Tuesday, January 07, 2014

GOWES TO PELABUHAN RATU

View dari Puncak Bukit Habibie, Cisolok
Sebenarnya sudah menjadi ritual SXC2, setidaknya setiap tahun sekali melakukan gowes touring ke luar kota. Tahun 2013 kami jadwalkan tanggal 25-26 Desember ke Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sepertinya menyenangkan. Namun sayang, perjalanan kali ini hanya diikuti oleh 4 orang saja, yaitu Om Didit, Om Yopie, Om Pri, dan saya. Belum kuorum sebetulnya. Semula terbayang memang tidak akan banyak goweser yang bisa bergabung karena waktunya berbarengan dengan jadwal liburan anak-anak sekolah dan bagi yang tidak cuti, efektif libur hanya dua hari saja. Tapi kalau jumlahnya empat sepeda, tidak terpikir sebelumnya. Sepi, sedih, tapi harus tetap semangat. Big boys don’t cry kata Extreme. The show must go on kata Queen. Akhir tahun 2012 lalu saja, gowes ke Tanjung Lesung edisi II juga hanya 4 orang, Om Dono, Om Mars, Om Agus, dan saya. Dipikir-pikir, kenapa saya selalu ikut ya hahaha.....
Kami naikkan dua sepeda ke dalam minibus dan dua lagi dengan bantuan bike-rack. Lumayan, bisa duduk nyaman karena kami hanya berempat, plus sopir, Mang Engkos. Start di Widya Asri pukul 8 diiringi gerimis dan diperkirakan sampai ke penginapan di Cisolok, Kabupaten Sukabumi sekitar pukul 14. Bismillah, kami meluncur dengan Om Didit di belakang kemudi. Belum tahu dia, kalau pakai mobil minibus ini nanti akan terasa ajrut-ajrutan-nya.
Membelah kebun karet di Cileles, Lebak
Kami lewati Kota Pandeglang dilanjut ke Kp. Sampay, Warung Gunung, Kabupaten Lebak. Jalanan lancar tiada hambatan. Selanjutnya menyusuri Jalan Sampay-Gunung Kencana, melalui Kecamatan Cileles, kemudian Gunung Kencana. Kami sempat mengabadikan suasana perkebunan karet di Cileles, tentunya dengan balutan keindahan keempat fotomodelnya hehehe.... 
Selanjutnya, selamat datang di kondisi jalan buruk di Lebak, Banten! Jalan Gunung Kencana-Malingping kami lalui sampai bermuara di Pasar Malingping. Jalan berlapis batu-batuan besar tidak rata membuat kami harus pandai-pandai memilih jalan yang bisa dilalui dengan nyaman. Di banyak titik, bahkan tidak ada lagi pilihan. Semuanya berbatu-batu. Kami sampai takut sepeda di bike rack sampai copot. Enak kali ya kalau pake mobil 4x4. Dari Malingping, kondisi jalan memang beraspal tapi sudah banyak bolong-bolongnya seperti permukaan bulan. Ini juga catatan buat kaum wanita, kalau wajahmu disamakan dengan bulan, walaupun purnama, jangan senang dulu, karena permukaan bulan itu bolong-bolong tuh. Tahun 2011 dulu sewaktu kami gowes ke Sawarna yang start-nya di Malingping, jalanan ini masih mulus-surulus. Tapi sekarang, 2013, begitulah adanya. Mudah-mudahan menjelang “PEMILU 2014” akan dimuluskan lagi. 
Kondisi sebagian jalan menuju Malingping, Lebak
Sampai di Bayah sekitar pukul 13.30, agak molor dari rencana sebetulnya, kami mampir makan siang dulu di pertigaan terminal Bayah. Menunya makan siang biasa, hanya ikan mas bakar, tempe, lalapan, sambel. Tapi yang membuat luar biasa adalah pete rebus,,,,, alhamdulillah. Dari Malingping tadi, Om Pri sebetulnya sudah kelaparan karena ngidam gorengan. Tapi dihibur Om Yopie, katanya nanti di depan ada tukang gorengan. Di depan, di depan, tahu-tahu Bayah, hehehe.Di sini pula jadi ingat, dulu sewaktu gowes ke Sawarna, pergelangan tangan saya terkilir karena jatuh. Gowes jadi gak maksimal. 
Kondisi jalan di sekitar Pantai Cibobos, Bayah, Lebak
Sekarang mobil dibawa Mang Engkos. Om Didit sepertinya sudah menyerah. Taraso bana hancurnya tuh barang. Perjalanan dilanjutkan melewati Kp. Sawarna. Kondisi jalan makin memprihatinkan, terutama di sekitar kawasan pantai Cibobos. Di banyak titik jalan yang bolong-bolong sekarang dijaga para pemuda setempat yang berpenampilan sangar, setidaknya menurut saya, tampak seperti menutupi lubang dengan tanah atau batu, tapi akhirnya meminta uang kepada setiap kendaraan yang lewat. Bahkan, banyak seluruh permukaan jalan ditutupi bubur lumpur coklat. Kalau ditambah sayuran, jadi karedok, kali. Harus banyak mengelus dada (awas, bukan mengelus-elus, ya). 
Pinggir jalan di Kp. Sawarna saat kami lewati terasa kurang nyaman dibandingkan dua tahun lalu. Mungkin karena sedang banyak pelancong, jalan sempit, banyak mobil, tempat parkir terbatas, mobil-mobil parkir di sepanjang jalan. Kami pun harus merayap karenanya. Om Didit sih terlelap. Capek, kali nyetir ajrut-ajrutan dari Serang hehehe... 
Dari Sawarna perjalanan dilanjutkan ke Kecamatan Cilograng, terus ke Kp. Cibareno. Jalanan masih sempit dengan kontur naik-turun. Oh ya, karena semula kami berencana akan finish gowes di Sawarna keesokan harinya, jadi kami mulai mengukur tanjakan dan turunan yang akan dilewati sambil menghitung-hitung waktu gowes. Untuk jarak, dari Cisolok sampai Sawarna sebetulnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 48 km. Ow,,, tapi ternyata tanjakan-tanjakannya membuat ciut nyali. Nyali saya sih hehehe.... Harus ada perubahan rencana nih. Apalagi Kamis malam inginnya tidak terlalu malam sampai Serang mengingat Jumat subuh saya harus terbang lagi ke Jambi. 
Kalau mendengar kata Cilograng, seperti menjadi hantu penempatan buat para PNS di Kabupaten Lebak. Bagaimana tidak, letak kecamatan ini memang berada paling ujung dengan jarak tempuh 6-7 jam dari Rangkasbitung, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Desanya sendiri yang berbatasan adalah Cibareno. Di sini berdiri tuga perbatasan antara kedua provinsi ini yang dipisahkan oleh sungai Cibareno. Jawa Barat dengan mottonya Gemah Ripah Repeh Rapih sebetulnya tidak asing bagi saya selaku mantan orang Jawa Barat sebelum berdirinya Provinsi Banten. Apalagi lambang itu ditempel di lengan kanan baju pramuka saya ketika sekolah dulu, hehehe.... Provinsi Banten sendiri memiliki motto Iman Takwa. Apa artinya tuh? Mudah-mudahan tidak sekedar motto atau slogan. 
Dan alhamdulillah,,,akhirnya tibalah kami di sebuah penginapan bernama Sapo Kuliki di Cisolok, Kabupaten Sukabumi sekitar pukul 16. Tidak terlalu mewah tetapi karena berada tepat di pinggir pantai, membuat kami bisa memandang ke lautan lepas dari sini. Perjalanan hari ini benar-benar AKAP. Total jarak yang kami tempuh lumayan jauh, yaitu sekitar 211 km dengan waktu tempuh sekitar 8 jam! Menyedihkan, berarti kecepatan rata-rata kami hanya 27 km/jam! Bagaimana tidak, kondisi jalan di Provinsi Banten sangat rusak, terutama mulai Cileles s.d. Cibareno. Saya sedih, kecewa, mengkel melihat kondisi ini. Kasihan saudara-saudara kami di Banten Selatan. Apakah mereka tidak berhak menikmati hasil pembangunan berupa jalanan yang licin?? Yang membuat lebih miris, setelah melewati perbatasan dengan Jawa Barat tadi, jalanan super-mulus, lapisan hotmix tanpa bergelombang dapat kami nikmati. Sangat kontras dengan kondisi di Banten. Bahkan, bila kita menggunakan sepeda balap, masih nyaman untuk dilalui.. Ya sudahlah, menyikapi kondisi ini, teureuy weh kalau kata orang Sunda mah. Masih untung juga selama perjalanan kami dihibur alunan lagu-lagu blues jadul koleksi Om Yopie dari ponselnya. Mantap, Om!
Setelah masuk penginapan, bersih-bersih sebentar, sholat Dzuhur-Ashar yang kami jamak-qoshor, kami bersiap untuk sunset ride ke Kota Pelabuhan Ratu. Oalah,,, baru sadar kalau tutup bagasi mobil Om Didit penyok gara-gara nahan dua sepeda yang terbanting-banting selama perjalanan. Tenang , Om, tinggal ketok magic saja, dibantu para jin, mulus lagi tuh barang, hehehe. 

SUNSET RIDE 
Teluk Pelabuhan Ratu ramai lancar
Jarak ke Kota Pelabuhan Ratu tidak terlalu jauh sebenarnya, hanya sekitar 14-15 km dari tempat kami menginap menyusuri jalan raya di tepian Teluk Pelabuhan Ratu. Melewati pantai Karang Hawu, suasana ramai karena sedang libur nasional. Banyak wisatawan dari Sukabumi, Cianjur, Bandung, dan tentunya Jakarta. Disebut karang hawu karena di sini terdapat karang yang berbentuk seperti hawu (sejenis kompor tradisional yang terbuat dari batu-bata). Di trotoar pinggir pantai, terdapat huruf-huruf yang sepertinya diniatkan sebagai icon pantai ini bertuliskan “Pantai Karang Hawu”, hampir sama dengan tulisan Pantai Losari di Makassar. Namun sayang, sepertinya tidak terurus dan tertutup lapak-lapak pedagang kaki lima. Bahkan, jelas-jelas di depan huruf tersebut beberapa pedagang sedang menyusun bambu untuk membangun lapak-lapaknya. Kenapa didiamkan ya? 
Pantai Sukawayana, Pelabuhan Ratu
Tipikal pantai selatan (Samudera Hindia) adalah berombak besar dan arus yang kuat. Ini pun dapat kita lihat di sini. Di beberapa tempat banyak terdapat karang sehingga tidak dapat digunakan untuk berenang. Berbeda bila dibandingkan di Banten (khususnya Selat Sunda), memang keindahan pantai berpasir dan ombak lebih bisa dinikmati di Anyer-Carita. Menyadari kelemahannya, Pemda setempat memberikan keunggulan kompetitif dengan infrastruktur jalan yang bagus dan hotel-hotel, villa-villa yang tertata rapi. Dengan demikian, para pelancong tetap setia berwisata. Yang diinginkan masyarakat adalah semakin banyaknya pantai yang tersedia untuk umum yang gratis atau beretribusi pun tidak mahal. 
Saat matahari terbenam adalah saat yang luar biasa indah. Semburat warna oranye berlapis awan di cakrawala seperti menjadi santapan wajib para fotografer profesional maupun amatir. Tidak terkecuali kami hehehe. 
Sunset ride
Setelah matahari tenggelam, perjalanan kami lanjutkan NR alias Night Ride ke Pelabuhan Ratu. Untunglah banyak lampu jalan, sehingga menambah terang sinar lampu sepeda yang temaram. Pelabuhan Ratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan salah satu pelabuhan yang dibangun pemerintah pusat untuk menunjang aktifitas perikanan yang memanfaatkan sumber daya ikan yang ada di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 9 Samudera Hindia. Sangat strategis fungsi dan lokasi pelabuhan ini. Apalagi Indonesia adalah negara kepulauan dengan lautan yang sangat luas yang harus kita manfaatkan secara arif. 
Karena perut lapar, Om Pri sepertinya ngidam sate. Lagi, setelah ngidam gorengan sebelumnya di Malingping, hehehe. Ya sudah, kami mampir ke tukang sate yang ramai. Biasanya kalau ramai, kalau gak enak, ya murah. Alhamdulillah ternyata lumayan, walaupun dialah satu-satunya tukang sate di sekitar situ. 
Inna Samudera Beach, depannya doang
Setelah kenyang, siap-siap kami gowes balik ke penginapan. Kami sempatkan mengabadikan momen di depan Samudera Beach Hotel yang legendaris itu, terutama dengan adanya kamar yang disediakan khusus untuk Nyi Roro Kidul. Masih gak yah? Jadi merinding.
Bersih-bersih terus sholat. Sehabis ganteng lagi, Saya, Om Didit, dan Om Yopie lanjut melahap mie rebus karena sepertinya sate tadi belum nendang. Om Pri mah sudah ngamar, kayak anak mami, hahaha. Kami sekalian konsolidasi lagi lokasi finish karena sepertinya tidak akan keburu kalau harus di Sawarna karena keterbatasan waktu. Akhirnya diputuskan finish di puncak Bukit Habibie saja. Terima kasih Pak Habibie. 
Ada yang unik di warung pinggir pantai yang kami datangi. Tempatnya sih biasa saja. Dipan pun terbuat dari kayu dan bilik bambu. Tapi pelayanan si akang penjaganya maksimal. Sehabis beres menghidangkan mie rebus, tiba-tiba dia berkaraoke-ria penuh penjiwaan seolah-olah sedang di atas panggung. Lagunya sebetulnya melow, punyanya D’Lloyd. Tapi, setiap habis satu lagu dia selalu teriak “Oke”. Karuan saja Om Didit refleks menyahut “Buka dikit Joss”. Hanya sepersekian detik, lagu pun berganti menjadi lagu itu. Iramanya seperti goyang caesar itu. Tapi, lama-lama koq semakin berisik ya, sampai ada musik koplo segala. Bicara tentang koplo, semua lagu ternyata bisa dibuat koplo. Percaya atau tidak? Percaya, tapi lagunya jadi kehilangan jiwa. Akhirnya, sebelum semua kehilangan jiwa, Om Yopie request lagu nostalgila saja, dan Bang Broery pun naik panggung.
Sekitar pukul 1, kami sudahi aktifitas hari ini. Mata sudah mulai sepet. Apalagi besok harus menaklukkan tanjakan sampai ke puncak Bukit Habibie, harus cepat-cepat bobo nih. Laporan Mang Garmin saya ke Pelabuhan Ratu menunjukkan odometer 28,5 km; kecepatan maksimum 52,7 km/jam; waktu gowes efektif 2 jam 09 menit; total waktu tempuh 3 jam 35 menit, kecepatan rata-rata 13,3 km/jam (kura-kura); ketinggian maksimum 66 mdpl; total ascent alias tanjakan 239 m. Banyak berhenti untuk foto-foto dan makan malam.
Sunset Ride from Google Maps

6 comments:

omars said...

Kelihatan jelas perbedaan kualitas jalan di Banten dan Jawa Barat

dida fasa said...

bukan hanya kelihatan, akhirnya kami rasakan juga hahaha....

Adek Agus said...

ternyata

Erri Suwandi said...

saya minggu kemarin melakukan perjalanan jakarta - bogor - cibadak - cikidang - pelabuhan ratu - cisolok - bayah - malimping -gunung kencana - rangkas bitung - tangerang - jakarta. saya sangat prihatin mengenai kerusakan jalan antara bayah malimping 37 km, dan yang paling parah malimping - gunung kencana hanya batu dan tanah. mudah mudahan ini jadi perhatian pemprov banten. masa jaman merdeka masih ada jalan tanah berbatu batu

Erri Suwandi said...

saya minggu kemarin melakukan perjalanan jakarta - bogor - cibadak - cikidang - pelabuhan ratu - cisolok - bayah - malimping -gunung kencana - rangkas bitung - tangerang - jakarta. saya sangat prihatin mengenai kerusakan jalan antara bayah malimping 37 km, dan yang paling parah malimping - gunung kencana hanya batu dan tanah. mudah mudahan ini jadi perhatian pemprov banten. masa jaman merdeka masih ada jalan tanah berbatu batu

farhan aja said...

Hallo Banten....kumaha yeuh jln pd ruksak,arek diantep bae nepi ka pada AMBIYEN, kamarana bae atu dinas terkait na....! sing karunya atu ka rakyat anu gering di bawa ka Rs kudu ajrut-ajrutan.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons