Saturday, April 01, 2017

NANJAK KE KP. CILEBU, DESA PASIRHAUR, KECAMATAN CIPANAS, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN, NEGARA INDONESIA, KAWASAN ASIA TENGGARA, BENUA ASIA, PLANET BUMI, GALAKSI BIMA SAKTI


Pasti tidak banyak yang masih belum tahu dimana Cilebu, kan? Sama. Saya semula juga tidak tahu dimanakah gerangan itu. Diawali dari gambar-gambar pemandangan jalur tunggal alias single track dari Dede Nori-Nori yang dibagikan oleh Kang Ola alias Pak RT teladan, alias Juragan si MP, alias vokalis Armand Maulari, kami jadi “lapar mata” ingin mencicipi jalur dan pemandangan ke sana. Apalagi, tempatnya masih di Banten, tepatnya di Kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak, di kaki Gunung Endut (±1300 mdpl), walaupun secara jarak terhitung lumayan juga kalau diukur dari Serang yang sekitar 70 km. Tapi tak apalah, mumpung hari Selasa 28 Maret itu tanggal di kalender berwarna merah. Apalagi saya yang dibesarkan di Rangkasbitung, masa sampai gak tahu ada pemandangan indah seperti itu di Lebak. Kuy....

Mulai dari Serang, sudah ada 12 goweser gabungan dari dua komunitas, yaitu SXC2 dan Gagas. Ada Abah Yopie (yang masih setia dengan) Astroez, Om Didit, Om Cep, Om Dodo Chup-chup, Kang Ola, Omiyan yang tumben kabita gowes jalur tunggal padahal biasanya ngaspal pakai Fedy Serang-Pandeglang p.p., Pak Haji Noer, Darman Slank yang namanya doang pakai Slank tapi gak ada yang hapal lagunya, Pak Tarya, Amin Bagas, Drs. Verys, Medi Gong. Pas enggak tuh jumlahnya? Tiga goweser yang disebut terakhir baru sekarang sempat gowes bareng. Alhamdulillah tambah teman baru. Saya sih bergabung di Rangkasbitung saja karena malam sebelumnya sudah menginap di PMI atau Pondok Mertua Indah.
Piramida sepeda
Sepeda disusun di atas dolak dengan menggunakan rak yang unik sehingga sepeda tersusun seperti piramida, tersimpan aman, posisinya di atas kepala sehingga para goweser bisa duduk dengan nyaman di bawahnya. Ajib.
Masih 30 km ke Gajrug dari Rangkasbitung, melewati jalur nostalgia sewaktu kami gowes panas-panasan tahun 2010 lalu dari Serang-Rangkasbitung, terus naik ke Ciberang di Lebak Gedong untuk arung jeram. Saat itu, panas dari atas dan bawah. Atas matahari, bawahnya aspal. Selanjutnya, kami melewati masjid di Komplek Puslatpur Ciuyah, tempat kita sholat Jumat dulu, terus lewat kebun bambu tempat kami makan timbel nasi merah dulu yang gak bakalan habis kalau gak benar-benar lapar habis gowes saking banyaknya, lewat depan Mapolsek Sajira tempat bersejarah Om Chup-chup kram gantian dengan Om Imam, dan seterusnya.
... Dolak sampai mengerem mendadak gara-gara Om Cep yang jadi sopir tembak, gak hapal ada polisi tidur. Awas Om Cep, emang di belakang karung beras yuaa....
Cuma sayang memang, sepertinya tadi berangkat dari Serang terlalu siang, jadinya tiba di Pasar Gajrug (140 mdpl) sudah menjelang jam 11! Sanap euy.... Nah, di sini sudah menunggu Om Hermez dan Dede Nori-nori, ibu suri goweser Gajrug yang punya jalur.
Ah euy,,,, kata Om Cep bisa Gobalo alias gowes ba’da lohor. Mana sinar matahari sedang panas-panasnya saat itu. Wiss, goweser sing wedi ireng lan panas mah, balik bae yuaa, hahaha.... Apapun kondisnya, gowes tetap harus dijalani, kayak menjalani bahtera rumah tangga bae. Mbuh ya, Darman Slank.
11.30 WIB, bismillah. Kami akan menuju ke jalur tunggal yang dimulai di Kp. Lebaksereh. Tapi, untuk mencapai itu, harus gowes dulu melewati jalanan berlapis aspal dan makadam sekitar 11 km. Sayangnya, sebelum mulai memulai gowes tadi, kami tidak sempat santiaji tentang kondisi jalur, kontur, jarak, cuaca, dan sebagainya. Jadi, ketika mulai, kami langsung diberi dua turunan mulus, senang banget, serasa akan turunan terus. Padahal itu cuma PHP kalau kata Darman Slank mah. Soalnya, selebihnya adalah tanjakan!! Boro-boro ada turunan lagi, jalan datar saja jarang. Mungkin goweser yang pernah ke Kp. Domba di Pandeglang pernah merasakan tanjakan di sana. Nah, ini lebih parah, katanya. Saya kan belum pernah ke sana. Kayaknya seperti di Kelok 44, tanjakan berliku-liku, terasa gak habis-habis. Ini juga katanya, karena saya belum pernah gowes uphil ke sana. Untungnya, di beberapa titik, pemandangan dari ketinggian sungguh luar biasa, jadi cukup menghibur kami yang kepayahan menanjak.
Desa Girilaya, Cipanas, Lebak
Menjelang Kantor Kades Girilaya (250 mdpl), beberapa goweser sudah makin kepayahan. Om Chup-chup sudah buka helm, jersi, sarung tangan, protector, tapi celana sih enggak. Nah, siap-siap aja Om Cep dan Om Didit dicacaprak alias disemprot blangwir. Darman Slank sampai dicekek ya. Untung Darman mah anaknya sholih dan sabar, walaupun belum punya anak, hahaha. Habis itu, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, kami upayakan gowes. Tapi, tidak sampai 1 km, sudah berhenti lagi. Demikian seterusnya, beberapa ratus meter menanjak, ngaso lagi.
Sehabis sholat dzuhur, sempat agak kesel juga karena dolak yang dibawa Om Chup-chup ternyata sudah lewat, padahal sudah payah nih, terutama semangatnya yang payah. Untungnya beberapa ratus meter di muka, si dolak sedang parkir dengan manisnya menunggu rombongan terakhir, kami.
Sebagian dari kami menyerah di 408 mdpl, padahal sudah 8 km lebih dari titik mulai. Tak apalah. Dengan senang hati, sepeda dinaikkan ke atas dolak, termasuk punya saya dong, hehehe. Ternyata kalau naik dolak enak ya, gak capek. Sementara di depan, para goweser lain pemegang jersi polkadot masih bertahan gowes sampai ke Kp. Lebaksereh. Saya sebut siapa saja mereka sebagai bentuk penghargaan, nih: Abah Yopie, Kang Ola, Om Cep, Omiyan, Darman Slank, Om Medi Gong.
Karena jalan sempit, dolak sempat berpapasan dengan sebuah truk dengan jarak tipis saja, bahkan ban sepeda yang menonjol keluar sempat kesenggol spion truk. Parah tuh sopir truk, selonong boy, ada lawan tapi gak mau mengalah. Untung ban sepeda tidak apa-apa. Di tanjakan yang curam, dolak juga sempat tidak bisa naik. Kali ini Pak Haji Noer yang memegang setir, sepertinya menginjak kopling setengah, jadinya bau kopling euy. Alhamdulillah dia tetap bisa nanjak. Sementara, hujan dan gerimis sudah mulai datang bergantian menyapa kami sehingga mengamankan kamera dan hp adalah wajib hukumnya Jadinya, sayang di beberapa tempat tidak ada dokumentasinya.
Kolecer alias baling-baling kayu
Di beberapa tempat, kami banyak melihat banyak kolecer atau baling-baling kayu atau bambu buatan masyarakat sekitar yang suaranya seperti helikopter. Untuk dapat berputar, dia akan mengarah menghadang arah angin berhembus. Ternyata, informasi dari warga setempat, harganya mahal juga, ada yang 5 s.d. 10 juta. Mungkin salah satu penyebabnya tergantung pada jenis kayu yang digunakan.
Akhirnya, sekitar pukul 14.30 kami tiba juga di Kp. Lebaksereh (563 mdpl). Dolak parkir di sini karena kami akan memulai jalur tunggal. Tapi, sebelumnya kami isi ulang energi dulu karena sampai saat itu belum maksi. Di sini, tersedia teh manis dengan gula merah, alhamdulillah. Padahal mah, kenapa sepeda gak langsung diangkut saja ke sini ya, kan lumayan bisa hemat tenaga dan waktu. Lumayan lho, 11 km, buat saya, hahaha. Sementara, di sudut lain, Kang Ola mah biasa, ketemu dengan emak dan anak-anaknya.
Pukul 15 kami baru melanjutkan perjalanan dipimpin oleh Dede Nori-Nori. Ternyata, dari sini kami masih harus menanjak sampai ke tujuan Kp. Cilebu di ketinggian 736 mdpl. Awalnya melewati jalur menanjak curam yang berbatu, sehingga sulit untuk gowes di sini. Tapi, kami selalu ceria karena bisa berfoto-foto maupun berswafoto. Lebih naik lagi, jalur sudah mulai tanah yang sayangnya saat itu sedang licin karena habis hujan. Juga sulit gowes di sini. Saking licinnya, Om Chup-chup sempat terjerembab ke semak-semak. Dede Nori-Nori yang paling dekat bukannya membantu, malah memfoto dulu yuaa, hahaha. Pemandangan di kanan-kiri sangat luar biasa indah, sawah menghijau bertingkat-tingkat. Sementara di kejauhan, tampak lembah dan Gunung Karang. Gunung Endut sendiri seperti sudah siap menanti kami. Subhaanallah. Di Google Earth, saat difoto oleh satelit, sepertinya sawah belum ditanami, jadi masih berwarna coklat.
Semua ada hikmahnya, kondisi jalur yang sangat susah untuk meng-gowes sepeda, membuat kami berkesempatan mengambil gambar yang banyak banget. Hampir semua hp menyimpan foto pemandangan di sini maupun goweser-nya. Cuma memang, kelihatan di foto-fotonya, lubang hidung tampak terbuka maksimal karena menyedot oksigen sebanyak-banyaknya, hahaha.

2A, Abah dan Amin


Kang Ola

Point of interest
Sayang seribu sayang. Sekitar pukul 16.30, cuaca sudah gelap karena mendung, menjelang Kp. Cilebu, beberapa goweser, yaitu saya, Abah Yopie, Om Didit, Om Cep, Om Chup-chup, Omiyan, dan Pak Tarya terpaksa harus putar balik duluan karena beberapa pertimbangan, antara lain menghindari kemalaman di jalan karena tidak membawa senter. Kayaknya alumni New Aquilla: saya, Om Didit, Om Cep, Om Chup-chup sedikit trauma gowes gelap-gelapan tanpa senter di kebun coklat di Aquilla, Cianjur. Gowes hanya pakai perasaan karena benar-benar gelap, waktu itu. Ceritanya panjang. Kalau bahasa Spanyolnya mah poek mongkleng. Saya sendiri harus segera kembali ke Rangkasbitung karena ada beberapa urusan keluarga sekalian mengejar jadwal ke bandara malamnya untuk kembali ke Sumatera lagi. Sementara, rombongan lain melanjutkan perjalanan sampai ke titik akhir dan menikmati makan siang menjelang sore.
800m to Cilebu, courtesy of Darman Slank
Nah, setelah perjuangan selama setengah hari menanjak tak habis-habis di jalur aspal, makadam, ataupun jalur tunggal, barulah kami menikmati turunan. Seperti biasa, jalur tunggal berlapis tanah licin membuat kontrol sepeda menjadi sulit. Apalagi di beberapa tempat, bekas ban motor yang membentuk selokan kecil menaikkan level kesulitan tadi. Om Cep dan Om Didit sudah dipastikan memepersilakan saya ke depan. Bukan apa-apa, ini agar saya memfoto dan memvideokan aksi mereka, hahaha. Siaplah, itu sih gampang. Om Chup-chup dan Omiyan sudah turun duluan, entah sudah di mana. Pak Tarya berprinsip biar lambat asal selamat, sementara Abah mengaplikasikan rumus =IF(JALUR=OR(“DATAR”;”TANJAKAN”);”GOWES”;”TUNTUN”), hehehe. Jadi kalau jalannya datar atau tanjakan, Abah ngegowes, tapi kalau turunan, tuntun. Memang spesialisnya Abah adalah jalan datar atau tanjakan.
Cuci, cuci, cuci yang bersih
Kembali tiba di Kp. Lebaksereh, kami sibuk mencuci sepeda yang belepotan lumpur di sepanjang saluran irigasi kecil di depan warung. Sambil rehat, teh manis dan kopi sempat menemani. Masih belum maksi, kami, padahal sudah menjelang pukul 17. Ganjal saja perutnya pakai batu, hahaha.
Lima belas menit kemudian, kami putuskan meluncur duluan ke rumah Dede Nori-Nori di Pasar Gajrug. Insyaallah tinggal turun saja, kecuali nanti menjelang Pasar Gajrug ada dua tanjakan ganda yang tadi siang jadi PHP saat kami turun.
Di tengah perjalanan, sedang asyik-asyiknya menurun, Forward-nya Omiyan putus rantai, setelah sebelumnya remnya blong plus seatpost gak mau diturunkan. Sepeda itu kayaknya merajuk karena cemburu dan jarang dibelai oleh pemiliknya yang mendahulukan Neng Fedy selalu ya. Siapa tahu, setelah menikmati turunan asoy geboy, jadi kabita ingin terus gabung mencari jalur tunggal di seantero bumi, hahaha. Kabar terakhir dari laman bukumuka, sepeda yang sedang dicuci di atas sudah siap dilego untuk diganti fulsus, hahaha.
Adzan maghrib masih di telinga ketika kami tiba di sana. Yang belum pada maksi langsung ketemuan dengan bakso, sepertinya. Saya meluncur duluan ke Rangkasbitung, dibujeng enggalna, ngojek, sepeda saya titipin saya Om Didit dan Om Chup-chup supaya dikirim ke Satpam komplek rumah di Serang. Mudah-mudahan gak masuk angin, malam-malam naik motor gak pakai jaket. Untung gak hujan, gak becek. Kalau ojek sih ada, walau dengan lampu depan temaram, beberapa kali lubang dihajar karena tidak terlihat. Takut saja bannya pecah di tengah hutan gelap nircahaya sementara  penerangan lampu jalan nihil alias gak usah berharaplah. Silau ketika berpapasan dengan mobil. Alhamdulillah sampai rumah Rangkas pukul 19 dengan selamat.
....... (cerita terputus)....
Rombongan dolak baru tiba di depan komplek rumah Serang sekitar pukul 23.30 ketika saya jemput sepeda yang masih kotor belepotan tanah dan pastinya tidak ada waktu lagi untuk mencucinya. Maafkanlah aku ya, sepedaku. Terbayang kalau saya ikut jadwal normal rombongan, baru tiba pukul segini, bisa gak sempat ngapa-ngapain lagi, padahal sebentar lagi harus mengejar Damri. Maaf saya pulang duluan, maaf gak sempat ikut finish dan maksi di sana, terima kasih atas petualangannya Dede Nori-Nori, terima kasih Om Didit, Om Chup-chup, Kang Ola, Pak Haji Noer sudah mengantarkan sepeda saya.
Kalau dihitung-hitung, jarak dari rumah Dede Nori-Nori s.d. titik putar balik hanya sekitar 12,8 km. Dengan jarak s.d. Kp. Lebaksereh 11 km, maka jalur tunggal yang kami lewati tidak sampai 2 km! Tapi, walaupun begitu, “tidak sampai 2 km itu” ditambah pemandangan alam yang luar biasa, cukup sepadan dan memuaskan kami, serta menghapus kepayahan karena menanjak sebelumnya. Gak kapok, pengen mengulang lagi, tapi nanti agak pagian ya, plus mudah-mudahan jalur sedang kering alias tidak hujan.
Sampai jumpa dalam petualangan berikutnya, insyaallah.

video

Para pelakon:
Indonesiaku

Om Didit

Abah Yopie

Om Dodo Chup-chup

Om Cep
Haji Noer
Omiyan
Kang Ola

Pak Tarya
4 Sekawan: Amin, Dede Nori-Nori, Darman Slank, Drs. Verys
Om Medi Gong


Gambar Google Earth
Total jalur Gajrug-Kp. Cilebu

Jalur tunggal Kp. Lebaksereh to Kp. Cilebu

8 comments:

Haji Nuryadin said...

Luar biasaahhh sempurnah...

dida fasa said...

Engke urang ulangan yuk, Pak Haji.... tapi mun keur garing. Langsung loading s.d. Lebaksawer. Tacan ngasaan finish Cilebu euy 😢😢

Medy Oslo said...

Awesomelah

Medy Oslo said...

Awesomelah

omars said...

Ngangenin....hikzzz

Ade Supriyadi said...

Minta koordinat nya cilebu boleh kang ?

dida fasa said...

Nanti hari Senin ya, insyaallah, datanya di PC di kantor 😊

dida fasa said...

Maaf Kang Ade Supriyadi, ini koordinat di plang Cilebu, masih sekitar 800m ke titik finish. Saya puter balik duluan, gak sampai finish.
S6 36.004 E106 20.825

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons