Wednesday, December 08, 2010

KAMPUNG CIPALA (+404m dpl)

Assalamualaykum goweser semua. Semoga kesehatan jiwa dan raga tetap Allah SWT limpahkan kepada kita semua.

Hari Sabtu tanggal 4 November 2010, sesuai rencana, kami akan up hill ke atas Kampung Cipala sekalian menanam beberapa bibit pohon jati dan kayu albasia. Walaupun hanya sedikit, mudah-mudahan niat kami dapat bermanfaat bagi kelestarian alam, sesuai visi kami untuk ikut berpartisipasi membuat bumi tetap hijau. Namanya up hill, sudah barang tentu kami akan disuguhi trek menanjak. Mudah-mudahan semuanya kuat sampai ke atas. Lumayan juga untuk pemanasan bagi teman-teman yang akan ikut lomba up hill di Gunung Pinang keesokan harinya.


Kampung Cipala berada di ketinggian 404m dpl dan masuk ke dalam wilayah Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Desa ini dikembangkan sebagai desa wisata oleh Pemkot Cilegon dengan beberapa jenis aktivitas seperti agro, hiking, jogging, camping, dan layang gantung. Bagi sebagian besar dari kami, tempat ini masih asing dan belum pernah dieksplorasi, kecuali bagi Kang Ola tentunya yang dibesarkan di sana.

Seperti biasa, titik berkumpul di halaman KPP Pratama Serang sekitar pukul 6. Karena truk yang kami pesan sempat mogok, jadwal keberangkatan pun molor sampai sekitar pukul 7.30. Setelah beres menyusun sepeda ke atas truk, sebanyak 13 orang peserta siap bertualang ke Kampung Cipala. Ada Om Agus, Om Kus, Kang Ola, Om Didit, Pak Ai, Om Mars, Om Hendra, Om Even, Om Yusman, Om Yudi Z. yang lama baru gabung kembali, Om Kusnanto dari Ciruas yang baru bergabung dengan kami, dan saya sendiri. Belum termasuk Om Dodo yang mengangkut sepedanya dengan mobil langsung ke Gerem, Om Opik yang sudah menunggu di istananya di Gerem, dan Om Danar yang sudah duluan gowes ke lokasi. Sekalian latihan untuk persiapan gowes ke Yogyakarta katanya. Hebat Om!

Merak! Melalui Merak, Terminal Terpadu Merak masih harus menunggu penyelesaian akhir. Jembatan layang yang dapat digunakan langsung mengakses Pelabuhan Penyeberangan Merak juga masih dalam proses konstruksi. Lumayan membuat macet dan polusi udara. Antrian truk juga sangat-sangat panjang menanti giliran masuk ke kapal. Tampak kacau-balau semuanya. Mudah-mudahan ke depan semakin membaik. Jadi kepikir, kapan jembatan selat sunda bisa direalisasikan?

Sekitar pukul 9, di penghentian akhir truk menjelang menanjak, beberapa meter dari Jalan Raya Suralaya, kami segera membongkar sepeda-sepeda dan memersiapkan bibit-bibit pohon yang akan kami tanam. Untuk memudahkan membawanya, bibit kami masukkan ke dalam kantong plastik dan kami ikat dengan rafia. Ada yang diikat di punggung, ada yang di sepeda. Persis seperti tentara sedang melakukan kamuflase dengan pohon-pohonan. Om Yusman setia ditemani gulungan tali rafia karena tidak membawa bibit pohon hehehe....

MENUJU PUNCAK CIPALA
Ayo tanam!
Kami akan mulai mendaki dari arah Barat Kp. Cipala. Trek yang kami lalui sampai puncak sangat mulus dengan lapisan hotmix. Jaraknya tidak jauh, hanya 3,5km saja. Tetapi, kami harus naik dari sekitar 0m dpl ke 400m-an. Bayangkan tanjakan yang harus kami taklukkan. Hasilnya, dibutuhkan waktu sekitar 2jam-an. Tidak semua waktu digunakan untuk gowes memang. Sebagian besar digunakan untuk kegiatan menanam pohon di beberapa tempat, ngaso agak lama karena tajamnya tanjakan yang membuat nafas terengah-engah dan kaki pegal bukan kepalang, serta foto-foto tentunya!

Ya, foto-foto karena pemandangan di bawah luar biasa indah dengan lembah menghijau di sekitar dan perairan Selat Sunda yang sibuk oleh lalu lintas kapal, dengan latar belakang Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sumatera di kejauhan. Namun, di balik itu, beberapa bagian bukit sudah hancur oleh dinamit dan traktor untuk diambil batu-batuannya. Kami juga sempat mengambil gambar tepat di bawah menara sutet yang berbentuk seperti robot Voltus.
Tanjakan tiada henti
Menjelang puncak di Kp. Cipala, beberapa goweser yang sudah menyerah, menyewa ojek dorong sepeda. Anak-anak SD Cipala dengan riang gembira ikut membantu membawakan sepeda beberapa goweser. Om Hendra dan Om Even yang sempat tertinggal karena TTB selalu kompak berdua, bahkan sambil mendorong satu sama lain. Sampai-sampai kami panggil mereka dengan sebutan Even dan Uvin hehehe....

Setelah melewati trek tanpa turunan sedikit pun, tiba juga di Kp. Cipala sekitar pukul 11. GPS menunjukkan kami berada di ketinggian 404m dpl. Seperti biasa, kami mencari warung yang menyajikan minuman teh manis ditemani beberapa penganan. Terasa betapa indahnya gowes kalau ada warung. Nun jauh di bawah, masih tampak perairan Selat Sunda. Pemandangan sungguh indah terlihat dari atas sini. Namun, keindahan itu tidak lama kami saksikan karena beberapa menit kemudian, mendung menggelayut dan kabut tebal menutupi pandangan ke bawah. Hanya sepeminuman teh saja kami rehat dan siap-siap melanjutkan perjalanan ke Pantai Kelapa Tujuh di Suralaya.
PLTU Suralaya di belakang

KELAPA TUJUH, SURALAYA
Jalanan menurun menuju Kelapa Tujuh di Kelurahan Suralaya, sangat berbeda. Kali ini, kami mengarah ke Barat Laut dengan pemandangan di bawah masih perairan Selat Sunda dan PLTU Suralaya dengan enam menaranya yang khas. Jalanan tidak dilapisi hotmix tetapi aspal curah dengan kerikil-kerikilnya yang terlepas. Sangat licin. Apalagi, kami harus mengerem. Beberapa kali ban sepeda selip. Beberapa bagian jalan sudah bolong-bolong. Sangat membahayakan karena kami melintasinya dengan kecepatan tinggi.

Setelah beberapa kali berhenti karena mengambil foto-foto, yang membuat rombongan depan bingung kenapa rombongan belakang lama sekali, akhirnya tibalah kami di Jalan Raya Suralaya kembali, dekat Markas Polairud Merak. Hanya beberapa ratus meter saja dari Kelapa Tujuh, sebuah tempat wisata pantai yang tidak terlalu besar sebenarnya. Kata Kang Ola, sewaktu dia masih kanak-kanak, tempat ini pernah dijadikan tempat pengambilan gambar untuk film Pinokio yang diperankan oleh Ateng-Iskak. Jadul amat. Hehehe......, ingat saja Kang Ola. Jangan-jangan, dia ikut jadi figuran saat itu.

Setelah solat dzuhur di masjid Raudlatul Jannah di komplek PLTU Suralaya dan menyantap gado-gado, beberapa dari kami bertransformasi dari goweser menjadi swimmer. Mereka mencoba menghilangkan panasnya cuaca saat itu dengan berenang di laut. Yang tidak berenang, cukup leyeh-leyeh saja di atas tikar seperti raja, atau keliling-keliling dengan sepeda. Sepeda Om Kus dan Om Yudi Z. sempat dipinjam anak-anak SMA, gowes entah kemana. Untung mereka balik lagi hehehe.... Kalau tidak, bisa gawat. Sementara, mobile-bakso malang terlihat berjejer rapi. Disebut mobile karena mereka berjualan dengan menggunakan sepeda motor, jadi bisa berpindah tempat dengan cepat.
Grow up can wait!
Om Danar pulang duluan ke Serang karena akan gowes saja sampai finish di rumahnya. Sementara, Om Dodo balik ke Gerem untuk mengangkut sepeda dengan mobilnya karena harus buru-buru ke bandara menjemput rombongan haji. Sisanya, sekitar pukul 15, dievakuasi truk sampai ke pertigaan Kepandean, Serang. Macet dan polusi masih setia menyertai kami di sekitaran proyek konstruksi di Merak.

Akhirnya, kami tiba juga di Serang menjelang pukul 16.30, tentunya dengan pengalaman baru menaklukkan tanjakan-tanjakan Cipala.

Lebak Gedong, tunggu kami!

Wassalam.

6 comments:

CoKlat@Chelski said...

Bukit Gerem sudah...,Gunung Cipala sudah....nunggu jadwal kamana lagi ya....

yusman said...

bukit berbunga kapan...

--mars-- said...

Bener2 tanjakan doang...datarpun tak ada sama sekali, palagi turunan.
Tp ada kejadian GANJIL dgn sepeda om Even...ckckckckckck
Ada aja yG iseng gt...

fLash said...

Kirain sepeda Om Even dikerjain jin iseng, ternyata emang udah rusak ya qeqeqe.....
Selanjutnya, tentu saja gowes dan arung jeram Ciberang di Lebak Gedong, Lebak. Yuk, tarik Mang!

--mars-- said...

Smoga penanaman pohon kali ini terus berkelanjutan dan sbg awal penanaman pohon massal dilain kesempatan.

Rafi Maulana said...

Gg nyangka Cipala Itu bgus bgt

Ya Ampun gg sbar nunggu k sna...

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons