Tuesday, February 23, 2010

Paninjoan-Sebuah Sensasi Gowes sambil Berhujan-Ria


Alhamdulillah. Apa kabar goweser semua? Mudah-mudahan Allah SWT memberi kita kesehatan selalu. Tentunya itu patut kita syukuri dengan cara memelihara anugerah itu sebaik-baiknya, antara lain dengan cara bersepeda.
Sabtu, 20 Februari 2010 kemarin, kami berencana mengeksplorasi kawasan sebelah barat Paninjoan, terus menuju ke arah Sasahan, dan muncul kembali ke jalan raya melalui pertigaan pangkalan ojek Desa Umbul Tengah.

Goweser yang berpartisipasi kali ini 20 orang. Termasuk yang hadir hari itu adalah peserta baru, Pak Asep dari Ciruas, downliner-nya Pak Danar. Juga Pak Maulana, tetangga saya (lagi), tetapi dia duluan diajak Pak Dudi karena koleganya di kantor. Seperti kita ketahui, Pak Dudi, yang kali ini absen lagi, sudah mengajak beberapa goweser, seperti Pak Arif, Pak Deden, dan terakhir Pak Maulana. Namun, tampaknya dia selalu kecewa karena yang diajak selalu menggenjot lebih kuat dibandingkan dia. Jadi, solusinya adalah cari terus goweser baru sampai ada yang “lebih sweeper” dibandingkan dia, hahaha…. . Pak dan Bu Heri juga hadir dan tampak tetap kompak, tidak kapok genjot bersama kita. Pak Taufik yang jauh-jauh dari Merak, tentunya dengan bantuan mobil ke Serang, mengambil homebase di kediaman Pak Didit, teman kerja sebangkunya. Semangat terus Pak! Goweser yang lain: Mars, Flash, Yopie, Om Iyan, Asep 1, Yusman, Don Vito, Indra, Kusni, Didit, Pak Agung, Heppy, Dodo, Pak Anda, dan Bayu.
Tidak ada kejadian menarik selama perjalanan melewati Jalan Raya Takari, melalui Cilowong, pertigaan Gunung Sari, Paninjoan-Desa Luwuk, kecuali Pak Anda yang mengundurkan diri karena bermasalah dengan perutnya. Katanya sih, karena kebanyakan sarapan.
Di sekitar TPA Cilowong, di seberang bukit, di sebelah kiri, tampak sebuah batu cadas menyembul dari balik pepohonan. Itulah tempat kita berfoto minggu sebelumnya dalam ekspedisi babad alas Cilowong. Terlihat kalau batu cadas itu terpencil dan jauh dicapai dari mana pun. Yang menarik, di tebing batu itu, terdapat tulisan besar dari cat putih berbunyi: SAR. Penulisnya hanya bisa melakukan itu sambil bergelantungan menggunakan tali panjat. Yang menjadi misteri, apakah tulisan itu singkatan dari Search and Rescue atau potongan dari kata NYASAR karena kita ke sana waktu itu kan nyasar hahaha….
Di Desa Pereng, semua goweser berhenti untuk menikmati sajian teh manis di sebuah warung, kecuali Om Yopie. Dia yang menganut prinsip maraton, memimpin di depan sendirian. Alih-alih berhenti, dia menunggu di pertigaan Gunung Sari, di sebuah warung juga. Déjà vu dengan situasi sepulangnya dari sungai pancanagara. Dia menunggu di pangkalan ojek Karundang sendirian sementara goweser lain menikmati santap siang di rumah Om Tim hehe…. Ternyata, itulah risiko gowes sendirian di depan.
Karena warung yang kami kunjungi jarang diserbu belasan orang dan gelas yang tersedia minim, jadilah sebagian goweser meminum teh manis dari seloki-seloki dengan teko kecil, seperti mainan anak-anak. Jangan-jangan kepunyaan balita si ibu warung huhuhu…. Kata Om Iyan malah seperti teko aladin.
Setelah beres, perjalanan kami lanjutkan. Om Yopie yang kami temukan di TKP hanya senyam-senyum .
Tiba di Paninjoan, Desa Luwuk, masih sekitar pukul 10, para goweser langsung menyerbu warung. Dasar omnivora, semua jenis makanan dan minuman kami santap. Untung uang kas masih ada. Ayo para goweser, jangan ragu berkontribusi pada kas kita. Sangat bermanfaat buat kita juga.
Sekitar 10.45 perjalanan kita lanjutkan kembali ke arah Desa Cikondang di sebelah barat Paninjoan. Jalanan kampung berbatu-batu besar mulai mengakrabi roda-roda sepeda kita. Kami juga melewati hutan yang tidak terlalu besar dengan trek becek dan licin yang masih bisa dilewati sepeda tanpa didorong seperti di babad alas Cilowong. Walau demikian, kondisi ini sudah cukup membuat sepeda-sepeda dan sepatu-sepatu kami terpapar lumpur coklat pekat. Apalagi saat menuruni sebuah bukit yang licin dengan kali berair coklat menanti di bawahnya. Indra kecebur ke kali itu padahal sepatunya masih baru. “Saya kecewa…”, katanya. Persis seperti ketika di babad alas Cilowong. Om Danar, Om Dodo, dan Om Yopie berpegangan tangan ketika menyeberangi kali. Seperti Brokeback Mountain saja haha… Salut juga buat Bu Heri yang tetap semangat walaupun harus menghadapi trek yang berat.
Tiba di Desa Nagrek, seharusnya kami melanjutkan ke arah Sasahan tapi karena jarak yang terlalu jauh, kami putar balik dan kembali ke Jalan Raya Mancak di Paninjoan. Di sini pula Pak Danar harus mengganti ban dalam sepedanya yang bocor, ditemani Om Dodo, sementara goweser lain sudah mulai meninggalkan Kp. Nagrek. Saya, Om Kusni, dan Om Yopie masih menunggu.
Cuaca mulai turun hujan ketika dua orang itu datang. Perjalanan pun dilanjutkan sambil hujan-hujanan melewati jalan kampung yang juga menjadi selokan besar pada saat hujan. Pantas saja jalannya ancur.
Tiba di Paninjoan kembali, masih hujan. Don Vito, Om Heppy, dan Pak Agung memutuskan mengambil arah ke Cilegon karena harus ke bengkel sepeda dulu di sana. Yang lain, mengambil bonus turunan ke arah Gunung Sari. Mengasyikan merasakan sensasi berhujan-hujanan di trek turunan sambil membelah aliran air.
Di pertigaan Gunung Sari, kami menunggu rombongan belakang yang tinggal tiga orang, yaitu Om Yopie, Pak Yusman, dan Om Iyan. Lama mereka tak muncul. Telepon gengam mereka pun, semuanya tidak aktif. Beberapa teman tetap menunggu sementara saya teruskan perjalanan. Hujan sudah mereda, kaos kering di badan, dan sepeda sudah tercuci air hujan.
Menjelang perempatan Brimob, kami bertemu Pak Yusman dan Om Yopie sedang minum di pinggir jalan dengan santai. Hah, koq bisa ya? Ternyata mereka mengambil jalan pintas yang tidak melewati pertigaan Gunung Sari. Halah…halah… Om, orang-orang mah pada nungguin. Jadi ingat cerita lomba balap lari antara si kancil dengan siput. Setiap si kancil memanggil siput untuk mencek keberadaannya, si siput selalu menyahut. Padahal mah, siputnya banyak. Untungnya ketiga orang itu tidak banyak. Kalau banyak, kembar siam dong hahaha…. . Yo wis gantian, tinggal tunggu teman-teman di belakang. Saya mau pulang duluan.
Alhamdulillah, sekitar pukul 13.30, sebagian besar goweser sudah tiba di rumah masing-masing dengan selamat.



4 comments:

mars said...

Waktu pulang terpecah jadi 3 rombongan :
1. Don Vito ma Om Happy ke RL tuk bengkel sepeda
2. Om Bayu ma Om Agung lanjut susurin Cikerey tembus di Waringin Kurung
3. Lainnya turunin jalur pendakian

Tuk Om Yophie...euleh2....jangan diulangin lagi ya....

Omiyan said...

sory bos justru waktu itu saya dah duluan didepan pak asep juga tahu .... maklum ada berita anak sakit ... jadi waktu situ sampean nunggu saya saya dah ada ditaktakan

CoKlat@Chelski said...

Sori saya hanya sampai taktakan aja....

Minggu depan aku absen lagii....
Absen...
Minggu depan aku absen lagii....

tetap semangat'z...
Let's ride...

didit said...

ya wis...yang penting semuanya pulang selamat...mgg depan kita nggowes lagi...mudah2an ga ada tunggu menunggu lagi...hehehhe...

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons