Monday, April 02, 2012

(HAMPIR) BATU LAWANG!

Nun, di atas bukit Gerem, terdapat tempat wisata alam bernama Batu Lawang. Batu ini berbentuk seperti kodok, berukuran besar, dan berada di puncak gunung yang membelah dua gunung, yaitu Gunung Batur dan Gunung Gede yang merupakan perbatasan antara Merak dengan Bojonegara, tepatnya terletak di Gunung Pengobelan. Dari sana kita bisa lihat celah-celah bebatuan yang sangat besar. Makanya, nama Batu Lawang diambil dari batu yang sangat besar yang membelah kedua jalan Gunung Batur dan Gunung Gede yang dijadikan pintu atau lawang. Sayang, karena keterbatasan waktu, kami belum sampai ke sana, tetapi hanya sampai tempat peristirahatan berupa tiga buah gazebo untuk menikmati pemandangan ke arah lembah dan lautan luas.

Gazebo-gazebo atapnya berwarna biru kontras dengan hijaunya pohon-pohon di sekitar ini berada di sebuah tempat terbuka di lereng bukit pada ketinggian 342 m dpl. Dari sana, kita bisa menikmati pemandangan terbuka sampai batas horizon ke arah lembah, yaitu Kota Cilegon, Pelabuhan Merak, dan Pelabuhan Bojonegara di kejauhan. Sementara, Gunung Karang tampak gagah mengawal kawasan konservasi Rawa Danau. Sungguh luar biasa indah ciptaan Allah SWT. Subhaanallah. Lokasi ini juga sangat potensial untuk dikembangkan menjadi tempat take off olah raga gantole dan paralayang. Mata kita juga dimanjakan dengan melihat burung-burung elang yang terbang rendah sambil mengajarkan anak-anak mereka berburu mangsa. Tidak jarang mereka terbang lebih rendah daripada tempat kita memandangnya. Luar biasa.
Untuk mencapai ke sana, kita harus melalui Kp. Purud Lampung (+315 m dpl) terlebih dahulu yang jaraknya tidak jauh dari Kp. Gerem, hanya 6,53 km saja. Tapi jangan senang dulu. Walau dekat, kita harus gowes menanjak setinggi 309 m dari ketinggian 7,1 m dpl di Jalan Raya Merak ke 316,4 dpl di Kp. Purud Lampung. Bisa dibayangkan beratnya perjuangan meng-gowes. Sampai-sampai, tidak semua tanjakan bisa lulus di-gowes. Biasa sih…. Untungnya, sebagai besar jalan sudah dilapisi aspal hotmix, jadi sedikit membantu memudahkan kami. Jadilah sekitar 1 jam 30 menit kami baru bisa mencapai Kp. Purud Lampung, dengan kecepatan rata-rata hanya 4 km/jam!!! Padahal kalau kita balik jalurnya, paling cuma 10 menit sampai Jalan Raya Merak lagi. Perjalanan lain ke sini sebelumnya bisa dilihat di sini.
Menuju gazebo tadi dari Kp. Purud Lampung, jauhnya hanya sekitar 700 m. Namun sayang, sampai saat ini belum dimungkinkan gowes sepeda ke sana karena di beberapa tempat, jalan hanya cukup untuk kaki kita, sementara di kiri-kanannya tebing dan lembah. Jadilah kita seperti goweser tanpa sepeda seperti perjalanan ke Ujung Kulon dan Perkampungan Suku Baduy dahulu. Tidak apa-apa, yang penting panas, capek, haus, semua terbayar dengan pemandangan spektakuler yang kami temui di sana. Bahkan, Om Mars sampai tidak mau pulang. Sepertinya bagus kalau kapan-kapan kita NR ke sini, menikmati pemandangan lampu-lampu di bawahnya.
Sepulang dari gazebo, kami memilih alternatif jalan turun ke arah Merak, alih-alih balik langsung ke Kp. Gerem. Risikonya, kami masih harus gowes naik sampai ketinggian 412,1 m dpl, kira-kira 2 km kemudian dari Kp. Purud Lampung. Tapi, tantangan terbesar adalah turunan yang lebih curam dibandingkan saat kami naik tadi. Kami turun dari ketinggian puncak tadi ke 54,1 m dpl (setinggi 358 m) sejauh 2,78 km. Banyak turunan curam yang menuntut kami bekerja keras mengendalikan sepeda, sementara di kanan kami jurang menganga. Harus ekstrahati-hati. Ini perjalanan kedua saya lewat sini, tapi masih belum fasih juga, masih merasa “melayang”, hehehe…...
Di tengah perjalanan, kami sempat foto-foto di sebuah batu yang bentuknya seperti kerang terbuka. Om Mars berpose seolah-olah sedang mengangkat batu itu, hehehe…. Akhirnya, sampai juga kami di bawah bukit dengan perasaan super lega banget sekali. Dari sini, tinggal menyusuri jalan datar lewat Pasar Merak dan kembali ke rumah Om Opik yang menjadi tikum hari itu. Tak lupa, minum jus jambu dulu karena hari itu panas nian.
Secara keseluruhan, statistik GPS menunjukkan data jarak ‘cuma’ 19,05 km, kecepatan maksimum 31,6 km/jam, waktu gowes efektif 2 jam 6 menit, kecepatan rata-rata 9 km/jam, ketinggian maksimum 412 m dpl, total tanjakan 565 m!

Gambar dan statistik hasil perekaman GPS selengkapnya dapat dilihat di sini.

8 comments:

Mas Suprie said...

keren..keren...keren...yang 3 ke G batur
yang satu ke 45
yang satu lainnya talang air
yang lainnya ada yg kondangan hehehehehe

yang lainnya lagi pada kemana ya...
ayo..ayo..berkumpul SC2

fLash said...

Om Pri tumben gak kom dengan Om Opik?
Btw, emang kita udah ganti nama jadi SC2...ya? X-nya mannaa??? hahahah

omars said...

widiihhh...
view nya kueren bgt

fLash said...

ada orang sakti lagi ngangkat karang.... ckckckck...

Mas Suprie said...

ayo..ayo..kumpulmeriahkan acara sepedaan kita dengan kumpul sambil bersepeda....
trayek panjang dan menantang didepan ban sepeda..
Curug sawer menanti....

Andre Andhara said...

hebat, ga nyangka ada tempat spt ini di sana

aryadila putra said...

Aduh rugi banget tetanga cendiri kok gk tau ni wng tgal wangi...hehehe

Iyunk Soegema said...

om saya mau gabung dong, minta info lanjut nya.
trims

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons