Thursday, March 24, 2011

Rumah Hutan : Gowes Bareng Komunitas Genjot Pajak

Alhamdulillah, apa kabar goweser semua? Semoga kita semua tetap diberikan nikmat sehat jasmani maupun rohani oleh Allah SWT.
Hari Sabtu pagi, tanggal 19 Maret 2011 kemarin, udara sangat cerah dan matahari pun memasok vitamin D untuk tubuh kami, berlimpah. Alhamdulillah. SXC2 melakukan gowes bareng GP atau Genjot Pajak, yaitu komunitas pesepeda di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan. Mereka turun dengan kekuatan 15 orang, sementara kami mengusung 36 orang dibalut jersey go-green yang legendaris itu. Lumayan ai, riuh-rendah.

Selain kegiatan gowes bareng, kegiatan ini bagi kami bisa juga disebut sebagai gowes reuni karena beberapa anggota SXC2 yang lama tidak kelihatan karena kesibukan masing-masing, kali ini hadir dan berpartisipasi dengan pertanyaaan menggelayut, masih mampu tidak menaklukkan tanjakan 45 hehehe….. Apa kabar Om-Om semuanya?
Tujuan kali ini adalah Rumah Hutan di Cidampit melalui Jalan 45, dan kemudian masuk melalui Kp. Pereng. Perjalanan pulang akan melalui Kp. Pancanagara dan menyeberangi Kali Banten. Terakhir, menyusuri Jalan Bongla, menuju Jalan Raya Pandeglang, dan kembali ke titik akhir. Diestimasi jarak yang akan ditempuh sekitar 35 km.
Setelah melahap rebus-rebusan ditemani bubur kacang ijo, teh manis dan kopi, sekitar pukul 8.30, gowes dimulai dari titik kumpul dan titik akhir nantinya, yaitu halaman KPP Pratama Serang. Melalui alun-alun Kota Serang yang tetap semrawut, kami menuju perempatan Cikulur. Tanjakan 45 yang ketinggiannya sekitar 200m dpl menjadi menu berikutnya. Untunglah, trek dilapisi aspal hotmix mulus sampai ke puncak di Kp. Tanjung. Walau begitu, dapat diduga, banyak peserta bergelimpangan sepanjang tanjakan karena otot-ototnya tidak kuat menahan tarikan gravitasi bumi. Belum paru-paru yang kekurangan oksigen. Tidak hanya beberapa teman-teman GP, tuan rumah berbaju hijau pun masih banyak yang belum lulus menaklukkan tanjakan ini, termasuk saya tentunya hehehe… Om Kus yang selalu bertugas sebagai penyapu dan medis, mulai dapat pekerjaan nih hehehe… Tanjakan ini adalah satu-satunya yang bersifat ngehe dalam perjalanan kali ini. Syukurlah. Nah, di puncaknya, di Kp. Tanjung, kata penduduk kampung sekitar, kalau malam, sering tampak harimau. Orang sini menyebutnya “maung”. Entah maung beneran, entah jadi-jadian. Untunglah kami lewat sini hanya pada waktu siang saja.
Selepas puncak, barulah kami dapat bonus turunan. Walaupun girang, tetap harus hati-hati karena trek bercampur batu-batu kecil bisa menyebabkan licin. Melintasi kebun melinjo di kanan-kiri, kami pun sampai ke titik henti di pertigaan Kp. Sayar. Konsolidasi sejenak alias tarik nafas hehehe…

Selanjutnya, menuju Jalan Takari melalui jalan makadam berbatu-batu. Agak sulit ketika harus mendaki pada trek seperti ini. Ditambah, rinai gerimis membuat batu-batu menjadi licin. Klop sudah. Beberapa goweser berbaju hijau (sepertinya anggota SXC2 hehehe…) yang akan mengambil jalan pintas ke tujuan, berbelok di Kp. Bojong. Dari sini, mungkin sekitar selemparan tombak saja sampai Rumah Hutan hahaha…..
Setelah rehat sejenak di Jalan Takari, perjalanan dilanjutkan ke Kp. Pereng. Hanya sepeminuman teh saja. Di sini, rombongan kembali rehat sambil menyantap goreng-gorengan dan teh manis. Sementara, tim advance sudah gowes duluan ke tujuan.
Memasuki hutan sekitar pukul 11, trek mulai menantang karena merupakan trek tunggal, apalagi diguyur hujan, becek, gak ada ojek hehehe… . Licin. Ditambah, akar-akar pohon menghambat roda-roda sepeda kami. Seperti biasa, di beberapa tempat, sangat sukar meng-gowes sepeda. TTB dan MTB menjadi menu kami, baik karena medan yang sukar maupun demi keselamatan. Jatuh bangun seperti anak baru belajar jalan saja. Walau demikian, trek Cidampit tetap merupakan trek favorit yang mengasyikkan, menantang, tidak membosankan, dan ingin kembali dicoba. Tentunya sangat ideal kalau trek dalam kondisi kering. Bagaimana kalau kita ulangi lagi nanti pada musim panas? Bagaimana teman-teman?
Tiba di Rumah Hutan, sekitar pukul 13, langsung saja kami melahap ikan bandeng, tempe, tahu, ikan asin, lalapan dan sambel, sayur asem, minum kelapa muda, dan tidak ketinggalan menu spesial semur jengkol a la Didit. Terima kasih Pak Didit untuk makan siangnya dan Om Yopie cs untuk logistik alias angkut-angkutnya. Ditunggu pula hasil jepretannya, Om Chiem!

Sehabis makan, sholat, menyiramkan air ke badan, dan menyemprotkan air ke sepeda, perjalanan kami lanjutkan menuju Kp. Pancanegara. Beberapa goweser SXC2 yang harus buru-buru pulang, kembali mengambil trek Kp. Bojong. Secara umum, dari sini tinggal turunan saja dan masih licin karena bekas diguyur hujan, walaupun di beberapa bagian sudah mulai mengering. Om Pri sampai menambrak pohon pisang, tapi anehnya dia menahan badannya bukan dengan tangan, tapi dengan kepala. Ckckck… mentang-mentang…. Hehehe…. Om Opik lain lagi. Sekali tabrak, dua pohon pisang roboh. Beuh…. Apa akibat latihan fitnes, ya? Hehehe…
Jalan Pancanegara-Sayar sangat memprihatinkan. Beberapa bulan lalu, masih berlapis aspal mulus. Sekarang, sudah berubah menjadi seperti kubangan kerbau, seperti bumbu pecel atau ketoprak, atau gado-gado. Ternyata kehancuran masif ini disebabkan oleh orang-orang pintar yang melakukan penggalian pasir di kampung ini. Apakah tidak dilakukan Amdal? Apakah Amdal-nya bohong-bohongan? Wallaahu ‘alam. Sepertinya, galian pasir seperti ini selalu merusak jalan. Teringat kondisi di kampung saya di Jalan Rangkasbitung (Kabupaten Lebak)-Cikande (Kabupaten Serang) melalui Citeras yang kerusakannya sudah melegenda di kalangan pengguna jalan. Belum ada solusi dan selalu yang menjadi korban bukan pengusaha dan bukan pemerintah, tetapi rakyat!
Tinggalkan dululah urusan jalan. Kembali ke trek. Menyusuri trek tunggal kembali, melintasi kebun-kebun singkong milik penduduk. Menjelang Kali Banten, jurang di sebelah kiri menganga padahal trek yang kami lalui sempit dan licin. Untunglah semua selamat melaluinya.
Di Kali Banten, hampir semua mencuci sepeda yang sudah tidak berbentuk. Sebagian ditolong anak-anak kampung sini. Lumpur dan tanah telah sukses menggeser setelan rem, FD, maupun RD. Om Mars seperti biasa berenang dengan gaya kuda nilnya hehehe…. Anak-anak itu pun membantu mencuci dan menjadi ojek dorong sepeda sampai ke atas bukit. Lumayan meringankan karena mengangkat badan saja berat, apalagi harus sambil mendorong sepeda. Terima kasih anak-anak ya….

Kami memasuki Jalan Bongla yang berlapis aspal kasar di Kp. Pasagi Serut sekitar pukul 16.30. Kembali rehat beberapa menit saja karena semua peserta ingin segera balik ke titik akhir. Untungnya, tinggal trek turunan dan datar saja yang harus kami lalui. Menjelang Kp. Tembong, ada paparazzi mencuri foto para goweser, itulah Om Tim, yang masih absen sampai sekarang. Mana foto-fotonya, Om? Selepas Warung Pojok, beberapa goweser GP mencuci steam dulu sepeda-sepedanya karena harus masuk ke dalam mobil dalam keadaan bersih. Sebagian lagi mencuci di titik akhir.
Akhirnya, setelah melahap menu sore comro, rebusan jagung, dan pisang ditemani teh manis, SXC2 secara resmi undur diri, sementara para punggawa GP masih membersihkan diri-diri mereka. Sampai jumpa lagi teman-teman, semoga perjalanan tadi berkesan dan tidak kapok datang ke Serang!
Wassalam.

3 comments:

mars said...

terima kasih tuk GP-ers atas kunjungannya, smoga ga kapok....

CoKlat@Chelski said...

Ditunggu episode ke-2 dengan anggota lebih lengkap....

Anonymous said...

Menjaga kelestarian lingkungan berawal dari kesadaran diri karena kl mengharapkan penegakan hukum...mustahil...hukum bisa dibeli oleh mereka yg berkantong tebal

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons