Tuesday, June 30, 2009

Pulau Burung Ep. II

Hari minggu tanggal 28 Juni kemarin sedikit agak aneh. Banyak trekker SXC2 yang berlibur bersama keluarga tercintanya. Jadi, sudah bisa diprediksi kalau acara gowes bareng akan sepi. Ternyata memang benar. Pukul 7 saya sampai di meeting point, tiada seorang pun yang hadir. Hanya Pak Nurtim saja sendiri yang ada menemani sambil piket di sana. Beberapa saat kemudian, datanglah Vito, tentunya dengan spiritnya yang tinggi. Inilah kelompok sepeda laki-laki minggu. Mas Agus malah gowes bareng juniornya di alun-alun.

Karena belum sarapan, saya sarapan dulu di lontong sayur Pak Edi di depan Puskesmas Ciceri. Mak nyuss tapi antriannya panjang. Sewaktu enak-enaknya makan, tiba-tiba Rina dan Ai, la femme SXC2, lewat begitu saja dan tidak melihatku. Saya panggil mereka, tiada mendengar. Kemungkinan besar telinga mereka tertutup earphone. Inilah kelompok sepeda perempuan minggu.

Ya sudahlah, saya balik lagi ke meeting point. Di sana sudah gabung om Heppy yang juga bersemangat tinggi, disusul Dodo 1 beberapa menit kemudian. Hari sebelumnya, om Heppy dan vito sudah gowes juga ke RL Cilegon bersama Pak Dudi dan Pak Yusman. Hebat. Inilah kelompok sepeda Sabtu. Vito dan om Heppy saya sebut bersemangat tinggi karena mereka adalah anggota himpunan kelompok Sabtu dan Minggu.

Tepat 7.30 kita berangkat menuju Karangantu via Warung Jaut, Sawah Luhur, dan Kasemen. Karena hanya berempat, kecepatan kita usahakan konstan dan agak cepat. Sayang kecepatan waktu itu tidak terukur. Berapa rata-rata kecepatannya, Vito? Berhenti di pertigaan Sawah Luhur untuk beli minuman di ****mart. Pulau Burung kian mendekat. Setelah berhenti sebentar, perjalanan dilanjutkan kembali untuk mampir dan beristirahat di sana.

Banyak perubahan yang kami lihat sepanjang perjalanan dibandingkan perjalanan episode pertama dulu, antara lain sawah yang dulu sedang dipanen, sekarang sudah menghijau lagi, air irigasi yang dulu bening, koq sekarang keruh ya? Sungai yang biasa digunakan ibu-ibu untuk MCK, sekarang kering-kerontang. Mereka pada mencuci dimana ya?

Di Pulau Burung sekitar pukul 8.30, tiada perubahan berarti. Yang jelas saat itu sedang musim nyamuk karena tidak ada angin laut. Malahan, para nelayan tradisional menebar jalanya dalan jarak sekitar ratusan meter saja dari bibir pantai pulau ini. Di atas jala, burung kuntul siap berbagi rezeki dengan nelayan untuk melahap ikan-ikan yang menggelepar-gelepar. Simbiosis komensalisme. Tampak pula beberapa pengunjung yang datang dengan keluarganya menggunakan motor, menikmati keelokan pantai perawan ini.

Setelah foto-foto walau hanya dengan HP berkekuatan 3,2 MP dan berbincang-binvang dengan Pak Madsai, jagawana disana, kami lanjutkan perjalanan ke arah Karangantu. Namun, karena om Heppy dan Dodo 1 ada acara keluarga, rencana dibatalkan dan kita langsung kembali menuju Serang via Jalan Raya Kasemen-Banten. Kami berusaha tetap spartan memertahankan kecepatan agar selain cepat sampai tujuan, juga memompa persediaan energi dengan maksimal. Kurang lebih jarak 25 km kita tempuh hari itu. Tiga trekker pulang ke arah timur, yaitu Vito ke Panancangan,om Heppy ke Cipocok, dan Dodo 1 ke Ciruas. Saya ke barat sendirian tiada teman, Lontar Baru.

Sampai di rumahku-surgaku sekitar 10.30. Terbilang cepat, karena biasanya kita sampai rumah sekitar dzuhur.

Kesimpulannya, minggu ini kelompok gowes SXC2 ada 3 kelompok, kelompok sepeda Sabtu, kelompok sepeda perempuan minggu, dan kelompok sepeda laki-laki minggu, dan kelompok sepeda asuh anak di alun-alun, terpencar-pencar bagai ayam kehilangan induk hehe….

Monday, June 22, 2009

SELAMAT SXC2

SELAMAT :


Saya Mengucapakan Syukur Kepada Allah SWT, yang telah mengizinkan Komunitas ini berdiri dan semoga menjadi komunitas sarana silaturrahmi, yang memiliki kepedulian sosial, dan terima kasih kepada semua unsur organisasi, sehingga kita bisa seperti ini.
Bandulu, 20 Juni 2009

Wednesday, June 10, 2009

Sahsahan dalam gambar...

Komunitas Sepeda Gunung
Serang XC Community

Untuk jalur sahsahan sudah dilaporkan secara lengkap...
untuk cerita sisi lain sebuah perjalanan ke sahsahan juga udah koneng posting.., silakan mampir di www.b2wkoneng.blogspot.com
untuk melengkapinya laporan kegiatan sepedaan jalur sahsahan..., berikut ini ditampilkan sahsahan dalam gambar...

Tuesday, June 09, 2009

SASAHAN, I'LL BE BACK

Komunitas Sepeda Gunung
Serang XC Community

Sudah menjadi kesepakatan anggota SXC2 bahwa kriteria trek untuk minggu pertama setiap bulannya adalah trek ringan, minggu kedua dan keempat trek sedang. Sedangkan, minggu ketiga trek berat. Nah, tanggal 31 Mei 2009 kemarin, karena masuk minggu kelima, maka pemilihan trek bebas dan diserahkan pada anggota. Setelah diskusi sejenak, maka diputuskan petualangan minggu ini, kami akan mengunjungi kawasan agropolitan Sasahan di Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang. Kawasan agropolitan merupakan kawasan yang dikembangkan untuk pertanian termasuk di dalamnya kegiatan pembibitan, penanaman komoditas pertanian dan perkebunan, kegiatan usaha tani, pengolahan hasil, dan pemasaran. Sebenarnya, kawasan ini hampir kita kunjungi sewaktu berpetualang ke Bukit Tengkorak. Namun, karena saat itu waktu tidak memungkinkan, kita batalkan dan langsung kembali ke Serang.
Anggota SXC2 yang hadir kali ini ada orang 19 orang. Mereka adalah (ki-ka belakang-depan) Omiyan, Hendra (selalu kelihatan paling besar kalau difoto dan jangan lupa minum air putih yang banyak,) Om Didit, Dodo Chupeet, Timoty, Pak Dudi, Rajab, Om Agus, Jopie, Pak Agung, Kusnaen, Om Bandi-Ono, Dida fLasa, Om Dwi, Pak Yusman, Mbah Darno, Okten (yang pada waktu pulang sprint mengejar Mbah Darno karena sama-sama menuju timur, destinasi KSB,) Om Mars, dan PU, satu-satunya jagoan putri kali ini.
Perjalanan seperti biasa dimulai dari halaman KPP Pratama Serang pukul 07.30WIB. Udara masih segar, sinar mentari pun masih kaya dengan vitamin D. Alhamdulillah.
Perjalanan dimulai melalui alun-alun tetapi ternyata sedang ada lomba makan mie masal sehingga jalan alun-alun utara di depan kantor Bupati Serang ditutup. Apalagi di tengah alun-alun didirikan dua buah panggung oleh sponsor, yaitu dua produsen motor papan atas yang saling berkompetisi. Terpaksa kita belok ke Kedalingan untuk menghindari kemacetan. Tapi anehnya, di Benggala, forerider malah belok ke arah alun-alun lagi. Ya… sama juga bohong dong hehe… Akhirnya kita terobos tanda perboden di Jalan Alun-alun Barat. Bukan melanggar aturan, tapi tanda itu memang dipasang untuk kendaraan bermotor saja.
Dilanjutkan ke perempatan Brimob, memasuki Jalan Raya Taktakan. Jalur ini sudah biasa kita lalui. Bertrek aspal, menanjak walaupun relatif tidak curam, sempit untuk dilalui dua mobil, dan sedikit membosankan. Pitstop pertama di pangkalan ojek Umbul Tengah. Déjà vu.
Perjalanan dilanjutkan melalui Jalan Umbul Tengah menuju Desa Telaga Luhur dengan trek berupa gravel. Trek yang sudah tidak asing bagi kami. Di Desa Telaga Luhur sebelumnya, pada ekspedisi Bukit Tengkorak, masih minim tangki air bersih untuk MCK penduduk setempat. Namun, saat ini kami melihat sudah banyak tangki yang disediakan oleh PMI dan salah satu perusahaan consumer-goods asing dari Swiss. Syukurlah. Pitstop kedua sekalian foto-foto.
Dari sini, kami akan mencoba trek baru yang belum pernah kita jelajahi sebelumnya. Tidak terlalu hafal, bahkan di google maps pun tidak ada hehe… Yang jelas, trek ini berupa jalan setapak, sangat rimbun seperti memasuki terowongan hijau. Sangat menyegarkan untuk paru-paru dan semangat bersepeda kami. Trek ini berakhir di puncak sebuah bukit berupa jalan yang baru diaspal sehingga kerikilnya masih berserakan di jalan. Sangat licin buat roda sepeda. Oleh karena terlambat menurunkan gear di jalan setapak ini, 4 orang trekker (saya lupa siapa saja) berhenti di tanjakan ini seperti efek domino. Pitstop ketiga sekalian foto-foto.
Perjalanan dilanjutkan ke bawah bukit dengan kondisi jalan berkerikil tadi menuju Desa Suka Bares. Harus ekstra hati-hati dan pengereman yang tepat. Oleh karena trek ini masih baru, kami sering bertanya kepada penduduk setempat kemana arah Sasahan. Beberapa kali kami putar balik karena salah arah. Sayang seksi topografi masih absen karena mudik. Jadinya kami beberapa kali berputar-putar. Untungnya jalanan tidak terlalu panas sehingga kami masih merasa nyaman-nyaman saja.
Kami kemudian melewati trek hotmix yang masih sangat baru. Pikir kami, hebat juga di tengah-tengah daerah terpencil sudah ada hotmix. Tapi ternyata, jalan ini berakhir tepat setelah melewati kantor Desa Suka Bares. Jalan selanjutnya kerikil lagi hihihi… bagai bumi dan langit.
Pada suatu turunan, trek bagus dan aman untuk melaju, tapi tiba-tiba trek menjadi rusak seperti bekas amblas sekitar 20 cm-an dan dilanjutkan dengan trek hancur bekas air sehingga yang menonjol adalah batu-batu besar. Sangat berbahaya karena membuat kami mengerem secara tiba-tiba, melompati bekas amblas, dan melewati trek rusak tadi. Untunglah semuanya dapat melewati ini walaupun beberapa trekker melakukan MTB (Mari Tuntun Bersama).
Di bawah turunan tersebut, kami bertemu dengan Pak Abdullah yang sedang membuat saung dan tempat penggembalaan bebek di sebuah kebun. Umurnya sudah 70 tahun lebih tapi masih segar dan lebih bertenaga dibanding Om Mars yang diujinya dengan tarik-tarikan tangan. Bapak ini ternyata jago melakukan pijatan-pijatan ajaib. Hendra yang tangannya terkilir dengan beberapa sentuh langsung hilang. Demikian pula Pak Dudi dan Mbah Darno yang mencoba pijatannya. Tapi Dodo Chupeet ragu-ragu pijat gak…pijat gak… Hasilnya, gak dipijat. Nyesel deh dia. Nantilah kalau lewat ke sana lagi, mungkin pikirnya. Berdasarkan info Pak Abdullah, di ujung jalan ini, perbatasan Desa Suka Bares dengan Gudang Batu, ada tempat yang biasa digunakan orang-orang untuk menyepi, bertapa meminta rizki, jabatan, jodoh, dan lain-lain (Mas Dwi yang sempat melihat.) Padahal kalau kita berdoa tidak perlu ke tempat-tempat seperti itu, syirik. Langsunglah berdoa pada Allah SWT, pasti Dia akan mengabulkan. Pitstop keempat.
Selanjutnya menuju Desa Gudang Batu. Berputar-putar, tanya sini-tanya sana, pating suliwer. Akhirnya ketemu juga Jalan Kalitimbang-Umbul Tengah di sebuah pertigaan yang ada warung dengan teh manis dan penganan penambal lambung. Pit stop kelima. Di sini Om Chupeet bolak-balik di depan warung karena ada teteh manis anaknya pemilik warung yang hanya muncul sebentar terus tidak muncul-muncul lagi. Tampaknya harapan Om Chupeet untuk melihatnya lagi tidak kesampaian hehe… Di sini pula kami putuskan untuk membatalkan perjalanan ke Sasahan karena selain hari sudah mulai siang, juga beberapa teman sudah tampak kelelahan dan hampir melewati batasnya. Ya sudah, kami siap-siap bergerak menuju Serang via Desa Binangun, dan kembali menapaki Desa Telaga Luhur dan Umbul Tengah. Kalau kata Arnold sih, “I’ll be back”!
Sebenarnya beberapa trekker ingin berenang di kali dekat pesantren di Desa Binangun. Ingat di edisi Bukit Tengkorak yang Om Hendra, Om Didit, Om Dodo, dan fLasa nyemplung ke kali? Nah, banyak trekker yang ingin mengulangnya karena merasa iri hehe… tapi apa daya, debit airnya sangat minim, sehingga airnya akan langsung keruh kalau dipake nyebur. Akhirnya tidak jadi deh…
Setelah berputar-putar, ternyata kita muncul lagi di pitstop ketiga. Kata Mas Agus, kalau di Gunung Arjuna itu namanya alas lali jiwo. Kita putar-putar tetapi munculnya di tempat itu-itu juga. Ya sudah, bismillah kita masuki lagi jalan setapak sampai Desa Telaga Luhur dan pitstop terakhir sebelum pulang di pangkalan ojek Umbul Tengah. Sebelum mencapai tiu, di pertigaan Desa Umbul Tengah, sebagian trekker rehat lagi. Ada teteh manis lagi di warung. Sekarang Om Didit yang duduk-duduk terus di depan warung hehe….
Di pangkalan ojek sebagai titik berpisah, Om Tim udah hampir kram. Beberapa saat kita tunggu Om Mars dan Om Dwi sebagai tim sweeper yang belum muncul juga. Ternyata mereka nyebur di kali berduaan seperti Brokeback Mountain. Tidak seorang pun tahu apa yang terjadi antara mereka berdua hihiy…..
Setelah semua siap, kami turun ke Serang melalui Jalan Raya Taktakan dan masing-masing trekker menuju rumahnya masing-masing, kecuali pak Dudi yang katanya mau mampir ke rumah saudaranya, entah kecapekan, entah mau bersilaturahmi hehe…
Sampai jumpa di petualangan berikutnya.

Yang terlewat dari "penangkaran Buaya..."

Tracking tanggal 24 mei..., tentu temen temen masih ingat..., mungkin hari itu berbagai rekor Serang XC Community terpecahkan..., mulai dari rekor peserta.., terdiri dari 22 tracker mungkin terbanyak sepanjang sejarang komunitas kita bersepeda..., jarak tempuh..., mungkin ini juga yang terpendek..., mungkin satu lagi rekor yang tercipta yaitu "accident"... semua peserta mengalami " kecelakaan"...

tapi dibalik itu semua ada yang terlewat.., yaitu sedikit gambar yang jika diperhatikan mungkin bisa sebagai penyeimbang bahwa disetiap tempat itu pasti ada yang unik dan beda..
 
© Copyright by sepedaan.com  |  Template by Blogspot tutorial