Friday, October 30, 2009

Sumber Mata Air Sukacai-Baros

Assalamualaykum.

Apa kabar para goweser? Minggu ke-4 di bulan Oktober alhamdulillah tetap cerah walaupun bulan ini terdiri dari 32 hari hehe… Maklum, bagi teman-teman PNS, gajian baru tanggal 2 November nanti, insya Allah. Tetap semangat ya!

SXC2 berencana akan mengunjungi sumber mata air dan tempat pemandian di Desa Sukacai, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, the home of si koneng. Perjalanan ini akan menjadi kali keempat kami naik ke arah sana. Hanya sebelumnya, kami belum mencapai sumber mata air itu. Saya sebut “naik” karena memang perjalanan ke sana akan didominasi oleh tanjakan-tanjakan seperti saya ceritakan di laporan-laporan sebelumnya. Tidak terlalu terjal sebetulnya, hanya tanjakan itu konsisten. Jadi, dibutuhkan kesiapan fisik dan mental untuk menaklukkannya.

Sebelumnya, untuk mencapai Jalan Raya Pandeglang, kami selalu muncul di Desa Sukamanah, beberapa ratus meter dari Pasar Baros. Sekarang, kami berencana gowes lebih jauh ke arah Selatan dan muncul di Desa Panyirapan. Ibarat obat nyamuk, kami bergerak semakin jauh ke arah luar hehe….

Sebanyak 18 orang goweser siap memeriahkan perjalanan ini, bahkan Om Yopie dan Pak Dudi dengan jersey merah I love bike-nya pun siap menjadi sweeper kali ini. Hebat. Oh ya, kali ini Pak Danar dan Om Hepi masing-masing membawa 2 orang downline baru haha… Om Hepi, dengan full-modif Carrera-nya, membawa Om Faisal dan Om Ucup, sedangkan Pak Danar membawa… hmm maaf namanya saya lupa, padahal mereka bukan pemula lho dalam bersepeda. Silakan perkenalkan diri lagi mas di bawah hehe…

Singkat cerita, pitstop pertama seperti biasa di Desa Paleuh, di pertemuan Jalan Tembong-Sindangsari dengan Jalan Palka . Perjalanan dilanjutkan melalui Desa Cisalam terus naik ke Desa Sindangmandi. Kami melalui jalanan desa yang dilapisi aspal bercampur kerikil. Masih tetap menanjak seperti dulu hehe…

Di Sindangmandi, kami mampir sebentar ke kolam penampungan dan pemandian. Dulu sewaktu pertama kami ke sini, sebagian kolam ditumbuhi dengan tanaman semacam ganggang yang membuat rasa estetika terusik. Kini, seluruh permukaan kolam ditumbuhi ganggang tadi. Kolam menghijau seperti lapangan bola dilapisi ganggang. Jangan bicara estetika, sangat disayangkan sekali.

Perjalanan dilanjutkan ke Desa Sukacai melalui Desa Tamansari. Masih melewati jalanan aspal campur kerikil di sekitar desa-desa itu. Sampai akhirnya, kami bertemu juga dengan jalanan hotmix di Desa Sukacai.

Ada sebuah sumber mata air di sana yang digunakan oleh perusahaan air minum pemerintah. Airnya sangat bening dengan beberapa saluran pembuangan air selebar 1 m. Beberapa pesepeda dengan riang gembira menyeburkan dirinya ke dalam aliran air yang segar itu. Bahkan mereka sampai masuk ke lorong di bawah jembatan dengan volume hanya sekitar 6m3 saja barangkali. Kapan lagi bisa mandi air segar nan bening yang tidak akan dijumpai di Serang, apalagi Jakarta hehe…. Sampai-sampai kami berpikir, jangan-jangan air PAM di Serang keruh pada saat itu.

Oh ya, saluran air satunya lagi yang tidak terpakai, mengarah ke kolam penampungan yang tidak terawat dan sudah dipenuhi pohon-pohon air yang liar. Pinggiran kali, tempat yang tidak terlalu dalam, menjadi tempat pemandian kerbau. Walaupun jalur airnya berbeda, jadilah para pesepeda itu mandi sambil berpandangan dengan kerbau itu, bahkan sampai foto basamo haha…

Setelah puas berendam dan bermain-main air, kami lanjutkan perjalanan. Karena trek berlapis hotmix dan berkontur menurun, maka kami geber saja sepeda sampai mencapai kecepatan rata-rata sekitar 35-40 km/jam. Mengasyikkan karena badan yang tadi kena air segar, sekarang terpapar angin. Menyejukkan. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya yang melalui Kampung Sukamanah dengan trek bergelombang yang membuat kami melakukan yump, sekarang kecepatan yang lebih kita nikmati. Tapi para pesepeda harus tetap berhati-hati, apalagi otot-otot mengerut lagi karena terkena air dingin sehingga berpotensi menyebabkan kram.

Trek ini berakhir di Jalan Raya Pandeglang, tepatnya di Desa Panyirapan. Tinggal belok kiri, berapa kilometer lagi kami akan mencapai Pasar Baros. Kami mampir di home of si koneng untuk menyantap gorengan dan teh manis. Makasih Om, sepertinya kita sering banget mampir ke situ.

Setelah kenyang hehe…, menjelang tengah hari, kami lanjutkan perjalanan pulang ke Serang. Jarak sekitar 15 km lagi yang mudah-mudahan bisa dicapai sekitar 45-60 menit jika kita bersantai ria. Baros juga menjadi titik berpisah kami sehingga kami langsung pulang menuju rumah masing-masing. Om Dodo dkk mengambil jalur ke arah Petir karena berdomisili di daerah Ciruas dan Kragilan. Namun, sebagian besar melewati Jalan Raya Pandeglang, menyaingi bis-bis kotak besar berwarna hijau dan merah seperti roti tawar yang galak-galak.

Alhamdulillah, semua selamat sampai tujuannya masing-masing.


Monday, October 26, 2009

PERMATA AGRO

Hari minggu tanggal 18 Oktober 2009 merupakan jadwal trek ringan yang akan kami lahap. Tujuan utamanya adalah kebun buah dan pembibitan “Permata Agro” di Kampung Ciwatek, Desa Curug Manis, Kecamatan Curug, Kabupaten Serang. Walaupun tidak tepat betul, secara gampang, kebun ini boleh dikata terletak di belakang Markas Polda Banten. Jarak ke sana pun tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 km untuk perjalanan pergi-pulang. Tidak heran, beberapa raja gowes merasa kurang puas karena jarak yang pendek tanpa kontur ini hahaha….. Namun pada akhirnya nanti, rasa ini sedikit tereduksi oleh nikmatnya buah-buahan yang ada di sana.
Untuk SXC2, perjalanan ke Permata Agro merupakan perjalanan ke tiga walaupun saya kebetulan baru kali ini akan mengunjunginya. Tiada kata terlambat untuk hal seperti ini.
Cuaca sangat cerah pagi itu. Di titik bertemu seperti biasa, beberapa pesepeda bersarapan-ria, memersiapkan kondisi sepeda, chit-chat, toilet-mania, macam-macamlah. Beberapa lagi baru memulai lagi aktivitas gowes-nya setelah libur sangat-sangat panjang sejak bulan saum kemarin. Jadi dua bulan lebih. Otot-otot juga dijamin akan kaget lagi. Untunglah trek kali ini termasuk sangat ringan, bahkan bila dibandingkan funbike sekali pun.
Kecepatan sangat lambat kali ini. Dimulai ke arah perempatan Ciceri, Penancangan, bunderan patung, yang sebenarnya patungnya sudah tidak ada, komplek KSB. Akhirnya masuk jalan raya lagi di Jalan Syekh Mohammad Nawawi Al Bantani, tepatnya di Desa Banjar Agung. Kami susuri jalan raya itu ke arah Mapolda. Eh, baru dengar nama jalan ini ya? Bagi yang baru, jalan ini menghubungkan Jalan Raya Jakarta-Serang di utara dengan Jalan Raya Palima di perpotongan dengan Jalan Raya Petir.
Di Desa Banjarsari, kami masuk ke jalan kampung yang berbatu, lapangan bola, kebun-kebun penduduk, lio, sampai akhirnya sampai di Desa Curug Manis, lokasi “Permata Agro”. Karena masih pagi, membuka gerbang pun harus menelpon penjaganya dahulu.
Di dalam kebun yang hanya dijaga oleh 3 orang, suasana sedikit menyeramkan karena alang-alang yang tumbuh liar memenuhi kebun. Sayang. Mungkin karena keterbatasan tenaga? Sayang pula, hanya jambu bol, sedikit mangga, dan belimbing yang siap dipetik. Yo wis, petik saja yang ada.
Teman-teman menyerbu buah-buahan itu seperti orang yang baru ditawan Jepang tiga minggu. Menyantap dan memersiapkan oleh-oleh buat keluarga di rumah. Rasa buah-buahan ini sangat manis dan menyegarkan. Alhamdulillah kenyang….
Setelah puas, kami bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing. Masih pagi, belum pukul 10. Tak apalah, ada hikmahnya juga. Kami jadi bisa cepat-cepat pulang. Masalahnya, bagaimana cara mengangkut buah-buahan dengan berat antara 2-4 kg dengan “hanya” berbekal sepeda? Tidak kehilangan akal, akhirnya masing-masing mengejawantahkan idenya. Yang bawa tas sih gampang. Yang tidak, buah-buahan itu ada yang digantung di stang, ada yang diikat di pinggang, ada yang di punggung, bahkan ada yang di bagasi (khusus Astroz-nya Om Dono). Masing-masing berkreatif-ria. Yang jelas, semuanya sudah membawa di dalam perut masing-masing hehe....
Tanpa ada halangan, alhamdulillah sekitar pukul 10.30, masing-masing pesepeda sudah bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.

Tuesday, October 13, 2009

DUREN OH DUREN

Perjalanan hari Minggu tanggal 11 Oktober 2009 kemarin sebenarnya dimulai dengan kurang bersemangat karena hanya ada 11 orang pesepeda yang hadir di meeting point. Itu pun Om Andri hanya absen pagi saja sehingga praktis yang siap berangkat hanya tinggal 10 orang, yaitu Pak Ai, Pak Danar, Mas Darno yang kali ini tidak nge-trial ria, Pak Agung, Om Iyan, Dida, Om Dodo, Om Bayu, Pak Dudi, dan Pak Chandra(?)
Pada mulanya kita akan menuju Ciomas dan bergabung dengan teman-teman BCC di perjalanan dengan estimasi waktu kedatangan di sana nanti sekitar pukul 12.00. Hehe... Beberapa pesepeda ketar-ketir, termasuk saya tentunya, jam berapa bisa sampai rumah lagi ya? Akhirnya kami putuskan untuk mencoba saja sampai sejauh mana. Kalau pun waktu terlalu siang atau kecapaian, banyak angkot yang siap mengantar balik kita.

Trek awal dimulai melalui pangkalan ojek Tembong ke arah Desa Paleuh. Trek yang tidak asing karena sering kita lalui. Namun, secara mental, saya sebetulnya kurang suka trek ini karena walaupun tidak curam, tetapi tanjakannya cukup konsisten. Saya selalu keteteran di jenis trek ini.

Di Desa Tembong, saya dan Mas Darno masih menunggu Pak Dudi dan Om Iyan yang belum datang juga setelah sekitar 15-20 menit. Ternyata ban sepeda Pak Dudi, yang ditemani Om Iyan sebagai sweeper, harus diisi angin dulu. Namun, entah mengapa akhirnya Pak Dudi memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Padahal sepedanya keren euy, full-modif Marin. Wah... saya terancam jadi batas bawah nih.

Benar juga, setelah perjalanan dilanjutkan, saya mulai tertinggal dari rombongan utama dan horee... menjadi peserta terakhir yang sampai ke pitstop pertama di pertigaan Desa Paleuh yang memisahkan arah ke Palima dan ke Pabuaran, sambil berpikir terus gowes gak ya? Jalan masih panjang.... kata Andi Liani. Di sini, kami istirahat berjamaah dengan teman-teman BCC.

Dua minggu ini, saya meng-gowes dengan menderita karena menjadi batas bawah terus. Teman-teman pada makan apa sih? Hehe…. Tapi untungnya di sepanjang jalan, sedikit terhibur oleh Mbah Surip yang menyanyikan lagu “Bangun…, Tidur Lagi” dari odong-odong yang masih menjadi mainan favorit anak-anak balita. Ya, suara serak Mbah Surip sekarang sudah mulai menggeser lagu anak-anak yang dulu sering kita dengar. Sedih gak sih?

Sambil berpikir terus gowes atau tidak, tiba-tiba Pak Danar usul supaya kita mengganti tujuan ke Gunung Sari saja. Alhamdulillah, rupanya Allah memberikan jalan keluar bagiku. Tanpa pikir panjang, saya langsung setuju karena saya pikir arahnya menjadi lebih pendek dan sudah terbayang bonus turunan Cilowong. Bener gak sih? Pada akhirnya, pilihan ini nanti terbukti tepat karena kami tiba di rumah sebelum dzuhur.

Perjalanan menuju pertigaan arah Gunung Sari dan Ciomas di Pabuaran masih konsisten dengan tanjakan yang membuat saya masih keteteran. Halah, rombongan utama jauh amat. Sampai-sampai saya merasa ngegowes sendirian haha.... Lewat sebuah toko ****mart, saya mampir sebentar untuk beli dan minum obat. Ya, sejak tadi saya memang sakit kepala, jadinya keteteran deh. Kata Exist sih, Mencari Alasan? Hehe...

Tiba di pertigaan yang memisahkan arah ke Ciomas dan ke Gunung Sari yang dituju sebagai pitstop kedua, teman-teman rombongan utama sudah rehat sedari tadi. Menu standar warung sudah disantap, teh manis (Dodo minta yang ditubruk tehnya, saya bilang minum tehnya di tengah jalan saja, haha...), kopi, gorengan, dan penganan-penganan kecil. Sebagian beristirahat di bawah pohon beringin di halaman SLTP 1 Pabuaran sambil menonton anak-anak sekolah belajar baris-berbaris. Walau penuh kesederhanaan, beberapa anak menggunakan sandal saja, mereka tetap bersemangat melakukannya dan kualitas baris-berbaris mereka saya pikir bagus. Jadi ingat zaman sekolah dulu. Hmm….

Sekitar 10.00, perjalanan kami lanjutkan ke arah Gunung Sari. Trek ini baru bagi kami. Kontur ke sana bervariasi antara tanjakan dan turunan tetapi karena turunannya lebih tajam, tanjakan-tanjakan yang ada tidak begitu terasa karena kelembaman yang kita miliki. Bahkan ada satu turunan yang bisa kita tempuh dengan kecepatan sekitar 45 km/jam. Lumayan cepat untuk ukuran kami. Hanya satu tanjakan yang sangat parah yang membuat saya, Pak Ai, dan Pak Darno MTB. Sebenarnya saya masih kuat (perasaan saja kali) tapi mental saya jatuh melihat Pak Ai dan Mas Darno sebagai para jagoan gowes melakukan MTB haha....
Sampai pada suatu turunan sangat tajam, tiba-tiba di bawah, jalan menikung sangat tajam, dipenuhi pasir yang licin. Hampir saja terjadi kecelakaan ketika Pak Danar dan Om Dodo keluar jalur dan nyaris masuk parit. Jalanan sangat licin dan bila direm akan mengakibatkan ban menjadi selip. Gak pake ABS sih. Namun, alhamdulillah, semuanya selamat. What a track! Luarrr biasa… Semua pesepeda puas atas sajian menu trek dari Pabuaran ke Gunung Sari ini.
Sekitar Pukul 10.30 kami tiba di pertigaan Gunung Sari. Weh, masih pagi geh, kata orang Serang. Sambil beristirahat di pitsop ketiga ini, kami membahas beberapa kejadian tadi. Betapa kewaspadaan harus tetap dijaga. Apalagi saat turunan tajam yang kita selalu merasa eforia di dalamnya.
Beberapa meter selanjutnya, kami menjumpai penjual duren yang berasal dari Gunung Sari dan sekitarnya. Sebagian besar masih hijau tapi rasanya sudah bisa dijual dengan dua pilihan, yaitu manis murni ataupun yang manis sedikit pahit. Ya, kami mampir sejenak untuk menyantap beberapa buah duren. Oh ya, buah duren sini terkenal berdiameter tidak terlalu besar, berdaging tidak terlalu tebal, dan berbiji besar tapi rasanya mantap euy… Tapi karena baru awal musim, hanya satu pedagang itulah yang kami temukan di sepanjang perjalanan. Harganya masih mahal. Penjual menawarkan Rp 40.000-an untuk duren berdiameter sekitar 15-20 cm. Setelah tawar-menawar, kami dapat harga separuhnya. Itu pun penjualnya saya rasa masih meraup laba.
Sekitar pukul 10.55 perjalanan kami lanjutkan turun ke arah Serang. Sebelumnya, kami bertanya-tanya apakah duren akan menambah atau mengurangi tenaga. Ternyata efeknya positif. Melahap turunan Cilowong dan seterusnya, delapan pesepeda bisa melakukan sprint dengan tetap berkelompok. Tidak ada yang tercecer, termasuk saya yang biasanya ketinggalan hehe….
Jam menunjukkan pukul 11.10 ketika kami mencapai pertigaan pangkalan ojek Desa Umbul Tengah dan tanpa berhenti lagi, sekitar pukul 11.25 kami mencapai perempatan Brimob sebagai titik berpisah kami. Lumayan cepat untuk ukuran kami.

Akhirnya, sekitar 11.30 saya bisa mencapai rumah. Masih pagi karena belum adzan dzuhur.
Wassalam.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons