Tuesday, July 27, 2010

TOUR DE CIKIRAY DAN DONOR DARAH

Assalamualaykum goweser semua. Bagaimana kabarnya? Mudah-mudahan kita selalu sehat wal afiat.
Hari Sabtu dan Minggu tanggal 24-25 Juli 2010 kemarin, kegiatan kami cukup padat. Dimulai hari Sabtunya, kami merencanakan untuk mengeksplorasi kawasan rawa danau. Kemudian, hari Minggunya ikut berpartisipasi dalam kegiatan amal donor darah yang diadakan oleh radio Hot FM Serang dalam rangka ulang tahun mereka. Tentunya kita semua berharap banyak anggota yang dapat berpartisipasi.

TOUR DE GUNUNG SARI-CIKIRAY-GUNUNG KUPAK
Hari Sabtu, hanya 14 orang saja yang akhirnya ikut. Ada Om Mars, Pak Ai, Pak Danar, Om Agus, Om Yusman, Pak Dudi dengan Giant barunya (selamat bergabung kembali, Pak!), Om Chupeet dengan Supreme barunya (selamat bergabung kembali juga, Om!), Om Dodo (selamat bergabung dengan grup Widya hehehe…), Om Hendra, Om Tsauban, Om Kus, petugas medis andalan kami, Om Didit yang baru bergabung di alun-alun, dan Om Dono yang bergabung di perempatan Jalan Takari. Oh ya, saya dihitung juga ya. Om Yopie, seperti minggu lalu, hanya “setor muka” saja di meeting point. Jadi kali ini tidak dihitung hehehe….
Anak-anak muda kali ini kembali absen karena harus memersiapkan diri untuk mengikuti kejuaran XC di Taman Kota, Serpong mewakili SXC2. Vito akan ambil bagian dalam lomba, sementara Indra dan Boni sebagai supporter sekaligus observer. Semoga sukses semuanya.
Seperti biasa, start dimulai pukul 7 tepat. Jalur yang kami ambil kali ini tidak seperti biasa, yaitu Jalan Takari, tetapi melalui Cikulur dan Kp. Gelam untuk kemudian muncul di Cilowong, tepat sebelum TPA. Sekalian survei trek kalau-kalau ada teman-teman goweser dari luar Serang yang akan gowes bareng. Namun, ternyata tidak banyak perubahan lapisan trek, setelah terakhir kita melaluinya. Hanya, menjelang Jalan Takari, Cilowong, jalanan yang berupa tanjakan, sekarang sudah dilapisi aspal kasar. Benar-benar masih baru. Panjangnya cuma 675 m saja.
Di sebuah pos ronda di Cilowong yang biasa kami jadikan pitstop, sekitar ½ jam kami menunggu Om Dono dan Pak Dudi. Ponsel Om Dono yang kami panggil tidak juga diangkat. Sampai teman-teman berpikir, jangan-jangan dia marah karena ditinggal hehehe.... Setelah menelpon Om Dudi, barulah terungkap kalau Om Dono harus menambal ban dalam sepedanya sampai beberapa kali. Termasuk dua buah ban dalam cadangannya. Jadinya, banyak memakan waktu. Setelah mereka muncul, barulah ketahuan kalau Om Dono ternyata tidak membawa ponsel. Di sini, Pak Dudi yang baru gowes lagi setelah beberapa bulan, memutuskan untuk kembali ke Serang melalui Taktakan. Titi DJ Pak! Jangan-jangan dia khawatir karena sepeda barunya dites oleh Om Mars ber-jumping-ria hehehe…
Akhirnya sekitar pukul 9, perjalanan dilanjutkan ke pitstop berikutnya di Gunung Sari. Kali ini, kami diundang mampir ke rumahnya Om Tsauban di sana. Teh manis dan berbagai makanan ‘go green’ berupa rebus-rebusan sudah siap menyambut kami. Ada ubi, kacang, pisang, telor, dan lain-lain. Di sini kami tiba sekitar 9.20. Karena mendengar kabar kalau di rawa danau tidak ada warung, para goweser seperti panik dan membungkus banyak makanan yang bisa dibawa. Terima kasih Om Tsauban. Ngeri juga melihat keberingasan teman-teman membungkus makanan hehehe….
Menjelang 10.30 kami lanjutkan perjalanan. Ini agak lama karena Om Dono harus menambal lagi ban dalamnya yang kembali bermasalah. Mudah-mudahan nanti tidak bermasalah lagi. Ditemani Om Mars dan Pak Ai. Kata Pak Ai, “Ban dalam kayak gini mah, dibuang saja”. Tapi, tidak dibuang. Belakangan nanti ketahuan manfaat ban ini untuk Pak Ai.
Sekitar 3 km dari pitstop terakhir, kami mulai memasuki jalan setapak menuruni bukit dan memasuki kawasan konservasi sumber daya alam hayati. Seperti biasa, jalanan berlapis tanah berlumut dengan batu-batuan yang sebenarnya tidak terlalu banyak, cukup merepotkan goweser mengendalikan sepeda. Seatpost sudah diturunkan secara minimal, sampai terasa seperti meng-gowes BMX saja. Ini memang perlu dilakukan supaya kaki bisa mudah mencapai tanah untuk menjaga agar tidak terjatuh. Om Chupeet sempat jungkir balik karena sepedanya menabrak batu dan berhenti tiba-tiba. Untunglah semuanya baik-baik saja.
Jalanan terus menurun, diselingi beberapa selokan yang memotong jalan. Beruntung teman-teman yang sudah menggunakan rem hidrolik, niscaya tangan tidak terasa pegal karena terus-terusan menarik tuas rem. Apalagi kalau kondisi shockbreaker kurang empuk. Persiapan menjelang gowes boleh dikata sangat penting. Beratnya trek ini membuat pemandangan indah rawa danau di kejauhan, tidak bisa kami nikmati sepenuhnya karena harus berkonsentrasi membaca jalan. Lepas sedikit saja, akan sangat fatal karena jurang menganga di kanan-kiri .
Sampai di bawah, ternyata ada perkampungan dengan beberapa rumah. Damai sekali di sini. Kata Om Tsauban, “tiis ceuli herang mata”. Ini ungkapan dalam Bahasa Sunda yang maksudnya menggambarkan suasana yang sangat tenang, rileks. Inilah Kampung Cikiray.
Dengan waktu yang ada, sepertinya kami tidak akan bisa mencapai kawasan rawa danau yang jaraknya “masih jauh” kata penduduk di sini. Ya sudah, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Gunung Sari melalui perkebunan karet Gunung Kupak. Masih ingat perjalanan kita ke Gunung Kupak sebelumnya?
Jalanan yang kami lalui selanjutnya masih berupa jalan setapak yang merupakan jalur motor trail. Jangan-jangan Om Darno sering lewat sini dengan motor trailnya hehehe.... Akibat bekas ban motor di bagian tengah jalan yang membuat cekungan licin, ban sepeda kami harus memilih jalur yang tepat. Terpeleset sedikit, ban akan terperosok dan selip, sementara pedal tidak bisa di-gowes karena menyentuh permukaan tanah. Harus ekstra hati-hati.
Di sebuah pertigaan, tepat sebelum jalanan mulai menanjak ke atas bukit yang di atasnya adalah perkebunan karet yang kami tuju, kami rehat sejenak. Waktu menunjukkan menjelang pukul 12 siang. Berbagai makanan yang dibawa sebelumnya dari rumah Om Tsauban, kami buka untuk makan siang. Alhamdulillah semua kenyang. Setelah semua siap berangkat, tiba-tiba kaki kiri Om Chupeet kram. Akhirnya semua kembali duduk sambil menunggu Om Kus "memerbaikinya.” Sementara ia menjerit-jerit, kami tertawa-tawa karena tidak percaya dia kesakitan.
Dari sini, tanjakan ke atas sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 500 m saja. Tapi, karena curamnya, tidak ada satu pun goweser yang mengayuh. Semuanya mendorong sepeda. Sayang raja tanjakan, Om Yopie, urung hadir.

Perkebunan Karet Gunung Kupak
Akhirnya, sekitar pukul 13, sampailah kami di perkebunan karet Gunung Kupak. Rasanya seperti kembali ke peradaban. Ayo kita lanjutkan perjalanan ke Gunung Sari. Saking semangatnya, rombongan depan yang terdiri dari Om Danar, Om Yusman, Om Dodo, Om Tsauban, dan Om Agus melahap sebuah turunan di sebuah pertigaan dengan kencang. Akibatnya, rombongan belakang salah berbelok alias nyasar karena rombongan depan sudah tidak tampak batang punggungnya. Om Dono, Pak Ai, Om Dodo Chupeet, Om Kus, Om Mars, Om Hendra, dan saya melewati jalan yang tidak kami kenal.
Sampai di sebuah kandang ayam (di kawasan ini banyak peternakan ayam), sambil merumuskan arah, ban sepeda Pak Ai yang giliran bocor. Untung ban dalam yang tadi ditambal Om Dono, tidak dibuang, sehingga bermanfaat buat Pak Ai hahaha….. Sambil menunggu, Om Kus, Om Chupet, dan Om Hendra berbaring begitu saja di tengah jalan. Kalau saja yang berbaring Om Andri, mungkin bisa disebut polisi tidur hehehe… Sementara, teman-teman rombongan depan sudah sampai ke pitstop selanjutnya di Gunung Sari. Betapa nikmatnya.
Akhirnya kami putar balik ke jalur semula dan mengikuti turunan ke arah Gunung Sari. Perkiraan saya, kami akan melewati tanjakan berlapis tanah merah yang melewati vilanya Pak Nandang di Gunung Sari. Sudah terbayang beratnya. Untungnya, ternyata ada jalur lain yang melewati perkampungan dengan jalan berlapis aspal kasar sampai ke Jalan Raya Mancak, Gunung Sari. Om Tsauban kembali menggunakan motor, menyusul rombongan kami sambil membawa ban dalam cadangan untuk Pak Ai. Kabarnya, dia tukar posisi dengan Chupeet karena kakinya mau kram lagi. Wah, berarti Chupeet pakai motor dong… Tak apalah, mudah-mudahan kakinya tidak bermasalah lagi.
Kami tiba di musola di Gunung Sari sekitar pukul 14.30. Setelah mendirikan dzuhur, kami menuju “kandang” Om Tsauban di belakangnya. Disebut “kandang” karena dia beternak beberapa hewan di sini. Kami disuguhi kelapa muda dan tentu saja makan siang menjelang sore hehe…. Terima kasih lagi Om Tsauban. Kaki Chupeet kambuh lagi di sini. Mudah-mudahan dia bisa gowes ke Serang.
Lewat pukul 16, kami baru mulai turun kembali ke Serang, dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Untunglah jalur yang kami lalui sebagian besar berupa bonus turunan. Jadi, tidak terlalu berat meng-gowes. Tiba di perempatan Brimob sekitar 16.30. Memecahkan rekor waktu perjalanan minggu sebelumnya yang mencapai 16.30 sampai rumah.

KEGIATAN DONOR DARAH @HOT FM RADIO SERANG
Hari berikutnya, SXC2 mengikuti kegiatan amal donor darah yang dilaksanakan oleh Radio Hot FM, Cipocok, Serang. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka ulang tahun radio ini. Ada 11 orang yang ikut ambil bagian, yaitu Om Dono, Om Danar yang walaupun namanya Danar tapi tidak ikut donor, Om Agus, Om Supri, Om Hendra, Om Andri, Om Yusman, Om Mulya beserta istri, Teh Ai, Om Chupeet, dan saya sendiri. Om Mars, Om Chiem, Boni, dan Indra tidak bisa ikut serta karena sedang mendukung Vito yang hari ini sedang berlomba XC di Serpong.
Kegiatan donor darah kami ikuti karena sesuai dengan tujuan pendirian SXC2 pada Anggaran Dasar kami, yaitu “Organisasi ini bertujuan untuk memperluas, memperpanjang, dan memupuk tali ikatan persaudaraan sesama organisasi sejenis pada umumnya dan antaranggota komunitas pada khususnya, serta membawa manfaat pada masyarakat sebagai pengejawantahan kepedulian kita pada lingkungan
Kegiatan ini kami ikuti setelah acara car-free day di sekitar alun-alun Serang. Namun sayang, acara yang semula akan berlangsung pukul 6 s.d. 10, sudah rampung sekitar pukul 8, ditandai dengan dibukanya blokade jalan untuk kendaraan bermotor ke area car-free day. Tampaknya, kesadaran masyarakat akan program ini masih sedikit.
Ternyata, tidak semua anggota dapat menyumbangkan darahnya. Saya, Om Hendra, dan Om Andri terpaksa harus urung karena tekanan darah yang dinilai kurang oleh tim PMI. Jadi hanya anggota Voltus V yang mendonorkan darahnya, Om Dono, Om Agus, Om Supri, Om Yusman, dan Om Mulya. Apa mau dikata, minimal kita semua sudah berniat untuk menyumbang darah.
Peserta yang menyumbangkan darahnya mendapat segelas susu coklat, paket makanan ringan, dan door prize. Om Andri dan Om Hendra, walaupun tidak ikut mendonor, tapi sempat melahap mie instan di gelas, jatah para donor. Saya sendiri tidak sempat mengikuti pengundian doorprize karena hari terlalu siang, sekitar pukul 11, sementara harus cepat kembali ke rumah.
Akhirnya, terima kasih kepada semua donor, mudah-mudahan darah anda bermanfaat bagi sesama.

4 comments:

CoKlat@Chelski said...

nais posting.....
Terima kasih buat p Tsauban....,kita bakalan mau ngrepotin lagi....
Maaf wat temen2 yang nyasar di kebun karet....,bukan maksud hati utk meninggalkan...
terima kasih Om Flash...jadi inget lagi tujuan SXC2...ternyata panjang juga....maksih juga fotona ....

Dodo Chupeet said...

Kasihan amat sih... baru kali ini si Chupeet dibahas terus.. padahal kram cuma 3 kali doang.. itu juga karena kaget pake supreme... Btw, pokoke puas seharian.. rekord terlama gowes dlm satu hari..
I Just wanna say for all my goodfriends..thanks 4 yr support, attention, motivation and yr help..So I can joint with u all.. see u next time on gowes bareng////

yusman said...

pokoknya mantaps dech...baik menu track nya apalagi menu di pitstop pagi maupun siangnya...

astroz3 said...

buat mas chupeet...segera nebus sepeda ah..malu sama anggota yang lain...

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons