Monday, October 25, 2010

Expedisi Curug Putri-Pandeglang

Kegiatan ngegowes kali ini lebih tepatnya disebut Expedisi karena ada campuran naik truk, gowes dan mendaki gunung.

Perjalanan dimulai di lokasi tempat ngumpul yaitu KPP Pratama Serang dan jumlah yang hadir dari komunitas sendiri kurang lebih 26 orang ditambah tamu 2 orang jadi totalnya 28 orang.

Sebetulnya ada usul agar dari Serang digowes sampai tempat yang dituju tapi karena pertimbangan menghemat tenaga maka diputuskan menyewa truk 2 mobil sekaligus…satu buat sepeda dan satunya ya buat kita lah hahaha.

Serang – Pasar Mengger

Selama perjalanan menuju pemberhentian yaitu pasar Mengger bisa dibilang asyik dan seru masalahnya selama perjalanan kita disuguhi pemandangan kota pandeglang yang sejuk plus jalanan yang turun naik yang menjadi khas daerah yang berada dipinggir pegunungan dan selain itu jalanan ke pandeglang terkenal dengan bus-bus yang melaju dengan kuencang dan perjalanan memakan waktu kurang lebih 40 menitan.

Pasar Mengger yang menjadi pemberhentian sebetulnya bukanlah pasar tapi lebih tepatnya tempat persinggahan kendaraan yang menurunkan dan menaikkan penumpang. Setelah semua sepeda diturunkan sebagian peserta ada yang merenggangkan otot karena rasa pegal selama perjalanan dan ada juga yang menyiapkan perbekalan.

Setelah berdoa sebentar akhirnya perjalanan menuju Curug Putri segera dimulai dan perjalanan kali ini dengan type trak OnRoad. Walau dibilang OnRoad tapi medan jalan yang dilalui adalah jalan menuju arah pegunungan sudah pasti kita disuguhi oleh tanjakan yang cukup menguras tenaga para goweser, menurut orang setempat jalanan dengan tanjakan yang melingkar disebut tanjakan Mandalawangi.

Karena tanjakan yang disuguhi lumayan panjang ternyata beberapa goweser termasuk saya mengalami kram aneh, yaitu merasa sesuatu yang menjadi milik ‘pria” seperti hilang..lenyap….(dah sampai sini ya).

Total perjalanan kurang lebih 13 Km dengan perkiraan trek 70% tanjakan (mesem dan manyun), 20% turunan biasa
dan 10% jalan datar.

Warung Ema

Pemberhentian kedua yaitu disebuah warung yang dikenal dengan nama Warung Ema yaitu didesa Medalsari. Ada satu yang unik dari Warung Emak ini, ternyata bisa dibilang Warung Ema adalah pos pemberhentian dari setiap orang yang akan memasuki kawasan Air terjun (Curug) Putri dan Kawasan gunung Pulosari hal ini terlihat dari beberapa foto/sertifikat dan tulisan yang dibalut bingkai sebagai tanda atau pengakuan kepada Warung Ema sebagai bagian dari ekspedisi mereka.

Disini semua goweser makan dan minum sepuasnya, malah ada satu goweser setiba diwarung langsung pesan nasi satu piring hahahahaha (mungkin makan pagi kali maksudnya), setelah masa istirahat dirasa cukup perjalanan dilanjutkan dengan disuguhi trak menurun tapi langsung dikasih tanjakan panjang.

Dalam perjalanan saya mendapatkan pemandangan yang sangat indah yaitu bisa melihat pantai Labuan pandeglang disebelah kanan dan gunung disebelah kirinya.

Dan akhirnya tiba dipintu gerbang menuju curug, yaitu jalan yang sudah diberi paving blok, sehingga cukup memudahkan kita untuk menggowes, namun jalan tersebut hanya beberapa puluh meter yang disudah diberi paving blok dan sisanya adalah jalanan khas menuju sebuah gunung yaitu jalan tanah yang bercampur batu yang tidak beraturan dan akhirnya sepeda kita tuntun, tapi seiring medan yang makin dirasa berat jika harus membawa sepeda akhirnya diputuskan kalau sepeda kita tinggal dan untungnya salah satu penduduk yaitu mbah jamin mau menungguinya.

Dan perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki, untunglah kondisi cuaca yang merem melek alias berawan gelap membuat stamina tetap terjaga.

Jalanan yang saya taksir kurang lebih kisaran 300-500 meter dengan tingkat kecuraman 45-60 derajat, memberikan sensasi tersendiri karena beberapa kali kita bertemu dengan penduduk setempat yang membawa anak kecil tapi sambil membawa ranting kayu yang dijadiin bahan bakar untuk keperluan rumah tangga dan selama perjalanan pula kita melihat pipa paralon atau batang bambu yang dijadikan sebagai aliran air untuk digunakan penduduk setempat.

Dalam perjalanan saya menemukan papan Selamat Datang yang sayangnya sudah dipenuhi oleh coretan dari pendatang/pendaki yang tidak bertanggungjawab, mungkin maksud awalnya baik untuk menunjukkan bahwa mereka sudah pernah kesana tapi yang ada membuat pemandangan tidak sedap dan tidak patut untuk ditiru oleh siapapun yang merasa menjadi pecinta alam.

Curug Putri

Akhirnya sampailah ditempat yang dituju yaitu curug putrid, ternyata tempat ini begitu ramai yang kebanyakan para ABG yaitu anak sekolah SMP, SMA dan ada juga Mahasiswa yang ternyata mereka telah berkemping sebelumnya (malam sabtu dan minggu).

Untungnya kegiatan mereka sudah selesai jadi kita cukup leluasa untuk bisa menikmati air terjun (curug putrid) tersebut, dan sudah dipastikan saya dan para goweser lainya segera nyebur atau untuk sekedar ambil foto.

Namanya juga air pegunungan ketika badan terkena air langsung menggigil hahaha jadinya setelah mengambil beberapa foto saya segera pergi untuk menyantap kelapa muda.

Setelah beberapa saat menikmati pemandangan disekitar curug dan Shalat Dhuhur di Base Camp, akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang karena kondisi cuaca yang terasa makin dingin karena hujan mulai turun.

Karena perut sudah dilanca lapar maka diputuskan untuk mengisi perut terlbih dahulu dan mie rebus adalah pihan utama.

Ada yang lucu ketika makan mie, ternyata ketika saya pesen mie rasa soto pas makan wanginya berubah menjadi mie rebus rasa kebo dan ini emang kenyataan ketika indra ke tiga saya yaitu hidung mulai kasak kusuk plus gorden saya singkap…hhhmmm persisi disamping saya duduk terdapat kebo lagi asyik dkubangan hahaha.

Sekitar jam 14 lewat dikit team memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan pulang, diantara pilihan gowes sampai Pasar Mengger kemudian dievakuasi dengan truk atau gowes sampai serang dan akhirnya diputuskan gowes sampai serang.

OnRoad menuju Serang

Perjalanan awal yang penuh tanjakan akhirnya terbayar lunas karena team akhirnya menikmati turunan (bonus perjalanan pulang) yang membantu menghemat tenaga, dengan kondisi jalan yang licin tak menyurutkan untuk tetap mengayuh dengan kecepatan yang tinggi.

Setibanya dipasar Mengger diputuskan untuk menghirup udara sejenak dan beristirahat karena ada beberapa goweser yang cukup tertinggal jauh, dan ternyata dari bincang-bincang yang ada ternyata ada beberapa goweser yang terpaksa pipis sambil gowes hahahaha, maklum dengan kondisi jalan turun disertai hujan membuat berpikir ulang untuk berhenti hhmm.

Perjalanan dilanjutkan menuju kota Pandeglang dengan tujuan pemberhentian di Alun-alun kota, selama perjalanan team menjadi tontonan tersendiri buat masyarakat Pandeglang karena mungkin jaran-jarang ada komunitas sepeda yang bela-belain bersepeda ditengah rintik hujan.

Setibanya di Alun-alun kurang lebih pukul 15 lewat sekian menit (perkiraan lho), setelah rehat sejenak dan berganti kostum yang lebih kering serta foto-foto perjalanan dilanjutkan kembali.

Awal perjalanan masih bisa dibilang bareng-bareng tapi ketika setelah berjalan kurang lebih 4-5 kilo team mulai terpecah, dan saya sendiri memutuskan untuk mengayuh lebih cepat karena entah kenapa saya kangen dengan yang ada dirumah.

Dan tiba dirumah kurang lebih pukul 16.15 WIB.

Akhirnya selesai sudah perjalanan kali ini, yang menurut saya cukup gila namun saya mendapat kabar terjadi insiden dimana salah seorang goweser yaitu pak kusniawan (team medic) sempat diserempet bus dari arah pandeglang disekitar Palima, namun untungnya tidak sempat jatuh tapi masih ada luka kecil akibat dari insiden tersebut.

Jika dirangkum jarak yang sudah ditempuh adalah kurang lebih 50-60 KM dengan trek pulang 50% turunan, 35% jalanan datar, 15% tanjakan mesem.

Keterangan istilah :

- Tanjakan mesem : artinya tanjakan masih bisa dilalui dengan senyuman

- Tanjakan manyum : artinya tanjakan bikin kita mengehela nafas panjang tanpa bisa berbagi senyum hehehee dan biasanya suka beristigfhar…..

Salam.

Dan saya kasih bonus deh, ini adalah peta perjalanan kami kemaren :

9 comments:

CoKlat@Chelski said...

Nais posting,...waduh kabar mas Kus gimana...,semoga luka2 cepet sembuh....

astroz3 said...

keren banget ekspedisinya... lanjutkan....

ASTROZ4 said...

ALHAMDULILLAH........ MANSTAP PERJALANANNYA.... SEMOGA YANG BELUM KEBAGIAN TREK INI BISA BERGABUNG DENGAN TREK-TREK BERIKUTNYA.... AMIN
TUK MAS KUS. SEMOGA LEKAS SEMBUH.

mars said...

Diluar dugaan tracknya...
Tapi manstab...sampe pantatku kram...

fLash said...

Om Pri mencapai max speed 56 km/jam di turunan mengular itu yah... saya sih unlimited speed karena gak pasang speedometer wkwkwk....

Mey said...

tolong periksa "anu"nya masing-masing masih berfungsi pa engga hahahahhaa

Koes said...

Trims atas doanya...sehat-sehat saja cuma oleng disrempet bus ngak sampai nyungsep..., rutenya sip...sayang ngak sampai di kawah ...soalnya dikawah nga ada yang jualan mie ayam....he...he..he...

Agenda Sepedaan said...
This comment has been removed by the author.
mars said...

Kurangnya komunikasi, menyebabkan rombongan terpecah saat pulang...
Tuk berikutnya agae dikoordinasikan alat komunikasi dgn baek.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons