Monday, January 25, 2010

Curug Cigumawang

Alhamdulillah. Bagaimana kabar para goweser semua? Mudah-mudahan Allah SWT memberi kita semua selalu kesehatan.

Hari Sabtu, 23 Januari 2010. Sebenarnya kami sudah merencanakan sebelumnya untuk mengeksplorasi kawasan Rawa Danau. Namun, karena teman-teman BCC - yang sudah hafal daerah ini dan akan kita minta sebagai penunjuk jalan- akan kedatangan tamu, maka jadwal kami mundurkan. Akhirnya, kita mengunjungi kawasan wisata alam Curug Cigumawang saja di Desa dan Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. Kali ini juga merupakan kali resmi pertama kami memakai kaos go green baru. Keren.

Berdasarkan rapat terakhir di kediaman Om Agus di BSD, tempat berkumpul akan dipindahkan ke GOR Ciceri. Namun, karena sedikit miskomunikasi, bahwa tempat berkumpul untuk kegiatan kali ini masih mengambil tempat di halaman KPP Pratama Serang, beberapa goweser berkumpul di GOR Ciceri. Jadilah mereka bergeser ke tempat awal.

Pukul 06.15 di tempat biasa, masih sepi. Kemana orang-orang? Jadi tidak perjalanan hari ini? Padahal truk Polda sudah siap dan kami sudah berkomitmen untuk berkumpul pukul 06.00 tepat.

Konfirmasi terakhir teman-teman di FB, sekitar 16 goweser siap bergabung kali ini. Jadi, kami pikir, satu truk untuk mengangkut sepeda dan si empunya sudah cukup. Ternyata kawan, ada 29 goweser yang hadir. Ini menuntut tim pemuatan sepeda yang dipimpin Om Dono dan Pak Danar berpikir keras dan kreatif agar semua sepeda bisa terangkut. Susunannya, ada yang menghadap kiri, menghadap kanan, bahkan digantung. Pokoknya patingsuliwer hehehe…. Si empunya sepeda sih, serahkan saja pada angkot.

Sekitar 07.30, para goweser itu. Saya absen dulu ya. (1) Om Mars, si pembawa tripod tanpa kamera karena ganti tas. Harusnya dia punya 2 set kamera di dua tas berbeda hahaha…., (2) Om Dono dan (3) Pak Danar, tim kreatif pemuatan sepeda ke dalam truk, (4) Om Yopie, (5) Om Iyan, (6) Om Hendra yang hobinya difoto hehe… , (7) Pak Yusman, (8) Om Bandi-Ono yang tampak eforia bermain air setelah sekian lama absen gowes, (9) Kang Didit, (10) Pak Ai, (11) Om Bayu, (12) Pak Taufik dan (13) Pak Zaenal, selamat bergabung Pak! (14) Pak Deni, kemana saja Pak? (15) Pak Yudi (selamat bergabung juga Pak) dan (16) Om Andrie, bhayangkara negara, terima kasih bantuan truknya, (17) Om Dodo, (18) Pak Bejo dan (19) kompatriotnya dari BCC, (20) Pak Dudi, The Folker, yang senang bukan kepalang karena kali ini ‘tepat’ membawa teman, (21) Pak Deden teman Pak Dudi yang ‘tepat’, (22) Om Pepi, kemana saja Om? Ayo bangun pagi! (23) Om Kusni, tim medis, (24) Pak Agung, (25) Indra dan (26) Don Vito, the young guns, (27) Om Imam, (28) Om Asep, dan (29) The Flasha.

Pukul 07.30. Setelah beres memuat sepeda yang memakan waktu hampir satu jam, dua angkot yang mengangkut kami dan satu truk Polda meluncur menuju Kantor Polsek Ciomas. Sekitar satu jam perjalanan ke sana. Indra, Om Dodo, dan Om Yopie menumpang di belakang truk menjaga sepeda. Om Yopie kami katakan nekat naik truk. Lha wong, pegangan ke atas saja tangannya tidak sampai, hanya menggapai-gapai. Untungnya aspal sepanjang jalan sangat-sangat mulus, jadi dia tidak mengalami kesulitan berarti dan pegangan ke samping hehe….. Terima kasih Pemerintah. Terasa adanya pembangunan.

Sekitar 08.30 kami tiba di markas Polsek Ciomas. Kami langsung membongkar sepeda. Syukurlah, akhirnya gowes juga. Matahari sudah menyengat. Apalagi langit sangat biru tanpa awan, sangat cerah.

Perjalanan ke lokasi melalui Jalan Raya Palka, yang diestimasi membutuhkan waktu sekitar 0,5-1 jam, didominasi aspal sampai dengan persimpangan ke arah curug. Syukurlah, sebagian besar adalah bonus turunan. Kami melalui Kota Kecamatan Padarincang dan melalui tempat pemandian air panas batu kuwung yang terlihat tidak terurus. Jangan-jangan, malah sudah tutup karena bangkrut.

Subhanallah, ternyata pemandangan sepanjang jalan sangat menakjubkan. Kita bisa melihat kawasan Rawa Danau dari kejauhan yang seperti menantang untuk dieksplorasi, juga kaki Gunung Karang yang tampak jelas menghijau sampai puncaknya.

Tiba di persimpangan ke arah curug, Pak Dudi kelihatan gembira dan plong karena kali ini membawa ‘teman’ yang tepat, yaitu Pak Deden. Kenapa begitu? Kata Pak Dudi, karena Pak Deden meng-gowes lebih lambat dibandingkan dia. Bandingkan dengan Pak Arif yang diajak Pak Dudi sebelumnya. Dia ternyata lebih kuat dari si empunya Folker itu, kawan.

Ngomong-ngomong masalah Folker, perjalanan minggu lalu mengikuti funbike di Cilegon, giliran Pak Dudi sedang kuat-kuatnya meng-gowes, eh… si Folker yang tidak kuat. Padahal biasanya Pak Dudi yang tidak kuat aw aw aw….

Curug Gumawang masih sekitar 3km dari persimpangan itu. Kami memasuki jalan desa yang dilapisi aspal kasar. Di persimpangan selanjutnya, ada dua pilihan yang keduanya sebenarnya menuju ke lokasi. Pertama jalanan aspal kasar dengan tanjakan curam lebih dari 450 sejauh lebih dari 2km. Kedua, turunan berbatu-batu dan tanah yang sangat licin dan berlumpur coklat. Demi keamanan, kami pilih yang pertama. Siapkan lutut dan betis kalian, Bro! Jadi ingat novel zaman anak-anak dulu, “Pilih sendiri petualanganmu”. Kalau salah pilih, jagoannya bisa kalah, bahkan mati. Hiii, menyeramkan.

Setelah meng-gowes setengah perjalanan, hampir semua goweser bernafas senin-kamis. Kaki lemas tiada terkira. Mari Tuntun Bersama menjadi suatu hal yang lumrah. Pak Dudi bahkan sampai tidak bisa duduk saking lemasnya hahaha…

Pak Bejo yang menjadi penunjuk jalan tiba-tiba kembali dengan informasi bahwa jalan yang kita lalui terlalu jauh memutar dengan turunan menuju curug yang sangat curam dan licin. Jadi kami berputar balik untuk memilih pilihan kedua. Akibat hujan semalan, jalanan menjadi licin. Sementara, batu-batu besar yang sulit dilalui ban-ban kami seperti siap menunggu korban. Syukurlah, tidak ada kecelakaan walaupun beberapa goweser terpaksa turun dari sepedanya karena kehilangan keseimbangan. Jalanan seperti kubangan kerbau. Provinsi Banten 2010, milenium kedua, tidak tampak pembangunan di sini.

Tanjakan berlapis tanah licin pun sulit untuk dilalui dengan sepeda. Positif, 100% goweser TTB di sini walaupun sebelumnya makan gorengan dan teh manis di warung. Gak ngaruh. Bahkan, sepeda motor pun di tanjakan ini seperti terengah-engah dan meraung-raung. Beberapa motor penduduk sekitar memasang rantai pada roda-rodanya untuk melawan licinnya trek. Seperti kereta api di Ambarawa yang menggunakan rantai di relnya pada jalur yang mendaki. Tanjakan selanjutnya, karena lebih keras, bisa dilalui oleh sebagian besar goweser. Sampailah kami di puncak bukit.

Selanjutnya tinggal turunan saja. Tetapi, tanah licin masih mendominasi. Kesalahan mengombinasikan rem depan-belakang sudah pasti membuat sepeda selip. Under maupun over stir. Di sebelah kanan kami jurang dengan ketinggian beberapa belas meter dengan sungai berbatu-batu di bawahnya. Saya sendiri sampai tiga kali terjerembab, tidak beda dengan beberapa goweser lain hihihi… Dua kali kami harus melompati kali.

Jersey kita yang berwarna hijau ternyata ada manfaatnya. Om Andri yang nongkrong di atas batu besar, tentunya setelah dia memanggil Om Iyan untuk mengambil gambarnya, tampak seperti bunglon di antara daun-daun yang hijau segar. Daunnya yang segar lho, bukan bunglonnya.

Perjuangan menuju lokasi berakhir setelah kami mencapai pintu masuk yang ditandai loket retribusi. Masing-masing kepala dihargai tiket Rp2.500. Pak Bendahara tolong bayar ya… Eh, sebelum mencapai air terjun, kami diminta ‘uang kebersihan’ lagi . Tanpa tiket pula. Lho, koq dua kali boss?

Sekitar Pukul 11.000. Selalu ada sifat kekanak-kanakan pada setiap orang dewasa. Bahkan, untuk yang sudah beruban pun. Ya, itulah yang terjadi setelah para goweser berbasah-basah ria di bawah air terjun. Seperti lepas dari semua beban. Hutang-hutang terhapus. Yang ada tinggal cicilan leasing hihihi…. Podo mas. Mas Bandi-Ono yang biasa kalem dan sedikit bicara –apalagi kalau sedang nyetir- kali ini berjingkrak-jingkrak bermain-main air hihihi… untung anak-anaknya tidak melihat. Om Hendra, yang genit itu, memanggil semua yang membawa kamera untuk memfoto dia di bawah air terjun, halah. Goweser yang perutnya seperti ibu-ibu hamil 4 bulan, saling memamerkan perut-perutnya. Menikmati air pancuran yang berasal dari celah-celah batu pun sangat mengasyikan dan menyegarkan.

Semua kamera dan telepon selular berkamera dikerahkan untuk mengambil gambar bermacam-macam gaya, orang, posisi, dan lain-lain. Om Iyan sampai beberapa kali mengeringkan kameranya. Pada genit semua hahaha…. Sementara, kelompok lain tetap kalem, tidak tergoda ikut turun ke air, padahal sibuk menyantap mie rebus dan kopi. Sepeda-sepada yang sangat kotor karena lumpur, parkir di selokan yang arusnya lumayan deras. Inginnya sih supaya tercuci bersih, malah yang didapat malah daun-daunan yang nyangkut di jari-jari.

Walaupun tidak ada informasi berapa ketinggian dan debit airnya, semua tertutup oleh kesejukan yang ditawarkan. Kami ingin berlama-lama di sini. Namun, mengingat jarak yang masih jauh ke Serang, dan harus meng-gowes, kami harus cepat-cepat kembali. Ke Serang kami kan kembali.

Hampir pukul 12.00, kami meninggalkan lokasi menuju Serang kembali. Jalanan tanah sudah mulai mengering tersengat matahari jadi tidak terlalu licin. Sudah pasti, perjalanan balik terasa lebih cepat. Di Pabuaran, Pak Danar mengundang para goweser mampir ke rumah saudaranya untuk makan siang. Wah, mantap tuh. Terima kasih Pak! Di tengah perjalanan, sewaktu melompati kali, kami bertemu rombongan satu keluarga lebih dari 10 orang yang akan mengunjungi curug. Sebagian besar perempuan. Berjalan kaki pula. Hati-hati, Bu, licin.

Dari persimpangan, bonus harus dikembalikan karena jalanan akan menanjak sepanjang jalan sampai dengan Markas Polsek Ciomas. Setelah itu, baru kami diberi bonus turunan lagi sampai Serang.

Saya sendiri, karena ada acara lain, terpaksa harus dievakuasi mobil ketika waktu menunjukan pukul 13.30, dan masih di Jalan Raya Palka km 23, Padarincang. Maaf saya duluan teman-teman. Sepanjang jalan, tampak jarak antara grup depan yang sudah tiba di penghentian selanjutnya dengan grup paling belakang sekitar 5-6 km. Jauh juga ya… Tapi syukurlah teman-teman di belakang tetap konsisten dan bersemangat. Alon-alon asal kelakon. Tetap semangat bradeh….

Secara umum, lokasi wisata ini jarang dikunjungi karena sulitnya medan yang harus ditempuh. Apalagi kalau bekas hujan. Jalanan becek, kubangan, tanjakan, dan turunan licin siap menghadang. Tambahan lagi, sepasang kali yang harus kita lompati. Cocok menggunakan MTB atau berjalan kaki. Kurang cocok untuk yang kurang berjiwa petualang hahaha… Namun, bagi kami, sangat menyenangkan, menghilangkan penat, dan menyegarkan. Kapan-kapan kita kembali lagi.

Akhirnya, rombongan sampai ke Serang sekitar pukul 15.00. Masih ada waktu untuk keluarga dan beristirahat.

Wassalam

9 comments:

Anonymous said...

salam sepedaan....
nais report, jadi pengen banget ke tempat itu, membaca postingan ini jadi mikir berkali kali, mampu nggak saya ???, ( Pak Dudi Aja begitu ..),
layak di explore lagi ..
oh yaa, poto potona, jangan lupa, upload di galeri kita

chiem

yusman said...
This comment has been removed by a blog administrator.
fLash said...

wah Pak Yus mantaffs euy, sayang sayah sudah dievakuasi ;))

mars said...

waduh ga ikut-ikut ya....
lha saya bawa diri sampe ke curug aja suatu anugerah, mengingat badan lg ga fit....luemes...

Premier 3.0 said...

kayaknya musti kesana lagi tapi agak pagian

fLash said...

Mars, pantesan gak pake spokat. Lha, apa hubungannya ya?

Rumah Sepeda said...

maaf, komen om Yusman disensor....

CoKlat said...

Komentarnya apa ya..., kok jadi penasaran....
Manstab boss...., foto minggu ini kok lum diganti pak admin.....
Trus....klo sepedaan jadi kumpul dimana???

mars said...

@ coklat : dah kelamaan yah fmi nya...
Minggu ini kita sepedaan hari minggu kumpul di stadion Maulana Yusuf Serang..

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons