Friday, January 28, 2011

GOWES CAGAR ALAM RAWA DANAU

Assalamualaykum goweser semua. Semoga kita selalu diberi kesehatan jiwa dan raga oleh Allah SWT dan tetap berkemampuan untuk memelihara dan mensyukurinya. Sebelumnya, saya mohon maaf atas keterlambatan pembuatan laporan kali ini, maklum kesibukan kantor juga menuntut hal serupa (hehe….gaya euy.) Juga dibutuhkan usaha ekstra untuk mengusir rasa malas untuk menulis.
Sesuai Agenda Sepedaan, tanggal 22 Januari 2011 kemarin, kami akan mengeksplorasi kawasan Rawa Danau di arah barat laut Kota Serang. Kawasan ini adalah satu-satunya ekosistem rawa pegunungan di Pulau Jawa. Luasnya sekitar 2.500ha dan ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan Government Besluit (GB) tanggal 16 November 1921 nomor 60 stnl. 683. Cagar alam ini termasuk ke dalam tiga kecamatan, yaitu Padarincang, Pabuaran, dan Mancak. Sebagian besar topografinya relatif datar, hanya di bagian utara terdapat bukit kecil, yaitu Gunung Jamungkal seluas ± 8ha dengan ketinggian 192m di atas permukaan laut. Hampir setiap saat sebagian besar kawasan hutan tanahnya terendam air dengan kedalaman rawa yang bervariasi dari 2m sampai dengan 10m.

Seperti biasa, kami berkumpul di halaman KPP Pratama Serang (tidak bosan-bosannya ucapan terima kasih buat bapak-bapak satpam di sana) dengan peserta yang siap berpartisipasi sebanyak 16 orang. Tampak hadir Om Hendra, Om Arif, Don Vito, Kang Ola, Om Kusnanto, Om Yusman, Om Didit, Om Tsauban, Om Mars, Om Adek Agus, Om Kusni (terima kasih yang tak terkira karena kesetiaannya mengawal batas bawah, seperti saya hehehe...), Pak Danar, Pak Ai, Om Pri, dan Om Yopie. Sayang, baru ketahuan kalau RD Om Adek Agus retak sehingga mengurungkan niatnya ikut gowes. Om Yudi Z kemudian bergabung selepas perempatan Brimob.
Jalur yang akan kami lalui seperti biasa melalui Jalan Takari sampai ke Paninjoan, Kampung Luwuk, Kec. Gunung Sari, Kab. Serang. Semuanya berlapis aspal sepanjang sekitar 15km. Namun, karena kurang tidur semalam dan kecapean badminton hari sebelumnya, saya merasa sangat payah mendaki tanjakan Cilowong dan Gunung Sari kali ini. Untunglah, Om Kusni setia menemani di belakang. Oh,,, saya rindu Mr. Tsu yang biasa menemani pula di belakang. Jangan-jangan, di Palembang dia tetap berlatih dan sudah menjadi batas atas hehehe….
Kami rehat sejenak di kediaman Om Tsauban di Gunung Sari sekitar 30’ saja. Terima kasih atas teh manis dan pisang mulihnya, Om. Di sini, rem sepeda Om Hendra sudah mulai ketahuan bermasalah. Tapi dia tetap bertekad turut serta, apalagi sudah diotak-atik Om Mars. Jam menunjukkan pukul 9.30 ketika kami lanjutkan perjalanan ke Paninjoan. Tidak terlalu lama, sekitar pukul 10 kami rehat kembali di Paninjoan untuk sekedar menyantap ketan si teteh dan sambelnya yang khas. Di sini, Om Hendra nyerah dan terpaksa putar balik ke Serang. Dia ditemani Om Arif dan Om Yopie yang juga harus kembali, menyusul Om Yudi Z yang sudah balik duluan. Di sini pula, Akbar CS dan Pak Sis, temannya Pak Dudi, bergabung. Oh ya, Pak Dudi hanya mengantar Pak Sis ke Paninjoan dengan menggunakan mobil. Dia sendiri, katanya, mau gowes balik langsung ke Serang.
Untuk mencapai kawasan Rawa Danau, kami harus melalui Desa Cikedung yang bisa dicapai melalui jalanan makadam dari Pasar Mancak. Namun, kami akan memotong jalan menuruni bukit di sekitaran Kp. Luwuk, menyeberangi areal pesawahan di bawah, kemudian menaiki bukit lagi untuk kemudian muncul di pertengahan jalan makadam tadi. Mudah-mudahan perjalanan menjadi lebih cepat.
Namun, apa daya. Bekas hujan hari sebelumnya membuat jalanan setapak menjadi becek dan licin. Bahkan, di banyak tempat menjadi kubangan lumpur. Membutuhkan tenaga ekstra untuk meng-gowes karena ban-ban sepeda kami menjadi selip. Slippery when wet, kata Bon Jovi. Kami harus menuruni bukit curam setinggi lebih dari 200m dengan kondisi licin. Sangat tidak mungkin menaiki sepeda. Semua menuntun sepeda. Kondisi ini sangat menyulitkan karena kami harus mencari batu-batu dan akar-akaran untuk membantu pijakan kaki, sementara sepeda harus kita tahan pula. Kata Om Mars, kalau tidak ada jurang, sepedanya pasti akan dilempar ke bawah. Ternyata, dia takut juga sepedanya masuk jurang. Takut tidak bisa pulang hehehe…. Om Yusman yang kali ini memakai sepatu bersol datar, tampak kesulitan menjaga keseimbangan sampai dia sering berteriak, “Hey…. Tungguin dong!”. Saya sendiri merasa lutut sudah lemes (kata orang Rangkas sih, “tuur leklok”) karena harus menahan berat badan dan sepeda.
Turunan ini mengingatkan kami pada turunan Cimoyan dan alas Cilowong, tentunya dengan skala yang lebih masif. Kami menuruni bukit ini bukan tanpa sebab. Tim depan yang digawangi Kang Ola dan Don Vito tampaknya salah mengambil belokan sehingga kami harus memutar sampai ke kawasan bawah bukit. Akhirnya, ya seperti ini. Padahal, kalau tidak begitu, hanya dibutuhkan beberapa puluh menit saja mencapai jalan makadam menuju Desa Cikedung.
Tiba di bawah, jalanan masih becek dan licin. Om Mars, sempat jatuh ke selokan setinggi sekitar 3m. Untungnya, dia masih sempat berpegangan pada tanaman-tanaman yang menggantung. Om Kus sambil berlari berteriak-teriak, “foto…foto..foto…!” Bukannya ditolong malah supaya difoto. Untunglah Om Mars sehat-sehat saja. Ini adalah jatuhnya yang pertama dalam perjalanan kali ini. Om Kus kemudian menjadi saksi rekor jatuh ini menjadi lima kali hehehe…. Sayang tidak ada Jaya Suprana dari MURI.
Kami harus menyeberangi areal pesawahan di dataran rendah kawasan rawa danau untuk kemudian naik bukit curam lagi setinggi kira-kira 200m pula, dengan kondisi yang sama, becek dan licin. Tak mungkin kami gowes. Melewati pematang sawah yang sempit pun tidak mungkin kami gowes.
Pemandangan di pertengahan pematang sawah sangat indah. Kami diingatkan untuk selalu menyukuri keindahan yang diciptakan oleh Allah SWT. Namun, sepertinya kelompok depan sedang sangat bersemangat gowes sehingga lupa foto-foto dan meninggalkan rombongan belakang.
Mulai mendaki. Rombongan belakang, Om Mars, Om Yusman, Om Didit, Om Kusni, Pak Ai, dan saya rehat lagi, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, sudah saatnya makan siang, lapar campur lemes. Om Yusman konsisten dengan sari kurmanya. Oh ya, dia sampai ditelepon anaknya, katanya bapak sekarang di jalan apa. Boro-boro tahu jalan, bapaknya nyasar, nak hehehe… Kata Om Kusni, jawab saja, Jalan Gatot Subroto Kav. 3 Paninjoan hehehe…. Om Mars lain lagi, dia ditelepon anaknya supaya dibelikan jaket Gonzales. Katanya, pokoknya kalau pulang, jaket harus sudah ada. Padahal bapaknya nyasar juga hehehe….
Tiba di puncak bukit, beberapa goweser yang sudah sangat lelah, terpaksa dibantu untuk didorongkan sepedanya. Ya,,,terima kasih untuk tim evak. Waktu sudah menunjukkan pukul 13-an ketika kami tiba di jalan makadam menuju Desa Cikedung. Lemes dan lapar saling berkolaborasi.
Setelah menambah energi dan foto-foto sejenak, perjalanan kami lanjutkan. Desa Cikedung masih setengah jam di depan. Karakteristik jalan berbatu dengan banyak turunan curam membuat tangan harus sigap mengontrol handle bar dan rem. Terasa pegal lengan dan trisep, sampai harus dibaluri penghangat (maaf merk tidak saya sebut hehehe...). Tampaknya, rem hidrolik sangat dibutuhkan di sini. Untungnya di beberapa bagian, trek sudah dilapisi beton sehingga sepeda bisa dipacu lebih cepat.
Tiba juga kami di Kp. Kolomberan-Desa Cikedung-Kec. Mancak, lima menit menjelang pukul 14. Pfuih…. Isoma kami lakukan. Karena tidak ada rumah makan, kami pesan saja mi rebus dan teh manis. Untungnya, pemilik warung sangat ramah dengan memberi kami….nasi! Alhamdulillah. Terima kasih, Pak! Nanti Bapak tanak lagi nasinya kalau kami habiskan. Mudah-mudahan menjadi tambahan energi buat gowes. Keramahan penduduk desa memang sering kami rasakan ketika ber-gowes-ria.
Menjelang pukul 15, kami lanjutkan perjalanan ke Cidano melalui Kp. Cikolelet. Karakteristik trek masih becek, berbatu-batu, dan air menggenangi jalan. Di beberapa bagian, bahkan tidak bisa dilalui dengan gowes karena ban sepeda amblas. Jadinya, TTB deh. Di sebelah kiri kami, kawasan rawa-rawa terhampar luas mendatar. Rombongan depan entah kemana. Rombongan belakang sih, santai-santai saja di belakang. Di sebuah lapangan tempat anak-anak dusun bermain bola plastik, baru semua rombongan bertemu kembali, tentunya sambil rehat sebentar. Jadi ingat lagunya Iwan Fals, “Pukul tiga sore hari….” Tapi ada yang aneh, walau hanya beberapa menit, Om Mars bisa ngorok tidur tuh hehehe…
Tiba di jembatan gantung Cidano, menjelang pukul 17. Kami mengabadikan momen sejenak karena semua rombongan lengkap. Untungnya, sungai Cidano sedang tidak banjir sehingga kami bisa gowes mencapai Desa Rancasanggal-Kec. Cinangka. Dari sini, trek sudah dilapisi aspal walaupun masih kasar. Kalau sedang banjir, jalan desa setelah jembatan tidak akan bisa dilalui, kecuali dengan perahu tentunya.
Desa Rancasanggal-Kec. Cinangka! Waktu sudah menunjukkan pukul 17.22. Dari sini, kami menyusuri Jalan Raya Palka berlapis aspal halus. Di sore yang teduh itu kami ber-JJS alias Jalan-Jalan Sore menyusuri Padarincang menuju pasar. Lagu temanya adalah JJS dari Denny Malik. “Jalan sore….Kita berjalan-jalan sore-sore…” Orang-orang setempat yang sedang kongkow-kongkow banyak yang terheran-heran dengan kotornya sepeda-sepeda kami. Sampai ada yang bilang, “Mas, dari sawah, ya?”
Di Pasar Padarincang, kami lanjutkan perjalanan balik ke Serang dengan menggunakan truk karena selain jarak masih jauh, waktu juga sudah hampir pukul 18. Hanya Pak Danar, Pak Sis, dan Akbar yang gowes sampai ke Serang. Sementara, Om Kusnanto bergabung dengan truk di Ciomas. Truk sendiri ngebut seperti mengejar setoran dan kami di baknya harus menahan ajrut-ajrutan karena suspensi belakang truk memang didesain untuk barang. Yah,,,, terima sajalah.
Akhirnya, sampai juga kami di perempatan Kebon Jahe sekitar pukul 19.15 dengan sehat wal afiat tetapi lemas, capek, dan lapar. Namun demikian, puas atas perjalanan kali ini. Senangnya melihat lampu-lampu merkuri berwarna kuning lagi.

7 comments:

--mars-- said...

Sebuah pencapaian yg ruarrr biasa
Biarkan misteri itu tetap abadi, agar kita slalu ingat sama Sang Khaliq...

CoKlat@Chelski said...

Misteri Rawa Danau.....

Premier 3.0 said...

pokoknya RD harus ada jilid selanjutnya, dan The Last Premier siap aktif kembaliiiiiiiiiiiii

--mars-- said...

RD tunggu tahun depan ya, agar lebih manstab

fLash said...

jilid selanjutnya siap,, asalkan tidak lewat jalan yg kemaren...
takut ada yang kecebur kali lagi...
takut ada yang ditelpon anak-bininya...
takut ada yang lututnya leklok alias lemes...

ihsan said...

pokoknya yang ga tau jalan mendingan ambil posisi di tengah aja....hehehe

Anonymous said...

Om dida mantap tulisannya, coba sesekali dikirim ke ridebike magazine,oom..

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons