Tuesday, November 03, 2009

Bersepeda -sepedaan- Itu ...... (sumber utama: Harian Cetak, KOMPAS, Minggu, 29 Maret 2009)   

Sepedaan.. sepedaan..  sepedaan, begitulah yang terbayang di benakku ketika teman-teman bersepedaku mengajak berkumpul untuk sekedar berbincang mengenai kelompok sepedaan kami.  Telah lama kami berinteraksi dalam kegiatan sepedaan setiap hari minggu. Wilayah Serang (Banten) dan sekitarnya menjadi area penjelajahan kami.   Jalan raya, jalan desa hingga pematang sawah, juga dari jalan yang lurus, keriting hingga berbatu, semua kami lewati untuk memenuhi hasrat bersepeda kami.  Belakangan ini kegiatan sepedaan kami mulai sedikit diikuti peserta, mungkin rute yang telah terasa membosankan dan ditambah pula banyak teman-teman kami yang tak bisa ikut lantaran berbagai kepentingan yang memang harus didahulukan.   Oleh karena itu Jum’at malam kemarin (30Okt)kami mencoba berkumpul untuk berbincang lagi tentang kegiatan sepedaan kami, sepedaan kita, dan jum'at malam itu pun dicapai kata sepakat untuk bertekad terus menggiatkan sepedaan kami, hingga tujuan dan cita-cita kami terwujud.

Hari ini aku kembali teringat akan sebuah tulisan di harian Kompas tentang makna kegiatan bersepeda atau sepedaan, begitulah kami biasa menyebutnya, sebuah aktivitas yang memiliki berbagai arti bagi setiap orang yang mencintainya.  
Dan inilah pandangan dari beberapa tokoh yang mencintai bersepeda atau “sepedaan” itu:

Andi Mallarangeng (46),
Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia
(d/h menjabat sebagai Juru Bicara Kepresidenan, warga Cilangkap yang ngantor di Istana)

Jarak dari rumah ke kantor cukup jauh, 40-an kilometer, bisa 1,5 jam ditempuh dengan mengayuh sepeda. Rutenya, Cilangkap ke Taman Mini, lalu Kramat Jati, Jalan Dewi Sartika, Gatot Soebroto, Kuningan, Menteng, Gambir, Istana. Sampai kantor, makan bubur ayam dulu sebelum mandi. Naik sepeda ke kantor cukup sekali sepekan pada hari Jumat, tapi kalau akhir pekan saya biasa sepedaan keluar-masuk kampung, bisa sampai Cileungsi, Cibubur, Sentul.

Saya bersepeda sejak kecil, ke sekolah naik sepeda. Waktu kuliah di UGM, Yogyakarta, saya juga naik sepeda. Ketika kuliah di Amerika Serikat, tetap naik sepeda. Bisa dibilang, sepanjang hidup saya ini naik sepeda. Sepeda yang saya pakai sekarang saya beli tahun 1995 di AS, merek Track. Murah meriah, ha-ha-ha. Saya juga punya sepeda lipat.
Selain untuk kebugaran, bersepeda itu juga ramah lingkungan. Manfaat lain, kita belajar mengalah, jangan merasa selalu menang. Di jalan, posisi kita lemah. Semua orang mau menang sendiri, kita ngalah aja. Ada bus, ngalah. Ada motor ngebut, ngalah, meski terpaksa naik trotoar. Saya yakin, sepeda ini justru akan menjadi tren masa depan.


Agustinus Gusti Nugroho atau Nugie (37),
Penyanyi dan pencipta lagu, warga Bintaro

Sepeda benar- benar jadi alat transportasi buat aku. Kalau lagi shooting di televisi, aku genjot sepeda. Mau ke berbagai acara, genjot juga. Justru di jalan Jakarta yang macet, naik sepeda menjadi lebih cepat, bisa nyalip mobil.

Aku hobi sepedaan sejak kecil. Dulu kan gak dikasih banyak uang saku, jadi aku bersepeda, he-he-he. Kalau sekarang, sih, sudah menjadi kebutuhan. Kalau lagi ngamen ke daerah-daerah, aku bawa sepeda lipatku, masukkan aja ke koper, praktis. Oya, merek sepeda lipatku Bike Friday seri Tikit, range harganya antara Rp 18-21 juta. Aku memiliki enam sepeda, sesuai fungsi masing-masing, ada sepeda gunung, ontel, juga ada BMX, sepeda masa kecilku.

Naik sepeda rasanya keren, bisa masuk ke mana-mana. Sekarang, saya malah jadi ikut berkampanye anti-pemanasan global dan hemat energi dengan sepeda. Sekalian nyemplung untuk misi lingkungan. Saya yakin, nanti orang akan balik lagi ke sepeda, seperti masa kejayaan dulu.



Mathias Muchus (52),
Aktor, warga River Park, Bintaro

Saya mulai menyukai sepeda sejak kerusuhan Mei 1998. Kok transportasi kayaknya lebih enak dengan sepeda. Saya membeli sepeda seharga Rp 2-an juta, lalu mulai sering kumpul dengan teman. Tahun 2000-an saya kenal Pak Subronto Laras dari klub Ikatan Penggemar Sepeda Jakarta. Dari sana, saya mulai benar-benar menggemari sepeda, yang bagi saya adalah sport. Saya membeli sepeda balap, merek Look buatan Perancis. Harga Rp 30-an juta, tapi untuk kelasnya, harga itu masih murah karena ada yang Rp 75 juta lebih.

Saya pernah genjot sepeda dari ujung Bintaro ke Tanjung Priok. Kalau bersama klub, bahkan sampai ke Anyer, bisa makan waktu seharian. Kalau ke Yogya, nanti sepedaannya dari kota ke Borobudur atau Parangtritis pulang-pergi. Kalau ke lokasi shooting, saya genjot dari rumah. Sekarang, sepedaan tiap Sabtu-Minggu saja.

Saat mengayuh sepeda, rasanya seperti di atas awan. Bersepeda itu melatih daya tahan tubuh, konsentrasi, dan juga kesabaran. Naik sepeda tidak boleh emosional, nanti dua jam saja sudah habis energinya. Bersepeda itu memadukan kerja otot dan emosi.



Subronto Laras (65),
Komisaris Utama Indomobil Group, warga Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, yang ngantor di MT Haryono, Ketua Jakarta Cycling Club

Saya dulu ikut pandu. Pas usia sembilan tahun, saya bertugas menjemput pemimpin pandu, Abunda Mastini. Saya berangkat naik sepeda ke rumah Abunda di Jalan Panarukan, Menteng, lalu kami beriringan ke tempat kepanduan di Salemba. Malamnya, saya mengantar Abunda pulang. Sepeda waktu itu jadi alat mobilisasi.

Usia 14 tahun, saya ikut balap sepeda dengan rute Jakarta-Bogor. Latihannya di sepanjang Jalan Sudirman yang waktu itu sisi kanan-kirinya masih sawah. Saya ikut tur ke Kebayoran, jaraknya kira-kira 40 kilometer PP. Dulu naiknya sepeda jengki yang dimodifikasi sendiri.

Saya punya dua lusin sepeda, tapi saya bagi-bagikan ke pembalap. Saya suka pakai sepeda balap Colnago Carbon, harga Rp 50-an juta. Saya juga disponsori pabrik sepeda Giant. Manfaat? Sejak 15 tahun lalu saya divonis sakit jantung, tapi tertolong dengan bersepeda. Kenikmatan bersepeda? Memperluas pergaulan.




Subandono Rachmadi (36 tahun)
,
PNS yang tinggal di Kota Serang, Banten

Saya menyukai sepeda sejak saya berusia 6 Tahun ketika itu saya akan masuk Sekolah Dasar. Saya membeli sepeda mini berwarna hijau dengan hasil tabungan saya selama bersekolah di TK, seharga Rp. 65.000,- Semenjak itu sepeda selalu menjadi bagian hidup saya, meskipun sepeda itu lebih pantas dinaiki anak-anak perempuan, karena dilengkapi dengan keranjang di depan, boncengan dibelakang, dan dikedua setangnya terdapat pita berwarna warni. Sepeda mini tersebut menemani saya hingga SMP, tentunya setelah mengalami modifikasi disana-sini karena munculnya era BMX, tetapi akhirnya sepeda itupun tak kuat melawan pesatnya perubahan jaman dan berakhir di tukang loak. Sekolah pun berlanjut dengan menggunakan angkutan umum. 
Kini saya telah bekerja sebagai PNS dan Hobi bersepeda pun dilanjutkan kembali. Menjelajahi seluruh tempat atau biasa disebut XC/cross country menjadi hobiku. Saya bergabung dengan sebuah komunitas pecinta sepedaan XC di kota saya tinggal, Serang, komunitas itu adalah SXC2 kepanjangan dari Serang XC Community yang mewadahi para penikmat cross country di kota kami.
Bersepeda menjadi rutinitas kami setiap minggu, kesadaran lingkungan yang hijau dan kesehatan tubuh serta mental dengan menjalin kebersamaan menjadi moto komunitas kami, dan kami bertekad mengajak seluruh masyarakat untuk mencintai kegiatan bersepeda yang akan membuat lingkungan dan diri kita menyatu dalam sebuah harmoni yang indah. 

Begitulah pandangan beberapa tokoh yang mencintai kegiatan ‘sepedaan’, kebugaran tubuh dan kesadaran akan lingkungan hidup yang dominan menjadi alasan mereka melakukannya.  
Demikianlah ulasan ini disajikan sebagai penegasan peran Komunitas XC Serang ini didalam rangka melakukan upaya nyata sebagai wujud syukur akan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa atas nikmat kesehatan dan keindahan alam yang terhampar luas disekitar kita, sehingga sudah sepantasnya kita berupaya menjaga dan melestarikannya.  
Ayo teman-teman…!!  ayo ! teriakkan selalu…. sepedaan … sepedaan… kring.. kring.. kring..
sepedaan mau lewaaaaaaatttt…..............kring....................kring






10 comments:

fLash said...

=))
Saya sebenarnya ingin juga ikut gerakan BTW alias Bike to work tapi apa daya tempat tinggal saya dekat dengan salah seorang tokoh di atas, yaitu Bapak Subandono, yaitu di Serang-Banten, sementara saya berdinas di Jakarta. Jadi, bisa dibayangkan akan sampai jam berapa di tempat kerja atau bahkan mungkin tidak akan sampai.

yellow bike said...

Benar pak ketua..., sepedaan memang banyak membawa manfaat selain kesehatan terjaga... sepedaan juga bisa dijadikan ajang refreshing..., nyambung tali silaturahim..., nambah saudara..., lagi dan lagi dan lagi...

Santet Anggodo said...

hahahahah itu tokoh yang photonya paling bawah bukannya kemaren muncul dalam rekamannya Anggodo CS wakakakkaa

mars said...

Menurut saya sepedaan ya kebutuhan....
Lah...
Mengingat usia dah kepala 3, sepedaan merupakan olah raga yG aman, bagus untuk jantung, paru-paru, rematik, asam urat, dan satu lagi...stamina biar lebih greng...

Anonymous said...

...waduuuh betul-betul pendapat para tokoh ini memotivasi saya untuk selalu sepedaan, terima kasih ya SXC2........ :))

fLash said...

Saya setuju dengan pendapat Om Mars mengenai "lebih greng" ini karena terbukti selama hampir setahun aktif di SXC2, sudah banyak teman-teman yang bertambah anak-anaknya. Huahaa.... =))

asarie said...

ya yaaaaa, pendapat para tokohh ...

mars said...

ehmmm...lumayan, kluar masuk hutan, turun naek gunung, sebrangi sungai, bahkan kadang terjungkal ketimpa sepeda....
yah..namanya mo sehat, apa aja dilakuin deh...

Andi Sukoco said...

Sebagai salah satu penggemar Sepedaan di Semarang, minta dikirim info - info lewat blog saya. Tks

mars said...

oh, ya...
Salam hangat tuk para bikers di Semarang.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons