Tuesday, November 24, 2009

BERMAIN AIR DI PANCANAGARA

Alhamdulillah, perjalanan Minggu 22 November 2009 kemarin memberikan keceriaan luar biasa bagi para pesepeda yang ikut. Sesuai rencana semula, kami berangkat menuju sungai Pancanagara di Pabuaran. Trek yang akan ditempuh sudah familiar bagi kami, yaitu melalui Desa Sepang, Gelam, Sayar, kemudian Pancanagara. Jadi semua sudah bisa mengukur tantangan yang akan dilalui, kecuali perjalanan menuju sungai Pancanagara yang baru dieksplor oleh 6 orang dari kami sekembalinya dari perkebunan karet Gunung Kupak, beberapa minggu sebelumnya.

Pesepeda yang bergabung kali ini ada 14 orang.

1. Om Mars, yang belum mengunggah foto solo saya hehe…;
2. Om Iyan, yang juga demikian hihihi….;
3. Om Bayu yang berprinsip silent is golden, berbanding terbalik dengan saya yang “isn’t”;
4. Pak Agung yang tangguh di sepeda tapi tidak kalau berjalan di sungai karena sampai kecebur dua kali;
5. Pak Ai, selamat datang kembali;
6. Om Hepi yang selalu happy dengan sepeda Carrera-nya;
7. Pak Dudi yang kali ini tidak salah pilih sepeda dan celana rasta, hanya manset motif tatonya saja yang terlupa;
8. Om Yopi alias Pak Sutarman dari Menes;
9. Om Dodo yang ternyata adalah pecinta jamu;
10. Teh Rina, anggota baru tapi lama dan baru bergabung lagi setelah beberapa bulan absen;
11. Om Dono yang tetap bertahan dengan astroz3 ekspedisinya;
12. Pak Yusman satu-satunya pesepeda yang tetap kering;
13. Om Hendra yang cita-citanya nyebur gak kesampaian, keep hoping, Bro;
14. Saya sendiri, Flasa.

Oleh karena Om Dono baru bergabung di Saya Bulu, selepas titik kumpul, kami memutar alun-alun, terus Kebon Jahe. Beberapa pesepeda protes karena, katanya, jalannya tanjakan hehe…. Belum panas kali otot betisnya.

Perjalanan dilanjutkan melalui Desa Sepang, Gelam, terus ke Sayar. Bisa dipastikan sebagian besar kontur tanjakan yang akan kita tempuh karena memang desa-desa tersebut berada di atas perbukitan. Teh Rina yang baru gabung kembali sempat mengatakan kalau baru gowes lagi sudah langsung dihadapin dengan tanjakan. Hehe…. belum tahu dia, nanti perjalanan ini akan mengasyikan. Terbukti kan? Tapi hebatnya dia masih tetap kuat, sampai-sampai Pak Dudi yang berniat jadi tim penyapu memujinya. Katanya kiraian ada partner di belakang, ternyata dirinya sendiri yang keteteran hihihi….

Namun, ada satu keinginan Pak Dudi yang belum kesampaian, yaitu foto-foto di kuburan. Katanya, “Fotografer mana nih? Koq gak foto-foto”? Ngomongnya di kuburan. Halah, kayak gak ada tempat lagi, Bro. Nanti di depan, Bro. Tahan posenya.

Rehat sejenak di pertigaan Sayar ditemani gerimis. Tiba-tiba ada ambulans lewat. Langsung kita intip, jangan-jangan ada anggota kita di dalamnya. Namun, untungnya tidak ada hehe…

Di Pancanagara kami rehat lagi di sebuah warung. Si empunya warung sebenarnya tidak jual teh manis, tapi karena dipaksa oleh P.O.L. (Persatuan Orang-orang Lapar), dia terpaksa membuatnya. Maklum, warung bagi kami identik dengan teh manis dan penganan. Akhirnya, para pesepeda lapar itu memakan dan meminum apa saja mulai dari kerupuk, jamu (ada juga lho), biskuit anak-anak, kacang-kacangan, jrrd (jeung rea-rea deui). JRRD sama dengan “dan banyak lagi” dalam Bahasa Indonesia. Banyaknya item makanan ini hampir mencapai 15 buah dengan kuantitas yang jauh lebih banyak. Semangat makannya seperti orang yang ditahan Jepang seminggu.

Dari sini, perjalanan dilanjutkan melalui jalan kampung yang becek bekas hujan, hutan, kebun-kebun penduduk, batuan cadas yang menjadi jalur air, tebing, jurang (kesannya hiperbolik) padahal bener lho, walau tidak ekstrim-ekstrim amat. Para pesepeda sampai menuntun sepedanya untuk keselamatan ketika melewati tebing di kanan dan jurang di sebelah kirinya.

Di atas bukit, di sebuah kebun kacang dengan latar belakang Gunung Karang dan para petani yang sedang bekerja, jiwa narsis para pesepeda timbul. Yo wiss, foto-foto dulu hehe…. Pak Sutarman bergaya menaiki pohon berdiameter cuma 10 cm-an yang menjadi miring karena diameter perutnya hampir 10 kali lipatnya hihihi… Yang lain, berpose sendiri dengan latar belakang Gunung Karang atau dengan ditemani sepedanya.

Akhirnya, tiba juga kami di sungai Pancanagara itu. Debit air kali ini lebih deras dibandingkan perjalanan sebelumnya walaupun masih bisa kami lewati. Menemukan air, para peseda mulai memasang aksi-aksi mereka yang ditangkap oleh kamera Om Mars, Om Iyan, dan Om Dodo. Belum lagi yang berinisiatif menggunakan ponsel mereka. Foto-foto tampaknya sudah banyak diunggah di http://www.sepedaan.com/ maupun grup SXC2 di FB dengan aneka ragam komentar. Ada yang bergaya merenung di pinggir sungai, nongkrong di batu, gaya banjir, gaya kelelep, macam-macam.

Ternyata, tidak mudah berjalan di atas batu-batu yang sering lepas itu. Pak Agung saja sampai kecebur dua kali. Di sepeda, dia boleh tangguh, tapi tidak untuk berjalan di air haha…. Om Hendra penasaran ingin nyebur tapi gak ada yang mau menemani. Kalau sendirian, dia takut ditinggal hehe…. Om Dono berpose dengan banyak gaya dan sepertinya fotonya paling banyak tuh. Pak Yusman sepertinya satu-satunya peserta yang kering karena setelah lewat air langsung beres-beres. Kenapa waktu itu tidak kita ceburin ya? Pak Sutarman dari Menes tetap bertahan berendam dengan sepedanya, jangan-jangan sambil pipis gak ketahuan hihihi… Om Iyan sibuk memfoto dirinya sendiri, katanya untuk pemutakhiran profil di FB. Pak Dudi yang berjalan-jalan di air sambil dituntun seperti pengantin sunat mau diserahin ke bengkong hehe…. Teh Rina yang masih bisa ber-peace-ria sambil difoto. Apa lagi ya??? Silakan tambahin di komentar di bawah.

Setelah kenyang bersenang-senang dan berfoto-foto, kami dihadapkan dengan tanjakan yang sama sekali tidak mungkin dilalui dengan sepeda karena curamnya. MTB adalah suatu keniscayaan.

Perjalanan dilanjutkan melalui Desa Sindangsari menuju ke Desa Tembong yang sebagian besar berkontur turunan saja. Tiba di pertigaan lampu merah Sempu, kami mampir ke warung bakso dulu karena Om Hendra yang sedang berultah akan menraktir kami. Kalau masalah makan mah, siap! Silakan pesan sebanyak-banyaknya. Terima kasih Om Hendra bakso dan mie ayamnya, mudah-mudahan diberi umur panjang yang bermanfaat dan tetap dianugerahi rizki oleh Allah SWT. Sayang Om Bayu, karena tampkanya ada keperluan, pulang duluan.

Jarak tempuh sampai di sini tidak terlalu jauh, hanya sekitar 27 km. Tidak terlalu melelahkan. Indikatornya ialah Pak Dudi kelihatan masih ceria hehe… Di sini pula menjadi titik berpisah kami. Jam menunjukkan hampir angka 12. Tanpa ba-bi-bu Om Yopie, langsung berangkat sambil memegang prinsip datang tak diundang pulang tak diantar. Saya sendiri, bersama Om Hendra dan Teh Rina mengarah pulang melalui Alun-alun, Kaloran, dan berakhir di Lontar Baru. Home sweet home.

Tuesday, November 17, 2009

PULAU BURUNG ALIAS PULAU NYAMUK

Hari Minggu 15 November 2009 sangat cerah setelah dua hari sebelumnya hujan mengguyur Kota Serang dengan derasnya. Matahari sedang menunjukkan taringnya. Di meeting point, diawali dengan kerusakan teknis pada gir roda belakang Om Danar dan kesalahan pemilihan sepeda oleh Pak Dudi yang kali ini memakai full-modif Marin-nya yang berat dikayuh. Apalagi, ukuran ban hard terrain alias ban tahunya yang lebar kekurangan tekanan. Komplitlah. Pak Dudi sendiri tadinya mau putar balik, tetapi karena sudah menjadi tokoh yang sudah memberikan testimoni di situs kita ini, ia harus memberi contoh dan tegar untuk terus meng-gowes. Ditambah, teman-teman semua memberi semangat, ayo Pak Dudi genjot terus! Tapi ke depan, Marin-nya di lelang saja ya hehe….
Peserta yang hadir kali ini ada 16 orang dengan beberapa di antaranya baru menjajaki bergabung dengan SXC2.
Mengingat kondisi sepeda teman-teman di atas, kami putuskan perjalanan kali ini akan melalui trek yang datar dan tidak terlalu sulit. Pulau Dua akan menjadi tujuan kita. Perjalanan ini merupakan kali ketiga kami ke sana. Walau demikian, ada juga beberapa anggota (senior) yang belum pernah ke sana, termasuk Mas Arif hehe…
Seperti biasa, kami akan melewati jalan Sawah Luhur. Tidak ada kejadian menarik selama perjalanan.
Tiba di pertigaan Desa Sawah Luhur, kami rehat sejenak sambil menunggu rombongan terakhir, Om Agus, Om Iyan, Om Yopie, dan Pak Dudi. Ternyata, Pak Dudi dan Om Iyan sudah saling bertukar sepeda. Bukan semata untuk merealisasikan hasil rapat sebelumnya di markas Om Koneng, tapi karena Pak Dudi sedikit menyerah dengan Marin-nya. Ketiga teman yang bareng dengannya pun merasakan beratnya mengayuh si Marin.
Tiba di Pulau Dua, masih pagi. Di hari libur seperti ini, kawasan ini menjadi tempat rekreasi murah-meriah penduduk sekitar. Mereka berjalan kaki dari jalan raya menyisir galangan tambak sepanjang sekitar 2 km-an menuju ke sana di bawah terik mentari. Banyak pula yang menggunakan sepeda motor. Apa burung-burung tidak takut dengan raungan suara motor itu?
Di pulau, saat ini sedang musim nyamuk. Jumlahnya jutaan dan sangat agresif. Ketika kami masuk di posnya Pak Madsahi, mereka langsung menyerang membabi buta. Untunglah Om Danar sudah menyiapkan lotion antinyamuk sehingga sedikit mengurangi serangan itu. Tapi, beberapa nyamuk perkasa yang memiliki jarum panjang, menyerang melalui jersey kami dan tembus. Masya Allah. Bahkan, ketika kami lebih jauh masuk ke hutau bakau untuk melihat burung-burung, bukan hanya serangan nyamuk, suara mereka dengan frekwensinya yang tinggi pun terdengar mengerikan. Terpaksa kami batalkan perjalanan ke sana dan kegiatan kami isi dengan sesi pemotretan hehe….. Akhirnya, pulau ini pun kami namakan Pulau Nyamuk haha….
Sekitar 9.30 kami lanjutkan perjalanan yang semula akan melalui Tasik Ardi dan JPG. Namun, di Kasemen, berdasarkan masukan dari beberapa peserta, jalan pulang akan melalui Jalan Raya Banten saja, seperti biasa. Beberapa teman harus pulang cepat karena harus mengikuti acara keluarga. Matahari lebih ON lagi. Yo wis, karena tidak ada acara lagi, saya dan Om Iyan duluan saja ke Serang. Alhamdulillah, senang sekali pukul 10.30 sudah bisa bertemu dengan bidadari kecilku. Pastinya Om Iyan akan setuju….

Thursday, November 12, 2009

Sepeda & Sepedaan -sebuah testimoni (part1)

Salam Sepedaan.  

Puji Syukur selalu kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan rahmatNya kepada kita semua.

Pada Kesempatan ini sepedaan.com akan menayangkan liputan mengenai testimoni atau pengakuan dan juga pendapat dari orang-orang yang mencintai sepeda dan kegiatan sepedaan yang mungkin mampu menjadi  sebuah kontemplasi bagi kita semua.

Liputan ini akan disajikan secara kontinyu, yang dimulai dari mereka para anggota SXC2, dan bagi para pembaca yang ingin memberikan testimoninya silahkan mengirimkan email kepada milis@sepedaan.com dengan disertai   profile diri yang nantinya akan kami tayangkan pada Blog ini.  

Selamat Menikmati Liputan ini:

Dudi Perdana, salah satu anggota SXC2 kelahiran Bandung 41 tahun yang lalu dan berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil Dishubkominfo Propinsi Banten ini, mempunyai penuturan mengenai sepeda dan sepedaan sebagai salah satu hobinya disamping fotografi. 

Berikut petikannya: Jika kita mau jujur, bersepeda tidak hanya hemat dan menyehatkan tetapi juga memberi manfaat ekologis lho, karena tidak ada lagi polusi udara.  Jalanan pun tidak akan macet. Apalagi untuk jarak tempuh pendek dan sedang, bersepeda sangat dianjurkan, misalnya pergi ke kampus,  pasar, sekolah, ataupun berkunjung ke rumah teman.  Apalagi ditengah kenyataan  harga BBM yang semakin tinggi seperti saat ini,  berapa rupiah yang bisa kita 'save'. 

Selain itu manfaat lain yang diperoleh dari bersepeda antara lain:

1. Bersepeda rutin dipagi hari membuat diri menjadi lebih rileks, tenang dan sabar.
2. Jika dijadikan hobi, bersepeda dapat meningkatkan vitalitas daya hidup. Apalagi bila dilakukan dalam sebuah kelompok/group/komunitas khusus sepeda.

Sayang memang, nilai-nilai positif ini belum banyak dilirik oleh masyarakat.  Bahkan di kampus pun penggunaan sepeda masih sangat minim. Entahlah, teman-teman mahasiswa lebih suka menggunakan motor dan mobil.  Padahal, kalau untuk membeli buku diktat saja susahnya minta ampun, tetapi untuk memberi minum motor 2-3 liter tidak pernah merasa keberatan sedikitpun.  

Saya kadang membayangkan, kapan pengguna sepeda di negeri ini bisa menikmati berbagai kemudahan. Seperti jalur khusus dan parkir khusus. Bukankah selama ini jika kita ingin menitipkan sepeda ditempat parkir harus diletakan disela-sela motor.

Dari sejumlah literatur yang pernah saya baca, di negara-negara eropa maju, seperti Jerman, Perancis dan Belanda masyarakat pengguna sepeda diberikan hak istimewa. Misalkan dengan menyediakan parkir khusus sepeda, juga jalur-jalur yang memang disediakan untuk kendaraan roda dua ini. Yang jelas mereka tidak lagi diperlakukan lagi sebagai pengguna jalan kelas dua. Pemerintah setempat sadar bahwa peningkatan populasi pengguna sepeda telah membawa dampak luar biasa bagi pengurangan kemacetan dan polusi udara. Di sana, ke kampus, ke kantor, ke sekolah dan ke tempat kerja dengan sepeda merupakan hal yang lumrah. Masing-masing instansi juga memiliki parkir khusus sepeda, semua ditata rapi. Dan yang paling penting, mereka tidak pernah gengsi untuk naik sepeda.  Pertanyaannya adalah kapan kita bisa seperti itu?

Tuesday, November 03, 2009

Bersepeda -sepedaan- Itu ...... (sumber utama: Harian Cetak, KOMPAS, Minggu, 29 Maret 2009)   

Sepedaan.. sepedaan..  sepedaan, begitulah yang terbayang di benakku ketika teman-teman bersepedaku mengajak berkumpul untuk sekedar berbincang mengenai kelompok sepedaan kami.  Telah lama kami berinteraksi dalam kegiatan sepedaan setiap hari minggu. Wilayah Serang (Banten) dan sekitarnya menjadi area penjelajahan kami.   Jalan raya, jalan desa hingga pematang sawah, juga dari jalan yang lurus, keriting hingga berbatu, semua kami lewati untuk memenuhi hasrat bersepeda kami.  Belakangan ini kegiatan sepedaan kami mulai sedikit diikuti peserta, mungkin rute yang telah terasa membosankan dan ditambah pula banyak teman-teman kami yang tak bisa ikut lantaran berbagai kepentingan yang memang harus didahulukan.   Oleh karena itu Jum’at malam kemarin (30Okt)kami mencoba berkumpul untuk berbincang lagi tentang kegiatan sepedaan kami, sepedaan kita, dan jum'at malam itu pun dicapai kata sepakat untuk bertekad terus menggiatkan sepedaan kami, hingga tujuan dan cita-cita kami terwujud.

Hari ini aku kembali teringat akan sebuah tulisan di harian Kompas tentang makna kegiatan bersepeda atau sepedaan, begitulah kami biasa menyebutnya, sebuah aktivitas yang memiliki berbagai arti bagi setiap orang yang mencintainya.  
Dan inilah pandangan dari beberapa tokoh yang mencintai bersepeda atau “sepedaan” itu:

Andi Mallarangeng (46),
Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia
(d/h menjabat sebagai Juru Bicara Kepresidenan, warga Cilangkap yang ngantor di Istana)

Jarak dari rumah ke kantor cukup jauh, 40-an kilometer, bisa 1,5 jam ditempuh dengan mengayuh sepeda. Rutenya, Cilangkap ke Taman Mini, lalu Kramat Jati, Jalan Dewi Sartika, Gatot Soebroto, Kuningan, Menteng, Gambir, Istana. Sampai kantor, makan bubur ayam dulu sebelum mandi. Naik sepeda ke kantor cukup sekali sepekan pada hari Jumat, tapi kalau akhir pekan saya biasa sepedaan keluar-masuk kampung, bisa sampai Cileungsi, Cibubur, Sentul.

Saya bersepeda sejak kecil, ke sekolah naik sepeda. Waktu kuliah di UGM, Yogyakarta, saya juga naik sepeda. Ketika kuliah di Amerika Serikat, tetap naik sepeda. Bisa dibilang, sepanjang hidup saya ini naik sepeda. Sepeda yang saya pakai sekarang saya beli tahun 1995 di AS, merek Track. Murah meriah, ha-ha-ha. Saya juga punya sepeda lipat.
Selain untuk kebugaran, bersepeda itu juga ramah lingkungan. Manfaat lain, kita belajar mengalah, jangan merasa selalu menang. Di jalan, posisi kita lemah. Semua orang mau menang sendiri, kita ngalah aja. Ada bus, ngalah. Ada motor ngebut, ngalah, meski terpaksa naik trotoar. Saya yakin, sepeda ini justru akan menjadi tren masa depan.


Agustinus Gusti Nugroho atau Nugie (37),
Penyanyi dan pencipta lagu, warga Bintaro

Sepeda benar- benar jadi alat transportasi buat aku. Kalau lagi shooting di televisi, aku genjot sepeda. Mau ke berbagai acara, genjot juga. Justru di jalan Jakarta yang macet, naik sepeda menjadi lebih cepat, bisa nyalip mobil.

Aku hobi sepedaan sejak kecil. Dulu kan gak dikasih banyak uang saku, jadi aku bersepeda, he-he-he. Kalau sekarang, sih, sudah menjadi kebutuhan. Kalau lagi ngamen ke daerah-daerah, aku bawa sepeda lipatku, masukkan aja ke koper, praktis. Oya, merek sepeda lipatku Bike Friday seri Tikit, range harganya antara Rp 18-21 juta. Aku memiliki enam sepeda, sesuai fungsi masing-masing, ada sepeda gunung, ontel, juga ada BMX, sepeda masa kecilku.

Naik sepeda rasanya keren, bisa masuk ke mana-mana. Sekarang, saya malah jadi ikut berkampanye anti-pemanasan global dan hemat energi dengan sepeda. Sekalian nyemplung untuk misi lingkungan. Saya yakin, nanti orang akan balik lagi ke sepeda, seperti masa kejayaan dulu.



Mathias Muchus (52),
Aktor, warga River Park, Bintaro

Saya mulai menyukai sepeda sejak kerusuhan Mei 1998. Kok transportasi kayaknya lebih enak dengan sepeda. Saya membeli sepeda seharga Rp 2-an juta, lalu mulai sering kumpul dengan teman. Tahun 2000-an saya kenal Pak Subronto Laras dari klub Ikatan Penggemar Sepeda Jakarta. Dari sana, saya mulai benar-benar menggemari sepeda, yang bagi saya adalah sport. Saya membeli sepeda balap, merek Look buatan Perancis. Harga Rp 30-an juta, tapi untuk kelasnya, harga itu masih murah karena ada yang Rp 75 juta lebih.

Saya pernah genjot sepeda dari ujung Bintaro ke Tanjung Priok. Kalau bersama klub, bahkan sampai ke Anyer, bisa makan waktu seharian. Kalau ke Yogya, nanti sepedaannya dari kota ke Borobudur atau Parangtritis pulang-pergi. Kalau ke lokasi shooting, saya genjot dari rumah. Sekarang, sepedaan tiap Sabtu-Minggu saja.

Saat mengayuh sepeda, rasanya seperti di atas awan. Bersepeda itu melatih daya tahan tubuh, konsentrasi, dan juga kesabaran. Naik sepeda tidak boleh emosional, nanti dua jam saja sudah habis energinya. Bersepeda itu memadukan kerja otot dan emosi.



Subronto Laras (65),
Komisaris Utama Indomobil Group, warga Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, yang ngantor di MT Haryono, Ketua Jakarta Cycling Club

Saya dulu ikut pandu. Pas usia sembilan tahun, saya bertugas menjemput pemimpin pandu, Abunda Mastini. Saya berangkat naik sepeda ke rumah Abunda di Jalan Panarukan, Menteng, lalu kami beriringan ke tempat kepanduan di Salemba. Malamnya, saya mengantar Abunda pulang. Sepeda waktu itu jadi alat mobilisasi.

Usia 14 tahun, saya ikut balap sepeda dengan rute Jakarta-Bogor. Latihannya di sepanjang Jalan Sudirman yang waktu itu sisi kanan-kirinya masih sawah. Saya ikut tur ke Kebayoran, jaraknya kira-kira 40 kilometer PP. Dulu naiknya sepeda jengki yang dimodifikasi sendiri.

Saya punya dua lusin sepeda, tapi saya bagi-bagikan ke pembalap. Saya suka pakai sepeda balap Colnago Carbon, harga Rp 50-an juta. Saya juga disponsori pabrik sepeda Giant. Manfaat? Sejak 15 tahun lalu saya divonis sakit jantung, tapi tertolong dengan bersepeda. Kenikmatan bersepeda? Memperluas pergaulan.




Subandono Rachmadi (36 tahun)
,
PNS yang tinggal di Kota Serang, Banten

Saya menyukai sepeda sejak saya berusia 6 Tahun ketika itu saya akan masuk Sekolah Dasar. Saya membeli sepeda mini berwarna hijau dengan hasil tabungan saya selama bersekolah di TK, seharga Rp. 65.000,- Semenjak itu sepeda selalu menjadi bagian hidup saya, meskipun sepeda itu lebih pantas dinaiki anak-anak perempuan, karena dilengkapi dengan keranjang di depan, boncengan dibelakang, dan dikedua setangnya terdapat pita berwarna warni. Sepeda mini tersebut menemani saya hingga SMP, tentunya setelah mengalami modifikasi disana-sini karena munculnya era BMX, tetapi akhirnya sepeda itupun tak kuat melawan pesatnya perubahan jaman dan berakhir di tukang loak. Sekolah pun berlanjut dengan menggunakan angkutan umum. 
Kini saya telah bekerja sebagai PNS dan Hobi bersepeda pun dilanjutkan kembali. Menjelajahi seluruh tempat atau biasa disebut XC/cross country menjadi hobiku. Saya bergabung dengan sebuah komunitas pecinta sepedaan XC di kota saya tinggal, Serang, komunitas itu adalah SXC2 kepanjangan dari Serang XC Community yang mewadahi para penikmat cross country di kota kami.
Bersepeda menjadi rutinitas kami setiap minggu, kesadaran lingkungan yang hijau dan kesehatan tubuh serta mental dengan menjalin kebersamaan menjadi moto komunitas kami, dan kami bertekad mengajak seluruh masyarakat untuk mencintai kegiatan bersepeda yang akan membuat lingkungan dan diri kita menyatu dalam sebuah harmoni yang indah. 

Begitulah pandangan beberapa tokoh yang mencintai kegiatan ‘sepedaan’, kebugaran tubuh dan kesadaran akan lingkungan hidup yang dominan menjadi alasan mereka melakukannya.  
Demikianlah ulasan ini disajikan sebagai penegasan peran Komunitas XC Serang ini didalam rangka melakukan upaya nyata sebagai wujud syukur akan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa atas nikmat kesehatan dan keindahan alam yang terhampar luas disekitar kita, sehingga sudah sepantasnya kita berupaya menjaga dan melestarikannya.  
Ayo teman-teman…!!  ayo ! teriakkan selalu…. sepedaan … sepedaan… kring.. kring.. kring..
sepedaan mau lewaaaaaaatttt…..............kring....................kring






Perkebunan Karet Gunung Kupak

Assalamualaykum,

Melanjutkan foto-foto yang sudah dipajang sebelumnya oleh Si Koneng yang telah berbicara banyak, saya akan tambahkan sedikit cerita dan laporan perjalanan ke perkebunan karet Gunung Kupak.

Hari Minggu 1 November 2009 atau bisa juga disebut tanggal 32 buat teman-teman PNS, termasuk saya tentunya, hari cerah seperti biasa. Kebetulan juga, sejak beberapa bulan kemarin aku pasang Defender, rasanya belum pernah sekali pun kami melakukan trekking sambil kehujanan. Jadi kata teman-teman, percuma saja dipasang, tidak ada gunanya. Tapi, tak apa lah, supaya sepedaku berciri-khas dan tidak tertukar hehe… .

Rencananya minggu ini kami akan kembali mengeksplorasi Pulau Burung dan sekitarnya sekalian bakar-bakar ikan di sana. Tapi, menyusul rencana-rencana sebelumnya ke Pulau Panjang dan Pulau Cangkir yang ditunda sampai waktu yang belum ditentukan, rencana ini pun kami tunda juga. Beberapa trekker tampak kecewa karena sudah membayangkan kenikmatan makan ikan laut dan tentunya karakteristik trek yang sangat bersahabat dengan lutut.

Setelah berembuk sejenak, kami putuskan akan mengeksplorasi hutan karet di Kampung Gunung Kupak, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Serang yang akan ditempuh melalui Cilowong dengan tanjakan dan TPA beraroma bau yang “you know lah”. Dari sana , kami akan keluar di Pabuaran. Jadi, bener kata Si Koneng di “Hutan Karet …(dalam gambar)”, betapa sudah terbayang tanjakan-tanjakan itu.

Oqe lah kalo beghitu, siapa takut? Perjalanan ini akan dipandu oleh Om Bagus, pesepeda senior sekaligus veterannya BCC.

Perjalanan akan kami mulai paling lambat pukul 7.00 karena akhir-akhir ini, start kami semakin molor menjadi sekitar 7.30 s.d. 8.00. Padahal, dulu pada awal-awal berdirinya SXC2, kami bisa start pukul 6.00. Manfaatnya, selain udara belum begitu panas, kami bisa cepat kembali ke rumah masing-masing.

Trekker yang berpartisipasi kali ini ada 18 orang. Tidak termasuk ketua yang ada urusan keluarga mendadak dan wakilnya yang harus masuk pabrik setiap tanggal 1, hari apa pun itu. Walaupun demikian, kami tetap semangat karena dipimpin oleh Bu eh... Pak Sekretaris tentunya.

Selamat datang buat Om Andri yang sudah lama tidak gabung yang mungkin sudah lupa cara gowes? Jangan lupakan pula penampilan funky Om Dudi dengan, masih, kaos I love bike merahnya, menggunakan manset bermotif tato seperti preman dan celana rastanya. Namun, kali ini ia ada pasangannya, yaitu Om Bagus dengan jersey merah bergambar “garuda di dadaku”.

Gunung Sari, kami datang…

Sudah menjadi kebiasan kami melakukan pitstop di pangkalan ojek Desa Umbul Tengah. Masih di bawah naungan pohon beringin nan rindang itu (makna denotatif lho). Om Yopie terpaksa ganti ban dalamnya yang bocor terkena paku. Bukan cel*&@ dalamnya, karena pasti dia tidak membawa ganti hehe…. Kegiatan tambah angin ini akhirnya menjadi pemandangan biasa. Dari sini, Om Hepi dan Om Imam balik kanan ke Serang kembali karena urusan keluarga sehingga rombongan tinggal berjumlah 16 orang.

Selanjutnya mudah ditebak, tanjakan siap menanti para trekker. Diam membisu. Hanya terdengar irama perpaduan ban dengan aspal serta dengus nafas maksimal menarik oksigen. Om Tim sempat pusing karena aroma “you know lah” tadi di Cilowong. Walau begitu, ada kemajuan, dia bisa gowes sampai puncak hore…. Selamat ya. Malah Si Koneng dan Dodo Chupet yang mencuri jarak dengan evakuasi angkot sampai ke puncak. Makanya saya heran, perasaan tadi di belakang, koq sekarang ada di depan. Jadi ingat cerita balapan lari antara si kancil sombong dengan siput-siput cerdik. Perasaaan si kancil, ia sudah lari cepat sekali, tapi selalu kalah oleh siput-siput. Membuat stres kancil haha…. Di sini pula, Om Dudi berganti sepeda dengan Om Mars karena katanya, Quatro-nya terasa berat. Jangan-jangan ada yang ikut dibonceng tapi tidak kelihatan, Pak.

Pitstop kedua di pertigaan Gunung Sari dan di depan Kantor Kepala Desa Gunung Sari. Rehat sejenak sambil menunggu rombongan belakang. Ternyata Om Dudi bertukar sepeda lagi. Kali ini sepeda siapa yang dipakai, saya lupa. Punya Si Koneng ya? Selanjutnya, kami memersiapkan perbekalan, terutama air minum, karena di hutan karet tidak tersedia warung yang menyediakan makanan dan minuman favorit kami, yaitu gorengan dan teh manis. Tak lupa kami berfoto sejenak di sini.

Kampung Gunung Kupak

Dari depan kantor tadi, kami memasuki jalan kampung menurun bertanah merah yang untungnya tidak basah sehingga tidak licin dan tanahnya tidak menempel di roda-roda kami. Di sini terletak Vila Pak Nandang yang merupakan tempat bersejarah bagi kami, yaitu tempat dideklarasikannya SXC2.

Memasuki perkebunan karet, pitstop ketiga, kami beristirahat lagi sambil foto-foto ditemani oleh oksigen yang kaya dan kesejukan luar biasa. Alhamdulillah. Silakan klik koleksi foto-fotonya di Phote Gallery. Oh ya, Om Mars, tolong tambahkan koleksi yang dari Om Koneng, Om Andri, dan semua yang berkamera ria supaya gambar-gambar itu lebih banyak bercerita.

Jalanan di tengah hutan karet dilapisi batu-batu yang membuat sepeda terguncang-guncang. Beruntung teman-teman yang sudah memakai fork yang bagus karena guncangan akan terserap dan tangan menjadi nyaman, tidak terlalu bergetar. Jalanan berkelok-kelok dan tentunya tetap menanjak. Di sini, beberapa teman sudah mulai kelelahan dan merasakan gejala kram. MTB tidak diharamkan di sini, jadi mereka dengan ikhlas melakukannya hehe…..

Kami melewati perumahan karyawan PT Wabin Jayatama, pemegang HGU perkebunan karet serta peternakan kerbau dan sapi. Sayang, tidak ada trekker yang mau difoto dengan kerbau-kerbau dan sapi-sapi yang sedang digembalakan di padang rumput yang kami lewati hihihi...

Akhirnya, kami keluar juga dari perkebunan karet ini melalui gerbang depan perusahaan itu. Beberapa trekker sudah tampak kelelahan tapi ditutupi semangat tak kenal menyerah untuk dapat kembali ke rumah dengan meng-gowes. Di tengah perjalanan, kami beristirahat lagi sambil menunggu teman-teman MTB di belakang.

Selepas itu, jalanan mulai menurun berlapis batu-batu kerikil. Sangat berbahaya karena licin. Beberapa kali roda-roda sepeda selip. Jalan ini berakhir di Jalan Raya Pabuaran-Gunung Sari.

Kami mulai memasuki jalan ber-hotmix menuju pertigaan Pabuaran, dekat SLTP Pabuaran 1, yang akan kami lanjutkan menuju Desa Paleuh. Tapi, kami kembali melakukan pitstop keempat di warung pertama yang kami temukan selepas kebun karet, di depan sekolah itu.

Sekitar 11.30 perjalanan kami lanjutkan dengan tujuan Desa Paleuh untuk kemudian belok kiri ke arah Tembong dan mampir di rumah Om Tim di sana. Undangan makan siang, hmm… asyik. Tapi sayang, di tengah perjalanan, kaki Om Tim sudah mau kram sehingga harus dievakuasi dengan angkot. Demikianlah. Tapi ada hikmahnya juga, dia bisa lebih tenang memersiapkan makan siang nanti hehe…

Desa Pancanagara dan menyeberangi sungai

Di pertigaan Desa Pancanagara, Om Bagus menantang kami untuk melewati desa itu dengan trek akan melewati sungai berbatu. Wah, tantangan menarik nih. Di sini, tanpa ketahuan, Om Andri sudah cabut duluan karena panggilan, bukan dari komandan di kantornya, tapi komandan di rumahnya hehe… Baru sekitar 2 kilometeran, kaki Om Hendra mengalami hal yang sama dengan Om Tim, tapi tampaknya ia masih kuat gowes. Hanya saja, beberapa teman mengusulkan supaya balik kanan saja menuju Desa Paleuh. Sementara, 6 orang trekker, yaitu Om Bagus, Si Koneng, Pak Agung, Om Bayu, Om Dodo Cupet, dan saya, tetap melanjutkan perjalananan melewati Pancanagara ini.

Dari Desa Pancanagara, jalan aspal ini akan tembus ke Jalan Tongleng-Serdang Lor dan menyambung ke Jalan Raya Sayar. Tapi kami berbelok memasuki jalan kampung. Banyak penduduk desa yang mengatakan bahwa jalan yang kami lewati buntu, tidak bisa dilewati. Terang saja, kontur jalan menurun dan berbatu cadas yang merupakan jalur air, sepertinya jarang dilalui orang.Tapi kami nekat melewatinya. Di kanan-kiri jalan, tumbuh perdu dan rumput gajah yang menggores-gores kaki kami. Hutan dan kebun-kebun kami lewati, tidak ada perkampungan, tidak ada orang. Kami khawatir kalau ban sepeda kami bocor. Bisa gawat. Selanjutnya, kami melalui jurang di sebelah kiri dan tebing di kanannya. Tidak mau ambil risiko, kami tuntun sepeda-sepeda kami. Ya, daripada jatuh ke jurang, karena keselamatan adalah hal yang utama.

Tiba di sungai berbatu, pemandangan luar biasa. Namun, karena masih musim kemarau, debit air sangat minim. Kami jadi bisa menyeberanginya dengan mudah. Sayang tidak ada penduduk sekitar yang bisa kami tanya tentang sungai ini. Cerita Om Bagus, terakhir ia lewat sungai ini, ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa sehingga harus memanggul sepedanya. Seperti biasa, di sini kami berfoto-foto sejenak.

Selepas sungai, kami langsung mendaki bukit dengan kemiringan sekitar 40°-60°. Sangat licin karena merupakan jalur air ke bawah sungai. Setelah mencapai puncak, barulah kami menemukan perkampungan penduduk dan, yang kami tunggu-tunggu, jalan raya. Alhamdulillah, sampai juga kami di Jalan Tembong-Pabuaran, dekat SDN Benoa. Sekitar 30 menit kami akan mencapai homebase-nya Om Tim di Kampung Tembong.

Selepas tengah hari, kami akhirnya finish juga di sana. Sayur asem, ikan asin, sambal, bakakak ayam, dan teman-temannya sudah siap untuk disantap. Manstaff Om Tim, tararengkyu. Setelah semua selesai makan, tiba-tiba Om Yopie SMS Om Agus, dimana para rombongan. Ternyata, ia sudah menunggu di pangkalan ojek Tembong karena homebase Om Tim-nya terlewati, padahal cuma 200 meteran. Akhirnya Om Yopie makan terakhir. Silakan dihabiskan Om hehe…

Setelah kenyang sekitar pukul 13.30, kami yang menganut prinsip SMP atau Setelah Makan Pulang, segera bersiap-siap untuk berpisah dan langsung menuju rumah masing-masing. Pukul 13.55, kami tiba juga di rumah. Hari sudah lewat tengah hari. Ya, perjalanan kali ini memang memakan waktu yang agak panjang. Bukan karena jaraknya yang jauh karena hanya sekitar 50 km, tapi karena tingkat kesulitan yang tinggi dan tanjakan-tanjakannya yang membuat banyak memakan waktu. Walaupun demikian, perjalanan ini sangat memuaskan menjurus ke ketagihan, bahkan bagi beberapa trekker yang tadi pagi kecewa karena batal membakar ikan haha….

Wassalam.

Monday, November 02, 2009

Hutan Karet... (dalam gambar)

Hari pertama di bulan November SXC2 eksplore ke hutan karet di kawasan gunung sari..., Dari beberapa anggota memang "agak kecewa" dengan perubahan jalur ini, karena awalnya sudah pada kebayang, perjalanan kali ini akan bakar ikan di pulau burung..., apalagi kalau ngebayangin perjalanan ke gunung sari pasti lewat jalur taktakan..., cilowong..., gunung sari..., huuuiiihhh...., nanjak habis...
Tetapi dibalik rasa "agak kecewa" tersebut terselip rasa "penasaran" kayak apa sih trek ke hutan karet..., apalagi trek ini belum pernah di eksplore..., dan memang benar adanya, akhirnya rasa penasaran tersebut terjawab setelah kita sampai di lokasi... (laporan selengkapnya kita tunggu dari om Dida)untuk sekarang koneng hanya menampilkan gambar gambar yang sempat terekam kamera si Koneng...

dalam perjalanan pulang rombongan terpecah menjadi 2 kelompok, enam treker..., pak bagus, pak bayu, pak agung, om dodo Chupeet, om dida dan si koneng..., menempuh jalur yang pernah ditempuh pak bagus...., sementara yang lain langsung meluncur ke tempat om timoty...
ternyata jalur pak bagus menghadirkan tantangan tersendiri... pokoknya asyik...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons