Tuesday, April 06, 2010

EKSPEDISI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON, HARI KEDUA

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari Kp. Sumur ke Kp. Taman Jaya hari sebelumnya, dengan kondisi cuaca yang cepat berubah dari panas ke hujan dan sebaliknya, sementara di Taman Jaya cuaca cerah, para goweser sangat berharap agar malamnya tidak turun hujan sehingga eksplorasi besoknya tanggal 3 April 2010, dapat berjalan dengan lancar. Namun, apa daya, hujan mulai turun deras pada malam hari sampai subuh. Dengan demikian, sudah bisa dipastikan kondisi trek yang pasti becek dan licin.

Setelah sarapan nasi uduk dengan menu alakadarnya tetapi mudah-mudahan menambah kalori, pukul 6.45 kami memulai santiaji dipimpin ketua rombongan Om Dono dan peregangan otot-otot dipimpin oleh Pak Bagus. Aktifitas kami sempat diabadikan oleh Mr. Steve White, editor in chief dari sebuah majalah perjalanan, petualangan, dan gaya hidup, Action Asia. Bahkan, kami sempat berfoto bersama dia. Mudah-mudahan kegiatan kami dapat terekspos.

Kali ini kami akan dipandu oleh Pak Dedi, seorang jagawana dari balai yang markasnya di resor Legon Pakis. Menurut beliau, dari sekitar 123.000 ha luas TNUK, jagawana yang ada hanya 150 orang. Sangat minim untuk daerah seluas itu. Selain itu, kebijakan balai adalah merekrut putra daerah, seperti Pak Dedi ini, untuk menjadi jagawana karena banyak manfaatnya, seperti mereka telah mengenal medan kerjanya dan sudah dikenal penduduk sehingga mudah memberi pemahaman tentang pelestarian ekosistem.

Tepat pukul 7, kami memulai perjalanan menuju resor Legon Pakis yang berjarak sekitar 5 km dari penginapan. Di sana, kami mengisi buku tamu dan melakukan pengecekan Simaksi. Oh ya, resor ini merupakan bangunan baru karena sebelumnya pernah dibakar oleh penduduk setempat setelah adanya insiden penembakan oleh seorang jagawana terhadap penduduk sekitar setelah tertangkap tangan sedang mengambil kayu dari TNUK. Tugu selamat datang pun yang berbentuk patung badak kecil berwarna hijau, sempat dirusak massa. Bisa kita lihat sendiri bekas-bekasnya. Di resor ini juga kami mengetahui bahwa ada rombongan lain dari sebuah perusahaan di Cilegon yang telah berangkat duluan ke resor Kalejetan.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju resor Kalejetan di pantai selatan (Samudera Indonesia) yang berjarak “hanya” sekitar 9 km. Sebetulnya, ada pula pilihan ke resor Karang Ranjang yang berjarak 7 km, tetapi medan ke sana lebih sulit untuk ditaklukkan dengan menggunakan sepeda.

Memasuki kawasan hutan, kami dihadang oleh beberapa bidang sawah yang dipagari bambu setinggi 60 cm. Sepeda-sepeda pun akhirnya harus dipanggul. Tidak berbeda dengan sawah-sawah di Serang, pematang mereka sangat sempit dan sulit dilalui dengan sepeda. Bahkan, untuk dituntun sekali pun. Kalau memaksa di-gowes, kemungkinan besar akan terjerembab. Sudah banyak yang menjadi korban, termasuk saya sendiri, Om Dono, dan Om Agus.

Memasuki hutan, hmm… ini baru namanya hutan hujan tropis. Pohon-pohon sangat tinggi menjadi kanopi alam yang menutupi permukaan hutan sehingga tetap basah. Basah yang abadi karena tiada pernah terpapar sinar matahari. Becek dan licin sudah pasti. Babad alas Cilowong seperti tidak ada apa-apanya dibanding di sini. Akar-akar pohon simpang-siur berserakan di jalan setapak, sementara pohon-pohon tumbang menghalangi jalan yang kami lalui. Bahkan, ada yang tingginya sampai satu meter sehingga sepeda-sepeda kita angkat dan goweser melompatinya. Pantas saja badaknya tidak pernah keluar, jalanannya becek begitu huhuhu…. Jangan berharap ketemu warung dengan suguhan gorengan dan teh manis.

Hal inilah yang membuat kami kesulitan. Jangankan untuk mengayuh sepeda, mendorong pun sulitnya bukan main. Selain kaki sulit mencari pijakan karena tanah licin, akar-akar tadi menghalangi roda-roda sepeda kami. Trek ini memang tidak terdesain untuk dilewati sepeda. Beberapa goweser sudah mengajak putar balik atau setidaknya berpikir supaya tidak lewat jalan yang sama pada saat kembali nanti. Benar-benar trek yang menguji fisik dan mental. Bahkan, katanya PU sudah mau nangis tuh. Padahal, kata Om Mars, anak itu hanya casing-nya saja yang perempuan hehehe…. . Sepatu-sepatu menjadi korban kerasnya alam. Kaos kaki sekarang menjadi sepatu.

Setelah sekitar satu jam mendorong-dorong sepeda, sesuai penjelasan Pak Dedi bahwa trek masih sama seperti ini, maka kami putuskan untuk memarkir sepeda dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Insya Allah tidak ada yang akan mencurinya karena pencuri pasti mikir bakal kesulitan mendorong-dorong sepeda. Kabar gembira Saudara, memang lebih lancar ketika kita berjalan kaki. Akar-akar yang tadi menjadi musuh roda-roda sepeda, sekarang menjadi sahabat bagi kami karena menjadi tumpuan tempat kaki berpijak. Supaya tidak terjatuh, tangan pun sekarang bisa berpegangan pada pohon-pohon di sekitar, bukan memegang handle bar lagi. Hanya, hambatan berjalan kaki adalah bagi teman-teman yang berat badannya di atas ideal. Beban berat badan yang semula ditahan oleh sadel, sekarang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kaki-kakinya sendiri. Sudah pasti hasilnya pegal-pegal. Saya sendiri merasakannya. Bagaimana Pak Imam?

Kata Pak Dedi dan informasi yang beredar di luar, jumlah badak yang ada sekarang hanya sekitar 60 ekor. Lalu, timbul pertanyaan bagaimana cara menghitungnya. Para goweser yang sudah mulai kelelahan dan berhalusinasi menjawab dengan berbagai jawaban. Ada yang mengatakan, “lihat saja daftar absensinya”, ada yang bilang, “tanya saja ke bidan badak, berapa yang sudah melahirkan”, ada yang bilang, “mereka kan absen pake jap jempol”, ada yang bilang, “tanya saja ke RT-nya badak”. Demikianlah, semuanya tak lain supaya perasaan kita tetap senang dan melupakan kepenatan. Ayo teruskan perjalanannya. Yang benar, cara menghitung badak adalah dengan melakukan sensus. TNUK yang luas ini dibagi-bagi dalam beberapa wilayah penghitungan, kemudian dihitung jumlah jejak badak. Jejak ini berbeda-beda antara satu badak dengan lainnya sehingga dapat diidentifikasi.

Mungkin sekitar 13 kali dan anak sungai yang besar maupun yang kecil kami lewati. Sembilan diantaranya dipasang jembatan dengan menggunakan satu sampai tiga batang kayu yang bergoyang-goyang ketika kami lewati. Mudah-mudahan tidak patah. Jembatan-jembatan ini jelas tidak bisa dilewati sepeda, kecuali dipanggul. Kami juga melewati beberapa pohon yang berbuah kantong plastik berisi sampah. Ya, rombongan di depan kami menggantungkan kantong plastik berisi sampah begitu saja pada pohon-pohon seperti tidak merasa bersalah. Memangnya TNUK tempat sampah?? Padahal sudah banyak peringatan untuk tidak membuang satu sampah pun di kawasan konservasi. Bukankah mereka pecinta alam? Kontradiksi di dalam. Bungkus permen dan makanan kami temukan pula di perjalanan. Parah. Akhirnya, kantong-kantong itu dibawa pulang Pak Dedi ke resor Legon Pakis. Orang-orang kita memang tidak bisa konsisten antara kata dengan perbuatan. Padahal, kata Pak Dedi, orang asing paling kritis kalau melihat kerusakan atau ada sampah walaupun sedikit di kawasan ini. Orang kita koq tidak.

Karena sepanjang perjalanan hujan turun membasahi kami, semua peralatan elektronik sudah masuk plastik. Jadinya, tidak ada dokumentasi foto selama berjalan kaki ini. Walau begitu, derasnya hujan sedikit berkurang karena bantuan dari kanopi daun-daunan di atas.

Setelah sekitar 2,5 jam berjalan kaki, sampailah kami di resor Kalejetan. Sudah hampir pukul 11 saat itu. Semula saya sangsi, bagaimana cara membuktikan bahwa kami sekarang berada di Samudera Indonesia. Ternyata, setelah melihat hantaman ombak yang ganas, saya percaya. Sangat berbeda dengan laut di utara, Teluk Selamat Datang yang boleh dikata tidak berombak. Langsung saja para goweser berlarian ke arah pantai dan muara seperti menemukan harta karun. Pemandangan sangat indah ini seperti menghapuskan kepenatan selama perjalanan. Foto-foto, bermain-main air dan pasir, melahap sisa-sisa makanan, dan mencuci atribut yang sangat kotor menjadi kegiatan biasa. Sangat kentara, kami menemukan bekas kaki banteng (Bos javanicus javanicus) di atas pasir. Tampaknya mereka sudah minum air dari muara. Dengan demikian, kami telah membelah Pulau Jawa pada jarak yang terpendek, hanya sekitar 9 km dari pantai utara di Teluk Selamat Datang ke pantai selatan di Samudera Indonesia. Luar biasa.

Setelah beres mengabadikan momen, kami bersiap untuk kembali ke tempat parkir sepeda dan langsung ke penginapan. Matahari saat itu hampir tepat di atas ubun-ubun. Sebenarnya, terbayang medan yang akan kami lalui, makanya setelah ada teriakan berangkat, para goweser masih saling berdiri terpaku hahaha…. Akhirnya, dengan bismillah, kita kembali menuju jalan semula. Setidaknya, sekarang kami sudah bisa mengukur berapa jarak sampai tujuan, tidak meraba-raba seperti pada saat berangkat. Setiap satu jembatan kami lalui, kami menghitung mundur jumlah jembatan tersisa. Tetap semangat.

Saat pulang, banyak persediaan air kami yang mengering dan sisa makanan pun habis. Perut lapar. Kelemahan saya, kalau lapar, menjadi tidak bertenaga. Jadilah saya menjadi batas bawah. Untung ada Pak Yudi, Om Kus, dan Pak Bagus yang tampil sebagai tim sweeper. Om Imam menciptakan rekor jumlah jatuh. Berapa Om? 13 kali? Hihihi….

Tiba di tempat parkir sekitar pukul 14. Pak Mirza ternyata sudah menunggu di sana. Teman-teman, perjalanan pulang kita lebih cepat setengah jam dibandingkan saat berangkat. Tuh kan… ayo tetap semangat. Terbayang harus mendorong-dorong sepeda (lagi) di medan berat ini. Untunglah kami tetap semangat dan tabah. Sekeluarnya dari hutan, setelah melewati pematang sawah, bannya Mbah Darno sempat bocor dan terpaksa ganti ban dalam, dibantu oleh Pak Zaenal. Sementara, yang lain merebahkan badan sekenanya di rerumputan dan meminum air yang masih tersisa.

Pukul 15 kami sudah mencapai Kp. Ujung Jaya lagi. Sudah dekat ke penginapan. Tapi beberapa dari kami tampak hampir habis sehingga mampir dulu di warung, yang pertama kali kami lihat, untuk mengganjal perut dan mengembalikan kesegaran dengan teh manis. Kembali, kami merebahkan badan sekenanya seperti Pak Bagus di amben-amben, dan seperti Om Mars dan Dodo di tanah. Mbah Darno dikabarkan ingin kembali ke warung ini karena kesengsem sesuatu (atau seseorang) hehehe…. Om Mars tampaknya dilanjutkan dengan ojek. Sepedanya sendiri di-gowes oleh Pak Mirza.

Dengan sisa-sisa tenaga, sampailah kami di penginapan sekitar pukul 15.30. Teman-teman yang duluan sampai, sudah bersih dan kenyang. Saya sendiri menyemprot sepeda dan sepatu terlebih dahulu supaya tidak terlalu kotor. Selanjutnya, makan siang menjelang sore dengan menu ikan yang sama (lagi), mandi, solat, dan persiapan pulang. Setelah semua siap, menjelang 17.30, kami meninggalkan penginapan. Tidak seperti saat kedatangan yang kami lakukan dengan meng-gowes, sekarang kami menggunakan elf ke Kp. Sumur. Maklum, semua sudah penat dan ingin cepat sampai ke rumah. Penggunaan mobil ini sebenarnya memakan waktu lebih lambat dibandingkan dengan sepeda karena mobil harus memilih-milih jalan hancur yang masih bisa dilalui. Jadi ingat perjalanan ke Taman Jaya hari sebelumnya, kami beberapa kali menyusul mobil yang berjalan pelan. Tampak anak-anak kampung bermain bola di lapangan yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Jadi, kalau menggiring bola harus sering melihat ke depan supaya tidak menambrak pohon hohoho…. Kami juga sempat berpapasan dengan rombongan jip yang sepertinya akan berburu.

Saya yang menggunakan mobil logistik sampai di pertigaan Kp. Sumur sekitar pukul 18.30. Kedua mobil elf sudah berangkat duluan, sementara truk sepeda di belakang belum tampak. Wah, perjalanan masih sekitar 4 jam sampai ke Serang. Tingggal zzzzz…. dong.

Tiba di Panimbang sekitar 21.30. Saya makan malam dulu di sini, bareng Om Didit dan Pak Taufik. Ternyata, teman-teman di dua elf masih tertahan di Cibaliung, makan malam, dan menunggu truk sepeda. Akhirnya, disepakati kami langsung bertemu di alun-alun barat Kota Serang karena di sana lumayan terang. Mobil logistik sendiri sengaja berjalan lambat untuk merapatkan jarak dengan teman-teman di belakang.

Singkat cerita, pukul 00, sudah masuk hari Minggu tanggal 4 April, kami tiba di alun-alun Serang. Sementara, rombongan belakang menyusul setengah jam kemudian. Di sini, walaupun telah larut, anak-anak ABG masih nongkrong dengan komunitasnya, ada vespa, motor bebek merek tertentu, dan sebagainya. Bahkan, yang pacaran pun masih beredar. Hah? Sudah malam begini? Kegiatan kita membongkar sepeda dari truk mengundang atensi mereka. Orang-orang dari mana malam-malam begini dengan sepeda yang kotor? Mungkin demikian mereka pikir.

Menjelang pukul 1, kami siap gowes ke rumah masing-masing. Pengalaman ini sangat menarik dan menyenangkan. Jalanan sepi dan gelap. Maklum di beberapa tempat seperti dari alun-alun ke arah Kaujon dan Kaloran, tidak ada penerangan jalan umumnya. sedikit pun Padahal, baru beberapa meter saja dari kantor gubernur. Mudah-mudahan juga tidak ada yang meneriaki kami maling sepeda, soalnya sepeda kami tidak ber-STNK, jadinya agak sulit membuktikan kepemilikannya hahaha….

Demikianlah goweser, akhirnya sampai pula kami di rumah masing-masing. Alhamdulillah.

12 comments:

kabariberita.com said...

Perjalanan yang sungguh sangat mnegasyikkan, sebuah pengalaman berharga seumur hidup dan mungkin ini bisa jadi buat kita untuk lebih bisa menjaga alam ini karena kita kini telah tahu bahwa alam bukan hanya milik manusia tapi seluruh mahluk hidup yang ada didalamnya

sukses selalu

Anonymous said...

perjalanan yang menyenangkan, sayang belum ada kesempatan tuk ikut rombingan ke UK... mudah-mudahan ada episode berikutnya.

Anonymous said...

perjalanan yang tak terlupakan selain itu ada satu hal yang bakal selalu teringat yaitu : pak mirza..pak apak mi imir za aza..hahahaha...
Nun sewu pak, just kidding..

Pinarello said...

yang paling berkesan adalah: tenyata gowes dalam keadaan perut kosong malah bisa ngebut/balapan sampe beberapa mobil disalip....hebat euy

Pinarello said...

perjalanan dalam hutan yang penuh rintangan, team tetap kompak: saling berpegangan tangan krn jalanan licin sampe-sampe wafer sebungkus dibagi 4 biar kebagian semua...trim's ya pak yg bw wafer

kabariberita.com said...

buat pemilik atau admin sepedaan.com, Kami memberikan GRATIS 1 bulan untuk memajang bannernya di http://kabariberita.wordpress.com

jika berkenan kami tunggu banner sepedaan.com untuk dikirimkan ke kabari.berita@gmail.com

mars said...

akhirnya SXC2 kesampaian bawa sepeda ke Tanam Nasional Ujungkulon....
Bravo SXC2 dan tetap konsisten tuk kampanyekan eco-cycling....

fLash said...

setuju om pinarello, bersyukur karena kebersamaan kita demikian erat. sepotong coklat dibagi berempat tak terlupakan.
Oh ya, Panimbang ternyata punya "lintas melawai" juga. Pas saya lewat sekitar 21.30, di atas jembatan panimbang, banyak ABG pada nongkrong di sana, sambil memandang laut di kejauhan. Sayang tak sempat terabadikan. Gelap euy...

Ekowisata Ujungkulon said...

Hallo mas Flash (aduh... siapa ya nama aslinya?) Saya mau pasang banner blog sepedaan.com di blog saya, ada code html nya gak ya? Kalo boleh, saya juga mau masang foto yang dipajang di tulisan Expedisi Ujungkulon Hari Pertama untuk saya muat ulang di blog saya. Foto yang ada di blog ini terlalu kecil untuk dimuat ulang. Terimakasih

fLash said...

Ekowisata, Flash is Dida. Tapi, saya cuma kontributor tulisan. Code HTML dll, mungkin Bapak2 Admin (Om Mars & Omiyan) yang akan tindaklanjuti (silakan Bapak2!).
Foto nanti saya imel, insya Allah.

Mirza Sharz said...

Ok terimakasih mas Dida, email nya sdh saya terima dan saya dengan senang hati sudah naro blog sepedaan.com ini di blog roll saya. salam buat semua goweser SXC2 dan buat pak Mars tolong back link ya..

Suherman said...

Halo Goweser SXC2...
Salam Kenal....!
Bos di perusahaan saya (PT. Clariant-Cilegon) dalam waktu dekat ini bermaksud mengadakan Gowes Jelajah ke taman nasional Ujung Kulon.
Boleh minta CP untuk menjadi pemandu kita (treknya disamakan saja dengan trek SXC2 kemaren)?? Atau mungkin bisa minta no Pak Dedi (Jagawana). Terima kasih...
Suherman (hp: 02549116511, email: s.suherman@clariant.com atau suherman_clariant@yahoo.co.id

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons