Saturday, January 28, 2012

Ekspedisi Gowes Mengitar Gunung Rajabasa : Etappe II Pelabuhan Bakauheni-Way Urang


Karena waktu sudah menjelang tengah hari, tanpa beristirahat lagi, perjalanan gowes etappe II kami lanjutkan. Tujuannya adalah mengitari Gunung Rajabasa melalui Jalan Keliling Rajabasa terus ke pantai Canti dan berakhir di Kalianda. Belum begitu terbayang seberapa tinggi tanjakan yang akan kami hadapi. Hanya cerita-cerita saja yang menggambarkan bahwa tanjakan-tanjakan di sini luar biasa. Tapi, di Jalan Lintas Sumatera atau Jalinsum yang kami lewati, baru ½ km, kami sudah disuguhi tanjakan setinggi 141 m yang harus kami tempuh sejauh 2,65 km. Lumayan pegel. Bahkan, sebelum tanjakan habis, kami sudah harus rehat karena selain pegal dan nafas tersenggal, cuaca ternyata sangat panas. Ditambah truk-truk besar yang menyusul kami dengan suara dan dorongan angin yang menakutkan, serta bau solar yang menyengat hidung. Kami pun harus meng-gowes di bahu jalan yang lebarnya hanya 10-20 cm saja. Garis marka jalan menjadi patokan kami. Ngeri juga ternyata.


Setelah trek tanjakan-turunan seperti roller coaster yang cukup melelahkan, di Kp. Panengahan, sekitar perbatasan Kecamatan Bakau Heni dengan Rajabasa, kami pun mendapatkan bonus turunan sejauh 3,25 km yang menurunkan kami dari ketinggian 227,9 m (puncak pendakian kami) ke 88,6 m saja. Bayangkan bagaimana kami ditarik gaya gravitasi bumi. Hanya, dengan kecepatan maksimum mencapai 56,7 km/jam, memang tetap ngeri karena kendaraan-kendaraan raksasa bagi sepeda seperti siap menyenggol. Harus ekstra hati-hati dan tetap berdoa semoga selalu diberi keselamatan. Di sekitar Desa Panengahan ini pula terdapat titik tertinggi yang kami lewati, yaitu 228,7 m.
Sehabis turunan panjang ini, kami berisoma di Krakatau Rest Area. Menu siang itu adalah makanan padang di sebuah restoran padang. Makannya pakai otak (bagaimana kalau makan gak pakai otak, ya?). Biasanya, sebagai backpacker-goweser, kami makan di warteg, warung intel, atau sego kucing, tapi kali ini sedikit ada peningkatan hehehe. Oh ya, Pak SBY pun ternyata pernah maksi di sini, tampak dari foto yang dipampang oleh pemilik restoran dekat meja kasir memperlihatkan dia dan Pak SBY sama-sama tersenyum senang. Tapi, pelayanan di sini kepada kami terasa kurang bagus, karena beberapa pesanan kami sampai kami bayar ke kasir, tidak keluar tanpa ada alasan. Sepertinya segmen restoran ini adalah hanya orang-orang yang singgah saja dan tidak mengharapkan konsumen yang loyal.
Om Johan sempat dihentikan oleh petugas di sebuah pos polisi dan diminta memperlihatkan surat-surat motor, mungkin karena ber-plat A dan jalan perlahan-lahan dengan banyak tas di motor, menimbulkan kecurigaan. Untunglah, setelah dijelaskan, tidak ada masalah walaupun harus menunggu beberapa saat karena STNK motor masih di Om Pri yang masih gowes di belakang.
Perjalanan kami lanjutkan. Di persimpangan Kp. Gayam, kami mengambil arah ke Jalan Keliling Gunung Rajabasa dan meninggalkan Jalinsum yang ‘menakutkan.’ Ada dua pilihan arah di jalan ini. Yang ke utara melalui Desa Kampung Baru sejajar dengan Jalinsum, jaraknya ke Kalianda lebih pendek dibandingkan yang ke arah selatan yang melalui Pantai Canti. Kami pertimbangan akan menyusuri pantai ke arah selatan, walaupun jaraknya jauh lebih panjang.
Tiba-tiba, suasana jalan yang tadinya begitu ‘mencekam’ khas Jalinsum berubah menjadi jalan perkampungan yang sangat nyaman walaupun lebarnya hanya sekitar 3-4 m dengan rumah penduduk di kiri-kanan, para penduduk setempat yang ‘nongkrong’ di depan rumah masing-masing menikmati sore dengan sapaan ramah mereka , anjing yang sangat banyak berlarian kesana kemari (aneh sekali banyak anjing di sepanjang jalan ini), membuat penat tidak terasa. Belum suara deburan ombak dan angin laut sangat menyejukkan. Hati-hati masuk angin.
Kontur jalan masih seperti roller coaster. Melelahkan, menguji kesabaran. Tapi, seninya bersepeda adalah bila menghadapi tanjakan,pasti ada harapan bahwa kita akan menemukan turunan. Terbukti, setelah kami gowes sekitar 25 km dari pelabuhan, menjelang pantai, kami dihidangkan turunan setinggi 129 m sejauh 3,7 km. Hampir sama jaraknya dengan turunan pertama, walau jaraknya lebih pendek. Alhamdulillah dapat bonus, sesuatu.
Om Mars dan Om Opik sempat makan duren jatohan. Entah jatohan dari mana, karena di sekitar tempat itu tidak ada pohon duren. Rasanya pun ternyata tidak enak. Nah lho, jangan-jangan bukan duren jatohan tapi duren buangan hehehe... Selanjutnya, kami mampir ke Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Rajabasa, tapi sayang karena hari libur kantor tutup. Pun, karena kabut di kejauhan, Gunung Anak Krakatau tidak tampak jelas dengan pandangan mata telanjang.
Menyusuri jalan-jalan di pinggir pantai sore itu, ombak tampaknya sedang ganas menghantam beton-beton pemecah ombak. Suasana pantai tidak terlalu ramai, baik itu Pantai Kunjir, Pantai Sukaraja, Pantai Canti, Pantai Wartawan, dan sebagainya. Kata Om Agus, mungkin yang menemukan pantai Wartawan adalah seorang wartawan. Kalau menurutku, malah si Cepot dan Dawala yang menemukannya karena tepat di pintu masuk pantai ini, kedua tokoh itu setia menjaga gerbang hahaha. Hanya beberapa anak-anak muda yang ‘kongkow-kongkow’ di area pantai.
Sebaliknya, tambak benur udang windu milik rakyat sangat banyak, hampir di sepanjang jalan. Kabupaten Lampung Selatan memang terkenal sebagai sentra tambak benur.
Akhirnya, setelah kepenatan memuncak, tiba juga kami di Kota Kecamatan Kalianda sekitar pukul 19. Luar biasa. Kami telah meng-gowes selama 3 jam 40 menit untuk ukuran waktu efektif pada jarak hanya 47,6 km. Artinya, kecepatan rata-rata kami hanya sekitar 12,8 km/jam. Seperti kura-kura. Tapi tak apalah, toh medan tanjakan yang kami lalui sangat berat dan yang paling penting kami telah sampai ke titik finish hari ini, Kalianda. Langsung saja kami cari tempat untuk beristirahat di sebuah hotel melati di Kawasan Way Urang. Cerita punya cerita, ternyata pemilik hotel berasal dari Serang juga. Sampai-sampai ada stiker bertuliskan Kerukunan Keluarga Banten Lampung Selatan di gazebo belakang hotel.
Oh ya, di Lampung, banyak tempat yang dinamakan dengan ‘Way’ pada kata depannya, seperti Way Urang ini. Way berarti air, sedangkan Urang berarti udang. Di Jawa Barat dan Banten, air dinyatakan dalam ‘ci’, misalnya Cilegon. Ada kota yang memiliki padanan hampir sama dengan Way Urang, yaitu Cirebon di Jawa Barat dan Kali Urang di Jogja.
Kota Kalianda sangat sepi. Makanya, malamnya kami mencari tempat makan yang enak, terus menemukan bebek dan lele goreng, menu backpacker. Kata Om Pri, jauh-jauh ke Lampung hanya untuk makan itu, hahaha. Tapi tetap tambah cie kan, Om?
Dilanjutkan dengan NR tanpa tujuan karena pusat keramaian kota minim. Akhirnya, kami putuskan gowes ke dermaga yang juga tempat wisata kuliner. Tapi, apa daya, tempatnya gelap sekali walaupun tidak menghalangi muda-mudi pacaran gratis di pinggir laut, sambil menonton nelayan yang mulai melaut. Pusat kulinernya sendiri tidak kami lewati,mungkin karena sangat gelap sehingga tidak tampak. Ya sudahlah, mending pulang dan rehat, memersiapkan stamina dan perlengkapan untuk esok pagi.
Good night all (in the night garden)....



9 comments:

[mars] said...

Perjalanan baru bisa dinikmati selepas
Jalinsum...meski jalan memutar, namun terasa lebih ringan karena keindahan alam dan keramahan penduduk Lamsel disepanjang perjalanan.

chelski said...

yg bersepeda pun keliatannya hanya SXC2, makanya sepanjang jalan, orang2 pada heran liat sepeda liwat Jalinsum dan pesisir....

Anonymous said...

gak sabar deh cerita selanjutnya....

Diet said...

Sekalipun melalui jalanan pesisir..tp kondisi jalannya bagus dan Mulus...

chelski said...

waktu nanjak keliatannya lebih tinggi om.....hehehehe..apalagi yg ada guguknya...

zachri said...

mantabb om catpernya :)

-zachri tnol

mars said...

@om chelski : ya kan sblmnya mrosot abis tuh om, makanya tanjakanpun sangat terjal

@om zachri : kapan2 gabung om

fLash said...

Gaya Om OPik dan Om Mars setelah makan duren "jatohan" hahaha

fLash said...

Ada tips buat goweser supaya capeknya hilang, cuci bagian (maaf) ketek anda, mudah2an anda kuat lagi menggowes (kaya ayam aduan) hahaha.... Soalnya, sudah ada contoh nyatanya waktu di rest area Krakatau. Siapa tuh??

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons