Wednesday, August 11, 2010

RUMAH HUTAN-PANCANEGARA BERSAMA ROBEK

Alhamdulillah. Hari Sabtu tanggal 7 Agustus 2010 kemarin, kami kedatangan komunitas sepeda dari Bekasi, yaitu Robek alias Rombongan Bekasi. Ini adalah kali kedua mereka datang setelah kami mengeksplorasi Cidampit pada kunjungan pertama. Kali ini, kami berencana akan gowes bareng kembali menuju Rumah Hutan di Cidampit dan balik ke Serang melalui trek Pancanagara, melintasi Kali Banten yang asyik.

Robek yang datang sekitar pukul 7.30 di meeting point halaman KPP Pratama Serang, berkekuatan 32 orang. Luar biasa, kami pun sejumlah itu. Bersyukur karena beberapa teman yang sudah lama absen gowes bareng karena berbagai kesibukan, kali ini bisa hadir. Om Dodo yang kudanya sudah terjual, kali ini “setor muka” menggunakan Congo-nya dan hanya ikut berpose saja hehehe…. Jangan mengira Congo itu sejenis sepeda, dia adalah vespa tua kesayangannya, yang biasa dia ucapkan pespa.
Setelah semua memersiapkan sepeda, menyantap rebus-rebusan, dan menyeruput teh manis atau kopi yang disiapkan oleh tim logistik yang digawangi Om Didit dan Om Yopie (terima kasih, Om!), rombongan siap melakukan start. Jalur yang akan dilalui seperti biasa, dimulai dari Jalan Raya Takari, terus naik sampai ke Desa Pereng, selepas Kp. Cilowong. Di sana, kami akan lanjutkan dengan menyusuri single track ke dalam hutan di Desa Cidampit. Teringat perjalanan kami ke sana sebelumnya, yaitu Rumah Hutan: Gowes Bareng Kapolda Banten (I) dan (II), Rumah Hutan bersama Robek, dan Rumah Hutan.
Di tengah perjalanan, seorang Robek yunior terpaksa harus tukar sepeda dengan Om Ras karena sepedanya yang fulsus terlalu mengayun walaupun sudah disetel yang berakibat dia kehilangan banyak tenaga terbuang. Nanti, selepas Rumah Hutan, dia kembali tukar sepeda dengan, kali ini Om Kus, karena rem depannya bermasalah. Rekor baru, perjalanan dengan tiga sepeda, ya Dek.
Selepas puncak Cilowong, ada dua “baju hijau” naik angkot, menurut pengakuan mereka, sengaja karena untuk mengejar rombongan, mengingat bagian RD-nya sempat rusak ketika masih di Taktakan. Ayo ngaku siapa…..
Sampai di Desa Pereng sekitar pukul 11 dengan harapan semoga trek tidak terlalu basah dan licin karena Jumat dinihari sebelumnya, hujan cukup deras mengguyur Serang dan sekitarnya.
Dan memang benar, trek terlalu licin dan becek sehingga menuntut keekstra-hati-hatian supaya kami tetap bisa memertahankan keseimbangan sepeda. Dua perempuan goweser dari Robek ternyata tangguh juga. Bravo. Ban selip, TTB, ngusruk, menjadi pemandangan biasa bagi kami. Bahkan, tim sweeper, yaitu aku, Om Agus, dan Om Pri sampai ngusruk beruntun, seperti tabrakan beruntun. Tapi, buat Indra, itu sudah biasa. Kubangan saja dia hajar. Tidak afdol rasanya kalau tidak belepotan lumpur. Jalanan bertambah licin karena hujan sempat turun lagi. Semua barang elektronik masuk plastik. Atap yang melindungi kami hanyalah kanopi daun di atas. Jadi ingat ekspedisi ke Ujung Kulon dulu (Baca Ekspedisi Taman Nasional Ujung Kulon.) Seandainya trek agak kering….
Tiba di Rumah Hutan menjelang pukul 13, kami disuguhi kelapa muda dan maksi sederhana tapi mantap made in Om Didit lagi. Terima kasih lagi, Om! Sebenarnya, Om Didit dan Om Yopie, dibantu ‘Pasukan Gurkha” yang bertugas di logistik merupakan pahlawan sesungguhnya. Mereka rela tidak nge-gowes demi menjaga perut-perut goweser lain tidak keroncongan. Sebelumnya, beberapa goweser yang melalui Kp. Bojong sudah datang duluan dengan sepeda dan pakaian bersih. Nah lo, padahal goweser yang lewat hutan, berpenampilan hancur-hancuran. Ternyata mereka tidak kebagian jatah hujan dan karakteristik trek yang dilalui pun berupa jalan makadam yang kering.
Setelah semua kenyang, solat dzuhur, menjelang pukul 14, perjalanan kami lanjutkan melalui Kp.Pancanagara. Karena sudah lewat tengah hari, trek ini tidak terlalu becek, masih bisa dilalui dengan ‘agak’ cepat. Bolehlah, asal tetap berhati-hati.
Mengakhiri trek aspal di Jalan Tongleng-Serdang Lor, kami mulai memasuki trek tanah. Jalan ini baru saja diperlebar, sehingga trek lumpur yang sebelumnya harus kita lalui dengan susah payah, sekarang sudah hilang diganti jalanan tanah rata nan lebar. Syukurlah, terasa ada pembangunan di sini.
Tiba di Kali Banten sekitar 15.30. (Perjalanan sebelumnya, silakan baca Bermain Air di Pancanagara.) Para goweser tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mencuci sepeda-sepeda mereka yang warnanya seragam, coklat semua karena lumpur. Beberapa malah tanpa ragu berendam dengan sepeda-sepedanya. Sementara, sweeper masih nun jauh di atas, mengawal seorang anggota Robek yang sudah dua kali putus rantai. Rantai ini baru dibenerin Om Mars di Kp. Pasagi Serut, pas di pinggir Jalan Raya Bongla (Tembong-Palka.) Tim advance yang sudah dikirim duluan, sudah tidak tampak batang punggungnya.
Naik ke atas Kp. Pasagi Serut. Bagi goweser yang kelelahan, bisa menyewa jasa ojek dorong sepeda ke atas hehehe…., lumayan. Saya di belakang, ditemani Om Dono dan Om Mars yang buka bengkel sepeda, baru berangkat setelah pukul 16.30. Rombongan depan sepertinya sudah sampai di titik finish di KPP Pratama Serang lagi karena HT yang kami gunakan sudah tidak dapat dipakai komunikasi lagi. Mungkin karena jarak yang terlalu jauh.
Demikianlah goweser semua, semoga teman-teman Robek merasa puas dan tidak kapok mengeksplorasi Serang dan sekitarnya bersama kami. Kita nantikan event berikutnya.

2 comments:

astroz3 said...

keren mas... terima kasih liputan kunjungan ROBEK yang kedua...(setelah yg pertama nggak ikut, sehingga tidak ada liputannya)....semoga teman2 ROBEK tidak bosan...hidup sepedaan...!!!

CoKlat@Chelski said...

Waduh baru baca neehhh....,tks smuanya...nggak ada loe nggak rame...
Let's ride...

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons