Monday, April 05, 2010

EKSPEDISI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON, HARI PERTAMA

Assalamualaykum, goweser semua. Mudah-mudahan Allah SWT selalu melimpahkan kesehatan kepada kita semua. Tanggal 2-3 April 2010 kemarin merupakan hari spesial buat SXC2 karena kami akan melakukan perjalanan ke Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE Perjalanan ini juga kali pertama kami menginap sambil bersepeda. Pengalaman yang menarik.

Seperti kita ketahui, tempat ini merupakan ekosistem hutan hujan tropis yang terletak di Provinsi Banten, bagian paling barat dari Pulau Jawa. Kawasan ini telah ditetapkan oleh Unesco pada tahun 1991, sebagai warisan dunia yang dilindungi. TNUK mencakup hutan lindung yang sangat luas, rawa-rawa, dan lautan dengan luas seluruhnya 122.956 ha. Banyak flora dan fauna termasuk terumbu karang yang dilindungi di kawasan ini, dengan satwa yang fenomenal adalah badak jawa bercula satu (Rhinoceros sondaicus.)

Untuk memasuki kawasan ini, kami harus mendapatkan terlebih dahulu Simaksi atau Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi yang diterbitkan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon (balai) di Labuan, Pandeglang. Balai ini merupakan instansi vertikal di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan. Selain itu, tentu saja tiket seharga Rp 5.500 per orang, termasuk asuransi.

Peserta kali ini terdiri dari 23 orang, yaitu Om Agus; Pak Ai, Pak Bagus, dan Mbah Darno yang ikut pada saat-saat terakhir; Om Bandi; Bambang Edi, adiknya Om Bandi; Pak Danar dengan tambahan semangat karena ditemani Xtrada 3.0 baru; Dida; Om Didit & Pak Taufik yang membantu dengan mobil untuk angkutan logistik; Dodo; Dodo Chupeet; Dono, ketua rombongan; Hendra; Imam; Indra yang sangat senang berkotor ria mengikuti Om Mars; Kusni-bos medik sekaligus sweeper; Mars; PU; Vito; Pak Yudi, bos sweeper kita kali ini, terima kasih, Pak; Pak Yusman; dan Pak Zaenal. Om Yopie dan Om Ras yang semula sudah mendaftar terpaksa membatalkan keikutsertaannya karena alasan keluarga. Tapi, Om Yopie pagi itu hadir di titik berkumpul di halaman KPP Serang, Jalan A Yani, beserta Om Asep dan Pak Suwanda.

Perjalanan akan dipandu oleh Pak Mirza Sharz. Jangan sangka dia berasal dari Asia Barat atau saudaranya Jason Mrazz. Bukan. Dia adalah putra daerah, asli Ujung Kulon. Makanya, aktivitasnya tidak jauh-jauh dengan hal-hal yang berbau Ujung Kulon.

Sarana transportasi yang akan mengangkut kami adalah satu buah truk ukuran sedang untuk mengangkut sepeda-sepeda, dua buah elf untuk mengangkut para goweser, dan satu buah minibus untuk logistik. Rute yang akan kami lewati adalah Kota Pandeglang, Labuan, Panimbang, Cibaliung, Sumur, dan berakhir di penginapan di Desa Taman Jaya.

Pemuatan sepeda ke atas truk yang dimulai sekitar pukul 6, akhirnya selesai sekitar 7.30. Setelah santiaji singkat dari bos rombongan, Om Dono, dan gambaran situasi di tempat tujuan dari Pak Mirza, dan tentu saja berdoa supaya kami diberi kelancaran dan keselamatan selama perjalanan sampai kembali lagi ke rumah, rombongan siap berangkat sekitar 15 menit sebelum pukul 8.

Perjalanan sepanjang Jalan Raya Pandeglang sangat lancar karena lalu lintas tidak terlalu ramai. Apalagi lapisan aspal di jalan raya ini lumayan mulus walau tidak terlalu lebar. Di pertigaan Cigadung, Pandeglang, kami mengambil jalan pintas melalui Kadubanen. Melintasi dua tempat wisata air di kota ini. Kedua tempat ini sangat ramai dikunjungi para wisatawan lokal karena murah-meriah, apalagi di hari libur. Namun, karena terlalu ramai, parkir mobil akan membuat jalanan ini macet. Sementara, air kolam menjadi sangat kotor seperti kobokan saja. Tapi, saya yakin, anak-anak tetap akan bergembira.

Dari balik minibus, saya melihat banner SXC2 yang dipasang di belakang bak truk pengangkut sepeda. Bunyinya, “Bersepedalah dan Selamatkan Bumi Kita dari Pemanasan Global.” Ini tema yang bagus. Biasanya tulisan di belakang bak-bak truk sangat menggelitik dan mudah diingat, seperti “Kutunggu jandamu”, “Lalaki raheut hatena”, “Pemburu dolar”, dan lain-lain. Silakan tambah sendiri.

Setelah melewati pertigaan ke arah Mandalawangi, pemandangan di kiri-kanan adalah sawah menghijau dengan Gunung Pulosari menjadi latar belakang. Keberadaan gunung ini, bersama Gunung Karang, menjaga kestabilan dan memberi kesuburan bagi daerah Pandeglang.

Sekitar pukul 10 kami tiba di pertigaan ke arah Panimbang. Kami harus mengambil Simaksi dan tiket dulu ke Labuan. Namun, karena hari libur nasional, kami dapat mengambil keduanya di kediaman salah seorang pegawai balai. Alhamdulillah. Terima kasih bantuannya Pak Kiki! Menurut Pak Mirza, biasanya Simaksi baru turun sekitar 1-2 bulan tetapi SXC2 sudah dapat dalam waktu 2 hari. Itu pun permohonannya hanya lewat surat elektronik. Mudah-mudahan ini karena kami memiliki tujuan yang sama yaitu menjaga kelestarian alam dan berusaha menciptakan dan menumbuhkan kecintaan pada alam. Salut untuk profesionalisme teman-teman di balai.

Setelah semua dokumen lengkap, perjalanan kami lanjutkan melalui Jalan Raya Panimbang. Kami melewati PLTU Labuan di Desa Sukamaju, Labuan, Pandeglang, yang bulan Januari lalu telah diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden SBY. Jalanan, walaupun dilapisi aspal, sudah banyak berlubang-lubang dan berpermukaan tidak rata. Naik mobil serasa naik kuda karena ajrut-ajrutan. Tas-tas goweser di bagasi minibus yang tadinya menghalangi pandangan sopir pada spion tengah seperti pada mobil box, menjadi hilang karena tumpukannya semakin memadat. Pak Taufik yang hobinya memancing, tidak henti-hentinya “berhalusinasi” ingin memancing di sana, ingin memancing di sini hihihi… Nanti ya, Pak, sekarang kita akan gowes dulu.

Tanjung Lesung, tempat wisata terkenal lainnya di kawasan ini, tidak kami lalui karena kami harus berbelok ke arah Selatan, menuju Cigeulis dan Cibaliung. Bagi penggemar burung, daerah ini tentunya sudah tidak asing lagi karena banyaknya burung khas seperti anis.

Sekitar 15 menit menjelang tengah hari, di Cibaliung, kami berhenti di sebuah masjid yang namanya tidak kami ketahui karena tidak berpapan nama. Maklumlah, sepertinya masih dalam pembangunan. Matahari sangat menyengat di sini, padahal di perjalanan sekitar Panimbang, hujan sangat deras. Sesuatu yang kami khawatirkan. Ada yang unik, para goweser melakukan solat jumat dengan kaos bersepeda yang tentunya berwarna mencolok dengan tulisan dan merk-merk produk sepedaan. Padahal, jamaah lainnya berpakaian muslim. Suasana jumatan sendiri seperti di Arab karena khutbah hanya menggunakan Bahasa Arab tanpa bahasa Iokal atau Indonesia. Yang mereka tahu, ibadah ini menjadi lebih cepat selesai, yaitu hanya 15 menit. Jadi ingat, saya pernah solat jumat di Cipanas, Cianjur, khutbahnya menggunakan Bahasa Sunda. Jadinya, dari keduanya, banyak jamaah yang tidak mengerti pesan khutbah yang disampaikan.

Jam tangan menunjukkan pukul 12.40 ketika kami lanjutkan perjalanan menuju Cimanggu, kemudian Kp. Sumur. Beberapa menit setelah pukul 13, kami tiba di markas Polisi Air Sumur yang juga berseberangan dengan dermaga tempat penyeberangan ke sebuah resor terkenal yang bangunannya berbentuk umang. Setelah istirahat sejenak, berganti kostum, dan memersiapkan sepeda-sepeda, kami siap untuk gowes menuju Desa Taman Jaya, tempat kami akan menginap. Jarak ke sana sekitar 20 km dan akan dicapai dalam waktu sekitar 2 jam. Kami akan dipandu oleh Pak Dedi, seorang jagawana dari balai. Sementara, hujan mulai turun sehingga kami harus berbasah-basah meng-gowes. Sayang, saya tidak pasang defender di sepeda kali ini. Jadinya, kaos jadi kotor di depan maupun belakang. Ayo kita mulai gowes! Jam menunjukkan pukul 14 tepat.

Kondisi jalan beraspal, dahulunya. Sekarang, sudah banyak yang mengelupas, bolong-bolong. Bahkan, di beberapa bagian tidak ada sedikit pun bekas pengaspalan. Yang ada hanya bebatuan. Kubangan air menjadi menu rutin yang kami lalui. Laju sepeda yang zig-zag memilih jalan menghindari kubangan menjadi keniscayaan. Sering juga kubangan menutup seluruh permukaan jalannya. Jadinya, kami nyebur ke dalamnya. Basah dan kotor. Sepertinya, hanya Om Mars dan Indra yang senang haha… Sementara hujan masih setia menemani, kondisi perut yang belum diisi makan siang menjadi tantangan tersendiri. Kami hanya menyantap makanan ringan sekenanya. Saya sampai menodong Om Bandi, barangkali ada makanan yang masih tersisa hahaha…. Terima kasih, Om.
Hal yang menghibur adalah kami menyisir Teluk Selamat Datang atau Welcome Bay di sebelah kanan kami. Sementara, di sebelah kiri adalah hutan alas yang berbukit-bukit seperti di serial TV Lost. Pemandangan yang menakjubkan. Apalagi kami sempat meng-gowes di pinggir pantai yang masih perawan melintasi pasir putih

Di sepanjang jalan, sangat banyak anak kecil berkumpul di pinggir jalan menyapa kami. Berbeda dengan di sekitar Serang yang menyapa kami dengan “pagi atau siang Om”, “pagi atau siang Pak”, di sini mereka menyapa kami dengan “halo mister”. Tampaknya karena wisatawan mancanegara yang lebih sering datang ke sini, membuat mereka menggunakan panggilan ini. Apakah anak-anak itu tidak melihat kalau kulit sebagian kami hitam-hitam? Pikir saya, mister koq ireng hahaha…. Kata orang-orang di Sumur, daerah itu memang “belum merdeka”. Apakah karena masih dijajah para mister? Menurut saya tidak. Itu karena pembangunan belum menyentuh daerah ini. Jalan, listrik, pasar, tampak kurang memadai. Dan satu lagi, banyaknya jumlah anak-anak ini mengindikasikan program KB pemerintah tidak berhasil di sini. Masih banyak rumah yang belum menggunakan listrik. TV pun harus menggunakan antena parabola yang tidak semua orang bisa membelinya. Tidak adanya hiburan berbanding lurus dengan banyaknya jumlah anak.

Kami juga melihat banyaknya warung isi ulang pulsa. Tampaknya, untuk yang satu ini, sudah merambah sampai ke pelosok. Sayang juga ya, penghasilan penduduk yang tidak terlalu besar akan habis sebagian besar untuk pulsa dan rokok, tentunya. Banyak motor bodong di sini. Bahkan, plat nomornya pun tidak ada. Akibat positifnya, bengkel motor banyak tersebar di sepanjang kampung. Ada lagi yang aneh, betapa banyak anjing liar banyak berkeliaran di sepanjang perjalanan. Namun, fenomena ini belum saya ketahui penyebabnya.

Di bawah kawalan tim sweeper kami yang luar biasa, Pak Yudi dan Om Kus, sampai juga kami di penginapan di Desa Taman Jaya, Sunda Jaya home stay, sekitar pukul 16. Harapan sih, sudah ada makan besar, tetapi ternyata makan malam baru akan disajikan menjelang magrib. Jadilah kami menyantap apa saja. Alhamdulillah, Allah SWT menciptakan kita sebagai omnivora, jadi bisa menyantap segala. Penganan kecil, teh manis, dan kopi lumayan mengganjal perut. Papan penunjuk arah di penginapan menunjukkan jarak 300 km ke Jakarta. Wow keren...

Kami menyewa satu rumah panggung dan satu dormitori. Mudah-mudahan nyaman untuk kami beristirahat. Menjelang magrib, barulah makan malam tersedia. Para goweser melahap dengan nikmat sajian yang ada walau sangat sederhana. Malamnya, bakar-bakar ikan segar tentunya. Terima kasih buat Pak Yudi yang telah menyediakan ikan.

Dormitori yang kami sewa ternyata tidak berventilasi. Kata penjaganya, dulu memang ada AC-nya tapi kemudian dicabut. Akhirnya, semua jendela terpaksa dibuka. Untungnya, tidak ada nyamuk berkeliaran. Rumah panggung tidak bermasalah karena terbuat dari kayu, tidak sumpek. Hanya, sebagian kayu lantai sudah lapuk. Untungnya, tidak membahayakan. Demikianlah, kami masih tetap mendapat keberuntungan di balik kesederhanaan.

Beberapa goweser sudah pulas, bahkan ngorok yang terdengar stereo dan menjadi alarm bagi teman sebelahnya untuk bangun, padahal masih dini hari. Bagaimana Pak Taufik, bisa tidur lagi tidak? Hahaha… Beberapa lagi masih berbincang-bincang di rumah panggung, termasuk meminta penjelasan dari Pak Dedi mengenai karakteristik trek yang akan kita lalui besoknya. Menurut pengakuannya, dia baru melihat badak empat kali dengan mata kepala sendiri seumur hidupnya, padahal sehari-hari dia berasa di kawasan TNUK. Bagaimana pula dengan kami?

Om Dodo yang malam itu tampil dengan pakaian ABK oranye sepertinya “mabuk” dan menjadi bahan tertawaan, padahal hanya menjadi pemeran pembantu. Ya iya lah, wong dia nyapu lantai untuk tidur koq hohoho… Sayang tidak ada Pak Dudi dan Om Yopie, bisa lebih meriah sepertinya malam itu. Saya sendiri setelah jam 00.30, menyerah dan segera merebahkan badan. Berharap semoga besoknya segar kembali. Alhamdulillah.
.

9 comments:

CoKlat@Chelski said...

SXC2....yessss......

mars said...

Keindahan alam Ujungkulon sangat menakjubkan dan memberiku kesan yG mendalam....
Ujungkulon merupakan potensi wisata eksotis yG sangat potensial...sayangnya masih terkesan tertidur pulas...

Premier 3.0 Rasa Xtrada 4.0 said...

mantap-mantap sukses terus SXC2

astroz3 said...

es ex ce dua....yessss!!! mas Dida sippp

Anonymous said...

Mantap cuy tulisannya enak dibaca..
Perjalanan dengan tantangan bagi kekuatan mental,phisik dan doa serta sedikit sentuhan technology...

Mirza Sharz said...

Wah keren banget nih tulisannya, tapi kayaknya ada beberapa hal yang perlu direvisi:
1. Saya bukan putra daerah asli Ujungkulon mas, tapi istri saya memang asli dari desa Ujungjaya.
2. Dedi juga bukan seorang jagawana melainkan anggota PAM Swakarsa yang bertugas membantu jagawana Balai TN. Ujungkulon
3. Kita tidak bermalam di penginapan Sunda Jaya melainkan Villa Prima Tamanjaya.
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas kunjungan bapak2 ke Ujungkulon dan mohon maaf bila pelayanan kami kurang memuaskan. Dengan senang hati saya akan memasang banner blog Sepedaan.com pada blog Ekowisata Ujungkulon dan mengutip sebagian tulisan ini pada postingan saya.
Salam kompak semuanya, keep biking, keep going green..!

fLash said...

Terima kasih Pak Mirza. Mohon maaf atas pemberitaan kami yang kurang akurat. Maklum, baru belajar nih hehehe.... Nanti kita sambung dengan ekspedisi selanjutnya, insya Allah.

Mirza Sharz said...

Sudah cukup lama acara ini berlalu, tapi sampai sekarang kesannya tidak mudah dilupakan. Kapan lagi nih kita bisa jalan bareng? Tapi lain kali kita sambil mancing plus bikin acara bhakti sosial menolong anak-anak yatim, orangtua jompo dan para "janda" (pakai tanda kutip lho ya) Salam dari Bekasi

omars said...

Luar biasa Pak Mirza, mudah2an bisa segera terwujud Pak.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons