Saturday, April 30, 2011

Baduy, sebuah Ekspedisi Budaya #1

Assalamualaikum Wr Wb,
Salam sejahtera untuk kita semua, semoga kita tetap dilindungi oleh Allah SWT, amin. Jum’at 22 April 2011 merupakan hari libur nasional, kami pun berencana untuk gowes ke Baduy, walaupun gowesnya ga sampe Baduy tapi kami gowes dari Serang sampe Ciboleger. Pagi itu langit tampak cerah, matahari pun tampak ceria menyinari dunia, sungguh nikmat yang patut kita sukuri, dan kita pun harus memanfaatkannya dengan berolahraga. Pukul 6.30 saya berangkat menuju tikum, segala persiapan untuk perjalanan ke Baduy pun sudah dipersiapkan dari semelam kecuali tinggal sarapan yang belum dipersiapkan. Saya putuskan untuk makan nasi uduk sebelum tikum, ternyata sudah ada Pak Agus , Pak Yusman dan anak Pak Yusman (Ihsan) sedang sarapan. Saya pun ikut gabung untuk sarapan, mengingat track nya jauh dan berat. Setelah sarapan kami menuju tikum, dan terimakasih Pak Agus yang sudah membayarkan sarapannya.

Di titik kumpul ternyata sudah banyak goweser yang sudah siap, ada Pak Mars, Pak Danar, Pak Dono, Pak Yopie, Pak Koes, Pak Agus, Pak Didit, Pak Topik, Pak Supri, Pak Dodo cozmic, Om Iyan, Pak Zaenal, Pak Aam, Pak Roni, Pak Yusman, Pak Hendra dan Saya Vito. Tidak lama kemudian datanglah Indra yang sudah lama ga gowes bareng lagi karena sedang pendidikan. Dia datang dengan membawa Kamera SLR barunya. Setelah semua siap, seperti biasa kami membentuk lingkaran, lalu berhitung dan berdoa memohon keselamatan untuk perjalanan berangkat sampai pulang kerumah nanti. Tidak lupa untuk berfoto dulu sebelum berangkat, mumpung ada fotografer, hehe, (fotonya di share Dra..). Setelah berfoto kami pun langsung berangkat, Pak Hendra dan Pak Yusman tidak ikut, begitu juga dengan Pak A’I, Pak Imam, dan Pak Deni yang sudah daftar tetapi ada halangan. Pak Zaenal berangkat dengan mengendarai mobil sampe Rangkasbitung, otomatis tas-tas kami yang gede-gede pun dititipkan di mobil Pak Zaenal, terima kasih Pak, sangat membatu perjalanan kami. Pak Dodo cozmic yang katanya lupa bawa obat pun bergegas pulang dulu, dan dia katanya akan menyusul. Tepat pukul 07.00 kami SXC2 berangkat menuju Baduy.

Rute perjalanan kami melalui Cipocok lalu ke Petir diteruskan ke Tunjung lalu menelusuri Jalan Cibadak hingga ke Rangkasbitung. Ketika menyusuri Jalan Cipocok, kami bertemu dengan Pak A’I yang tidak bisa ikut perjalanan kali ini karena anaknya sedang sakit, semoga cepat sembuh pak. Kontur jalan dari Cipocok sampe Petir, relatif landai dan onroad tetapi agak sedikit banyak lubang-lubang kecil di beberapa titik jalan. Jalan onroad relatif bagus ini hanya sampai Pasar Petir saja, lalu seterusnya jalan onroad relatif rusak bermakadam. Truk-truk yang melintas meninggalkan debu-debu di belakangnya yang otomatis terkena kami, kebanyakan dari truk-truk itu jalannya ngebut dan tidak memikirkan keselamatan pengguna jalan yang lain. Sampai di pertigaan Tunjung kami berhenti menunggu rombongan belakang. Lalu kami belok kekanan, ambil jalan arah Warunggunung. Kata Om Iyan, jalannya lumayan naik turun. Rombongan belakang pun datang, lalu kami yang sudah rehat sebentar, melanjutkan perjalanan kami. Kata Pak Ketu, kita harus menjaga jarak, diamana ketika rombongan belakang sampe maka rombongan depan jalan duluan, heheh. Benar saja, kontur jalan pun mulai terasa naik turun, ditambah jalannya rusak. Pak Zaenal pun masih setia mengikuti kami dari belakang dengan mobilnya. Sampai di pertigaan Cibadak, kami berbelok kiri ambil jalan arah ke Cibadak Rangkasbitung. Di konter pulsa kami rehat lagi menunggu rombongan belakang dan Pak Dodo cozmic yang pastinya jauh ketinggalan karena harus pulang dulu ketika di tikum tadi. Ketika Pak Ketu datang, beliau langsung melihat cewe dan berkata ”wah ada cewe tuh”, saya pun langsung sontak menengok ke belakang dan ternyata f a t a m o r g a n a, itu sih kebo bukan cewe (¬_¬”!), hahah. Pak Mars dan romobongan belakang pun datang, disusul Pak Dodo cozmic yang akhirnya datang juga. Seperti biasa, rombongan belakang datang, rombongan depan jalan duluan. Jalan Cibadak ini onroad tetapi masih banyak juga tanjakan dan turunan, nah tanjakan disini lah yang membuat Om Iyan merasa tertantang ketika ada Pak Ketu di belakangnya, dan akhirnya Om Iyan pun mulai merasa keram ketika sampai di i***mart Rangkasbitung. Sampai di i***mart sudah menunggu Pak Dida yang masih segar bugar tanpa keringat sedikit pun di wajahnya. Kami pun segera membeli air minum untuk menghilangkan rasa haus dan lelah kami. Setelah rehat dan berkumpul semuanya, kami meluncur kerumah Pak Dida untuk rehat lebih lama. Menyusuri jalan Jendral Ahmad Yani lalu diteruskan ke Jalan Multatuli. Kota Rangkas begitu tampak rapih dan bersih, begitu nyaman dipandangnya, itulah yang saya lihat dari Kota Rangkasbitung.

Sampai di rumah Pak Dida di Jalan Ir. H Juanda, kami beristirahat untuk menyantap makan yang sudah disediakan, terima kasih Pak Dida tuk kue dan teh hangatnya. Sambil mengobrol dan menyantap hidangan yang ada kami melepas lelah kami, tetapi perjalanan kami belum selesai sampai disini, kami musti melanjutkan perjalanan, mengingat sekarang adalah hari Jum’at dan kami harus mencari Masjid untuk melaksanakan sholat Jum’at. Setelah rehat, kami melanjutkan perjalanan, dan kami kali ini beruntung lagi karena tas-tas kami yang harusnya dibawa sampai Ciboleger kini dititipkan di mobil Pak Zaenal, karena Pak Dida berencana hanya ikut gowes sampe Ciboleger, tidak ikut ke Baduy. Pak Zaenal mulai menurunkan sepedanya dari mobil. Ban sepeda Pak Zaenal sudah diganti dengan ban onroad, jadi lebih enak melahap track onroad. Goweser kali ini bertambah 2 yaitu Pak Zaenal dan Pak Dida, jadi total goweser yang menuju Ciboleger 16 goweser. Kami berangkat ± pukul 10.15, melewati alun-alun Rangkas lagi lalu menyusuri Jalan Raya Leuwidamar dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam. Kondisi jalan onroad relatif rusak dan agak sedikit becek, tetapi datar tidak terlalu menanjak. Sebelum kecamatan Cimarga, kami melihat sebuah danau besar dengan bendungannya. Kami tertarik untuk melihat sebentar dan bertanya kepada warga yang sedang santai ditempat, ternyata nama tempatnya Palayangan. Tidak lupa untuk berfoto sejenak. Setelah itu kami lanjut gowes sambil mencari masjid. Panas matahari sangat menyengat, ditambah debu-debu dijalanan yang bertebaran akibat mobil yang melaju kencang, padahal jalanan rusak. Waktu sudah menunjukan pukul 11.30, kami menemukan masjid yang biasa di pake sholat Jum’at. Letak masjid berada di desa Pasir Bungur Kec. Cimarga. Kami memutuskan untuk sholat Jum’at disini. Yang aneh dari Mesjid ini adalah warganya yang setelah selesai sholat jum’at, mereka langsung bangun dan melaksanakan sholat lagi, sholat apaan tuh ya?? Oww…rupanya mereka lanjutkan dengan sholat Dhuhur berjamaah. Setelah sholat Jum’at kami makan siang di halaman Masjid mengingat sudah masuk waktu makan siang dan goweser pun pada kelaparan,hahah. Setelah makan dan persiapan, kami melanjutkan perjalanan. Panas matahari masih menemani kami, tetapi di depan sana langit tampak mendung. Benar saja doa-doa para goweser yang mengharapkan hujan, akhirnya datang juga ketika kami sudah memasuki desa Sudamanik. Perlengkapan elektronik pun kami titipkan pada mobil yang masih mengawal perjalanan kami. Memang paling enak kalo gowes sambil hujan-hujanan itu, kita ga akan sakit, karena didalam tubuh kita masih hangat akibat kita tetap bergerak/gowes, dan yang lebih enak lagi adalah jalanan milik sepeda, karena tidak ada motor yang berani melintas kecuali mobil. Oiyah dan satu lagi, enaknya gowes sambil hujan-hujanan itu bisa pipis dicelana, kata Om Iyan, waduh masih sempet-sempetnya aja gitu? Hahahah.

Sesampainya di pertigaan Cisimeut kami berhenti menunggu rombongan belakang. Di pertigaan ini kami berbelok kekanan arah Ciboleger, sebenarnya lurus juga bisa, akan tetapi jalannya agak rusak dan lebih jauh menurut informasi dari tukang ojek yang berada di pertigaan ini. Ternyata tantangan perjalanan kami mulai baru terasa ketika kami berbelok di pertigaan Cisimeut ini. Tanjakan langsung menyambut kami ketika kami baru saja mendapatkan turunan dari pertigaan ini. Untung hujan menemani perjalanan kami, jadi tanjakan securam apapun hanya terasa lelah sedikit. Ada tanjakan yang begitu panjang, curam dan tinggi, tetapi pada titik puncak tanjakan ini terlihat jelas indahnya pemandangan bukit-bukit disebelah kiri jalan. Subhanallah, sungguh alam yang sangat indah, Maha Besarnya Engkau yang telah mencipatakan alam seindah ini. Saya berhenti sejenak karena tertarik untuk melihat pemandangannya. Disusul Pak Dodo cozmic , Pak Supri dan Pak Danar lalu kami berfoto sejenak dengan background pemandangan bukit-bukit yang indah. Untung saja Pak Danar membawa kamera walaupun cuaca hujan. Titik tertinggi ini jadi tempat rehat kami sejenak sambil menunggu rombongan belakang. Dapat kabar dari Pak Mars bahwa tadi dibelakang ada pohon tumbang. Untung saja segera di singkirkan oleh Pak Mars dan Pak Koes, karena banyak sekali mobil truk yang melintas disini, apalagi kondisi jalannya menanjak curam. Ketika kami sudah berkumpul semua, datang temannya Pak Zaenal, yaitu Pak Surya yang katanya ikut gabung gowes ketika di pertigaan Cisimeut. Beliau menunjukan tujuan kita (Ciboleger) pada pemandangan bukit-bukit disebelah kiri. Katanya Ciboleger itu terletak di bukit yang paling ujung yang berasap itu, dan kita harus melalui 5 tanjakan curam lagi (namun pada kenyataannya lebih dari 5). Sontak kaget lah kami semua, tapi tidak apa-apa, itu menjadikan motivasi buat kami, ternyata bukit ini hanyalah sebagian kecil dari bukit-bukit lain, masih banyak tantangan di depan sana yang harus dihadapi. Lalu kami gowes kembali, hujan tidak lagi menemani perjalanan kami, tetapi tanjakan dan turunan masih setia menemani kami, tentunya pemandangan yang sangat indah yang menjadi backgroundnya. Sampai pada pertigaan Bojongmanik Mobil Pak Zaenal yang di kendarai oleh Adik Pak Dida sudah menunggu dan menunjukan arah berbelok kekiri, yaitu arah menuju Ciboleger.

Pertigaan Bojongmanik, kami harus berbelok kekiri apabila ingin hendak ke Ciboleger. Dari pertigaan Bojongmanik kami mulai merasakan puncak tantangan terberat kami, banyaknya turunan curam yang membahayakan, dan tanjakan curam yang memberatkan. Rombongan kami sudah mulai terpecah, karena beratnya tarck, jadi menanjakpun terasa berat apabila hanya sendirian. Tetap ini harus dijadikan sebuah latihan buat nanti dalam melahap track-track yang berat. Jalanan mulai banyak tanjakan dan turunan yang curam dan berkelok. Disini ada satu turunan yang sangat berbahaya karena turunan sangat tajam, berpasir, dan berkerikil yang langsung dihadapkan dengan tanjakan berbelok yang tidak memungkinkan untuk di tanjak, tetapi pada puncak tanjakan berbelok itu ada jalan pintas jalan tanah yang bisa dilewati. Semua goweser pun punya pemikiran yang sama, yaitu mengambil jalan tanah tersebut, karena kalo mengambil jalan onroadnya pasti akan jatuh, begitulah cerita para goweser yang mengalaminya. Ketika saya sedang lelah-lelahnya menanjak terlihat di depan ada Pak Dodo cozmic yang sedang menanjak pula. Langsung saja saya teriak memanggil beliau, dan beliau pun kaget lalu behenti. Sampai di puncak tanjakan Saya dan Pak Dodo berhenti dengan nafas terengah-engah, karena tanjakan yang merupakan tanjakan terakhir memang sangat curam. Lalu saya bertanya kepada warga yang ada di situ, “Pak Ciboleger masih jauh atau tidak?”. Lalu jawab si bapak “sudah deket, itu di depan tinggal turun”. Wah langsung saja Saya dan Pak Dodo mengambil sepeda menuju Ciboleger yang ternyata di depan mata. Katanya di Ciboleger ada market ternama yaitu a****mart. Langsung saja terpikir dibenak saya, kalo nanti sampe langsung menuju market tersebut, karena perut sudah lapar dan persedian air minum pun habis. Sebelum memasuki Ciboleger ada tiga tanjakan curam yang sangat menguras tenaga selain curam, juga licin karena aspal yang berlumut. Beberapa goweser menyerah lempar handuk di tanjakan terakhir ini, maklum tenaga sudah sangat terkuras.

“Selamat Datang Di Ciboleger” begitulah yang tertulis pada tugu selamat datang yang di atasnya berdiri patung satu keluarga dengan dua orang anak (laki-laki dan perempuan) dan mereka mengangkat tangan kirinya seakan menyambut kami yang baru sampai, dan itu membuat kami tersenyum lebar walaupun bagaimana lelahnya perjalanan kami. Saya dan Pak Dodo datang pukul ± 15.30 dan langsung memutari tugu yang berbentuk lingkaran itu, karena menurut saya kalo naik sepeda ke Ciboleger ga muterin tuh tugu rasanya kurang afdol,hahah. Setelah muterin tuh tugu saya langsung menuju a****mart, sebelum masuk saya periksa kantong, dan ternyata baru inget kalo dompet tuh ada di mobil, hahah, terpaksa deh ke warung sebelah a****mart, biar bisa bayar nanti. Ketika Saya pesan minum dan makan, datenglah seorang perempuan berkerudung dengan kacamata di wajahnya menghampiri kami. “rombongannya Pak Agus yak?” tanya perempuan itu dan saya pun respon menjawab “iyah!!”. Setelah sedikit berbincang saya langsung ambil kesimpulan, ooh ternyata perempuan itu adalah Tim BPI (Back Packer Indonesia) yang akan menemani perjalanan kami dan ada satu lagi temannya (perempuan) yang sedang duduk di dalam warung.

Ketika Saya dan Pak Dodo sudah selesai makan, datenglah Om Iyan dengan tenaga coklat yang di konsumsinya selama tanjakan terakhir, cetusnya saat menghampiri kami. Memang dari pertigaan Bojongmanik sampe Ciboleger adalah puncak terberat gowes kami, karena konturnya naik turun bukit. Disini terjadilah seleksi alam, yang membuat kami tercecer menjadi banyak bagian. Tidak lama kemudian rombongan belakang lainnya pada berdatangan. Mereka datang pukul ± 16.30, tepat sejam setelah kedatangan kami. Lalu kami pun bertemu dengan Tim BPI tadi yang sudah menunggu kami, yaitu Fidho dan Opie. Setelah berbincangan dan berkumpul semua berkumpul semua kami pun berfoto sejenak bersama Tim BPI di depan tugu selamat datang, agar membuktikan bahwa kami pernah kesini dengan menggunakan sepeda. Setelah berfoto-foto, kami diberikan waktu mempersiapkan diri untuk hiking ke penginapan di Baduy Luar, kampong Gajeboh. Jangan lupa untuk beli makanan-makanan untuk di kampung baduy, karena tidak ada yang jual nasi ataupun roti disana.

Bersambung....

[by Vito]

7 comments:

CoKlat@Chelski said...

Pertamax...ditunggu sambungannya...dan kita tunggu Baduy edisi ke-2...

mars said...

sundul gan...
Perjalanan asyik banget, 3 tanjakan terakhir teramat gila...syukur lulus smua...
Terima kasih BPI...

CoKlat@Chelski said...

pinjam slogannya liverpool....we're never walk alone....tapi diganti we're never ride alone...jd yg belakang nggak perlu kuatir......

fLash said...

Alhamdulillah, walaupun menjadi orang terakhir yang finish,,, bisa bergabung juga dengan rombongan langitan sampai Ciboleger. Tanjakan ampun,,turunan ampun.... Sudah mencapai batas kekuatanku kayaknya. Gimana kalo ikut trekking sampai ke dalam, bisa2 perlu tandu hehehe....

fLash said...

Tapi sayang, monumen petaninya seperti tidak dirawat, menghitam, berlumut. Emang di Ciboleger tidak ada pemerintahan, ya? Jalan akses menuju ke sana pun hancur-hancuran karena industri pasir sedot. Persis sama dengan kondisi jalan Rangkas-Cikande dan Kp. Pancanagara di Serang. Memalukan sekaligus memilukan. Sampai-sampai, bumi perkemahan Pramuka Pasir Roko di Cimarga, sekarang menjadi bukit-bukit hancur. Apakah lokasinya dipindahkan atau tidak? Apakah keuntungan PAD dari industri ini sepadan dengan kerugian yang diderita warga karena rusaknya jalan, dan lama2 kendaraannya juga? Apakah tidak dilakukan AMDAL terlebih dahulu? Apakah AMDAL-nya asal-asalan? Wallahu'alam...

mars said...

@flash... :
mungkin bukanya gada pemerintahan om, kata penduduk sekitar...RI 1st (mbak mega), Banten 1st dan pejabat lain juga pernah ke baduy...tp entah apa yg diliat...tidur mungkin wkt dijalan.
Masalah AMDAL...emang di Banten khususnya...kayaknya ga ada yg lolos AMDAL deh...masih ingetkan gmn polusi di Cilegon, Anyer waktu kita ke curug gendang itu. Paru-paru panas serasa terkabar.
Kalo masalah jalan rusak...bukankah itu emang bagian yg tak terpisahkan dari Banten.
Trus kalo masalah kerusakan lingkungan...tau sendiri kan...berapa banyak truck yg angkutin kayu masuk ke Serang setiap harinya...Belum lagi...kita bisa menyaksikan dan mendengar sendiri bunyi gergaji mesin menderu di hutan-hutan saat sepedaan...
Mungkin pemerintah bukanya ga tau om, tapi...kurang bisa merasa memiliki...

Anonymous said...

Info Gowes ke Baduy, klik di :

www.onthelclassic.wordpress.com

Tangerang - Banten

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons