Thursday, February 11, 2010

Rawa Danau dan Pesona Alamnya

Assalamualaikum Wr. Wb.

Rawa Danau seluas 2.500 ha merupakan kawasan cagar alam yang ditetapkan berdasarkan Goverment Besluit (GB) nomor 60 stnl. 683 tanggal 16 November 1921. Secara administrasi pemerintahan, Cagar Alam Rawa Danau termasuk dalam tiga kecamatan , yaitu : Kecamatan Padarincang, Kecamatan Pabuaran dan Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang.

Om Dida terima kasih tuk laporan setengah perjalanannya….
Kita lanjutkan saja cerita Rawa Danau….

Sekitar pukul 10.00 kami melanjutkan perjalan ke Rawa Danau, tetapi dengan jumlah yang semakin berkurang. Pak Dida, Pak Deden, Pak Toto, Pak Holani dan Pak Yudi berbalik arah, dikarnakan ada acara masing-masing, dan Pak Zenal berbalik arah dikarnakan keesokan harinya akan menemani tamu dari teman-teman sepeda JPG Tangerang ke Rumah Hutan.

Di tengah-tengah perjalanan kami berunding mengenai kelanjutan gowes hari ini, mau dilanjutin atau tidak menuju Rawa Danau? Dengan pilihan kalau kita gowes sampai pasar Mancak, kemungkinan tenaga kita akan terkuras saat akan menuju Rawa Danau nya dan kita juga belum tau sama sekali keadaan di Rawa Danau, pilihan kedua yaitu, dengan menggunakan mobil truck yang tentunya sepeda dan goweser diangkut hanya sampai Paninjauan saja dan kemudian dilanjutkan ke Rawa Danau. Setelah dipertimbangkan akhirnya pilihan dengan menggunakan truck pun kami ambil. Sambil gowes menelusuri jalan Raya Gunung Sari dan akhirnya kami menemukan Truck di pertigaan jalan Raya Gunung Sari. Dengan melakukan proses tawar menawar, supir truck pun bersedia mengangkut kami hingga Paninjauan dengan biaya Rp 50.000.

Setelah semua sepeda masuk kedalam truck, lagi-lagi goweser kita tereliminasi, Pak Arif Askes tidak bisa ikut ke Rawa Danau, dikarnakan ada acara. Jumlah kami sekarang 13 goweser yang akan mengeksplor Rawa Danau, We’re Coming Rawa Danau !!!

Sampai di Paninjauan 2, Truck pun berhenti, kami mulai menurunkan sepeda, lalu sebagian goweser membeli perbekalan air minum di warung, sebagian goweser lain ada yang memandang indahnya Rawa Danau yang dapat di lihat dari Paninjauan. Tercanang dalam pikiran bahwa nanti kami akan kesana (Rawa Danau). Karena waktu yang semakin siang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pasar Mancak, dengan kontur jalan turunan, kami menggowes hingga menembus batas kecepatan 50 km/jam, di odo meter Pak Yusman saja kecepatan maksimumnya mencapai 55 km/jam.
Sampai di Polsek Mancak Pak Dodo cozmic coba bertanya ke Polisi arah jalan ke Rawa Danau, setelah diberi tau kami langsung berangkat lagi, tidak jauh dari Polsek Mancak di depan ada pasar Mancak, dan sebelum pertigaan jalan yang belok ke Anyer ada pertigaan jalan yang menuju Rawa Danau. Kita membeli perbekalan makan dahulu, dikhawatirkan di Rawa Danau tidak ada warung, sambil menunggu Om Mars yang membeli batre untuk cameranya. Setelah selesai kami berangkat menyusuri jalan yang konturnya turunan dengan keadaan tanah licin dan berbatu. Kami berpikir, bahwa Rawa Danau sebentar lagi akan sampai, akan tetapi setelah turunan di depan terdapat tanjakan tanah dengan batu-batu besar yang begitu curam dan sulit di tanjak oleh beberapa goweser. Setelah tanjakan kami dihadang oleh 2 cabang jalan. Untungnya saja ada seorang warga datang dari salah satu cabang jalan tersebut. Kemudian kami menanyakan jalan menuju Rawa Danau yang katanya lumayan jauh dari sini. Tak lama kemudian satu goweser kita tereliminasi, yaitu pak Dudi, didapat informasi dari Pak Yopie yang tadi berada dibelakang bersama Pak Dudi. Pak Dudi menyerah dan berbalik arah melihat jalannya tanjakan seperti ini, mungkin dikira Pak Dudi jalan ke Rawa Danau itu cuman turunan, eh malah ada tanjakan juga. Memang sudah hukum alam, dimana ada turunan pasti didepan ada tanjakan, teringat cerita si kabayan yang menangis ketika melihat turunan. Akhirnya kita ambil jalan yang sebelah kiri, karena jalan yang sebelah kanan itu jalan buntu yang menuju sebuah kampung.

Ternyata jalan ke Rawa Danau itu cukup berat juga, karna diluar dugaan kami yang berpikir bahwa “jalannya tinggal turunan saja”, eh ternyata malah banyak tanjakan. Ada sebuah tanjakan yang lumayan begitu panjang dengan kontur jalan bebatuan lumayan besar dengan kemiringan sudut kira-kira 30°-45° yang membuat Pak Danar tergeletak di pinggir jalan, dan susu beruang Om Mars pun habis 2 kaleng botol. Lalu kami beristirahat ditengah-tengah tanjakan ini dan sebagian goweser mulai memperbincangkan penyesalan mereka, bahkan ada goweser yang memuji Pak Dudi, katanya memang keputusan Pak Dudi kali ini tepat untuk berbalik arah. Wekzz, jangan nyerah gitu dulu bro, perjalanan kita memang masih panjang, tapi pasti semua akan terbayar dengan dengan pemandangan indahnya Rawa Danau, so kita lanjutkan gowesnya, tuh Pak Yopie aja sudah beranjak dari rehatnya dan mulai kembali menuntun sepedanya.

Sebagian goweser mulai melanjutkan perjalanan, sampai di jalan bercabang 2 kami menunggu rombongan belakang sambil photo-photo. Dari informasi yang di dapat warga, bahwa jalan ke Rawa Danau ambil jalan yang sebelah kiri, yang tampaknya tanjakan curam dengan batu-batu besar yang tak mungkin di tanjak dengan di gowes. Setelah sesi pemotretan kami melanjutkan perjalanan dengan menuntun sepeda kami lalu sampai dipuncak kami gowes kembali sepeda kami.

Kampung Bulakan Desa Cikedung, yak, kami tiba di desa ini dengan nafas ter enyah-enyah.. kami menemukan sebuah warung. Kemudian Saya dan Pak Yusman menghampiri sebuah warung dan bertanya “ada teh manis bu?”, Tanya saya. “ga ada”, jawab si Ibu yang anaknya tampak seperti bule, kulit putih dan rambut pirang, percis bule. Kemudian Pak Yusman bertanya “ada teh botol teh?”, Jawab si ibu “ga ada”. Akhirnya saya pun penasaran dan mencoba bertanya lagi dengan keyakinan pasti jawabannya “ADA”, “ada aqua botol bu?”, Tanya saya. Dan akhirnya jawaban si ibu dengan wajah polosnya “ga ada juga!?”.. Saya dan pak Yusman sangat terkejut sekali, dari teh manis, teh botol bahkan sampai aqua pun tidak ada.. mana mungkin di warung yang berada di pedalaman sekali menjual-jual barang seperti itu. Kalaupun ada, mungkin bisa terjual dalam kurun waktu 2-5 bulan. Sangat memprihatinkan. Kami mencoba bertanya pada warung yang berada 2 rumah di sebelah warung yang tidak menjual teh manis,teh botol dan begitu juga aqua.
Warung yang disebelahnya ada gardu pos kamling itu menyediakan teh manis dan ada juga mie rebus pakai telor. Kemudian kami memesan teh manis panas satu teko dan sebagian goweser lain memesan mie rebus pake telor. Kami beristirahat sejenak di gardu yang dibagian atasnya bertuliskan POS KAMLING Kp.Bulakan DESA CIKEDUNG sambil menunggu adzan dzuhur untuk melaksanakan kewajiban sholat. Kampung ini mempunyai mata air yang begitu sangat dingin, kami pun merasakan dinginnya mata air ini yang berada di belakang rumah warung yang kita singgahi.

Setelah sholat dzuhur di rumah yang punya warung ini, kami melanjutkan perjalanan yang katanya jalan ke Rawa Danau masih jauh. Sebelum kami melanjutkan perjalanan kami berphoto bersama dengan anak-anak kampung Bulakan. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan yang mulai memasuki jalan bersemen kasar berkerikil, dengan turunan yang sangat curam sekali. Dan tentunya kami pun menjaga jarak agar terhindar dari tabrakan sesama goweser, tapi tidak untuk Pak Yopie, karena Pak Yopie sudah pasti dituntun sepedanya apabila ada turunan. Pass di belokan yang tajam Om Mars bablas menabrak tebing dan terjatuh tepat di depan Pak Agus dan Saya. Untungnya tidak kenapa-napa, hanya luka goresen sedikit diwajah Om Mars dan sedikit rusak di bagian shifter depan sepedanya. Kalau misalkan Om Mars ngerem pasti akan jatuh mencium bibir jalan bersemen kasar ini, dan terpaksalah Om Mars menabrakan dirinya ketebing tandasnya. Memang turunan ini sangat mengerikan dan curam sekali, dari tangan, badan hingga kaki terasa bergemetar dan kaku menuruni turunan yang sangat curam ini. Diperlukan rem dengan design discbrake untuk hasil yang lebih efektif.

Dibalik jalan yang turunannya sangat curam ini terlihatlah pemandangan indah yang mengintip dari balik pohon-pohon tinggi yang berada di sebelah kiri kami, karna sebelah kanan kami adalah tebing-tebing tinggi. Akhirnya Pemandangan indah Rawa Danau terlihat begitu dekat, sangat indah sekali. This is a beautiful moment and place to take a picture. Kita berhenti ditengah turunan curam ini, sambil menunggu Pak Yopie yang menuntun sepedanya. Ketika berkumpul semua kita berphoto-photo ria, karena tidak ada yang seindah pemandangan seperti ini. Setelah berphoto kita melanjutkan perjalanan, dan Pak Yopie masih menuntun sepedanya.

Kami pun memasuki jalan tanah becek dan berbatu-batu, sangat efektif sekali untuk sepeda yang berSuspensi Full (Full Suspension). Ditengah perjalanan sungguh tak terduga dan tak percaya kami bertemu 2 orang bule Pasutri (pasangan suami istri) dari Jerman. Diketahui bule tersebut orang Jerman yang bekerja di PT.KS (Krakatau Steel), pantas saja bisa sedikit ngomong Bahasa Indonesia. Kami berbincang-bincang denga bule tersebut, dan kami pun tidak lupa untuk photo bersama. hehe, kapan lagi coba photo sama bule di Rawa Danau. Lalu si bule itu duluan pergi, eh ternyata di pinggang kirinya ada Golok,, wah ini dia bule yang budayanya sudah terkontaminasi dengan budaya kampung di Serang, hehe.

Setelah Pak Yopie datang kami melanjutkan perjalanan, sampai di kampung rawa danau, kami rehat sebentar di sebuah gardu, dan sebagian goweser memesan mie rebus di warung. Seorang warga yang berbaik hati memberi kami satu nampan penuh Kokosan (semacam buah duku gitu). Terima kasih banyak bapak atas kebaikannya, semoga amalan bapak diterima Allah Yang Maha Kuasa. Kampung ini berada di tengah-tengah perjalanan kami, yaitu ditengah-tengah Padarincang dan Mancak, Kami pun diberi tahu jalan menuju Padarincang, katanya jalanya sama panjangnya ketika Anda dari Mancak menuju kesini, tetapi dengan jalan yang relatif datar. Wah,, lumayan panjang donk, sampe rumah jam brp nih??.

Tak lama kemudian kami lanjutkan gowesnya dengan energi yang mulai berkurang karena mendengar perjalanan menuju Padarincang masih panjang, belum lagi kita melewati jembatan danau yang tadi dibicarakan. Mungkin sesampainya di Padarincang positif naik truck untuk pulang sampai Serang. Sepanjang perjalanan disebelah kiri kami terhampar luas tanaman padi hijau dengan backdrop Gunung Karang dan gunung-gunung lain yang sangat indah dilihatnya. Jalan selanjutnya dengan kontur jalan bertanah becek, bahkan banyak dari goweser yang ban nya selip. Di sebelah kanan kami terdapat banyak pohon-pohon yang umurnya sudah ratusan bahkan ribuan tahun. Panjang jalan ini kira-kira 2-3 km yang berakhir dengan jalan aspal. Setelah jalan aspal akhirnya kami sampai juga di jembatan danau yang dibicarakan. Berphoto sebentar lalu kami melanjutkan perjalanan, sekitar 2 km lagi akan samapai di jalan Raya Padarincang.

Jalan raya sudah mulai terlihat,, kami pun dengan semangat menggowes sepeda kami, dan akhirnya sampai juga di peradaban manusia tepat pukul 16.00, karena yang tadi mah benar-benar peradaban jaman dulu, masa teh manis sampai aqua botol aja ga ada??. Kami beristirahat di sebuah warung pinggir jalan, yang tentunya menjual segala jenis minuman segar yang siap kami habiskan untuk menggantikan rasa lelah kami. Sesaat kami liat sebuah Plang di depan warung yang bertuliskan Bidan Fitrianti-Cinangka,Serang. Kami terdiam dan tersenyum melihat kata Cinangka, tak sadar kami sudah menggowes hingga ke Cinangka yang dekatnya dengan Anyer. Dikira kami ujung jalan rawa danau ini Padarincang, eh ternyata Cinangka. Kami memutuskan untuk dievakuasi dengan Truck. Karena wajah-wajah goweser kali ini sangat lelah dan frustasi. Mungkin karena takut sama istri-istri dirumah, yang biasanya pulang gowes itu jam 12, ini malah sampai jam 4 sore belum pulang-pulang. Hati-hati pak pulang-pulang kerumah tau-tau segala pakaian udah ada di depan rumah lagi, nanti ga boleh sepedaan lagi.. hehe.
Trucknya datang, kebetulan juga menuju ke serang, langsung melakukan penawaran harga, sesudah terjadi perjanjian dan akhirnya deal. Sepeda pun langsung dinaikan ke dalam truck. Selesai sudah sepeda diangkut, Truck pun berjalan. Tidak lupa memakan rambutan yang didapat dengan meminta pada warga. Sambil bersuara, sambil bercanda, sambil tertawa, sambil melepas rasa dan asa.. yak, Inilah Kami ke 12 orang dari SXC2 yang telah berhasil mengeksplore Rawa Danau Bawah. Ada pak Danar yang wajahnya masih kelihatan cerah, ada Om Mars yang masih tertawa-tawa sampai akhir perjalan pulang, ada Pak Agung yang khawatir dengan istrinya dirumah karena tidak bawa HandPhone, ada Pak Yusman yang masih ceria-ceria saja, ada Omiyan yang masih keliahatan kuat untuk gowes berkat tenaga dari sebuah ketan dengan sambal pedasnya, ada Pak Agus yang puas dengan rasa penasarannya mengenai Rawa Danau Bawah, ada Pak Ai yang masih tetap bersemangat dari awal hingga akhir, ada Pak Yopie yang merunung saja selama perjalan pulang karena sepatu barunya harus kotor, ada Pak Imam dengan sepda B2W nya yang mungkin satu-satunya sepeda yang berhasil mencapai Rawa Danau Bawah, ada Pak Dodo yang masih tetap bernarsisme dengan camera videonya saat perjalanan pulang, ada indra yang sangat senang sekali karena sepeda barunya tampil perdana bisa samapai ke Rawa Danau Bawah, dan yang terakhir ada Saya, Vito yang sedikit bingung dan pusing juga sepanjang perjalanan pulang karena suruh menulis laporan Tentang Hari ini, hehe… Titik berpisah kami di Kidang, dan kami langsung menggowes sepeda menuju rumah masing-masing. Ditengah perjalanan menuju pulang Saya, Indra dan Pak Yopie menuju arah Bunderan, dan Pak Yopie pun mengajak Saya dan Indra untuk menikmati asam manisnya Es Kuwut Bunderan, sungguh ending yang saya sukai, setelah cape ngegowes enaknya minum Es Kuwut.. Mantappp dah… Terimakasih Pak Yopie atas es Kuwutnya, kapan-kapan boleh lagi tuh,, hehe..

Secara dari keseluruhan Trek Rawa Danau ini sangat komplit semua ada dari onroad, tanjakan gila, turunan gila, track berbatu bahkan batu segede-gede gaban juga ada, single track, track lumpur, track basah, track kering, track hutan yang cukup berat. Mungkin karena kita juga belum mengetahui keadaan di Rawa Danau, banyak tempat yang belum di eksplore di Rawa Danau. Mungkin untuk lain waktu Kami bisa kembali lagi ke tempat ini. Tentunya dengan persiapan yang lebih. Lelah yang kami alami sepadan dengan indahnya pemandangan alam yang berada di Rawa Danau. Dan kita harus Syukuri itu semua. Bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan Bumi dan Alam beserta keindahannya.
Salam gowes buat semua dan tetap smangat….!

Rawa Danau, 06 Feb 2010
Vito


13 comments:

Anonymous said...

Laporannya benar2 lengkap selengkap track Rawadanau bawah. Selamat mas Vito....ternyata baru sedikit pusing sdh menghasilkan laporan yG ckckck huebat...Apalagi klo pusing sekali, kira2 gimana hasilnya ya?? om Danar

mars said...

Nice posting
Thx mas Vito...

h3ndr4 said...

Waaah...serasa ikut dalam petualangan ke rawa danau niih.

keren abiiiizzzz..............

vito_glu said...

kepanjangan ga tuh pak ceritanya?? hehe,, maap hanya bisa memberi segitu saja...

CoKlat@Chelski said...

Makasih postingannya mas....
Foto2 ada di milis dan di fb SXC2...
Salam Speedaan....

fLash said...

Bagus, Don Vito, lanjutkan ya hehe... sekarang saatnya generasi muda tampil

Anonymous said...

bravo,don vito corleone...

Anonymous said...

yaaa, satu postingan sama dengan satu eskaes

lanjutgan ....





chiem

vito_glu said...

SKS mata kuliah apa yak ini??
apa MAPALA ali yak.. hehe

josie said...

the place is beautiful, I hope they will continue to preserve the lake.

mars said...

@ josie : thank's Josie. The Rawa Danau is a lake that still original and has designated by the government as a nature reserve area.

Anonymous said...

yaps saya juga pernah merasakan bertugas di desa cikedung menjadi bidan desa jadi saya tahu kondisinya

mars said...

oh ya, tentu sangat menyenangkan bisa mengabdikan ilmu anda

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons