Thursday, November 24, 2011

GOWES SUSUR PANTURA BANTEN DAN PULAU UNTUNG JAWA

Alhamdulillah, akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Sabtu dan Minggu tanggal 19-20 November 2011, SXC2 mengadakan gowes susur pantura alias pantai utara Banten yang dimulai dari Serang, kemudian melewati Kota Kecamatan Pontang, Tirtayasa, dan Tanara masih di Kabupaten Serang. Dilanjutkan melalui Kronjo, Mauk, dan berakhir di Kampung Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga-Kabupaten Tangerang, untuk kemudian menyeberang menuju Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu. Pulau ini adalah sebuah pulau kecil yang merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara-Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Walau masuk wilayah ibukota, karena letaknya di sebelah barat Teluk Jakarta, maka lokasi pulau lebih dekat dicapai dari Tanjung Pasir-Tangerang. Tidak perlu panjang lebar kami jelaskan tentang keberadaan dan bagaimana suasana di sana karena sudah banyak laman dan blog yang menggambarkan dengan jelas tentangnya.

Kami sangat antusias menyambut perjalanan ini. Namun, sayang beribu sayang, hanya sembilan peserta saja yang ikut sampai dengan selesai, yaitu Om Dono, Om Agus, Om Opick Gerem, Om Didit, Om Ai, Om Mars, Om Dodo Chupeet, Boni, dan saya sendiri, The Flash. Om Roni dan Om Pri hanya gowes setengah jalan sampai tengah hari dan harus kembali ke rumah. Di titik kumpul, hadir pula Om Toto dan Om Yopie yang hanya gowes sebentar saja. Ada pula Om Hendra dan Omiyan yang sangat disayangkan karena ada keperluan lain, terpaksa gantung sepeda. Tak apalah, kami memiliki motto “maju terus pantang mundur”. Tentunya selain “gak ada lu gak rame.”
Karena sebagian besar trek adalah jalan raya, Om Opick dan Om Didit (bisa dibilang mereka kembaran), menggunakan ban tipis 1,15” untuk mengurangi hambatan dan sehingga gowes menjadi lebih ringan. Sayang, karena ban belakang sepeda Om Didit bermasalah, terpaksa dia memakai ban aslinya yang berukuran 2,1”. Jadilah menjadi sepeda hibrid! Om Mars, lain lagi. Karena hub-nya kembali bermasalah selepas batal gowes ke Gunung Batur, terpaksa tukar ban belakang dengan Om Yopie. Mau tahu ukuran bannya? 2,25”! Seperti motor trail, kali, hehehe…. Pasti Om Mars tidak akan lupa jasa Om Yopie yang mau tukar di tengah jalan. Sampai kami kembali ke Serang, belum ketahuan nasib Om Yopie, #dimana…. dimana… dimana…. .
Oh ya, kenapa Om Didit dan Om Opick disebut kembaran karena perlengkapan dan asesoris sepeda mereka boleh dikata identik. Jas hujan, celana, sepatu, ban, senter sekaligus pemutar fail mp3. Jangan-jangan, CD juga seragam hehehe…. Harap maklum karena mereka duduk sebangku di kelasnya, maksudnya di tempat kerja, sehingganya belanjanya bareng.
Sepuluh menit menjelang pukul 8 kami start menuju Kp. Sawah Luhur dan masih berkelompok karena stamina goweser masih segar. Saya sendiri konsisten di belakang, mengawal Om Dodo Chupeet, takut terjadi apa-apa, hahaha….. (dan itu memang terjadi kemudian). Tapi, anehnya, walau berat meng-gowes, ia tetap kukuh bertahan pada kombinasi tingkat kecepatan 3 depan-1 belakang. Kan berat, Om. Dasar keras kepala, hahaha..... Malah, dia merindukan Om Kus yang bisa mengawal sekaligus menjadi terapis otot-ototnya. Motto kami berdua adalah “biar lambat asal selamat.” Bahkan, untuk beberapa kilometer, program GPS di ponsel menggambarkan kecepatan dengan kelinci dan kura-kura! Gak sopan.
Tiba di Pontang, kami bertemu dengan Om Dudi Triadi dan Om Maulana, duo fotografer Jetty Images hehehe….., sekaligus Dishubkominfo Provinsi Banten. Kami kira mereka akan mengambil gambar kami sampai ke Tanjung Pasir, bakalan asyik nih, ternyata mereka sedang berburu objek foto hanya sampai ke Tanara saja. Mengakunya mau sarapan dulu, ternyata tidak balik lagi hehehe….. Akhirnya, hanya pose kami yang di ****mart di perempatan Pontang itu saja yang ada. Belakangan, duo ini bertemu dengan duo yang lain, Om Pri dan Om Roni yang gowes balik duluan.
Di perjalanan, pemandangan sebagian besar adalah sawah dan saluran irigasi yang tampak mengering karena cuaca yang sangat panas. Apalagi pohon-pohon besar peneduh di kanan-kiri sangat langka. Goweser harus banyak minum dan menutup anggota tubuhnya supaya tidak dehidrasi. Bau udara laut yang khas sudah tercium, walaupun belum ada visualisasi. Namun yang luar biasa, di sepanjang jalan, banyak pedagang semangka. Alhamdulillah, Allah SWT telah menciptakan buah yang manis dan mengandung banyak air ini tumbuh subur di daerah panas, sehingga penduduk sekitar tidak pernah dehidrasi. Selain itu, banyak pula bebek yang berjasa membantu petani memakan sekam sisa-sisa panen di sawah.
Melewati Pasar Kecamatan Tirtayasa, kami melewati makam yang kondisinya mengenaskan karena sudah dipenuhi ilalang dan tidak terurus. Itulah makam seorang sultan Banten yang luar biasa, yaitu Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1683). Ia memerintah pada kurun waktu tahun 1640-1650 dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Disebut Sultan Ageng Tirtayasa karena ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa, Serang. Perlu dicatat bahwa ia bercita-cita mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar dengan cara meningkatkan perekonomian yaitu dengan melakukan peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pembukaan areal pesawahan yang luas yang didukung oleh irigasi. Di bidang keagamaan, dia mengangkat Syeikh Yusuf sebagai mufti kerajaan.
Menuju Tanara, di Kampung Pesisir, Desa Kedaleman, kami melewati sebuah masjid yang dibangun oleh Syeikh Nawawi Al Bantani (1813-), seorang ulama besar asal Banten yang banyak melahirkan kitab-kitab di bidang fiqih, tauhid, tasawwuf, tafsir, dan hadits, yang kemudian bermukim di tanah suci. Murid-muridnya yang terkenal antara lain adalah K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdatul Ulama) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah.)
Selanjutnya, kami melewati Kronjo. Di sini terdapat tempat wisata ziarah Pulau Cangkir karena adanya makam Pangeran Jaga Lautan alias Syeikh Waliyuddin, seorang ulama asal Banten. Di pertigaan pasar Kronjo, didirikan tugu yang di atasnya dibuat patung berbentuk sebuah cangkir. Hebat! Nama “Kronjo” sendiri biasanya hanya kami temui di bis-bis antar-jemput karyawan yang biasa kami temui di jalan tol Jakarta-Tangerang, sambil bertanya-tanya, dimana Kronjo itu. Syukurlah, sekarang kami sudah menginjakkan kaki di sana. Ya, salah satu faedah bersepeda adalah bisa mengunjungi tempat-tempat yang semula tidak terpikirkan atau tidak dapat ditempuh dengan moda transportasi lain.
Sebelumnya, kami melewati PLTU Lontar di Mauk yang memiliki dua cerobong besar berwarna berselang-seling merah dan putih. PLTU yang akan menyediakan daya 2x300 MW ini akan menyuplai listrik ke Jakarta dan sekitarnya dan mendukung kehandalan pasokan PLTU Muara Karang. Semoga tidak mati-mati lagi listriknya ya, Om.
Selepas Kronjo, Mauk menjadi tujuan kami selanjutnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, kami mengisi perut sejenak sambil beristirahat. Anehnya, di panas terik siang itu, benar-benar terik, beberapa ABG perempuan setempat malah ber-sepeda fixie-ria. Aduh, Neng,,,,panas-panas gini, koq sepeda-sepedaan. Lanjut, perjalanan kami menuju Tanjung Pasir dan melewati banyak restoran sederhana di atas bagang yang menjual seafood. Mantap!
Selanjutnya, kami melewati BP2IP atau Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran di Jalan Raya Karang Serang, Tangerang. Nih, goweser atau anak-anaknya yang bercita-cita menjadi pelaut, sekolah saja di sini. Kami juga melewati Satuan Radar 211 TNI AU. Keren!
Menjelang pukul 15.30, kami tiba di pelabuhan Cituis, Desa Surya Bahari, Kabupaten Tangerang. Sebuah pelabuhan perikanan kecil yang menjadi tempat sandar para nelayan sekitar. Pelabuhan ini juga melayani penyeberangan ke beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Kami melihat aktivitas penyeberangan orang maupun barang seperti air mineral bergalon-galon, kayu untuk pembuatan vila-vila di sebuah pulau, material bangunan, dan lain-lain. Namun sayang, tempat ini sepertinya tidak terurus dan terkesan kumuh. Dari sini, kami lanjutkan saja perjalanan menuju Tanjung Pasir.
Akhirnya, tiba juga di Tanjung Pasir!! Setelah membayar retribusi sebesar Rp 45.000 untuk 9 orang, kami siap berlayar membawa sepeda-sepeda kami ke Pulau Untung Jawa. Jarak ke sana dekat saja, hanya sekitar 5 km yang akan ditempuh dalam waktu sekitar 0,5 jam saja. Alhamdulillah, tidak terlalu jauh. Laut sore itu sedikit bergelombang yang membuat perahu KM Sahabat yang menjadi sahabat kami terombang-ambing ke kanan dan kiri. Lalu lintas dua arah di laut tergolong padat karena banyaknya masyarakat yang memanfaatkan jasa penyeberangan ini. Burung-burung terbang cepat beberapa sentimeter saja di atas permukaan laut. Makhluk yang kuat.
Lepas beberapa menit dari pukul 17, kapal pun merapat ke dermaga Pulau Untung Jawa. Suasana sangat ramai karena selain banyaknya penduduk asli pulau ini, juga tidak sedikit wisatawan yang berkunjung berbondong-bondong. Lumayan, murah meriah. Mereka datang untuk memancing, menginap, dan berwisata air seperti snorkling, jet ski, banana boat, dan lain-lain, atau sekedar jalan-jalan atau berenang saja. Penduduk asli pertama di sini merupakan pindahan dari Pulau Ubi pada tanggal 13 Februari 1954.
Kami langsung menuju penginapan yang disediakan oleh Pak Basri. Tidak terlalu besar, hanya ada 2 kamar, ruang tamu, dan ruang tengah untuk tidur dan nonton semifinal sepakbola Sea games timnas Garuda muda kita melawan Vietnam. Alhamdulillah kita maju ke final, walaupun akhirnya kita kalah terhormat dari tetangga yang berisik, Malaysia.
Di Kepulauan Seribu, termasuk Pulau Untung Jawa, fasilitas listrik didapat melalui kabel bawah laut dari daratan. Namun, karena sering sekali terjadi gangguan, masyarakat sekitar biasa menggunakan genset untuk penyuplai daya. Akibatnya, pada malam hari, suara genset hiruk-pikuk. Kepulauan ini menjadi Kepulauan Seribu Genset. Siangnya, dijamin tidak ada listrik. Halo, PLN?
Menu makan malam sudah menunggu ikan bakar yang mantap di RM Ibu Basri. Apalagi sambalnya, hmmm…. Maknyus. Sayang tidak ada pete bakar hehehe…. Setelah berteriak-teriak mengomentari permainan dan merayakan kemenangan timnas sepakbola kita atas Vietnam, kami sedikit night riding ke arah pantai untuk menikmati suguhan kopi panas. Menjelang jam 24, hampir semua sudah tidur dan beristirahat, bersiap-siap menyambut pagi esok.

HARI KEDUA
Hari kedua diawali dengan gowes mengelilingi kawasan pulau yang treknya sudah dilapisi konblok. Hasilnya, tidak sampai 3 km jarak yang kami tempuh. Cukup pendek memang. Inilah sebenar-benarnya funbike hehehe….. . Gowes menyisir pematang yang sempit diapit tambak di kiri-kanan. Meleset sedikit saja dijamin bakal kecebur dan basah semua. Kami mengunjungi perkampungan nelayan dengan perahu-perahu tradisionalnya yang sederhana. Apakah mereka sudah mendapat perhatian dari Pemerintah?

Selanjutnya, kami menyusuri jembatan beton yang sengaja dibuat untuk mengelilingi hutan bakau. Setelah foto-foto sejenak di tepian pantai, kemudian kami menyusuri tepi pantai yang penuh dengan tenda-tenda pedagang beraneka warna yang sepertinya tidak diatur, sehingga mengurangi keindahan. Ditambah pula, ribuan sampah seperti mengurung pantai. Bagaimana tidak, kami melihat sendiri bagaimana para awak kapal membuang sampah dari kapal seenaknya ke laut. Belum lagi yang di pulau atau daratan. Mesti ada perbaikan mental kita secara menyeluruh, hahaha…..
Sekitar pukul 8, kami pun sarapan di RM Bu Basri kembali, dengan menu spesial ikan kakap merah dan kakap putih. Mungkin untuk merayakan kemenangan semifinal semalam sehingga harus bernuansa merah putih. Yang paling maknyuss tentunya sayur asem yang habis dilalap tak bersisa oleh para
goweser.
Setelah sarapan, kami segera kembali ke rumah untuk memersiapkan diri melakukan perjalanan pulang kembali ke Serang. Cuaca saat itu gerimis cenderung hujan. Para
goweser menyiapkan jas hujan dan perlengkapan lain sehingga badan barang bawaan tidak sampai basah. Di penginapan, tentu saja tidak ada listrik karena sedang mati. Terpaksa kami gunakan lampu sepeda di kamar mandi untuk menambah penerangan.
Dermaga sudah menunggu. Lama menunggu kedatangan KM Sahabat, kami masih sempat
ngupi-ngupi dulu di dermaga sambil melihat aktifitas beberapa pemancing amatir yang mencoba memancing ikan di dermaga. Gerimis semakin tipis, badan yang dibalut jas hujan kian terasa panas. Tapi syukurlah kondisi laut sangat tenang. Terasa ingin segera kami kembali ke rumah, ketemu anak istri yang baru ditinggal semalam tapi terasa seperti setahun. Ayo, ah meluncur.
Go…..Go…..Go…..WESSSS

8 comments:

fLash said...

Gara2 jadi sweeper, jadi gak dengerin lagu2 melankolisnya Om Opix hehehe....

[mars] said...

Penduduknya ramah, sopan dan hangat...manusiawi bgt pokoknya.
Satu lagi...jalan muter2 untung jawa seolah2 kita diajak belajar membaca, krn tiap sudut gang banyak beraneka tulisan yg cukup menarik perhatian...

chelski said...

pengalaman baru...gowes pantura banten...

Diet said...

Setiap rumah tersedia tempat sampah...dan beberapa membagi tempatnya ada yg ntuk sampah basah, kering...dsb...pokoke resik..ramah loh jinawi..halah apa tuh artinya...hehee..

fLash said...

ulang....ulang ... ke pulau yang lain....:D

[mars] said...

sangiang island, long island jg blh...

royal mebel jepara said...

mantaf gan infonya, mau kasih info juga ni jual furniture jepara harga murah kualitas mewah www.royalmebeljepara.com salam sukses.

mebel furniture jepara said...

mkch infonya mebel furniture jepara www.jeparadisemebeland.com salam kenal

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons