Saturday, September 17, 2016

Sawiyah Majalengka

Bismillah.
Assalamualaikum goweser semua. Kemarin tanggal 3 September 2016, kami berencana gowes piknik ke Sawiyah, daerah perkebunan sayuran di kaki Gunung Ceremai yang masuk ke wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kata orang sih, juga setelah kami intip dari youtube, pemandangannya indah luar biasa di sana. Jadi, mari kita kemon.
Namun, entah mengapa persiapan perjalanan kali ini tidak terlalu mulus rasanya. Dimulai dari konfirmasi pembatalan keberangkatan dari beberapa goweser yang semula akan ikut sangat mepet dengan waktu keberangkatan, jadinya bus kosong. Enak sih bisa tidur selonjoran, tapi kan otomatis iuran naik, hehehe. Sampai-sampai memecahkan rekor, satu perjalanan dipalak bendahara sampai 3 kali, ah euy..... . “
“Mang Dodo, ieu iuran sabarahaan?”
“Dualaslima”
Lalu, Mang Dodo harus menambal ban sepedanya, yang bergelar Brigadir Sakahayang, sampai empat kali, padahal dia baru beli tuh ban dalamnya. Mungkin dia tidak berbakat jadi tukang tambal ban ya. Hardskill-nya kurang, hehehe. Peralatan tambal pada patah, sendok pada bengkok. Akibatnya, dia masih uring-uringan saat datang ke tikum. Kalau kata ABG sekarang mah, lagi BT kali ya. Beli ban baru bocor semua. Bisanya malah pakai ban lama lagi. Sudah gitu, menunggu bus seperti menunggu godot. Tidak jelas kapan akan datang.
Kemudian, saya sama sekali tidak kebagian waktu untuk tune up sepeda, cuma bisa memberi oli rantai, gak sempat ganti kampas rem yang sudah tipis, enggak dapat pelindung lutut dan tulang kering. Seatpost juga masih bermasalah karena sampai detik-detik keberangkatan, si Ade MJ tidak bisa memperbaikinya. Seatpost jawara emang. Bukan jawara karena bagus kualitasnya, tapi dalam arti kalau diduduki selalu melawan, naik terus hidroliknya. Jadi ibarat beli barang BS deh, dua kali dipakai touring, dua kali pula rusak. Dulu waktu ke Burata, begitu juga. Ditambah, keterlambatan pesawat yang saya tumpangi yang semula dijadwalkan mendarat pukul 14 di Bandara Soekarno-Hatta menjadi pukul 16, padahal sudah memakai maskapai mahal berkelas internasional itu. Akibatnya, di jalan jadi terjebak macet karena sudah jam pulang kantor. Mencari pelindung lutut dan tulang kering di Tangerang enggak dapat juga. Akhirnya, baru bisa mendarat di Serang pukul 20, padahal jadwal di tikum pukul 21. Alamak, jadi komplitlah kayak jamu. Kayaknya hanya doa yang bisa dipanjatkan, semoga sepeda dan si empunya tetap sehat selamat sentosa selama di Sawiyah nanti.
Jadwal keberangkatan pun molor dari rencana pukul 21 menjadi pukul 23. Tahu begitu, saya tidur dulu. Mang Dodo makin BT. Maklum, selain carik, kali ini dia merangkap jabatan sebagai kuwu sekaligus EO. Banyak amat jabatannya. Honornya dobel, atau tripel dong, Mang.
Menjelang pukul 23, datanglah bus yang ditunggu-tunggu dengan beberapa goweser sudah PW alias Posisi Wuenak di dalamnya. Sudah ada Mang Didit alias Kang Jaro bersama juniornya, sekaligus mata-mata, hehehe, Aa Apli; Mang Cep yang kali ini tidak dikawal juniornya, Kaka Aldi, karena enggak boleh bolos latihan sepakbola besoknya, katanya. Yang menggembirakan adalah kembalinya dua anak hilang, eh maksudnya dua "orang tua" hilang, pendiri SXC2 yang kembali turun gunung, yang sebenarnya mau naik gunung Ceremai, yaitu Pak Ai dan Mbah Darno. Dari namanya saja sudah menggambarkan senioritas, harus salim tuh kalau ketemu, hehehe.
Di tikum sendiri, selain saya dan Mang Dodo, sudah ada Mang Haji Nur, Bang Dolett, dan Mang Darman Slank. Yang terakhir ini ngakunya doang namanya berekstensi Slank tapi belum pernah kedengaran nyanyi lagu-lagunya grup band ini. Ada yang hapal enggak sih, Mance? ^_^
Setelah diabsen, jadilah peserta kali ini hanya 10 orang. Sopir dan kernet bus enggak usah dihitung ya. Sayangnya, Mang Iyan selaku anak Cikijing-Majalengka yang sekarang lebih akrab dengan Federal-nya, malah enggak ikut, padahal kita mau ke tempat kelahirannya.
Lanjut, di bus, tukang narik kabel pada beraksi semua yuaaa.... Mengganggu kesyahduan peraduan. Tapi ada beberapa yang kurang lepas, mungkin karena biasa ada pendampingnya kalau sedang narik kabel. Cuma, memang ketahuan tahun kelahirannya  berapa kalau dilihat lagu-lagu yang ditembangkan. Sebut saja Koes Plus, Bang Iwan, dan Broery. Iya, kan? Saya sih enggak lama langsung terlelap. Sorry, masih jetlag.
Singkat cerita, di tol Cikampek, lewat tengah malam menjelang pagi, "pamer paha", alias padat merayap tanpa harapan. Itu pun katanya, karena saya kan sleeping beauty jadi enggak merasakan macet. Tapi,  kayaknya benar karena jadwal kedatangan yang diperkirakan tiba di Majalengka sekitar subuh, meleset menjadi sholat subuh masih di area istirahat km 102 tol Cipali, masih di Subang. Jalan masih panjang, jangan ucap janji. Masih sekitar 70km lagi untuk mencapai gerbang keluar tol Kertajati. Alhamdulillah-nya, Mang Darman wis taubat geh, udah ikutan sholat sekarang mah, hahaha. Tapi enggak tahu, wudlu atau cuma ngebasahin rambut doang oang oang yuaa, hehehe.
Akhirnya, kami keluar di gerbang tol Kertajati, Majalengka sekitar pukul 6, dan terus mengarah ke Kadipaten, sudah terang benderang, dan langsung disuguhi hamparan kebun sayur. Sesuatu yang jarang kami temukan di Serang yang cuacanya panas, jadi tidak banyak atau tidak ada (?) kebun sayur seperti ini. Sawiyah harusnya lebih indah lagi. Para petani di sini menyiram sayuran dengan cara yang unik dengan menggunakan semacam ember dari kaleng yang dibentuk seperti kerucut. Caranya pun unik, mereka menggoyangkan ember tersebut ke kiri dan kanan. Belum terjamah mekanisasi pertanian atau memang harus demikiankah caranya?
Manusia sungguh memang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan beberapa jam, menit, atau detik berikutnya. Di tengah perjalanan, ternyata jalanan ditutup karena sedang ada perbaikan jembatan yang melintasi Kali Cimanuk. Kami pun harus putar balik dan mencari jalur alternatif yang jaraknya lumayan jauh. Kembalilah kami ke arah gerbang tol Kertajati tadi untuk kemudian memutar melalui Kecamatan Jatiwangi. Pernah dengar? Iya, dari zaman kecil dulu, saya sudah mendengar nama ini yang ditasbihkan pada genteng keramik berkualitas tinggi dan mahal. Jadi, kalau dulu ada rumah yang pakai genteng merek ini, pasti rumah orang kaya, hehehe.
Kami masih pusing-pusing, kalau kata orang Malaysia mah, dan belum ada tanda-tanda akan sampai di tempat tujuan, serta tidak tahu seberapa jauh lagi kami harus memutar. Pasrah pada ilahi. Melewati jalanan tidak terlalu lebar dengan sawah dan saluran irigasi di kanan-kiri kami, terasa seperti di Sawah Luhur terus mengarah ke Pontang. Juga pabrik-pabrik keramik dengan cerobong asap yang tinggi dan toko-toko genteng Jatiwangi bertebaran.
Hari makin siang, lapar belum sarapan, sebagian goweser sudah gelisah, pukul berapa nanti kita startnya ya?
Setelah melewati kawasan Lanud Sugiri Sukani, seperti ada harapan sudah hampir sampai karena kami tiba di jalan besar, yaitu Jalan Raya Bandung-Cirebon. Ya, serasa menemukan kehidupan. Sampai di sini, kalau dihitung-dihitung, sudah lebih 20 km kami memutar. Tapi Saudara-saudara, kami ternyata masih harus menyusuri Jalan Raya Jatiwangi-Majalengka menuju ke tikum di Cigasong.
Akhirnya, setelah memutar hampir 40 km, sekitar pukul 8, kami tiba di titik kumpul alias tikum, dimana coba, Rumah Makan Ampera! Alhamdulillah. Mantap dong, bisa melepaskan hasrat siklus biologis, sekaligus mempersiapkan sepeda, dan terutama sarapan, tang kali ini ala makan siang dengan menu lalapan khas Sunda. Kebayang kan makan daun poh pohan dengan  sambal. Sarapan lho itu, hehehe. Sebagai orang Sunda, lalapan daun-daunan memang terasa sebagai menu wajib, kecuali daun pisang atau daun pintu tentunya. Di sini, kami ditemui Om Nurul, yang punya wilayah, bersama Om Irfan dan Dhafa_Nos sebagai marshall sekaligus fotografer. Sayang Om Nurul tidak bisa ikut gowes karena ada urusan keluarga.
Lepas jam 10 sepertinya baru beres sarapan dan menaikkan sepeda ke atas dolak. Ah euy, dolak tuh apa ya? Dolak adalah mobil pick-up yang biasnya digunakan untuk mengangkut pasir atau kerikil yang dapat juga digunakan sebagai alat ukur. Bahasa ini sering digunakan oleh Mang Cep sebagai juragan matrial. Kayaknya berasal dari Sumedang kata “dolak” ini, hehehe.
“Mang Cep, keusik sadolak sabarahaan?”
“Dualaslima.“
Karena dolak hanya bisa mengangkut sepeda, tidak termasuk para tuannya, terpaksalah kami paksakan naik bus ke tempat start gowes.
Menuju ke sana, kami masih harus melewati jalanan berlapis aspal yang tidak lebar, mengular, dan tentunya, menanjak. Bayangkan saja, ketinggian di tikum masih sekitar 100 mdpl. Nanti di titik start, akan lebih dari 1.200 mdpl. Wow.... Ya wow, bagi kami, atau sayalah, yang biasa gowes di dataran rendah Serang. Mudah-mudahan saja bus masih kuat menanjak. Yang repot, kalau pas menanjak berpapasan dengan kendaraan lain dari arah muka atau ada yang parkir di tepi jalan, harus berhenti dulu dan lewat satu per satu. Dan itu terjadi. Ketika bus ngos-ngosan menanjak, tentunya diiringi doa dari kami supaya kuat, ada mobil lain parkir menghalangi jalan, otomatis bus pun harus berhenti dalam posisi menanjak curam. Bus sempat mundur sedikit ketika sopir bus menginjak kopling untuk masuk ke gigi satu. Ngeri euy. Insting kernet Mang Darman langsung keluar dan berinisiatif ingin mengganjal ban mobil. Tapi sopir dengan percaya diri mengatakan tidak perlu karena percaya dengan kemampuan mobilnya. Namun akhirnya, di tengah perjalanan, atau mungkin duapertiganya, sopir bus menyerah dan kami akan diangkut dolak saja. Sementara, sayup-sayup terdengar lagu "Sawiyah...Sawiyah" dilagukan seperti "Zakia...Zakia"-nya Ahmad Albar.  

Beruntung ada truk kosong lewat, jadi kami bisa lanjut menumpang sampai destinasi berikutnya. Jadi ingat zaman SMP dulu, sering numpang mobil dolak toko besi kalau pulang sekolah. Pengalaman hidup sekaligus ngirit ongkos, hehehe.
Titik start sendiri berada di kaki Gunung Ceremai di sebelah barat daya pada ketinggian 1.260 mdpl. Subhaanalah, pemandangan dari ketinggian ini sangat luar biasa dengan kebun sayuran terhampar luas, bahkan banyak yang kemiringannya sangat curam. Saya sangat yakin para petani di sini sehat-sehat jiwa dan raganya. Bagaimana tidak, iklim yang sejuk, naik-turun kebun dari atas ke bawah dan sebaliknya, pasti imbalannya adalah ketenangan jiwa dan kesehatan raga.
Selepas start, langsung kami disuguhi tanjakan tanah nan licin. Agak susah menaiki sepeda di sini karena ban selalu selip. Terpaksalah kami dorong sepeda, mungkin sampai ketinggian maksimal, 1.361 mdpl kalau kata Mang Garmin mah. Di beberapa bagian, jalur setapak menanjak dan sempit, hanya bisa dilalui satu sepeda. Sebelah kanan tebing tapi sebelah kirinya jurang-jurang berkeliaran! Hati-hati. Kayaknya kalau salah jatuh bisa tamat. Untuk keamanan, beberapa goweser menuntun saja sepedanya. Itupun, karena sempitnya jalur, badan tidak bisa sejajar dengan sepeda, tetapi harus agak mundur sedikit. Prinsipnya biar lambat asal selamat.
Setelah itu, baru kita melahap turunan, walaupun di beberapa bagian sangat sempit karena posisi kami di punggung bukit yang kiri-kanannya kebun sayur dengan kemiringannya curam. Tetap fokus ke jalanan di depan, jangan terlalu banyak tengok kanan-kiri, bisa bikin tambah pusing, hehehe. Untungnya, jalan setapak ini sudah dilapisi beton, mungkin sekitar 30-an cm lebarnya. Lumayan buat mengurangi risiko jalan rusak dan membentuk jalur ular karena bekas gerusan ban motor. Mang Irfan dan Dhafa_Nos keren, selalu mengabadikan kami di beberapa titik yang bagus untuk berpose, hehehe.
Tidak jauh ternyata jarak jalur setapak yang kami lalui ini. Dari start sampai dengan akhir hanya sekitar 3,5 km. Setelah itu, turunan aspal panjang siap menanti. Walau demikian, karakteristik jalur tanah dan pemandangannya memberikan kepuasan tersendiri bagi kami dan ingin mengulanginya kembali.
Selanjutnya, barangkali pelajaran bagi kami. Tekanan udara pada ban-ban sepeda yang sebelumnya dikurangi karena akan melintasi jalur tanah, ketika kembali memasuki jalur aspal, perlu dicek kembali jangan sampai terlalu rendah karena bisa mengurangi kestabilan berkendara. Pendek kata, bannya jangan terlalu kempes deh, apalagi kalau digunakan menikung dengan kecepatan tinggi.
Salah satu anggota kami mengalami kecelakaan karena hal ini dan tidak dapat melanjutkan perjalanan karena cedera pada bagian tangannya dan memerlukan perawatan segera. Sepedanya pun tidak bisa dipakai lagi sampai nanti dioperasi si Ade MJ atau Mang Ubed di Serang.
Demikiankah, karena kesalamatan adalah hal yang utama -apalagi teman-teman yang bekerja di pabrik pasti sudah biasa dengan prinsip safety safety- maka kami putuskan untuk segera merawat korban dan mengakhiri perjalanan gowes. Walaupun tujuan kita ke sini, selain untuk olahraga dan refreshing, juga untuk bersenang-senang, tetapi the safe way is the best way, begitu kata Si Kabayan mah. Kalau masalah jalur yang belum khatam, nanti bisa kita agendakan lagi, kapan-kapan insya Allah.
Jadi, turunan jalan aspal yang juga menghabiskan kampas rem saya itu panjangnya sekitar 9 km dari ketinggian sekitar 1.120 mdpl sampai 614 mdpl finish di Puskesmas Maja, Majalengka. Bukan Maja di Kabupaten Lebak atau Pandeglang, karena tiga kabupaten ini memang memiliki tempat dengan nama yang sama. Mungkin di tempat lain ada lagi yang namanya sama?
Setelah rampung di Puskesmas, kami segera meluncur menuju basecamp kawan temannya Om Dodo ke arah Kota Majalengka untuk ber-ishoma dan persiapan kembali ke Serang. Kali ini, benar-benar jalan raya yang kami lewati, yaitu Jalan Raya Cigasong dengan kontur turunan sepenuhnya dari 614 mdpl ke 200 m dpl. Om Irfan dan Dhafa_Nos selaku anak BMX, kayaknya memecahkan rekor ‘manual’ terlama tuh, sambil loncat-sana loncat sini, drop sana-drop sini. Mantap, Om.

Setelah beristirahat, sholat, makan siang menu semur jengkol, ngopi untuk menambah energi, segera kami persiapkan sepeda ke atas bus untuk kembali ke Serang. Terima kasih buat Om-Om di basecamp. Mungkin sekitar pukul 16 kami berangkat.

Sebelum masuk tol, mungkin sekitar magrib ya, perut lapar dan ada special request dari pasien yang ingin makan bakso. Untungnya ada tukang bakso dan mie ayam yang buka. Rasanya, jangan ditanya, anyep euy, hehehe. Tapi alhamdulillah bisa mengganjal perut.

Di tol, kembali para penarik kabel senior beraksi, tetap di saluran dan gelombang yang sama, dengan lagu-lagu jadul tentunya, hehehe. Lha, Mang Dodo pas menyanyikan lagu Bongkar-nya Bang Iwan di lirik "Orang tua,,,, anggaplah kami sebagai manusia", menunjuk Mbah Darno ketika menyebut "Orang tua" dan menunjuk dirinya ketika menyebut "manusia". Haduh, kartu kuning ini. Harusnya Mbah Darno membalas dengan lagu "Hitam manis", hahaha. Menunjuk siapa ketika menyebut "hitam" dan menunjuk saya! ketika menyebut "manis", hehehe. Udahlah tidur, tidur! Kalau ditidurkan, insya Allah terasa cepat sampai ke Serang.

Terakhir, terima kasih buat Om Nurul, kemudian Om Irfan dan Dhafa_Nos yang setia mengawal dan tentu saja memfoto-foto kami. Jangan bosan ya, Om, karena kami tidak bosan ke sana, hehehe. Mohon maaf kalau kami sempat merepotkan. Kami masih ingin khataman ke jalur Pajero dan Sadarehe. Insya Allah.
Majalengka, I'll be back, kalau kata si Arnold Swarz...Swerz...Sworz...ger mah. Ah, namanya sulit amat. Pokoknya itulah.
Wassalam.

2 comments:

omars said...

kesekian kalinya ketinggal lagi

N, Sastro said...

Ada no kontak marshall lokal nya om?

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons