Wednesday, April 11, 2012

SUSUR KAKI GUNUNG KARANG

Tiada peribahasa yang tepat untuk menggambarkan perjalanan gowes hari Jumat tanggal 6 April 2012 kemarin menyusuri kaki Gunung Karang selain “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. Bagaimana tidak, setelah dihadang tanjakan dengan total elevasi sampai 1000m sejauh 32km, termasuk melahap makadam dalam kondisi perut lapar di tengah hutan, akhirnya kami mendapat megabonus turunan berlapis aspal hotmix halus sejauh hampir 10km dari ketinggian sekitar 700 m sampai 260-an m dpl.

Hari itu, kami berduabelas: saya, Omars, Omiyan dan apprentis-nya yang selalu dia tinggalin di belakang Taufik Yamammoto san, Om Yopie, Om Didit , Om Opik dan partner satu-RT-nya Om Aris , Vito dan kompatriotnya Eriz, keduanya dari Untirta, Romy salah satu dedengkot Bike to School, dan Pak Arief yang dulu biasa kami sebut Arief Askes karena prinsipnya Askes alias Asal Kesangan (asal keringatan) mengambil start di KPP Pratama Serang (+71m dpl) seperti biasa . Tambahan Pak Yusman yang bergabung kemudian di Tembong.
Rencananya kami akan menikmati sejuknya air pegunungan di kolam Cikoromoy, Pandeglang, melihat situs batu Qur’an, dan sekalian mampir ke sawahnya Pak Arief di Kp. Cihideung, Cimanuk untuk makan siang. Kegiatan kali ini termasuk ke dalam kategori ‘
event’, sehingga rute perjalanan tentunya menjadi lebih panjang dan berat dibandingkan gowes rutin biasa setiap akhir pekan. Di sini, stamina dan mental harus lebih dipersiapkan. Para goweser pun tidak perlu mengeluh, kita sama-sama nikmati saja beratnya trek, toh tidak setiap minggu dilakukan. Salut untuk Om Yopie yang walau lebih senior dari kami semua, tetapi tetap semangat melawan tanjakan! Untuk penyuka trek ringan, kami lakukan gowes luhlang yang hampir tiap minggu digelar, baik ke Cibangkong, jalur 45, Pulau Burung, Kawasan Banten Lama, dan lain-lain.
Balik ke laporan perjalanan. Karena pagi itu sempat ‘gerimis mengundang’,
start pun menjadi molor, yaitu menjelang pukul 8. Santai sajalah, namanya juga piknik. Jalur yang akan diambil seperti biasa melewati Karundang, Tembong, Jalan Raya Palka sampai dengan Ciomas. Semuanya lancar-lancar saja di Jalan Raya Bongla sampai Omars membuka helm-nya. Beberapa saat kemudian, seorang bocah perempuan tanpa merasa bersalah memanggilnya, “Ayah!” Nah lo,,,, bagaimana bisa? Yang dipanggil bukannya berhenti, malah kabur, hahaha…… Goweser yang lain jangan-jangan merasa waswas juga, takut ada yang memanggil ayah atau bahkan abah.
Kami sebenarnya malas melewati beberapa titik di Jalan Raya Palka yang rusak karena penambangan pasir. Bila dalam perjalanan
gowes mengelilingi Gunung Karang ke Mandalawangi sebelumnya, kondisi kering dan sangat berdebu sehingga menyesakkan dada (baca di sini). Kondisi kemarin berbeda, yaitu becek seperti jalanan ke kampung-kampung terpencil karena debu yang masif tadi terguyur air hujan sebelumnya. Pasti membuat gondok pengendara motor dan mobil yang lewat situ yang baru mencuci kendaraan mereka. Yah, namanya rakyat biasa, berdebu atau pun becek, kami lewati juga jalan jelek itu sampai ke Ciomas.
Tiba di Kp. Pondok Kahuru, sekitar pukul 9.40, kondisi jalan yang sebelumnya adalah Pasar Ciomas, sekarang lancar kami lalui dibandingkan saat
gowes ke Mandalawangi. Selidik punya selidik, ternyata pasar sudah direlokasi ke Jalan Raya Ciomas ke arah Cadasari-Pandeglang dengan bentuk, yang kalau saya lihat, lebih baik.
Jalan Raya Ciomas-Cadasari sendiri sangat mulus, berlapiskan aspal
hotmix, dikawal pohon-pohon berdaun lebat di kiri-kanan menyuplai oksigen tak terbatas. Sangat menyegarkan. Ijo royo-royo. Saking mulusnya turunan, rombongan depan keenakan dan bablas sampai ke dekat markas Yonif 320 Badak Putih, Cadasari dan melewatkan belokan ke arah titik pemanjatan di simpang Kp. Mandeg (+363m dpl), meninggalkan Om Yopie dan Vito sebagai penunjuk jalan di belakang. Sepertinya ada yang salah. Akhirnya, rombongan depan pun terpaksa putar balik walaupun sedikit menanjak.
Dari simpangan ini, pendakian dimulai. Melalui jalanan makadam curam. Cukup memberatkan mengayuh sepeda. Bahkan, beberapa
goweser sudah mulai mengalami demoralisasi, bahkan halusinasi, hahaha,,,, sampai berpikir untuk putar balik saja ke Cadasari. Padahal, kampung terdekat, yaitu Kp. Kaduela hanya berjarak 1,7km saja, walaupun medannya tidak bisa dibilang ringan juga. Akhirnya, perjalanan kami teruskan karena harus dapat mengejar solat Jumat di sana.
Ada yang ‘kurang biasa’ pada prosesi solat Jumat di Masjid At Taqwa-Kp. Kaduela (+516m dpl), yaitu khotbah menggunakan bahasa Arab, tanpa bahasa Indonesia, dan para jamaah setempat melakukan solat dzuhur lagi secara berjamaah seusainya. Ini persis dengan solat Jumat di Kp. Cibungur sewaktu kami gowes ke Ciboleger-Baduy dulu. Silakan lihat di sini.
Karena keterbatasan waktu dan untuk mengejar makan siang di sawah Pak Arief di Kp. Cihideung, selepas solat jumat kami putuskan untuk tidak melewati Kp. Kaduenggang (utang nih, harus dibayar kapan-kapan ke sana), tetapi langsung menuju Desa Pasir Peuteuy melalui Kp. Kadujeruk (+504 m dpl) dan Kalapasan (+709m dpl), dengan cara mengambil jalan pintas memotong hutan dan kebun-kebun penduduk. Setelah Kp. Kadujeruk, kondisi jalan tiba-tiba berubah menjadi makadam dengan batu-batuan besar sehingga sulit bagi
goweser untuk mengayuh. Apalagi tanjakan terus menantang seakan tak akan habis. Perut sudah lapar, sementara tidak ada warung satu pun. Memasuki kebun-kebun penduduk dan hutan-hutan, benar-benar tantangan sendiri karenanya.

Untunglah rombongan belakang bertemu dua anak pemilik kebun yang langsung saja kami tawar kepala mudanya. Alhamdulillah, beberapa butir kelapa cukup menambah energi bagi kami melanjutkan perjalanan. Saya makan dua! Sementara, rombongan lain sudah menunggu di Kp. Kalapasan dengan lama hehehehe…. Oh ya, kampung ini merupakan titik tertinggi yang kami datangi kali ini. Lumayan memecahkan rekor sebelumnya ke menyusuri Gunung Karang ke Mandalawangi yang hanya mencapai 504m dpl.
Dari Kp. Kalapasan, bonus turunan mulai akrab dengan kami. Jalan pun berlapis aspal
hotmix mulus sampai ke pertigaan dekat kantor Desa Pasir Peuteuy (+700m dpl). Setelah rombongan lengkap, mulailah kami menikmati megabonus turunan mengular sejauh 9,74km dari ketinggian 707m dpl ke 261m dpl atau kami meluncur setinggi 446m sampai ke alun-alun Pandeglang. Jalanan masih mengular. Luar biasa. Mungkin bagi goweser yang tinggal di dataran tinggi, bonus ini mungkin tidak seberapa. Tapi bagi kami yang tinggal di dataran rendah, hal ini sangat memuaskan, tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Tiba di alun-alun Pandeglang 15 menit menjelang pukul 15. Wah, waktu makan siang sudah lewat, mana masih harus
gowes ke Cihideung. Walau demikian, dengan sisa-sisa tenaga, kami tetapkan hati mampir ke sawahnya Pak Arief. Dan memang tidak sia-sia. Kami disuguhi ikan bakar dan nasi gonjlengan yang serbaorganik ditambah sambal kacang plus honje oleh tuan rumah dan Om Mex Igo. Prasmanan dilakukan di atas daun pisang di pinggir sawah diiringi suara gemericik air mengalir. Hal yang sangat mahal bagi kami. Hilanglah semua penat yang ada. Terima kasih banyak untuk Pak Arief dan Om Mex Igo atas suguhannya. Insya Allah kami tidak kapok dan kami harapkan om-om juga demikian, hehehe…..
Setelah semua kenyang, Om Yopie pun sudah melakukan prosesi penguatan betis supaya tetap kencang dipakai gowes, sekitar pukul 16.30 saatnya kami kembali ke Serang. Namun sayang, karena sudah terlalu sore, rencana kami nyebur di Cikoromoy dan melihat batu Qur’an menjadi batal. Ini juga menjadi utang SXC2 selanjutnya, kapan akan
gowes ke sana.
Di tengah perjalanan, dengan kecepatan sekitar 20km/jam, tiba-tiba kami disusul oleh Pak Arief dengan kecepatan yang saya taksir sekitar 60km/jam. Nanti dulu, bukan karena dia sudah ‘
ngagonjleng’ sehingga bisa ngebut secara otomatis, tidak. Ternyata, dia menumpang di sebuah mobil pick up, hahaha. Katanya kakinya sudah mulai tidak bersahabat lagi. Ya sudah, hati-hati di jalan, Pak! Kami juga disusul Pak Agung. Namanya tidak saya sebut dari awal karena memang dia tidak ikut gowes. Dia menyusul menggunakan mobil dengan keluarganya. Mungkin dari Carita atau Anyer?
Sampai di alun-alun Pandeglang lagi sekitar pukul 17.30, rombongan menambah persediaan air dan melanjutkan perjalanan balik ke Serang. Angka statistik di sini menunjukkan
trip odometer 60,6km, kecepatan maksimum 49,1km/jam, waktu gowes efektif 4jam:50 menit, kecepatan rata-rata 12,6km/jam, total waktu perjalanan 10jam:45menit, ketinggian maksimum 710m dpl, total ascent 1170m! Dari sini, GPS off karena saya harus memisahkan diri dari rombongan dan gowes soliter ke Rangkasbitung karena harus sowan ke rumah orang tua. Namun, kalau dihitung perjalanan ke Serang sejauh 23,2km, maka total jarak menjadi 83,8km, waktu gowes efektif 5jam:45 menit, dan kecepatan rata-rata 14,6km/jam.
Demikianlah perjalanan kami kali ini dengan masih menyisakan utang yang belum lunas, yaitu menyambangi Kp. Kaduenggang dan kolam pemandian Cikoromoy. Yuk, berangkat lagi!
Wassalam.

Ini adalah peta bumi keseluruhan perjalanan kami:


Profil vertikal:


Peta mulai tanjakan makadam di Kp.Mandeg s.d. turun ke Alun-alun Pandeglang


5 comments:

omars said...

patut tuk diulang nih
masih bnyk yg tempat yg bikin penasaran nih.
trus ama photoku saat di om arif yg ilang...

fLash said...

Yg jelas, Kp. Kaduengang belum. Nanti kita mulai uphill dari Cadasari aja biar lebih cepet, hehehe

Hitam Putih said...

ayaahh...

Vitz said...

nah, kp. kaduengang destinasi berikutnya tuhh... hehehhe

fLash said...

Kaduengang siap!

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons