Friday, March 27, 2009

PULAU DUA alias PULAU BURUNG, SANG PERAWAN

Perjalanan hari minggu kemarin, SXC2 mengunjungi Pulau Dua, atau yang biasa kita sebut Pulau Burung, yang terletak di sebelah utara Kota Serang. Ini adalah perjalanan pertama kami ke daerah pesisir setelah sebelumnya perjalanan banyak dilakukan ke dataran tinggi seperti Gunung Sari dan Gunung Pinang, serta dataran rendah di Kramatwatu, Waringinkurung, dan trek JPG. Tentu saja perjalanan ini sangat ditunggu-tunggu oleh kami. Exciting gitu lho.


Seperti biasa, meeting point di halaman KPP Pratama Serang dengan jumlah anggota yang siap berangkat sebanyak 19 orang, lebih banyak dibandingkan minggu sebelumnya. Saya panggil mereka dulu ya… hoi…. (1) Bos Dono yang membawa tiga sepatu. (2) The photographer Om Iyan dengan backpack perlengkapan tempurnya, (3) Om Danar, (4) Om Didit, (5) Pak Taufik dan (6) Pak Yusman, dengan sepeda 24’-nya, selamat bergabung Bapak-Bapak! (7) Didoot, (8) Om Dodo 2 alias Widodo, (9) Om Hendra, (10) Teh Ai dan (11) Pak Ai (yang ternyata mertokunya namanya Ai juga), (12) Om Agus Chelski yang Chelsea-nya di bawah Guus Hiddink kalah untuk pertama kali, (13) Om Dwi alias Si Koneng, Liverpudlian yang The Kop-nya sedang on fire, (14) The photographer Om Dodo 1 yang sepedanya tinggi banget, (15) Om Darno one of the fittest , (16) The consistent-Bos Yopie-purnawirawan, (17) Om Chiem, dan (18) The photographer Bos Mars, dan (19) Pak Agung the smoker but one of the fittest.
Perjalanan dimulai menuju Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Serang. Kontur sangat-sangat datar. Tidak ada tanjakan sama sekali. Kata Om Hendra dan Dodo, trek ini sebenarnya cocok buat Om Timothi yang absen minggu ini. Bahkan pakai sepeda onthel pun sepertinya bisa hehe….. Sejauh mata memandang hanya sawah yang sudah dipanen terhampar. Pantas saja desa ini dinamakan Sawah Luhur, karena yang ada cuma sawah, sawah, dan sawah. Bebek-bebek berpesta pora di lahan sawah bekas panen ini memakan siput dan belalang sehingga terjadi simbiosis mutualisme antara petani dengan penggembala bebek.

Kami melewati jalan raya Sawah Luhur yang menyusuri jalur irigasi dengan airnya yang masih bersih yang biasa digunakan untuk kegiatan MCK penduduk. Sempat terbersit niat teman-teman untuk memfoto ibu-ibu dan gadis-gadis yang sedang melakukan kegiatan ini tapi untunglah tidak jadi. Bisa-bisa dikejar-kejar orang karena memfoto tanpa izin hehe…. Sangat kontras dengan suasana di perkotaan, dimana air sungai kotor dan beracun, penuh limbah kimia (terima kasih Iwan Fals). Namun, ada satu persamaan pemandangan, yaitu poster, baliho, spanduk, dan stiker para caleg dan ca-DPD yang kami baru tahu nama dan wajahnya yang dipaksa berpose ramah, bertebaran tidak beraturan merusak pemandangan, menunggui pohon-pohon, tiang listrik, dan antena-antena. Patingsuliwer. Kasihan bangsa jin, tinggal dimana lagi mereka kalau semua pohon sudah dipasang paku hehe… Bendera-bendera parpol berukuran sangat besar mengalahkan sang dwiwarna dan dipasang tinggi-tinggi menantang petir.

Jarak ke Pulau Dua tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 20km-an dan dapat dicapai dalam waktu sepeminuman teh (tapi 5 gelas yang dilakukan dengan diseruput) dari Kota Serang, terima kasih 212. Jalan masuk ke lokasi berada di jalan kabupaten yang menghubungkan jalan raya Serang-Banten Lama dengan Kecamatan Pontang. Banyak terdapat bangunan sarang burung walet yang volumenya mengalahkan rumah-rumah sederhana penduduk sekitarnya. Pemiliknya sebagian besar bukan orang sana.

Pulau ini terletak di Teluk Banten, berada di sebelah utara Kota Serang atau sebelah Tenggara kawasan Banten Lama. Dulu pulau ini terpisah dari Pulau Jawa dengan selat selebar 500m. Kalau ombak sedang surut, pulau ini menyatu dengan daratan Jawa. Lama-kelamaan, karena adanya pendangkalan Sungai Cibanten, batas antarpulau ini menjadi tidak jelas. Apalagi sekarang, endapan lumpur itu dijadikan tambak oleh penduduk sekitar. Menyatunya kedua pulau ini bukanlah hal yang unik di dunia geologi, dan biasa disebut sebagai pembentukan tombolo. Lazimnya tombolo muncul bila jarak selat lebih kecil dari lebar pulau, kedalaman laut relatif dangkal, adanya arus satu arah atau adanya sumber sedimentasi.

Secara administratif Pulau Dua termasuk Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, dengan letak geografisnya 106°-21’ BT dan 6°01 LS. Curah hujan rata-rata 1500-2000 mm per tahun yang terbasah. Januari dan Agustus merupakan bulan terkering dengan temperatur rata-rata 26°C. Ketinggian pulau antara 0-10 m dpl. Tanah bagian barat pulau agak kering sedangkan timur umumnya rendah dan berawa. Tanah dengan kandungan pasir yang tinggi tidak mampu menahan air hujan sehingga tanah di pulau ini umumnya kering. Sumber air tawar tidak ada. Air rawa berasal dari laut yang menggenang ketika pasang.

Pulau ini merupakan cagar alam yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) (bukan) Provinsi Banten? Entah mengapa di pos jaga yang berada di tengah pulau tersebut masih tertulis Provinsi Jawa Barat. Saking kurangnya perhatian Pemerintah Provinsi Banten? Belakangan baru saya tahu bahwa kendati Banten sudah menjadi provinsi sendiri, gaji bulanan jagawana di pulau ini ternyata masih dibayar oleh BKSDA Provinsi Jawa Barat.

Pulau Dua memiliki lebih dari 85 jenis tumbuhan yang tumbuh, tetapi yang umum dan yang mendominasi jenis api-api (Avicennia marina), bakau (Rhizopora apiculata), dan Diospyros maritime di timur dan sedikit bakau. Bahkan pada garis pantai timur menghadap utara dijumpai formasi tumbuhan api-api yang muda, kemungkinan pengaruh perluasan pulau. Pada pantai timur di tempat terbuka kumpulan beluntas (Pluchea indica less) dan beberapa semak kecil lainnya. Lebih ke arah laut, rumput tembaga/gelang laut (Sesuvium portulacastrum L), dan rerumputan berdaun tajam yang sempat melukai beberapa teman, serta rumput angin (Spinifex littoreus Merr).
Makin ke dalam pulau pada rawa-rawa didominasi api-api diselingi bakau (Rhizophora apiculata) dan Sonnerata sp., Ki duduk, ki getah dan waru laut (Hibiscus tiliaceus L.). Sementara di sebelah utara, tanahnya berpasir dan kering serta lebih tinggi. Tumbuhan yang dapat dijumpai Ki ribut, Ki hoy, tulang ayam, kekapasan serta sawo kecik (Manilkara kauki Dub). Tebing pantai dihiasi dengan dadap (Erythrina veriegata L), waru laut, dan kepuh (Sterculia foetida).

Jumlah burung di pulau ini lebih dari 14 ribu ekor dari 108 jenis dengan jumlah yang migran sekitar 29 jenis. Para migran yang diduga dari Australia, Jepang, atau Hong Kong itu hanya sekadar cari makan, dalam penerbangannya yang cukup jauh itu untuk menghindari musim dingin. Datang kurus, kalau sudah gemuk pergi lagi. Hanya burung lokal yang bertelur dan berkembang biak di situ.

Pulau ini dijaga oleh seorang jagawana, Pak Madsahi namanya. Seorang yang sangat sederhana namun penuh pengabdian. Bayangkan ia sudah mengabdi di pulau ini sejak tahun 1979 dengan fasilitas seadanya. Untuk membuat menara pandang pun, ia harus membuatnya sendiri. Oh ya bapak ini pernah mendapatkan penghargaan kalpataru pada tahun 1983 untuk kategori pengabdi lingkungan dan tahun itu juga diangkat menjadi PNS. Tahun 1995 ia mendapat penghargaan Satya Lencana untuk pengabdi lingkungan dan tahun 1998 Pemerintah Provinsi Jawa Barat membiayai keberangkatannya ibadah haji.

Tanah bekas galian tambak disusun menjadi semacam pamatang yang bisa dilalui oleh sepeda motor atau sepeda saja. Bayangkan perjalanan menuju sebuah pulau dengan menggunakan sepeda tanpa menggunakan perahu hehe…. Mengasyikan. Kami sempat tersesat di tengah-tengah tambak. Bos Dono sempat jatuh ketika memanggul sepedanya meniti dua bilah bambu. Sepedanya menjadi prioritas pertama untuk diselamatkan. Tapi apa daya kakinya kecebur juga. Biar badan atau kaki kecebur, sing penting pitnya selamet. Nah disini baru ketahuan ia membawa tiga sepatu. Pertama yang ia pakai berwarna coklat. Kedua, setelah kecebur ia memakai sepatu abu-abu, warna lumpur. Ketiga, setelah dicuci sepatunya berwarna hitam, basah hehe….

Oleh karena stamina yang belum terkuras, orang-orang saling berfoto. Kebetulan teman-teman banyak yang membawa kamera apalagi kamera-HP. Bahkan Om Iyan berniat dengan membawa peralatan lengkap se-backpack, termasuk tripodnya yang sangat berguna.
Kami berfoto-foto di pematang, di pinggir pantai, di pos jaga Pak Madsahi, di tengah-tengah hutan bakau, di atas menara pandang. Pemandangan yang sangat spektakuler karena kondisi pantai yang masih perawan, belum tersentuh tangan-tangan jahil manusia. Banyak kegiatan yang dilakukan teman-teman sewaktu sebagian dari kami mengobrol dengan Pak Madsahi. Om Iyan sibuk memfoto teman-teman di pantai dan dirinya sendiri, katanya sih untuk banner blognya si biru primer.
Kami juga sempat berfoto dengan bergelantungan pada akar-akar nafas pohon bakau di tengah-tengah hutan bakau. Tempatnya sepi. Hanya burung-burung saja yang ada di situ. Mungkin dan sangat mungkin juga makhluk gaib. Tapi karena kami berombongan, suasana tidak terasa menyeramkan. Janganlah ke sana sendirian.
Teman-teman penasaran ingin melihat situasi pulau dari menara pandang (darurat) buatan Pak Madsahi. Katanya sih ingin melihat burung-burung yang sedang bertelur maupun terbang ke sana ke mari. Namun, ada juga yang tidak ikut naik. Alasannya macam-macam, karena sudah pernah lihat burung lah, ada yang bilang sudah punya burung lah, padahal ada juga yang takut ketinggian hehe…..

Setelah puas melihat-lihat dan foto-foto, kami putuskan untuk kembali ke Serang melalui Desa Margaluyu, Desa Kasunyatan, keduanya di Kecamatan Kasemen juga. Hanya, jalur yang diambil adalah jalur memutar ke arah kawasan Banten Lama. Cuaca sangat panas karena menjelang tengah hari. Kami berpapasan dengan penduduk yang membawa kayu bakau ke luar kawasan cagar alam. Ini jelas illegal logging. Padahal sudah jelas-jelas dipampang peringatan untuk tidak membawa kayu-kayu dan burung dari kawasan ini. Sanksinya pun dipampang. Namun apa daya, Pak Madsahi tidak bisa menjaga kawasan ini sendirian saja. Dus, selain dibutuhkan tambahan petugas jagawana, yang terpenting adalah dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian kawasan ini.

Jalan raya Serang-Banten Lama yang tidak terlalu lebar sudah semakin ramai terutama oleh para peziarah ke dan dari kawasan Banten Lama yang menggunakan bus-bus besar dan kendaraan lainnya yang mengakibatkan polusi dan kekurangnyamanan berlalu lintas. Sangat dibutuhkan kehati-hatian dalam bersepeda. Dianjurkan untuk menyusul dari sebelah kanan. Safety biking first please!
Akhirnya, tiba juga kami di splitting point di warung bubur Cirebon, Lopang. Maknyusss. Apalagi setelah nge-goes di bawah teriknya mentari dalam keadaan kelaparan. Sekitar 11.30 kami berpisah dan menuju homebase masing-masing dengan selamat.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, Wassalam.

7 comments:

mars said...

number one.....................
bener2 kali ini liat cagar alam di Serang....

..exotic..

chelski said...

Akhirnya muncul juga postingan yang sangat2 ilmiah, makasih wat omo dida atas kutipan2 yang nggak bakalan kita sangka, ternyata om dida harus melengkapi postingan dari sumber2 yang dipercaya...sekali lagee....asyiik.....siplah....
Sekalian izin bos..., ahad nggak bisa nggayuh sepeda dulu, ditunggu aja ceritanya yang lebih seru lagee...

sibiru said...

ini baru mantapp

Anonymous said...

reportase khusus, cuman perjalanannya tidak menemukan warung jualan gorengan, thx om, nais posting

chiem

fLasa said...

Ada cerita yang kelewat. Sewaktu para anggota sepedaan mengantri di pematang yang hanya bisa dilewati satu sepeda, Teh Ai yang berada paling depan bilang, "Silakan duluan", padahal teman-teman tidak bisa lewat karena treknya memang hanya untuk satu sepeda saja :))

sepedaan.com said...

tuk temen2 yG mo gabung ditunggu...

Nurul Imam said...

Wah jadi pingin kesana, asli orang banten yah mas

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons