Saturday, April 11, 2009

SPEED, OUR BREAKFAST IS

Alhamdulillah.

Perjalanan SXC2 pada hari minggu tanggal 5 April kemarin adalah menuju Desa Bumijaya, Ciruas, Serang. Sepengatahuan kami, desa ini merupakan salah satu sentra gerabah yang ada di Provinsi Banten. Jalur yang akan diambil dimulai dari halaman KPP Pratama Serang, dilanjutkan dengan menyusuri kali di pinggiran jalan tol Serang-Jakarta, kemudian masuk ke jalan raya Walantaka di Desa Pipitan. Setelah itu, melewati perempatan pasar Ciruas menuju jalan raya Ciruas-Pontang. Setelah sampai di Desa Bumijaya, perjalanan dilanjutkan menuju jalan raya Kasemen-Pontang dan kembali melalui Kasemen. Semua trek diramalkan berkontur datar sehingga para trekker bisa memacu kecepatan sepeda secara optimal.

Seperti minggu sebelumnya, trekker kali ini bertahan pada jumlah 14 orang. People come and go. Kita panggil mereka satu persatu. (1) Om Mars yang selalu bilang jangan berakrobat padahal dia sendiri yang melakukannya, The seniors(2) Pak Agung ,(3) Om Darno, dan (4) Pak Bambang ESP yang kali in tampil tanpa soulmate-nya hehe… (5) Om Dodo 1 dan (6) Om Dodo2 (sorry saya panggil pakai nickname ini lagi, biar gampang hehe…), (7) Om Iyan the photographer, (8) Om Timothi yang kian hari kian meningkat enduronya dan tetap semangat ya Om, (9) Pak Ai tanpa Teh Ai, (10) Om Kusnaen yang orang-orang memanggilnya dengan teriakan medic…! medic…! seperti di film-film perang Vietnam karena perlengkapan P3K-nya yang lengkap termasuk Kalpanax, (11) Om Didit yang sedikit bicara tapi banyak senyum dan menggenjot tentunya, (12) Om Pepi , baru bareng dengan saya tapi rautnya tidak asing yang ternyata telah terbit di edisi Pamarayan jilid 2, (13) Om Dono ketua yang tetap bermotto leave no man behind, dan (14) saya, fLasa, just an ordinary man.


Sebetulnya kami akan memasuki trek pinggir kali sebelah jalan tol Serang-Jakarta dari jalan setapak di sebelah gerbang selamat datang di kota Serang, Pakupatan tetapi ternyata jalan itu sudah tertutup semak-belukar dengan pohon-pohon berdurinya yang siap menusuk badan para trekker. Gak jadi lewat situ deh, mending cari jalur lain. Akhirnya dari jalan raya Pakupatan-Palima, kami menemukan jalur tikus melalui kampung-kampung menuju ke trek tersebut. Trek ini hanya bisa dilalui oleh satu sepeda jadi tidak mungkin ada overtaking. Apalagi di kiri-kanan, pohon-pohon berduri setia menunggu trekker yang keluar jalur dengan tusukan mautnya halah… Konturnya sendiri mendatar dengan lapisan tanah halus campur pasir sehingga para trekker bisa ngebut. Aneh juga, menyusuri jalan tol yang kita lewati setiap hari dengan perspektif lain. Biasanya di dalam tol dengan perasaan biasa saja, sekarang di luarnya dengan perasaan lebih antusias.

Trek ini berujung di jalan raya Ciruas-Walantaka, tepatnya di Desa Pipitan. Masuk tarmac nih. Oh ya, Pipitan ini sangat terkenal di kalangan para komuter Serang-Jakarta karena merupakan tempat naik-turunnya “penumpang gelap” ke bis-bis AKAP. Disebut penumpang gelap karena mereka naik bis-bis tersebut setelah kontrol sehingga bisa membayar dengan harga tiket dengan sangat-sangat miring. Penumpang gelap ini kadang membuat manyun penumpang resmi karena selain perbedaan harga tarif tadi, mereka juga berjumlah banyak sehingga membuat sumpek. Awak bis mendapat penghasilan tambahan yang tidak perlu disetor ke P.O.-nya. Terjadi simbiosis mutualisme antar keduanya walaupun secara legal harus (bukan bisa) dikatakan melanggar UU Jalan Tol karena menaikkan-menurunkan penumpang di jalan tol. Padahal di lokasi itu jelas-jelas dipampang papan pengumuman mengenai larangan dan sanksinya yang akhirnya hanya menjadi hiasan. Kalau ada awak bis yang sedang apes tertangkap oknum mobil keren bersirene warna biru seperti anggota decepticon dengan to punish and enslave-nya, mereka harus mengeluarkan biaya tambahan supaya tidak ditilang. Simbiosis mutualisme lagi. Demi rakyat kecil semua bisa dilakukan. Ini juga merupakan bukti bahwa KKN di negara kita sudah ada dari yang tingkat paling tinggi sampai paling rendah. Menggurita, mendarah-daging, patingsuliwer. Sudahlah, koq malah ngalor-ngidul.

Selepas Pipitan, kami menuju perempatan Pasar Ciruas yang merupakan perpotongan antara jalan raya Ciruas-Walantaka dengan jalan raya Serang-Jakarta. Pit stop pertama, karena beberapa trekker tercecer di belakang. Trek masih datar dengan lapisan tarmac. Seperti perjalanan ke Sawahluhur sebelumnya, pemadangan kiri-kanan didominasi oleh sawah yang beberapa baru dipanen dan beberapa sudah siap ditanam lagi. Serang tea. Serang kan artinya sawah. Jadi, gak aneh kalau banyak sawah walaupun tidak pernah menjadi lumbung padi nasional. Karena belum tahu lokasi Desa Bumijaya dan tidak ada satu pun papan penunjuk arah ke sana, kami banyak bertanya kepada penduduk sekitar. Kagetnya, tidak ada satu pun yang tahu di mana tuh sentra gerabah. Mulai terasa aneh….

Pit stop kedua di Pasar Desa Bumijaya untuk mengisi perbekalan para trekker yang sudah mulai menipis, mencuri nafas untuk yang mulai capek, dan menjaga jarak dengan rombongan belakang. Ada yang menjual daging monyet. Koar-koarnya sih untuk obat, padahal bahan dasar obat kan harus yang halal ya. Yang menarik, ternyata banyak penjual bebek. Apa karena mereka baru panen di sawah ya, sehingga perlu bebek untuk memberantas keong dan belalang? Ingat perjalanan ke Pulau Burung sebelumnya kan?

Setibanya di Desa Bumijaya, kami disambut oleh “hanya” beberapa rumah yang men-display gerabah dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang berdiameter sampai 1 meter lho. Gerabah yang dijual masih polos tanpa polesan cat atau glazur. Kabarnya para pengrajin ini menjual sampai ke Bali dengan partai besar. Nah, di sana gerabah ini baru dihias dengan berbagai motif dan tahu tidak, tentunya dijual dengan harga berlipat-lipat. Kesimpulannya apa? Sepertinya, orang Banten itu kurang kreatif dalam bidang seni.

Karena “hanya” beberapa rumah itulah, kami tidak berhenti dan berharap ada tempat yang lebih masif. Ternyata, sampai ujung Desa Bumijaya, sentra gerabah itu tidak ada lagi. Kami sempat kecewa, koq cuma sesedikit itu hehehe… Pantas tidak ada satu pun papan penunjuk arah dan orang-orang tidak tahu keberadaannya. Untuk menghibur diri, kami berfoto-foto saja di samping jerami berbentuk kuda troya bekas potongan padi.

Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Sawahluhur melalui Desa Cigelam dan Pamayungan. Karena belum tahu arah dan seksi topografi absen, kami bertanya-tanya dan sempat berputar-putar menambah odometer. Malu bertanya sesat di jalan. Akhirnya, kami bisa juga mencapai desa-desa tersebut. Ternyata, hari itu bisa disebut hari kawinan nasional. Kami melewati sekitar 6 rumah yang sedang melakukan pesta pernikahan. Sampai-sampai kami sempat konvoi dengan rombongan pengantin dari Serpong dan disangka anggota rombongan mereka sehingga disambut dengan lagu marhaban. Pengantin yang unik, pikir mereka tapi ternyata salah karena kami cuma numpang lewat koq hehe…

Desa Pamayungan. Para trekker mencoba mengarang kenapa disebut demikian. Ada yang menyebut mungkin di sana penduduknya pada kemayu. Ada yang bilang mungkin desanya ditutupi payung sehingga kita bisa bersepeda tanpa kepanasan. Macam-macamlah. Tingkat kelelahan berbanding lurus dengan tingkat error otak. Ingat perjalanan ke very hot-Waringinkurung? Di desa ini juga, kami menemukan pemandangan bagus di pinggir sungai yang belum diketahui namanya, di kolong jembatan untuk berfoto-foto. Ternyata, aduhai, indera mata memang dimanja tetapi indera hidung sangat menderita karena aroma tidak sedap menusuk-nusuk sensor bau para trekker. Kami ingin segera tinggalkan tempat itu sebelum pingsan. Trauma. Bahkan setelah beberapa kilometer kita lewati, masih trauma dengan bau itu.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sungai dan pitstop selanjutnya di dam sebelum memasuki jalan Raya Kasemen-Pontang di Sawahluhur. Beberapa trekker yang sedang B.A.K. difoto oleh Om Iyan dari belakang. Untung bukan dari depan ya hehe…
Sampai di tarmac lagi, jalan Raya Kasemen-Pontang, yang akan kita libas sampai ke homebase masing-masing. Melewati gerbang masuk ke kawasan Pulau Dua alias pulang burung yang treknya tampak basah berlumpur bekas hujan semalam. Untung kami sudah ke sana karena dengan kondisi demikian, akan sulit bagi sepeda melewati trek tersebut. Sudah pasti kedua ban kita akan penuh dengan lumpur. Kapan-kapanlah kita ke sana lagi untuk nostalgia. Jarak ke Serang masih sekitar 20 km lagi. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dibutuhkan enduro, kesabaran para trekker, dan kemampuan menjaga ritme kecepatan menggenjot. Tetapi ada juga trekker bertenaga kuda yang sprint sampai ke pitstop selanjutnya di bubur ayam Cirebon, Lopang.

Rombongan pertama sudah tiba sekitar pukul 11 dan segera memesan berbagai menu seperti bubur ayam, mie goreng, dan batagor. Tentu saja ditemani segelas teh manis untuk menambah energi. Teman-teman mulai bertanya-tanya, kenapa rombongan belakang termasuk sweeper-nya tidak muncul juga? Ternyata rombongan di belakang, Om Timothi, Om Pepi, dan Pak Bambang ditemani oleh Om Dono dan Om Mars sudah ngopi duluan di warung. Kabarnya Om Tim sudah kedodoran tapi tidak apa Om, kita tetap menemani dan mendukung. Yang penting tetap semangat dan rutin-kontinyu supaya staminanya segera terbentuk dan menyesuaikan diri. Seperti Om Dono bilang , motto kita adalah leave no man behind, halah… Tanya saja tipnya pada Om Yopie yang pada awalnya bermotto MTB (Mari Tuntun Bersama) bukan hanya pada tanjakan tapi juga turunan hehe… Namun, sekarang beliau sudah bisa konstan dan enduronya meningkat. Seiring berjalannya waktu, kita semua akan berada pada posisi yang sama.
Baiklah, karena lambung sudah full tank dan energi siap mengawal, para trekker kembali ke homebase yang sepertinya pukul 12 semua sudah berkumpul dengan keluarganya masing-masing.
Wassalam

1 comments:

Hitam Putih said...

Tracknya asyik bGt...untung seharian mendung...
Tp yG ga asyik ada bau yG ga sedap sepanjang track....

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons