Sunday, February 07, 2010

CILOWONG, LAPORAN SETENGAH PERJALANAN

Alhamdulillah, Sabtu 6 Februari 2009 pagi, udara sangat cerah. Karena ada urusan di rumah, saya baru tiba di titik kumpul, GOR Maulana Yusuf Serang, sekitar pukul 07.20. Saya kesiangan sementara para goweser lain sudah siap berangkat. Wah, saya jadi tidak sempat sarapan di sana, padahal pedagang lumayan banyak.

Laporan perjalanan ini hanya menceritakan kurang dari setengah perjalanan karena di Cilowong, saya harus kembali ke Serang karena anak sakit. Terpikirkan terus, tidak bisa konsentrasi. Cerita selanjutnya, silakan tunggu dari kawan-kawan lain.

Sudah ada 21 goweser di titik kumpul, termasuk Om Arif dengan jersey bermotif kulit ular (ih seyyem) yang izin untuk absen gowes karena harus ke luar kota. Om Yopie dengan tampilan aerodinamis dari ujung kaki ke ujung kepala. Sepatu, celana, kaos, dan kepala hehe… Belakangan, tampilan ini akan mengalahkan Om Toto di tanjakan Cilowong haha… Pak Dudi yang tampil beda sendiri dengan jersey oranye SXC2. Om Iyan yang terlihat subur walaupun berbadan kecil karena memakai body fit jersey. Indra dengan tunggangan barunya siap melahap semua medan. Tidak kuat celana belang-belangnya hehe…. Pak Deden yang dijemput oleh Pak Dudi karena katanya berguna untuk menambah kepercayaan diri Pak Dudi hihi… Om Mars yang akan segar bangun subuh di hari Senin kalau sudah bersepeda hari sebelumnya.

Setelah ritual membuat lingkaran untuk santiaji, berhitung, dan berdoa untuk keselamatan di perjalanan, kami memutuskan untuk mengeksplorasi kawasan rawa danau yang akan ditempuh dari Panenjoan. Sangat menantang tampaknya. Perjalanan akan melewati Desa Cilowong di Gunung Sari menyusuri Jalan Takari. Hampir semua goweser sudah hapal trek ini. Ya, trek berlapis aspal dengan hanya satu turunan kecil sampai dengan puncak di Cilowong. Semuanya tanjakan.

Sepanjang Jalan Takari, kami melewati beberapa komplek perumahan seperti Cluster Nirwana Asri, Sariwangi Residences, Golden Paradise. Nama-namanya seperti bukan di Serang saja. Jadi ingat pula yang di Lingkar Selatan, Executive Residences Gedong Kaloran, di Legok ada Serang City. Semua berbau barat. Apa untuk menaikkan gengsi ya? Tapi mengorbankan bahasa sendiri? Sepertinya tidak perlu. Dulu, di Jakarta, pernah ada aturan supaya nama-nama seperti ini menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, itu dulu. Sekarang, sudah kembali ke semula. Entah karena aturan itu sudah dicabut atau para pengusaha tidak takut lagi melakukan pelanggaran karena kurangnya penegakan hukum? Di Serang sendiri bagaimana ya?

Selanjutnya, melewati SD Impres, ramai sekali anak-anak bersekolah di sana. Juga yang menikmati jajanan beraneka warna dan tanpa memedulikan higienitas. Mudah-mudahan generasi muda itu selalu diberikan kesehatan jiwa dan raganya. Sangat kontras dengan kondisi Madrasah Ibtidaiyah di sebelahnya yang kosong melompong kekurangan murid, minim peminat. Namun, ada kesamaan di antara keduanya, yaitu bangunan fisik yang memrihatinkan. Atap bocor. Malah, di beberapa tempat, sudah tidak ada atapnya, sementara pintu dan jendela menganga tanpa penghalang. Kambing, ayam, dan bebek pun bisa ikut bersekolah.

Pangkalan ojek di pertigaan Desa Umbul Tengah kami lewati saja kali ini karena kita ingin menambah kekuatan gowes. Jadilah pitstop di sebuah pos ronda dan warung di Cilowong. Kali ini, bau sampah di TPA Cilowong sedang parah-parahnya. Tidak seperti biasanya yang bisa kami tahan. Saya sampai (maaf) mual menciumnya. Padahal pemandangan latar belakang TPA ini sangat bagus, yaitu perairan Teluk Banten di sebelah utara. Sangat, sangat kontras. Menjelang puncak, saya baru sadar bahwa di sini ada monumen kecil berbentuk selongsong peluru tank, yang terlewatkan setiap kali gowes ke sini. Tugu ini dibangun tanggal 20 Mei 1976 untuk mengenang Pertempuran Cijentul (29 Desember 1949), yaitu penghadangan tentara Belanda oleh rakyat bersama-sama dengan Pasukan Macan Loreng dari TNI AD. Terima kasih para pahlawan!

Menjelang puncak, Pak Deni pamit duluan karena ada keperluan di Serang. Selamat menikmati bonus turunan Pak. Om Toto yang kurang tidur harus rehat sendirian di pinggir jalan. Maksudna menunggu Om Yopie supaya rehat bareng. Apa daya, karena pakaian aerodinamisnya, Om Yopie maju terus pantang rehat. Jadilah Om Toto bengong sambil berpikir betapa konsistennya Om Yopie …. Saya temani saja Om Toto. Bukan karena berempati, tapi karena saya juga lemas haha…

Belakangan, baru saya tahu kalau rombongan di belakang harus menolong pengendara sepeda motor, anak-anak SLTA perempuan tampaknya, yang terjerembab masuk semak belukar. Pengakuan Pak Deden sih, karena mereka melihat-lihat ke belakang sewaktu menyusulnya. Pas melihat ke depan lagi, jalan sudah berbelok, sementara motor tetap lurus. Ya, begitulah… guubrak. Mungkin mereka tidak melihat uban di kepala Pak Deden karena tertutup helm hehe…. Om Dodo langsung merekam adegan pertolongan ini. Sayang, kejadiannya sendiri tidak terekam. Untung pula tidak ada Om Hendra. Kalau ada, bisa-bisa dia foto-foto dulu dengan korban haha….

Tiba di sebuah warung di Cilowong, pitstop resmi pertama, seperti biasa, kami menyeruput teh manis walaupun sayang tidak ada gorengan. Ya sudah, makanan pabrik kita hajar. Di sini pula, enam goweser dengan kepentingannya masing-masing, akan langsung kembali ke Serang. Saya, Om Toto yang harus segera apel, Om Holani dan Om Yudi yang harus berdinas siang tetapi harus menambal bannya Om Yudi dulu karena bocor, Pak Deden, dan Pak Zaenal. Kembalinya Pak Deden sepertinya menjadi pukulan telak buat Pak Dudi hihihi… Kita tunggu saja ceritanya. Jadilah, 14 goweser melanjutkan perjalanan ke Panenjoan.

Karena jalan ke Serang adalah bonus turunan, kami coba untuk melakukan sprint. Betapa cintanya saya pada turunan. Menjelang pukul 10, sampailah kami di rumah masing-masing. Untuk cerita selanjutnya, kita nantikan saja tulisan kawan-kawan yang berangkat. Tentunya menarik ditunggu karena kabarnya, perjalanan ke sana sangat berat mengingat trek yang berbatu-batu.


11 comments:

mars said...

1st
Akhirnya tinggal 12 tracker yG sampe rawa danau bawah...
Bener2 luar biasa...

CoKlat@Chelski said...

semoga anaknya dah sehat om flash...
Rawa danau...sebuah kenangan......

mars said...

amin, tp kayaknya dah sehat...buktinya dah bs bikin laporan tuh...

vito_glu said...

maap kalo misalkan nanti postinagnnya acak-acakan,, hehe.. kurang mahir saya mah euy..

flash said...

Anak saya kena parathypus, harus istirahat total tapi gak diopname koq. Sekarang belum 100% fit. Mudah2an dia cepat sehat lagi. Trims teman2.
Om Admin, koq foto selongsong pelurunya hilang?

Omiyan said...

mas vito nanti kita bantu buat editannya

mars said...

@ Dida : yG sabar, semoga lekas sehat kembali...
@ admin : ada yg kehilangan peluru (pelor) tuh....

CoKlat said...

Pak admin : tolong pelurunya om flash dikembalikan.....

ayi said...

pengen euy ikutan gowes..., tapi sepadanya blum ada...hihihi

mars said...

@ ayi : Ditunggu om...

Anonymous said...

@mars : ralat...ditunggu bu ayi....,agar ada tim medisnya....

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons