Wednesday, June 08, 2011

SAWARNA, AKHIRNYA!

Alhamdulillah. Apa kabar goweser semua? Mudah-mudahan kita selalu dalam lindungannya dan diberi kesehatan lahir maupun batin oleh Allah SWT.
Tiba juga kami di hari H untuk gowes menuju Kampung Sawarna di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Suatu tempat yang tidak asing lagi tentunya bagi para backpacker, fotografer profesional maupun amatir, dan para peselancar. Pemandangan pantai, laut, dan karang yang indah tidak akan membuat kita bosan menikmatinya. Bagi para fotografer, menjadi tantangan tersendiri untuk mengabadikan keindahan ini. Ombak yang panjang, tidak pecah, dan tinggi pun menjadi incaran para peselancar.

HARI PERTAMA
Pagi itu, Kamis tanggal 2 Juni 2011, hujan turun semenjak subuh membuat beberapa goweser kesulitan mencapai titik kumpul dadakan di depan gerbang perumahan Taman Widya Asri, Jalan Lingkar Selatan, Kota Serang. Sengaja kami lakukan perjalanan ini tanggal 2-3 Juni karena adanya cuti bersama untuk sebagian besar pegawai pada tanggal 3-nya. Namun sayang, jadwal ini masih bertabrakan dengan acara keluarga beberapa goweser. Tak apalah, nanti kita bisa adakan edisi kedua, insya Allah. Selain sarapan nasi uduk dan gorengan dari emak asongan (bukan emaknya Kang Ola lho), kami juga disediakan seduhan teh manis dari Om Dwi. Terima kasih, Om. Sampai lupa bilang terima kasih.
Hanya sembilan orang goweser yang berpartisipasi kali ini: Saya, Om Agus, Om Mars, Om Vito, Om Opick, Om Dodo, Om Yopie yang kami jemput di perempatan Kebon Jahe, Om Didit, dan Om Pri. Dua nama terakhir sudah berniat untuk tidak menginap karena ada acara keluarga esok harinya, jadinya Om Didit berstrategi dikawal mobil untuk transpor balik. Kali ini manis manja grup adalah Om Didit, Om Pri, dan Om Opick. Bagaimana tidak, yang lain harus melawan angin buritan dari bak truk, mereka asyik memakai minibus ber-AC hay.....hay..... Om Yopie sampai mabok bau solar tuh.
Menjelang pukul 7, rombongan kecil ini berangkat. Untuk menghindari jalanan rusak di Kp. Saketi, kami akan melewati Kp. Sampay di Kecamatan Warung Gunung, terus menuju Kecamatan Gunung Kencana, dan Banjarsari. Dari Kp. Sampay, pada awalnya jalanan mulus, melewati perkebunan karet nan asri menjelang Kecamatan Cileles. Memasuki Kecamatan Gunung Kencana, terdapat kawasan hutan yang menjadi Blok Penelitian Konservasi Ex-Situ Shorea Leprosula (Meranti) yang luasnya mencapai 10 ha. Di Kp. Keusik, Kecamatan Banjarsari, jalanan hancur seperti jalan trans Kalimantan karena adanya penggalian pasir sedot. Itu lagi....itu lagi. Tiap jalanan hancur yang kami lewati, penyebabnya sama, yaitu pasir sedot. Kampung ini memang memiliki potensi pasir yang luar biasa. Lihat saja namanya, ‘keusik’ dalam bahasa Sunda berarti pasir.
Sekitar 9.30, kami tiba di pertigaan Kp. Jalupang. Sementara Malingping, tempat kami akan memulai gowes, masih 36,3 km lagi. Melewati Kp. Kertajaya, terdapat beberapa rumah yang sangat mewah yang ternyata milik bos-bos kelapa sawit. Tanaman ini memang sedang booming beberapa tahun ini, bersama dengan batu bara. Melewati Banjarsari selalu mengingatkan saya pada bapak saya, semoga Allah merahmatinya, karena beliau melewati masa kecilnya di sini. Singkat kata, setelah ajrut-ajrutan di belakang truk, kami tiba di Kota Kecamatan Malingping sekitar pukul 11 dengan badan pegal-pegal. Makan siang dulu lah di Warung Ibu Eyoh. Nikmat sekali, apalagi kalau perut sedang lapar, dan tentunya murah meriah. Alhamdulillah.
Setelah menurunkan sepeda-sepeda dan menyiapkan bekal, pukul 12 masih enam menit lagi, kami siap gowes menuju Kp. Sawarna. Tidak ada hujan tidak ada badai, tiba-tiba ponsel saya mati, tidak mau hidup, tanpa ketahuan penyebabnya. Yah....mati gaya deh,,, dua hari bakalan tanpanya. Jadi, maaf tidak ada laporan GPS kali ini hehehe.....
Kontur jalanan Bayah-Malingping adalah mendatar dengan beberapa turunan, tidak terlalu ekstrim. Jalanan aspal mulus ikut memanjakan ban-ban sepeda kami. Di Kecamatan Cihara, di sebelah kiri kami tampak bukit-bukit yang ditutupi sawah bertingkat-tingkat seperti di Ubud, Bali. Luar biasa indah. Terbayang pandangan di atas bukit itu, pesawahan sepanjang bukit dan samudera Indonesia membentang sampai batas cakrawala. Saya ingin mengambil gambarnya tapi tidak terlalu percaya diri karena hasilnya selalu tidak sesuai dengan harapan. Keindahan itu biasanya tidak tampak. Keterbatasan kamera dan kemampuan memfotoku rendah. Apalagi, sebagai goweser batas bawah, kalau berhenti sebentar saja, akan makin tertinggal dari rombongan depan. Untung Om Agus selalu setia menemani sebagai sweeper, bergantian dengan Om Didit dan Om Pri. Terima kasih teman-teman!
Menyusuri jalan raya ini sangat mengasyikkan karena kami setia ditemani pemandangan pantai selatan yang khas dengan ombak dan karangnya. Bahkan, di sekitar pantai Karang Taraje, Bayah, karakteristik karang sangat beraneka ragam. Mungkin merupakan surga bagi peminat oceanografi. Saking asyiknya gowes, Om Yopie sampai lupa mengerem. Jadilah ia bablas sampai ke Bayah sendirian. Sementara, rombongan besar foto-foto dulu dong hehehe…. Bahkan, ada yang posenya seperti Laskar Pelanggan atau Laskar Plang I hehehe….
Setelah melewati lima jembatan baru yang sejajar dengan jembatan lamanya yang sudah hancur, kami pun tiba di Kota Kecamatan bayah sekitar pukul 14.30. Halo Om Yopie, apa kabar? Di pertigaan ini tertulis jarak Cikotok 14 km ke arah timur laut, dan Pelabuhan Ratu 62 km, Sukabumi 125 km ke arah selatan. Dan, Sawarna masih sekitar 10 km lagi. Kami pun menyempatkan mengabadikan diri di tugu Iman Aman Uman Amin ini, motto Kabupaten Lebak.
Dari pertigaan Cibayawak, kami terus mengarah ke barat melewati sebuah jembatan besar yang di bawahnya berupa muara dan pantai Pulau Manuk. Disebut demikian karena pulau ini merupakan tempat singgah dan berkumpulnya burung-burung (manuk dalam bahasa Sunda) dari perjalanan antarbenua Asia-Australia-Afrika. Kalau ombak sedang surut, kita dapat mencapainya dengan berjalan kaki menyusuri karang.
Selepas itu, perjalanan kami lanjutkan dengan pemandangan samudera Indonesia dengan pantai-pantai Karang Sedong, Karang Handap, dan Cipamandangan. Terus, jalanan mulai menanjak ke atas bukit. Di tengah hutan, ada seorang perempuan yang ingin ikut. Tentu saja beberapa goweser sempat takut, apakah ini manusia atau jin? Karena perempuan itu seorang diri saja di tengah hutan. Kepada setiap goweser yang lewat, dia bilang “milu” yang artinya ikut dalam bahasa Sunda. Bagaimana “milu”nya, dia tidak membawa sepeda dan sepeda-sepeda kami pun tidak ada boncengannya, dan walaupun ada, sudah pasti bakalan berat, karena jalanan masih menanjak. Tanjakan berakhir di tanjakan Cariang. Tempat ini merupakan salah satu tempat favorit para fotografer untuk mengambil gambar karena pemandangan yang sungguh luar biasa. Kami bisa melihat areal persawahan yang berbatasan langsung dengan sungai payau, pantai pasir putih, dan samudera Indonesia. Subhaanallah. Kami pun nikmati sejenak keindahan ini sambil menyeruput teh manis.
Jalanan kembali turun. Mungkin ini satu-satunya turunan ekstrim yang kami lewati. Langsung kami menuju Goa Langir. Udara lembab, gelap atau “poek mongkleng” kata orang Sunda, tidak ada satu pun titik cahaya di dalam goa. Hanya senter dan flash kamera kamilah yang memberi cahaya di dalam goa. Om Pri setia menunggu di mulut goa. Takut ada ulat bulu, katanya. Oh ya, goa ini terletak tepat di bawah tanjakan Cariang yang tadi kami lewati. Tidak terlalu lama di sana karena kami harus mengejar solat ashar di penginapan.
Kami mulai memasuki Kp. Sawarna. Parabola hampir ada di setiap rumah karena ketidakmampuan antena terrestrial menangkap sinyal teve. Belakangan ini, sudah mulai tumbuh pula resor-resor yang tampak masih dalam tahap pengembangan. Mudah-mudahan bisnis pariwisata di sini semakin maju dan memberikan kemakmuran kepada penduduk sekitar.
Akhirnya, menjelang pukul 17, kami memasuki gerbang kampung budaya Sawarna melalui jembatan gantung yang goyangannya seperti mengajak kita berdansa. Para penduduk sana yang menggunakan motor melaju dengan kencang dan stabil. Bukan masalah buat mereka. Tapi, bagi orang luar, lumayan menantang menyeberanginya, apalagi dengan sepeda!
Penginapan yang kami tempati milik Pak Ade, penduduk asli di sana, terbuat dari anyaman bambu, baik dinding maupun lantainya. Sayang, karena ventilasi kurang, terasa agak panas di dalam rumah. Akibatnya, orang-orang lebih senang bercengkrama dan bermain di luar rumah, di teras lapang. Kami segera membersihkan badan dan beristirahat, siap melanjutkan night riding nanti malam. Asyik.

NIGHT RIDING
Sehabis makan malam, Om Pri dan Om Didit segera balik arah ke Serang karena besoknya ada kepentingan keluarga. Tinggal 7 goweser tersisa. Kami lanjutkan dengan night riding menuju Tanjung Layar. Karena bekas hujan tadi magrib, jalanan di beberapa tempat menjadi becek yang menyebabkan ban-ban kami masser (ini istilahnya Om Mars, mungkin artinya selip, ya?) Bahkan, kakinya Om Yopie nyebur ke sawah padahal sedang pinjam sepatunya Om Mars hehehe…. Maklumlah, selain licin tadi, kami belum hapal karakteristik trek. Sangat gelap. Bahkan, ombak pun hanya kami dengar suara derunya saja, tidak tahu seberapa dekat. Yang bisa kami lihat hanya jalan setapak yang disinari lampu-lampu dari sepeda.
Tanjung Layar sangat gelap. Hanya satu dua titik di kejauhan lampu nelayan yang sedang berjuang mencari ikan. Semoga tangkapannya banyak, Pak! Untunglah, di situ ada sebuah warung dengan pelita seadanya yang menjual penganan, kopi, susu, dan teh panas. Ada yang unik, tempat tidur kambing milik si empunya warung di atas amben ternyata memakai bantal. Manja banget tuh kambing hahaha…..
Sekitar pukul 22, kami kembali ke penginapan menempuh jalan semula yang sekarang kami sedikit hapal. Sampai penginapan, walau penat, mata ini belum bisa terpejam. Biasa, sindrom menginap bareng-bareng, selalu ingin berbagi cerita dengan teman-teman goweser, berhaha-hihi-ria. Om Mars sudah menyiapkan lotion antinyamuk tapi gak jadi dipakai karena dengan kostumnya yang hanya celana pendek, apa mau luluran dengan lotion itu? hehehe.... Yang aneh, walau posisi kita di dekat pantai, tetapi tidak ada angin yang biasa kita rasakan di pantai, sehingga malam itu terasa panas. Walau begitu, alhamdulillah, kami tertidur juga.

HARI KEDUA: GOWES KE TANJUNG LAYAR, LEGON PARI, DAN GOA LALAY
Pagi ini kami akan memulai gowes ke Tanjung Layar, tempat yang kami kunjungi tadi malam. Jam masih menunjukkan angka 5.30. Ternyata, ombak yang semalam hanya kami dengar suaranya, hanya berjarak beberapa meter saja dari jalur sepeda kami. Sekitar setengah jam kami sampai ke tujuan. Disebut Tanjung Layar karena di pantai tersebut terdapat dua buah batu besar yang bentuknya seperti layar perahu. Diapit di kiri kanannya oleh karang memanjang sampai beberapa ratus meter yang melindungi pantai dari terjangan ombak pantai selatan yang terkenal ganas. Jadinya, terdapat semacam laguna yang dapat digunakan untuk berenang dan bermain air tanpa adanya gangguan ombak. Air laut yang jatuh dari atas karang bagai air terjun yang memanjang. Subhaanallah, indah sekali. Kami sarapan di sini sambil menikmati indahnya pemandangan. Beberapa goweser mengumpulkan batu-batu karang yang unik, katanya untuk oleh-oleh buat anaknya dan untuk dimasukkan ke kolam atau aquarium. Memang pantai ini ditutupi batu-batu dan karang kecil, bukan pasir. Om Dodo sempat memanjat batu layar sendirian. Katanya, kepuasannya tidak bisa dibayar dengan apa pun. Ternyata, itu dibayar dengan sebelah sandalnya yang terbawa arus air, padahal baru dia beli kemarin alias masih baru hahaha….
Setelah puas, gowes kembali kami lanjutkan ke Legon Pari ke arah barat. Kami harus naik ke atas bukit yang jalannya licin bekas hujan semalam. Melewati sebagian perkebunan kelapa milik PTPN. Bahkan, di beberapa tempat tidak mungkin di-gowes. Tapi, penduduk sekitar yang menggunakan motor, dengan mudahnya naik ke atas walaupun tanah sangat licin. Ban belakang selip sudah biasa. Beberapa peselancar asing dengan menggunakan ojek, mencoba mencari lokasi selancar dengan ombak yang terbaik. Dari atas bukit, kami bisa melihat pantai putih menghampar luas dihiasi ombak dengan Pulau Manuk di kejauhan.
Kami gowes menyusuri pantai berpasir yang membuat kayuhan menjadi berat, melewati Karang Beureum, dan tiba di tujuan sekitar pukul 8.30. Air di sini sangat biru, bersih, tidak ada sampah sama sekali, sangat asri, dan masih perawan. Kami dijamu minuman lahang oleh nelayan setempat. Rasanya nikmat dengan aroma kayu. Ada beberapa rumah nelayan di situ yang terbuat dari bambu dan tampak reyot. Sangat sederhana. Beginilah kehidupan sebagian besar nelayan di negara kita, masih jauh tertinggal. Ada pula beberapa perahu tradisional kecil untuk mereka mencari nafkah dengan cadik di kiri kanannya. Para goweser segera saja menceburkan diri ke laut dan menikmati hempasan ombak pantai selatan. Om Mars yang kehilangan kacamatanya saja tidak menyesal karena puasnya bermain air hehehe…. Ia bahkan berenang menggunakan gedebog pisang sebagai pelampung. Mungkin teringat masa kecilnya di Jogja dulu.
Setelah puas bermain-main air, gowes kami lanjutkan ke Goa Lalay. Kembali kami harus mendaki bukit. Jalanan dilapisi batu-batuan dan karang yang tajam, belum dilapisi aspal. Saya takut ketajamannya akan menggembosi ban-ban sepeda kami. Untunglah, kiri kanannya masih berupa tanah empuk yang ramah kepada ban-ban kami. Keluar-masuk kampung, menyusuri pematang sawah, menyisir tepi sungai, dan menyeberangi lagi jembatan gantung yang lebih panjang dan lebih jelek dibandingkan di Kp. Sawarna, menjadi pekerjaan kami selanjutnya.
Goa lalay sebenarnya merupakan sungai bawah tanah dengan debit yang lumayan kencang. Disebut lalay (kelelawar dalam bahasa Sunda) karena goa ini merupakan sarang kelelawar. Tapi, sewaktu kami ke sana, teman-temannya Batman itu tidak tampak. Apa mereka sedang lembur, ya? (karena waktu kerja kalong kan malam hari, jadi kalau siang tidak ada di rumah, berarti sedang lembur atau begadang, hahaha…..).
Kami harus buru-buru kembali ke penginapan karena sebentar lagi solat Jumat dimulai. Tapi ada yang aneh, walaupun penduduk di Sawarna banyak, solat Jumat hanya terdiri dari beberapa shaf saja, itu pun termasuk wisatawan. Tidak heran karena beberapa tukang ojek tetap terlelap tidur di pangkalannya. Khutbah jumatnya pun, sebagaimana di kampung-kampung lain, hanya menggunakan bahasa Arab.
Setelah solat, makan siang, kami siap-siap kembali ke Serang. Namun, truk yang sudah kami pesan ternyata wanprestasi, tidak jadi menjemput kami. Akhirnya, kami harus pontang-panting mencari sarana trasnportasi. Untunglah Pak Ade bisa menolong menyediakan truk sampai Malingping. Sekitar 13.30 kami start dari Sawarna dan tiba di Malingping pukul 16. Dari sana, kami lanjutkan dengan menggunakan elf “Putri Bungsu” menuju Serang. Semua ban diikat di atas mobil, sementara frame di kursi-kursi belakang. Melewati kehancuran masif Jalan Malingping-Saketi, badan bergoyang-goyang seperti gaya petinju di atas ring mencari celah pertahanan lawan. Om Opick sampai melihat penggilingan gajah. Saya ingin tahu seberapa besar penggilingan gajah itu, ternyata hanya penggilingan gabah hehehe…. Beda satu huruf saja menjadi sangat berbeda hasilnya.
Tiba di Kp. Saketi pukul 18.30. Jadi, waktu tempuh kami 2,5 jam padahal kalau jalanan mulus, hanya 1,5 jam saja. Banyak keluhan terlontar akan kehancuran infrastruktur ini yang kami dengar sendiri, baik dari penumpang lain, sopir truk, maupun sopir elf. Padahal, sebagai jalur wisata, harusnya mendapat perhatian dan prioritas dari pemerintah. Entahlah. Sebagai rakyat, kita hanya bisa mengelus dada.
Alhamdulillah lewat pukul 19, kami tiba juga di Serang. Hampir 6 jam , padahal biasanya hanya 4,5 jam saja. Setelah membongkar sepeda, kami makan bakso “Putra Bungsu” dulu di Kp. Sempu karena ada yang ngidam bakso sejak di Malingping hehehe…. Setelah perut kenyang, masing-masing goweser pulang ke rumah masing-masing. Om Opick menggunakan taksi karena tak sanggup kalau harus gowes ke Gerem hehehe…. Yang lain, gowes malam lagi sekalian pulang dengan banyak kesan menyenangkan mengenang perjalanan tadi dan menantang untuk mengulang lagi.
Milu………………………… !
Wassalam.

10 comments:

yusman said...

mantabs om perjalananya...tapi saya masih penasaran nih gimana ceritanya Om Dida sampai diurut sampai ada penampakan seperti asap dan dengkul mas agus bengkak ?

Anonymous said...

Liputannya mantap bro. sekali lagi....... mantap.

mars said...

Sawarna sangat elok, namun sayang sekali prasana jalan dari menuju Malingping sangat hancur, tidak terurus sama sekali. Apa mungkin para petinggi Banten sudah tidak peduli dengan Banten Selatan ini. Mengingat potensi wisatanya sangat menakjubkan. Semoga para petinggi Banten dibuka mata dan telinganya tuk benahi Banten Selatan.

Co Klat said...

Insiden kesenggol trailer kok nggak ada om...hehehehe

fLash said...

On Yus dan Om Co, cerita itu mah kita jadikan cerita lisan turun-temurun saja, ya hehehe....

fLash said...

Mars....Jangankan Banten Selatan yang jauh dari jangkaun, jalan dari Cilegon menuju Anyer saja tidak pernah beres. Belum lagi, sepanjang Anyer-Carita. Padahal lokasinya lebih dekat ke pusat pemerintahan yang sepertinya sedang tidur pulas. zzzz....zzzzz....zzzzzzz.....

Om Anonymous,terima kasih, saya masih belajar juga...

mars said...

iya emang, tapi katanya pembangunan Banten jalan terus, jadi yg dibangun yang mana, punya sapa...

Anonymous said...

sekali lagi keren lipuatannya..

Anonymous said...

Pantai sawarna memang mantap sekali...Sekedar info aja,bagi anda yg mau datang ke Sawarna,anda bisa menggunakan jasa " Bayah Maliba travel ",Untuk info selengkapnya Hubungi 021-55700332 atau 0252-401311,Maliba travel adalah Travel asli Putra daerah Bayah - Sawarna.Maliba travel melayani dengan penuh hati.terima kasih.anda juga bisa mengunjungi http://bayahmalibatravel.blogspot.com

Pemburu Senja said...

Om, saya mau bersepeda ke Sawarna, jika ingin menghubungi Om boleh via telpon? harus menghubungi kemana?

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons