Wednesday, May 18, 2011

Baduy, sebuah Ekspedisi Budaya #2

Assalamualaikum Wr Wb
Ini janji saya tuk meneruskan laporan sepedaan ke Baduy, mungkin terlalu lama, tapi tak apalah (maklum anak muda banyak kegiatan)
Laporan terdahulu…kami telah sampai di Ciboleger…dan para peserta sepedaan telah beristirahat sejenak setelah dihajar tanjakan menuju Ciboleger.

Setelah semuanya siap, lalu kami berkumpul membentuk lingkaran dan sedikit arahan dari Pak Udin (pemandu tour baduy, bukan Udin Sedunia loh) lalu berdoa memohon keselamatan. Pukul ± 17.30 kami berangkat menuju Gajeboh untuk menginap, tentunya kami harus hiking. Sebelum memasuki kawasan kampung Baduy, kami harus meminta ijin dulu kepada Jaro (ketua pemerintahan Baduy), yang ijin cukup 2-3 orang jangan terlalu banyak, dan kita harus membayar Rp. 25.000. Setelah izin kami lanjutkan perjalanan. Kontur jalan naik turun dan kondisi tanah becek + licin, dan terdapat batu-batu di tengahnya. Batu-batu itu dibuat oleh warga baduy agar para wisatawan dapat berjalan dengan lebih baik dan tidak terpeleset. Hari sudah mulai gelap, untung saja para goweser semua membawa lampu sepedanya, jadi ada sedikit penerangan jalan. Pada saat hiking ke tempat penginapan, sangat terasa sekali pegal-pegal pada bagian kaki dan jalan kami pun mulai tidak beraturan, mungkin karena habis gowes + gelapnya jalan + kontur jalan yang naik turun bukit.
Setelah melewati kampung Kaduketug, Babakan Balimbing dan Marengo akhirnya kami sampai juga di penginapan, dan ternyata Gajeboh itu nama kampung Baduy luar yang jadi tempat persinggahan kami, bukan nama tempat penginapnya, hahah. Rumah Baduy luar tertata rapi, kontur tanahnya rata tidak seperti rumah Baduy dalam yang mebiarkan tanah apa adanya. Rumah ini terbuat dari bambu dan kayu beratap rumbia lalu dibuat menjadi seperti rumah panggung. Baduy memiliki 59 kampung, 3 diantaranya kampung Baduy dalam yaitu Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo. Luas seluruh Kampung di Baduy sekitar 15.000 hektar, ±3.000 hektar untuk hutan lindung dan yang ±2.000 hektar untuk lahan bercocok tanam dan sisanya untuk tempak tinggal. Populasinya mencapai kira-kira ±11.172 jiwa. Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar, mereka ada yang sebagian lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Baduy tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja. Mata pencaharian utama masyarakat Baduy adalah bertani. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan dan hasil keranjinan tangan yang mereka buat. Contohnya saja di tempat kami menginap ada warga baduy yang berjualan seperti mie, rokok, kopi, makanan ringan dan lain-lain. Warga ciboleger juga banyak berdatangan ke tempat dimana wisatwan menginap di kampung baduy, mereka berdagang souvenir khas baduy.

Tempat penginapan kami terbagi menjadi dua, keduanya saling bersebrangan. Pertama kali sampai di tempat penginapan yang saya tanyakan adalah kamar mandi, dan merekapun menjawab di sungai. Memang sudah pasti ditempat begini semua aktivitas yang berhubungan dengan air pasti dilakukan disungai. Setelah semuanya rehat sejenak dan membereskan tata letak tas-tas, kami pun beranjak mandi ke sungai, tentunya dengan perlengkapan mandi dan senter karena keadaan malam. Ketika saya mau berangkat mandi, Pak Supri hendak ikut, dan ketika saya samperin tuh ke penginapan di sebrang, katanya Pak Supri udah berangkat, lalu ditunjukan arahnya ke sebelah kiri tepat dibelakang penginapan (letak sungai berada), berangkatlah saya kesana sambil memanggil Pak Supri dan menyenter-nyenter di sekitar sungai. Ternyata eh ternyata yang saya senter adalah wisatawan perempuan yang sedang melakukan aktivitas di air dan sambil berteriak "AAAaaarghh!!!". Terdengar terikan seperti itu saya pun panik dan langsung balik lagi. Ternyata saya di bohongin, itu sungai tempat perempuan, dan Pak Supri masih di penginapan. Setelah kejadian panic at the river lalu kami mandii di bibir sungai lain nya yang di tunjukin oleh adiknya Pak Udin.
Kami pun mandinya terpisah, karena sungai ini membentang luas disamping pemukiman warga. Tak terbayang jika harus mandi di sungai malam-malam hanya dengan penerangan lampu senter, gimana cara mandinya? dan yang pasti jangan dibayangin ya, heheh. Hal yang paling lucu adalah ketika ada yang mau kencing atau bab. Itu tuh pasti dilarang-larang terus, dan yang sedang mandi bilang "waduh Pak, jangan disitu, itu aliran nya (sungai) ke saya". Pasti bingung lah orang yang mau buang air kecil, dan cara amannya adalah langsung masuk ke air lalu "ceeessss", sudah selesai deh, hayo siapa yang kaya gitu? hahah. Di Baduy Luar ini kita masih diperbolehkan untuk memakai sabun, sampoo untuk mandi di sungai. Kalo di Baduy Dalam bahan kimia dilarang dipakai disungai. Setelah mandi bebek di sungai kami kembali lagi ke penginapan, tetapi sebagian masih ada yang mandi, betah amat pak mandinya? (ˆͺˆ).
Bermalam di Baduy memang sangat damai, tentram dan tenang, tidak ada suara bising kendaraan dan polusi, yang ada hanya suara manusia dan hewan yang merasakan kedamain. Canda tawa kami memecah keheningan malam. Obrolan demi obrolan kamipun ditemani segelas kopi yang dibeli dari warga baduy yang berjualan di penginapan. Goweser yang lainpun sibuk tawar menawar dengan pedagang souvenir khas Baduy. Rasa lelahpun kian menyapa kami hingga mengantarkan kami terlelap tidur. Dengan harapan esok hari tetap fit untuk bisa hiking ke Baduy Dalam.

“Guk guk guk……!!!!” suara anjing yang begitu keras terdengar ditelinga saya. Kira-kira subuh jam 3 an anjing-anjing di perkampungan ini menggonggong seakan ada pertanda. Tersadar saya, Pak Yopie dan Pak Mars tidur di teras depan penginapan yang dekat sekali dengan suara anjing itu. Karena takut anjingnya naik keteras, spontan saya langsung bangun, lalu mencoba untuk pindah kedalam dan mencari tempat yang kosong. Ternyata suhu didalam tidak begitu dingin tidak seperti diluar. Karena tidak bisa tidur lagi, dan suara anjing pun sudah berganti dengan suara ayam yang berkokok, saya kembali lagi ke teras. Satu persatu goweser mulai bangun dari tidurnya. Tiba – tiba Pak Didit keteras, lalu terdengar suara “preeetttt”, dan Pak Yopie pun membalasnya “preeettt”, Pak Mars yang sedang tidur pun tidak mau ketinggalan sesi adu kentut ini, sambil tidur bunyilah “preeeett” , Pak Topik yang berada di dalam juga tertarik untuk keluar dan mengikuti kontes adu kentut ini, sehingga cukup imbanglah perlawanan adu kentut di subuh hari ini antara Pak Didit & Pak Topik VS Pak Mars & Pak Yopie, dan berlangsung cukup lama. Hahaha.

Pagi pun menyapa kami, begitu sejuk, damai, tidak ada suara kendaraan bermotor dan tidak ada polusi. Warga baduy sudah banyak yang beraktivitas dipagi hari, terutama yang perempuan, mereka sudah ke sungai sejak dari pagi buta, mungkin supaya tidak terlihat kali ya, heheh. Kami pun satu persatu muali mengambil pelengkapan mandi kami dan menuju sungai. Tadinya saya tidak mau mandi, karena udaranya dingin dan males ke sungai, eh dapat kabar kalo ada pancuran air bersih di dekat sungai sana, langsung saja Saya, Pak Yopie, Pak Didit, Pak Danar , Pak Dodo dan Pak Topik menuju pancuran. Sesampainya di pancuran, ternyata sepi, airnya pun bersih dan dingin. Pancuran ini bersumber dari atas gunung, yang airnya mengalir melalui bebatuan dan diujungnya dipasang bambu yang dibuat oleh warga baduy. Pak Danar dan Pak Dodo yang katanya sudah mandi di sungai pun mandi lagi di pancuran ini, katanya mereka ga sudi kalo mandinya di sungai tapi ada pancuran. Para goweser lain belum mengetahui kalo ada pancuran yang airnya seger banget langsung dari atas gunung, di banding di sungai yang airnya ya gitu deh.

Setelah selesai mandi kami langsung sarapan yang sudah dari tadi disediakan. Nasi goreng + telor ceplok jadi sarapan kami pagi ini untuk hiking ke Baduy Dalam. Setelah sarapan kami bersiap-siap untuk hiking. Tas-tas kami yang berat-berat tidak dibawa hiking, tetapi di titipkan untuk dibwa kembali ke Ciboleger, mengingat tracknya begitu jauh dan berat. Kami pun berkumpul dan membentuk lingkaran untuk berdoa dan sedikit arahan tentang track. Diputuskan bahwa Pak Dono, Pak Danar, Pak Aam, Pak Zaenal dan Pak Roni tidak ikut hiking ke Baduy Dalam karena ada alasan tersendiri. Tidak lupa untuk berfoto sejenak sebelum meninggalkan kampung Gajeboh. Setelah berfoto dan semuanya siap kami berangkat menuju Baduy Dalam.

Disamping kampung Gajeboh ini ada jembatan bambu. Ini merupakan jembatan Bambu petama yang kami lewati. Design jembatanya menggantung melintasi sungai yang cukup lebar. Pada saat melintasi jembatan ini, kami berbarengan dengan siwsi-siwsi SMK yang ada di Pandeglang, mereka hanya di pandu oleh beberapa lelaki. Tapi tenang aja neng, dibelakang masih banyak lelaki-lelaki yang siap membantu, heheh. Setelah melewati jembatan bambu kami langsung mulai menanjak bukit yang cukup terjal, kemudian turun lalu menanjak kembali dan turun bukit lagi. Banyak siswi-siswi yang tercecer disini, begitu juga dengan para goweser yang ikut tercecer karena menemani siswi-siswi yang tercecer, haha.

Dari kejauhan terdengar suara sentakan kayu yang beradu, sentakannya begitu berirama satu sama lain. Ternyata sentakan itu berasal dari gadis-gadis Baduy Luar yang sedang menenun. Ya kami sampai di Kampung Cicakalmuhara yang masih daerah Baduy Luar. Kami pun duduk-duduk sejenak dan berfoto dengan seorang gadis yang sedang menenun. Lalu kami melanjutkan kembali perjalanan kami, perjalanan yang masih ditemani dengan tanjakan dan turunan yang curam. Sepanjang perjalanan kami, banyak anak kecil dari Baduy Luar yang menawarkan air mineral dan sebagainya, mereka mengikuti para wisatawan dengan lincah dan tanpa merasa lelah. Padahal tracknya begitu berat, mungkin mereka sudah terbiasa. Setelah kampung Cicakalmuhara, kami kemudia melewati kampung Cipaler yang masih daerah Baduy Luar. Hingga ke Jembatan Tamayang, yaitu Jembatan bambu yang menjadi perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy dalam. Siswi-siswi yang tadinya hiking berbarengan tertinggal jauh dibelakang kami. Sesampainya di jembatan Temayang ini, kami berfoto sejenak, mengingat kalau sudah di Baduy dalam tidak boleh foto dan handphone pun dimatikan. Di Jembatan Temayang ini sudah ada wisatawan dari SMKN 1 Tangsel yang sedang berkumpul di sungai tepat dibawah jembatan. Ketika kami sudah menyebrangi jembatan Temayang ini, pemandu kami yaitu Fido & Opi bertemu dengan Juli dari warga Baduy Dalam yang mereka sudah kenal sebelumnya. Kemudian mereka menyampaikan pesan kepada Juli, sepertinya pesannya berupa cetakan foto Juli bersama wisatawan lain. Setelah berbincang dengan Juli, kami sempatkan foto bersama dengan icon warga Baduy Dalam, karena kalo di dalam sana untuk foto bersama warga Baduy Dalam tidak boleh. Dan ternyata wisatawan SMKN 1 Tangsel juga ingin berfoto dengan Juli. Lalu kami melanjutkan perjalanan, dan langsung saja kami dihadang oleh yang namanya tanjakan Cinta (kata warga Baduy Dalam) yang kira-kira panjangnya 1 Km dan sangat curam sekali. Dibawah terik panasnya matahari kami harus menanjak, perlahan sambil membungkukan badan dan akhirnya sampai juga. Langsung kami rehat sebentar di rumah warga Baduy Dalam sambil mengenal warga Baduy Dalam. Setelah selesai rehat kami kembali berjalan lagi menuju kampung Cibeo yang katanya tidak jauh dari sini.

Sambil hiking kami mengobrol banyak tentang adat Baduy Dalam sama Juli. Katanya Warga Negara Asing (WNA) dilarang/tidak boleh masuk kedalam kawasan Baduy Dalam, dan mereka hanya bisa masuk sampai Baduy Luar saja. Juli juga menceritakan tentang bagaimana, orang Baduy hidup, makan, bekerja, dan cinta. Nah tentang cinta, katanya orang Baduy Dalam itu menikah harus diatas umur 20 tahun, dan pasangannya itu biasanya didapat dengan dijodohkan, masih jaman Siti Nurbaya nih, hehe. Juli pandai berbahasa Indonesia, karena dia sering pergi keluar, seperti ke Jakarta, maka dari itu dia sering berinteraksi menggunakan bahasa Indonesia. Biasa nya Juli pergi ke Jakarta bersama Ayah dan Kakaknya, tentunya dengan berjalan kaki, karena Baduy Dalam sangat berpantangan dengan alat transportasi. Sepeda pun mereka tidak memakainya. Sungguh sangat sederhana. Begitulah sedikit cerita tentang Baduy, dan tak terasa akhirnya kami pun sampai di Kampung Cibeo daerah Baduy Dalam. Ketika kami sampai, kami di sambut 4 perempuan yang sedang mandi di sungai, waw rejeki mah ga kemana, Hahah. Awas pak jangan dliatin aja, nanti jatuh loh ke sungai, dan para pembaca jangan ngebayangin, toh mereka mandinya pake baju kok. Kami pun langsung menuju rumahnya Juli, dan kami di jamu oleh Bapaknya Juli dan diberi hidangan Gula Aren dan air minum yang disajikan di mangkok, kaya orang jepang aja deh minumnya. Tampaknya rumah Baduy Dalam dibiarkan plong aja gitu tidak ada sekat, yang di sekat hanya kamar saja, dan hanya ada 1 pintu di depan. Kontur tanahpun dibiarkan apa adanya, jadi kayunya yang menyesuaikan dengan kontur tanah. Warga Baduy Dalam mereka berpakaian putih dan ikat kepala putih namun untuk celananya pake semacam rok kain hasil tenun, dan selalu membawa golok khas Baduy Dalam di pinggangnya. Dari anak kecil kecil hingga dewasa rata-rata mereka mebawa golok di pinggangnya. Rata-rata dari mereka tidak bisa Berbahasa Indonesia, walaupun ada yang bisa hanya sebagian kecil saja. Ada sebagian warga Baduy yang membuka warung kecil-kecilan, mereka menjual makanan ringan, entah warga Baduy Dalam atau Baduy Luar yang berjualan itu. Hebatnya lagi pedagang souvenir khas Baduy dari Ciboleger ada disini, mereka meengikuti wisatawan hingga ke Baduy Dalam. Ada seorang warga Baduy yang ingin menjual goloknya yang ada serat-seratnya, nampaknya Pak Topik dan Pak Mars tertarik untuk membelinya. Memang goloknya mempunyai nilai seni yang tinggi, dari besinya hingga penutupnya semuanya mempunyai ukiran khas Baduy Dalam. Karena harga nya tidak bisa di nego dan akhirnya Pak Koes lah yang membelinya dan langsung di pasang di pinggangnya, biar kaya orang Baduy katanya. Setelah istirahat dan mengobrol banyak tentang baduy hingga penawaran golok khas Baduy, kami bersiap kembali untuk perjalanan ke Danau dan makan siang. Sebagai ucapan terimakasih kami, lalu kami memberi makanan ringan yang kami bawa.

Setelah semuanya siap, kami melanjutkann hiking ke Danau. Perjalanan kami ke Danau masih di temeni Juli dan Pak Udin. Masih di Cibeo, Pak Udin memberitahu kami rumahnya Pu’un (ketua adat Baduy) dan aula pertemuan. Di halaman rumah Pu’un di beri batasan, jadi orang-orang tidak boleh melewati batas yang sudah di beri tanda, dan hanya bisa melihatnya dari jauh. Baru saja keluar kampung Cibeo kami sudah harus menanjak lagi, tampaknya track terberat kami adalah kali ini. Tracknya nanjak turun mulu, mana curam-curam lagi, kami pun kewalahan menanjaknya, kalo kata goweser beratan nanjak yang beginian dari pada ngegowes. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga Baduy Luar yang berbondong-bondong, dengan lincah mereka menajak tanpa menggunakan sendal. Lah kalo kami?! menanjak perlahan-lahan tapi pasti asalkan tidak pingsan, heheh. Disini terbukti rahasia kekuatan Pak Yopie yang biasanya kalo ngegowes tanjakan itu selalu gigi berat, sekarang pada saat hiking di Baduy Pak Yopie selalu didepan tanpa merasa lelah dan terus melahap tanjakan dengan pijakan yang tepat, walaupun dengan berat badan yang berlebih, tetapi beliau tetap kuat menanjak dan selalu didepan. Yang paling lucu Pak Supri, biasanya kalo gowes selalu ngajak track jauh dan berat, eh pas hiking ke Baduy malah tepar, ngeluh & marah-marah terus,hahah. Kalo Pak Mars, kain ikat kepala Baduy Luar yang dikenakan di kepalanya menjadi sangat basah karena keringatnya dan berkali-kali beliau peras tuh kain. Berbeda dengan Pak Topik yang dikepalanya menancapkan satu helai bulu burung di ikat kepalanya, kaya kepala suku deh, haha.

Hari pun semakin siang dan panas, tanjakan demi tanjakan, bukit demi bukit, sungai demi sungai kami lalui di bawah terik panasnya matahari, persedian air pun mulai menipis, begitu juga perut kami mulai kelaparan. Semua yang kami lihat layaknya fatamorgana, tanjakan didepan kami lihat seperti turunan, dan orang didepan kami, kami lihat seperti makanan, Hahah. Pada titik puncak tertinggi kami behenti dan berpapasan dengan siswa-siswi SMA dari Jakarta, kira-kira jumlahnya mencapai 100 an dan mereka hanya di pandu oleh beberapa guru dan pemandu. Malah ada murid yang bawa koper, wah salah alamat tuh. Mereka tampak kelelahan dan putus asa, menurut informasi yang kami dapat setelah sampai di Ciboleger, mereka (siswa-siswi SMA dari Jakarta) hanya sarapan pagi dengan Mie saja, terus langsung hiking, dengan alasan untuk mengirit. Irit sih irit, tapi ga gitu juga kali, ini merupakan pelajaran buat kita apabila mau hiking ke Baduy, jangan lupa makan nasi yang cukup, karena tracknya begitu berat. Pada saat kami berhenti di puncak tertinggi kami melihat bukit-bukit di depan yang jalannya nanjak turun, dan kami yakin, kami pasti lewat situ. Karena kami sudah kelaparan, lelah, dan persedian air minum pun menipis, muncul lah ide-ide gila kami, yang berpikir coba ada flying fox, gantole, atau gondala yang bisa mengantarkan kami ke bukit-bukit itu tanpa harus naik-turun bukit dulu, hahah itu sih tidak mungkin. Celotehan demi celotehan muncul dari mulut goweser, dan hasilnya pun tidak berbuah. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami, kami pun masih berpapasan dengan siswa-siswi yang tercecer begitu panjang. Sungguh kasihan melihat mereka yang begitu kelelahan dan hampir pingsan, rata-rata mereka yang tercecer dan tertinggal jauh adalah perempuan. Kami pun sepanjang perjalanan memberi semangat kepada mereka, bahwa Kampung Cibeo sebentar lagi, padahal mah jauh keneh pisan euy,hehe. Dan mereka pun memberi semangat kepada kami, katanya Danau nya masih jauh pak, wah itu sih nurunin mental.

Sampai dirumah warga Baduy Dalam kami rehat sejenak sambil menunggu yang belakang, untung saja Fido masih membawa makanan, dan dibagi-bagikan kepada goweser, alhasil dalam sekejap langsung habis. Setelah rehat kami lanjutkan perjalanan yang masih panjang dan berbukit-bukit ini. Tepat bukit yang tadi kami lihat dari puncak tertinggi di sebrang sana kini kami lewati, dan kami melihat siswa-siswi tadi masih banyak yang sedang menanjak di puncak tersebut. Memang hiking ke Baduy ini harus dipersiapkan segalanya, dari kesehatan, mental, makanan dan minuman, dan tas barang bawaan jangan terlalu berat, karena tracknya aja sudah berat jangan ditambah berat lagi, dan Jangan lupa untuk pakai jasa pemandu, karena Baduy itu luas dan berbukit-bukit. Mungkin itu sedikit tips untuk hiking ke Baduy. Perjalanan kami masih panjang, Pak Dodo, Om Iyan dan Saya pun sampai buka baju karena keringat yang membasahi badan sudah over limit. Pijakan kaki kami kini mulai tidak beraturan, persedian air minum pun mulai habis. Terpaksa kami harus berhenti lagi di rumah warga Baduy Dalam untuk minta air minum, untung saja ada Juli yang minta air minumnya. Berhubung airnya cuman ada satu botol besar dan tidak semua goweser kebagian, Pak Mars malah mengambil air minum dari pancuran yang mengalir pada bambu yang dibuat oleh warga. Akan tetapi rasa air minumnya berbeda dengan pancuran-pancuran yang lain, mungkin bambunya sudah lama dan lapuk. Disini mulai lagi timbul fantasi-fantasi aneh dari mulut goweser, coba ada ketoprak, mie ayam, baso, petis lah segalanya disebutin saking laparnya dan kecapean. Pak Udin pun memberi sedikit kami harapan, katanya tinggal ngelewatin satu perkampungan lagi kita sampe ke danau, dan makan. Mendengar seperti itupun kami langsung bangkit dan melanjutkan perjalanan. Sampai tiba di Kampung Kaduketer masih daerah Baduy Luar yang memiliki susunan rumah yang unik, yaitu dari bawah ke atas tersusun secara bertingkat rapi dan indah dipandang.

Setelah melewati kampung Kaduketer kami bertemu dengan Adiknya Pak Udin, tentunya dengan membawa makan siang (walaupun makan siang sudah lewat). Alhamdulillah, akhirnya kami makan juga, Pak Yopie, Om Iyan, Pak Dodo, Pak Udin dan Saya makan terlebih dahulu, karena datang lebih dulu. Rombongan belakang mungkin mengira perjalanan masih jauh lalu mereka berjalan perlahan (ternyata nyangkut menikmati kopi susu di warung). Setelah kami selesai makan, rombongan belakangpun datang dan langsung mengambil posisi untuk makan. Karena kami makannya bukan di Danau, tapi di pertigaan antar ke Danau dan ke Jembatan Akar yang menjadi tujuan utama kami. Pak Udin memberikan pilihan kepada kami, kalau belok kanan ke Jembatan Akar kalau lurus ke danau. Perjalanan ke Jembatan Akar itu sama seperti perjalanan kami dari kampung Cibeo ke pertigaan tempat kami makan sekarang, kira-kira 11 Km lagi. Sedangkan kalau ke Danau tidak begitu jauh dan hanya beberapa meter saja. Kami putuskan untuk langsung ke Danau lalu pulang ke Ciboleger. Padahal tujuan utama kami adalah Jembatan Akar, akan tetapi waktu yang membatasi kami untuk kesana. Disini kami berpisah dengan Pak Udin, karena beliau harus kembali ke Ciboleger duluan untuk meng-guide wisatawan lain yang akan hiking ke Baduy. Hati-hati Pak Udin, dan terimakasih atas semuanya.

Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kami ke Danau yang jaraknya hanya beberapa meter saja. Dengan rasa penuh penasaran Danau nya seperti apa, pemandangannya dan suasananya bagaimana, akhirnya jawabannya terjawab juga setelah kami sampai di Danau Ageng. Tampak beberapa warga Baduy Dalam maupun Luar sedang menikmati indahnya Danau dan ada juga warga yang mungkin sedang mencari ikan dengan menggunakan perahu bambu rakitannya. Background dari Danau Ageng adalah pepohonan dengan bukit-bukit yang berjejer, di bibir danau juga ditumbuhi pepohonan. Tidak lupa kami mengabadikan moment ini dengan berfoto bersama warga Baduy. Setelah menikmati Danau Ageng kami harus segera pulang ke Ciboleger, karena waktu yang sudah mulai mendekati sore. Perjalanan dari Danau ke Ciboleger ini relatif datar dan menurun. Pak Dodo, Om Iyan dan Saya jalan terlebih dulu, karena mereka sudah Lapar dan ingin segera menikmati Baso yang ada di Ciboleger, kalau Saya malah ingin BAB, karena dari kemarin tinggal di Baduy belum bisa BAB. Desa Ciboleger sudah mulai terlihat dari ketinggian bukit, tetapi kami belum tau jalan yang kami lewati ini berujung dimana. Setelah bertanya-tanya dan akhirnya berujung di Kampung Kaduketug, yaitu kampung pertama yang kami lewati. Ternyata perjalanan kami itu mengitari wilayah Baduy sampai kami balik lagi ditempat awal. Tepat pukul 15.30 kami sampai di Ciboleger, waktu sampainya sama seperti kemarin kami gowes dari Serang ke Ciboleger. Rasa nya lega sekali setelah kami sampai di Ciboleger, saya pun langsung mencari toilet, Pak Dodo dan Om Iyan langsung makan baso. Sepeda pun sudah berjejer rapi di depan A***mart. Tidak lama kemudian rombongan belakang datang, dan langsung sebagian dari mereka memesan Baso, Mie dll. Kami pun diberi waktu untuk persiapan pulang hingga pukul 16.30.

Cuaca pun mulai mendung lalu hujan. Untung saja Pak Agus Bule sudah memesankan Truk mangangkut sepeda dan goweser dengan design penutup dibagian belakangnya, agar goweser tidak kehujanan. Setelah kami sudah siap untuk pulang, kami pamit pulang kepada Juli, adiknya Pak Udin, Pak Agus Bule, Istrinya Pak Agus Bule yang Waw (sulit diungkapkan dengan kata-kata, biar yang melihatlah yang menilai), Terimakasih atas semuanya yang telah membantu dan mendukung kelancaran acara hiking SXC2 ke Baduy, semoga kami bisa berkunjung kembali kesini. Mba Fido dan Mbo Opie ikut pulang dengan kami, mereka duduk di kursi samping sopir. Kami para laki-laki duduk dibelakang bersama sepeda kami. Untung saja hanya 10 sepeda saja yang dimuat di truk, jadi masih ada tempat duduk untuk goweser. Posisi duduknya juga ngasoy di alas yang sudah ditutupi kardus-kardus. Setelah hiking dari baduy tadi Pak Agus, Pak Topik, dan Pak Didit laper tuh dan hendak makan, melihat Pak Dodo dan Om Iyan makan Baso dengan lahap, sepertinya mereka terbujuk untuk memesan Baso juga. Ketika pesanan baso mereka sudah datang, dan mereka pun mulai melahapnya.

“Uhuk uhuhk uhuhkk”, sebagian goweser pun mulai berbatuk-batuk akbiat asap (karbonmonoksida) dari mobil truk yang masuk kedalam bak truk tempat kami duduk. Asap ini keluar dari knalpot truk lalu si asap masuk menempati ruang yang kosong pada bak truk yang tertutup, sehingga sirkulasi udaranya tidak berjalan dan si asap berkumpul menempati seisi bak truk. Asap yang masuk ini sangat menusuk sekali bila terhirupnya dan membua kita mual-mual bahkan hampir muntah-muntah. Pak Koes, Pak Dodo dan Saya pun merasakan seperti itu. Pertama saya mulai merasa sesak nafas lalu timbul mual-mual, Pak Dodo merasa Pusing dan mual-mual, malahan Pak Koes yang selama perjalanan diam dan tidur saja langsung mual-mual dan muntah. Lalu terpal yang menutupi bak truk kemudian dibuka setengahnya agar si asap tidak masuk ke bak truk. Akan tetapi masih tercium juga sedikit bau asap truk. Mungkin karena bagian depan nya ga dibuka sehingga sirkulasi udaranya tidak berjalan dengan baik. Solusinya adalah dengan berdiri di bagian belakang truk lalu, kepalanya menengok keluar tepat di sisi samping truk, maka akan terasalah udara segar. Akan tetapi cara ini berbahaya, karena takut ada mobil truk lagi yang datang dari arah berlawanan. Saya dan Pak Dodo pun terpaksa bergantian posisi berdirinya untuk mendapatkan udara segar. Di tengah perjalanan gerimis pun mulai merintik, terpal sudah dibuka sebagian sehingga kami terkena rintikan gerimisnya. Akan tetapi kami masih tetap ceria, masih tetap tertawa dan masih tetap tersenyum dengan membawa setumpuk cerita dan pengalaman dari gowes ke Ciboleger sampai hiking ke Baduy. Walaupun tujuan utama kami adalah Jembatan Akar yang tidak tercapai, tetapi kami sudah cukup merasa happy, karena bisa hiking bersama-sama dalam susah dan senang. Mungkin next time tujuan kami adalah Jembatan Akar dengan prepare yang lebih baik. Pada saat ini yang berhasil menyelesakan espedisi Baduy dari SXC2 adalah 10 orang. Pak Yopie yang berhasil melahap track baduy dan tetap kuat walaupun umur sudah tua, Pak Agus yang masih tertawa mengingat kejadian makan baso dengan rasa yang aneh, Pak Koes yang terlihat lelah dan sepanjang perjalanan pulang terlelap tidur, Pak Didit tetap cool dan tersenyum, Pak Dodo yang masih tetap bersemangat dari awal gowes hingga hiking, Om Iyan yang masih ceria-ceria saja dan memamerkan flash light nya yang di beli dengan harga murah tetapi memiliki penerangan yang lebih, Pak Supri yang selama hiking terus mengeluh kelelahan dan gusar tetapi saat perjalanan pulang kembali tertawa dan feel happy, dan terakhir Saya yang mulai merasa mual akibat asap dari truk, akan tetapi masih bisa tersenyum dan tertawa melepas bersama-sama selama perjalanan pulang kami. Sungguh perjalanan yang sangat lengkap, ada gowes, hiking, senang, susah, canda dan tawa, semuanya itu melengkapi kami semua. Banyak pengalaman yang berharga dari yang kami pelajari dari Baduy, seperti petuah yang dipegang mereka “PANJANG TIDAK BOLEH DIPOTONG, PENDEK TIDAK BOLEH DISAMBUNG”. Mudah sekali untuk mengartikannya, yaitu hiduplah apa adanya dengan sederhana. Begitulah petuah mereka yang tetap mereka jaga sampai saat ini. Terbukti dari kontur tanah di Baduy dalam yang dibiarkan apa adanya, tidak di cangkul atau diratakan.
Akhirnya kami sampai di Serang pukul 19.30, kami berhenti di Alun-alun timur Serang dan memutuskan untuk makan-makan dulu di sego kucing sambil melepas lelah dan sambil bercerita. Rasa lelah pun terbayar saat kami mulai meneguk segelas susu jahe yang kami pesan. Para goweser lain pun mula menyantap makanan mereka yang rata-rata memesan banyak. Mba Fido dan Mba Opie pun disarankan untuk makan dulu sebelum pulang. Setelah kami selesagi makan, kami langsung pulang kerumah masing-masing, mba Fido dan Mba Opie pulang naik angkutan umum terlebih dahulu sampai ke Gerbang Tol Serang Timur lalu naik Bus jurusan Rambutan lalu ke Bekasi. Karena mba Fido dan Mba Opie tidak tahu harus naik angkutan umum yang mana, maka Pak Agus, Pak Mars dan Saya menunggunya hingga di pastikan naik. Lalu Pak Mars dan Saya pun meluncur ke Gerbang Tol Serang Timur dan menunggunya untuk dipastikan turun disitu lalu pindah ke Bus. Setelah Mba Fido dan Mba Opie naik ke Bus, Pak Mars dan Saya pun pulang. Alhamdulillah sampai juga di home sweet home dengan selamat dan rasa senang akan pengalaman yang telah dilalui. Sungguh perjalanan yang sangat lengkap, dan sangat menyenangkan.

Hidup harmoni dengan alam

[by vito]

10 comments:

CoKlat@Chelski said...

good posting....

fLash said...

Liputan yg. lengkap nian.
Sayang,,,, yang "5 sempurna"-nya gak disensor ya...

Cah Cla-10 said...

waduh sensornya banyak banget jadinya....., klo bisa saya minta aselinya dunk...wkwkwkwkwkwk....

Fidho said...

nice ^_^

fLash said...

(cek foto ketiga) Saking sudah menyatunya dengan alam Kanekes, sekarang sudah gak bisa dibedakan mana penduduk Baduy asli, mana pendatang :p

mars said...

itulah hebatnya temen2 dalam berbaur dgn masyarakat dan alam

Anonymous said...

Laporan kurang lengkap, krn tidak memuat cerita 5 org goweser yang balik ke Serang bergowes ria di hari keduanya . . . wekwekwkekwke

Irham Maulana said...

Untuk urusan bungkus makanan, serahkan saja pada kami Greenpack.
Greenpack adalah bungkus makanan dari kertas spesial tanpa bahan kimia & plastik namun dapat anti air dan minyak. 100% aman digunakan untuk aneka macam makanan seperti mie ayam, ayam bakar, nasi goreng, dll. Mau tahu seperti apa bentuknya dan kelebihan lainnya? Kunjungi URL berikut ini :
http://www.greenpack.co.id/dus-makanan-murah/

Robin Lawrencius Wibawa said...

sangat tertarik dengan liputan anda,terima kasih.saya berencana gowes sendiri kesana( hanya baduy luar),bisa berikan sedikit tips buat saya?

omars said...

mintalah bantuan panduan penduduk Ciboleger tuk mengantar ke Baduy luar, jangan lupa bawa sedikit oleh2 misal ikan asin

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons