Tuesday, November 24, 2009

BERMAIN AIR DI PANCANAGARA

Alhamdulillah, perjalanan Minggu 22 November 2009 kemarin memberikan keceriaan luar biasa bagi para pesepeda yang ikut. Sesuai rencana semula, kami berangkat menuju sungai Pancanagara di Pabuaran. Trek yang akan ditempuh sudah familiar bagi kami, yaitu melalui Desa Sepang, Gelam, Sayar, kemudian Pancanagara. Jadi semua sudah bisa mengukur tantangan yang akan dilalui, kecuali perjalanan menuju sungai Pancanagara yang baru dieksplor oleh 6 orang dari kami sekembalinya dari perkebunan karet Gunung Kupak, beberapa minggu sebelumnya.

Pesepeda yang bergabung kali ini ada 14 orang.

1. Om Mars, yang belum mengunggah foto solo saya hehe…;
2. Om Iyan, yang juga demikian hihihi….;
3. Om Bayu yang berprinsip silent is golden, berbanding terbalik dengan saya yang “isn’t”;
4. Pak Agung yang tangguh di sepeda tapi tidak kalau berjalan di sungai karena sampai kecebur dua kali;
5. Pak Ai, selamat datang kembali;
6. Om Hepi yang selalu happy dengan sepeda Carrera-nya;
7. Pak Dudi yang kali ini tidak salah pilih sepeda dan celana rasta, hanya manset motif tatonya saja yang terlupa;
8. Om Yopi alias Pak Sutarman dari Menes;
9. Om Dodo yang ternyata adalah pecinta jamu;
10. Teh Rina, anggota baru tapi lama dan baru bergabung lagi setelah beberapa bulan absen;
11. Om Dono yang tetap bertahan dengan astroz3 ekspedisinya;
12. Pak Yusman satu-satunya pesepeda yang tetap kering;
13. Om Hendra yang cita-citanya nyebur gak kesampaian, keep hoping, Bro;
14. Saya sendiri, Flasa.

Oleh karena Om Dono baru bergabung di Saya Bulu, selepas titik kumpul, kami memutar alun-alun, terus Kebon Jahe. Beberapa pesepeda protes karena, katanya, jalannya tanjakan hehe…. Belum panas kali otot betisnya.

Perjalanan dilanjutkan melalui Desa Sepang, Gelam, terus ke Sayar. Bisa dipastikan sebagian besar kontur tanjakan yang akan kita tempuh karena memang desa-desa tersebut berada di atas perbukitan. Teh Rina yang baru gabung kembali sempat mengatakan kalau baru gowes lagi sudah langsung dihadapin dengan tanjakan. Hehe…. belum tahu dia, nanti perjalanan ini akan mengasyikan. Terbukti kan? Tapi hebatnya dia masih tetap kuat, sampai-sampai Pak Dudi yang berniat jadi tim penyapu memujinya. Katanya kiraian ada partner di belakang, ternyata dirinya sendiri yang keteteran hihihi….

Namun, ada satu keinginan Pak Dudi yang belum kesampaian, yaitu foto-foto di kuburan. Katanya, “Fotografer mana nih? Koq gak foto-foto”? Ngomongnya di kuburan. Halah, kayak gak ada tempat lagi, Bro. Nanti di depan, Bro. Tahan posenya.

Rehat sejenak di pertigaan Sayar ditemani gerimis. Tiba-tiba ada ambulans lewat. Langsung kita intip, jangan-jangan ada anggota kita di dalamnya. Namun, untungnya tidak ada hehe…

Di Pancanagara kami rehat lagi di sebuah warung. Si empunya warung sebenarnya tidak jual teh manis, tapi karena dipaksa oleh P.O.L. (Persatuan Orang-orang Lapar), dia terpaksa membuatnya. Maklum, warung bagi kami identik dengan teh manis dan penganan. Akhirnya, para pesepeda lapar itu memakan dan meminum apa saja mulai dari kerupuk, jamu (ada juga lho), biskuit anak-anak, kacang-kacangan, jrrd (jeung rea-rea deui). JRRD sama dengan “dan banyak lagi” dalam Bahasa Indonesia. Banyaknya item makanan ini hampir mencapai 15 buah dengan kuantitas yang jauh lebih banyak. Semangat makannya seperti orang yang ditahan Jepang seminggu.

Dari sini, perjalanan dilanjutkan melalui jalan kampung yang becek bekas hujan, hutan, kebun-kebun penduduk, batuan cadas yang menjadi jalur air, tebing, jurang (kesannya hiperbolik) padahal bener lho, walau tidak ekstrim-ekstrim amat. Para pesepeda sampai menuntun sepedanya untuk keselamatan ketika melewati tebing di kanan dan jurang di sebelah kirinya.

Di atas bukit, di sebuah kebun kacang dengan latar belakang Gunung Karang dan para petani yang sedang bekerja, jiwa narsis para pesepeda timbul. Yo wiss, foto-foto dulu hehe…. Pak Sutarman bergaya menaiki pohon berdiameter cuma 10 cm-an yang menjadi miring karena diameter perutnya hampir 10 kali lipatnya hihihi… Yang lain, berpose sendiri dengan latar belakang Gunung Karang atau dengan ditemani sepedanya.

Akhirnya, tiba juga kami di sungai Pancanagara itu. Debit air kali ini lebih deras dibandingkan perjalanan sebelumnya walaupun masih bisa kami lewati. Menemukan air, para peseda mulai memasang aksi-aksi mereka yang ditangkap oleh kamera Om Mars, Om Iyan, dan Om Dodo. Belum lagi yang berinisiatif menggunakan ponsel mereka. Foto-foto tampaknya sudah banyak diunggah di http://www.sepedaan.com/ maupun grup SXC2 di FB dengan aneka ragam komentar. Ada yang bergaya merenung di pinggir sungai, nongkrong di batu, gaya banjir, gaya kelelep, macam-macam.

Ternyata, tidak mudah berjalan di atas batu-batu yang sering lepas itu. Pak Agung saja sampai kecebur dua kali. Di sepeda, dia boleh tangguh, tapi tidak untuk berjalan di air haha…. Om Hendra penasaran ingin nyebur tapi gak ada yang mau menemani. Kalau sendirian, dia takut ditinggal hehe…. Om Dono berpose dengan banyak gaya dan sepertinya fotonya paling banyak tuh. Pak Yusman sepertinya satu-satunya peserta yang kering karena setelah lewat air langsung beres-beres. Kenapa waktu itu tidak kita ceburin ya? Pak Sutarman dari Menes tetap bertahan berendam dengan sepedanya, jangan-jangan sambil pipis gak ketahuan hihihi… Om Iyan sibuk memfoto dirinya sendiri, katanya untuk pemutakhiran profil di FB. Pak Dudi yang berjalan-jalan di air sambil dituntun seperti pengantin sunat mau diserahin ke bengkong hehe…. Teh Rina yang masih bisa ber-peace-ria sambil difoto. Apa lagi ya??? Silakan tambahin di komentar di bawah.

Setelah kenyang bersenang-senang dan berfoto-foto, kami dihadapkan dengan tanjakan yang sama sekali tidak mungkin dilalui dengan sepeda karena curamnya. MTB adalah suatu keniscayaan.

Perjalanan dilanjutkan melalui Desa Sindangsari menuju ke Desa Tembong yang sebagian besar berkontur turunan saja. Tiba di pertigaan lampu merah Sempu, kami mampir ke warung bakso dulu karena Om Hendra yang sedang berultah akan menraktir kami. Kalau masalah makan mah, siap! Silakan pesan sebanyak-banyaknya. Terima kasih Om Hendra bakso dan mie ayamnya, mudah-mudahan diberi umur panjang yang bermanfaat dan tetap dianugerahi rizki oleh Allah SWT. Sayang Om Bayu, karena tampkanya ada keperluan, pulang duluan.

Jarak tempuh sampai di sini tidak terlalu jauh, hanya sekitar 27 km. Tidak terlalu melelahkan. Indikatornya ialah Pak Dudi kelihatan masih ceria hehe… Di sini pula menjadi titik berpisah kami. Jam menunjukkan hampir angka 12. Tanpa ba-bi-bu Om Yopie, langsung berangkat sambil memegang prinsip datang tak diundang pulang tak diantar. Saya sendiri, bersama Om Hendra dan Teh Rina mengarah pulang melalui Alun-alun, Kaloran, dan berakhir di Lontar Baru. Home sweet home.

13 comments:

fLash said...

temen2 yg ceritanya belum terceritakan atau yg mau klarifikasi silakan di bawah...

CoKlat@Ckelski said...

Sayang......

Premier 3.0 said...

asyik banget deh..GA ADA LU GA RAME...RUGI BANGET HAHAHAA

serba-serbi said...

Ditunggu aja om, tar diupload...

mars said...

Tuh om permintaan photona dah diunggah

fLash said...

@Omagus tar kita ke sana lagi tapi tahun depan ye huaha...,
@Omiyan kamsudnya GAK ADA LU RAME
@Mars, jadi malu hehe...

Arif said...

sayang euy gak ikut, padahal track yg ditunggu-tunggu,,
@flash: belum dicritain sapa yg di ambulan tuh?? ada yg kram lagi kah? :)

asarie said...

Betul betull betulllll,
Ini sangat baru, pasti ada jilid II dong ?????

fLash said...

@Mas Arif, yang di ambulans bukan siapa2, kayaknya sopir ambulansnya lagi pulang ke rumahnya di situ hehe...
@Mas Asarie, selamat turun gunung hehe...

astroz3 said...

...setelah absen selama 3 minggu.... ternyata trek yang ditemui asyiiiknya rruarrr biasa.. gimana kalau absennya sampai 3 bulan ya...???

mars said...

kalo 3 bulan, kayaknya ambulance kemaren ada isinya deh...

fLash said...

yg repot kita karena harus ngebujuk sopir ambulans supaya ngangkut kita. Lha wong dia lagi mudik xixixi....

Ahsan said...

I enjoyed the picture lot. Cheers

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons