Tuesday, November 03, 2009

Perkebunan Karet Gunung Kupak

Assalamualaykum,

Melanjutkan foto-foto yang sudah dipajang sebelumnya oleh Si Koneng yang telah berbicara banyak, saya akan tambahkan sedikit cerita dan laporan perjalanan ke perkebunan karet Gunung Kupak.

Hari Minggu 1 November 2009 atau bisa juga disebut tanggal 32 buat teman-teman PNS, termasuk saya tentunya, hari cerah seperti biasa. Kebetulan juga, sejak beberapa bulan kemarin aku pasang Defender, rasanya belum pernah sekali pun kami melakukan trekking sambil kehujanan. Jadi kata teman-teman, percuma saja dipasang, tidak ada gunanya. Tapi, tak apa lah, supaya sepedaku berciri-khas dan tidak tertukar hehe… .

Rencananya minggu ini kami akan kembali mengeksplorasi Pulau Burung dan sekitarnya sekalian bakar-bakar ikan di sana. Tapi, menyusul rencana-rencana sebelumnya ke Pulau Panjang dan Pulau Cangkir yang ditunda sampai waktu yang belum ditentukan, rencana ini pun kami tunda juga. Beberapa trekker tampak kecewa karena sudah membayangkan kenikmatan makan ikan laut dan tentunya karakteristik trek yang sangat bersahabat dengan lutut.

Setelah berembuk sejenak, kami putuskan akan mengeksplorasi hutan karet di Kampung Gunung Kupak, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Serang yang akan ditempuh melalui Cilowong dengan tanjakan dan TPA beraroma bau yang “you know lah”. Dari sana , kami akan keluar di Pabuaran. Jadi, bener kata Si Koneng di “Hutan Karet …(dalam gambar)”, betapa sudah terbayang tanjakan-tanjakan itu.

Oqe lah kalo beghitu, siapa takut? Perjalanan ini akan dipandu oleh Om Bagus, pesepeda senior sekaligus veterannya BCC.

Perjalanan akan kami mulai paling lambat pukul 7.00 karena akhir-akhir ini, start kami semakin molor menjadi sekitar 7.30 s.d. 8.00. Padahal, dulu pada awal-awal berdirinya SXC2, kami bisa start pukul 6.00. Manfaatnya, selain udara belum begitu panas, kami bisa cepat kembali ke rumah masing-masing.

Trekker yang berpartisipasi kali ini ada 18 orang. Tidak termasuk ketua yang ada urusan keluarga mendadak dan wakilnya yang harus masuk pabrik setiap tanggal 1, hari apa pun itu. Walaupun demikian, kami tetap semangat karena dipimpin oleh Bu eh... Pak Sekretaris tentunya.

Selamat datang buat Om Andri yang sudah lama tidak gabung yang mungkin sudah lupa cara gowes? Jangan lupakan pula penampilan funky Om Dudi dengan, masih, kaos I love bike merahnya, menggunakan manset bermotif tato seperti preman dan celana rastanya. Namun, kali ini ia ada pasangannya, yaitu Om Bagus dengan jersey merah bergambar “garuda di dadaku”.

Gunung Sari, kami datang…

Sudah menjadi kebiasan kami melakukan pitstop di pangkalan ojek Desa Umbul Tengah. Masih di bawah naungan pohon beringin nan rindang itu (makna denotatif lho). Om Yopie terpaksa ganti ban dalamnya yang bocor terkena paku. Bukan cel*&@ dalamnya, karena pasti dia tidak membawa ganti hehe…. Kegiatan tambah angin ini akhirnya menjadi pemandangan biasa. Dari sini, Om Hepi dan Om Imam balik kanan ke Serang kembali karena urusan keluarga sehingga rombongan tinggal berjumlah 16 orang.

Selanjutnya mudah ditebak, tanjakan siap menanti para trekker. Diam membisu. Hanya terdengar irama perpaduan ban dengan aspal serta dengus nafas maksimal menarik oksigen. Om Tim sempat pusing karena aroma “you know lah” tadi di Cilowong. Walau begitu, ada kemajuan, dia bisa gowes sampai puncak hore…. Selamat ya. Malah Si Koneng dan Dodo Chupet yang mencuri jarak dengan evakuasi angkot sampai ke puncak. Makanya saya heran, perasaan tadi di belakang, koq sekarang ada di depan. Jadi ingat cerita balapan lari antara si kancil sombong dengan siput-siput cerdik. Perasaaan si kancil, ia sudah lari cepat sekali, tapi selalu kalah oleh siput-siput. Membuat stres kancil haha…. Di sini pula, Om Dudi berganti sepeda dengan Om Mars karena katanya, Quatro-nya terasa berat. Jangan-jangan ada yang ikut dibonceng tapi tidak kelihatan, Pak.

Pitstop kedua di pertigaan Gunung Sari dan di depan Kantor Kepala Desa Gunung Sari. Rehat sejenak sambil menunggu rombongan belakang. Ternyata Om Dudi bertukar sepeda lagi. Kali ini sepeda siapa yang dipakai, saya lupa. Punya Si Koneng ya? Selanjutnya, kami memersiapkan perbekalan, terutama air minum, karena di hutan karet tidak tersedia warung yang menyediakan makanan dan minuman favorit kami, yaitu gorengan dan teh manis. Tak lupa kami berfoto sejenak di sini.

Kampung Gunung Kupak

Dari depan kantor tadi, kami memasuki jalan kampung menurun bertanah merah yang untungnya tidak basah sehingga tidak licin dan tanahnya tidak menempel di roda-roda kami. Di sini terletak Vila Pak Nandang yang merupakan tempat bersejarah bagi kami, yaitu tempat dideklarasikannya SXC2.

Memasuki perkebunan karet, pitstop ketiga, kami beristirahat lagi sambil foto-foto ditemani oleh oksigen yang kaya dan kesejukan luar biasa. Alhamdulillah. Silakan klik koleksi foto-fotonya di Phote Gallery. Oh ya, Om Mars, tolong tambahkan koleksi yang dari Om Koneng, Om Andri, dan semua yang berkamera ria supaya gambar-gambar itu lebih banyak bercerita.

Jalanan di tengah hutan karet dilapisi batu-batu yang membuat sepeda terguncang-guncang. Beruntung teman-teman yang sudah memakai fork yang bagus karena guncangan akan terserap dan tangan menjadi nyaman, tidak terlalu bergetar. Jalanan berkelok-kelok dan tentunya tetap menanjak. Di sini, beberapa teman sudah mulai kelelahan dan merasakan gejala kram. MTB tidak diharamkan di sini, jadi mereka dengan ikhlas melakukannya hehe…..

Kami melewati perumahan karyawan PT Wabin Jayatama, pemegang HGU perkebunan karet serta peternakan kerbau dan sapi. Sayang, tidak ada trekker yang mau difoto dengan kerbau-kerbau dan sapi-sapi yang sedang digembalakan di padang rumput yang kami lewati hihihi...

Akhirnya, kami keluar juga dari perkebunan karet ini melalui gerbang depan perusahaan itu. Beberapa trekker sudah tampak kelelahan tapi ditutupi semangat tak kenal menyerah untuk dapat kembali ke rumah dengan meng-gowes. Di tengah perjalanan, kami beristirahat lagi sambil menunggu teman-teman MTB di belakang.

Selepas itu, jalanan mulai menurun berlapis batu-batu kerikil. Sangat berbahaya karena licin. Beberapa kali roda-roda sepeda selip. Jalan ini berakhir di Jalan Raya Pabuaran-Gunung Sari.

Kami mulai memasuki jalan ber-hotmix menuju pertigaan Pabuaran, dekat SLTP Pabuaran 1, yang akan kami lanjutkan menuju Desa Paleuh. Tapi, kami kembali melakukan pitstop keempat di warung pertama yang kami temukan selepas kebun karet, di depan sekolah itu.

Sekitar 11.30 perjalanan kami lanjutkan dengan tujuan Desa Paleuh untuk kemudian belok kiri ke arah Tembong dan mampir di rumah Om Tim di sana. Undangan makan siang, hmm… asyik. Tapi sayang, di tengah perjalanan, kaki Om Tim sudah mau kram sehingga harus dievakuasi dengan angkot. Demikianlah. Tapi ada hikmahnya juga, dia bisa lebih tenang memersiapkan makan siang nanti hehe…

Desa Pancanagara dan menyeberangi sungai

Di pertigaan Desa Pancanagara, Om Bagus menantang kami untuk melewati desa itu dengan trek akan melewati sungai berbatu. Wah, tantangan menarik nih. Di sini, tanpa ketahuan, Om Andri sudah cabut duluan karena panggilan, bukan dari komandan di kantornya, tapi komandan di rumahnya hehe… Baru sekitar 2 kilometeran, kaki Om Hendra mengalami hal yang sama dengan Om Tim, tapi tampaknya ia masih kuat gowes. Hanya saja, beberapa teman mengusulkan supaya balik kanan saja menuju Desa Paleuh. Sementara, 6 orang trekker, yaitu Om Bagus, Si Koneng, Pak Agung, Om Bayu, Om Dodo Cupet, dan saya, tetap melanjutkan perjalananan melewati Pancanagara ini.

Dari Desa Pancanagara, jalan aspal ini akan tembus ke Jalan Tongleng-Serdang Lor dan menyambung ke Jalan Raya Sayar. Tapi kami berbelok memasuki jalan kampung. Banyak penduduk desa yang mengatakan bahwa jalan yang kami lewati buntu, tidak bisa dilewati. Terang saja, kontur jalan menurun dan berbatu cadas yang merupakan jalur air, sepertinya jarang dilalui orang.Tapi kami nekat melewatinya. Di kanan-kiri jalan, tumbuh perdu dan rumput gajah yang menggores-gores kaki kami. Hutan dan kebun-kebun kami lewati, tidak ada perkampungan, tidak ada orang. Kami khawatir kalau ban sepeda kami bocor. Bisa gawat. Selanjutnya, kami melalui jurang di sebelah kiri dan tebing di kanannya. Tidak mau ambil risiko, kami tuntun sepeda-sepeda kami. Ya, daripada jatuh ke jurang, karena keselamatan adalah hal yang utama.

Tiba di sungai berbatu, pemandangan luar biasa. Namun, karena masih musim kemarau, debit air sangat minim. Kami jadi bisa menyeberanginya dengan mudah. Sayang tidak ada penduduk sekitar yang bisa kami tanya tentang sungai ini. Cerita Om Bagus, terakhir ia lewat sungai ini, ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa sehingga harus memanggul sepedanya. Seperti biasa, di sini kami berfoto-foto sejenak.

Selepas sungai, kami langsung mendaki bukit dengan kemiringan sekitar 40°-60°. Sangat licin karena merupakan jalur air ke bawah sungai. Setelah mencapai puncak, barulah kami menemukan perkampungan penduduk dan, yang kami tunggu-tunggu, jalan raya. Alhamdulillah, sampai juga kami di Jalan Tembong-Pabuaran, dekat SDN Benoa. Sekitar 30 menit kami akan mencapai homebase-nya Om Tim di Kampung Tembong.

Selepas tengah hari, kami akhirnya finish juga di sana. Sayur asem, ikan asin, sambal, bakakak ayam, dan teman-temannya sudah siap untuk disantap. Manstaff Om Tim, tararengkyu. Setelah semua selesai makan, tiba-tiba Om Yopie SMS Om Agus, dimana para rombongan. Ternyata, ia sudah menunggu di pangkalan ojek Tembong karena homebase Om Tim-nya terlewati, padahal cuma 200 meteran. Akhirnya Om Yopie makan terakhir. Silakan dihabiskan Om hehe…

Setelah kenyang sekitar pukul 13.30, kami yang menganut prinsip SMP atau Setelah Makan Pulang, segera bersiap-siap untuk berpisah dan langsung menuju rumah masing-masing. Pukul 13.55, kami tiba juga di rumah. Hari sudah lewat tengah hari. Ya, perjalanan kali ini memang memakan waktu yang agak panjang. Bukan karena jaraknya yang jauh karena hanya sekitar 50 km, tapi karena tingkat kesulitan yang tinggi dan tanjakan-tanjakannya yang membuat banyak memakan waktu. Walaupun demikian, perjalanan ini sangat memuaskan menjurus ke ketagihan, bahkan bagi beberapa trekker yang tadi pagi kecewa karena batal membakar ikan haha….

Wassalam.

6 comments:

astroz3 said...

...betul2 perjalanan yang menantang, trek.. ciamik, apalagi diikuti para peserta yang rata-rata jebolan Pusdik Batu Jajar angkatan pertama.. udah pasti suasana riang sepanjang jalan... selamat kepada para treker teruskan sepedaannya... kamu pasti bisa....kalaupun tidak kan bisa didorong asal jangan duduk kelamaan di pangkalan ojeg aja....

CoKlat said...

Kpan2 dicoba lagi...,paling setelah 1 bulan, biar tidak bosan...., tks pa' dida atas postingannya, bos mars, si koneng & komandan andri atas fotonya, om Tim atas jamuannya , pa' Bagus atas panduan jalan...dan temen2 tracker semuanya atas kebersamaannya....

fLash said...

@Astroz3: kalo lulusan batujajar angkatan pertama berarti udah pada sepuh dong hihihi...
@coklat: jangan lupa trims juga buat Om Yopi yang jadi forerider. Buktinya dia udah sampe pangkalana ojek tembong, rombongan yg dia kawal gak datang2 juga hihi....
=))

Premier 3.0 said...

Rugiiiiiiiii besarrrrrrr kagak ikutttttttttt heheheheeh sono lagi yuk

mars said...

usulan yG bagus, ok akan ditambahkan photo2 dari angle yG berbeda, mohon bersabar ya om....

Anonymous said...

wuih...keren.
mas kenapa navbaar blog nya ndak diilangin aja. biar tambah mantem dot.com nya..

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons