Thursday, April 23, 2015

JERSEY BARU KE KEBUN KARET, PABUARAN

Bismillah.

Assalamualaykum goweser sealam dunia. Hari minggu tanggal 19 April 2015 kemarin SXC2 melakukan gowes sekaligus peluncuran jersey baru yang telah lama ditunggu-tunggu. Lama nian sejak peluncuran jersey legendaris bertema “go green” pada tahun 2010 lalu. Maklum om-om goweser sedang sibuk semua di dunia lainnya masing-masing.
Jersey SXC2
Terima kasih buat Om Didit yang sudah memfasilitasi pembuatan jersey edisi kali ini. Temanya saya kira geledek ya, Om? Soalnya kayak banyak gambar geledeknya, hehehe.... Terima kasih juga buat Teh Nita, nyonya Didit yang ikut berdedikasi buat SXC2, yang sudah menyiapkan sarapan istimewa sop iga, rabeg embe, dan spesial semur jengki kesukaan kita semua, hahaha.... Lebih dari lumayan buat tambah energi gowes, alhamdulillaah. Disebut berdedikasi soalnya sarapannya bukan cuma sekali ini saja, tapi berkali-kali. Makanya goweser SXC2 semakin hari semakin subur, gara-gara masukan kalorinya lebih banyak daripada yang dibakar saat gowes. 
Sop iga, rabeg, dan Semur Jengki kesukaan kita semua
Senangnya hari itu saya bisa bergabung dengan Om Didit, Abah Yopie, Om Darno, Om Arif, Om Opix, Pak RT Kang Ola majikannya si MP, Om Ceps, Om Pri, Haji Nuryadin, Darman Slank dan dua kompatriotnya, serta Pak Guru Edi dedengkot gowes Banten. Jadi terharu, udah lama SXC2 gak gowes berjamaah banyak kayak gini, hehehe.... Dengar-dengar Om Darno dan Om Arif, salah dua pendiri SXC2 yang selama ini sibuk di dunia lain, akan aktif kembali gowes. Siaplah om, ditunggu ya. Om Opik juga sudah lama gak gowes bareng ke Serang, kelihatannya bisepnya makin berisi. Saya tanya jangan-jangan si Om mah nge-gym mulu. Katanya bukan, itu karena sering nimba air di rumah, hahaha..... Lain lagi Om Cep, sekarang kelihatan agak kurus sejak berhenti ngudud. Dulu sih, setiap berhenti (gowes) ngudud, hahaha. Om, padahal waktu dulu mah gemuk loh, Om, hahaha..... 
Tujuan hari ini sederhana saja sebetulnya. Hanya ke Gunung Sari tapi lewat Tembong dan Pabuaran. Tapi, selepas Pabuaran kami akan menyimpang sebentar melewati perkebunan karet Gunung Kupak. Berharap bisa menikmati single track di kebun karet dan segarnya udara ciptaan Yang Mahakuasa. Yeah,,,, mudah-mudahan lancar dan tidak terjadi suatu kejadian yang tidak diharapkan. 
Setelah beres sarapan, kenyang alhamdulillaah, para goweser seperti sudah tak sabar untuk segera berangkat, padahal jengki masih terasa di kerongkongan euy, belum pada turun, hehehe.... oke dah, daripada ketinggalan dan kepanasan, kami berangkat juga, tentunya setelah mengabadikan rengrengan goweser dengan jersey baru di depan rumah Om Didit yang secara de facto dijadikan meeting point alias tikum sekaligus tempat sarapan, hehehe.... 
Singkat cerita, check point pertama di sebuah warung yang menyediakan teh manis di Kp. Paleuh, di di Jalan Raya Palka, sekeluarnya dari jalan Bongla. Nah, sebelah mana tuh, bingung kan? Dasar pasukan dupak bandrong Kang Ola dan Darman Slank mah ngabodor bae sampai difoto dengan pose minum bensin (kayaknya buat tambah energi pengganti jamu TL ya,,,, hahaha). 
Kalau tadi melewati Jalan Bongla rasanya bosan karena serasa tak berujung, padahal hanya 12 km dari tikum sampai ujung, selanjutnya melawati Jalan Raya Palka lebih membosankan lagi. Selain karena konturnya yang terus menanjak walau tidak curam, juga lalu lintas di sini cenderung padat sehingga kami dipaksa menghirup asam knalpot hitam dari motor dan mobil, termasuk dari truk-truk pengangkut pasir yang lalu lalang menghasilkan uang buat pemiliknya tapi dengan sombongnya menghasilkan kehancuran pada kondisi jalan yang katanya milik Indonesia tercinta (galau sayah nih melihat kondisi jalan di sana.) Kondisi jalan yang berlubang-lubang ini sebetulnya tidak masalah buat sepeda kami bisa memilih jalan yang tidak terlalu buruk, tapi kalau naik mobil, mangga cobian lah. Hampir tiap dwimingguan saya lewat jalan ini sejak 3 tahun lalu, dan kondisinya masih memprihatinkan. 
Singkat cerita lagi, check point kedua di Pabuaran, tepat di warung seberang SMP 1 Pabuaran, yang rombongan dupak bandrong kembali berpose aneh-aneh, hahaha.... 
Grup Dupak Bandrong
Mengisi perbekalan terutama air minum kami lakukan sambil menunggu Pak Edi yang masih di belakang. Setelah sekian lama, baru diketahui kalau beliau putar balik lewat Kali Banten yang masuk dari arah Tembong. Katanya sih perutnya mules. Rupanya kombinasi sop iga, rabeg, dan semur jengki tadi dapat menaklukan perut Pak Edi, hahaha. Ya sudah, perjalanan kami lanjutkan karena sudah terasa panas. 
Masuk jalan makadam ke arah Gunung Kupak sebetulnya perasaan sedikit masygul karena harus melewati jalan berbatu yang menanjak, padahal kalau mengikuti jalan raya tadi terus, turunan mulus menganga di depan seperti memanggil-manggil, ayo lewati aku,,,lewati aku.... Yah, karena rombongan depan sudah belok masuk makadam, saya ikut juga. 
Perkebunan Karet Gunung Kupak, Pabuaran
Tepat sebelum masuk gerbang perkebunan karet, ternyata Pak RT Kang Ola sedang membantu seorang ibu muda yang ban motornya bocor. Coba-coba dipompa gak bisa juga, ya iyalah namanya juga bocor, harus ditambal. Setelah tahu misinya gagal, akhirnya untuk menghibur diri, Pak RT, Om Didit, Haji Nur, dan Darman malah “eksis” di atas motor si ibu tadi. Ngomong-ngomong, kalau yang bocornya motor Darman, Pak RT mau gak yah nolongin, hahaha.... Oh ya, istilah “eksis” digunakan si ibu tadi. Katanya, “Terima kasih ya sudah nolongin, walaupun gak bisa, si Om-Om mah malah eksis doang”. Eksis di atas penderitaan orang lain, hahaha...
"Eksis" doang kata si empunya motor
Memasuki perkebunan karet, alhamdulillah udara segar, sangat kontras dari polusi yang tadi kami terpaksa hisap. Memasuki single track, lama menunggu temannya Darman Slank, Om Udin, ternyata dia sudah putar balik juga tanpa ba-bi-bu, hahaha..... itu pun ketahuan setelah Darman Slank menyusul balik. Olala.... 
Grup dupak bandrong mah kembali berpose aneh-aneh, tuh lihat aja..... hahaha.... 

Pembalakan Liar
Sebetulnya mengasyikkan mengeksplorasi single track di sini, apalagi sebagian besar konturnya sudah mulai menurun, sampai nanti di ujungnya. Inilah salah satu surganya para penikmat turunan, kayak Om Cep, hehehe. Namun sayang, karena bekas hujan beberapa hari sebelumnya, di beberapa tempat sangat licin, sehingga ban-ban sepeda kami sering terpeleset, bahkan saya sempat merasakan sepeda berputar 90% karena licinnya jalan. Beruntung di kiri-kanan kami dikawal pohon-pohon karet berdekatan yang bisa digunakan untuk berpegangan. Alhamdulillaah tidak ada musibah yang terjadi. 
Om Cep Jagoan Ngagorolong
Tepat pukul 12, tibalah kami di akhir jalan makadam, dan muncul di Jalan Paburan-Gunung Sari. Semua goweser senang, kecuali Om Cep karena sepeda FR-nya dipakai buat nanjak. Beratnya tuh di sini, hahaha,,,, Akibatnya, tiga gelas besar es kelapa muda dijadikan pelampiasannya. Menurut pengakuannya sih, dari situ mending dievakuasi saja karena sudah siang, sementara mobil bak sudah dihubungi. Sampai sekarang masih menjadi misteri, jadi gak evakuasinya karena saya langsung menempel Om Didit gak sabar ingin segera menikmati turunan asoy geboy Cilowong. Selain itu, saya sudah janji juga dengan si bungsu di rumah. Maklum, Om karena sedang berguru di negeri seberang, waktu harus dibagi-bagi. 
Demikian dulu, Om-Om laporan gowes kemarin. Semoga menginspirasi goweser semua untuk tetap bersepeda dimana pun, kapan pun, dengan sepeda apapun, asal jangan sepeda sirkus roda satu saja, hehehe. Wassalam.

Ngelawan si MP


Wakwaw....

Ini peta perjalanan kemarin: 




Full track

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons