Tuesday, October 13, 2009

DUREN OH DUREN

Perjalanan hari Minggu tanggal 11 Oktober 2009 kemarin sebenarnya dimulai dengan kurang bersemangat karena hanya ada 11 orang pesepeda yang hadir di meeting point. Itu pun Om Andri hanya absen pagi saja sehingga praktis yang siap berangkat hanya tinggal 10 orang, yaitu Pak Ai, Pak Danar, Mas Darno yang kali ini tidak nge-trial ria, Pak Agung, Om Iyan, Dida, Om Dodo, Om Bayu, Pak Dudi, dan Pak Chandra(?)
Pada mulanya kita akan menuju Ciomas dan bergabung dengan teman-teman BCC di perjalanan dengan estimasi waktu kedatangan di sana nanti sekitar pukul 12.00. Hehe... Beberapa pesepeda ketar-ketir, termasuk saya tentunya, jam berapa bisa sampai rumah lagi ya? Akhirnya kami putuskan untuk mencoba saja sampai sejauh mana. Kalau pun waktu terlalu siang atau kecapaian, banyak angkot yang siap mengantar balik kita.

Trek awal dimulai melalui pangkalan ojek Tembong ke arah Desa Paleuh. Trek yang tidak asing karena sering kita lalui. Namun, secara mental, saya sebetulnya kurang suka trek ini karena walaupun tidak curam, tetapi tanjakannya cukup konsisten. Saya selalu keteteran di jenis trek ini.

Di Desa Tembong, saya dan Mas Darno masih menunggu Pak Dudi dan Om Iyan yang belum datang juga setelah sekitar 15-20 menit. Ternyata ban sepeda Pak Dudi, yang ditemani Om Iyan sebagai sweeper, harus diisi angin dulu. Namun, entah mengapa akhirnya Pak Dudi memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Padahal sepedanya keren euy, full-modif Marin. Wah... saya terancam jadi batas bawah nih.

Benar juga, setelah perjalanan dilanjutkan, saya mulai tertinggal dari rombongan utama dan horee... menjadi peserta terakhir yang sampai ke pitstop pertama di pertigaan Desa Paleuh yang memisahkan arah ke Palima dan ke Pabuaran, sambil berpikir terus gowes gak ya? Jalan masih panjang.... kata Andi Liani. Di sini, kami istirahat berjamaah dengan teman-teman BCC.

Dua minggu ini, saya meng-gowes dengan menderita karena menjadi batas bawah terus. Teman-teman pada makan apa sih? Hehe…. Tapi untungnya di sepanjang jalan, sedikit terhibur oleh Mbah Surip yang menyanyikan lagu “Bangun…, Tidur Lagi” dari odong-odong yang masih menjadi mainan favorit anak-anak balita. Ya, suara serak Mbah Surip sekarang sudah mulai menggeser lagu anak-anak yang dulu sering kita dengar. Sedih gak sih?

Sambil berpikir terus gowes atau tidak, tiba-tiba Pak Danar usul supaya kita mengganti tujuan ke Gunung Sari saja. Alhamdulillah, rupanya Allah memberikan jalan keluar bagiku. Tanpa pikir panjang, saya langsung setuju karena saya pikir arahnya menjadi lebih pendek dan sudah terbayang bonus turunan Cilowong. Bener gak sih? Pada akhirnya, pilihan ini nanti terbukti tepat karena kami tiba di rumah sebelum dzuhur.

Perjalanan menuju pertigaan arah Gunung Sari dan Ciomas di Pabuaran masih konsisten dengan tanjakan yang membuat saya masih keteteran. Halah, rombongan utama jauh amat. Sampai-sampai saya merasa ngegowes sendirian haha.... Lewat sebuah toko ****mart, saya mampir sebentar untuk beli dan minum obat. Ya, sejak tadi saya memang sakit kepala, jadinya keteteran deh. Kata Exist sih, Mencari Alasan? Hehe...

Tiba di pertigaan yang memisahkan arah ke Ciomas dan ke Gunung Sari yang dituju sebagai pitstop kedua, teman-teman rombongan utama sudah rehat sedari tadi. Menu standar warung sudah disantap, teh manis (Dodo minta yang ditubruk tehnya, saya bilang minum tehnya di tengah jalan saja, haha...), kopi, gorengan, dan penganan-penganan kecil. Sebagian beristirahat di bawah pohon beringin di halaman SLTP 1 Pabuaran sambil menonton anak-anak sekolah belajar baris-berbaris. Walau penuh kesederhanaan, beberapa anak menggunakan sandal saja, mereka tetap bersemangat melakukannya dan kualitas baris-berbaris mereka saya pikir bagus. Jadi ingat zaman sekolah dulu. Hmm….

Sekitar 10.00, perjalanan kami lanjutkan ke arah Gunung Sari. Trek ini baru bagi kami. Kontur ke sana bervariasi antara tanjakan dan turunan tetapi karena turunannya lebih tajam, tanjakan-tanjakan yang ada tidak begitu terasa karena kelembaman yang kita miliki. Bahkan ada satu turunan yang bisa kita tempuh dengan kecepatan sekitar 45 km/jam. Lumayan cepat untuk ukuran kami. Hanya satu tanjakan yang sangat parah yang membuat saya, Pak Ai, dan Pak Darno MTB. Sebenarnya saya masih kuat (perasaan saja kali) tapi mental saya jatuh melihat Pak Ai dan Mas Darno sebagai para jagoan gowes melakukan MTB haha....
Sampai pada suatu turunan sangat tajam, tiba-tiba di bawah, jalan menikung sangat tajam, dipenuhi pasir yang licin. Hampir saja terjadi kecelakaan ketika Pak Danar dan Om Dodo keluar jalur dan nyaris masuk parit. Jalanan sangat licin dan bila direm akan mengakibatkan ban menjadi selip. Gak pake ABS sih. Namun, alhamdulillah, semuanya selamat. What a track! Luarrr biasa… Semua pesepeda puas atas sajian menu trek dari Pabuaran ke Gunung Sari ini.
Sekitar Pukul 10.30 kami tiba di pertigaan Gunung Sari. Weh, masih pagi geh, kata orang Serang. Sambil beristirahat di pitsop ketiga ini, kami membahas beberapa kejadian tadi. Betapa kewaspadaan harus tetap dijaga. Apalagi saat turunan tajam yang kita selalu merasa eforia di dalamnya.
Beberapa meter selanjutnya, kami menjumpai penjual duren yang berasal dari Gunung Sari dan sekitarnya. Sebagian besar masih hijau tapi rasanya sudah bisa dijual dengan dua pilihan, yaitu manis murni ataupun yang manis sedikit pahit. Ya, kami mampir sejenak untuk menyantap beberapa buah duren. Oh ya, buah duren sini terkenal berdiameter tidak terlalu besar, berdaging tidak terlalu tebal, dan berbiji besar tapi rasanya mantap euy… Tapi karena baru awal musim, hanya satu pedagang itulah yang kami temukan di sepanjang perjalanan. Harganya masih mahal. Penjual menawarkan Rp 40.000-an untuk duren berdiameter sekitar 15-20 cm. Setelah tawar-menawar, kami dapat harga separuhnya. Itu pun penjualnya saya rasa masih meraup laba.
Sekitar pukul 10.55 perjalanan kami lanjutkan turun ke arah Serang. Sebelumnya, kami bertanya-tanya apakah duren akan menambah atau mengurangi tenaga. Ternyata efeknya positif. Melahap turunan Cilowong dan seterusnya, delapan pesepeda bisa melakukan sprint dengan tetap berkelompok. Tidak ada yang tercecer, termasuk saya yang biasanya ketinggalan hehe….
Jam menunjukkan pukul 11.10 ketika kami mencapai pertigaan pangkalan ojek Desa Umbul Tengah dan tanpa berhenti lagi, sekitar pukul 11.25 kami mencapai perempatan Brimob sebagai titik berpisah kami. Lumayan cepat untuk ukuran kami.

Akhirnya, sekitar 11.30 saya bisa mencapai rumah. Masih pagi karena belum adzan dzuhur.
Wassalam.

4 comments:

fLash said...

Yan, jatah Pak Danar diembat juga? Lihat Pak Danarnya manyun tuh hehe...

mars said...

Asyik jG tuh...kapan2 kita ulang lagi..

fLash said...

jangan.... gw menderita banget gowes sendirian ke Pabuaran, kecuali ada sweeper hehehe...

yusman said...

ajak ajak donk klu track nya cari duren

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons