Monday, February 21, 2011

EKSPEDISI CURUG LAWANG

Alhamdulillah. Goweser semua, apa kabar? Mudah-mudahan kita semua dikaruniai kesehatan jiwa dan raga oleh Allah SWT. Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan ekspedisi gowes kami tanggal 19 Februari 2011 kemarin kecuali kata “ampun” hehehe…. Total jarak 89,52 km dengan waktu gowes efektif selama 6 jam 17 menit dan menghabiskan kalori sebanyak 1.138,4 cal.
Hari itu kami mengeksplorasi Curug Lawang di Kp. Cisirih, Desa Cikolelet, Kec. Cinangka, Kab. Serang. Tempat ini dapat dicapai dengan mudah dari Jalan Raya Karang Bolong, di Kp. Ciparay, Desa Sindanglaya, Kec. Cinangka tetapi karena kesalahan identifikasi curug, kami melewati rute lebih panjang, yaitu Jalan Raya Palka yang melintasi empat kota kecamatan, yaitu Pabuaran-Ciomas-Padarincang-Cinangka.

Informasi yang diterima, curug tersebut berada di Desa Kubang Baros, Cinangka. Namun, ternyata informasi ini salah karena Curug Betung-lah yang berada di sana.
Ada 11 goweser yang start dari titik kumpul biasa, yaitu Om-Om Agus, Kusni, Yusman, Kusnanto, Ola, Vito, Boni, Mars, Yopie, Ai, dan saya sendiri. Menyusul kemudian di Kebon Jahe, Om Prie, Didit, dan Opick. Om Dodo kemudian bergabung di Tembong dengan celana jin dan sepatu basket karena niatnya semula mau gowes sampai Kramat saja. Apa daya, karena kami urung lewat sana, dia pun putar balik mengejar sendirian sampai Tembong. Pemanasan yang sangat lumayan, Om! Total semua ada 15 goweser!
Menuju Pabuaran dan Ciomas, para goweser sudah tidak asing lagi dengan tanjakan-tanjakan yang walaupun tidak ekstrim tetapi konsisten dan terasa melelahkan. Baru dari Ciomas menuju Padarincang, turunan bonus dan tarikan gravitasi bumi siap dinikmati. Ada yang menarik dari Kota Kecamatan Padarincang, yaitu lingkungan sepanjang jalan terlihat bersih dan asri. Sampai-sampai, untuk mendukung ini, banyak plang bertuliskan “dilarang buang air besar sembarangan!” dengan gambar orang sedang jongkok dicoret. Berbeda dengan larangan parkir yang dilambangkan dengan huruf P dicoret hehehe..... Namun demikian, masih terpampang spanduk-spanduk penolakan warga sekitar atas pendirian pabrik air minum dalam kemasan berskala nasional.
Penghentian pertama kami adalah Pasar Padarincang. Bakso, mie ayam, gorengan, dan soto menjadi teman setia dan tentunya teh manis. Kang Ola malah mengoleksi kopi untuk dimasak nanti di curug. Katanya dia sudah menyiapkan kompor di tasnya. Sip Kang Ola, asal jangan kompor gas atau listrik saja. Bisa repot nanti cari bahan bakarnya! Belakangan, strategi ini berhasil karena setelah kedinginan dibasuh air curug, badan menjadi segar setelah menyeruput kopi buatan Kang Ola. Ini mungkin menjadi “penebus dosa” dia yang sering membuat kami nyasar hehehe…… .
Selepas Kota Kecamatan Padarincang, nun jauh di sebelah timur tampak kawasan Rawa Danau yang tetap memesona dan memanggil-manggil untuk didatangi. Di sebelah kiri kami, tebing sangat tinggi dan curam mengancam dengan bahaya banjir dari atas dan longsor. Bulan Desember 2010 lalu, terjadi banjir bandang dari atas gunung membawa material batu, sisa tebangan pohon, dan lumpur yang diakibatkan penebangan liar di atas gunung, sampai mengakibatkan korban jiwa. Mengerikan karena kampung-kampung itu berada di lembah.
Tiba di Desa Kubang Baros, ternyata yang ada bukan Curug Lawang, melainkan Curug Betung. Akhirnya, kami putuskan untuk menengok sebentar karena jaraknya hanya 4 km dari Jalan Raya Palka. Jalan makadam dan trek tunggal harus kami lintasi. Rawa Danau di sebelah tenggara masih tampak indah sebagai latar belakang.
Curug Betung ternyata hanya sebuah jeram setinggi sekitar 1,5 m dan sebuah curug di hilirnya. Airnya tampak keruh dan berarus deras seperti banjir, sesuai info Om Agus, Ola, dan Kusnanto yang sampai ke lokasi. Tampak sangat membahayakan kalau kita “bermain-main” di sana. Akhirnya, kami putuskan untuk kembali saja dan menuju Curug Lawang. Sekarang kami harus mendaki kembali ke Desa Kubang Baros dengan karakteristik trek seperti di JPG Serang! Solat sebentar di Kp. Paseur dengan suguhan pisang mulih dari penduduk sekitar. Alhamdulillah. Penduduk di desa-desa yang kami kunjungi memang sangat ramah–tamah. Tapi, kami tidak tahu apa yang terjadi dengan Ola dan Kusnanto di pos ronda. Dengar-dengar mereka sedang mencari nomor ponsel hehehe…. Sementara, Prie yang selalu di depan, kali ini bablas sampai ke Jalan Raya Palka. “Nongkronglah” dia sendirian di sana.
Dari Jalan Raya Palka, kami menikmati bonus turunan sampai ke Desa Rancasanggal yang merupakan akses ke arah Desa Cikolelet. Saking enaknya turunan, sampai-sampai Om Kusni meninggalkan potensi pasien di belakang, Boni, yang hampir kram. Anak muda, kenapa sampai kram? hehehe….
Melalui jalan makadam, kemudian menyeberangi kali Cidano dengan jembatan gantungnya yang mengerikan karena kayunya sudah mulai lapuk dan bolong-bolong! Jalan sekitarnya masih berlapis lumpur di banyak bagian. Kata Mars, lumpur alami (diucapkan ketika lapar). Setelah kenyang, dia ralat menjadi lumpur abadi hehehe… Memang sepertinya lumpur yang baunya sungguh tidak enak itu tidak pernah kering.
Lalu, tiba-tiba kami harus naik setinggi 200-an m dengan jarak yang sangat pendek dan kemiringan >45°. Terasa beratnya tanjakan. TTB pun menjadi aktivitas selanjutnya. Di atas bukit, tampak jembatan gantung yang tadi kami lalui dengan kawasan Rawa Danau di sekitarnya. Sangat jauh dan indah. Masih sekitar 5 km lagi menjelang Kp. Cisirih, kata dua orang pemburu babi hutan yang kami temui.
Memasuki Kp. Cisirih, kami seperti kembali ke peradaban setelah lama terkatung-katung di dalam hutan. Sampai Desa Cikolelet, jalanan masih dilapisi aspal. Selanjutnya, kami harus naik lagi ke atas bukit melalui trek tunggal, beberapa bagian berbatu-batu, melintasi tiga anak sungai. Untungnya anak-anak kampung Cisirih seperti berlomba-lomba mendorong sepeda-sepeda para goweser yang kelelahan dan tidak kuat lagi TTB.
Beberapa menit saja jam meninggalkan angka 17 ketika kami mencapai Curug Lawang yang diimpikan. Tidak ada keterangan mengenai ketinggian curug ini. Mungkin karena jaraknya yang jauh, menjadi jarang dikunjungi dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Yang jelas, airnya sangat menyegarkan setelah hampir seharian kami gowes berpanas-panas ria. Udara pun sangat sejuk karena kami dikelilingi pepohonan yang lebat di tengah hutan yang kaya akan oksigen. Maka, para goweser bersegera terjun ke dalam air. Semua penat terasa hilang, tuntas. Rombongan berpose sejenak tapi banyak yang harus dipotong LSF. Namanya juga tempat pemandian hehehe…. Untungnya saat itu sedang sepi. Pun terima kasih untuk Ola yang telah membuatkan kopi hehehe….
Hanya sekitar setengah jam bermain-main air, kami harus kembali karena cuaca mulai gelap. Tapi ada bonus tambahan yang tidak disangka-sangka, yaitu downhill yang menawan. Tidak akan terlupakan. Tidak terlalu ekstrim, tetapi kondisi tanah yang tidak terlalu basah membuat para goweser lahap melintasi trek ini. Ongkos tenaga untuk TTB ke atas plus rupiah untuk membayar ojek dorong terasa lunas bahkan laba.
Selepas Kp. Cisirih, jalanan terus menurun sampai ke Kp. Ciparay, Desa Sindanglaya, Kec. Cinangka di Jalan Raya Karang Bolong. Jalanan aspal mulus sehingga kecepatan maksimum bisa mencapai 48,5 km/jam. Alhamdulillah Allah SWT telah menciptakan gaya gravitasi. Banyaknya debu sempat menggangu mata tetapi kalau memakai kacamata, jalanan gelap karena menjelang magrib. Kami mampir sebentar di tempat wisata Pantai Pasir Putih, Anyer sekedar untuk berfoto-ria.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Pasar Anyar. Kali ini ada kesempatan melakukan NR (Night riding). Sayang, tidak semua siap dengan perlengkapan lampu-lampu sepeda karena memang gowes tidak diniatkan sampai malam. Keterlambatan ini terjadi karena jarak dan kondisi medan yang sulit untuk digowes memakan waktu banyak. Di tengah perjalanan, kami sempat terhenti beberapa saat karena turun hujan lebat. Sambil menunggu reda, kami mampir ke warung pecel lele untuk mengisi perut yang sudah bernyanyi keroncong.
Setelah semua kenyang, konvoi kami lanjutkan sampai ke Pasar Anyar. Dari sini, sepeda-sepeda kami muat ke atas sebuah pick up ditemani Om Yopi dan Didit sampai ke Serang, sementara yang lain menyusul dengan angkot. Ada 11 orang berbadan besar di dalam angkot sehingga posisi duduk menjadi kaku. Belum lagi subwoofer di belakang mengurangi jatah duduk penumpang. Boni dan Mars hanya kebagian duduk di pintu dengan sudut pandang sangat luas melihat ke luar.
Kesimpulannya, trek aspal-trek tunggal sudah, tanjakan-turunan sudah, Curug Betung-Curug Lawang sudah, perbukitan-pantai sudah, panas-hujan sudah, siang-malam sudah. Lengkap sudah. Apa lagi yang belum, ya?

12 comments:

mars said...

1st
Track hutannya manstab bgt...lahap abiz, sampai ga trasa udh abizz
Penasaran pengen ngulang lg...

fLash said...

Setuju! Trek DH dari Curug Lawang ke Kp. Cisirih luar biasa. Pengen lagi, mamah! Hehehe....

CoKlat@Chelski said...

I like this game....

bonie said...

mantap bener trak hutan pas turun mpe2 lupa low keram..eh pas nanjak lagi jadi inget lagi dech ma keram nya...hehehe
siap wat ngulang lagi....sxc2 mantappppp

vito_glu said...

RRRUUUAAARRRR BIIAASAAAAA...
Mau donk ngulang lagi track DH nyaa....
hehehheh

CoKlat@Chelski said...

Bulan April kita ulang lagi....tapi tahun 2012..hehehehehe

mars said...

kayaknya udah smua...komplit...pliiiittt

Ihsan said...

ayo pemburu / pecinta curug...curug lembah anai cakep banget lho air nya wah...

mars said...

waduh jauhnya om....

Anonymous said...

Trak hutanya pas susah tuk diulang.... trak tanahnya..... Subhanaalah.

Anonymous said...

salam gowes,
om saya yana dari komunitas sepeda rangkasbitung,klo ada waktu boleh ngga diminta jadi pemandu untuk menuju ke rumah hutan?

[mars] said...

tuk om yana dr komunitas sepeda gunung di rangkasbitung...silahkan...kami dengan senang hati akan mengantar Anda. Silahkan hubungi kami email di info@sepedaan.com

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons