Thursday, March 18, 2010

Yang Tersisa dari Babad Alas Cilowong: Laporan GPS

Assalamualaikum goweser semua.

Tulisan ini merupakan pelengkap atas laporan perjalanan kami ke alas Cilowong tanggal 14 Februari 2010 lalu. Silakan ekspos blog archive bulan Februari 2010 “Babad Alas Cilowong”. Sebenarnya, perjalanan waktu itu didukung oleh Seksi Tofografi, Om Arif, dengan GPS-nya. Namun, karena kerusakan teknis pada gadget, GPS record baru saya terima beberapa hari setelah laporan perjalanan saya unggah. Untungnya, hanya dibutuhkan sebuah obeng untuk membetulkan itu, tidak perlu golok dan arit, seperti yang digunakan pada saat membuka jalan menuju puncak Cilowong.

Dari data yang saya terima, ada hal-hal menarik, seperti betapa kita seperti membulan. Hanya dalam jarak sekitar 3 km dari km 11 s.d. 14, kita naik dari ketinggian 80 m ke 237 m dpl atau setinggi 150 m. Bayangkan, kita naik setinggi itu dengan kondisi jalanan becek dan licin, sambil menuntun sepeda. Sebuah perjuangan luar biasa. Tapi bisa juga disebut “orang-orang aneh.” Untungnya pula, Mas Agus tidak memutar lagu tema “Naik-Naik ke Puncak Gunung.”

Kita mencapai puncak pada jarak 14,3 km dari titik start pada elevasi 237,6 m. Lumayan tinggi untuk ukuran Serang yang terletak di dataran rendah. Tapi, capaian ini belum bisa menumbangkan rekor ketinggian di Gunung Pinang, yaitu 292,3 m dpl. Halo sesama top-peakers di GP, Om Dono, Om Arif, dan Om Iyan. Rekor anda masih aman. Silakan baca artikel “Gunung Pinang….gunung pinang….!” dan “Gunung Pinang …. Bagian 2 (GPS Data)” pada blog archive bulan Februari 2009.

Selanjutnya, kami mulai meluncuri bukit di alas Cilowong ini sampai ke ketinggian 40 m dpl dalam jarak 9 km, dari km 14 s.d. 25. Om Mars bahkan sampai meluncurkan Astroz modifnya. Pada gambar di samping, turunan itu memang tampak landai. Apalagi bila dibandingkan dengan turunan di Gunung Pinang dari ketinggian 290 m menuju 30 m hanya dalam jarak 2,5 km saja. Betapa curamnya. Tetapi, di medan sesungguhnya, sangat, sangat berat. Tanyalah pada goweser lain yang ikut.

Pada gambar trek, tampak ikon “Puncak Hutan Cilowong” berada di tengah-tengah, teralienasi dari mana pun dan belum terkover oleh GPS. Itulah salah satu alasan mengapa kami sempat tidak menemukan jalan pulang haha… . Bagaimana pun, perjalanan ke sana sangat menggoreskan kesan mendalam. Setiap kita lewat tanjakan Cilowong selepas TPA, tatapan selalu menengok ke sebuah batu cadas besar di sebelah kiri jalan. Di situlah kita pernah berfoto dan tersasar bareng.

Wassalam.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons