Wednesday, February 22, 2012

GOWES MEMUTAR GUNUNG KARANG

Ekspedisi gowes hari Sabtu tanggal 19 Februari 2012 kemarin, SXC2 berniat berendam air panas di Cisolong, Pandeglang. Namun, jalur yang akan kami lewati bukannya lewat Jalan Raya Pandeglang, melainkan memutar dulu ke Mandalawangi via Ciomas. Bukan apa-apa, tujuan kami adalah menghindari polusi udara di jalan raya yang ramai tersebut dan perilaku ‘gila’ sopir-sopir bis berwarna merah atau hijau di sepanjang jalur Serang-Labuan, sekaligus mencari pengalaman baru karena lintasan ke arah sana belum pernah kami lalui. Risiko yang harus kami hadapi adalah tanjakan yang akan menjadi sahabat sampai dengan Mandalawangi! Mungkin hanya ada dua orang yang senang dengannya, yaitu Om Yopie yang kali ini menjadi patwal, dan Om Akbar Resultan, atlet sejati yang bisa mencapai puncak Gunung Pinang kurang dari 15 menit! Tepatnya berapa menit, Bar? Dia makannya apa, ya? Menurut pengakuannya, dia cuma makan nasi uduk dan mendoan tempe. Pantesan saja, beda dengan Om Opic yang makannya mendoan nasi, jadinya macet di tanjakan.

Anggota yang ikut kali ini seperti biasa adalah 4L alias Lu Lagi Lu Lagi. Ada Om Agus, Om Mars, Om Didit, Om Opic, Om Iyan, Om Yopie, Om Ai yang kembali turun gunung, Om Akbar , ditambah dua anggota Bike To School, Romy dan Dikri, dan saya sebagai tim penyapu jalan. Om Andri UCC cuma sebagai penggembira dan ikut mejeng difoto di titik kumpul saja di halaman KPP Pratama Serang.
Walau kelihatannya jauh, tapi bagi teman-teman goweser yang mau gabung dengan kami tidak usah khawatir karena perjalanan seperti ini tidak setiap minggu dilakukan. Kami juga sering mengeksplorasi trek di sekitar Kota Serang, menyamar sebagai anggota LLBC alias Luhlang (jam sepuluh pulang) Bicycle Community, seperti ke Pulau Dua, kawasan Banten Lama, tanjakan 45, kawasan agrowisata di Curug, dan sebagainya.
Rencana semula start gowes pukul 6.30 tetapi karena keterlambatan pendaratan Om Opic dari Gerem akibat pinang muda, start baru bisa dimulai hampir sejam kemudian. Tak apalah, yang penting ramai. Gak ada lu gak rame!
Jalur ke Ciomas seperti biasa melewati pertigaan Tembong, melewati Jalan Raya Bongla, kemudian muncul di Jalan Raya Palka. Di sini, kami siap-siap memasang masker karena sisa-sisa pasir yang mengering dari tambang pasir sedot di beberapa tempat di jalan ini sudah sangat memprihatinkan efeknya untuk lingkungan. Polusi udara! Mungkin pemerintah daerah berpikir PAD dari galian pasir ini lebih menguntungkan dibanding kerugian karena polusi bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Pengusaha dapat untung, masyarakat dapat debu.
Menjelang batas Kota Kecamatan Ciomas, ban sepeda Om Mars bocor. Sepertinya terkena pecahan gelas yang berserakan atau karena berat badan, hehehe…..? Om Opic yang sudah loyo segera mencuri kesempatan untuk makan besar dan mengecas tenaganya lagi.
Melewati pasar Ciomas yang sangat tradisional, macet dan becek menghadang. Saking macetnya, sampai-sampai sepeda pun tidak bisa lewat. Bagaimana tidak macet kalau pedagang berjualan sampai badan jalan, angkot berhenti seenaknya, motor-motor melawan arah- berjalan di sebelah kanan serasa di Amerika Serikat- hadeuh, ampun.
Sampai pertigaan ke arah Cadassari, ternyata patwal menunjukkan supaya kami terus lurus ke arah Mandalawangi. Om opic yang pernah lewat jalan ini menggunakan mobil tampak pasrah karena tahu hanya ada satu kata ke depan: tanjakan! Walau begitu, dijabanin juga tuh trek, kata orang Betawi. Santai sajalah, namanya juga piknik. Om Agus sampai terheran-heran, kenapa foto goweser di tanjakan yang dia ambil, aktornya 4L. Ya iyalah, Om, yang gowes paling buncit kan orangnya 4L hehehe.
Biasanya, kalau kita menuju ke Pandeglang, Gunung Karang berada di sebelah kanan atau sebelah barat. Kali ini, dia akan berada di sebelah kiri kita, atau di sebelah timur. Aneh, kondisi sepanjang jalan rusak sejak pasar Ciomas sampai ke Mandalangi. Atau malah gak aneh, ya. Terasa benar di sini, negari autopilot yang sering didengung-dengungkan oleh para pengamat politik, terbukti dan kami rasakan sendiri.
Menjelang Mandalawangi, di Kp. Sinargalih, setelah Om Mars, giliran Om Opic yang bannya bocor padahal tidak ada tukang tambal ban. Terpaksa dia menyewa ojek buat mengejar Om Didit di depan untuk pinjam ban serep. Berhenti lagi, padahal kami baru saja rehat di bawah pohon mangga di Kp. Ujung Tebu. Sebagai anggota gerombolan siberat, saya waswas juga, jangan-jangan nanti giliran saya yang bannya bocor. Untunglah tidak terjadi hehehe….. Selanjutnya, pemandangan spektakuler karena di depan kita Gunung Pulosari (1.346 m) tampak sangat jelas, sementara jalan menurun menjadi bonus kali ini. Di sebelah kanan-kiri kami, mengawal Gunung Aseupan (1.174 m) dan Gunung Karang (1.778 m). Subhaanallah. Pasti teman-teman jarang mendengar tentang Gunung Aseupan. Mungkin karena paling rendah dibanding kedua saudaranya.
Tiba di Mandalawangi sekitar tengah hari, kami mendapat informasi dari penduduk lokal akan adanya kolam pemandian di situs Cihunjuran yang hanya berjarak sepeminuman teh dari sini. Sepertinya segar setelah panas-panasan gowes nyebur ke air. Setelah mengisi perut-beberapa teman ditemani pete bakar, semoga bermanfaat sebagai NOS- kami lanjutkan gowes ke Cihunjuran. Tidak terlalu jauh tempatnya dari jalan raya tetapi kami harus menyusuri pematang sawah yang di beberapa titik tidak mungkin di-gowes karena sangat sempit, berisiko kecebur ke sawah. Jangan-jangan yang paling belakang ada yang kecebur.


SITUS CIHUNJURAN


Situs Cihunjuran adalah sebuah peninggalan kerajaan Salakanagara berupa batu-batu-batuan, kolam pemandian purba, dan sebuah makam seorang bernama Wali Jangkung atau Angling Darma. Bagaimana dan siapa dia, goweser bisa tanya sendiri ke Ki Google. Sepertinya, selain dimanfaatkan untuk wisata, tempat ini sering digunakan untuk ziarah ke makamnya yang dianggap keramat. Masyarakat muslim masih percaya ziarah ke makam-makam yang dianggap keramat karena pengaruh peninggalan nenek moyang. Saya malas membahas hal-hal yang berhubungan dengan keramat. Enakan juga keramas.
Di sini, kami menyegarkan badan dengan berendam di kolam, walaupun tidak semuanya turun. Selain kami, banyak juga pengunjung ke sini yang sebagian besar adalah pelajar yang baru pulang sekolah. Entah kalau hari Minggu atau libur, mungkin akan lebih ramai. Hanya sayang, walau ditarik retribusi masuk sebesar Rp 4.000, kawasan ini tidak terawat dan terkesan kumuh. Apalagi, kondisi toilet yang sangat memprihatinkan walaupun harus bayar lagi Rp 2.000. Kalau buang air kecil di kolam sampai tiga kali kata Om Mars bisa menghemat Rp 6.000!
Menjelang pukul 14.30, setelah puas berendam, rombongan melanjutkan perjalanan ke Cisolong. Jalanan tinggal turunan saja ke arah Mengger. Mengasyikkan. Tapi sayang, karena lalu lintas padat, kami tidak sepenuhnya bisa memacu kecepatan. Padahal ada bonus turunan panjang membentuk huruf S yang tidak bisa kami nikmati secara maksimal. Kami harus merayap di belakang knalpot angkot, mencari kesempatan menyusul.
Selepas pertigaan Mengger, ada yang aneh dari jalur yang kami lewati. Alih-alih langsung melewati Jalan Raya Lintas Timur Pandeglang, patwal mengajak kami sampai ke perempatan Maja dan menikmati bonus turunan di Jalan Cibuik-Maja. Setelah bertemu Jalan Lintas Timur di Cikole, kami berbelok kembali ke arah Jalan Raya Labuan, dan tentunya harus dihadang tanjakan sejauh 1,5 km. Putar balik nih, Om! Akhirnya, beberapa ratus meter dari ujung Jalan Lintas Timur ini, kami temukan papan nama yang menunjukkan arah pemandian air panas Cisolong. Alhamdulillah, setelah semangat kami kian menipis. Masih harus meluncur turun sejauh 2,5 km sampai ke tujuan melewati Jalan Ciputri Permai-Penikebon, bukannya senang, malah stres memikirkan baliknya nanti yang harus gowes menanjak. Never ending tanjakan sepertinya. Patwal memang dikenal sebagai penghobi tanjakan. Semua jalur bonus turunan akan dibalik kalau Om Yopie yang menjadi patwal menjadikannya sebagai bonus tanjakan. Tak heran bila remnya paling awet di antara kami, hahahah.


PEMANDIAN AIR PANAS CISOLONG



Pukul 15.45, tibalah kami di pemandian air panas Cisolong yang terletak di Kp. Cisolong, Ds. Sukamanah, Kec. Kaduhejo, Pandeglang. Lokasi kolam berada di bawah (174 m dpl), jadi kami harus menuruni banyak anak tangga setinggi 25 m. Masih banyak renovasi di sana-sini, terlihat dari banyaknya tukang yang hilir-mudik membawa material bangunan. Hanya sayang, kami pesan kelapa muda, yang datang malah kelapa tua. Rp 6.000 lagi harga per buahnya. Suhu air tidak sepanas dibandingkan ketika kami nyebur di kolam air panas di Cipanas, Lebak, sepulang dari gowes rafting di Sungai Ciberang. (Silakan lihat di sini). Tapi tetap saja, Om Didit bergaya aneh kepanasan. Om Opic dengan gaya standarnya yang aneh,
persis seperti di Cihunjuran, hanya membuka jersi tapi tidak nyemplung, katanya takut mengakibatkan tsunami. Tapi yang lebih aneh, di sini airnya tidak berbau belerang. Bahkan, di sekitar parit air panas ini, tumbuhan hijau tetap dapat hidup. Lokasi kolam yang di kelilingi pesawahan, suhu air yang panas ditambah cuaca yang panas membuat Om Mars enggan turun dan memilih menjaga sepeda di atas.


Sore sekitar pukul 17, kami siap-siap untuk kembali ke Serang. Kami harus menaiki anak tangga demi anak tangga, Akbar dengan mudahnya melahap tanjakan dengan sepedanya yang elevasinya mencapai 25 m sejauh 93 m. Mendung menggelayut membuat kami segera mengamankan gajet-gajet. Alamat tidak ada acara foto-foto lagi. Menuju ke Jalan Lintas Timur yang menanjak, kami lewati dengan santai. Maklum, badan sedikit segar setelah terkena air hangat.
Jalan Raya Labuan ternyata dekat sekali. Semua bersorak, kenapa tadi harus memutar dulu lewat Kp. Maja. Patwal harus bertanggung jawab menambah 4 km yang tidak perlu, hehehe. Para goweser ternyata masih bisa sprint sampai ke Alun-alun Pandeglang yang sore itu sangat ramai. Tentu saja, saat itu adalah malam minggu, malam yang ditunggu para remaja. Untungnya jalur Pandeglang-Serang didominasi turunan. Terima kasih untuk Om Yopie yang fungsinya dari patwal berubah menjadi sweaper, menemani terus sampai ke Serang. Beberapa kali harus keluar jalur untuk menghindari kendaraan bermotor yang tidak menghargai pengendara sepeda. Capek deh. Semua lampu depan dan belakang padahal sudah dipasang untuk memberi tanda, tapi sepertinya ‘gak ngaruh’.
Di pasar buah Ds. Kemanisan, selepas Baros, kami bertemu Om Mars dan Pak Ai yang sedang membeli oleh-oleh manggis. Sementara rombongan lain meng-gowes seperti dikejar hantu, tidak tampak batang sepedanya. Padahal kalau tahu mau sprint mah, tadi pada salaman dan pamitan dulu di Pandeglang hehehe.....
Demikianlah, menjelang pukul 19, kami tiba di rumah masing-masing dengan tambahan pengalaman telah mengelilingi kaki Gunung Karang. Statistik GPS menunjukkan jarak 88,3 km, waktu tempuh keseluruhan 11 jam:51 menit (ini termasuk dua kali berendam di air dingin Kahunjuran dan air panas Cisolong, makan, dan istirahat), waktu tempuh gowes efektif 6 jam:25 menit, kecepatan rata-rata 13,9 km/jam, kecepatan maksimal 45,6 km/jam, ketinggian maksimum 504,3 m dpl, elevasi 455 m (dari ketingggian 49,4 m dpl ke ketinggian maksimum), pengalaman: tak ternilai!!!!
Peta rekaman GPS bisa lihat di sini.
Photo selengkapnya, disini

16 comments:

omars said...

oalah...puantes dapetnya tanjakan mulu...

Chelski@CoKlat said...

puas...puas...puas....

fLash said...

Satu lagi bus yang sopirnya 'gila', selain A yang berwarna biru, M yang berwarna merah, ada juga S yang berwarna putih. Mengerikan, apalagi kalau jaraknya rapat dan saling kejar-kejaran, pemakai jalan lain harus mengalah!

fLash said...

koreksi: A warnanya hijau :D

Chelski@CoKlat said...

pas pulang kemaren sempat balapan juga....sepeda bisa bersaing sama mobil dan motor....

omars said...

kapan tahun diulang boleh tuh, masih banyak trek yg bagus tuh, diteruskan ke curug sawer...

fLash said...

Belok kiri lewat Jalan yang Cadassari itu, ya, jangan lurus ke Mandalangi.

Didit said...

Jadual ulang...kali ini naik gunung karang...

yopie said...

Bos sama aja lewat Cadasari juga yang didapat Bonus.... Nanjak. Hehehehe... Trima kasih Om Flas. atas liputannya. Aplus tuk anda dan kawan-kawan yang dusah eksplor perjalanan ini, dan semuanya Alhamdulillah Sehat semua. Amin.

fLash said...

Bonus tanjakan siapa takut.... sepanjang ada bimbingan dari pemegang jersi polkadot, Om Yopie hehehe....

Chelski@CoKlat said...

ayukk...kapan mau dijadwalkan...

omars said...

asyik jg tuh berendam kaki di pemandian purbanya...banyak ikan yg krubungin kaki makan sel-sel kulit yg mati...geli-geli uenak.

Yusman said...

mantabs bro...re-schedules lagi donk....

Anonymous said...

ini khusus naik sepeda yaa ?, kalau ngojek sepeda bisa ditempat ini ?

salam kompak sxc2

wisata said...

mantap pa...

boleh ikut ga pa goess

fLash said...

Boleh sekali, Om Wisata. Silakan pantau jadwalnya di blog ini atau facebook Serang cross Country Community (SXC2). Biasanya meeting point kita di kantor pajak Serang atau alun2 depan ex Polwil Banten.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons