Thursday, February 21, 2013

CIDAHU BYURRR......BERSAMA SXC2 SERANG ORIGINAL

Gowes hari Sabtu tanggal 16 Februari 2013 kemarin benar-benar nekat. Bagaimana tidak, cuaca hujan saat start di tikum KPP Serang seolah tidak menjadi penghalang, malah seperti menjadi vitamin bagi para goweser SXC2 untuk menembus Kampung Cidahu di Padarincang. Jadi ingat ketika awal-awal berdirinya organisasi ini, betapa panas dan hujan tidak kami pedulikan demi menyalurkan semangat gowes. Mudah-mudahan ini bakal bagus ke depannya karena siklus kehidupan SXC2 sudah mulai naik lagi. Ayo ramaikan gowesnya teman-teman! Gowes kali ini juga mungkin, ya mungkin, saat ini menjadi gowes terakhir bareng teman-teman karena kepindahan tugas saya ke luar kota. Mudah-mudahan saya cepat kembali ke homebase dan gowes bareng SXC2 lagi, amin.

Gowes kali ini diikuti oleh 13 orang. Lumayan banyak mengingat kondisi ‘sandykalaning SXC2’ yang mulai ditinggalkan gowesernya, hehehe..... Mudah-mudahan teman-teman tetap menghidupkan SXC2! Start dari KPP Serang, ada Kang Ola, si bolang anak Cipala yang ditemani Om Rahmat tetangganya dan Om Darman dari Gagas yang telah berlelah-lelah menyiapkan menu makan siang. Terima kasih Om-Om! Ada Cep Ronny, pemain voli yang beralih profesi menjadi goweser, bersama juniornya Aldi, ada Vito Putra Petir, tetap semangat, Vit! Ada Om Yopie-mentor saya di tanjakan (pengen gowes bareng asruk-asrukan lagi, Om), ada Om Opik yang tetap bersemangat walau rumahnya paling jauh di Gerem dan sering menjamu kami kalau lagi gowes ke Cipala, Purud Lampung, atau Batu Lawang, terima kasih, Om! Ada Om Mars yang sudah meracuni saya gowes sejak awal, racun yang indah, terima kasih, Om! Ada Om Prie Leonis yang sebenarnya saya jarang ngobrol karena dia selalu gowes paling depan, sementara saya selalu paling belakang, belum lagi kalau dia pulang duluan hehehe..... Ada Om Didit pecinta tanjakan 45 dan Aam yang hampir saja pensiun gowes hehehe.... Keduanya melakukan flying start di Sempu. Ada pula Romy dari BTS Serang yang saya kira bolos sekolah, ternyata mampir ke tikum untuk ikut foto bareng saja, hehehe... Sayang, Om Agus dan Om Dono yang ikut meracuni saya dari awal gowes berhalangan hadir tapi tak apa karena beberapa hari kemudian kami masih bertemu di Terios Biru.
Start pada pukul 8 benar-benar sudah hujan dan perlu tekad yang kuat untuk melakukannya. Karena tertinggal rombongan, saya mengikuti Romy ke arah Pisang Mas. Ternyata tujuan dia memang ke sekolah. Jadilah saya nyasar sendirian ke sana, sementara teman-teman mengambil jurusan Warung Pojok. Untungnya, ternyata lewat Pisang Mas terus Benggala dan Kebon Jahe jaraknya lebih pendek menuju Sempu dibanding lewat Warung Pojok sehingga saya bisa langsung bergabung dengan rombongan di lampu merah Sempu. Om Didit sudah bersiap di RM Bambu Kuning, sementara Aam masih mengejar di belakang karena ban sepedanya bocor sampai dua kali. Hujan pun mulai reda. 
Kami seperti biasa mengikuti jalur Karundang, Pabuaran yang jalannya semakin hancur. Di sini, hujan seperti tumpah kembali dari langit. Semua senang dan tetap gowes berhuja-ria, kecuali manis manja grup, Om Prie, Om Opik, dan Om Mars yang berteduh sambil ngopi di pos ronda. Dengar-dengar Om Mars lagi hamil ya, oek-oekan terus gara-gara lambungnya gak kuat minum kopi. Akhirnya, semua anggota berkumpul menyeruput teh manis di tukang soto jogja di Jalan Palka, walaupun sotonya tidak kita beli. Jalan Palka sudah selesai dibeton untuk beberapa bagian. Sementara bagian lainnya mengalami kehancuran masif. Padahal dulu Jalan Palka sampai dengan Ciomas terkenal karena kualitas jalan yang terbaik. Tapi, seperti beberapa kali disebut, kendaraan-kendaraan bertonase tinggi yang mengangkut pasir yang masih basah sangat berandil menghancurkan jalan. Jadi penasaran, berapa sebenarnya kontribusi pajak galian ini pada PAD dibandingkan kerugian karena kerusakan jalan ini. Biarlah itu menjadi urusan Pemda, kita sebagai masyarakat cukup untuk bersabar saja melewati jalanan itu. 
Kita lanjutkan perjalanan kita. Rombongan bergabung kembali di pertigaan Kp. Pondok Kahuru-Ciomas untuk belanja makan dan minum, bahkan ada yang sampai makan bakso segala. Cep Ronny sendirian bablas terus menikmati bonus turunan ke arah Padarincang dan menunggu di bawah. Tunggu punya tunggu, karena rombongan lama belum datang juga, dia merasa nyasar sendirian, maka putar baliklah ke arah rombongan berkumpul melewati bonus turunan yang dibalik alias menanjak! Untungnya belum sampai puncak, rombongan mulai melanjutkan perjalanan menikmati turunan bonus itu. Dia pun putar balik kembali dalam kondisi kelaparan dan merindukan mie ayam dan segelas teh manis hangat. 
Rombongan kembali berkumpul menjelang Pasar Padarincang karena jalan menuju Kp. Cidahu berbelok dari pasar ini. Mulailah kami melewati jalanan makadam sejauh 2,5 km. Akhir dari perkampungan, kami menyusuri jalan beton selebar 1 m membelah pesawahan di sebelah kanan dan sungai serta jurang di sebelah kiri. Ada satu titik jalan tersebut yang longsor sehingga lebarnya tinggal ½ meter saja. Kalau jatuh ke sebelah kiri bisa langsung jatuh ke jurang. Sangat berbahaya. Bahkan, ketika pulang, Aam harus nyungsep ke sawah karena menghindari jurang longsor itu. Sayang gak sempat difoto, hehehe. Kp. Cidahu berada di seberang Curug Gumawang. Curug ini pernah kita kunjungi kapan? Silakan ikuti tautannya di sini: Curug Cigumawang
Jalan kemudian memasuki tanah yang sangat licin karena hujan terus-menerus sejak beberapa hari kemarin. Sangat sulit untuk menggowes. Bahkan, Om Yopie konsisten melakukan TTB. Saya tetap mencoba gowes tapi gagal maning-gagal maning, son. Mungkin pikiran Om Yopie, dibilangin supaya TTB gak nurut, hehehe. Terima kasih Om Yopie menemani saya di belakang. Trek ini sebenarnya asyik kalau dalam kondisi kering. Naik-turun, menyusuri tebing dan jurang, walau memang tidak terlalu panjang.
Tepat pukul 12, kami tiba di Kp. Cidahu dan memarkir sepeda di sebuah vila yang memang disediakan untuk peristirahatan. Kami pun beristirahat, makan, dan solat di sini. Di depannya berjejer pohon melinjo dan durian yang sudah sangat tinggi. Di belakangnya mengalir sungai berbatu-batu dengan arus deras yang kalau tidak terlalu dangkal, sepertinya bisa digunakan untuk arung jeram. Sungai itu seperti sudah memanggil-manggil kami untuk segera bermain di sana. Tunggulah, perut masih lapar nih!
Makan siang sudah disiapkan oleh emaknya Kang Ola dengan menu ikan mas bakar yang sebenarnya tidak terlalu besar tapi tusukan bambunya sepanjang ½ meter, hehehe. Tapi, ditambah sambal kacang dan sambal kecap, serta lalapan, makan menjadi maknyus. Apalagi dalam kondisi setelah gowes berhujan-hujan ria. Makanya, semuanya makan seperti sudah ditawan Jepang dan gak dikasih makan seminggu, pada beringas. Saya mau tambah ikan pun sudah tak ada lagi, hehehe.
Terima kasih buat Kang Ola dan Om Darman yang sudah menyiapkan maksi ini dengan survei pendahuluan bersama si Byson ke sini beberapa hari sebelumnya. Sayang roda motornya belum diikat rantai, jadinya slip terus ya, hehehe. Padahal penduduk lokal membawa kayu-kayu selebar bajaj memakai motor dengan roda berbalut rantai melewati jalanan licin dengan santainya.
Airnya sangat dingin untuk ukuran kami yang hidup di daerah panas. Tapi sayang saat itu tidak begitu bening, mungkin karena hujan terus-menerus di hulunya di Gunung Karang. Walau demikian, kami memenuhi panggilan sungai itu untuk bermain-main di sana. Kami datang!
Ya, sungai dipenuhi batu-batu, dangkal saja sekitar ½ meter, tapi arusnya lumayan kuat sehingga kalau kita tidak berpegangan pada batu-batu yang ada, bisa terbawa arus. Tidak banyak foto-foto di sini karena harus kena sensor Kak Seto, hehehe. 
Setelah puas bermain air, kami siap-siap kembali ke Serang. Karena dingin, teman-teman ngopi dulu untuk menyegarkan badan dan menambah stamina. Selanjutnya, kami mengabadikan gambar di pinggir sungai tanpa Vito yang pulang duluan karena harus kondangan dan Om Prie yang ...kenapa ya? Aku koq gak tahu kenapa, karena sedang solat ketika dia berangkat bareng Vito, hehehe..... Jam tangan menunjukkan waktu sekitar pukul 14 ketika kami meninggalkan vila Cidahu. Menuju ke pertigaan Kp. Pondok Kahuru-Ciomas berarti harus siap mental menghadapi tanjakan terus-menerus. Perkiraan waktu tiba di Serang adalah pukul 18. Yo wis, dengan bismillah, kami lahap tanjakan panjang itu, kata Kotak: “pelan-pelan saja”!


Selepas pertigaan itu, barulah banyak turunan bonus sampai ke Serang. Hanya sayang karena kondisi jalan yang hancur tadi, kami harus banyak mengerem dan mengurangi kenikmatan meluncur. Tapi tak apalah, yang penting keselamatan adalah hal yang utama. Akhirnya, pukul 17.30, sebagian besar rombongan sudah tiba di  rumah masing-masing dengan selamat, lebih cepat daripada perkiraan semula. Terima kasih untuk seluruh kru hari itu, doakan saya cepat kembali bertugas di homebase sehingga bisa gowes lagi bareng SXC2 Serang Original.
Wassalam.

6 comments:

omars said...

Akibat minum kopi plus taktakannya tuh perut jadi mual.

-mars- said...

Satu lagi friendsepedaan harus berpisah tuk sementara waktu, selamat jalan firend. Semoga kita dapat segera berkumpul kembali...masih banyak nih jadwal petualangan kita.

Chelski@CoKlat said...

kapan gowes lagi ya....

Vitz said...

selamat bertugas ditempat yang baru pak Dida, semoga dapat pengalaman gowes disana, hehe... cepat kembali agar bisa gowes bersama.. nah buat SXC2 ayo hidupkan kembali api semangat gowes nya, jelajah kembali track-track yang sudah kita lalui, dan tambah deh petualangan gowes ke track-track baru nya...

jaka dwira said...

gabung dong, saya pengen ikut nih

omars said...

@jaka dwira : silahkan, kami tunggu gabungnya

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons