Tuesday, October 13, 2009

Dari Desa ke Desa

Pada tahun 1980-an, ketika TVRI masih menjadi satu-satunya pilihan kita menonton televisi, ada sebuah acara yang bernama “Dari Desa Ke Desa”. Acara yang dibawakan oleh Sambas Mangundikarta dengan suara khasnya ini menyorot keberhasilan penduduk berbagai desa di Indonesia dengan profesinya masing-masing, seperti bercocok tanam, beternak, dan lain-lain. Banyak desa telah dijelajahi dan dipertontonkan keberhasilannya kepada kita yang intinya adalah menggambarkan keberhasilan pemerintah pada saat itu.
Minggu 4 Oktober 2009, komunitas SXC2 yang kali ini berjumlah 20 orang, berencana melakukan tur dari desa ke desa. Bukan untuk melakukan hal-hal di atas tapi hanya untuk menyesuaikan otot-otot lagi setelah satu bulan lebih sebagian besar dari kami libur meng-gowes karena puasa dan libur idul fitri. Ya, rencananya kami akan melahap trek yang tidak terlalu berat dulu supaya otot-otot tidak kaget. Ajakan Pak Bagus untuk ke Paninjauan tidak terealisasi karena bayangan kami, trek tersebut agak berat mengingat jarak tempuh yang panjang walaupun berlapis hotmix.
Trek yang akan kita lalui kali ini adalah ke daerah perbukitan di desa-desa Kecamatan Taktakan dan Waringinkurung melalui Jalan Raya Taktakan. Selepas meeting point, Om Timoty memisahkan diri di Alun-alun karena urusan keluarga atau karena sudah membayangkan tanjakan? Hehe….
Selanjutnya, seperti biasa, pitstop pertama di pertigaan di bawah pohon beringin di pangkalan ojek Desa Umbul Tengah. Namun, kami tidak akan masuk ke kawasan melewati desa ini. Kami akan masuk dari pertigaan selanjutnya di arah barat melalui Desa Cokop Sulanjana, suatu kawasan agropolitan di Kecamatan Waringinkurung. Sayang juga sebenarnya, sampai saat ini kami belum sempat mencapai Desa Sasahan, kawasan agropolitan lainnya di sana. Di sini, Om Arif memisahkan diri untuk kembali ke Serang karena urusan keluarga.
Trek-trek di kawasan ini sudah kita kenal, berkontur dan bervariasi antara tanjakan dan turunan dengan lapisan aspal kasar, berbatu-batu kerikil dan batu kali. Hal ini menambah beban pesepeda ketika menanjak dan membahayakan ketika menurun. Seperti biasa, gerakan MTB kita lakukan. Oh ya, perlu diketahui bahwa organisasi kita terdiri dari para pesepeda dari tingkat mahir sampai tingkat modal nekat doang. Jadi kalau jalan terlalu menanjak, kita nekat MTB. Bahkan, kalau terlalu menurun pun, kita nekat MTB juga hehe…. Sing penting selamet
Selepas Desa Cokop Sulanjana, perjalanan kami lanjutkan menuju Desa Binangun, alih-alih ke Sasahan. Kami melaui trek-trek yang sudah tidak asing lagi, termasuk sebuah turunan curam yang berbelok tajam di desa tersebut. Rem-rem kami bekerja sangat keras sampai cakram dan pelek-pelek menjadi sangat panas karena gesekan. Kalau rem blong, sudah dipastikan kami akan terjun ke rumah-rumah di bawahnya. Naudzubillah. Kami kemudian rehat sejenak di pertigaan Desa Cibangkong untuk melahap, bukan trek, tetapi gorengan, teh manis, dan kopi. Di perjalanan, Om Dodo memisahkan diri karena urusan keluarga.
Perjalanan selanjutnya menuju Desa Gudang Batu melewati warung penuh memori, khususnya untuk Doda Chupeet yang sampai saat ini belum terdengar lagi kabarnya. Jangan-jangan dia akan pensiun dini hehe…
Desa selanjutnya Sukabares. Menakjubkan banyaknya (kantor kepala) desa yang kita lalui. Lapisan trek masih berbatu-batu, naik dan turun. Oh ya, sepanjang perjalanan, anak-anak sangat antusias menyambut para pesepeda yang lewat, mengajak high five sambil mengucapkan salam, selamat pagi, ataupun selamat siang. Bahkan saking semangatnya, mereka sampai menghalangi jalan-jalan kami. Kring…kring… minggir anak-anak!
Selanjutnya Desa Kemuning yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan desa-desa sebelumnya.
Terakhir, desa yang kita lewati adalah Desa Umbul Tengah. Lega rasanya kalau sudah mencapai desa ini karena hanya sekitar 1-2 km lagi, kami akan kembali ke pitstop pertama kami, pangkalan ojek favorit. Dan, horee… saya paling terakhir sampai di sana.
Ternyata, saya dan beberapa teman merasa bahwa perjalanan ini lebih berat dibandingkan ke Paninjauan karena karakteristik medannya. Niat awal yang bersepeda hanya untuk penyesuaian otot-otot menjadi tidak tercapai. Yang ada malah pegal-pegal haha...
Dari sini, perjalanan menuju Serang tidak begitu mengkhawatirkan karena Jalan Raya Taktakan yang full hotmix dari sini sebagian besar hanyalah turunan-turunan saja. Hanya sekitar 15’ kami mencapai perempatan Brimob yang menjadi titik berpisah kami. Saya balik ke rumah bersama Om Hendra dan Om Dwi.

4 comments:

fLash said...

Di edisi ini, tidak saya sisipkan foto-foto karena belum ada unggahan dari teman-teman. Sok atuh ditunggu unggahannya...

CoKlat said...

Ada foto lokasi mas, sy pasang di fb SXC2 daimbil dari google.....,nyepedah pertama setelah lebaran yang melelahkan....tetap semnagat'z....

yellow bike said...

terima kasih om dida..., like as use to be postingannya komplit 'n mantab...

buat para komuter..., ayo semangat lagi dong...
langkah awal... LET'S GO BACK TO THE "BLOG"

fLash said...

cool, Mas Agus!
Mas Dwi, jangan disingkat jadi Let's GoBlog ya, hehe...

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons