Thursday, November 17, 2011

UPHILL TO GUNUNG BATUR


Selalu ada batasan untuk setiap sesuatu. Begitu juga dengan gowes. Batasan tanjakan dan turunan yang tidak mampu saya taklukkan adalah GUNUNG BATUR! Bukan sebuah gunung di Pulau Dewata sana tetapi sebuah bukit di Kp. Gerem-Cilegon, dengan ketinggian sekitar 600m dpl yang sepertinya merupakan sisa-sisa letusan Gunung Krakatau tahun 1883 lalu.
Untuk mencapai lokasi tersebut, kita harus menaiki bukit sampai ke Kp. Purut Lampung-Kedurung. Jangan khawatir, walau kaki mengencang, di sana tersedia minuman teh manis, kopi, kelapa muda, jengkol mentah, gipang yang dibuat dari singkong, bahkan mie rebus.

Hari Sabtu tanggal 12 November 2011 kemarin, saya, Mars, Opix, dan Pri mencoba gowes (dan dorong sebetulnya) ke sana. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, hub sepedanya Mars bermasalah sehingga tidak bisa melanjutkan uphill. Kami ajak dia tetap ikut, lha wong ke atas banyakan dorongnya koq HªhªhªHªhªhª.™ Tapi ia bergeming dan putar balik untuk menunggu di rumah Opix, walau belum sampai berakar sih kakinya.
Mendorong sepeda ke ketinggian ini sangat berat. Ini bukan semata fisik semata, tapi juga mental. Kita selalu bertanya-tanya, apakah puncaknya masih jauh atau tidak. Tapi, ada yang melebihi itu. Penduduk kampung yang tinggal di atas bukit harus menggendong jariken membawa air dari bawah ke atas setiap butuh air. Supaya tidak terlalu terasa menanjak, mereka pun berjalan zig-zag. Motor saja sampai meraung-raung menaklukkan tanjakan-tanjakan ini. Bagi yang pernah ke sana, silakan bayangkan. Kita harus naik dari ketinggian 22m dpl ke 389m dpl hanya dalam jarak 6,84km selama sekitar 1 jam. Artinya, kecepatan rata-rata kami hanya sekitar 6 km/jam saja, seperti kura-kura.
Yang lebih menantang adalah turunan curam dari puncak bukit menuju Gunung Batur untuk kemudian mencapai Pasar Merak. Seatpost harus turun untuk memudahkan kontrol sepeda. Trek batu-batu kali yang baru disusun, tanah, aspal berlapis kerikil memacu adrenalin. Di beberapa titik, saya merasa melayang dan ciut! Jadi kagum para goweser downhill yang memiliki nyali dan skill yang hebat. Jadi ingat, selamat untuk Risa Suseanty dan tim MTB Indonesia yang merebut medali emas di SEAGAMES kali ini. Menaklukkan turunan ini, saya sempat kurang percaya diri menggunakan mechanical disc brake karena posisi tangan menjadi kurang lincah karena harus menarik tuas rem dengan kuat. Mudah-mudahan APBN tahun depan sudah ada pos pengeluaran untuk rem hidrolik hehehe..... Apalagi di beberapa titik, kerikil-kerikil sisa pengaspalan beberapa hari sebelumnya membuat jalanan licin. Ban sepeda pun selip. Sepertinya turunan lebih membuat pegal dibanding tanjakan. Sampai-sampai, saya hampir kram selepas Merpati alias Merak Pas Tikungan, menuju rumah Om Opix di Gerem! Untung jalanan berlapis aspal itu tinggal mendatar saja.
Sayang beribu sayang, karena ponsel saya kehabisan daya, tidak ada data GPS selepas Kp. Purut Lampung s.d. Gerem via Merak. Nantilah ke sana lagi اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ kalau rem sudah diganti dan trek sudah bersih dari kerikil-kerikil itu. Yang penting, sudah ada dokumentasi bahwa saya pernah mengangkat batu berbentuk kerang di sana hehehe......
Minggu depan gowes menyusuri pantura Banten dan menyeberang ke Kepulauan seribu اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ . Gak ada loe gak rame!

7 comments:

fLash said...

#tengak-tengok cari temen# hehehe....

[mars] said...

biar rambo hati bimbo
nanjak diiringi lagu melo
gmn bisa smangat atuh kang

fLash said...

Om Opick emang aneh, bukannya lagu metal yang diputer biar nanjaknya semangat. Hadeuh....

chelski said...

gowes minimalis

[mars] said...

iya om...sangat minimalis

fLash said...

ke sana lagi yuk, untuk pemetaan!

bintang aquarius said...

Naik motor kgk bisa om

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons