Wednesday, March 24, 2010

SITU CIBANTEN

Assalamualaykum goweser semua!
Minggu tanggal 21 Maret 2010 kemarin, kami berencana mengunjungi Situ Cibanten di Ciomas. Tempat ini merupakan riam kecil berdiameter sekitar 75 m yang merupakan mata air dan mengalir menjadi Sungai Cibanten yang berfungsi selain untuk mengairi pesawahan, juga merupakan tempat resapan air. Sungai ini berhilir di Kota Serang, melewati Kecamatan Cipocok Jaya, Serang, dan Kasemen.

Sebenarnya, waktu berkumpul di titik berkumpul, Stadion Ciceri adalah pukul 6 pagi. Tapi, saya baru bisa berangkat dari rumah pukul 6 itu. Alhasil, telatlah. Ternyata, lebih banyak lagi teman-teman yang telat haha… Jadinya, tetap saja kami berangkat melewati pukul 7.
Sesuai kesepakatan, mulai minggu depan, titik berkumpul akan kami pindahkan ke halte di depan SMU 1 Serang, di depan Mapolres Serang. Mudah-mudahan lebih banyak lagi para goweser yang bisa bergabung dengan kami. Kali ini, yang berpartisipasi ada 26 orang , semakin meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Cek saja: Pak Agung, Pak Ai, Andri, Asep IKPP, Asep aka Iful, Pak Danar, Dida, Kang Didit, Dodo Cupet, Dodo saja, Om Dono, Pak Dudi, Om Dwi si koneng, Pak Heri, Imam, Indra, Iyan, Om Kus, Mars, Maulana, Om Raswanto, Pak Taufik, Don Vito, Pak Yudi, Pak Yusman si raja sari kurma, dan Pak Zaenal.
Andri mengaku kalau dia anggota MLM, pasti untungnya sudah banyak karena downline-nya juga banyak. Sama dengan Pak Dudi dong haha…. . Om Dwi mulai aktif gowes lagi semenjak perjalanan ke Rumah Hutan dengan Kapolda Banten minggu sebelumnya. Pak Taufik harusnya sarapan 2 piring mengingat jarak rumahnya paling jauh huhuhu…... . Pak Heri kali ini tidak ditemani nyonya. Pak Raswanto dari Satlantas Sertim yang pertama kali gabung kami. Om Yopie walaupun hadir di titik berkumpul, tidak kami hitung karena kondisi sedang tidak fit setelah kehujanan sebelumnya. Ia hanya setor muka dan dan setor iuran bulanan haha… hatur nuhun Kang! Beliau patut dicontoh teman-teman, karena walaupun tidak gowes, tapi iurannya rutin, bahkan sudah dibayar dimuka sampai September 2010 hehehe…. Ayo yang lain, jangan kalah rajin oleh Om Yopie.
Tepat pukul 7.15 kami start dan melalui rute Jalan Bhayangkara ke arah Cipocok, kemudian memotong jalan melalui perkampungan dan muncul di depan Kantor Samsat, Sempu. Selanjutnya, melalui Kp. Tembong di Jalan Raya Bongla, Kp. Paleuh di Jalan Raya Palka, dan terus ke Ciomas, dengan karakteristik trek tarmac berkontur tanjakan.
Keluar Jalan Raya Cipocok, Om Danar salah mendarat setelah meloncat sehingga ban depannya bengkok dan tidak bisa digunakan lagi. Terpaksa dia putar balik ke Taman Puri, mungkin dengan evakuasi oleh angkot. Untunglah dia tidak apa-apa. Mudah-mudahan ban segera siap lagi untuk persiapan ke Ujung Kulon. Atau, jangan-jangan dia jadikan alasan untuk ganti tunggangan baru huhuhu…. Walau urung ikut, terasa dia seperti ikut mengawal kami ke Ciomas. Bukan karena punya ilmu kebatinan, tapi karena kue oleh-oleh Yogya-nya dititipkan ke Dodo Cupet sebagai ransum. Terima kasih Om. Belakangan, kue itu akan diserbu para goweser yang kelaparan di Situ Cibanten.
Tidak ada kejadian menarik sampai dengan Kp. Paleuh kecuali jalanan yang sudah banyak berlubang dan membahayakan pengendara motor. Tenang saja, nanti juga akan ditambal, ……… menjelang Pemilu. Di Kp. Paleuh, rombongan terbagi di dua warung. Itulah titik penghentian pertama kami.
Jalan Raya Palka menuju Ciomas berlapis hotmix sangat mulus didominasi tanjakan. Letak Ciomas memang lebih tinggi dibandingkan Serang. Para goweser lebih banyak membisu. Nah, saat-saat seperti ini, mereka sepertinya sombong-sombong. Kalau ditanya, diam saja. Padahal bukannya congkak, bukannya sombong. Itu tak lain karena kesulitan membagi nafas hahaha… . Untunglah kami terhibur dengan pemandangan cerah Gunung Karang di sebelah kiri dan Rawa Danau di kejauhan sebelah kanan, diiringi suara gemericik air di sekitar pesawahan.
Ketika asyik-asyiknya meng-gowes, lewatlah 2 truk dan 2 mobil pick-up mengangkut sepeda-sepeda bagus ke arah Ciomas, disusul 2 truk Pol PP Serang yang mengangkut pemiliknya. Kejadian yang sempat menggoyahkan semangat kami. Bagaimana tidak, kami sedang menanjak, truk-truk itu melaju dengan santainya ditambah lambaian tangan goweser di dalamnya hahaha… Namun, para goweser SXC2 tidak patah semangat dan tetap bertekad gowes sampai tujuan. Bravo guys!
Tiba di Ciomas, di pertigaan arah ke Padarincang, kami beristirahat lagi sambil menunggu rombongan yang masih di belakang. Waktu masih menunjukkan pukul 9. Hebat… , masih pagi. Tripmeter baru menunjukkan jarak sekitar 20 km. kali ini, Pak Dudi yang dikawal Om Kus, ber-TTB alias Tuntun Bike. Kemana semangat yang minggu sebelumnya ada sewaktu ke Rumah Hutan? Katanya sih, karena waktu itu ada anak-anak, jadi malu haha… .Tetap semangat Pak. Di sini pula, Om Dono, diwawancara oleh Hot Radio FM, langsung melalui HP, sehubungan dengan kegiatan SXC2.
Baik, kami lanjutkan perjalanan. Menanjak ke arah pasar Ciomas, sekitar 200 m, kami berbelok ke kiri menuju Situ Cibanten. Ternyata dekat saja dengan penghentian kedua itu. Waktu masih 9.30-an. Di sana sudah hadir anak-anak SD Gunung Sari yang sepertinya sedang mengikuti pelajaran olah raga renang dengan gurunya, berbaur dengan ibu-ibu yang sedang mencuci. Air di riam ini cukup jernih tapi sayang beberapa permukaannya ditumbuhi ganggang. Tidak ada seorang pun dari kami yang ikut berenang, mungkin karena masih pagi.
Kami berembuk tentang rencana ekspedisi ke Ujung Kulon dua minggu ke dapan, mengenai jumlah peserta, biaya, akomodasi, dan rencana kegiatan di sana. Dodo, yang kebetulan pernah ke sana, menjadi titik sentral dengan beberapa cerita dan peta tanpa skala-nya hahaha….
Setelah beres semua, perjalanan menuju Serang akan kami lanjutkan melalui Desa Sukacai, Baros. Pak Agung kembali lewat Pasar Baros karena ada kepentingan lain, disusul Dodo. Sepertinya perjalanan akan menarik karena trek belum pernah kami lalui sebelumnya. Selepas situ, di perempatan, kami mengambil jalur yang lurus yang ternyata buntu. Kami pun putar balik sampai ke perempatan tadi. Di sini, Om Dwi dan Pak Dudi memilih kembali ke Pasar Ciomas karena harus buru-buru sampai Serang. Sisanya, meneruskan perjalanan ke Sukacai.
Kami langsung dihadapkan pada tanjakan curam berbatu-batu. Beberapa goweser gugur dan terpaksa turun dari sepedanya dan TTB. Om Mars kali ini di belakang saja karena staminanya sempat turun karena kurang tidur. Seperti pesan saya ke Om Hepi sebelumnya, kata Bang Haji, “begadang jangan begadang, ….”
Tiba-tiba gir belakang sepeda Andri bermasalah. Rombongan belakang, terdiri dari Mars, saya, Pak Zaenal, Om Kus, Andri, dan Indra tertinggal di belakang. Karena jauh dari grup depan, kami salah mengambil belokan. Di sana memang membingungkan, apakah lurus atau belok kanan. Tidak ada sinyal telepon di sana. Kami sempat bertanya kepada penduduk di sana, tidak melihat rombongan sepeda. Malah, ia menganjurkan kami mengambil jalur kanan karena lebih dekat ke jalan raya menuju Kp. Kaduberu, masih di Ciomas. Grup depan pun tumben tidak memberi tanda atau meninggalkan sweeper di sana.
Ya sudah, bismillah, kami ambil jalur itu. Sekitar 2 km, kami tiba di tepi jalan raya. Tatapan kami langsung terfokus pada warung mie baso dan es. Karena penat dan lapar, kami langsung menyerbu teh manis, air putih, dan mie rebus. Andri malah menambah dengan nasi dan bertemu ibu lurah di sana. Kami coba hubungi rombongan depan, masih tidak ada sinyal. Mungkin perlu beli telepon satelit kali haha…. Cerita tentang bu lurah, silakan tanyakan langsung ke Om Mars secara lisan haha….
Setelah kenyang, kami lanjutkan perjanan ke arah Cadasari, melalui Kp. Cemplang dan Kuranji. Berharap bertemu dengan rombongan depan. Tadinya, kami akan mengambil arah Sukacai juga, tapi tidak ketemu. Asyiknya, jalanan ini terus menurun dengan kondisi basah bekas hujan. Ngebut dan baju-baju pada kotor. Saya yang memasang defender pun masih saja kotor karena tersemprot sepeda Andri di depan.
Jalan ini berujung di Markas Yonif 320 Badak Putih Cadasari (Jalan Baru) dan masuk jalan raya lagi di Jalan Raya Pandeglang-Serang. Artinya, kami masih 18 km dari Serang, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 12.35.
Kami melalui jalan raya ini dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam. Lumayan cepat untuk kami. Kecepatan juga terbantu oleh jalan yang terus menurun sampai ke Serang. Hampir saya terjatuh keluar jalur aspal karena dipepet dua bis Asli yang saling balapan entah mengejar apa. Hati-hati! Sampai di Serang, tripmeter Pak Zaenal menunjukkan jarak sekitar 49 km hari itu pada pukul 13.30. Capek deh…
Sesuai cerita teman-teman di grup depan, Om Imam dan Pak Heri sempat terpisah dan mengambil jalur sendiri kembali melalui Pasar Ciomas. Teman-teman lain meneruskan perjalanan melalui Sukacai. Bahkan, mereka sempat pesta kelapa muda di tengah perjalanan. Dua orang yang terpisah tadi akhirnya tersusul di Tembong dan bersama-sama menuju Serang. Grup belakang…., entah dimana.

1 comments:

CoKlat@Chelski said...

ditunggu cerita bu lurahnya....

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons