Tuesday, December 15, 2009

PIRAMIDA GORDA

Manfaat bersepeda selain untuk menjaga kesehatan dan menikmati alam ciptaan Allah SWT adalah juga mengunjungi tempat-tempat yang belum terbayangkan sebelumnya. Berawal dari rasa penasaran kami yang belum tahu dimana tepatnya lokasi lapangan udara (lanud) TNI AU di Desa Gorda, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang serta bagaimana bentuknya, hari Minggu tanggal 13 Desember 2009, kami mengunjungi lokasi tersebut.
Di halaman KPP Pratama Serang, pagi itu, kami ber-21 siap berpartisipasi. Dari Pisang Mas ke arah barat kering. Sementara, ke arah timur, basah karena hujan lokal baru saja reda.
Om Dudi siap dengan kamera beratnya yang selama ini dinonaktifkan di rumah. I Love Bike! Belakangan, setelah 1-2 jepretan, ternyata memorinya sudah penuh. Dulu, terakhir dibawa ke Cilowong, lowbat. Jadi, tetap saja gambar-gambar bidikannya sedikit hehe….
Om Yusman akhirnya membawa juga sampel sari kurmanya. Mudah-mudahan banyak yang beli nanti ya…
Mbah Darno yang minggu sebelumnya cedera sewaktu mengeksplorasi Pandeglang, kini hadir dengan sepedanya yang paling gres walaupun tidak ikut ke lokasi karena pergelangan tangannya belum fit benar. Dia ditemani oleh Om Andri yang katanya sedang malas meng-gowes jarak jauh sehingga hanya berkeliling di seputar kota Serang saja. Itu pun masih ngos-ngosan. Keduanya hanya ikut berfoto saja hehe….. Jadi tinggal 19 orang yang siap meluncur.
Om Arif pun dengan sepeda ter-gres-nya sepertinya bertekad untuk meng-gowes lagi secara rutin.
Perjalanan melalui terminal bus pakupatan, kemudian menuju Jalan Raya Palima untuk akhirnya menyusuri saluran irigasi mengarah ke timur. Saluran yang baru dibangun ini tampak rapi dan memperlihatkan hasil pembangunan walaupun baru selesai sebagian setelah beberapa bulan. Setali tiga uang dengan tambal sulam dan beberapa perbaikan pada jalan besar sejajar saluran irigasi ini, yang sudah memakan waktu beberapa bulan tanpa kejelasan kapan akan berakhir. Itulah jalan tol Tangerang-Merak.
Om Bandi-Ono yang walaupun jarang gowes tampak semangat dan menjadi leader. Jarang-jarang loh Om hihihi….
Alih-alih mengikuti rombongan yang memutar ke arah bunderan patung, Om Yopie dan Om Arif malah langsung menuju Kota Serang Baru (KSB) dan menunggu rombongan di sana. Apa lacur, yang ditunggu tidak juga muncul karena rombongan tidak melaluinya. Belakangan, diketahui kalau mereka tetap melalui KSB dan naik flyover di Jalan Raya Palima untuk kemudian menyusuri saluran irigasi tadi dan bergabung dengan rombongan di Pipitan di Jalan Raya Ciruas-Petir.
Perjalanan dilanjutkan keluar-masuk perkampungan penduduk dan berakhir di Kampung Cisait. Tibalah kami di jalanan mulus berlapis hotmix, Jalan Raya Serang-Jakarta di seberang PT Kolon Ina. Untuk mencapai Desa Gorda, kami menyusuri jalan raya ini ditemani lalu-lalang lalu lintas kendaraan-kendaraan besar, karena memang daerah itu merupakan kawasan industri.
Kami melewati PT Indah Kiat di Kragilan, salah satu industri pulp dan kertas terbesar di Asia Tenggara serta PT Nikomas Gemilang di Cikande, salah satu industri padat karya yang sebagian besar karyawannya adalah perempuan. Saking banyaknya karyawan, perusahaan sampai menyediakan terminal angkot sendiri. Saya dan beberapa teman majelis subuhan sering melihat mereka berangkat berombongan menggunakan angkot ini, dari Serang ke lokasi pabrik. Perempuan-perempuan tangguh saya pikir.
Ketika kami lewat di depan PT Nikomas Gemilang ini, lapak-lapak kaki lima berjejer di pinggir jalan raya yang sangat ramai pada saat gajian para buruh. Dan tahu tidak, sudah pasti akan membuat kemacetan ruarrr biasa parah. Pasar tumpah.
Akhirnya, kami tiba di pertigaan arah Gorda. Sekitar 4km lagi jarak yang harus kami tempuh untuk tiba di lokasi. Karena merupakan milik TNI AU, maka bayangan kami, lanud ini sebagaimana lanud lainnya, pasti sudah dilalukan pengerasan dengan beton atau aspal di landasan pacunya serta kawat tinggi yang mengelilinginya serta penjagaan para prajurit TNI AU. Ternyata eh ternyata, hanya berupa landasan pacu berupa tanah lapang yang dipadatkan tanpa pagar apa pun. Luasnya sekitar 712ha dan menempati areal yang termasuk wilayah Kelurahan Warakas, Gembor, dan Cakung, Kecamatan Carenang, sedangkan areal lainnya masuk wilayah Kelurahan Julang, Kecamatan Cikande. Pangkalan ini dibangun pada masa penjajahan Jepang tahun 1942. Terdiri dari dua landasan, masing-masing panjangnya 2,5km, dengan bentuk saling bersilang membujur arah utara-selatan dan barat-timur. Lebar landasan sekitar 100m. Struktur landasan sudah diperkeras dengan batu, dilapisi dengan lempengan tanah berumput sebagai penyamaran. Lebih menyerupai lapangan sepak bola saya pikir. Tidak ada tempat untuk berteduh. Maklum lapangan.
Kami pun berfoto-foto sambil berpanas-panas ria. Waktu itu sekitar pukul 10.00. Saking panas dan besarnya angin, keringat pun langsung menguap. Tapi ada yang menarik, di ujung landasan, terdapat tugu sebagai penanda yang bertuliskan “Komando Daerah TNI AU Pangkalan Gorda” yang berbentuk piramida berwarna putih. Mungkin ini satu-satunya piramida yang ada di Serang hehehe…..
Waktu tidak berlalu terlalu lama, kami lanjutkan perjalanan menuju pertigaan Kampung Warung Selikur, Carenang. Alhamdulillah, selepas lanud, kami menemukan warung teh dan penganan. Tampak kembali sifat asli para goweser yang seperti sudah ditawan Jepang 2 minggu dan tidak dikasih makan, menghajar semua yang ada. Teh manis habis dua teko besar. Yang jelas, bendahara repot mendata jenis makanan yang dimakan, saking banyaknya.
Dari sini, perjalanan tinggal melewati trek aspal menuju Warung Selikur dan dilanjutkan dengan menyusuri Jalan Raya Serang-Jakarta untuk kembali menuju Serang. Pilihan ini diambil karena jarak yang relatif lebih pendek dibandingkan harus berputar-putar ke kampung-kampung. Memang dibutuhkan kesabaran mengingat panas sudah menyengat. Belum lagi ancaman angkot dan sepeda motor yang sepertinya lupa cara mengerem, serta hembusan angin dan asap dari truk-truk tinggi besar.
Menjelang pasar Ciruas, rombongan terakhir, saya, Om Mars, Om Yopie, Pak Dudi, Om Arif, dan Mr. Bandi-Ono mampir lagi ke warung untuk refreshing (lagi). Buah-buahan tampaknya menjad menu wajib kali ini. Kata Mr. Bandi-Ono, kita menyewa mobil pick up saja. Maaf ya, saya dan Yopie kan alumnus Pandeglang, jadi masih akan gowes saja hahaha…. Akhirnya, semua meng-gowes juga sampai ke Serang. Ada yang mukanya merah kepanasan, ada yang berprinsip “biar lambat asal selamat,” yang jelas, pengalaman kami bertambah karena bisa mengunjungi tempat-tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya dan kecil kemungkinan bisa kita kunjungi secara perorangan. Ya, inilah salah satu manfaat bersepeda-ria.

6 comments:

mars said...

1st

setuju, jangankan tempat yG unik-unik om...
tetangga belakang rumah aja jarang yG kenaL..
wkwkwk

fLash said...

sundul Gan. Mars, gw banget =))

CoKlat@Chelski said...

Sayang.......

Anonymous said...

:p
semangat terusss, timur kebarat, selatan utara
yg unik itu indahhhh




chiem

Pinoko said...

nice article.. very interesting..

NENSA MOON said...

Wah...keliatan asyik ya bersepeda ria mengunjungi tempat2 yg tak terbayangkan...

Selamat bersepeda deh... selamat menikmati keindahan alam ciptaan Allah...

Btw thx for add me as a friend on blog catalog.
pls visit me back if you free...

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons