Monday, February 15, 2016

Jalur BURATA punya CERITA

Bismillah. 
Assalamualaykum goweser semua. Lama juga saya absen menulis. Ya, sejak keluar kandang terakhir Mei 2015 lalu menanjak dan ngagorolong ke Kadudago-Kamasan, Anyer, praktis saya gowes di Serang saja. Maklum, tugas di Tanah Pilih Pusaka Betuah selama tiga tahun ini membuat jatah waktu gowes-ku harus benar-benar diatur. Gowes merupakan keinginan tetapi berkumpul dengan keluarga merupakan kebutuhan. Jadi tahu, kan mana yang harus diprioritaskan.
Alhamdulillah, hari Sabtu tanggal 6 Februari kemarin, SXC2 yang sudah lama juga tidak mengadakan kegiatan, bisa keluar kandang. Si Kabayan pun ingin saba kota katanya. Akhirnya, diputuskanlah untuk mencicipi jalur Burata di Bandung Barat tanpa menginap. Kami rencanakan berangkat dari Serang sekitar tengah malam, kemudian tiba Cimahi sekitar subuh untuk kemudian memulai gowes pagi harinya. Mudah-mudahan bisa sambil istirahat dalam kendaraan di perjalanan. 
Peserta kali ini ada saya, Om Didit, Om Cep dan juniornya Aldi, Kang Ola, Om Dodo, Haji Nur, dan Darman Slank. Kang Ola, alias Pak RT, majikan si MP jagoan Banten, kali ini ikut, kata Cep Roni mah supaya si MP keluar dari tempurungnya dan melihat dunia luar, jangan main di Banten saja. Emangnya katak, keluar dari tempurung. Orang Jakarta saja heran, koq bisa si MP main di jalur seperti ini. Belum tahu dia kalau si MP itu gajah, hahaha. Ada juga anggota baru tapi lama, yaitu Omdo. Bukan “Omong Doang” tapi Om Dodo. Dia baru gowes lagi sejak terakhir kemana saya lupa, saking lamanya. Belum lagi persiapan sepedanya dua malam berturut-turut, udah maksimal, tinggal dengkul kuat atau tidak, mengingat pengalaman sewaktu ke Pulau Untung Jawa dan arung jeram Sungai Ciberang, Lebak yang tak terlupakan pastinya buat Omdo, dan tukang pijatnya, dan goweser lain yang lama menunggunya, dan tukang ojeknya. Tapi insya Allah kuatlah, soalnya kata orang-orang, Burata lebih banyak jalur turunannya. Ditambah, kali ini beberapa teman dari SCAM juga ikut meramaikan. Jadilah kami ber-15. Mantap nih jadi ramai. Tapi kalau dilihat komposisi goweser yang hadir, ada Omdo, ada Darman Slank, ada Haji Noer, dipastikan perjalanan kali ini adalah gowes bodor, karena pasti di jalan ketawa-ketiwi melulu. 
Kami memulai dari basecamp Om Didit di Taman Puri menyusun sepeda ke atas mobil pick up sampai dengan pukul 00, dan siap berangkat. Mudah-mudahan ke arah timur ibukota lalu lintas tidak macet, apalagi mau liburan panjang sampai dengan hari Seninnya nanti. Tapi alhamdulillah, lalu-lintas boleh dikata lancar. Di perjalanan, mata terpejam tetapi otak tidak sepenuhnya berisitirahat karena kursi mobil tidak ergonomis, membuat pegal-pegal. Omdo sampai tengkleng tuh lehernya. Belum sopirnya merokok terus sepanjang jalan dengan alasan biar enggak ngantuk. Ini menjadi pelajaran buat kami ke depan agar dapat menyiapkan kendaraan yang lebih nyaman supaya para goweser bisa beristirahat dengan tenang, eh maksudnya dengan nyaman. Tak apa kita iuran agak mahal sedikit tetapi semua puas. Masukan nih buat EO Darman Slank yang semangatnya mah 100%, tapi kualitasnya 80%, wkwkwk. EO uo uo..... Mbuh ya, Man. Akhirnya, sekitar pukul 04.30 kami mendarat di masjid Agung Cimahi saat suara adzan subuh di telinga. Kami pun segera menunaikan sholat. Kata Kang Ola mah, goweser juga pengen masuk surga. 
Sehabis sholat, rombongan meluruskan punggung di karpet barisan belakang. Cep Roni yang ribut membangunkan kami semua. Bukan apa-apa, karena sarung dia dipakai Omdo tiduran, jadi dia enggak kebagian sarung, buat tiduran. Perlu diketahui bahwa sarung adalah salah satu alat vital pada waktu kita ingin tiduran dalam udara yang dingin. Marbot masjid sampai bingung, ini rombongan dari mana koq pada tiduran. Pas dijawab dari Serang-Banten, oh pantesan. Pantesan tiduran maksudnya, kan habis perjalanan jauh. 
Singkat cerita, sehabis sarapan bubur yang mudah-mudahan nendang sampai jadwal makan siang nanti, di depan masjid tadi, kami bersiap menuju tempat start ke Kp. Cipada, dengan dikawal oleh marshall asyik Kang Haris dan Kang Apoey. Melalui Jalan Kol. Masturi (?) ke arah SPN Cisarua, yang konturnya tanjakan semua. Saya jadi ingat Abah Yopie melewati jalur tanjakan ini. Maklum Abah mah konsisten dengan mottonya “tanjakan yes turunan no”. Satu lagi, kayaknya Om Andri kalau lewat sini pasti akan merasa waas dan terkenang-kenang selalu, maklum dia dulu sekolahnya di sini, zaman muda dulu. 
Jalur selanjutnya, masuk jalan kecil di samping dan belakang SPN, setelah itu blank alias poek, enggak hapal lagi ke arah mana. Yang jelas, kami menyusuri jalanan sempit, meliuk-liuk, naik-turun, sampai akhirnya tiba di Kp. Cipada, titik start. Satu-dua tikungan sebelumnya terasa ngeri karena cukup tajam walau belum masuk kategori hairpin, jurangnya curam, tidak ada pagar, tidak ada rambu lalu-lintas, tidak ada penerangan sepertinya kalau malam, kalau tidak hapal jalan, wassalam. Harus hati-hati berkendara ya. 
SXC2 to Burata Trail Bike Track
Di titik start, sudah menunggu Kang Jaep, Kepsek jalur Burata yang sudah menyiapkan jersi Burata Trail Bike Track warna biru dengan logo SXC2 yang keren! Mantap dan hatur thank you, Kang! 

Burata!!! 

Kebun Pangheotan
Sepertinya sudah banyak ulasan tentang jalur Burata di dunia maya. Bahkan, Kang Jaep, sudah mengunggah video tentangnya di Youtube, lengkap dengan turunan Jumanji yang fenomenal itu. Kali ini saya hanya akan bercerita tentang apa yang kami alami. Itu saja. 
Pukul 8.15, kami tiba di Desa Cipada (1218 m dpl) yang sejuk. Desa ini terletak di sisi barat Gunung Burangrang (2050 m dpl) dan berada di Kecamatan Cikalong Wetan-Kabupaten Bandung Barat. Di sini kami mempersiapkan sepeda dan perbekalan logistik karena sepertinya akan jarang warung di depan. 
Bagi saya, gowes di ketinggian dan kesejukan seperti ini merupakan sesuatu yang jarang dilakukan. Maklum, saya biasa main di Serang-Banten saja yang berada dekat dengan pantai dengan ketinggian rata-rata hanya 100-200 m dpl, dengan cuaca yang hangat cenderung panas. Di Banten, tempat tertinggi yang pernah saya datangi sepertinya baru Kp. Kaduengang di Pandeglang (824 m dpl), tepat di pertengahan jalur menuju puncak Gunung Karang. Itu pun jalur yang dilalui berupa jalanan aspal dan makadam, bukan single track. Ingat, kan waktu Kang Ola, Abah Yopieastroz, dan Darman Slank merazia pasangan yang sedang bermesraan di Kp. Juhut? 
Pukul 9 kami mulai gowes menuju hutan pinus. Ternyata, menuju ke sana yang jaraknya hanya sekitar 700 m, kami sudah harus mendaki ke ketinggian 1300 m dpl. Perasaan dengkul saya belum panas, jadinya hah-heh-hoh weh. Kami langsung melewati sebagian single track dan makadam, serta disuguhi vegetasi yang khas di ketinggian ini yaitu kebun sayuran dan hutan pinus. Setelah santiaji dan doa di gerbang hutan pinus yang dipimpin oleh Om Didit, perjalanan dilanjutkan dengan Cep Roni sebagai pembuka jalan dan Kang Haris sebagai sweeper. Kondisi jalur saat itu lembab dan cenderung basah. Di beberapa bagian, karena berada di lereng gunung, kami harus melewati jalur yang sempit dengan sisi sebelah kiri jurang. Ngeri juga kalau sampai jatuh. Bahaya buat pengidap acrophobia alias takut pada ketinggian. Kalau terpaksa harus menuntun sepeda, harus hati-hati karena tidak memungkinkan kita menuntun sepeda sepenuhnya berdampingan karena sempitnya jalur. Salah satu tip, kalau mau jatuh, ke sebelah kanan ya!! Secara umum, jalur mengular dan naik-turun menyusuri tebing ini sangat mengasyikan. Omdo tuh yang curiga, masa jalurnya begini semua, kan ngeri. Belum tahu dia, bagaimana jalur di depan. 
Selanjutnya, kami masuk ke perkebunan teh. Kalau saya tidak salah, perkebunan ini merupakan wilayah PTPN VIII Unit Kebun Panglejar-Pangheotan. Tipikal perkebunan teh antara lain tersedianya jalur makadam yang biasa digunakan untuk dilalui kendaraan pengangkut teh, juga tersedia single track yang berliku-liku, naik-turun membelah kebun yang digunakan para pemetik teh. Jalur inilah yang akhirnya menjadi surga bagi para goweser tapi tetap harus ekstra hati-hati karena di beberapa tempat, batang dan tanggul pohon teh siap menjadi hambatan. Di beberapa jalur makadam, lajur terdiri dari tiga, yaitu kanan, kiri, dan tengah dengan beda tinggi dan dipisahkan bebatuan dan rerumputan. Kalau sudah memilih satu lajur, harus tetapkan hati di situ karena berpindah lajur tanpa penghitungan yang matang bisa berakibat sepeda tidak dapat dikontrol. Tip selanjutnya, harus istiqomah memilih lajur. 
2D Darman & Dodo
Gowes kami santai karena tujuannya memang piknik dan menikmati suasana alam, bukan time trial atau lomba kecepatan gowes. Walau demikian, karena licinnya jalur, beberapa goweser harus jatuh bangun kayak lagunya Bang Meggy Z, dan alhamdulillah tidak ada yang cedera. Kalau diabsen yang ngejungkel siapa saja, salah, harusnya siapa yang enggak ngejungkel karena lebih banyak yang ngejungkel daripada yang enggak, hahaha. Saya saja sampai jatuh empat kali. Haduh, harus lebih banyak belajar keseimbangan kali ya. Tapi walau begitu, pasukan SXC2 tetap tabah dan ketawa-ketiwi terus. Sampai-sampai Kang Jaep nanya ke Om Cep, itu yang pakai TR3 siapa, rame banget. Bagaimana tidak, komunitas yang lain mah gowes teh serius, jempling, pakai sepeda yang serius juga, ini mah banyakan hahahihi-nya. Tapi asyik koq, sing penting happy ya, Om ....namanya juga gosik. 
Gaya andalan Kang Ola & Haji Noer
Di beberapa tempat, tersedia spot-spot menarik untuk mengabadikan perjalanan dan pemandangan. Subhaanallaah, indahnya alam ciptaan Yang Mahakuasa. Pohon-pohon teh yang membentuk barisan rapi di bukit-bukit yang laksana rumah teletubbies dibelah jalan setapak yang kadang lurus, kadang berliku-liku, seperti labirin dalam game zaman dulu, Pacman. Sayangnya saya lupa membeli baterai cadangan untuk kamera kecil saya, jadilah minim gambar yang dapat diambil. Kayaknya harus diulang lagi nih dengan persiapan kamera. Belum lagi Gopro-nya Om Cep yang gatot alias gagal total katanya, hiks.... Untungnya, banyak selfie-wan yang siap berbagi foto, dan tentu saja foto-foto dari Kang Jaep. Hatur thank you lagi, Kang. 
Menjelang jam 11, tiba kami di Kp. Cileuleuy (1011 m dpl). Demikian nama kampung ini seperti disebutkan bapak pemilik warung yang kami singgahi. Menemukan sebuah warung seperti menemukan oase di tengah gurun. Udara sudah mulai menyengat walau tidak sepanas di Serang. Jarak baru menunjukkan 1/8 perjalanan sepertinya, padahal jalur yang kami lalui sudah luar biasa mengasyikan. Kata Kang Darman Slank mah, "Mantap!" Beberapa rombongan lain yang datang belakangan ternyata ikut rehat di warung ini. 
Gaya euy
Selanjutnya, perjalanan kami lanjutkan melalui kantor administrasi kebun Pangheotan (960 m dpl), jalur sudah boleh dikata tinggal menurun saja. Masih melewati single track yang asyik, rumput gajah yang cukup tinggi menghalangi pandangan mata kami, sehingga jalur di beberapa tempat tidak tampak sama sekali. Saya jatuh keluar lajur lagi karena tidak bisa melihat jalur. Belum lagi goresannya di tangan dan kaki. Keluar dari single track, masuk jalan makadam, eh ada tukang es cingcau. Langsung saja masing-masing kami pesan dua gelas. Alhamdulillaah nikmat, Gusti. Kalau di masa kecil Anda pernah makan es cingcau, berarti masa kecil Anda bahagia. 
Setelah Es Cingcau
Kemunculan tukang es cingcau ini juga masih misteri, kenapa di saat tengah hari panas, tepat jam 12, saat matahari tepat di ubun-ubun, dia muncul membawa kesejukan. Ini harus kita syukuri. Jadi ingat misteri lainnya yang belum terpecahkan yaitu kemunculan pedagang asongan yang menjual air kemasan dalam botol atau gelas (panjang amat tulisannya, sebut aja mereknya), tahu, kacang, manisan mangga, dan nangka pada saat macet di jalan raya, bahkan di dalam jalan tol!! Darimana mereka muncul, coba? Sementara, makanan-minuman yang mereka jual selalu sama. Apakah mereka berkonspirasi dengan pembuat kemacetan? Tapi, terlepas dari itu, mereka membawa kesejukan juga, apalagi saat perut sedang berirama keroncongan. Terima kasih ya emang es cingcau dan para pedagang asongan semua. 
Selain bertemu dengan komunitas sepeda lain, kami juga bertemu dengan komunitas motor trail. Saya sampai ngeri karena beberapa oknum pemotor nekad ngebut di jalan makadam, padahal selain banyak pesepeda, di situ banyak juga anak-anak yang baru bubaran sekolah. Suara deru motor yang meraung-raung bagi saya terasa bising, apalagi terbiasa bersepeda dengan tingkat kebisingan nol desibel. Saya yang mau menyeberang, harus minggir dulu keluar jalur. Menurut saya, marilah kita sama-sama menghargai satu sama lain, apalagi kita sesama pehobi kegiatan alam luar. 
Tujuan selanjutnya adalah makan siang di rest area dekat Masjid Baabussalam, Panglejar di dekat kantor administratur kebun Panglejar yang berada di Jalan Raya Cikampek-Padalarang. Jam menunjukkan waktu pukul 13, waktu yang sangat ideal untuk santap siang dengan menu khas sunda, termasuk lalapan dan sambal tentunya. Hanya sayang, pas saya jadwal saya makan, semur jengkinya sudah habis. Wah, pelanggaran nih. Makan tanpa semur jengki ibarat makan tanpa semur jengki.
Inggis gara-gara teu kabagian semur jengki wkwkwk
Setelah ishoma, perjalanan kami lanjutkan. Rasanya tinggal 1/3 lagi jalur yang akan kami tempuh. Masih melewati beberapa perkebunan teh lagi. Namun, selepas melewati fly over di atas Jalan Tol Cipularang, jalur membelah perkebunan karet yang kami lalui. Kalau melewati kebun karet, orang Serang sepertinya sudah agak terbiasa karena sering melewati jalur Kebon Kupak, perkebunan karet di sekitar Pabuaran-Gunung Sari, walaupun jaraknya memang lebih pendek. 
Selanjutnya kami keluar-masuk perkampungan yang saya tidak hapal namanya. Yang saya ingat, kami melewati Stasiun Kereta Api Cikadongdong (408 m dpl) yang setelah saya cek Google maps, terletak di Desa Puteran, Cikalong Wetan, Bandung Barat. Dan, tidak jauh dari situ ke arah utara, terdapat Jembatan Cisomang, jembatan kereta api terdalam di Asia Tenggara, dengan ketinggian dari lembah sekitar 100m. Kalau Anda menggunakan kereta api dari Jakarta ke Bandung, nanti lewat situ, tapi jangan loncat di jembatan ya, bahaya. 
Jumanji. Koq gak pada digowes, Om?
Ada yang membedakan antara jalur kebun karet di Serang dengan di Cikalong Wetan, yaitu turunan ekstrem dan technical: Jumanji! Sebelumnya marshall menawarkan dua alternatif, mau lewat Jumanji atau Chicken way. Semula saya berpikir, kenapa disebut chicken way. Apakah karena banyak anak ayam? Ternyata bukan jalur anak ayam, tapi jalur chicken yang kata chicken ini biasanya digunakan dalam idiom “Chicken lu.... “, hahaha. Tapi enggak apa-apalah, yang penting kan sehat wal'afiat selamat sentosa sampai finish. Saya yang penasaran seperti apa Jumanji, mencoba lewat situ, dan alhamdulillaah lolos walaupun belum lulus, hahaha. Jalur berkelok-kelok, menurun, tanah licin, dan batu-batuan lepas menambah kesulitan jalur ini. Menurut saya, ada empat faktor penentu kelulusan di situ, yaitu skill atau teknik, nyali, sepeda, dan sering dilewati. Keempatnya saya belum punya. Mudah-mudahan saja tidak ada faktor yang lain lagi, soalnya makin sulit menaklukannya kalau masih ada, hahaha.... Ya sudah, kami merosot tuntun berjamaah saja. Terpeleset, merosot, jatuh dari sepeda, jungkir balik, sepertinya menjadi hal biasa di sini. Dulu, kata Om Didit sewaktu melewati Jumanji pertama kali, sepedanya dia lemparkan duluan ke bawah, lalu dia turun kemudian dengan santai. Sekarang, dia merosot ngepot-ngepot. Masih belum lulus berarti, Om, hahaha. Kata Kang Ola, yang jadi saksi mata Kang Jaep lulus di sini, Kang Jaep melewati Jumanji kayak kancil aja, loncat sini-loncat sana, sambil merosot mencari lajur yang aman, hahaha. Hebat, Kang. 
Akhirnya, sekitar ¼ jam sebelum pukul 16, kami berhasil finish di Cirata (151 m dpl), tepatnya di sebelah timur waduk. Karena harus melewati sebuah sungai kecil, sekalian saja kami mencuci sepeda-sepeda kami yang berlepotan lumpur. Karena tidak ada spons, kami gunakan plastik-plastik yang terbawa arus sungai sebagai spons. Terima kasih buat para pembuang sampah plastik ke sungai. Ironi, ya. Setelah naik ke atas, baru sadar kalau di sekitar sungai ada rambu dilarang berenang. Mungkin untuk mengantisipasi kemungkinan permukaan sungai tiba-tiba naik. Wah, ngeri juga ya kalau kejadian. Setelah membereskan diri dan sepeda, sebelum maghrib akhirnya kami kembali ke Serang dengan perasaan puas dan ingin meremedial jalur Burata. Alhamdulillah. Terima kasih buat marshall-marshall asyik, Kang Jaep, Kang Haris, Kang Apoey, Kang Boy, dll. Juga terima kasih buat seksi sibuk Darman Slank, serta Om Didit dan Om Cep. Mudah-mudahan kita bertemu lagi dalam waktu dan gelombang yang berbeda tapi acara yang sama, yaitu gosik alias gowes asyik. Wassalam.

Mudah-mudahan awal Maret bisa ke Aquilla, Cianjur ya, insya Allah. 

Secara statistik, jalur Burata bisa digambarkan sebagai berikut: 
Ketinggian maksimum 1320 m dpl di hutan pinus Kp. Cipada, minimum 151 m dpl di waduk Cirata 
Total Ascent 203 m, Descent 1257 m 
Jarak tempuh 30,2 km 
Durasi 6 jam:56 menit, termasuk foto-foto dan ishoma.
Vertical profile of Burata Track
Peta Jalur Burata

7 comments:

ADAM HARPANTO said...

Mantap om, kalau boleh dishare gpx nya. Thanks ya om..

ADAM HARPANTO said...

Mantap om, kalau boleh dishare gpx nya. Thanks ya om..

omars said...

juozzz om, iya file gpx nya blh tuh

Zakky Purwana said...

Kapan kapan lewat jalur burata mampir dulu ke rumah saya, rumah saya di daerah cisomang, terlewati sama temen temen jika lewat jalur burata, nanti saya suguhi nasi liwet dan ikan asin, jengkol sambal tentu nya, hhe kebetulan saya senang gowes juga hhhe

Zakky Purwana said...

Kapan kapan lewat jalur burata mampir dulu ke rumah saya, rumah saya di daerah cisomang, terlewati sama temen temen jika lewat jalur burata, nanti saya suguhi nasi liwet dan ikan asin, jengkol sambal tentu nya, hhe kebetulan saya senang gowes juga hhhe

omars said...
This comment has been removed by the author.
omars said...

Terima kasih om Zakky Purwana
Insya Allah jika kami kesono lagi.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons