Monday, December 27, 2010

GOWES-ARUNG JERAM KE SUNGAI CIBERANG, LEBAK

Alhamdulillah. Apa kabar goweser semua? Mudah-mudahan kita selalu dilimpahkan kesehatan jiwa dan raga oleh Allah SWT.
Sesuai rencana, hari Jumat-Sabtu tanggal 24-25 Desember 2010, kami berencana akan gowes dan berarung jeram di Sungai Ciberang di Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Banten. Gowes dimulai dari Serang sampai ke lokasi dengan jarak sekitar 80km, bermalam di lokasi, dan esoknya berarung jeram. Terdengar mengasyikkan!
Cuaca sangat cerah hari Jumat itu di titik kumpul seperti biasa, halaman KPP Pratama Serang. Terdapat 19 orang yang akan gowes, yaitu Mars, Agus, Dida, Didit, Dodo Chupet, Iyan, Pak Ai, Taufik, Pak Ade, Akbar, Kusni, Supri, Yopi, Tsauban, Indra, dan Ola. Yusman, Bayu, dan Imam ikut juga tetapi hanya gowes saja sampai ke lokasi tanpa menginap dan kembali ke Serang dengan menggunakan mobil. Pak Ade dan Akbar adalah teman goweser dari Cilegon yang bergabung dengan kami kali ini.

Tepat pukul 7 kami memulai perjalanan. Etape pertama adalah Serang-Rangkasbitung dengan jarak sekitar 35km melalui Jalan Raya Petir kemudian tembus ke Cibadak, Lebak. Hampir semua peserta sudah mengetahui karakteristik jalan ini. Lapisan aspal yang tidak terlalu bagus dengan bolong-bolong di banyak titik, jalan yang cenderung sempit untuk berpapasan dua mobil, walau bisa disebut jalur alternatif tetapi cenderung ramai dengan polusi udara, dan kontur yang naik sampai ke Jalan Raya Petir-Warunggunung.
Pada jarak sekitar 27km, kami mengambil arah Cibadak yang merupakan salah satu jalur alternatif menuju Rangkasbitung, tanpa melalui Warunggunung. Inilah Jalan Raya Arif Rahman Hakim. Dari sini, jalanan mulai turun dengan lapisan aspal yang lebih bagus. Memasuki Kota Rangkasbitung, di perempatan Jalan Soekarno-Hatta, rombongan mengisi perbekalan sejenak dan memuat tas-tas ke atas mobilnya Om Bayu yang akan mengawal sampai ke lokasi. Terima kasih, Om. Mobilnya sangat bermanfaat!

RANGKASBITUNG
Kota kecil yang sejuk ini sebenarnya sudah terkenal sejak zaman penjajahan Belanda. Apalagi sejak Eduard Douwes Dekker, yang memiliki nama pena Multatuli, seorang Belanda, menulis novel berjudul Max Havelaar pada tahun 1860. Novel ini menceritakan nasib buruk rakyat yang dijajah karena sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputera di daerah Lebak, Banten, dengan memuat drama tentang Saijah dan Adinda. W.S. Rendra pun yang kita kenal dengan julukan Si Burung Merak, tidak ketinggalan dengan menuliskan kumpulan puisi berjudul Orang-orang Rangkasbitung (1993).
Memasuki Kota Rangkasbitung, kami melalui Jembatan Dua yang memotong Sungai Ciujung di atasnya. Disebut demikian karena terdiri dari dua jembatan yang dibangun sejajar, yaitu untuk kendaraan bermotor dan untuk kereta api jurusan Serang dan Merak. Jembatan ini dibangun sejak zaman pendudukan Belanda yang dulunya memiliki pos-pos pengintai menuju arah Serang.
Di alun-alun, sekitar pukul 9, kami berfoto sejenak dengan latar belakang menara masjid agung yang seperti roket siap diluncurkan. Alun-alun terlihat resik, apalagi kalau dibandingkan dengan alun-alun Kota Serang yang kumuh dengan segala jenis pedagang K-5, mobil-motor parkir di tengah alun-alun, dan penjaja mainan anak-anak yang ikut meramaikan suasana. Belum lagi transaksi orang-orang ‘dewasa’ di malam hari.
Tidak lama, kami menuju penghentian selanjutnya di rumah orang tua saya di Kp. Rancapinang untuk menikmati teh manis dan sedikit rebus-rebusan untuk sekedar mengganjal perut. Dengan demikian, total sekitar 2jam-an kami meng-gowes dari Serang sampai ke Rangkasbitung.
Setelah cukup beristirahat, sekitar pukul 10, perjalanan kami lanjutkan ke etape selanjutnya ke Lebak Gedong dengan rencana solat Jumat di Puslatpur, Ciuyah. Jalur yang kami lalui adalah Jalan Siliwangi yang lebar dan mulus yang tembus di Jalan Raya Bogor. Kami melalui Stadion Pasir Ona yang baru saja menjadi pusat kegiatan olahraga Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Banten. Tampak hasil pembangunan di sini.
Memasuki Jalan Raya Bogor, di kanan-kiri kami, perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis) milik PTPN VIII Cisalak Baru mengapit kami. Terasa panas karena pohon ini memang bukan tanaman penyejuk. Panas dari atas (matahari) dan bawah (aspal) menjadi cobaan tersendiri.
Menjelang pukul 11.30, kami tiba di masjid di komplek Pusat Latihan Tempur, Ciuyah, milik Rindam III Siliwangi. Karena waktu solat masih lama, kami bisa mencuri kesempatan untuk rehat. Teringat, dulu sewaktu Pramuka Penggalang di SDN 1 Rangkasbitung, saya ikut perlombaan Lomba Tingkat IV di lapangan Puslatpur ini. Membanggakan karena walaupun hanya juara umum kedua, tapi bisa mengalahkan sekolah-sekolah lain yang tingkatannya lebih tinggi (SMP) hehehe….
Sementara, di seberang jalan, anak-anak pesantren tampak berbaris berbanjar rapi, berjalan “ngabaduy” menuju masjid. Seusai solat, masih di masjid, kami bertemu dua goweser dari Bogor yang mengaku tidak memiliki tujuan gowes. Sesampainya saja, kata mereka.
Perjalanan dilanjutkan kembali sambil mencari tempat yang sejuk untuk makan siang. Menu kali ini sangat istimewa, yaitu nasi merah timbel, ikan asin, tempe, gepuk, urab, dan tak lupa sambal. Alhamdulillah terasa nikmat, apalagi setelah gowes yang melelahkan sejak tadi pagi. Mudah-mudahan menu dan rasanya cocok di lidah teman-teman goweser!
Melewati Kecamatan Sajira, tampak di sebelah kanan kami lembah yang membentang luas. Di sana akan dibangun sebuah bendungan bernama Waduk Karian. Waduk ini direncanakan luasnya sekitar 1.740ha dengan mengokupasi beberapa desa di tiga kecamatan di Kabupaten Lebak, yaitu Cimarga, Rangkasbitung, dan Sajira. Waduk ini akan memiliki kapasitas 219juta meter kubik yang digunakan untuk menyediakan air untuk wilayah Banten dan sebagian Jakarta.
Tujuh goweser di belakang, yaitu Imam, saya, Chupet, Mars, Indra, Tsauban, dan Kusni sempat beristirahat lama di samping Kantor Polsek Sajira karena kelelahan, kepanasan, dan kram kaki. Kami sangat bersyukur Om Kusni ikut, karena Chupet, Tsauban, dan Imam merasakan pijitan saktinya. Hehehe… terima kasih, Om!
Kami pikir rombongan depan sudah entah sampai kemana, ternyata mereka hanya satu belokan saja di depan. Om Yopi dengan gayanya yang khas bahkan tampak di kejauhan. Jiahhhh…. Akhirnya, dengan semangat 45, perjalanan bisa kami lanjutkan lagi menjelang pukul 15.30. Jalan masih panjang…., kata Andi Liani.
Selepas Pasar Gajrug, kami melihat anak sekolah dasar mengendarai motor tanpa helm dan sudah pasti tanpa SIM, menggeber motornya hampir menabrak mobil tanpa perhitungan, sehingga terjungkal dari motornya. Saya jadi berpikir, koq bisa orang tuanya memberikan izin dia membawa motor?
Kami melewati Kantor Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak Wilayah I Lebak. Dari sini, jalanan sudah mulai turun sampai ke bunderan Kp. Bujal, Cipanas pada ketinggian hanya sekitar 196m dpl. Jalur mulai memasuki jalan kecil arah ke Kecamatan Lebak Gedong. Namun, aspal sangat mulus walaupun jalan tidak terlalu lebar. Masih 10km lagi dengan karakteristik trek naik-turun bukit.
Sekitar pukul 17, rombongan terakhir masih di masjid di Kp. Bujal untuk solat ashar. Sekalian rehat tentunya. Bayangan saya, dengan posisi masih di bawah pada waktu itu, bisa jadi kami kemalaman naik ke lokasi. Sementara, rombongan terakhir tinggal berlima. Kita sebut saja the famous five: Imam, saya, Tsauban, Kusni, dan Chupet. Beberapa kilometer dari Kp. Bujal, kami melewati sebuah pesantren modern, La Tansa. Sebuah tempat belajar yang sangat ideal karena udaranya yang sejuk, dikelilingi gunung-gunung, dan tentunya Sungai Ciberang!
Di tengah perjalanan yang mulai menanjak, kami sempat menonton penduduk sekitar yang sedang lomba motokros di sebuah lapangan dengan dua buah bukit sebagai latar belakang. Seperti perbukitan di film Lost, saya pikir. Dengan peralatan seadanya, motor modifikasi sendiri, sandal, tanpa helm, apalagi pelindung-pelindung lutut atau siku, mereka tampak bersenang-senang. Jumping diucapkan menjadi jemping!
Tanjakan curam cukup membuat lemas dan lapar. Sampai-sampai saya harus mencari roti untuk ganjal perut. Di Kantor Kecamatan Lebak Gedong, pada ketinggian 336m dpl, rombongan terakhir kembali beristirahat. Sinyal telepon selular saya yang katanya market leader, sudah mulai hilang-hilang. Sementara, dua kompetitor utamanya malah hadir. Wah, payah… katanya sudah menjangkau seluruh Indonesia! Big lier…. Atau jangan-jangan big lieur.
Selepas itu, masih ada lagi tanjakan curam sampai ke ketinggian maksimal 426m dpl. Luar biasa bagi kami, harus naik setinggi 240m dpl pada jarak sekitar 5km saja! Karena TTB, perjalanan menjadi lambat dan melelahkan. Untunglah, kami menemukan warung mie. Istirahat lagilah. Teman-teman rombongan depan, kabarnya sudah tiba di lokasi. Kami masih satu tanjakan dan satu turunan curam lagi.
Jalanan sudah gelap karena tidak ada perumahan penduduk, apalagi lampu penerangan jalan. Bulan bintang pun tidak tampak di langit. Tidak ada pendaran cahaya sama sekali. Hanya sepeda Om Kusni yang berlampu depan. Untunglah mobil Om Bayu menyusul kami kembali dan menerangi jalan kami dari belakang. Terima kasih Om Bayu dan temannya yang mengemudi. Turunan curam yang mengular yang panjangnya sekitar 2km, kami lalui pelan-pelan saja karena gelap.
Akhirnya, sekitar pukul 19.20, tibalah the famous five ke lokasi Banten Rafting di Kp. Muhara, Kec. Lebak Gedong. Waktu tempuh kami untuk 10km ini adalah sekitar 2jam. Teman-teman rombongan depan sudah datang 3jam sebelumnya dan menghabiskan snack jatah kami hehehe….. Mereka juga sudah pada ganteng-ganteng karena sudah pada mandi dan tinggal menunggu makan malam. Ketinggian di sini 291m dpl. Jadi pada jarak sekitar 2km tadi, kami harus turun sebanyak 135m!
Setelah mandi, solat, kami makan malam. Sayang, menu yang disajikan tidak sesuai dengan pesanan sebelumnya dan perubahan menu ini tidak diberitahukan kepada kami. Jadilah kami makan dengan menu seadanya.
Setelah makan malam, kalau film Julia Roberts berjudul Eat, Pray, Love, maka Pak Tsauban menganut prinsip Eat, Pray, Sleep alias tanpa ba-bi-bu, setelah makan, solat, dia langsung tidur! Hehehe…
Di rumah singgah yang sederhana, sebagian tidur di kamar berlantai kayu dengan lapisan karpet. Saking kerasnya bantal, kepala Om Didit sampai kram. Gimana rasanya ya, kepala kram hehehe…. Kalau gaya Kang Ola tidur lain lagi, kakinya yang bergaya seperti kram, karena dari start sampai finish, posisi tidurnya tidak berubah hehehe…. Pak Ai tidur memakai topi kupluk dan sarung dililit di leher. Tinggal pegang senter, terus bilang, “Villa Om, Villa Om….!” hehehe…. Om Agus tidur seperti penganten sunat dengan peci putih dan sarung. Bakakaknya mana, Om? Pak Didit selalu penasaran kalau mendengar suara perempuan di luar tapi tidak berani beranjak dari tempat tidurnya karena takut diambil alih goweser lain yang mengincar posisinya hehehe… Om Opik yang tidak kebagian tidur di kamar, kali ini menjadi pejabat teras, karena tidur di teras beralaskan tikar tapi mengaku ke isterinya tidur di villa hehehe…. Saya sendiri sempat tidak bisa tidur, mengobrol dekat pintu kamar, sambil menjaga supaya posisi saya tidak ada yang mengokupasi hehehe…. Mars malah muter lagu-lagu metal di ponselnya yang terdengar kurang hi-fi hehehe… Saya request lagu keroncong, tidak ada. Dia gagal mendapat posisi di kamar karena semua goweser sudah merapatkan barisan mengingat raungan dia kalau sedang tidur hehehe…. Belakangan, Chupet yang menjadi korban raungannya hehehe…. Chupet sendiri kebanyakan ngomong. Sampai-sampai kata Umar, guide di sana, kalau kebanyakan omong, nanti di sungai akan diam sendiri hihihi….. Padahal Chupet dan Umar mirip-mirip lho, seperti Ipin dan Upin yang mengalahkan Si Unyil di Piala AFF.
Di rumah singgah, banyak pula rombongan yang menginap, seperti rombongan dari Universitas Pancasila dan komunitas jip Willys dari Tangerang. Selain berencana berarung jeram, sebagian mereka memanfaatkan lokasi Banten Rafting sebagai tempat istirahat dan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Halimun. Sebagian mereka tidur di saung atau pun tenda-tenda yang mereka dirikan. Matinya aliran listrik dari PLN setiap malam menjadi hal biasa di sini. Halah,,,,lagu lama.
Akhirnya, selepas pukul 22, kantuk datang juga. Selamat tidur goweser semua, mudah-mudahan besok menjadi hari yang seru! Bismika Allahumma ahyaa wa amuut…..

MENGARUNGI SUNGAI CIBERANG BERSAMA BANTEN RAFTING


Banten Rafting yang terletak di Kp. Muhara, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak merupakan salah satu penyelenggara wisata arung jeram Sungai Ciberang. Baru didirikan tahun 2007, tetapi karakteristik sungai tidak kalah dibandingkan dua wisata arung jeram terkenal di Sukabumi, Jawa Barat. Sungai Ciberang sendiri berhulu di Taman Nasional Gunung Halimun yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya, sehingga bisa digunakan untuk arung jeram sepanjang tahun, baik kemarau maupun musim hujan.
Lokasinya terletak di pertengahan jalan ke Taman Nasional Gunung Halimun, melalui Pongkor. Itulah mengapa di beberapa rumah di sini, terdapat tempat pengolahan emas tradisional yang didapat dari para gurandil di sekitaran Porong.
Setelah sarapan, yang lagi-lagi menunya tidak sesuai dengan pesanan, sekitar pukul 8, kami bersiap-siap berarung jeram dengan tak lupa memakai pelampung, helm pengaman, dan dayung. Santiaji, peregangan, dan doa dipimpin oleh Om Umar. Ini penting untuk menjaga keselamatan. Jarak yang akan ditempuh sekitar 9km dengan perkiraan waktu tempuh sekitar 1,5-2jam.
Kami menggunakan tiga perahu. Saya bersama Om Agus, Pak Ai, Om Yopie, Kang Ola, ditambah Om Yudi, seorang atlet perahu naga dari Universitas Indonesia, yang menurut pengakuannya setiap minggu berarung jeram di sini.
Ketinggian air di titik start sekitar 50cm. Pas enak-enaknya berarung jeram. Menurut pengakuan Om Yudi, Sungai Ciberang lebih tricky dibandingkan dua arung jeram terkenal di Sukabumi tadi. Menurut Om Agus, air di Ciberang lebih jernih. Oke-lah kalo begitu, saya kan belum pernah berarung jeram di sana hehehe….
Kondisi sekitar sungai masih sangat asri. Mungkin karena jauh dari jalan raya, sehingga masih jarang terjamah manusia. Kami bahkan masih bisa melihat burung-burung elang yang terbang di atas sungai. Di beberapa titik, tampak tempat menjatuhkan kayu-kayu hasil tebangan ke sungai untuk dialirkan sampai ke Kp. Bujal. Lumayan, dapat menghemat ongkos transportasi. Tapi kondisi jauh dari jalan raya ini membuat pihak Banten Rafting tidak dapat menyediakan fotografer di beberapa titik penting yang bisa dijual kepada peserta arung jeram. Guide pun sebetulnya dapat membawa kamera antiair tapi sayangnya tidak. Akhirnya, peserta sendiri yang membawa kamera dan dititipkan di kantong antiair milik guide. Namun apa daya, setelah foto-foto, kantong antiair pun bocor. Jadilah kamera kami rusak dan hilang pula gambar-gambarnya. Sungguh sayang beribu sayang.
Sungguh mengasyikkan memang berarung jeram. Mencari celah dan jalur air dengan membina kekompakan dalam mendayung atau membagi berat tubuh. Jangan lupa untuk selalu mengikuti aba-aba dari guide. Om Opik kabarnya sampai dua kali jatuh dari perahu? Menurut pengakuannya, tidak afdol kalau arung jeram tidak nyemplung heheheh….. tapi, ketika disuruh loncat dari jembatan, malah takut-takut. Jadi ingat film Mr. Bean, episode ketika dia takut terjun ke kolam renang dari papan loncat karena takut ketinggian hehehe….
Akhirnya, setelah menempuh sungai dengan dua riam, masing-masing tingginya 2m untuk yang tegak lurus dan 5m melandai, tibalah kami di garis finish. Menu kelapa (yang beberapa tidak lagi muda) menjadi pengobat lapar karena lelah setelah mendayung. Selanjutnya, kami kembali ke titik start dengan menggunakan angkot. Terasa cepat, apalagi kalau dibandingkan dengan sepeda hehehe….
Sekitar pukul 11.30 kami tiba di rumah singgah dan siap menyantap makan siang. Menu yang disajikan adalah nasi, karedok, dan goreng ikan mas. Kali ini kami tidak komplain karena menu sudah termasuk harga paket arung jeram hehehe….
Seusai solat dzuhur, sekitar pukul 13, kami siap melanjutkan perjalanan pulang ke Serang. Rencananya akan mampir di kolam pemandian air panas di Kp. Bujal. Turunan curam yang kemarin kami tempuh, kali ini akan menjadi tanjakan curam. Sudah terbayang. Tapi, kami tetap semangat menghadapinya. Risiko terbesar cuma TTB koq hehehe….
Pemandangan di atas sangat menakjubkan karena kami bisa melihat lembah dan bukit-bukit dengan jelas. Sementara, jalan pun melingkar-lingkar dengan tanjakan ngehe-nya. Setelah tiba di puncak, barulah kami bisa duduk dengan tenang di atas sadel, sambil mengatur rem-rem sepeda kami. Di beberapa turunan curam, Om Yopi harus TTB, padahal di setiap tanjakan, dia jagoan gowes. Makanya dia dijuluki pemagang kaos polkadot alias raja tanjakan hehehe…. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 45menit untuk mencapai Kp. Bujal. Bandingkan dengan perjalanan sebaliknya kemarin dengan waktu tempuh sekitar 2jam.

WISATA AIR PANAS TIRTA LEBAK BUANA
Di kolam pemandian air panas yang bernama Wisata Air Panas Alam Tirta Lebak Buana, di Kp. Bujal, hanya beberapa goweser saja yang sempat turun ke kolam, yaitu Mars, Tsauban, Om Agus, Chupet, Kusni. Yang lain hanya merebus kaki-kaki mereka saja menjadi sop kaki hehehe…. Saya sendiri tidak kuat dengan panasnya air. Para pengunjung lain pun setali tiga uang. Hanya duduk-duduk di pinggir kolam. Jadinya, siapa pun yang berenang di tengah kolam pasti akan menjadi sasaran empuk tatapan mata puluhan orang. Jadi malu aku.
Menjelang pukul 15, kami lanjutkan perjalanan kembali sambil mencari truk untuk mengangkut sepeda-sepeda kami ke Serang. Bukan karena sudah capek lho,,,, tapi untuk menghemat waktu supaya sampai ke Serang tidak terlalu malam hehehe…. Sebagian besar goweser setuju untuk dievakuasi truk dan memuat sepeda di Pasar Gajrug. Beberapa goweser yang masih segar bugar, termasuk Om Yopie (hebat Kang!), tetap gowes menuju Sajira dan kami sapu dengan truk di tengah perjalanan.
Terasa, bahwa kontur jalan menuju Rangkasbitung dari Cipanas terus menurun. Sayang juga sebenarnya tidak kita gowes. Pantas saja, sewaktu berangkat hari sebelumnya menuju Cipanas, terasa berat sekali. Ternyata tanjakan semua toh…. Apalagi matahari pas di atas ubun-ubun.
Alhamdulillah, sampai juga di Rangkasbitung sekitar pukul 16.30. Saya duluan teman-teman! Sementara, rombongan Serang tiba sekitar satu jam kemudian. Perjalanan kali ini telah memecahkan rekor jarak dan ketinggian yang kami tempuh dalam sekali bersepeda, yaitu sekitar 80km dan ketinggian 426m dpl, melalui Kecamatan Serang, Cipocok Jaya, dan Petir di Serang, dan Cibadak, Rangkasbitung, Sajira, Cipanas, dan Lebak Gedong di Lebak. Mudah-mudahan rekor ini dapat terus kita pecahkan! Jadi ingin gowes lagi…. Ayo kita rencanakan lagi teman-teman!
Wassalam goweser semua!

Wednesday, December 08, 2010

KAMPUNG CIPALA (+404m dpl)

Assalamualaykum goweser semua. Semoga kesehatan jiwa dan raga tetap Allah SWT limpahkan kepada kita semua.

Hari Sabtu tanggal 4 November 2010, sesuai rencana, kami akan up hill ke atas Kampung Cipala sekalian menanam beberapa bibit pohon jati dan kayu albasia. Walaupun hanya sedikit, mudah-mudahan niat kami dapat bermanfaat bagi kelestarian alam, sesuai visi kami untuk ikut berpartisipasi membuat bumi tetap hijau. Namanya up hill, sudah barang tentu kami akan disuguhi trek menanjak. Mudah-mudahan semuanya kuat sampai ke atas. Lumayan juga untuk pemanasan bagi teman-teman yang akan ikut lomba up hill di Gunung Pinang keesokan harinya.


Kampung Cipala berada di ketinggian 404m dpl dan masuk ke dalam wilayah Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Desa ini dikembangkan sebagai desa wisata oleh Pemkot Cilegon dengan beberapa jenis aktivitas seperti agro, hiking, jogging, camping, dan layang gantung. Bagi sebagian besar dari kami, tempat ini masih asing dan belum pernah dieksplorasi, kecuali bagi Kang Ola tentunya yang dibesarkan di sana.

Seperti biasa, titik berkumpul di halaman KPP Pratama Serang sekitar pukul 6. Karena truk yang kami pesan sempat mogok, jadwal keberangkatan pun molor sampai sekitar pukul 7.30. Setelah beres menyusun sepeda ke atas truk, sebanyak 13 orang peserta siap bertualang ke Kampung Cipala. Ada Om Agus, Om Kus, Kang Ola, Om Didit, Pak Ai, Om Mars, Om Hendra, Om Even, Om Yusman, Om Yudi Z. yang lama baru gabung kembali, Om Kusnanto dari Ciruas yang baru bergabung dengan kami, dan saya sendiri. Belum termasuk Om Dodo yang mengangkut sepedanya dengan mobil langsung ke Gerem, Om Opik yang sudah menunggu di istananya di Gerem, dan Om Danar yang sudah duluan gowes ke lokasi. Sekalian latihan untuk persiapan gowes ke Yogyakarta katanya. Hebat Om!

Merak! Melalui Merak, Terminal Terpadu Merak masih harus menunggu penyelesaian akhir. Jembatan layang yang dapat digunakan langsung mengakses Pelabuhan Penyeberangan Merak juga masih dalam proses konstruksi. Lumayan membuat macet dan polusi udara. Antrian truk juga sangat-sangat panjang menanti giliran masuk ke kapal. Tampak kacau-balau semuanya. Mudah-mudahan ke depan semakin membaik. Jadi kepikir, kapan jembatan selat sunda bisa direalisasikan?

Sekitar pukul 9, di penghentian akhir truk menjelang menanjak, beberapa meter dari Jalan Raya Suralaya, kami segera membongkar sepeda-sepeda dan memersiapkan bibit-bibit pohon yang akan kami tanam. Untuk memudahkan membawanya, bibit kami masukkan ke dalam kantong plastik dan kami ikat dengan rafia. Ada yang diikat di punggung, ada yang di sepeda. Persis seperti tentara sedang melakukan kamuflase dengan pohon-pohonan. Om Yusman setia ditemani gulungan tali rafia karena tidak membawa bibit pohon hehehe....

MENUJU PUNCAK CIPALA
Ayo tanam!
Kami akan mulai mendaki dari arah Barat Kp. Cipala. Trek yang kami lalui sampai puncak sangat mulus dengan lapisan hotmix. Jaraknya tidak jauh, hanya 3,5km saja. Tetapi, kami harus naik dari sekitar 0m dpl ke 400m-an. Bayangkan tanjakan yang harus kami taklukkan. Hasilnya, dibutuhkan waktu sekitar 2jam-an. Tidak semua waktu digunakan untuk gowes memang. Sebagian besar digunakan untuk kegiatan menanam pohon di beberapa tempat, ngaso agak lama karena tajamnya tanjakan yang membuat nafas terengah-engah dan kaki pegal bukan kepalang, serta foto-foto tentunya!

Ya, foto-foto karena pemandangan di bawah luar biasa indah dengan lembah menghijau di sekitar dan perairan Selat Sunda yang sibuk oleh lalu lintas kapal, dengan latar belakang Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sumatera di kejauhan. Namun, di balik itu, beberapa bagian bukit sudah hancur oleh dinamit dan traktor untuk diambil batu-batuannya. Kami juga sempat mengambil gambar tepat di bawah menara sutet yang berbentuk seperti robot Voltus.
Tanjakan tiada henti
Menjelang puncak di Kp. Cipala, beberapa goweser yang sudah menyerah, menyewa ojek dorong sepeda. Anak-anak SD Cipala dengan riang gembira ikut membantu membawakan sepeda beberapa goweser. Om Hendra dan Om Even yang sempat tertinggal karena TTB selalu kompak berdua, bahkan sambil mendorong satu sama lain. Sampai-sampai kami panggil mereka dengan sebutan Even dan Uvin hehehe....

Setelah melewati trek tanpa turunan sedikit pun, tiba juga di Kp. Cipala sekitar pukul 11. GPS menunjukkan kami berada di ketinggian 404m dpl. Seperti biasa, kami mencari warung yang menyajikan minuman teh manis ditemani beberapa penganan. Terasa betapa indahnya gowes kalau ada warung. Nun jauh di bawah, masih tampak perairan Selat Sunda. Pemandangan sungguh indah terlihat dari atas sini. Namun, keindahan itu tidak lama kami saksikan karena beberapa menit kemudian, mendung menggelayut dan kabut tebal menutupi pandangan ke bawah. Hanya sepeminuman teh saja kami rehat dan siap-siap melanjutkan perjalanan ke Pantai Kelapa Tujuh di Suralaya.
PLTU Suralaya di belakang

KELAPA TUJUH, SURALAYA
Jalanan menurun menuju Kelapa Tujuh di Kelurahan Suralaya, sangat berbeda. Kali ini, kami mengarah ke Barat Laut dengan pemandangan di bawah masih perairan Selat Sunda dan PLTU Suralaya dengan enam menaranya yang khas. Jalanan tidak dilapisi hotmix tetapi aspal curah dengan kerikil-kerikilnya yang terlepas. Sangat licin. Apalagi, kami harus mengerem. Beberapa kali ban sepeda selip. Beberapa bagian jalan sudah bolong-bolong. Sangat membahayakan karena kami melintasinya dengan kecepatan tinggi.

Setelah beberapa kali berhenti karena mengambil foto-foto, yang membuat rombongan depan bingung kenapa rombongan belakang lama sekali, akhirnya tibalah kami di Jalan Raya Suralaya kembali, dekat Markas Polairud Merak. Hanya beberapa ratus meter saja dari Kelapa Tujuh, sebuah tempat wisata pantai yang tidak terlalu besar sebenarnya. Kata Kang Ola, sewaktu dia masih kanak-kanak, tempat ini pernah dijadikan tempat pengambilan gambar untuk film Pinokio yang diperankan oleh Ateng-Iskak. Jadul amat. Hehehe......, ingat saja Kang Ola. Jangan-jangan, dia ikut jadi figuran saat itu.

Setelah solat dzuhur di masjid Raudlatul Jannah di komplek PLTU Suralaya dan menyantap gado-gado, beberapa dari kami bertransformasi dari goweser menjadi swimmer. Mereka mencoba menghilangkan panasnya cuaca saat itu dengan berenang di laut. Yang tidak berenang, cukup leyeh-leyeh saja di atas tikar seperti raja, atau keliling-keliling dengan sepeda. Sepeda Om Kus dan Om Yudi Z. sempat dipinjam anak-anak SMA, gowes entah kemana. Untung mereka balik lagi hehehe.... Kalau tidak, bisa gawat. Sementara, mobile-bakso malang terlihat berjejer rapi. Disebut mobile karena mereka berjualan dengan menggunakan sepeda motor, jadi bisa berpindah tempat dengan cepat.
Grow up can wait!
Om Danar pulang duluan ke Serang karena akan gowes saja sampai finish di rumahnya. Sementara, Om Dodo balik ke Gerem untuk mengangkut sepeda dengan mobilnya karena harus buru-buru ke bandara menjemput rombongan haji. Sisanya, sekitar pukul 15, dievakuasi truk sampai ke pertigaan Kepandean, Serang. Macet dan polusi masih setia menyertai kami di sekitaran proyek konstruksi di Merak.

Akhirnya, kami tiba juga di Serang menjelang pukul 16.30, tentunya dengan pengalaman baru menaklukkan tanjakan-tanjakan Cipala.

Lebak Gedong, tunggu kami!

Wassalam.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons