Tuesday, February 08, 2011

Jelajah Trek Rindu Alam untuk Pemula

Alhamdulillah. Assalamualaykum goweser semua. Semoga kita semua dilimpahkan kesehatan jiwa dan raga oleh Allah SWT.
Hari Kamis 3 Februari 2011 yang lalu, sebagian anggota SXC2 mengeksplorasi trek Rindu Alam (RA) di Puncak Pass, Kabupaten Bogor. Ada Om Dudi, Maulana, Imam, Hendra, dan saya sendiri, ditambah dua calon anggota, Om Sis dan Aam. Sayang tidak banyak peserta yang turut serta karena keterbatasan waktu yang liburnya hanya satu hari, sementara besok Jumatnya harus masuk kantor lagi. Belum lagi, karena kesibukan di keluarga. Tapi, tak apalah, mudah-mudahan nanti bisa kita ulang lagi dengan peserta yang lebih masif.
Secara umum, trek RA bersama dengan trek Telaga Warna (TW) adalah trek favorit bagi para goweser di sekitar Jabodatebek karena selain menyediakan karakteristik trek yang lengkap, mulai dari tanjakan-turunan, jalan makadam, jalan berbatu-batu lepas, tanah, rumput, single track, half pipe, jalur air, lumpur, dan aspal, juga kaya akan udara yang sejuk dan pemandangan perkebunan teh yang teratur rapi. Sangat indah. Sebenarnya, karakteristik trek di Serang tidak kalah dibandingkan trek RA, semua karakteristik trek tersedia. Yang membedakan hanya pemandangan alam dan cuaca yang berbeda.
Kami adalah pemula di trek ini sehingga dibantu oleh dua orang marshall, yaitu Om Bas dan Om Bambang. Terima kasih Om-Om! Bukan hanya bertanggung jawab sebagai pemandu dan sweeper, mereka juga membantu masalah-masalah teknis sepeda dan memberi masukan cara-cara menaklukkan trek, serta tidak lupa menjadi fotografer.
Kami menggunakan dua buah mobil dan berangkat dari Serang sekitar pukul 4. Tampaknya ayam-ayam juga belum pada bangun ya.... Solat subuh dilakukan di rest area Balaraja sambil menunggu mobil kedua berisi Om Sis, Dudi, dan Imam yang terlambat sekitar ½ jam.
Sekitar pukul 7, kami tiba di Masjid Harakatul Jannah di Gadog. Hampir semua goweser yang akan mengeksplorasi trek RA maupun TW memarkir kendaraannya di sini dan berganti angkot sampai ke Puncak Pass. Tidak perlu khawatir karena di sini sudah tersedia tempat parkir yang luas, jasa cuci steam sepeda, kamar mandi, dan penyediaan angkot tentunya. Perlunya parkir di sini karena jalur sepeda dimulai dari Puncak Pass terus turun ke arah Gadog melalui Jalan Alternatif Puncak, beberapa puluh meter saja dari masjid ini. Kalau membawa sopir malah lebih enak, karena bisa langsung bongkar sepeda di Puncak Pass, sementara kendaraan kembali turun dan menunggu di Gadog.
Setelah melewati Jalan Raya Puncak yang mulai macet, sekitar 8.30 kami tiba di Puncak Pass. Di sini ada sebuah warung, Warung Mang Ade namanya, yang menjadi tempat favorit pada goweser yang memersiapkan sepeda dan sarapan. Saat itu, cuaca sedikit gerimis dengan sejuta kabut. Makanan dan minuman hangat menjadi menu utama. Tak lupa, jas hujan langsung dikenakan dan seatpost direndahkan. Kami yang biasa tinggal di Serang dengan suhu panas, tersiksa kedinginan di ketinggian sekitar 1450m dpl.
Mulai memasuki trek makadam di belakang Warung Mang Ade sekitar pukul 9.30, kami harus membayar retribusi sebesar Rp3.000 per orang. Pemandangan indah ke arah bawah mulai memesona. Kami mengarah ke Paralayang yang merupakan tempat start wisata paralayang dan dapat melihat Masjid At Ta’awun di kejauhan. Jalanan didominasi turunan dan Marshall kami menyebutnya trek DH Master C, artinya trek downhill tapi tidak terlalu ekstrim sehingga masih bisa kami lalui dengan nyaman. Namun, kewaspadaan tetap harus dijunjung tinggi karena jalanan licin bekas hujan dan jurang menganga di sebelah kami. Saya sendiri sampai terjungkal tiga kali karena jalan licin itu dan kesalahan memosisikan berat badan.
Perjalanan dilanjutkan ke arah kawasan agrowisata Gunung Mas masih dengan turunan, tebing, dan jurang di sebelah kanan-kiri kami. Karena jalanan agak susah dilewati, terjadi “kemacetan” di beberapa titik dengan rombongan lain. Ada pula rombongan yang sengaja membuntuti kami karena tidak terlalu hapal jalan tetapi tidak menggunakan marshall.
Turunan berbatu-batu membuat tangan bekerja keras menahan handle bar dan mengatur rem. Sangat penting mengatur kapan menggunakan rem depan karena kesalahan sedikit saja, akan membuat sepeda terjungkal. Tapi keganasan turunan ini, menurut saya, masih kalah dibandingkan turunan di Cagar Alam Rawa Danau yang sampai membuat lengan dan trisep saya pegal-pegal. Di sini baru saya mengerti kenapa sepeda fulsus yang mahal-mahal dan rem hidrolik diciptakan hehehe….
Ketinggian menunjukkan 1167m dpl ketika kami tiba di kawasan Gunung Mas yang dikelola oleh PTPN VIII Kebun Gunung Mas menjelang pukul 11. Selain merupakan kawasan agrowisata dengan cuacanya yang sejuk, pemandangan bukit-bukit kebun teh yang menakjubkan, di sini juga tersedia Tea corner dan pabrik pengolahan teh. Kami rehat sebentar sekaligus mengisi perut karena warung selanjutnya baru akan ketemu lagi sekitar 2 jam di depan. Rombongan lain pun tidak ketinggalan.
Lewat ¼ jam dari pukul 12, kami tiba di gerbang gading ganda Taman Safari Indonesia (TSI). Sudah tidak perlu dijelaskan lagi tentang TSI ini karena sepertinya tidak ada yang tidak tahu tentang objek pariwisata nasional di kawasan puncak ini. Namun, ada yang aneh. Banyak goweser dari rombongan lain yang berkerumun dengan penduduk sekitar yang mengendarai motor dan anak-anak kecil. Ternyata, mereka sedang bertransaksi paket sewa ojek dan dorong sepeda untuk menghadapi tanjakan ngehe 1! Luar biasa. Di Serang, tampaknya belum ada jasa paket ojek dan dorong sepeda ini walaupun tanjakan yang ada tidak kalah ngehe-nya. Beruntung kalau ada anak-anak kampung situ yang bisa dimintakan tolong. Kalau tidak ada, ngehe sendiri.
Tanjakan ngehe 1! Anak-anak kampung sini terus mengejar-ngejar dan menawarkan jasa dorong sepeda kepada goweser yang mereka perkirakan tidak akan sanggup gowes dan dorong sampai ke atas. Sebagian tanjakan sudah dilapisi semen yang nyaman untuk mengakomodasi kemudahan gowes dan ojek, walaupun tidak sampai puncak. Setelah itu, trek berubah menjadi batu-batu sebesar kepala. Sangat sulit digowes. Selanjutnya adalah trek tanah di tengah-tengah perkebunan teh sampai ke saung seng. Beberapa rombongan lain makan siang di saung ini. Di sini terdapat pula persimpangan ke arah tanjakan ngehe 2 atau pilihan lain turunan langsung ke arah Jalan Alternatif Puncak. Waktu hampir menunjukkan pukul 13.30 sehingga kami harus memilih langsung turun. Tak mungkin rasanya kalau harus melahap tanjakan ngehe-ngehe itu, apalagi besoknya harus ngantor lagi. Bisa jam berapa sampai Serang?
Memasuki kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, menjelang pukul 14, kami diguyur hujan. Terpaksa semua gajet masuk plastik. Tidak ada lagi foto-foto hehehe… Memasuki Jalan Alternatif Puncak, kita dapat bonus turunan super yang sangat panjang. Rem-rem dipaksa kerja keras. Bahkan, brakepad v-brake Om Sis harus diganti di tengah perjalanan karena aus dan sudah merusak rim-nya. Sensasi melahap bonus turunan di tengah hujan deras ini rasanya seperti menuruni trek Cilowong tapi dengan jarak turunan yang lebih panjang. Sepeda-sepeda yang tadinya penuh lumpur, sekarang tampak bersih dan tampilan seperti sepeda lagi. Serba salah dengan kaca mata. Dipakai, pandangan buram karena derasnya hujan, dibuka, mata pasti tersemprot air dari ban yang membuat mata-mata kami memerah.
Turunan berakhir di Jalan Raya Gadog-Puncak, di sebelah restoran Sederhana, hanya beberapa puluh meter saja dari masjid Gadog.
Kami mencapai finish sekitar 15’ menjelang pukul 16. Sepeda-sepeda langsung dicuci steam bersih karena sebagian harus masuk mobil. Ganjal perut dengan batagor, mandi, solat, ganjal perut lagi dengan sekuteng, dan siap kembali ke Serang pukul 17. Alhamdulillah masih bisa nyetir sampai ke Serang dengan tekad untuk kembali lagi dan menaklukkan tanjakan-tanjakan ngehe itu. Kapan?

14 comments:

Anonymous said...

ulang....wajib diulang

Ihsan said...

klu ke sana lagi...Rem hidrolyc sudah siap donk biar ga pegal / kram tangan

Ihsan said...

klu ke sono lagi sebaiknya nginap tuh biar bisa dilahap semua tanjakan ngehek 1-4...

santosonic said...

aktivitas sepeda di sana mendorong kegiatan ekonomi masyarakat sekitar, setidaknya ada 5 keg : loading angkot ke puncak pass, opretor track & jasa marshall, ojeg & joki di ngehe, cuci sepeda dan makanan & minuman para goweser...

mars said...

perlu diulang, cari libur yg 3 hari neh

fLash said...

Setuju banget kalo nginep setidaknya semalam supaya lebih banyak trek yang bisa dieksplorasi! :)

yudi said...

Om Om, saya newbie di goweser..mau tanya marshall orang puncak or serang?..saya ada rencana ke sana..bisa tolong inform nmr telp marshalnya Om...

Tenks Om om..Sukses teruss...,
Yushi 021 93734050

Aswin IF said...

Om klo boleh tau jasa Marshall nya berapa?

Aswin IF said...

Om klo boleh tau jasa Marshall nya berapa?

Dida Fasa said...

Om Aswin, jasa marshal sesuai kesepakatan. Waktu itu kami mwenggunakan 2 orang marshal, total fee Rp 150.000. Terima kasih.

van cesc said...

ga ada video amatir nya nih? biar kebawa suasana juga ikutan gowes di sana :D

GPS Tracker

muyassirun said...

Mantap om... Salam kenal dan salam gowes selalu.
sirun.wordpress.com

Oldi Aulia Ernanda said...

ada contact marshall nya gan,start mulai dari mana ya patokannya awal turunkan sepeda dri mobil?

Unknown said...

Ga ada penyewaan sepeda ya pak disana ? Pengen gowes tapi baru kemaren rusak ditrek gn. Pancar..

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons