Sunday, July 18, 2010

TOUR TO GEREM-BOJONEGARA-KASEMEN

Apa kabar goweser semua? Mudah-mudahan kita selalu diberi berbagai kenikmatan oleh Allah SWT, termasuk kesehatan.
Menjelang dan serampung fun bike Mitra Bhayangkara tanggal 4 Juli kemarin, saya banyak absen gowes. Sekitar satu bulan barangkali. Makanya hari ini, Sabtu 17 Juli 2010, terasa sangat bersemangat untuk kembali gowes bareng teman-teman. Ingin mengunjungi tempat yang baru.
Sesuai agenda sepedaan, kami berencana naik ke bukit Gerem untuk kemudian turun ke Bojonegara. Uh….sudah terbayang tantangan tanjakan yang akan kami lalui. Masih ingat perjalanan kami ke Desa KDI alias Kedurung Indah? (Lihat: Fun Bike dan Hard Bike). Turunan tajam waktu itu yang mencapai sudut elevasi sampai 60⁰, akan menjadi tanjakan kali ini. Tak apalah, mumpung sedang bersemangat. Apalagi kita akan disuguhi pemandangan indah bukit-bukit, lembah, dan Laut Jawa di arah utara. Dan, tentu saja jamuan makan siang di rumahnya Om Didit, di Bojonegara sana. Daerah ini, selama ini belum pernah kami eksplor. Mungkin karena cuaca di sana yang biasanya sangat panas. Tapi, semua berharap semoga cuaca kali ini bersahabat untuk para goweser.
Kali ini, kami sudah pasti kehilangan tiga anak muda, yaitu Vito, Indra, dan Bonnie yang pada waktu bersamaan, gowes bareng juga ke kawasan Puncak, Bogor, bersama komunitas lain. Titi DJ guys!
Seperti biasa, kami berkumpul di halaman KPP Pratama Serang sekitar pukul 6.30. Namun, karena harus sarapan lebih dulu (terima kasih traktirannya, Om Ras,) saya tidak mengikuti santiaji singkat pagi itu. Ternyata, teman-teman telah membulatkan tekad untuk tetap menuju Gerem, padahal peserta dari Serang cuma 9 orang, yaitu Om Mars, Om Yusman, Pak Ai, Om Didit, Om Ras, Om Even, Om Imam, Om Supri, dan saya sendiri. Sepi sekali. Om Opik.g, orang ke-10, sudah menunggu di Gerem, di rumahnya. Om Andri yang pagi itu datang, tidak ikut gabung karena keperluan dinas, tetapi hanya membayar iuran rutin hehe… Terima kasih, Om. Terima kasih pula kepada semua teman yang telah rutin berpartisipasi saweran untuk kita semua di SXC2.

Menuju Gerem
Bismillah, kami pun berangkat sekitar pukul 7.00. Mula-mula menuju Tamansari untuk mencari truk yang akan mengantar kami ke Gerem. Mudah-mudahan bisa menghemat waktu perjalanan. Sebelum masuk gerbang tol Serang Barat, Om Dono menelpon bahwa akan ikut, tapi entah kenapa dia membatalkan keikutsertaannya. Katanya sih, dia akan gowes ke Cilowong saja. Hat-hat, Om!
Tiba di rumah Om Opik.g menjelang pukul 8. Oh ya, teman-teman mungkin belum tahu apa singkatan huruf “g” di belakang Opik. Itulah, “Gerem, ” nama daerah kekuasaannya hehehe…. Setelah semua memersiapkan sepeda dan perbekalan karena tidak ada warung lagi di atas, kami pun berangkat tepat pukul 8.00.
Baru beberapa ratus meter mengayuh, kami sudah disuguhi tanjakan-tanjakan curam yang sepertinya tiada berakhir. Allahu akbar. Sementara RD sepedaku bermasalah, terpaksa buka bengkel dahulu. Untungnya bisa berfungsi baik lagi. Beberapa puluh meter mendorong sepeda, kami berhenti istirahat lagi. Tanjakan yang benar-benar menguras energi. Untunglah jalannya dilapisi hotmix halus. Mungkin partai penguasa di Cilegon, menang pemilu di kampung ini ya hehehe….
Om Opik.g pun yang mengaku sering naik ke atas sendirian, jujur mengaku belum pernah khatam gowes sampai ke puncak. Sebagian besar sama saja, didorong. Bahkan, dia sering juga mengangkut sepedanya ke atas menggunakan mobil untuk kemudian balik menikmati turunan. Masih sendirian. Koq sendirian terus, Om. Seperti orang autis saja hehehe…
Akhirnya, “dengan darah dan air mata,” tibalah kami di puncak, sebuah pertigaan dekat mushola di Kampung Purut Lampung, dengan ketinggian sekitar 400 m dpl. Apabila kita terus lurus, kita akan mencapai Desa KDI, tapi kalau kita mengambil arah kanan, kita akan mencapai Merak atau Bojonegara. Sekitar pukul 9.30 kita sampai di sini. Jarak menunjukkan hanya 6,2 km, sementara waktu tempuh kita 1,5 jam. Bayangkan, kecepatan rata-rata kami hanya 4 km/jam. Parah gan…. Padahal, sepulang dari Desa KDI dulu, waktu tempuh turunan ini hanya sekitar 15’ saja. Berarti kecepatan rata-rata saat itu hampir 25 km/jam.
Tak apalah, bisa sampai ke atas saja, kami sudah bersyukur. Lalu, kami pesan saja dulu teh manis ditemani jajanan. Menarik, bahwa warna kusen warung yang kami datangi dan penganan yang kami makan, semuanya bernuansa hijau SXC2. Kata teman-teman, “semuanya serba go green” hehehe…
Sekitar 10.15, kami siap melanjutkan perjalanan. Kata si ibu warung, ke Bojonegoro mah udah dekat, tinggal turun saja. Ternyata, baru beberapa meter dari warung, masih ada tanjakan berbatu-batu yang menyulitkan kami mengayuh dan memertahankan keseimbangan sepeda. Terpaksa sebagian dorong lagi. Bahkan, kedua paha saya hampir kram. Untunglah teman-teman responsif membantu dan memberikan krim. Sewaktu saya masih sibuk memijat-mijat kaki, semua teman malah sudah berfoto bersama. Tunggu aku! Sungguh teganya dirimu…. Tapi, alhamdulillah, semua baik kembali dan saya pun bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang, tentunya setelah ikut foto-foto juga dong.
Selepas tanjakan ini, barulah pemandangan indah bermunculan. Bukit-bukit yang menghijau, lembah-lembah curam, dan laut, sangat memesona. Subhanallah. Puas-puasin deh sono foto-fotonya. Sementara turunan sudah mulai kami lalui, berlapisan batu-batu dan tanah bekas jalur air. Sangat curam, licin, dan sangat berbahaya. Para goweser menurunkan seatpost mereka. Kombinasi rem depan dan belakang yang tepat akan sangat membantu. Ban slip sudah menjadi pemandangan biasa. Bahkan, kami sampai mencium bau rem yang kepanasan, seperti yang biasa kita cium kalau sedang jalan-jalan ke Puncak, Bogor yang selalu macet. Om Even sampai berakrobatik dan hampir mencium tanah. Untunglah tidak apa-apa.
Menjelang Bojonegara, turunan sekarang dilapisi hotmix halus kembali. Ayo, kita nikmati bonus turunan! Persiapkan kembali rem-rem sepeda. Banyaknya gundukan tanah, membuat Om Mars bersemangat menerbangkan sepedanya.

Bojonegara

Akhirnya, sekitar pukul 11.30 kita tiba lagi di sekitar 200 m dpl, di Desa Pengarengan, setelah sebelumnya melalui Desa Pakuncen, Bojonegara. Alhamdulillah semua selamat. Tinggal menuju rumah Om Didit di Desa Beji. Kami melewati jalan material yang berpolusi sangat buruk, karena masifnya truk-truk pengangkut pasir, tanah, dan batu-batuan. Untunglah, jalan ini kami lalui hanya sekitar 1 km saja. Selanjutnya, kami keluar-masuk kampung, mutar-muter. Intinya, kami tidak akan tahu jalan pulang kalau tidak diantar lagi oleh Om Didit. Maklumlah, kawasan ini adalah daerah kekuasaannya sejak kecil dulu. Bahkan, percaya atau tidak, semua orang yang lewat rumahnya, pasti kenal dia. Jangan-jangan dulunya dia ketua karang taruna di sini hehehe…
Sesampainya di rumah Om Didit yang sejuk, kami disuguhi makan siang istimewa. Tak terduga, menu Sunda. Ada bandeng bakar, ayam, gepuk, tempe, sayur asem, lalapan, sambel, dan buah-buahan. Serba go green. Wah, terima kasih sangat banyak, Om. Jangan kapok ya. Tapi kalau mau menagih, bendahara siap katanya hehehe….. Banyaknya makanan ini secara tidak langsung juga menjelaskan, mengapa walaupun kita rutin bersepeda, tetapi perut tidak juga kempes. Ini karena makanan yang kita makan lebih banyak daripada kalori yang kita bakar. Oh ya, Di sini, Om Mars menciptakan minuman baru yang dia kasih nama Wuluh Tea, yaitu kombinasi teh manis dengan belimbing wuluh. Katanya sih, enak, tapi teman-teman sepertinya tidak ada yang berhasrat menirunya. Mereka cuma bilang, “iya enak” hehehe…., kecuali Om Ras. Kata Om Even, cuaca kali ini CMB alias cuaca mendukung banget.
Odometer Om Yusman hanya menunjukkan angka 15,6 km dari Gerem. Tidak terlalu jauh sebenarnya. Hanya karena tanjakan yang berat saja, kita berkeringat sebesar-besar butiran jagung.
Setelah kenyang dan mendirikan sholat, kami lanjutkan perjalanan menjelang 13.30. Spontan saja, usulan Om Didit supaya kita pulang dengan menggunakan kapal motor dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bojonegara ke Karangantu atau Kasemen, kami iyakan. Suatu pengalaman yang sepertinya menarik, membawa sepeda ke atas perahu mengarungi laut. Sayang, Om Didit tidak bisa ikut karena harus tetap tinggal, padahal anaknya merengek ingin ikut. Om Mars tuh yang manas-manasin. Sementara, Om Opik.g harus kembali ke Gerem. Kami usul supaya Om Opik.g balik lagi lewat jalur semula ke Desa Purut Lampung dan mengambil bonus turunan ke arah Gerem hahaha…. Ide gila. Katanya, dia akan mengambil jalur yang dia tahu saja. Oke deh, Om. Titi DJ juga ya!
Hanya sekitar 3 km saja menuju TPI. Kita tiba dalam 15’. Bau anyir ikan mulai menyengat. Om Mars sempat jumpalitan karena memaksa gowes naik ke atas tangga di dermaga hehehe….

Menuju Kasemen
Akhirnya, naiklah kami dan semua sepeda ke atas kapal motor. Pengalaman pertama kali bagi kami menaikkan sepeda ke atas kapal motor. Sangat menarik. Di sini, mungkin unsur rekreasi yang lebih kelihatan hehehe… Tak apalah. Toh, olahraganya sudah kita lakukan semenjak tadi dari Gerem.
Tepat pukul 14 kapal mulai meninggalkan dermaga. Teman-teman tentu tidak bosan-bosan mengabadikan momen langka ini. Semua mata nelayan yang ada di kapal-kapal lain memandang kami dengan penuh tanda tanya, kenapa ada sepeda naik ke atas kapal. Setelah mengerti, barulah kami saling sapa dan memfoto mereka.
Kapal yang kami gunakaan bernama Jol, entah apa artinya. Biasanya kapal ini digunakan para nelayan tradional untuk mencari ikan. Ia berjalan dengan sangat lambat karena mesin dipasang langsam saja. Karena arus yang sangat kuat, kapal mengambil jalur sedikit memutar agar terhindar dari tarikannya. Kami melawati sebuah dok kapal yang tadi kami lihat jauh dari atas puncak bukit dan proyek reklamasi dengan truk-truk raksasa mengangkut pasir dan batu-batuan. Sementara backhoe dan kapal keruk siap membantu. Di sisi lain, banyak bagang untuk memelihara ikan di perairan yang masih dangkal dengan ciri keruh ini.
Untunglah ombak dan angin tidak terlalu besar sehingga kapal tidak terayun-ayun. Ia patuh pada perintah nahkoda untuk menuju Kasemen. Selain bukit Gerem yang kita lihat jauh di sebelah barat laut, tampak pula Gunung Pinang di kejauhan di sebelah selatan. Om Pri tampak melamun, mungkin berpikir bagaimana caranya langsung ke Kramatwatu dari situ tanpa harus ke Kasemen dulu hehehe….
Pukul 15.30. Adzan ashar mengiang di telinga ketika kami merapat ke dermaga di Desa Margaluyu, Kecamatan Kasemen. Dermaga ini biasa kita lihat di kejauhan sepulangnya dari Pulau Burung. Segera kami bongkar sepeda-sepeda dan siap-siap gowes lagi ke Serang yang jaraknya masih sekitar 10 km. Tanpa banyak ba-bi-bu, teman-teman langsung memacu sepeda- sepeda mereka. Karena penat, saya gowes pelan saja, ditemani Om Even di belakang. Saya perkirakan, saya akan sampai rumah dalam waktu 45’. Sampai di alun-alun, tampak jalanan basah karena hujan baru saja reda. Alhamdulillah tidak kehujanan. Dan, syukurlah sekitar pukul 16.15, saya sampai juga di rumah. Tepat sesuai perkiraan.
Sebuah perjalanan yang mengasyikkan.

12 comments:

CoKlat@Chelski said...

Ihiks....ihiks...ihiks....
Sayang episode ini terlewat lagii.....

fLash said...

Saking sorenya pulang,,,, sampai ada sms dari rumtje, isinya: 'lama benerrrrrrrrrrrrrrrr'. Walah "r"-nya banyak benerrrrrrrrrrrrr. Hehehe.....

mars said...

Tanjakannya manstab bgt...
Turunnan jg yahud...baru kali ini rem sepedaku terbakar (kayak bis akab serang-jakarta)

Dodo Chupeet said...

Ooooo... gitu yaa..??? Tanjakan mantabs.. turunannya yahuds... rem kebakar... Naik kapal motor juga yaa... Oo..oo Pantes....

nayusman said...

terus ada makan siang yang mantaps...terimakasih P'Didit

Anonymous said...

semoga terulang perjalanan yang menyenangkan...

NAKHLA said...

Wih.. betul-betul mantap lengkap ada mendaki gunung, menelusuri lembah mengarungi lautan... sedap betul.. biar kaki bengkak...tapi hati happy.

Anonymous said...

p happy ikut ya...

window cleaning service said...

Ooooo... gitu yaa..??? Tanjakan mantabs.. turunannya yahuds... rem kebakar... Naik kapal motor juga yaa... Oo..oo Pantes....

astroz3 said...

..sayang..ketinggalan truk... ya cilowong aja deh itung2 pemanasan jelang Tour De Cilowong

Anonymous said...

Brooooo...kalau bisa jangan goes daerah cilegon - serang kalau yg kuat coba goes ke daerah pesawahan purwakarta...pasti nikmat deh

mars said...

purwakarta boleh lah...

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons