Saturday, January 28, 2012

EKSPEDISI GOWES MENGITAR GUNUNG RAJABASA: ETAPPE II PELABUHAN BAKAU HENI-WAY URANG

Karena waktu sudah menjelang tengah hari, tanpa beristirahat lagi, perjalanan gowes etappe II kami lanjutkan. Tujuannya adalah mengitari Gunung Rajabasa melalui Jalan Keliling Rajabasa terus ke pantai Canti dan berakhir di Kalianda. Belum begitu terbayang seberapa tinggi tanjakan yang akan kami hadapi. Hanya cerita-cerita saja yang menggambarkan bahwa tanjakan-tanjakan di sini luar biasa. Tapi, di Jalan Lintas Sumatera atau Jalinsum yang kami lewati, baru ½ km, kami sudah disuguhi tanjakan setinggi 141 m yang harus kami tempuh sejauh 2,65 km. Lumayan pegel. Bahkan, sebelum tanjakan habis, kami sudah harus rehat karena selain pegal dan nafas tersenggal, cuaca ternyata sangat panas. Ditambah truk-truk besar yang menyusul kami dengan suara dan dorongan angin yang menakutkan, serta bau solar yang menyengat hidung. Kami pun harus meng-gowes di bahu jalan yang lebarnya hanya 10-20 cm saja. Garis marka jalan menjadi patokan kami. Ngeri juga ternyata.

Setelah trek tanjakan-turunan seperti roller coaster yang cukup melelahkan, di Kp. Panengahan, sekitar perbatasan Kecamatan Bakau Heni dengan Rajabasa, kami pun mendapatkan bonus turunan sejauh 3,25 km yang menurunkan kami dari ketinggian 227,9 m (puncak pendakian kami) ke 88,6 m saja. Bayangkan bagaimana kami ditarik gaya gravitasi bumi. Hanya, dengan kecepatan maksimum mencapai 56,7 km/jam, memang tetap ngeri karena kendaraan-kendaraan raksasa bagi sepeda seperti siap menyenggol. Harus ekstrahati-hati dan tetap berdoa semoga selalu diberi keselamatan. Di sekitar Desa Panengahan ini pula terdapat titik tertinggi yang kami lewati, yaitu 228,7 m.
Sehabis turunan panjang ini, kami berisoma di Krakatau Rest Area. Menu siang itu adalah makanan padang di sebuah restoran padang. Makannya pakai otak (bagaimana kalau makan gak pakai otak, ya?). Biasanya, sebagai backpacker-goweser, kami makan di warteg, warung intel, atau sego kucing, tapi kali ini sedikit ada peningkatan hehehe. Oh ya, Pak SBY pun ternyata pernah maksi di sini, tampak dari foto yang dipampang oleh pemilik restoran dekat meja kasir memperlihatkan dia dan Pak SBY sama-sama tersenyum senang. Tapi, pelayanan di sini kepada kami terasa kurang bagus, karena beberapa pesanan kami sampai kami bayar ke kasir, tidak keluar tanpa ada alasan. Sepertinya segmen restoran ini adalah hanya orang-orang yang singgah saja dan tidak mengharapkan konsumen yang loyal.
Om Johan sempat dihentikan oleh petugas di sebuah pos polisi dan diminta memperlihatkan surat-surat motor, mungkin karena ber-plat A dan jalan perlahan-lahan dengan banyak tas di motor, menimbulkan kecurigaan. Untunglah, setelah dijelaskan, tidak ada masalah walaupun harus menunggu beberapa saat karena STNK motor masih di Om Pri yang masih gowes di belakang.
Perjalanan kami lanjutkan. Di persimpangan Kp. Gayam, kami mengambil arah ke Jalan Keliling Gunung Rajabasa dan meninggalkan Jalinsum yang ‘menakutkan.’ Ada dua pilihan arah di jalan ini. Yang ke utara melalui Desa Kampung Baru sejajar dengan Jalinsum, jaraknya ke Kalianda lebih pendek dibandingkan yang ke arah selatan yang melalui Pantai Canti. Kami pertimbangan akan menyusuri pantai ke arah selatan, walaupun jaraknya jauh lebih panjang.
Tiba-tiba, suasana jalan yang tadinya begitu ‘mencekam’ khas Jalinsum berubah menjadi jalan perkampungan yang sangat nyaman walaupun lebarnya hanya sekitar 3-4 m dengan rumah penduduk di kiri-kanan, para penduduk setempat yang ‘nongkrong’ di depan rumah masing-masing menikmati sore dengan sapaan ramah mereka , anjing yang sangat banyak berlarian kesana kemari (aneh sekali banyak anjing di sepanjang jalan ini), membuat penat tidak terasa. Belum suara deburan ombak dan angin laut sangat menyejukkan. Hati-hati masuk angin.
Kontur jalan masih seperti roller coaster. Melelahkan, menguji kesabaran. Tapi, seninya bersepeda adalah bila menghadapi tanjakan,pasti ada harapan bahwa kita akan menemukan turunan. Terbukti, setelah kami gowes sekitar 25 km dari pelabuhan, menjelang pantai, kami dihidangkan turunan setinggi 129 m sejauh 3,7 km. Hampir sama jaraknya dengan turunan pertama, walau jaraknya lebih pendek. Alhamdulillah dapat bonus, sesuatu.
Om Mars dan Om Opik sempat makan duren jatohan. Entah jatohan dari mana, karena di sekitar tempat itu tidak ada pohon duren. Rasanya pun ternyata tidak enak. Nah lho, jangan-jangan bukan duren jatohan tapi duren buangan hehehe... Selanjutnya, kami mampir ke Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Rajabasa, tapi sayang karena hari libur kantor tutup. Pun, karena kabut di kejauhan, Gunung Anak Krakatau tidak tampak jelas dengan pandangan mata telanjang.
Menyusuri jalan-jalan di pinggir pantai sore itu, ombak tampaknya sedang ganas menghantam beton-beton pemecah ombak. Suasana pantai tidak terlalu ramai, baik itu Pantai Kunjir, Pantai Sukaraja, Pantai Canti, Pantai Wartawan, dan sebagainya. Kata Om Agus, mungkin yang menemukan pantai Wartawan adalah seorang wartawan. Kalau menurutku, malah si Cepot dan Dawala yang menemukannya karena tepat di pintu masuk pantai ini, kedua tokoh itu setia menjaga gerbang hahaha. Hanya beberapa anak-anak muda yang ‘kongkow-kongkow’ di area pantai.
Sebaliknya, tambak benur udang windu milik rakyat sangat banyak, hampir di sepanjang jalan. Kabupaten Lampung Selatan memang terkenal sebagai sentra tambak benur.
Akhirnya, setelah kepenatan memuncak, tiba juga kami di Kota Kecamatan Kalianda sekitar pukul 19. Luar biasa. Kami telah meng-gowes selama 3 jam 40 menit untuk ukuran waktu efektif pada jarak hanya 47,6 km. Artinya, kecepatan rata-rata kami hanya sekitar 12,8 km/jam. Seperti kura-kura. Tapi tak apalah, toh medan tanjakan yang kami lalui sangat berat dan yang paling penting kami telah sampai ke titik finish hari ini, Kalianda. Langsung saja kami cari tempat untuk beristirahat di sebuah hotel melati di Kawasan Way Urang. Cerita punya cerita, ternyata pemilik hotel berasal dari Serang juga. Sampai-sampai ada stiker bertuliskan Kerukunan Keluarga Banten Lampung Selatan di gazebo belakang hotel.
Oh ya, di Lampung, banyak tempat yang dinamakan dengan ‘Way’ pada kata depannya, seperti Way Urang ini. Way berarti air, sedangkan Urang berarti udang. Di Jawa Barat dan Banten, air dinyatakan dalam ‘ci’, misalnya Cilegon. Ada kota yang memiliki padanan hampir sama dengan Way Urang, yaitu Cirebon di Jawa Barat dan Kali Urang di Jogja.
Kota Kalianda sangat sepi. Makanya, malamnya kami mencari tempat makan yang enak, terus menemukan bebek dan lele goreng, menu backpacker. Kata Om Pri, jauh-jauh ke Lampung hanya untuk makan itu, hahaha. Tapi tetap tambah cie kan, Om?
Dilanjutkan dengan NR tanpa tujuan karena pusat keramaian kota minim. Akhirnya, kami putuskan gowes ke dermaga yang juga tempat wisata kuliner. Tapi, apa daya, tempatnya gelap sekali walaupun tidak menghalangi muda-mudi pacaran gratis di pinggir laut, sambil menonton nelayan yang mulai melaut. Pusat kulinernya sendiri tidak kami lewati,mungkin karena sangat gelap sehingga tidak tampak. Ya sudahlah, mending pulang dan rehat, memersiapkan stamina dan perlengkapan untuk esok pagi.
Good night all (in the night garden)....


Friday, January 27, 2012

EKSPEDISI GOWES MENGITAR GUNUNG RAJABASA: ETAPPE I TIKUM-PELABUHAN MERAK

Alhamdulillah, hari Sabtu-Minggu tanggal 21-22 Januari 2012 kemarin, sebagian sepeda-sepeda goweser SXC2 telah menginjakkan masing-masing kedua bannya di Pulau Sumatera. Tidak terlalu jauh sebenarnya untuk ukuran pulau itu, hanya mengitari Gunung Rajabasa dan berakhir di Kalianda, ibukota Kabupaten Lampung Selatan, tetapi bagi kami, cukup memberi pengalaman baru yang sangat menyenangkan.
Perjalanan dimulai di titik kumpul seperti biasa jika dilakukan sebuah event, yaitu di halaman KPP Pratama Serang. Kami akan bagi perjalanan kali ini menjadi empat etappe. Etappe pertama adalah tikum sampai dengan Pelabuhan Bakau Heni. Direncanakan akan dilakukan pitstop di homebase-nya Om Opik di Gerem.
Peserta yang akan ikut menyeberangi Selat Sunda adalah Om Agus, Om Didit, Om Mars, dan saya, Flash, ditambah
Om Opik dan Om Pri yang sudah menunggu di Gerem, ditemani oleh Om Johan dengan skutiknya yang akan bertugas sebagai tim pengawal sampai ke tujuan. Kami juga ditemani tim bravo yang akan mengawal kami sampai Desa Gerem yang terdiri dari Om Dono, Om Agung, Om Dodo Cosmix, Vito dan dua kompatriotnya dari Untirta. Maaf saya lupa namanya (Vit, tolong kenalkan mereka di kolom komentar di bawah.) Di Gerem, sudah menunggu

Tidak ada masalah dengan enduro kami untuk menuju pitstop pertama . Tim pengawal malah lebih bersemangat dan menjadi voor ryder. Tak apalah, tim utama harus menghemat tenaga karena jalan masih sangat panjang sampai ke tujuan: Kalianda!
Di Gerem, Om Opik menjamu kami ubi berwarna ungu, lontong, dan teman-temannya. Tentu saja tidak ketinggalan teh manis yang bisa menambah energi kami. Terima kasih, Om Opik. Oh ya, setelah dicerna, ubi ini ternyata berfungsi menjadikan sepeda-sepeda kami ibarat memakai NOS. Hanya outcome-nya sedikit berbeda. Bukannya gowesan tambah kencang, malah tambah beraroma tak sedap bagi goweser di belakangnya.
Kami tiba di Pelabuhan Merak pukul 9 lewat beberapa menit. Jarak tempuh menunjukkan angka sekitar 32 km dengan waktu tempuh sekitar 1:50 menit. Berarti kecepatan rata-rata kami mencapai 17,78 km/jam. Seperti kita ketahui, jalur etappe ini adalah jalan raya berlapis hotmix mulus yang cenderung datar.
Pada waktu membeli tiket masuk kapal di pelabuhan Merak, para petugas seperti kebingungan menghitung tarif untuk sepeda. Mungkin karena sangat jarang ada sepeda nekat naik ke atas kapal. Untuk gampangnya, kami dikenakan ongkos satu motor untuk tiga sepeda, yaitu Rp32.500. Okelah kalo begitu. Kami pun segera memarkir sepeda-sepeda kami di dalam kapal roro yang kali ini adalah KMP Gelis Rauh.
Ombak sangat tenang. Suasana kapal pun tidak terlalu ramai. Sangat kontras pasti bila dibandingkan setiap menjelang lebaran. Terbayang kepadatan para pemudik di kapal yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatera ini. Mudah-mudahan petugas ASDP tetap disiplin menjaga daya muat kapal supaya tidak kelebihan penumpang. Yang sama, mungkin aktifitas pemuda-pemuda lokal yang melompat dari atas kapal untuk menangkap uang koin yang dilemparkan oleh para penumpang ke laut.
Perjalanan menggunakan feri menuju Pelabuhan Bakau Heni, Lampung berjarak sekitar 24 km dan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Kami isi kegiatan di kapal dengan mendokumentasikan perjalanan, termasuk 4 jagoan neon bergaya di atas anjungan. Untung tidak dimarahi nahkoda. Sementara, satu anggota menghilang entah kemana. Om Opik yang paling genit. Walau kelihatannya seperti galak, ternyata hatinya seperti Cherri Bell.
Tiba di Pelabuhan Bakau Heni, jam menunjukkan pukul 11.30. Kami disambut dengan bukit-bukit yang berbaris rapi dan Menara Siger dengan warna kuning emasnya yang khas dan menjadi landmark di sini. Mereka seperti menantang para goweser ‘gila’ untuk menaklukkannya. Menara ini juga menjadi tanda titik nol kilometer Pulau Sumatera di sebelah selatan.




Thursday, January 19, 2012

TANJAKAN 45

Tanjakan 45 sudah dikenal di kalangan goweser dan menjadi favorit di Serang dan sekitarnya.Hal ini karena walau medannya curam dan membuat nafas goweser tersenggal-senggal dan kaki pegal-pegal, tetapi juga berjarak pendek. Ini memberikan keuntungan bagi goweser yang ingin berkeringat tetapi memiliki waktu yang terbatas. Hanya berjarak sekitar 5 km saja dari Kota Serang melalui Kp. Cikulur. Cocok untuk goweser anggota LLBC alias Luhlang Bicycle Community. Luhlang artinya jam sepuluh pulang.

Puncak tanjakan ini sebenarnya ‘hanya’ 180,9 m dpl, tetapi karena kita mulai menanjak dari ketinggian 78 m dpl dengan jarak 1,18 km, sudah dapat dipastikan betapa curamnya tanjakan ini. Terbukti untuk goweser biasa saja seperti saya, butuh beberapa kali percobaan untuk dapat lulus sampai ke puncak tanpa TTB. Bahkan, kami sering melihat angkot yang menurunkan penumpangnya supaya mobil bisa mencapai ke puncaknya.
Dari percobaan gowes melalui tanjakan ini dan memutar ke arah Sepang, hasil navigasi sederhana yang kami lakukan menunjukkan jarak sekitar 18 km dimulai dari Kp. Cikulur dan memutar melalui Kp. Sepang.


Sunday, January 08, 2012

Sepeda Membawaku ke Rumah Hutan

Sabtu, 07 Januari 2012

Sudah menjadi kesepakatan bersama jika tikum beralih dari KPP Pratama Serang ke sisi selatan Alun-Alun Barat Serang (depan MY). Hari ini adalah hari pertama sepedaan di tahun 2012 bagi diriku, kupacu tungganganku menuju tikum, alamaaakkk, suepi sekali, aku pikir mungkin aku terlalu pagi dateng ke tikum. Iseng-iseng ku kirim pesan ke group whatsapp "sepedaan" dari droid ku. Beberapa pesan tulisan dan photo kukirim, namun tak satupun respon yang masuk. Aku pikir, mungkin friendsepedaan lagi pada kecapean, tidur lagi atau ada kesibukan lainnya. Atau karena ada yang salah yah, karena kebiasaan dikirim undangan sepedaan melalui SMS, FB, whatsapp "sepedaan", BB "sepedaan" atau partychat "sepedaan". Entah deh hanya mereka yang tahu.

Akhirnya 07:20 aku putuskan tuk gowes soliter ke Cibangkong atau ke Rumah Hutan. Bismillah... Cuaca hari ini sangat mendukung, sedikit mendung namun tidak terlalu dingin.
Aku ayun sepedaku ke arah jalan Takari, kebetulan gowes sendiri, jadi pengen coba trus gowes tanpa henti sampe tujuan, meski belum pasti ke Cibangkong atau Rumah Hutan, yang penting selamat. Pikir punya pikir, timbang sana timbang sini akhirnya ku tetapkan tujuan kali ini ke Rumah Hutan, karena takut keburu hujan.

Assyikk...Rumah Hutan, terbayang teh manis + mie instan, maklum belum sarapan nih. Hari ini trasa lebih rileks dan ringan menyusuri Takari.
Akhirnya ketemu juga sama goweser di awal pendakian Cilowong, tengah istirahat minum di warung, "yuk om duluan" aku sapa dia seraya melambaikan tangan, "sendiri om?" "iya sendiri" sahutnya. Saya lanjutkan pendakian Cilowong, huuhhfftt, aroma khas Cilowong trasa sangat menyengat hidung, apa karena aku sendiri, jadi smua aroma tak sedap bebas menerobos indra penciumanku, kalo biasanya kan aromanya berbagi sama goweser yang lain. Makin ku pacu selamanderku agar cepat terhindar aroma Cilowong, duh lega...terbebas juga akhirnya.

Terlihat di depan ada dua orang goweser tengah beristirahat, tapi kok ndak kenal lagi yah, tengah asyik menyiapkan sapaan hangat buat mereka tiba-tiba ada sepeda motor menyalipku dan gubrrraakkkk...#*.%/+@#«°#&*+ klontaaaaannggg .. ngoang .. ngoang, terlihat percikan bunga api akibat benturan dua sepeda motot yang berada tepat satu meter didepanku sepeda motor yang nyalip aku bersenggolan dengan sepeda motor dari arah Gunung Sari, dan mata gergaji mesin jatuh kira-kira 1,5 meter didepan ku. Jadi inget film Final Destination, bayangin aja...mata gergaji mesin itu melayang mendarat di leher ku dan putus....tus atau menancap dikepalaku, hii..ii mengerikan sekali. Untungnya kedua motor tak ada yang terjatuh, mungkin kalo jatuh aku juga jadi korban kecelakaan, mengingat jarak yang tramat dekat dengan ku. Alhamdulillah masih diberi perlindungan dan bukan final destination bagi kami bertiga. Terlihat dua orang goweser mendatangi sepeda motor yang kecelakaan tuk memastikan keadaannya, syukur tak ada luka yang berarti, cuma lecet ringan dijari akibat gesekan. Karena sudah ada yang nolongin, aku pun tak berhenti dan melanjutkan pendakian Cilowong, lagi kejar target nih, ada saja cobaan pagi ini. "Om duluan ya, maaf ndak brenti, tanggung nih", sapaku pada dua orang goweser yang berjalan menghampiri pengendara yang kecelakaan. "Ya om, ga papa", sahutnya.

Perjalanan saya lanjutkan, karena masih jauh, beberapa menit kemudian, saya disalip lagi oleh orang yang kecelakaan tadi, syukur deh, berarti smua selesai dengan baik-baik.

Setiba di Pereng, saya belok kiri menuju Bojong, wuii..ii jalannya udah mulus, kayaknya barusan selesai pengerasan, karena masih berpasir, musti hati-hati jika tak mau nyrosot akibat ban selip karena grid ban ga bisa gigit jalan. Lumayan juga meski pengerasan cuma 3 km selebihnya masih makadam sampe kampung Bojong, jadi kepikir, apa deal waktu pimilukada Banten cuma segitu kali yah??

Sampai di kampung Bojong langsung menuju Rumah Hutan melalui jalan muter lewat jembatan, sampai jembatan ga ada masalah yang berarti, namun di 500 meter terakhir cukup menguras tenaga, tanjakan lumayan terjal dan menjaga agar gigi depan tetap di level dua.
Akhirnya saya finish juga di Rumah Hutan tepat pukul 08:18. "Tampil amat pak (awal amat, maksudnya)", sapa ibu yang penghuni Rumah Hutan, "Iya bu, lagi pengen kesini sendiri (padahal ga ada temen, hikssss).
Kontan saja sekalian pesan teh anget + mie instan rebus. Maklum laper banget.

Duuh, udara segar sekali pagi ini nyaman, badan jadi segar dan fikiranpun lebih fresh. Rupanya siang ini Rumah Hutan akan kedatangan tamu dari komunitas sepeda salah satu provider telepon seluler yang dipandu oleh seram.

Sempat ngobrol dengan orang Rumah Hutan, kalo musim durian kira-kira tiga minggu lagi.Hayoo siapa yang pengen rasain legitnya durian Rumah Hutan, bisa diluangkan waktu tuk gowes kesini kira-kira tiga atau empat minggu lagi dari sekarang (minggu terakhir bulan Januari s.d. minggu pertama Februari).

Pagi ini bagi ku adalah rekor baru sampe di Rumah Hutan dalam waktu 58 menit dari tikum. Setelah cukup beristirahat dan mengambil beberapa photo, saya putuskan tuk balik ke Serang menikmati Cilowong.
Perjalanan kali ini berakhir jam 10:54 setiba di rumah, nah ini nih, sambutan anak dan istri yang heran, mengatakan, "kok udah sampe rumak pa?" Maklum juga sih, memang slama seringnya sampe rumah diatas jam 12:00. ckckckck

Oia, terakhir baru diketahui kalo Om Agung sempat ke tikum dan melihat saya sendirian di tikum, namun karena Om Agung tengah asyik sarapan, maka tak begitu menghiraukan namun saya malah ndak lihat kehadiran beliau, walhasil.. akhirnya om Agung juga gowes sendiri, kata beliau ke arah Pancur, Sayar, dan Tanjakan 45.

Sampai ketemu di sepedaan berikutnya, tentunya dengan pasukan yang lebih komplit, harapan tanggal 21-22 Januari 2012 kita jadi sepedaan ke Lampung...don't miss it.

Monday, December 26, 2011

NAPAK TILAS GUNUNG KUPAK


Tidak kalah dengan formasi Pandawa Lima minggu sebelumnya, hari Sabtu tanggal 24 Desember 2011 kemarin, Pandawa Lima rasa baru kembali beraksi gowes ke Gunung Sari. Hanya Om Didit anggota yang bertahan. Sisanya, ada Omiyan, Om Yopie, Om Opick, dan Om Flash. Om Opick kali ini mengaku sebagai Bima. Padahal, menurut saya, dia lebih tepat sebagai Nakula-Sadewa bersama saya tentunya, kalau dilihat dari bentuk perut, hahaha.....

Perjalanan kali rencananya akan mencari duren di Gunung Sari, tapi sebelumnya kami akan lewat Tembong, Pabuaran, kemudian perkebunan karet Gunung Kupak. Haduh, mau cari duren saja susah amat. Sebelumnya, kami sempat berpose menggunakan jersi timnas MTB Indonesia untuk Olympiade 2014 di negara antah-berantah karena olympiade terdekat akan dilakukan tahun 2012, hahaha....
Jalan Raya Palka yang biasanya menyegarkan, beberapa bulan terakhir penuh dengan polusi udara di saat kering karena sisa-sisa pasir dari penambangan pasir sedot. Pasir yang masih basah juga sudah dengan sukses menghancurkan infrastruktur jalan raya di beberapa bagian. Di saat musim hujan, sudah dipastikan jalanan menjadi becek dan licin. Bravo untuk bisnis ini dan penanggulangan Amdal-nya!
Setelah tanjakan yang terasa sedikit menyiksa ke arah Pabuaran –bagaimana tidak, di saat kita ngos-ngosan menghirup oksigen, partikel-partikel polusi ikut tersedot dengan bebasnya- seperti biasa, kami disegarkan dengan teh manis di warung langganan di pertigaan seberang SMP Pabuaran. Kami telah naik dari ketinggian 65m dpl di Alun-Alun Selatan sampai ke 269m dpl di pertigaan itu, dengan kecepatan rata-rata hanya 14,6 km/j. Seperti lomba lambat saja.
Dilanjutkan ke arah Gunung Sari, kami mendapat turunan yang melegakan walau cuma 2 km saja. Tapi anehnya, Om Didit malah ingin difoto dulu, padahal kami sedang asyik-asyiknya ngegelosor. Pemandangan di sana memang indah, dengan latar belakang pesawahan yang hijau. Sayang, Gunung Karang tidak tampak di latar belakang karena tertutup kabut.
Memasuki perkebunan karet Gunung Kupak, dengan karakteristik trek makadam, kami disambut gonggongan anjing pemburu babi hutan. "Emang lu kira kami celeng, Jing....Jing... " Sempat keder juga digonggong seperti itu. Hanya Om Yopie yang tetap tampil percaya diri melewatinya dengan santai. Ia sepertinya berprinsip 'anjing menggonggong, kafilah berlalu', dalam artian denotatif. Untunglah para tuan mereka menolong kami mengusir anjing-anjing itu, hahaha.... Di sini masih sangat asri. Dengan kekayaan oksigen dan barisan pohon karet yang teratur, sangat memanjakan pernafasan dan mata kita. Kami pun berpose sejenak, tentunya sambil rehat.
Kami mencapai titik tertinggi perjalanan kali ini yaitu sekitar 343 m dpl di kawasan perkebunan karet Gunung Kupak ini, setelah sekitar 23 km dari tikum. Kembali memasuki jalan raya Gunung Sari, kami sempat mencari duren ke kebun di sekitar situ, tetapi tampaknya masih terlalu muda. Jadilah kami mencari di pinggiran jalan yang menyediakan duren setempat maupun duren Lampung! Makan duren kami ditemani dengan kopi pahit.
Setelah beres, kami lanjutkan perjalanan pulang menikmati turunan Cilowong yang fenomel itu. Kecepatan maksimal kami di sini mencapai 47 km/j. Tanjakan-tanjakan sebelumnya seakan hilang begitu saja. Alhamdulillah. Alhasil, sekitar 45,05 km kami tempuh hari itu dengan waktu gowes efektif sekitar 3,5 jam. Waktu total sih sekitar 5,5 jam karena ditambah waktu rehat, foto-foto, dan makan duren, hehehe....

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons