Tuesday, February 16, 2010

BABAD ALAS CILOWONG

Alhamdulillah. Setelah hujan mengguyur Kota Serang dan sekitarnya semalaman, matahari pagi seperti malu-malu memberikan sinarnya. Masih sedikit mendung. Orang-orang tampaknya lebih asyik tetap berselimut di tempat tidurnya. Namun, saya tetapkan hati untuk menggenjot hari ini karena minggu lalu hanya setengah perjalanan saya ikuti.

Setelah berturut-turut mengeksplorasi trek yang cukup berat, yang dimulai dari Curug Cigumawang di Padarincang, kemudian eksplorasi Kp. Pancanagara-Cilowong, dan terakhir kawasan lembah Rawa Danau yang sangat melelahkan, hari Minggu tanggal 14 Februari 2010 ini, kami berencana akan menjelajahi trek yang tidak terlalu berat dan diharapkan sampai rumah kembali sekitar pukul 12-an. Yang penting, tetap menggenjot untuk memelihara kesehatan dan ketawa-ketiwi ketemu teman-teman. Rencananya kami akan menjelajahi kawasan perbukitan sekitar Desa Kuranji dan Pancur.

Di titik kumpul, sudah hadir 20 goweser yang siap bergabung. Termasuk Pak Anda yang walau sudah absen selama “1 tahun”, sekarang dia datang dengan tunggangan barunya, Kona, dan tentu saja semangat baru. Hadir pula Pak Heri dan istri yang akan melakukan percobaan gowes dengan kami. Selamat bergabung Pak, Bu! Hadir pula Om Arif yang walau sudah lama tinggal di Serang, selalu lupa nama desa-desa di sini, tapi tidak untuk di Jepang, katanya hehe… Om Dodo merasa nama “Kuranji” sangat keren. Mungkin karena terasosiasi dengan “Jumanji”, filmnya Robin Williams. Alumnus Rawa Danau hampir semuanya hadir, kecuali Om Iyan dan Om Imam karena keperluan keluarga. Indra hadir dengan jersey Glasgow Celtic FC. Kalau melihat tampang dan perawakannya, dia memang cocok memakainya, tinggal ditambah kilt, pakaian khas orang Skotlandia, dan bagpipe saja. Don Vito, baru mengeksplorasi Desa Sukacai, terus ke Cadasari-Pandeglang-kaki Gunung Karang, dengan Indra, pada hari Rabu sebelumnya. Luar biasa, anak muda! Om Yopie pun, pemegang kaos polkadot, alias raja tanjakan, kembali akan unjuk gigi.

Terlambat 30’ dari jadwal, kami memulai perjalanan menuju Cikulur melalui Jalan Empat Lima. Baru sadar, kalau jalan ini bermula di perempatan Kaujon, bukan di perempatan Jalan Lingkar Selatan. Kemana saja saya selama ini?
Seperti pada perjalanan sebelumnya, kami melihat efek perkembangan Kota Serang sebagai ibukota Provinsi Banten, yaitu bertambahnya komplek perumahan. Kali ini kami lewati perumahan “Kampoeng Raya” (bukan “Kampung Raya” atau “Kampoeng Raja”). Namanya seperti kolaborasi antara ejaan suwandi dengan EYD. Juga Bukit Kuranji Permai yang sudah diratakan dan siap dibangun, kecuali masih ada satu pohon asem besar yang masih gagah berdiri. Mungkin pengembangnya menganut prinsip save the best for last.

Demikianlah, semakin banyak permintaan akan rumah akhir-akhir ini. Di lain pihak, rumah-rumah penduduk di sekitar masih bergaya arsitektur kuno Banten lama, sangat sederhana. Mereka membangun dengan menggunakan batu bata buatan sendiri yang terbuat dari lumpur yang dibakar. Lebih tebal dan kuat dibandingkan yang bisa kita beli di toko-toko material yang berorientasi keuntungan. Tembok-temboknya tanpa plesteran. Sementara, di atap-atap rumah mereka, masih terpasang parabola dari tv satelit asal negara jiran yang sudah bubar, menjadi hiasan tanpa guna. Oh ya, cuaca di sini tidak seperti Serang pada umumnya yang panas. Di sini sejuk dan cocok untuk dibangun tempat peristirahatan.

Di pertigaan Desa Pancur, kami meninggalkan jalan utama dan memasuki jalan desa. Pasar malam keliling di lapangan desa masih tanpa aktivitas. Nanti, menjelang magrib, pasti akan dibuka kembali untuk memberi hiburan kepada penduduk sekitar. Lumayan, murah meriah.

Kami menyusuri jalan desa ini sampai ke ujung aspal. Selamat datang di lapisan tanah. Namun, bekas hujan semalam membuat trek menjadi becek dan sangat, sangat licin. Beberapa goweser, seperti Pak Danar, Pak Heri dan istri, Om Supri, Om Dodo, dan Om Kus sepertinya urung ikut naik dan akan mengambil jalur lain. Pak Danar dan Om Dodo sebagai alumnus Rawa Danau putar balik? Gimana ini, Pak? Hehe… Kalo Om Supri, saya tahu karena sakit perut dan harus mencari WC umum, huhuhu…..

Sekitar 08.30 kami mulai naik ke atas bukit. Kondisi trek sama sekali tidak bisa menggunakan sepeda. Becek, licin, batu-batu, lumut, akar pohon-pohon, semak belukar, semua seperti kompak menghadang sepeda-sepeda kami. Baret-baret di kaki sudah tak dirasa lagi. Semua sepeda dituntun. Yang baru, yang lama, yang mahal, yang murah, hehehe…. Sementara jurang di kiri-kanan siap memangsa goweser yang terpeleset. Jalan setapaknya sendiri sangat mudah longsor.

Om Kus ternyata menyusul kami karena katanya malas kalau harus putar balik ke Kp. Pancur. Menyesal tidak Om? Pak Taufik, Om Didit, Pak Anda, sampai Pak Agung, terlempar dari sepedanya dan merasakan ganasnya trek ini. Pak Taufik malah sampai terjun ke bawah sekitar 3m-an. Untung sepedanya nyangkut, jadi tidak membahayakan dirinya. Cuma kacamata hitamnya saja yang sempat hilang. Kalau ketemu, hadiahnya apa Pak? hehe…. Pak Didit terjatuh karena jalan setapak yang dia lewati longsor. Untung tidak sampai ke bawah. Ya, trek ini memang lebih ganas dibandingkan rumah hutan sekali pun.

Pilih sendiri petualanganmu

Di sebuah pertigaan, kami berbelok ke kiri, ke arah Cilowong, karena memang belum pernah kami eksplorasi. Belokan ke kanan, ke arah perbukitan Kuranji, sudah kami jelajahi sebelumnya. Kata Om Mars, tempat Om Heppy dulu sempat mau pingsan itu. Hehe… maaf Om, makanya jangan begadang atuh. Kata Oma Irama, “Begadang jangan begadang, hahang…, kalau tiada gunanya.”

Kami sempat bertanya pada beberapa orang yang sedang berburu, mana arah ke Cilowong. Kata mereka, “Terus saja, Pak.” Malah, mereka memberi rambutan si nyonya. Lumayan, walau manis-manis asam, terasa menyegarkan. Terima kasih Pak!

Perjalanan kami lanjutkan. Menggenjot paling jauh hanya 3-4m, setelah itu, tuntun lagi. Jurang dengan kedalaman lebih dari 10m menganga di kiri-kanan, sementara jalan setapak sangat sempit dan licin. Saya takut menggenjot mengingat risikonya bila terjatuh ke bawah. Trek ini tidak cocok buat goweser yang mengidap acrophobia (penyakit takut ketinggian). Sementara di kejauhan, di bukit sebelah yang terpisahkan sebuah lembah, TPA Cilowong yang posisinya lebih rendah dari kita, seakan memanggil kami untuk ke sana. Dari BB-nya Mas Agus, samar-samar terdengar lagu Ikuti Aku dari Edane yang sangat beraroma Van Halen, terutama raungan gitarnya Eet Syahrani. “Mari sini ikuti aku….” Lagu ini jadi lagu tema di sini. Lumayan menambah semangat. Jam menunjukkan pukul 10.30.

Tiba-tiba, jalan setapak itu berakhir. Kami seperti tidak tahu harus ke mana. Sekitar setengah jam kami mencoba mencari jalan, sambil memandang TPA Cilowong di kejauhan. Oh, betapa kurindukan dia. GPS Om Arif menunjukkan kalau jaraknya “sudah dekat”, hanya saja jalur ke sananya belum ada. Sayang, tidak ada flying fox. Kalau ada, tinggal terbang deh… Indra sampai bilang, “Saya kecewa,” beberapa kali, “Kenapa tidak ikut Pak Danar” hehehe… Pak Anda dan Om Kus lebih kecewa lagi karena sepeda barunya tidak bisa digenjot, cuma didorong.

Alhamdulillah, Allah SWT memberikan pertolongan melalui seorang ibu dan 6 pasukan kecilnya, rombongan si bolang. Bukan hanya menunjukkan arah, mereka juga mengawal kita sampai ke Cilowong. Si ibu malah harus membuka jalan dengan bantuan goloknya. Perempuan luar biasa. Kami keluar dari kebun melinjo yang pohon-pohonnya terletak di lereng-lerang bukit, lalu masuk ke hutan bambu. Menuruni bukit super licin di sini, kami sampai harus sliding sambil memegangi sepeda. Sepatu Om Arif sampai jebol dan diikat dengan kabel lampu sepedanya. Sepatu yang keren, bisa menyala, haha…. Trek yang berat….. Om Mars sampai pasrah melepaskan sepedanya ke bawah bukit begitu saja. “Tunggu aku di bawah ya”, katanya. Mau lapor polisi, Om Yudi juga sama tersesatnya. Sepertinya, Wanadri saja tidak akan lewat sini, apalagi kalau harus dorong-dorong sepeda. Luar biasa. Kami sempat melihat batu cadas besar yang diselimuti akar pohon-pohonan. Dari mana asalnya ya? Kalau batu itu sedikit melayang mengalahkan gravitasi, akan tampak seperti pemandangan di film Avatar. Keren. Belum serbuan nyamuk yang sangat ganas, walau tidak sengeri serangan mereka sewaktu di Pulau Burung. Lagu tema dari Mas Agus kali ini, Terpurukku di sini dari Kla Project.

Jalur yang ditunjukkan ternyata bukan jalur yang biasa dilewati orang. Masih semak belukar dan hutan alas. Setelah tiba di puncak bukit yang berbatu cadas, kami berfoto sejenak dengan latar belakang Teluk Banten di kejauhan dan TPA Cilowong, yang kali ini kami rindukan, tidak seperti biasanya. Sementara, persediaan airku sudah habis. Setelah beres, kami lanjutkan perjalanan dengan tambahan semangat karena suara kendaraan bermotor semakin kentara. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai tampak. Lagu tema kali ini Kebebasan dari band asal Surabaya, Power Metal, yang sangat beraroma Helloween, grup metal asal Jerman. Hebat Om Agus, bisa pas terus. Om Mars hapal lagu ini. Ia walaupun orang Yogya, ternyata anak metal. Demikian pula Om Arif yang menghabiskan waktu kuliahnya di Surabaya. “…Nyanyikan saja lepaskan hasrat, yang t’lah lama mendera.”

Menjelang Jalan Raya Takari di Cilowong, si ibu berpisah dan siap kembali lagi ke kebunnya tadi. Dia ternyata tinggal di Kp. Pancur. Terima kasih, Bu dan bolang! Semoga Allah SWT membalas kebaikan Ibu. Akhirnya, kami menginjak aspal lagi. Alhamdulillah, senangnya tiada terkira. Ternyata kita berada di dekat monumen Pertempuran Cijentul, di Cilowong. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Wow, berarti selama 3 jam ini, kita hanya mendorong-dorong sepeda, naik-turun bukit. Sayang, sampai laporan perjalanan ini dibuat, saya belum menerima rekaman GPS untuk mendukung data kuantitatif. Nanti, insya Allah kalau sudah saya terima, akan saya tambahkan.

Karena tidak ada warung, kami langsung saja turun menikmati bonus turunan sampai ke pangkalan ojek di pertigaan Umbul Tengah. Semua pakaian, sepatu, dan sepeda belepotan tanah coklat kotor. Semburan lumpur setengah kering dari ban-ban sepeda yang berputar kencang, mengotori baju-baju kami. Lapar, haus, dan lemas terasa. Untunglah, warung yang kita tuju lengkap menyediakan pisang goreng dan beraneka minuman, walau sedikit bau minyak tanah. Maklum, bersebelahan dengan bengkel motor. Tripmeter hanya menunjukkan jarak 30km-an. Tapi kata Mas Agus, jarak sebenarnya menjadi sekitar 60km (dikali dua) karena sepedanya jalan, orangnya juga jalan, hahaha…..

Sekitar pukul 12.15, kami tinggalkan pangkalan ojek dan kembali menuju Serang. Sayang tidak hujan deras. Kalau iya, akan lumayan genjot ke Serang hujan-hujanan sambil mencuci sepeda. Teman-teman goweser tiba di rumah masing-masing sekitar pukul 12.30. Meleset setengah jam dari target yang kami tetapkan sebelum berangkat. Walau demikian,untuk ukuran nyasar, tampaknya tidak terlalu jauh meleset.
Alhamdulillah. Ke depan, trek ini jangan dicoba saat musim hujan ya…. Apalagi kalau sambil menuntun sepeda. Ini akan menjadi pelajaran bagi kami semua. Wassalam.

11 comments:

mars said...

Terima kasih tuk emak dan bolang dah mo pandu sampe cilowong....

vito_glu said...

tuh kan masalah postingan mah masih tetap bagusan pak Dida,, hehe,, Mantabh..
kira kira bakal kesitu lagi ga yak??

CoKlat@Chelski said...

Pesan sponsor : "don't try again"
Makasih postingannya om flash.....
Untung kita tersesat hanya 3 jam, jadi kata bos mars masih bisa ketawa2, klo dah lebih dari 3 jam ceritanya mungkin lain lagi....

fLash said...

gpp Don Vito, kita sama2 belajar.
Sebenarnya, jalur ini cukup enak koq, asal jangan tersesat, apalagi di musim hujan huahaha....

Anonymous said...

pengalaman baru selalu memberikan sensasi, tp kalo diulang lagi tracknya...hemm mendingan ga usah dibawa sepedanya...kita bawa aja golok, senapan, tambang...jd dech pemburu..

didit said...

Alhamdulillah masih bisa pulang....

mars said...

@CoKlat@Chelski : bener om, itu aja dah pada hampir stress...

mars said...

@CoKlat@Chelski: tuk kedepan koleksi lagu2nya yg romantis aja om....

Premier 3.0 said...

kayaknya mulai sekarang setiap goeser membiasakan membawa peralatan lengkap seperti P3K atau alat lainnya untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini

Anonymous said...

@mars : kaya' masih abg aja....request lagu roamntis...

Anonymous said...

yang penting jersy baru yang dibelakang ada goloknya.... dan celana melar kaya vito dan mas mars yang bisa ditarik ke bawah nutupi kaki dari nyamuk (meski pantat kelihatan ..ngak papa dihutan ini ngak ada yang lihat)he..he....

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons