Thursday, August 20, 2009

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa


Hanya Kekuatan Tuhan Yang dapat Menuntun Kita Memasuki Bulan Ramadhan Tahun ini, sangat Istimewa kita dapat memasuki bulan yang penuh dengan Ampunan, semoga kita dapat melaksanakan ibadah saum dengan khusu' dan diberi kelapangan di setiap saat

Keluarga Besar SXC2 mengucapkan selamat beribadah

Monday, August 03, 2009

BAROS: ON & OFF ROAD

Assalamualaikum.

Para goweser, setelah minggu sebelumnya SXC2 habis-habisan melahap trek off-road yang sangat menantang ke Rumah Hutan di Cidampit, kali ini rasanya kami tertarik untuk melahap trek on-road alias jalan raya. Usulan dari Pak Bagus, kami akan menuju Pandeglang yang dilanjutkan ke arah Warung Gunung, terus tembus ke Petir, Curug, dan kembali ke Serang. Hah? Jauh amat... mungkin begitu benak kami merespon. Tapi tak apalah, kami usahakan saja. Kalau pun nanti tidak kesampaian, banyak angkot koq yang siap mengantar kemana pun tujuan kita hehe....

Pukul 07.00, pelataran parkir KPP Pratama Serang baru ada 4 orang. Sepi. Sepertinya kami semakin terbiasa untuk mulai pada 07.30. Dan benar, semakin siang semakin banyak goweser yang datang. Kali ini ada Timoty, Pak Agung, Rina, Dida, Kusnaen, Hepi, Boss Mars, Dono, Dwi, Dodo, Kang Didit, Om Yopi, Pak Danar, Pak Heri (selamat bergabung, Pak, dan jangan lupa dukungan dari Dispora Banten-nya), Om Supri, Pak Bagus, Vito, Andri, Rajab, dan Pak Yusman. Siapa belum kesebut? Tapi beberapa tidak bisa ikut. Pak Danar harus lembur, Kang Didit harus bergabung dengan keluarganya sehingga cuma bisa gabung sampai Samsat, Rajab dan Rina demikian juga, gabung sampai Palima saja. Om Yopi harus memersiapkan acara cukur rambut & aqiqah jagoannya. Malah, kami diundang makan siang di homebase-nya. Insya Allah kami datang, apalagi kalau urusan makan hehe....

Tampaknya sepeda balap Pak Bagus yang paling siap melahap trek aspal ini, sampai-sampai Andri berniat ganti sepeda juga. Sementara, Om Dwi malah baru datang dari Baros dan harus kembali lagi ke Baros. Benar-benar suatu ujian hehe....

Kami sebetulnya sudah membayangkan hal-hal yang kurang mengenakkan kalau melewati trek Jalan Raya Pandeglang. Area ini merupakan daerah kekuasaan bis-bis Murni dan Asli yang selalu berlari ugal-ugalan, balapan mengejar penumpang, tidak memedulikan penguna jalan lainnya, apalagi sepeda. Mengerikan. Belum lagi semburan asap knalpot hitam pekat ber-CO yang menyesakkan nafas. Urgh....

Dan memang hal yang ditakutkan ini terjadi juga. Banyak goweser yang kehilangan konsentrasi dan keseimbangan karena dihembus udara yang dibelah oleh bis-bis tadi yang kecepatan tinggi. Pada trek tanjakan, kami yang sedang berjuang menarik oksigen disembur asap knalpot tadi. Lemas. Kontraproduktif jadinya.

Tiba di Baros, kami istirahat sejenak di homebase Om Dwi sekalian membahas apakah terus atau tidak melanjutkan ke Pandeglang. Untung ada tukang bakso, maka kami sarapan bakso dulu. Olahraga jalan, terus, bakso jalan juga haha....Trims buat Pak Bagus yang traktir bakso. Kami dijamu juga dengan teh manis (favorit) dan penganan oleh Om Dwi.

Akhirnya kami sepakati tidak melanjutkan tur ke Pandeglang tapi akan langsung melalui Petir, Curug, dan kembali ke Serang. Karena Pak Bagus menggunakan sepeda balap, tidak memungkinkan ia untuk bergabung, maka ia melahap Jalan Raya Pandeglang ke arah Serang sendirian. Titi DJ Pak! Om Dwi yang walau sudah tiba di homebase-nya tetap semangat untuk bergabung menuju acara Om Yopi di Serang. Salut.

Melalui jalan aspal yang tidak terlalu mulus antara Baros-Petir, terasa nyaman. Tiada polusi, tiada bis-bis sangar. Kami melalui jalan pintas, melalui jalan kampung berbatu-batu dan tanah yang keras. Tidak banyak rumah penduduk yang kami lewati. Beberapa goweser mengurangi tekanan angin bannya agar tidak terlalu keras menghantam jalan. Trek yang asyik. Kami melewati pematang sawah yang mengering, kebun jagung, dan menyeberangi kali kecil. Tak jarang, karena jalanan patah setinggi 1-2 meter, kami harus mengangkat sepeda. Menuntun malah lebih sering kami lakukan.

Akhirnya, kami tiba juga di Jalan Raya Petir, tepatnya di Desa Sukalaksana, Kec. Curug, Serang. Selamat datang kembali di tarmac. Sekitar 10km lagi Serang dapat dicapai dengan destinasi homebase Om Yopi untuk makan siang. Kali ini perjalanan kami melintasi 4 kecamatan: Serang, Baros, Petir, dan Curug haha... Sekitar pukul 11.00 kami tiba di sana. Trims Om Yopi atas maksinya. Muantaffs. Semoga sang jagoan menjadi anak yang soleh dan berbakti pada orang tuanya.

SMP. Sekitar tengah hari, kami pamit dengan berbagai alasan, terutama Andri haha.... padahal artinya Setelah Makan Pulang.

Oh ya, minggu depan insya Allah sebagian dari kami akan ikut fun bike di Cilegon. Semoga ada cerita-cerita menarik lainnya.

Wassalam.

Saturday, August 01, 2009

Rumah Hutan

Assalamualaikum,
Apa kabar teman-teman goweser? Sudah lama kita tidak bersua. Banyak kesibukan di semua tempat yang membuat saya tidak menulis di blog SXC2 ini.
Baiklah, perjalanan minggu tanggal 25 Juli 2009 kemarin sangat sangat sangat (3 kali) luar biasa. Tujuannya adalah ke Rumah Hutan. Selama ini, kami belum pernah berkunjung ke sana jadi kami bertanya-tanya dimanakah dan tempat apakah gerangan rumah hutan itu? Kali ini, kami juga berencana bergabung dengan komunitas sepeda lainnya di Serang yang lebih senior, yaitu BCC (Banten Cycling Club).
Rumah hutan bisa dikatakan sebagai sebuah vila yang terletak di tengah-tengah hutan di Kampung Cidampit, Desa Sayar, Kecamatan Taktakan, Serang, Banten. Tempat ini dimiliki oleh Lim Oei Ping (67) seorang muslim keturunan Cina asal Sulawesi Tengah yang juga pemilik toko Krakatau, di Royal, Serang. Di sini ada lapangan badminton (Koh Iping ini jago badminton), perpustakaaan, tempat peristirahatan, kantin, lumbung padi, dan tanaman buah-buahan seperti durian, nangka, dan lain-lain.
Karena diberitahu lewat Cilowong, sebagian kami kurang bersemangat karena harus melewati jalanan aspal. Belum tanjakan TPA Cilowong yang beraroma mantap padahal sebagian besar kami sedang berjuang menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Maklum, tanjakan di sana sangat panjang yang pastinya membuat dengkul lemes dan hidung kembang kempis.
Perjalanan kali ada Mars, Dono, Dodo, Dida, Danar, Agus, Kusny, Yusman, Vito, Rajab, Anda, Arif, Dwi, Andri, Toto, Hendra, Darno, dan Pak Ai. Siapa belum kesebut ya? Kali ini juga kami kedatangan peserta yang baru bergabung, yaitu Mas Supri dari Kramatwatu. Seorang goweser sejati yang pastinya sudah khatam trek-trek bagus di sana. Oh ya, Om Bagus, yang juga senior di dunia persepedaan yang baru gabung beberapa kali dengan kami, minggu ini juga absen.
Tidak ada KLB yang terjadi menuju ke Cilowong. Malah pada beberapa tanjakan, tidak ada suara manusia. Hening. Yang ada hanya suara tarikan nafas kami dan kayuhan sepeda. Bahkan sepedanya Rajab sudah berderit-derit yang kami sangka suara dari lututnya haha....
Istirahat di sebuah warung di Cilowong sambil menyantap gorengan dan teh manis selama sepeminum dua gelas teh saja. Di sini kami bertemu dengan Pak Edi, dedengkot BCC yang bersedia menjadi guide kami menuju Rumah Hutan. BCC sudah beberapa kali melewati trek ini, jadi sudah hapal arah dan vegetasi trek.
Hanya beberapa ratus meter dari jalan raya, kami mulai memasuki jalanan berbatu dan siap memasuki petualangan gowes melalui hutan. Om Arif, seksi tofografi yang lama tidak bertugas hehe…, terpaksa pulang ke rumah duluan karena ada urusan keluarga. Silakan ambil bonus turunan duluan di Cilowong!
Dari jalanan berbatu, jalanan tiba-tiba berubah menjadi jalan setapak yang licin karena lumut dan basah sisa hujan semalam. Disebut jalan setapak karena memang jalan hanya cukup untuk satu sepeda dengan perdu dan batang-batang pohon di kanan-kiri siap menggores kaki-kaki kami. Beruntung yang memakai kaos kaki tinggi.
Mulai masuk hutan, banyak roda sepeda yang selip karena licinnya jalan. Bahkan, kami banyak terjerembab dan terjatuh dari tunggangannya. Saya saja sampai 3 kali. Harus lebih hati-hati. Medan menjadi lebih tak dapat diduga karena jalanan berlumut, berbatu-batu, dan diselingi akar-akar besar, tertutup oleh daun-daunan. Kelembaban abadi sepertinya. Kontur jalanan pun naik-turun, melewati pematang sawah, menyeberangi anak sungai, menyusuri lereng bukit dengan jurang di sebelah kita. Ngeri juga kalau terpelesat, bisa jatuh ke bawah. Subhanallah, trek yang luar biasa bagi kami. Untuk keselamatan, kami tak jarang, bahkan sering, turun dari sepeda, mendorong, bahkan memanggul.
Pada suatu turunan, seorang anggota BCC (Pak Tholib ya?) terjatuh dari sepedanya sampai tulang bahunya tergeser. Untunglah setelah pertolongan pertamax dari beberapa teman, termasuk Om Kusny, dia dapat meneruskan perjalanannya. Harus lebih hati-hati.
Akhirnya perjuangan menuju Rumah Hutan berakhir setelah melewati trek mengasyikkan tadi yang diperkirakan sepanjang 6 km. Secara jarak tidak terlalu jauh memang tapi karena medannya berat, membuat kami (atau cuma saya?) kecapean juga. Kami beristirahat di sana sambil makan mie rebus, makanan ringan, kopi, dll, sementara sebagian teman-teman BCC tengah memersiapkan makan siang. Oh ya… salah satu trade mark BCC adalah makan siang bareng hasil masak sendiri. Cool teman-teman.
Setelah berfoto bareng, tepat tengah hari, SXC2 pamit dan meluncur menuju Serang kembali karena keterbatasan waktu para anggotanya. Walau badan sudah penat, tapi kami bersemangat karena membayangkan bonus turunan sepanjang Cilowong. Dan memang, turunan ini sangat mengasyikan, memberi kepuasan, dan menghilangkan penat.
Akhirnya, tanpa rehat lagi, sekitar 13.30 kami mencapai titik berpisah di perempatan Brimob Jalan Takari untuk kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan penasaran ingin kembali ke Rumah Hutan. Apalagi teman-teman yang belum ikut kali ini, pasti tertarik. Ayo! Dan terima kasih Pak Edi serta BCC.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons