Tuesday, January 07, 2014

GOWES UP HILL KE PUNCAK BUKIT HABIBIE


Saya belum menemukan informasi yang jelas mengenai nama sesungguhnya bukit ini. Tapi, orang-orang menyebutnya Bukit Habibie karena diujung bukit ada villa milik Pak Habibie, mantan presiden negara ini. Bukit ini adalah batuan cadas menurut saya yang terletak di antara Cibareno, Banten dengan Cisolok, Jawa Barat, sepertinya berada di Kp. Pasir Suren. Di bukit ini pula terdapat stasiun radar pengintai milik TNI AU. Jadi ingat film Lost. Ada fasilitas pengamatan di tengah belantara hutan, seru sekaligus menegangkan.

Subuh. Sayup-sayup sambil terkantuk-kantuk, kami terbangunkan oleh Om Sting yang menyanyikan Roxxane di ponsel Om Yopie. Kami pikir itu suara alarm untuk membangunkan tidur, ternyata kata Om Yopie itu ringtone SMS. Yah, Om, ringtone SMS saja satu lagu, gimana kalau ada tiga SMS, ringtone-nya saja bisa 15 menit, hehehe.....
Pantai Karang Hawu

Pagi-pagi kami langsung check out dari penginapan sekitar pukul 8 dan langsung mencari sarapan di Pantai Karang Hawu. Selepas itu, langsung kami menanjak menuju puncak Bukit Habibie. Uh, ternyata jam segini sudah terasa panas, ya. Pak Habibie, here We come
Sepanjang jalan, banyak terdapat petunjuk arah tempat wisata dan hotel, villa, dan bungalow. Termasuk banyak pangkalan ojek antar jemput ke rumah Mak Erot, salah satu tokoh wanita legendaris dari Sukabumi yang dikejar para pria dan disukai para wanita. 
Jalan menanjak bertingkat-tingkat. Stamina benar-benar harus dipersiapkan. Juga yang lebih penting adalah mental. Sering kali mental (saya) jatuh kalau melihat tanjakan bertingkat atau tanjakan berbelok yang setelah belok, harapan kita adalah jalan menjadi datar atau bahkan turunan, tapi yang didapat malah tanjakan lagi. 
Masa disebu ndeso, Bu hehehe....
Pelabuhan Ratu view
Di suatu kampung yang kami lewati, ketika Om Didit dan saya sedang asyik foto-foto, tiba-tiba diteriaki ndeso oleh ibu-ibu di sana. Orang keren kayak gini malah diteriaki ndeso, teungteuingeun si ibu mah, hahaha.
Ngaso dulu sepedanya
Tiga kali kami terpaksa berhenti karena beratnya tanjakan. Tapi, beruntung karena pemandangan di bawah sangat luar biasa, isitrahat pun bisa sambil foto-foto, hehehe. Teluk Pelabuhan Ratu dan Cisolok di bawah tampak kecil. Sementara, Ujung Genteng di sebelah tenggara seperti memanggil-manggil. Ya, insya Allah kami akan datang, tapi tidak untuk touring pakai sepeda. Pakai sepeda motor saja, kali ya. 
Tanjakan sampai ke puncak sebetulnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3,5 km saja tetapi kami harus naik turun sampai ke ketinggian 303 mdpl dan nanjak setinggi total 444 m. Saya berpikir, harusnya gir belakang ada 10 atau 11, sementara crank harusnya ada 4 sampai yang terkecil supaya gowes nanjaknya ringan. Tapi, Om Didit punya ide brilian. Katanya, beli saja sepeda yang ada mesinnya, hehehe. 
Menjelang tengah hari, akhirnya dengan penuh perjuangan, kami tiba di puncak Bukit Habibie. Seperti hari sebelumnya, selalu banyak pengunjung yang mengabadikan dirinya dengan latar belakang Teluk Pelabuhan Ratu dan Cisolok nun di bawah sana. Pemandangan spektakuler, subhanallah. Hampir semua orang yang saya lihat memegang kamera atau ponsel pintar untuk memotret dan update status. Tidak heran, penjualan kamera dan ponsel semacam itu di Indonesia bak kacang goreng. Dari yang paling mahal sampai yang paling murah, laku semua. Selain itu, bagi pengunjung, tersedia pula warung-warung yang menjual jajanan dengan fasilitas view jauh ke laut lepas. Cuma belum ada sop buah seperti keinginan Om Didit. Mungkin ini jadi peluang bisnis, Om? 
Puncak Bukit Habibie, Cisolok
Laporan Garmin menunjukkan odometer hanya 10,6 km; kecepatan maksimum 51,1 km/jam; waktu gowes efektif 1 jam 22 menit; total waktu tempuh 3 jam 46 menit, kecepatan rata-rata 7,7 km/jam (siput); ketinggian maksimum 303 mdpl; total ascent alias tanjakan 444 m. 
Sehabis kenyang foto-foto, tapi tidak sampai sendawa, sepeda-sepeda pun masuk kembali ke dalam mobil dan naik ke atas bike-rack untuk perjalanan pulang ke Serang. Ternyata, dari puncak Bukit Habibie sampai dengan perbatasan Jabar-Banten, jalanan menurun terus. Sepertinya asyik untuk dinikmati bonusnya. Tapi, apa daya, karena keterbatasan waktu, kami harus bergegas kembali. 
Walau demikian, kami sempatkan untuk mengabadikan diri di tugu perbatasan Jabar-Banten.
Perjalanan pulang kami tidak melewati Sawarna tapi melewati jalanan lain yang di beberapa bagian rusak dan kotor karena bekas lumpur dari ban-ban truk berukuran besar yang keluar-masuk proyek sebuah pabrik semen! Truk-truk gak sopan, naik ke jalan gak nginjak keset dulu. Tapi untung, di beberapa titik, para petugas dari pabrik ini menyemprotkan air membersihkan jalan. Lanjutkan, Om!
Tiba di Bayah, Om Pri ngidam lagi pengen sate, sampai harus menghubungi teman sekolahnya yang kebetulan tinggal di Bayah untuk referensi. Dua hari touring saja, Om Pri sampai ngidam tiga kali. Akhirnya, dapatlah warung sate yang kami cari, terletak di seberang SMPN Bayah. Satenya mantap, sambalnya luar biasa, alhamdulillah. Jadi ingat, zaman SMP di SMPN 3 Rangkasbitung dulu pernah ikut kemah PMR di SMPN Bayah ini. Padahal kami bukan anggota PMR, senang kemahnya saja, jadi penggembira. Pas malamnya hujan, tenda-tenda pada bochor,,,, bochor,,, terpaksa kami (atau malah senang) bermalam di ruang-ruang kelas di sekolah ini. Alhasil, gak dapat tuh suasana menginap di tenda, hehehe....
Di Malingping, kami sholat di masjid agung. Om Pri mandi, tapi di mobil diapit oleh Om Didit dan Om Yopie yang gak mandi, hehehe. Yang dua terakhir sepertinya beruntung mengapit yang sudah mandi. Om Pri memang berprinsip kalau malam Jumat harus ganteng sampai ke rumah, hehehe. 
Di Gunung Kencana, kami salah berbelok. Seharusnya ke kanan (arah Cileles), malah ke kiri (arah Jalupang). Ini gara-gara semangat membahas gonjang-ganjing perpolitikan Banten dan nasional jadi gak lihat jalan. Bukan juga sih sebenarnya, ngobrol ngalor-ngidul doang, hahaha. Ditambah jalanan sangat gelap membuat rambu-rambu kurang terlihat. Yo wis, daripada harus memutar ke Jalupang terus Saketi, mending putar balik menuju Sampay saja deh, lebih terang. Dan memang, pas sampai ke Sampay, suasana terlihat terang-benderang, kontras dengan suasana sebelumnya di sepanjang jalan. Mobil pun bisa berlari dengan mulus hingga tiba di Serang lewat beberapa menit dari pukul 22. 
Perbatasan Jabar-Banten at Cibareno
Dipikir-pikir, gowes dalam perjalanan kali ini tidak terlalu capek. Yang bikin capek, perjalanannya di mobil menuju ke lokasi yang menghabiskan waktu pergi pulang sekitar 17 jam! 
Demikianlah goweser semua, sepertinya touring kali ini bukan touring gowes tapi touring mobil, hehehe... Yang belum, berarti tinggal touring pake motor. Yuk, kapan? 
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya. Wassalam.
Catatan, terima kasih buat istri tercinta dan anak-anak untuk SIM atau Surat Izin Menggowes-nya.
Google Map
Profil Karang Hawu-Puncak Bukit Habibie

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons