal yang mengarah ke sana berkarakteristik cepat sehingga sebetulnya kami bisa ngebut. Hanya sayang, karena sudah agak lelah, tidak secepat yang diinginkan. Yang jelas panas sudah sangat menyengat. Om-om dari Kav C1 yang biasa bermain di Nura dan TW yang suwejuk tampak kepanasan. Jangankan mereka, kami saja yang lahir dan besar di Serang, kepanasan juga hehehe…… Menjelang Kp. Tongleng, Pancanagara, jalan desa yang dahulu dilapisi aspal hotmix, sekarang berganti pasir kering berbatu-batu. Kerusakan masif jalan ini disebabkan oleh truk-truk berat pengangkut pasir basah yang baru ditambang di sana. Terbayang kalau baru hujan, pasti kondisi jalan akan berlapis lumpur. Luar biasa. Kata Om Yopie dengan bijak, sabar saja karena itulah risiko gowes MTB.
Sampai di Kali Banten sekitar 15 menit menjelang pukul 15. Omars seperti biasa nyebur ke sungai. Kalau anda dahulu pernah melewati kali ini, pasti terbayang air yang bersih dengan debit air yang deras akan kami lalui. Bayangan anda salah besar! Sekarang, air menjadi kotor karena limbah penambangan pasir dan tentu saja menjadi dangkal karena sedimentasi. Tapi ada yang tidak berubah, yaitu banyaknya anak-anak kampung di sini yang menawarkan jasa ojek (dorong) sepeda. Ya, kami memang harus menaiki tanjakan terjal setinggi 42 m sepanjang 338 m dalam kondisi lelah. Tidak mungkin digowes. Akhirnya, minta pertolongan anak-anak kampung setempat untuk mendorongkan sepeda.
Akhirnya kami menemukan lagi jalan berlapis aspal di Kp, Serut, di Jalan Raya Bongla. Perjalanan kami lanjutkan dan mampir sejenak ke rumah Om Tim di Kp. Tembong. Oh ya, sebagian anggota rombongan Kav. C1 memang teman-temannya Om Tim. Kami disuguhi es teh manis dan makanan ringan. Trims, Om Tim!
Tiba kembali di tikum menjelang ashar, anggota rombongan pun segera menyiapkan diri dan sepeda-sepeda mereka untuk kembali ke Jakarta. Sementara, kami SXC2 kembali ke rumah masing-masing. Semoga om-om menikmati perjalanan gowes kali ini.

Catatan statistik perjalanan kali adalah sebagai berikut:
TRIP ODOMETER 33,91 KM
MAX SPEED 47,1 KM/JAM
MOVING TIME 2:52 JAM
MOVING AVERAGE 11,7 KM/JAM
TOTALTIME 7:03 JAM
MAX ELEVATION 357 M
TOTAL ASCENT 438 M
CALORY BURNED 2564 KCAL.

Profil trek di Google Earth adalah sebagai berikut:


Profil Vertikal trek adalah sebagai berikut:

Wednesday, April 11, 2012

SUSUR KAKI GUNUNG KARANG

Tiada peribahasa yang tepat untuk menggambarkan perjalanan gowes hari Jumat tanggal 6 April 2012 kemarin menyusuri kaki Gunung Karang selain “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. Bagaimana tidak, setelah dihadang tanjakan dengan total elevasi sampai 1000m sejauh 32km, termasuk melahap makadam dalam kondisi perut lapar di tengah hutan, akhirnya kami mendapat megabonus turunan berlapis aspal hotmix halus sejauh hampir 10km dari ketinggian sekitar 700 m sampai 260-an m dpl.

Hari itu, kami berduabelas: saya, Omars, Omiyan dan apprentis-nya yang selalu dia tinggalin di belakang Taufik Yamammoto san, Om Yopie, Om Didit , Om Opik dan partner satu-RT-nya Om Aris , Vito dan kompatriotnya Eriz, keduanya dari Untirta, Romy salah satu dedengkot Bike to School, dan Pak Arief yang dulu biasa kami sebut Arief Askes karena prinsipnya Askes alias Asal Kesangan (asal keringatan) mengambil start di KPP Pratama Serang (+71m dpl) seperti biasa . Tambahan Pak Yusman yang bergabung kemudian di Tembong.
Rencananya kami akan menikmati sejuknya air pegunungan di kolam Cikoromoy, Pandeglang, melihat situs batu Qur’an, dan sekalian mampir ke sawahnya Pak Arief di Kp. Cihideung, Cimanuk untuk makan siang. Kegiatan kali ini termasuk ke dalam kategori ‘
event’, sehingga rute perjalanan tentunya menjadi lebih panjang dan berat dibandingkan gowes rutin biasa setiap akhir pekan. Di sini, stamina dan mental harus lebih dipersiapkan. Para goweser pun tidak perlu mengeluh, kita sama-sama nikmati saja beratnya trek, toh tidak setiap minggu dilakukan. Salut untuk Om Yopie yang walau lebih senior dari kami semua, tetapi tetap semangat melawan tanjakan! Untuk penyuka trek ringan, kami lakukan gowes luhlang yang hampir tiap minggu digelar, baik ke Cibangkong, jalur 45, Pulau Burung, Kawasan Banten Lama, dan lain-lain.
Balik ke laporan perjalanan. Karena pagi itu sempat ‘gerimis mengundang’,
start pun menjadi molor, yaitu menjelang pukul 8. Santai sajalah, namanya juga piknik. Jalur yang akan diambil seperti biasa melewati Karundang, Tembong, Jalan Raya Palka sampai dengan Ciomas. Semuanya lancar-lancar saja di Jalan Raya Bongla sampai Omars membuka helm-nya. Beberapa saat kemudian, seorang bocah perempuan tanpa merasa bersalah memanggilnya, “Ayah!” Nah lo,,,, bagaimana bisa? Yang dipanggil bukannya berhenti, malah kabur, hahaha…… Goweser yang lain jangan-jangan merasa waswas juga, takut ada yang memanggil ayah atau bahkan abah.
Kami sebenarnya malas melewati beberapa titik di Jalan Raya Palka yang rusak karena penambangan pasir. Bila dalam perjalanan
gowes mengelilingi Gunung Karang ke Mandalawangi sebelumnya, kondisi kering dan sangat berdebu sehingga menyesakkan dada (baca di sini). Kondisi kemarin berbeda, yaitu becek seperti jalanan ke kampung-kampung terpencil karena debu yang masif tadi terguyur air hujan sebelumnya. Pasti membuat gondok pengendara motor dan mobil yang lewat situ yang baru mencuci kendaraan mereka. Yah, namanya rakyat biasa, berdebu atau pun becek, kami lewati juga jalan jelek itu sampai ke Ciomas.
Tiba di Kp. Pondok Kahuru, sekitar pukul 9.40, kondisi jalan yang sebelumnya adalah Pasar Ciomas, sekarang lancar kami lalui dibandingkan saat
gowes ke Mandalawangi. Selidik punya selidik, ternyata pasar sudah direlokasi ke Jalan Raya Ciomas ke arah Cadasari-Pandeglang dengan bentuk, yang kalau saya lihat, lebih baik.
Jalan Raya Ciomas-Cadasari sendiri sangat mulus, berlapiskan aspal
hotmix, dikawal pohon-pohon berdaun lebat di kiri-kanan menyuplai oksigen tak terbatas. Sangat menyegarkan. Ijo royo-royo. Saking mulusnya turunan, rombongan depan keenakan dan bablas sampai ke dekat markas Yonif 320 Badak Putih, Cadasari dan melewatkan belokan ke arah titik pemanjatan di simpang Kp. Mandeg (+363m dpl), meninggalkan Om Yopie dan Vito sebagai penunjuk jalan di belakang. Sepertinya ada yang salah. Akhirnya, rombongan depan pun terpaksa putar balik walaupun sedikit menanjak.
Dari simpangan ini, pendakian dimulai. Melalui jalanan makadam curam. Cukup memberatkan mengayuh sepeda. Bahkan, beberapa
goweser sudah mulai mengalami demoralisasi, bahkan halusinasi, hahaha,,,, sampai berpikir untuk putar balik saja ke Cadasari. Padahal, kampung terdekat, yaitu Kp. Kaduela hanya berjarak 1,7km saja, walaupun medannya tidak bisa dibilang ringan juga. Akhirnya, perjalanan kami teruskan karena harus dapat mengejar solat Jumat di sana.
Ada yang ‘kurang biasa’ pada prosesi solat Jumat di Masjid At Taqwa-Kp. Kaduela (+516m dpl), yaitu khotbah menggunakan bahasa Arab, tanpa bahasa Indonesia, dan para jamaah setempat melakukan solat dzuhur lagi secara berjamaah seusainya. Ini persis dengan solat Jumat di Kp. Cibungur sewaktu kami gowes ke Ciboleger-Baduy dulu. Silakan lihat di sini.
Karena keterbatasan waktu dan untuk mengejar makan siang di sawah Pak Arief di Kp. Cihideung, selepas solat jumat kami putuskan untuk tidak melewati Kp. Kaduenggang (utang nih, harus dibayar kapan-kapan ke sana), tetapi langsung menuju Desa Pasir Peuteuy melalui Kp. Kadujeruk (+504 m dpl) dan Kalapasan (+709m dpl), dengan cara mengambil jalan pintas memotong hutan dan kebun-kebun penduduk. Setelah Kp. Kadujeruk, kondisi jalan tiba-tiba berubah menjadi makadam dengan batu-batuan besar sehingga sulit bagi
goweser untuk mengayuh. Apalagi tanjakan terus menantang seakan tak akan habis. Perut sudah lapar, sementara tidak ada warung satu pun. Memasuki kebun-kebun penduduk dan hutan-hutan, benar-benar tantangan sendiri karenanya.

Untunglah rombongan belakang bertemu dua anak pemilik kebun yang langsung saja kami tawar kepala mudanya. Alhamdulillah, beberapa butir kelapa cukup menambah energi bagi kami melanjutkan perjalanan. Saya makan dua! Sementara, rombongan lain sudah menunggu di Kp. Kalapasan dengan lama hehehehe…. Oh ya, kampung ini merupakan titik tertinggi yang kami datangi kali ini. Lumayan memecahkan rekor sebelumnya ke menyusuri Gunung Karang ke Mandalawangi yang hanya mencapai 504m dpl.
Dari Kp. Kalapasan, bonus turunan mulai akrab dengan kami. Jalan pun berlapis aspal
hotmix mulus sampai ke pertigaan dekat kantor Desa Pasir Peuteuy (+700m dpl). Setelah rombongan lengkap, mulailah kami menikmati megabonus turunan mengular sejauh 9,74km dari ketinggian 707m dpl ke 261m dpl atau kami meluncur setinggi 446m sampai ke alun-alun Pandeglang. Jalanan masih mengular. Luar biasa. Mungkin bagi goweser yang tinggal di dataran tinggi, bonus ini mungkin tidak seberapa. Tapi bagi kami yang tinggal di dataran rendah, hal ini sangat memuaskan, tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Tiba di alun-alun Pandeglang 15 menit menjelang pukul 15. Wah, waktu makan siang sudah lewat, mana masih harus
gowes ke Cihideung. Walau demikian, dengan sisa-sisa tenaga, kami tetapkan hati mampir ke sawahnya Pak Arief. Dan memang tidak sia-sia. Kami disuguhi ikan bakar dan nasi gonjlengan yang serbaorganik ditambah sambal kacang plus honje oleh tuan rumah dan Om Mex Igo. Prasmanan dilakukan di atas daun pisang di pinggir sawah diiringi suara gemericik air mengalir. Hal yang sangat mahal bagi kami. Hilanglah semua penat yang ada. Terima kasih banyak untuk Pak Arief dan Om Mex Igo atas suguhannya. Insya Allah kami tidak kapok dan kami harapkan om-om juga demikian, hehehe…..
Setelah semua kenyang, Om Yopie pun sudah melakukan prosesi penguatan betis supaya tetap kencang dipakai gowes, sekitar pukul 16.30 saatnya kami kembali ke Serang. Namun sayang, karena sudah terlalu sore, rencana kami nyebur di Cikoromoy dan melihat batu Qur’an menjadi batal. Ini juga menjadi utang SXC2 selanjutnya, kapan akan
gowes ke sana.
Di tengah perjalanan, dengan kecepatan sekitar 20km/jam, tiba-tiba kami disusul oleh Pak Arief dengan kecepatan yang saya taksir sekitar 60km/jam. Nanti dulu, bukan karena dia sudah ‘
ngagonjleng’ sehingga bisa ngebut secara otomatis, tidak. Ternyata, dia menumpang di sebuah mobil pick up, hahaha. Katanya kakinya sudah mulai tidak bersahabat lagi. Ya sudah, hati-hati di jalan, Pak! Kami juga disusul Pak Agung. Namanya tidak saya sebut dari awal karena memang dia tidak ikut gowes. Dia menyusul menggunakan mobil dengan keluarganya. Mungkin dari Carita atau Anyer?
Sampai di alun-alun Pandeglang lagi sekitar pukul 17.30, rombongan menambah persediaan air dan melanjutkan perjalanan balik ke Serang. Angka statistik di sini menunjukkan
trip odometer 60,6km, kecepatan maksimum 49,1km/jam, waktu gowes efektif 4jam:50 menit, kecepatan rata-rata 12,6km/jam, total waktu perjalanan 10jam:45menit, ketinggian maksimum 710m dpl, total ascent 1170m! Dari sini, GPS off karena saya harus memisahkan diri dari rombongan dan gowes soliter ke Rangkasbitung karena harus sowan ke rumah orang tua. Namun, kalau dihitung perjalanan ke Serang sejauh 23,2km, maka total jarak menjadi 83,8km, waktu gowes efektif 5jam:45 menit, dan kecepatan rata-rata 14,6km/jam.
Demikianlah perjalanan kami kali ini dengan masih menyisakan utang yang belum lunas, yaitu menyambangi Kp. Kaduenggang dan kolam pemandian Cikoromoy. Yuk, berangkat lagi!
Wassalam.

Ini adalah peta bumi keseluruhan perjalanan kami:


Profil vertikal:


Peta mulai tanjakan makadam di Kp.Mandeg s.d. turun ke Alun-alun Pandeglang


Monday, April 02, 2012

(HAMPIR) BATU LAWANG!

Nun, di atas bukit Gerem, terdapat tempat wisata alam bernama Batu Lawang. Batu ini berbentuk seperti kodok, berukuran besar, dan berada di puncak gunung yang membelah dua gunung, yaitu Gunung Batur dan Gunung Gede yang merupakan perbatasan antara Merak dengan Bojonegara, tepatnya terletak di Gunung Pengobelan. Dari sana kita bisa lihat celah-celah bebatuan yang sangat besar. Makanya, nama Batu Lawang diambil dari batu yang sangat besar yang membelah kedua jalan Gunung Batur dan Gunung Gede yang dijadikan pintu atau lawang. Sayang, karena keterbatasan waktu, kami belum sampai ke sana, tetapi hanya sampai tempat peristirahatan berupa tiga buah gazebo untuk menikmati pemandangan ke arah lembah dan lautan luas.

Gazebo-gazebo atapnya berwarna biru kontras dengan hijaunya pohon-pohon di sekitar ini berada di sebuah tempat terbuka di lereng bukit pada ketinggian 342 m dpl. Dari sana, kita bisa menikmati pemandangan terbuka sampai batas horizon ke arah lembah, yaitu Kota Cilegon, Pelabuhan Merak, dan Pelabuhan Bojonegara di kejauhan. Sementara, Gunung Karang tampak gagah mengawal kawasan konservasi Rawa Danau. Sungguh luar biasa indah ciptaan Allah SWT. Subhaanallah. Lokasi ini juga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi tempat take off olah raga gantole dan paralayang. Mata kita juga dimanjakan dengan melihat burung-burung elang yang terbang rendah sambil mengajarkan anak-anak mereka berburu mangsa. Tidak jarang mereka terbang lebih rendah daripada tempat kita memandangnya. Luar biasa.
Untuk mencapai ke sana, kita harus melalui Kp. Purud Lampung (+315 m dpl) terlebih dahulu yang jaraknya tidak jauh dari Kp. Gerem, hanya 6,53 km saja. Tapi jangan senang dulu. Walau dekat, kita harus gowes menanjak setinggi 309 m dari ketinggian 7,1 m dpl di Jalan Raya Merak ke 316,4 dpl di Kp. Purud Lampung. Bisa dibayangkan beratnya perjuangan meng-gowes. Sampai-sampai, tidak semua tanjakan bisa lulus di-gowes. Biasa sih…. Untungnya, sebagai besar jalan sudah dilapisi aspal hotmix, jadi sedikit membantu memudahkan kami. Jadilah sekitar 1 jam 30 menit kami baru bisa mencapai Kp. Purud Lampung, dengan kecepatan rata-rata hanya 4 km/jam!!! Padahal kalau kita balik jalurnya, paling cuma 10 menit sampai Jalan Raya Merak lagi. Perjalanan lain ke sini sebelumnya bisa dilihat di sini.
Menuju gazebo tadi dari Kp. Purud Lampung, jauhnya hanya sekitar 700 m. Namun sayang, sampai saat ini belum dimungkinkan gowes sepeda ke sana karena di beberapa tempat, jalan hanya cukup untuk kaki kita, sementara di kiri-kanannya tebing dan lembah. Jadilah kita seperti goweser tanpa sepeda seperti perjalanan ke Ujung Kulon dan Perkampungan Suku Baduy dahulu. Tidak apa-apa, yang penting panas, capek, haus, semua terbayar dengan pemandangan spektakuler yang kami temui di sana. Bahkan, Om Mars sampai tidak mau pulang. Sepertinya bagus kalau kapan-kapan kita NR ke sini, menikmati pemandangan lampu-lampu di bawahnya.
Sepulang dari gazebo, kami memilih alternatif jalan turun ke arah Merak, alih-alih balik langsung ke Kp. Gerem. Risikonya, kami masih harus gowes naik sampai ketinggian 412,1 m dpl, kira-kira 2 km kemudian dari Kp. Purud Lampung. Tapi, tantangan terbesar adalah turunan yang lebih curam dibandingkan saat kami naik tadi. Kami turun dari ketinggian puncak tadi ke 54,1 m dpl (setinggi 358 m) sejauh 2,78 km. Banyak turunan curam yang menuntut kami bekerja keras mengendalikan sepeda, sementara di kanan kami jurang menganga. Harus ekstrahati-hati. Ini perjalanan kedua saya lewat sini, tapi masih belum fasih juga, masih merasa “melayang”, hehehe…...
Di tengah perjalanan, kami sempat foto-foto di sebuah batu yang bentuknya seperti kerang terbuka. Om Mars berpose seolah-olah sedang mengangkat batu itu, hehehe…. Akhirnya, sampai juga kami di bawah bukit dengan perasaan super lega banget sekali. Dari sini, tinggal menyusuri jalan datar lewat Pasar Merak dan kembali ke rumah Om Opik yang menjadi tikum hari itu. Tak lupa, minum jus jambu dulu karena hari itu panas nian.
Secara keseluruhan, statistik GPS menunjukkan data jarak ‘cuma’ 19,05 km, kecepatan maksimum 31,6 km/jam, waktu gowes efektif 2 jam 6 menit, kecepatan rata-rata 9 km/jam, ketinggian maksimum 412 m dpl, total tanjakan 565 m!

Gambar dan statistik hasil perekaman GPS selengkapnya dapat dilihat di sini.

Tuesday, March 27, 2012

DEMAM GOWES MELANDA SB1

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Setiabudi Satu (SB1) sedang dilanda demam. Bukan demam biasa, tidak berbahaya, malah sangat bermanfaat untuk kesehatan. Itulah demam gowes sepeda. Selama 2 bulan terakhir, goweser SB1, dengan Om Dono sebagai motivator dan mentor, sekaligus kompor hehehe….. , sudah berburu sepeda-sepeda dan perlengkapannya dan berlatih secara spartan di jalanan ibukota, walau sampai sekarang, saya belum mendapatkan konfirmasi apa nama organisasinya.

MENEMBUS TREK TUNGGAL CIDAMPIT KE RUMAH HUTAN

Tanggal lalu 25 Februari 2012, mereka sudah mengeksplor trek tunggal ke Villa Cidampit alias Rumah Hutan. Luar biasa. SXC2 sendiri sewaktu pertama kali “demam” harus beberapa kali beraklitimasi dengan trek tunggal di JPG Serang yang cenderung datar sebelum melahap trek Cidampit.
Digawangi Pak Heru, Pak Samsul, Om Faisal, dan Om Anto, beberapa goweser rombongan Pak Heru dari Serpong, dan 12 goweser SXC2, perjalanan dimulai dari halaman KPP Pratama Serang sekitar pukul 8.30. Agak siang karena beberapa goweser SB1 belum sempat sarapan. Betul Om, sarapan sangat penting untuk menambah tenaga. Jangan sampai kunang-kunang karena kekurangan asupan makanan. Tak kalah pentingnya adalah minuman yang dapat bermanfaat untuk mengurangi risiko dehidrasi.
Di tanjakan Cilowong, saya ketemu Pak Samsul dan Om Anto. Katanya, susah banget mengikuti goweser yang sepedanya bercorak merah putih. Waduh Om, itu namanya Kang Ola. Dia memang punya otot kawat tulang besi dan termasuk kelompok langitan yang gak pernah pakai rem. Kami saja susah ngejar-ngejar dia, hahaha…. Dia akan berhenti kalau ada warung yang ada emak atau teteh manisnya saja. Mendingan bareng saya saja, sama-sama pelannya kalau tanjakan, hehehe….
Menjelang pukul 10, semua anggota rombongan tiba di Kp. Pereng setelah menempuh perjalanan sejauh sekitar 14 km dengan elevasi setinggi 197 m dari 43,4 m dpl ke 240,3 m (titik tertinggi). Rehat sebentar sambil ditemani gorengan, teh manis, dan mericin!
Melanjutkan perjalanan melahap trek tunggal Cidampit sejauh 5,8 km, sayang beribu sayang trek basah bekas hujan sehingga di beberapa titik, kami harus melalui kubangan dan kerusakan jalan bekas motor trail. Bagi yang kurang waspada, dipastikan terjerembab karena trek yang licin. Seat post lebih baik direndahkan untuk memudahkan kaki menahan keseimbangan. Kombinasi gowesan dan pengereman ban depan dan belakang harus diperhatikan! Tapi, tetap saja harus naik-turun sepeda karena akar-akar menghalangi ban-ban sepeda.
Menjelang tengah hari, rombongan tiba di Rumah Hutan. Namun, beberapa goweser harus melanjutkan perjalanan karena panggilan tugas ke luar kota, sehingga terpaksa pulang duluan. Yang tersisa pun, tidak berlama-lama di Rumah Hutan karena harus segera kembali ke Jakarta. Trek pulang yang dilalui adalah Kp. Bojong yang sudah mulai dilapisi aspal di beberapa bagian. Sayang tidak melewati trek Pancanagara dan menyeberangi Kali Banten. Padahal trek ke sana asyik juga, sekalian cuci sepeda di kali, hehehe…... Mungkin lain kali ya, Om.
Akhirnya, kami menikmati bonus turunan Cilowong saja. Lumayan menghapus kepenatan.

PERJALANAN MENUJU LUPIS CIBANGKONG
Hampir sebulan dari perjalanan ke Cidampit, Hari Jumat tanggal 23 Maret 2012 kemarin, kebetulan hari libur nasional, teman-teman goweser SB1 kembali ke Serang untuk menikmati lupis Cibangkong yang melegenda itu. Tidak tanggung-tanggung, beberapa goweser terpaksa, atau malahan ikhlas, untuk doktor alias mondok di kantor pada malam Jumatnya, demi mencapai Serang ketika embun masih basah! Semangat yang luar biasa. Kali ini yang hadir adalah Pak Heru yang berprinsip ing ngarso sung tolodo karena selalu berada di depan, Pak Samsul yang berprinsip sebaliknya, yaitu tut wuri handayani karena selalu mengalah disusul apabila sedang menanjak hehehe..... Tidak ketinggalan Om Andri, Om Faisal, Om Ari, Om Irwansyah, dan Om Sun’an.
Perjalanan dimulai pukul 8.10 dari titik kumpul di halaman KPP Pratama Serang. Matahari kala itu sudah menyengat. Memang pada hari itu dan beberapa hari setelahnya, matahari tepat berada pada garis khatulistiwa, sehingga panasnya poll. Namun demikian, tidak menjadi halangan buat kami ber-gowes-luhlang-ria ke Cibangkong.
Hanya beberapa saja goweser SXC2 yang sempat hadir, yaitu Om Dono, Om Mars, Om Yopie, Om Darno, Om Toto, Om Ai, Om Arif, Om Dodo, dan saya sendiri. Om Tsauban yang melakukan flying start di perempatan Brimob, kembali terpisah dari rombongan di perempatan dekat makam Ki Buntu dan langsung menuju Kp. Jakung, tanpa sempat mampir ke Cibangkong. Bukan karena pengaruh makam keramat itu kan, Om, jadi salah belok? Hehehe….
Selepas ****mart di Kp. Umbul Tengah, rombongan memasuki jalan makadam menuju Desa Telaga Luhur. Langsung kami dihadapkan pada tanjakan berbatu-batu di sana yang harus kami daki setinggi 88 m sejauh 2,79 km. Kunci menaklukkan tanjakan adalah jangan sampai telat memindahkan shifter pada saat naik. Tidak perlu terburu-buru ingin menaklukkannya. Gowes saja secara konstan dan yakin bisa menaklukkan tanjakannya. Posisi badan agak condong ke depan. Kalau perlu, pandangan menunduk saja supaya tanjakannya tidak tampak. Kalau ada orang yang tanya-tanya, gak usah dijawab deh kalo sedang nanjak, hehehe….. Pada saat turunan tajam, berat badan baiknya agak ke belakang dengan mengombinasikan rem depan dan belakang.
Sekitar pukul 10, kami sudah sampai ke warung Cibangkong, tempat peristirahatan para goweser di sekitar Serang-Cilegon yang biasanya ramai pada hari Sabtu-Minggu dan hari libur nasional. Hari itu sepi sekali, mungkin karena Jumat. Segera kami lahap kue lupis. Saking manisnya ‘kinca’ yang menjadi teman lupis, teh manis pun terasa tawar. Baru tahu kalau proses pembuatan lupis membutuhkan waktu sampai 12 jam. Beberapa goweser sampai membawa bekal lupis, beberapa lagi melakukan pemesanan ke rumah.
Sekitar pukul 10.30, karena mengejar solat Jumat, kami harus segera balik ke Serang. Tentunya harus melahap terlebih dahulu tanjakan sejauh 850 m setinggi 53 m. Hampir semua goweser lulus melewatinya, dengan gowes tentunya. Dari Kp. Umbul Tengah, tinggal turun saja menuju Serang. Cocok,,,, apalagi kami harus buru-buru untuk mengejar solat Jumat.
Demikianlah gowes singkat Jumat itu. Mudah-mudahan om-om dari SB1 tidak kapok mengeksplorasi Serang dan sekitarnya karena masih banyak trek yang menarik. Ada trek tunggal, makadam, jalanan aspal, bukit, curug atau air terjun, menyusur atau mendaki gunung, pantai, menyeberang pulau, dan lain-lain. Ditunggu, Om-Om!

Nih, bonus lupis Cibangkongnya!

Wednesday, February 22, 2012

GOWES MEMUTAR GUNUNG KARANG

Ekspedisi gowes hari Sabtu tanggal 19 Februari 2012 kemarin, SXC2 berniat berendam air panas di Cisolong, Pandeglang. Namun, jalur yang akan kami lewati bukannya lewat Jalan Raya Pandeglang, melainkan memutar dulu ke Mandalawangi via Ciomas. Bukan apa-apa, tujuan kami adalah menghindari polusi udara di jalan raya yang ramai tersebut dan perilaku ‘gila’ sopir-sopir bis berwarna merah atau hijau di sepanjang jalur Serang-Labuan, sekaligus mencari pengalaman baru karena lintasan ke arah sana belum pernah kami lalui. Risiko yang harus kami hadapi adalah tanjakan yang akan menjadi sahabat sampai dengan Mandalawangi! Mungkin hanya ada dua orang yang senang dengannya, yaitu Om Yopie yang kali ini menjadi patwal, dan Om Akbar Resultan, atlet sejati yang bisa mencapai puncak Gunung Pinang kurang dari 15 menit! Tepatnya berapa menit, Bar? Dia makannya apa, ya? Menurut pengakuannya, dia cuma makan nasi uduk dan mendoan tempe. Pantesan saja, beda dengan Om Opic yang makannya mendoan nasi, jadinya macet di tanjakan.

Anggota yang ikut kali ini seperti biasa adalah 4L alias Lu Lagi Lu Lagi. Ada Om Agus, Om Mars, Om Didit, Om Opic, Om Iyan, Om Yopie, Om Ai yang kembali turun gunung, Om Akbar , ditambah dua anggota Bike To School, Romy dan Dikri, dan saya sebagai tim penyapu jalan. Om Andri UCC cuma sebagai penggembira dan ikut mejeng difoto di titik kumpul saja di halaman KPP Pratama Serang.
Walau kelihatannya jauh, tapi bagi teman-teman goweser yang mau gabung dengan kami tidak usah khawatir karena perjalanan seperti ini tidak setiap minggu dilakukan. Kami juga sering mengeksplorasi trek di sekitar Kota Serang, menyamar sebagai anggota LLBC alias Luhlang (jam sepuluh pulang) Bicycle Community, seperti ke Pulau Dua, kawasan Banten Lama, tanjakan 45, kawasan agrowisata di Curug, dan sebagainya.
Rencana semula start gowes pukul 6.30 tetapi karena keterlambatan pendaratan Om Opic dari Gerem akibat pinang muda, start baru bisa dimulai hampir sejam kemudian. Tak apalah, yang penting ramai. Gak ada lu gak rame!
Jalur ke Ciomas seperti biasa melewati pertigaan Tembong, melewati Jalan Raya Bongla, kemudian muncul di Jalan Raya Palka. Di sini, kami siap-siap memasang masker karena sisa-sisa pasir yang mengering dari tambang pasir sedot di beberapa tempat di jalan ini sudah sangat memprihatinkan efeknya untuk lingkungan. Polusi udara! Mungkin pemerintah daerah berpikir PAD dari galian pasir ini lebih menguntungkan dibanding kerugian karena polusi bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Pengusaha dapat untung, masyarakat dapat debu.
Menjelang batas Kota Kecamatan Ciomas, ban sepeda Om Mars bocor. Sepertinya terkena pecahan gelas yang berserakan atau karena berat badan, hehehe…..? Om Opic yang sudah loyo segera mencuri kesempatan untuk makan besar dan mengecas tenaganya lagi.
Melewati pasar Ciomas yang sangat tradisional, macet dan becek menghadang. Saking macetnya, sampai-sampai sepeda pun tidak bisa lewat. Bagaimana tidak macet kalau pedagang berjualan sampai badan jalan, angkot berhenti seenaknya, motor-motor melawan arah- berjalan di sebelah kanan serasa di Amerika Serikat- hadeuh, ampun.
Sampai pertigaan ke arah Cadassari, ternyata patwal menunjukkan supaya kami terus lurus ke arah Mandalawangi. Om opic yang pernah lewat jalan ini menggunakan mobil tampak pasrah karena tahu hanya ada satu kata ke depan: tanjakan! Walau begitu, dijabanin juga tuh trek, kata orang Betawi. Santai sajalah, namanya juga piknik. Om Agus sampai terheran-heran, kenapa foto goweser di tanjakan yang dia ambil, aktornya 4L. Ya iyalah, Om, yang gowes paling buncit kan orangnya 4L hehehe.
Biasanya, kalau kita menuju ke Pandeglang, Gunung Karang berada di sebelah kanan atau sebelah barat. Kali ini, dia akan berada di sebelah kiri kita, atau di sebelah timur. Aneh, kondisi sepanjang jalan rusak sejak pasar Ciomas sampai ke Mandalangi. Atau malah gak aneh, ya. Terasa benar di sini, negari autopilot yang sering didengung-dengungkan oleh para pengamat politik, terbukti dan kami rasakan sendiri.
Menjelang Mandalawangi, di Kp. Sinargalih, setelah Om Mars, giliran Om Opic yang bannya bocor padahal tidak ada tukang tambal ban. Terpaksa dia menyewa ojek buat mengejar Om Didit di depan untuk pinjam ban serep. Berhenti lagi, padahal kami baru saja rehat di bawah pohon mangga di Kp. Ujung Tebu. Sebagai anggota gerombolan siberat, saya waswas juga, jangan-jangan nanti giliran saya yang bannya bocor. Untunglah tidak terjadi hehehe….. Selanjutnya, pemandangan spektakuler karena di depan kita Gunung Pulosari (1.346 m) tampak sangat jelas, sementara jalan menurun menjadi bonus kali ini. Di sebelah kanan-kiri kami, mengawal Gunung Aseupan (1.174 m) dan Gunung Karang (1.778 m). Subhaanallah. Pasti teman-teman jarang mendengar tentang Gunung Aseupan. Mungkin karena paling rendah dibanding kedua saudaranya.
Tiba di Mandalawangi sekitar tengah hari, kami mendapat informasi dari penduduk lokal akan adanya kolam pemandian di situs Cihunjuran yang hanya berjarak sepeminuman teh dari sini. Sepertinya segar setelah panas-panasan gowes nyebur ke air. Setelah mengisi perut-beberapa teman ditemani pete bakar, semoga bermanfaat sebagai NOS- kami lanjutkan gowes ke Cihunjuran. Tidak terlalu jauh tempatnya dari jalan raya tetapi kami harus menyusuri pematang sawah yang di beberapa titik tidak mungkin di-gowes karena sangat sempit, berisiko kecebur ke sawah. Jangan-jangan yang paling belakang ada yang kecebur.


SITUS CIHUNJURAN


Situs Cihunjuran adalah sebuah peninggalan kerajaan Salakanagara berupa batu-batu-batuan, kolam pemandian purba, dan sebuah makam seorang bernama Wali Jangkung atau Angling Darma. Bagaimana dan siapa dia, goweser bisa tanya sendiri ke Ki Google. Sepertinya, selain dimanfaatkan untuk wisata, tempat ini sering digunakan untuk ziarah ke makamnya yang dianggap keramat. Masyarakat muslim masih percaya ziarah ke makam-makam yang dianggap keramat karena pengaruh peninggalan nenek moyang. Saya malas membahas hal-hal yang berhubungan dengan keramat. Enakan juga keramas.
Di sini, kami menyegarkan badan dengan berendam di kolam, walaupun tidak semuanya turun. Selain kami, banyak juga pengunjung ke sini yang sebagian besar adalah pelajar yang baru pulang sekolah. Entah kalau hari Minggu atau libur, mungkin akan lebih ramai. Hanya sayang, walau ditarik retribusi masuk sebesar Rp 4.000, kawasan ini tidak terawat dan terkesan kumuh. Apalagi, kondisi toilet yang sangat memprihatinkan walaupun harus bayar lagi Rp 2.000. Kalau buang air kecil di kolam sampai tiga kali kata Om Mars bisa menghemat Rp 6.000!
Menjelang pukul 14.30, setelah puas berendam, rombongan melanjutkan perjalanan ke Cisolong. Jalanan tinggal turunan saja ke arah Mengger. Mengasyikkan. Tapi sayang, karena lalu lintas padat, kami tidak sepenuhnya bisa memacu kecepatan. Padahal ada bonus turunan panjang membentuk huruf S yang tidak bisa kami nikmati secara maksimal. Kami harus merayap di belakang knalpot angkot, mencari kesempatan menyusul.
Selepas pertigaan Mengger, ada yang aneh dari jalur yang kami lewati. Alih-alih langsung melewati Jalan Raya Lintas Timur Pandeglang, patwal mengajak kami sampai ke perempatan Maja dan menikmati bonus turunan di Jalan Cibuik-Maja. Setelah bertemu Jalan Lintas Timur di Cikole, kami berbelok kembali ke arah Jalan Raya Labuan, dan tentunya harus dihadang tanjakan sejauh 1,5 km. Putar balik nih, Om! Akhirnya, beberapa ratus meter dari ujung Jalan Lintas Timur ini, kami temukan papan nama yang menunjukkan arah pemandian air panas Cisolong. Alhamdulillah, setelah semangat kami kian menipis. Masih harus meluncur turun sejauh 2,5 km sampai ke tujuan melewati Jalan Ciputri Permai-Penikebon, bukannya senang, malah stres memikirkan baliknya nanti yang harus gowes menanjak. Never ending tanjakan sepertinya. Patwal memang dikenal sebagai penghobi tanjakan. Semua jalur bonus turunan akan dibalik kalau Om Yopie yang menjadi patwal menjadikannya sebagai bonus tanjakan. Tak heran bila remnya paling awet di antara kami, hahahah.


PEMANDIAN AIR PANAS CISOLONG



Pukul 15.45, tibalah kami di pemandian air panas Cisolong yang terletak di Kp. Cisolong, Ds. Sukamanah, Kec. Kaduhejo, Pandeglang. Lokasi kolam berada di bawah (174 m dpl), jadi kami harus menuruni banyak anak tangga setinggi 25 m. Masih banyak renovasi di sana-sini, terlihat dari banyaknya tukang yang hilir-mudik membawa material bangunan. Hanya sayang, kami pesan kelapa muda, yang datang malah kelapa tua. Rp 6.000 lagi harga per buahnya. Suhu air tidak sepanas dibandingkan ketika kami nyebur di kolam air panas di Cipanas, Lebak, sepulang dari gowes rafting di Sungai Ciberang. (Silakan lihat di sini). Tapi tetap saja, Om Didit bergaya aneh kepanasan. Om Opic dengan gaya standarnya yang aneh,
persis seperti di Cihunjuran, hanya membuka jersi tapi tidak nyemplung, katanya takut mengakibatkan tsunami. Tapi yang lebih aneh, di sini airnya tidak berbau belerang. Bahkan, di sekitar parit air panas ini, tumbuhan hijau tetap dapat hidup. Lokasi kolam yang di kelilingi pesawahan, suhu air yang panas ditambah cuaca yang panas membuat Om Mars enggan turun dan memilih menjaga sepeda di atas.


Sore sekitar pukul 17, kami siap-siap untuk kembali ke Serang. Kami harus menaiki anak tangga demi anak tangga, Akbar dengan mudahnya melahap tanjakan dengan sepedanya yang elevasinya mencapai 25 m sejauh 93 m. Mendung menggelayut membuat kami segera mengamankan gajet-gajet. Alamat tidak ada acara foto-foto lagi. Menuju ke Jalan Lintas Timur yang menanjak, kami lewati dengan santai. Maklum, badan sedikit segar setelah terkena air hangat.
Jalan Raya Labuan ternyata dekat sekali. Semua bersorak, kenapa tadi harus memutar dulu lewat Kp. Maja. Patwal harus bertanggung jawab menambah 4 km yang tidak perlu, hehehe. Para goweser ternyata masih bisa sprint sampai ke Alun-alun Pandeglang yang sore itu sangat ramai. Tentu saja, saat itu adalah malam minggu, malam yang ditunggu para remaja. Untungnya jalur Pandeglang-Serang didominasi turunan. Terima kasih untuk Om Yopie yang fungsinya dari patwal berubah menjadi sweaper, menemani terus sampai ke Serang. Beberapa kali harus keluar jalur untuk menghindari kendaraan bermotor yang tidak menghargai pengendara sepeda. Capek deh. Semua lampu depan dan belakang padahal sudah dipasang untuk memberi tanda, tapi sepertinya ‘gak ngaruh’.
Di pasar buah Ds. Kemanisan, selepas Baros, kami bertemu Om Mars dan Pak Ai yang sedang membeli oleh-oleh manggis. Sementara rombongan lain meng-gowes seperti dikejar hantu, tidak tampak batang sepedanya. Padahal kalau tahu mau sprint mah, tadi pada salaman dan pamitan dulu di Pandeglang hehehe.....
Demikianlah, menjelang pukul 19, kami tiba di rumah masing-masing dengan tambahan pengalaman telah mengelilingi kaki Gunung Karang. Statistik GPS menunjukkan jarak 88,3 km, waktu tempuh keseluruhan 11 jam:51 menit (ini termasuk dua kali berendam di air dingin Kahunjuran dan air panas Cisolong, makan, dan istirahat), waktu tempuh gowes efektif 6 jam:25 menit, kecepatan rata-rata 13,9 km/jam, kecepatan maksimal 45,6 km/jam, ketinggian maksimum 504,3 m dpl, elevasi 455 m (dari ketingggian 49,4 m dpl ke ketinggian maksimum), pengalaman: tak ternilai!!!!
Peta rekaman GPS bisa lihat di sini.
Photo selengkapnya, disini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons