Monday, April 19, 2010

FUN BIKE & HARD BIKE



Assalamualaykum Wr. Wb. Pesepeda semua, mudah-mudahan kita selalu dilimpahkan kesehatan dan tetap dapat mensyukuri dan memeliharanya.
Hari Minggu tanggal 18 April 2010, kami mengikuti acara sepeda santai Cilegon Langit Biru Fun Bike di Kratakau Junction, Cilegon. Acara seyogiayanya dimulai pukul 7.30. Jadi, kami tentukan akan berangkat paling lambat pukul 7.00 dari titik berkumpul di halaman KPP Serang (kapan ya, bisa balik pindah ke sini?)
Saya tiba di sana sekitar pukul 6.20. Telat bangun, buru-buru, tidak sempat sarapan, tapi berharap sempat nanti sebelum gowes. Sudah hadir di sana, Om Adek Agus, Pak Yudi, Andri, Ras, Pak Yusman, Hendra yang terpaksa berangkat duluan karena saya telat bangun, Dodo Chupeet si spesialis event, Dodo, Heppy, Pak Dudi, Maulana, Kusni, Pak Asep IKPP, dan Pak Ai. Om Dono ternyata datang lebih telat dibandingkan saya. Jumlah yang tidak terlalu banyak. Mungkin karena tajuknya fun bike, membuat sebagian teman merasa kurang tantangan dan jadinya absen hehehe…. Padahal, selepas acara itu, kita berencana mengeksplorasi Gunung Santri di kawasan Gerem, Cilegon. Pak Taufik dan Supri, belakangan baru bergabung di lokasi fun bike.


CILEGON LANGIT BIRU FUN BIKE
Sepeda-sepeda sudah siap di atas truk dan si empunya mengawal menggunakan angkot. Sekitar 6.30, kita mulai meluncur melalui gerbang tol Serang Timur menuju gerbang Cilegon Barat. Kata Heppy, “Koq, jauh bener ke Cilegon, kayak ke Jakarta aja”. Saya bilang, “Gaklah, kalau ke Jakarta, jalannya kan lebih ancur-ancuran.”
Tiba di lokasi, sudah riuh-rendah orang-orang beraerobik-ria di pelataran parkir Krakatau Junction. Sementara, para pesepeda masih memersiapkan sepeda-sepeda mereka. Kami pun segera membongkar sepeda dan bergabung. Yang belum sarapan, segera berburu nasi uduk, gorengan, dan teh manis sambil “menonton” orang-orang yang sedang aerobik. Mudah-mudahan menambah energi.
Tidak lama, sekitar 7.30, acara dimulai dan para pesepeda segera melewati titik start. Masif sekali pesepeda yang turut serta, termasuk ibu-ibu, anak-anak, para remaja, anggota komunitas onthel, maupun penggemar sepeda gunung. Saya tidak tahu jumlah mereka. Jalanan macet, sepeda tidak bisa di-gowes, masih dituntun. Setelah memasuki jalan-jalan di komplek perumahan PT Krakatau Steel, barulah sepeda bisa dipacu.
Rute peserta melalui Desa Pabean, Tegal Bunder, dan Purwakarta, ketiganya berada di Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon. Melewati pula sebagian Desa Wanakarta, Kecamatan Bojonegara Kabupaten Tidak terlalu jauh.
Di sebuah terowongan tol, demi keselamatan, panitia memasang petugas dengan secarik kertas bertuliskan “Hati-hati lubang”. Jadi ingat, kalau lewat kawasan Puncak di Bogor-Cianjur, orang-orang menawarkan vila dengan secarik kertas seperti itu. “Villa Om...Villa….”, tentunya dengan logat Sunda yang sangat kentara.
Jalanan yang tidak lebar menjadi macet oleh para pesepeda. Malah, lalu lintas sepeda sempat terkunci karena melewati tempat kampanye salah satu pasangan calon walikota Cilegon. Hiruk-pikuk dan lalu-lalang manusia menambah semakin ramai suasana. Bagaimana tidak, dari 4-5 jalur sepeda menjadi hanya satu jalur saja. Sepertinya, panitia tidak kompakan dengan orang-orang yang sedang kampanye ya…
Pukul 9 tepat, sebagian besar peserta sudah tiba kembali di Krakatau Junction. Rehat dan menyantap makanan ringan sejenak, mengecek kembali sepeda, dan siap-siap menaklukkan Desa Kedurung. Panggilan dari panitia yang akan membagi-bagikan door prize seperti tidak terhiraukan karena kami ingin segera melanjutkan perjalanan. Lagian, selama ikut fun bike, kami belum pernah menang door proze hahaha… dendam.

DESA KEDURUNG (INDAH)
Menjelang pukul 10, kami lanjutkan perjalanan menuju Desa Kedurung, masih di Kecamatan Purwakarta. Hanya, untuk mencapai desa ini, kami harus menaiki bukit curam dengan kemiringan mencapai 60° lebih.
Kami kembali melalui sebagian jalur fun bike tadi. Di terowongan tol yang tadi kami lewati, Om Maul harus merelakan speedometer-nya yang terjatuh dan tidak ditemukan lagi. Sekitar pukul 10.30, di dataran rendah terakhir sebelum up-hill, kami mengecek perlengkapan terakhir karena di atas tentunya tidak ada warung. Sementara, jalur yang akan kami lalui membelah bukit sudah tampak jelas dari bawah. Sangat jauh dan miring. Mengerikan sekaligus menantang.
Baru tiga menit gowes, tanjakan sudah menanti dan sulit untuk ditaklukkan dengan sepeda. Yah… terpaksa TTB. Parah sekali, padahal baru beberapa puluh meter saja. Kejadian selanjutnya, yang tampak adalah pemandangan orang-orang mendorong sepeda di tanjakan curam, dengan nafas tersenggal-senggal, sementara betis sudah sangat mengeras. Jalan berbatu-batu dan sebagian sudah dilapisi beton kasar. Kiri-kanan kita adalah jurang dan tebing dengan kebun-kebun kacang penduduk mengapit. Jarang ditemukan pohon-pohon besar di sekitar jalan. Langit sangat cerah dan tidak ada bantuan kanopi awan yang melindungi kami dari paparan sinar matahari. Makanya, tempat berteduh kami terpencar-pencar.
Jadi ingat Om Mars yang suka melemparkan begitu saja sepedanya kalau lagi capek. Mungkin kalau ikut, sepedanya sudah rusak karena sering dibanting hihihi…. Tapi ,kata Mas Agus tidak rusak, malah sepedanya masuk jurang. Yang aneh, Pak Dudi sekarang berada di grup depan. Malah, sempat menertawakan teman-teman lain di bawah yang masih mendorong sepeda hahaha… Makannya apa sekarang, Pak?
Om Andri mulai melihat kunang-kunang dan terpaksa rebahan di sebuah selokan yang mengering. Om Hendra malah bukan kunang-kunang lagi, tapi sudah burung-burung yang beterbangan di sekitar kepalanya. Dia sempat anjlok mentalnya karena mengajak putar balik. Tetap tabah Om-Om, kita semua optimis, perjuangan ini tidak akan sia-sia. Pasti ada ganjarannya. Kalau mau putar balik, sendirian saja hahaha…
Tanjakan beton yang sebelumnya kami lihat dari bawah bukit sebelumnya, ternyata sangat curam, sampai mencapai 60°. Sementara, pemandangan di bawah adalah Kota Cilegon dengan ciri khas empat menara mesjid agung dan danau di Krenceng. Subhanallah, luar biasa nian. Namun, bagi penderita vertigo, cukup membuat stres karena turunan curam ini seperti tidak batas bawahnya. Tanjakan yang sangat curam membaut kami harus membungkukkan badan semaksimal mungkin dan menundukkan kepala. Bahkan, posisi kepala dan badan kita lebih rendah dari posisi stang sepeda. Om Hendra sampai meminta bantuan anak sekolah di situ untuk mendorongkan sepedanya sampai ke puncak. Ojek dorong sepeda namanya. Luar biasa, anak itu mendorong sepeda dengan cepat dan ringan saja. Padahal, kami sudah ngos-ngosan. Tanjakan ini saya sebut “tanjakan baeud”. “Baeud” dalam Bahasa Sunda artinya merengut. Dinamakan begitu karena semua pesepeda, maksud saya pendorong sepeda, menaiki tanjakan ini sambil tunduk dan merengut hahaha….
Yang cukup menggoyang mental, setelah kita berharap mencapai jalan yang rata, ternyata masih saja ada tanjakan lagi. Tapi kami bertekad untuk sampai ke puncak, insya Allah.
Menjelang tengah hari, sampai juga kami di puncak, di Desa Kedurung. Orang situ menyebut juga Desa KDI alias Kedurung Indah. Bisa juga sih, karena pemandangan di sini memang indah. Kami bisa memandang Kota Cilegon yang sepertinya akan lebih indah bila dilakukan di malam hari karena gemerlap lampu-lampu di bawah. Desa ini merupakan perbatasan antara Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon dengan Kecamatan Bojonegara Serang. Batas pemisahnya hanya jalan setapak, bekas jalur air. Sayang kami tidak bisa mencatat ketinggian di sini. Yang jelas, ketinggiannya jauh melebihi trek Gunung Pinang yang hanya sekitar 292,3 m dpl karena tampak di bawah kami.
Kami beristirahat di dua rumah penduduk yang bersebelahan. Bagian atas, wilayah Cilegon, kami disuguhi kelapa muda yang menyegarkan. Bagian bawah, wilayah Serang, kami disuguhi teh manis dan penganan kecil. Bagaimana kalau mereka mau membuat KTP ya. Tetanggaan, satu kampung, tapi harus ke kantor lurah yang berbeda. Jadi ingat, kami pun pernah membelah Pulau Jawa dari pantai utara di Teluk Selamat Datang dengan pantai selatan Samudera Indonesia di Resor Kalejetan, Taman Nasional Ujung Kulon. Sangat menarik. Sekarang kami membelah perbatasan dua kabupaten dan kota ini di atas puncak bukit.
Selepas istirahat, sekitar pukul 13, kami meninggalkan Desa KDI menuju Desa Gerem nun jauh di bawah sana. Pemandangan masih menakjubkan. Sekarang, kami pun bisa melihat pelabuhan Bojonagara sebagai latar belakang. Kami menyusuri jalanan berbatu-batu dengan tebing dan jurang di kiri-kanan yang masih setia menemani. Tiba di pertigaan yang memisahkan arah ke Gerem dan Bojonegara, kami memilih Gerem karena lebih dekat dan jalan sudah dilapisi hotmix. Apalagi di sana kami akan mampir ke rumahnya Pak Taufik. Kata beliau di sana sudah ada (warung) indomie hihihi…. Nanti, kalau mau eksplorasi lagi (itu pun kalau mau hahaha…) kita turun ke arah Bojonegara, terus mampir ke rumahnya Om Didit. Gimana Om?
Selama bersepeda, baru kali ini saya merasa takut akan curamnya turunan. Selain jalannya sempit dan berkelok-kelok, banyak kendaraan bermotor yang naik dengan kecepatan tinggi lumayan menghambat. Belum lagi, kami belum hapal karakteristik trek ini, seberapa panjang dan seberapa curam. Bahkan perkiraan saya, ada yang mencapai 60°. Mengerikan bagi saya. Takut putus saja tali rem. Turunan jalur 45 seperti tidak ada apa-apanya, apalagi kalau hanya turunan Cilowong. Rem sepertinya sudah tidak sanggup lagi menahan berat badan saya. Walaupun sudah ditarik maksimal, sepeda tidak mau mengurangi kecepatannya alias nyelonong. Saya harus mengangkat (maaf, pantat) agar ada efek sliding di ban belakang. Saya hanya bisa berusaha mengendalikan sepeda low-end yang saya pakai dan berdoa. Seandainya menggunakan rem hidrolik.
Tiba di Lingkungan Gerem Utara, sudah di bawah, trek sudah mulai mendatar, jalanan macet karena ada dua mobil berpapasan sementara lebarnya hanya untuk satu mobil. Di atas, tampak kabel-kabel listrik yang tebal menjulang ke atas. Saya pikir, kenapa tidak dibuat gondola saja ke Desa KDI di atas. Kan lumayan, bisa dijadikan tempat piknik.
Saya sangat bersyukur karena selamat menuruni turunan curam tadi. Sampai di Kampus Al Munawwaroh, sudah ada balandongan. Wah, Pak Taufik sampai repot-repot menyiapkan balandongan menyambut kami. Haha…. Husnudzon, padahal kami belum sampai rumahnya.
Hampir jam 14, tibalah di Jalan Raya Merak, tepatnya di Desa Gerem Kecamatan Grogol Kota Cilegon. Kehidupan seperti berdenyut lagi. Kami mampir sejenak ke rumah Pak Taufik, juragan matrial di sana untuk solat dzuhur dan makan siang. Tampaknya, mie ayam dan baso kupat lumayan menggoda. Letak rumahnya sendiri berada di seberang Kantor Kesehatan Pelabuhan Banten. Jarak di tripmeter Om Heppy Cuma menunjukkan angka sekitar 26 km.
Pukul 15 lebih, setelah beres, karena keterbatasan waktu, kami dievakuasi dengan menggunakan truk untuk kembali ke Serang. Bukan karena masalah stamina lho hahaha…. Kali ini para pesepeda ikut naik ke bak atas terbukanya. Lumayan, bisa lihat-lihat pemandangan dari empat penjuru angin. Maklumlah belum mampu beli mobil besar ber-sun roof.
Melewati Kota Cilegon, kami melewati masjid agung Cilegon dengan empat menaranya yang tadi siang kami lihat dari puncak Desa KDI. Pak Supri turun duluan di Kramatwatu, disusul beberapa lagi di pertigaan Kepandean termasuk saya, dan terakhir di markas Polda Banten yang dipimpin Pak Yudi. Kami tiba rumah masing-masing sekitar pukul 16. Mohon maaf buat keluarga di rumah karena Ayah datang telat…

21 comments:

CoKlat@Chelski said...

permintaan bos mars : please try again......

mars said...

ehmmm keren banget track dan pemandangannya....
patut diagendakan kembali...

fLash said...

ehem...ehem...pasti ngiri tuh hahaha...

Anonymous said...

ya iyalah pasti ngiri, aku ja mpe muntah hee... mbahnya xtrada

Anonymous said...

ini track memang patut untuk diulang kembali, view indah tenan, dan para pengowes belum ada yang khatam untuk menempuh jalur track ini.

Pinarello said...

betul betul betul betul...perlu diulang lagi tapi nanjaknya saat masih pagi hari dan hari sabtu...

Pinarello said...

terus pak tofik siapkan ikan buat kita makan siang di gerem...

mars said...

berarti tinggal diagendakan ulang ya....
tunggu tgl maennya....
bukit gerem...I'll be there...

Anonymous said...

Sungguh luar biasa... sedikit nambahin informasi saat kita berada dipuncak desa kedurung, latar belakang kita bukan pelabuhan Bojonegara (komersial) tetapi pelabuhan docking kapal atau "bengkel kapal" Samudera Marine Indonesia tepat berseberangan dgn gunung santri yg juga masuk wil. bojonegara.
Anyway..but the way...busway... pokoke tetep maknyuss... amazing..tenan..jare mas Tukul...

fLash said...

Tararengkyu inpohnya Mr. Anonim (sayang gak ada namanya...). Dan memang, setelah lihat di maps, Pelabuhan Boyzone masih jauh bgt ya...

widodo said...

Sorry Om.. lupa tulis ID.. Secara kebetulan kapal Samin pernah ada yg dock disana.. jd sedikit tau lokasi itu... kalo harus ke Pelindo Bojonegara gak bisa lewat atas..harus lewat bawah dulu alias muterin pesisir pantai utara... Mau..???? Yuuuuk.... dijamin asyik...

fLash said...

Om Widodo, apalagi kalo pake Pinarello

mars said...

ehmmm ada yG manaz-manazin....
udh bungkus om...

Anonymous said...

pinarello ....pirolho....

mars said...

kemaren banyak yG nyari sepeda tuh om wkt ke Padarincang.....

Dodo said...

Waah..banyak yg nyari ya Om.. tapi kira2 ada yg mau beli atau sekedar nyari aja Om..?

yusman said...

alumni TNUK...hehehehe

mars said...

Dah teruji pastinya..dan nilai sejarahnya ga ternilai bro..

widodo said...

Akhirnya ada yg berminat juga....
Goodbye "My Premier" I'm sorry n pls 4-give me..I'll always love u n remember u now n 4ever.. couse u have already given me some sweet memory.. I belive that u're is the best of generation..( ha..ha soalnya baru bisa ngerasain itu doang..)

fLash said...

lebay amat, sepeda aja.... wkwkwk...

NgGowesser said...

Pak
ajak ajak ya kalo ada yang mau mengulang track di Gerem. Mei kemarin pernah kesana , cuma kebanyakan dorongnya dari pada ngGowess nya. Barangkali ada route lain yang lebih bersahabat naik di puncak gerem. sharing route ada di http://sepedaanku.blogspot.com/2010/05/track-geremhill.html

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons